Hati-Hati dengan Sesat Pikir

Beberapa waktu lalu saya jumpa klien yang ingin dibantu mengatasi masalah emosi. Klien ini, sebut saja sebagai Budi, usia 37 tahun, marah pada sahabatnya, Arto. Budi telah dua tahun lebih memendam perasaan marah, kecewa, sakit hati, dendam, dan merasa dikhianati oleh Arto.  

Sesuai protokol terapi, saya mulai dengan memelajari intake form yang telah Budi isi dan lanjut dengan wawancara mendalam. Saya perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi, secara lebih detil, sehingga Budi marah besar pada Arto. Informasi ini dibutuhkan sebagai landasan penting dalam proses menentukan strategi yang akan saya gunakan untuk melakukan terapi di kedalaman kondisi hipnosis.

Ternyata, Budi marah karena secara tidak sengaja membaca status yang diunggah Arto di media sosial. Menurut Budi, Arto ini sengaja menulis status di media sosial dengan tujuan menyindir dan mempermalukan dirinya.

Saya tanya Budi apakah di status itu secara eksplisit ada menyebut namanya, Budi menjawab tidak. Tapi Budi yakin dan menyimpulkan bahwa yang dimaksud Arto adalah dirinya. Saya tanya lagi mengapa ia tidak melakukan tabayun atau klarifikasi dengan bertanya langsung pada Arto untuk meluruskan hal ini, Budi menjawab tidak perlu. Budi yakin sekali bahwa Arto memang bertujuan negatif pada dirinya. Dengan terus memelihara emosi-emosi negatif dalam dirinya, di beberapa kesempatan jumpa sahabat lainnya dan juga di media sosial, Budi menjelekkan Arto.

Pembaca, saya tidak akan masuk ke hal-hal teknis terkait terapi yang saya lakukan pada Budi. Dalam artikel ini saya fokus mengulas apa yang sebenarnya terjadi di pikiran Budi agar Anda tidak mengalami atau terjebak oleh sesat pikir yang Budi alami.

Dari Mana Munculnya Emosi?

Setiap kejadian, apapun itu, sejatinya netral, tidak baik dan tidak pula buruk. Kejadian ini menjadi “sesuatu” karena kita tidak melihatnya apa adanya, tapi apa kitanya. Begitu kita mengalami suatu kejadian, dengan sangat cepat kita memberi makna pada kejadian ini. Makna yang diberikan, hampir selalu terjadi secara spontan, bisa positif, netral, atau negatif. Makna selanjutnya memproduksi emosi. Mengikuti makna, muncul emosi positif, netral, atau negatif, yang selanjutnya mendorong respon perilaku. Emosi yang tercipta memiliki bobot atau intensitas yang menjadi sumber kekuatannya. Semakin tinggi intensitasnya, semakin kuat ia mengendalikan respon perilaku individu. Emosi adalah pendorong perilaku. Dengan demikian, bisa muncul tiga respon, positif, netral, atau negatif. Dari uraian di atas, dipahami bahwa setelah suatu kejadian diberi makna, muncul emosi yang memberi warna padanya.

Pengalaman hidup ini selanjutnya disimpan dalam bentuk memori di pikiran bawah sadar, tentu disertai emosi yang lekat padanya. Dan setiap kali Budi jumpa Arto atau mengingat “perbuatan tercela” Arto, yang terjadi adalah Budi secara sengaja memilih satu memori di pikiran bawah sadar dan “mengangkat” memori ini ke pikiran sadar sehingga menjadi aktif kembali.  

Saat memori ini aktif, emosi yang lekat padanya juga menjadi aktif. Bila ini sering diulang, dan inilah yang dilakukan oleh Budi, ia mengalami “dipermalukan” berulang yang “dilakukan” Arto. Kejadian riil hanya terjadi sekali. Namun kejadian yang sama terus berulang di pikiran Budi. Setiap kali memori ini aktif, emosi juga aktif, dan semakin lama menjadi semakin kuat. Budi semakin benci Arto.

Mengingat kembali kejadian bermuatan emosi negatif, dalam konteks hipnoterapi klinis, kami sebut sebagai pseudo-SSE. Pseudo-SSE terjadi karena salah satu atau gabungan dari hal berikut ini:

1. Individu secara sengaja dan berkala terus mengingat kejadian bermuatan emosi     (kejadian traumatik).

2. Individu secara sengaja dan berkala menceritakan kejadian bermuatan emosi (kejadian traumatik).

3. Individu secara sengaja atau tidak, terpicu memori traumatiknya. Ini bisa dengan kembali ke tempat yang mirip atau sama dengan tempat kejadian pengalaman traumatik, atau kembali jumpa pelaku.

4. Kilas balik ingatan (flashback) yang dilakukan pikiran bawah sadar sebagai bentuk komunikasi ke pikiran sadar. 

Semakin Budi mengingat-ingat kembali perbuatan Arto, semakin besar api emosi dalam dirinya, semakin ia benci sahabatnya. Dan respon perilaku Budi terhadap Arto tentu mengikuti emosi ini. 

Dari Mana Sumber Pemaknaan?

Manusia adalah makhluk kebiasaan dan tidak mau repot. Pemaknaan spontan, dilakukan pikiran bawah sadar menggunakan data yang ada di dalam memori. Data ini berasal dari akumulasi pengalaman hidup sejak lahir hingga masa kini.

Lebih jelasnya begini. Saat anak lahir, ia bisa dibilang tidak punya data di memori pikiran bawah sadarnya. Orang tua dan lingkungan, melalui interaksi dengan anak, memberi input data secara berkelanjutan. Data ini digunakan anak sebagai acuan guna menerjemahkan beragam kejadian yang ia alami, mana yang baik, mana yang buruk. Contohnya, wajah tersenyum umumnya mengadung makna ramah, senang. Wajah merengut artinya tidak senang atau marah.

Begitu data ini masuk ke pikiran bawah sadar, ia digunakan sebagai acuan untuk memberi makna pada kejadian yang mirip atau serupa di masa depan. Inilah yang dimaksud dengan kebiasaan dan tidak mau repot. Jadi, bila suatu saat nanti kita jumpa orang tersenyum maka secara otomatis kita memberi makna orang ini ramah, senang.

Sebenarnya kita tidak secara sadar memberi makna pada satu kejadian. Kita hanya menggunakan referensi yang tersimpan di pikiran bawah sadar dan melakukan “copy-paste” makna pada kejadian sebelumnya yang sama atau mirip dengan kejadian yang kita alami saat ini.

Yang menjadi masalah utama, referensi yang digunakan sebagai acuan untuk memberi makna ternyata salah atau tidak valid. Dan ini tidak kita sadari karena sudah menjadi ranah pikiran bawah sadar, kecuali secara sadar kita melakukan penelaahan secara cermat dan hati-hati pada proses pemaknaan. Jarang ada orang yang mau repot melakukan hal ini. Faktor lain, saat emosi sudah aktif, ia mencengkeram, membelenggu, dan melumpuhkan nalar.

Solusi

Sebenarnya, untuk menyelesaikan masalah Budi ini sangatlah mudah. Tidak butuh bantuan hipnoterapis atau konselor. Budi hanya perlu menghubungi Arto, bertanya dengan pikiran dan hati tenang, terbuka. Berdasar jawaban Arto, baru Budi memberi makna. Tapi, solusi ini sejak dari awal ditolak oleh Budi.

Dalam proses terapi, saya menelisik pikiran bawah sadar Budi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dari mana sumber pemaknaan ini, dan mengapa Budi begitu kuat menolak saat diminta melakukan klarifikasi.

Singkat cerita, ternyata Budi sebenarnya iri dan terancam dengan kemajuan bisnis Arto. Budi marah mengetahui bisnis Arto berkembang begitu pesat dan merasa cemas, lebih tepatnya takut kalah bersaing. Budi takut pangsa pasar bisnisnya akan tergerus oleh Arto.

Saya jelaskan pada pikiran bawah sadar Budi bahwa semua ketakutan ini tidak beralasan. Segmen pasar bisnis Budi dan Arto berbeda. Budi bermain di kelas menengah bawah sementara Arto bermain di kelas premium. Segmen pasar ini tidak mungkin bersatu. Dengan demikian, sebenarnya bisnis Budi sangat aman.

Saya mendapat resistensi dari pikiran bawah sadar Budi saat mendengar penjelasan ini. Saya lakukan penelusuran lebih lanjut untuk menemukan dari mana sumber rasa takut ini pertama kali muncul dalam hidup Budi. Setelah ditemukan, dilakukan resolusi pada kejadian paling awal, dan selesai.

Pikiran bawah sadar Budi akhirnya bisa menyadari kekeliruannya, menerima apa yang saya jelaskan. Dan saya sarankan, usai terapi, Budi menghubungi Arto dan bertanya langsung. Bila memang Budi salah paham, sebaiknya ia minta maaf dengan jujur dan tulus pada Arto.

Dan inilah yang Budi lakukan. Ternyata yang Arto tulis itu sama sekali bukan membicarakan Budi, tapi apa yang ia alami secara pribadi. Budi akhirnya minta maaf pada Arto. Relasi kedua sahabat ini kembali terjalin dengan baik. 



Dipublikasikan di http://adiwgunawan.com/articles/hati-hati-dengan-sesat-pikir pada tanggal 20 Agustus 2017 12:49