Fokus Sempit vs Fokus Luas

2 Maret 2015 09:21

Seiring dengan kemajuan teknologi, kita semakin gencar terpapar dengan banjir informasi yang berasal dari berbagai sumber. Saat ini akses informasi utama lebih pada bahan bacaan yang diperoleh dari buku, surat kabar, majalah, email, Whatsapp, SMS, BBM, Twitter, Line, Path, dan berbagai sumber lain. Disadari atau tidak sejak bangun pagi hingga malam menjelang tidur kita terus membaca berbagai informasi.

Saat mata melihat dan membaca berbagai informasi, kita masuk ke fokus sempit. Fokus sempit sangat bermanfaat untuk hidup, misalnya untuk belajar, mengendarai mobil dengan cermat dan hati-hati, melakukan berbagai aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.

Sejak kecil kita dikondisikan untuk melakukan fokus sempit. Masih ingat saat masih kecil, orangtua atau guru berkata: “Jangan melamun, perhatikan dan baca bukumu”; “Perhatikan tulisan di papan tulis”; “Konsentrasi”; “Hati-hati”; “Baca yang teliti dan cermat”.

Kalimat di atas yang diucapkan oleh orangtua atau guru sebenarnya mengatakan pada kita, saat masih kecil, bahwa fokus kita masih kurang sempit seperti yang mereka inginkan. Dengan kata lain kita kurang fokus, kurang konsentrasi, dan kurang mampu meniadakan hal-hal lain dari pusat perhatian kita selain hal-hal penting yang mereka ingin kita perhatikan. Semakin tinggi konsentrasi berarti semakin sempit fokus kita, semakin baik.

Fokus sempit sangat baik dan bermanfaat. Capaian, prestasi, dan kinerja tinggi sangat bisa diraih berkat kemampuan melakukan fokus sempit. Namun, segala sesuatu bila dilakukan secara berlebihan pasti berakibat tidak baik. Saat mata diarahkan melakukan fokus sempit, untuk waktu lama akan berdampak buruk bagi otak, pikiran, dan kesehatan pada umumnya. Fokus sempit juga terjadi saat seseorang membaca atau main game, apalagi di gadget dengan layar kecil.

Untuk memahami mengapa fokus sempit dalam waktu lama berakibat buruk terhadap kesehatan berikut ini akan dijelaskan mengenai gelombang otak.

Pada umumnya kita mengenal empat gelombang otak, Beta, Alfa, Theta, dan Delta. Beta adalah gelombang otak yang mewakili kondisi sadar normal, aktivitas berpikir, saat otak memroses informasi. Alpha adalah gelombang otak, pada kisaran frekuensi 8 sampai 12 Hz, saat pikiran santai dan rileks. Alpha adalah jembatan yang menghubungkan pikiran sadar, Beta, dan pikiran bawah sadar, Theta dan Delta. Theta, antara 4 – 8 Hz, dihasilkan saat pikiran sadar lebih rileks, lebih pasif, ada yang menyebutnya dengan kondisi meditatif atau trance. Sedangkan Delta, antara 0,1 – 4 Hz, gelombang otak mewakili kondisi tidur lelap atau pikiran nirsadar.

Beta terbagi dalam tiga rentang frekuensi, Beta rendah, Beta sedang, dan Beta tinggi. Beta rendah, berkisar antara 13 hingga 15 Hz, adalah gelombang otak yang aktif saat kita sedang membaca buku, mengenal dan memahami materi yang sedang dipelajari. Beta rendah muncul saat kita fokus pada sesuatu tanpa harus waspada. Dan kita belajar maksimal dengan Beta rendah.

Otak menghasilkan gelombang Beta sedang, pada kisaran frekuensi antara 16 hingga 22 Hz, saat kita fokus berkelanjutan pada stimulus dari luar diri. Beta tinggi, antara 22-50 Hz, muncul saat seseorang mengalami stres atau kecemasan tinggi, terlalu fokus pada sesuatu atau fokus sempit.

Beta tinggi adalah bagian dari sistem pertahanan diri dan sangat baik bila beroperasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bila otak beroperasi dalam frekuensi Beta tinggi dalam waktu lama mengakibatkan stres dan ketidakseimbangan karena untuk bisa mempertahankan Beta tinggi dibutuhkan energi yang sangat besar. Dengan kata lain, Beta tinggi adalah frekuensi otak saat dalam kondisi genting atau bahaya.

Saat seseorang melakukan fokus sempit, cepat atau lambat, namun sering tidak disadari, tubuh akan bereaksi. Yang sering dirasakan adalah otot tubuh, terutama wilayah pundak dan leher kaku, lelah, dan akhirnya sulit konsentrasi. Semua ini sebenarnya merupakan umpan balik dari tubuh kepada kita bahwa apa yang kita lakukan telah melebihi batas normal kemampuan tubuh.

Hal yang sama dapat dirasakan saat seseorang diminta fokus dalam proses belajar. Secara umum, orang dewasa hanya mampu fokus maksimal 30 menit. Setelah itu akan mulai mengalami kelelahan. Dengan demikian sangat baik bila setiap 30 menit kita rehat sejenak, sekitar 5 menit, untuk memulihkan kondisi.

Saat ini banyak anak yang mengalami gangguan konsentrasi. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebabnya hampir sepanjang hari mereka melakukan fokus sempit saat main game atau gadget. Fokus sempit dalam waktu lama selain sangat melelahkan juga mengaktifkan gelombang Beta tinggi yang merupakan frekuensi otak saat dalam kondisi genting atau bahaya. Seringnya gelombang otak Beta tinggi ini muncul mengakibatkan seseorang, tanpa ia sadari, merasa cemas. Dan sudah tentu perasaan cemas ini pasti menganggu konsentrasi dan proses belajar.

Cara lain untuk fokus adalah melihat sesuatu secara luas, lebar, besar, yang dinamakan fokus luas. Otak dan pikiran kita pada dasarnya dirancang untuk lebih sering melakukan fokus luas. Fokus luas secara mudah kita lakukan saat berada di alam, saat melihat pemandangan, membayangkan dan merasakan ruang kosong, atau membayangkan objek “tanpa objek”. Saat seseorang melakukan fokus luas, baik itu secara sengaja atau tidak, otak menghasilkan gelombang Alfa sinkron pada seluruh wilayah otak. Gelombang Alfa sinkron sangat baik untuk kesehatan dan membuat kita merasa tenang, nyaman, rileks, damai, masuk ke kondisi respon rileksasi.

Itu sebabnya setelah pulang dari liburan ke alam kita merasa tenang, nyaman, dan jauh lebih rileks. Ini semua berhubungan dengan cara kita menggunakan fokus saat berada di alam dan gelombang otak Alpha sinkron yang aktif di seluruh wilayah otak saat kita fokus luas.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online24
Hari ini140
Minggu ini140
Bulan ini46.141
Bulan lalu91.401
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends