Antara Kesaksian, Klaim, dan Evidence-Based

Di satu temu ilmiah yang saya hadiri, salah satu topik menarik yang dibahas adalah teknik terapi yang marak dipraktikkan oleh para penyembuh di Indonesia. Narasumber, doktor neurosains dan peneliti lulusan salah satu perguruan tinggi terkenal di Jepang, menyampaikan pesan agar kami, para peserta, perlu hati-hati agar tidak asal percaya begitu saja pada satu teknik yang diklaim efektif.

Ini menyegarkan kembali ingatan saya akan diskusi dengan guru hipnoterapi saya, Randal Churchill, kala saya menyelesaikan sertifikasi CCH (Certified Clinical Hypnotherapist) di San Fancisco sekian tahun lalu.

Randal berkali-kali mengingatkan pentingnya terapis bersikap kritis saat mencermati dan memelajari teknik terapi karena apa yang kami lakukan di ruang praktik sangat memengaruhi hidup klien. Randal menyebut teknik yang sebenarnya tidak efektif tapi diklaim atau dipublikasi gencar efektif sebagai teknik Brush Off.

Terkait teknik terapi, saya sering mendapat pertanyaan dari para Sahabat dan juga pembaca buku. Mereka umumnya ingin ikut pelatihan tertentu dan minta pendapat saya apakah teknik A atau B itu benar efektif.

Saya tentu tidak bisa memberi komentar karena tidak tahu atau memelajari teknik terapi yang dimaksud. Dan yang bisa saya berikan adalah petunjuk sebagai acuan untuk menilai kinerja suatu teknik terapi. Dan acuan ini juga saya gunakan untuk menentukan apakah suatu teknik benar efektif sehingga perlu dipelajari, terutama untuk menyeleksi pengajar di Amerika yang akan saya hadiri pelatihannya.

Pertama, ada teknik yang dinyatakan efektif hanya berdasar kesaksian atau testimoni klien. Untuk ini, kita perlu cek dan mencari tahu sudah berapa banyak klien yang berhasil sembuh dengan menggunakan teknik ini, dan apa saja masalah yang berhasil disembuhkan. Semakin banyak kesaksian, semakin beragam masalah yang berhasil disembuhkan dengan teknik ini, kita bisa semakin yakin.

Yang sering terjadi, hanya dengan kesaksian satu atau dua klien, terapis atau pengajar teknik ini langsung melakukan generalisasi bahwa teknik ini efektif untuk mengatasi berbagai masalah. Ini tentu tidak tepat. Satu atau dua kasus tidak serta merta boleh digunakan sebagai alasan melakukan generalisasi.

Ada lagi teknik terapi yang diklaim efektif oleh pengajarnya. Ini juga perlu dicermati dengan hati-hati. Klaim adalah pernyataan sepihak. Dan dasar klaim ini juga perlu ditanyakan dengan jelas.

Yang paling baik adalah teknik terapi yang telah diteliti dengan prosedur penelitian yang sahih dan evidence based, dan terutama telah dipublikasi di jurnal ilmiah. Ini yang paling kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kebiasaan bersikap kritis inilah yang membuat saya sangat hati-hati, selektif, dan tidak mudah percaya pada teknik terapi yang dinyatakan atau diklaim efektif. Dulu waktu belum memahami prinsip ini saya menghabiskan uang cukup banyak membeli berbagai video terapi dari luar negeri, masing-masing dinyatakan sangat efektif oleh si pengajar. Hasilnya? Kecewa berat. Banyak yang sama sekali tidak bisa digunakan.

Bagaimana bila ada teknik yang belum pernah diteliti tapi dinyatakan atau diklaim efektif?

Kembali pada prinsip di atas. Coba cek sudah berapa banyak klien yang berhasil disembuhkan dengan teknik ini. Semakin banyak, semakin baik. Walau teknik ini belum pernah diteliti dan dipublikasi di jurnal ilmiah, bila ia telah banyak menyembuhkan klien dengan beragam masalah maka teknik ini sangat layak untuk dipelajari dan dipraktikkan.

Kita juga perlu hati-hati dengan terapi yang dilakukan di atas panggung atau di depan orang banyak. Seringkali terapi ini berlangsung cepat dan di akhir terapi, terapis akan bertanya pada klien, "Bagaimana, sudah sembuh, kan? Sudah enak, nyaman?" Klien bisa saja menjawab, "Ya... saya sudah lebih nyaman sekarang."

Apakah teknik ini efektif? Belum tentu. Klien bisa menjawab demikian karena sungkan, kasihan, atau tidak ingin membuat malu terapis di depan orang banyak. Bisa juga klien telah benar sembuh.

Satu pertanyaan kunci yang sering orang lupa tanyakan, "Berapa lama perubahan ini bisa bertahan?"

Teknik terapi yang benar-benar efektif adalah yang mampu membuat perubahan positif dalam diri klien, tidak penting perubahan ini dicapai dalam waktu singkat atau perlu beberapa sesi, dan bisa bertahan (sangat) lama, stabil.

Dan tentu akan sangat mencerahkan bila saat suatu teknik terapi diajarkan, teknik ini juga langsung dipraktikkan dan terbukti mampu mengatasi masalah klien.

Inilah esensi terapi sebenarnya. Perubahan terjadi, secara positif, dan bertahan lama untuk kebaikan klien. Bila perubahan ini hanya sifatnya sesaat, tidak stabil, maka teknik ini tidak layak untuk dipelajari dan dipraktikkan.

Pertanyaan kunci untuk menilai suatu teknik efektif adalah dari hasil terapinya, "Does it HOLD?" (apakah hasilnya bertahan lama/stabil)

Demikianlah kenyataannya.....



Dipublikasikan di http://adiwgunawan.com/articles/antara-kesaksian-klaim-dan-evidence-based pada tanggal 20 Oktober 2017 23:35