Mencabut Masalah Perlu Hingga ke Akarnya

Seorang klien, sebut saja sebagai Bagus, usia 43 tahun, menjumpai saya untuk mengatasi kebiasaan suka marah, bahkan untuk hal-hal sepele. Bila marah, emosi Bagus meledak, ia teriak, mengucapkan kata-kata kasar, membanting barang, dan bahkan bisa memukul diri sendiri.

Di sesi wawancara, Bagus cerita bahwa ia telah berusaha mengatasi masalah ini dengan jumpa psikiater, psikolog, pendoa, konselor namun belum memberikan hasil seperti yang ia harapkan. Ia juga telah mengikuti berbagai pelatihan, ia sebutkan nama pelatihan dan pengajarnya, baca banyak buku pengembangan diri dan buku-buku terapi. Ia juga telah mencoba teknik penyembuhan diri seperti EFT, teknik pelepasan emosi melalui senam atau kejut fisik, hingga hipnoterapi. Ia juga telah mencoba teknik swish pattern, collapsing anchor, mengubah submodalitas, pembersihan aura, cakra, dan masih banyak lagi. Intinya, menurut Bagus, ia telah mencoba hampir semua cara namun tetap belum berhasil mengatasi masalahnya.

Bagus bertanya pada saya mengapa semua cara yang ia telah ia coba belum bisa berhasil mengatasi masalahnya. Saya jawab, saya tidak bisa komentar karena bukan bidang keahlian saya. Yang saya tahu, setiap teknik punya kelebihan dan keterbatasan. Saya hanya bisa memberi jawaban pasti setelah melakukan hipnoanalisis pikiran bawah sadarnya.

Biasanya, bila klien telah mencoba sangat banyak cara untuk mengatasi masalahnya namun belum juga berhasil, ada dua kemungkinan penyebab. Pertama, pendekatan atau teknik terapi yang ia gunakan tidak efektif. Kedua, ia belum siap berubah. Saya secara khusus menyiapkan pikiran bawah sadarnya, bukan pikiran sadar, untuk berubah dengan mengajukan pertanyaan Priming the Subconscious for Change dan melakukan elaborasi mendalam.

Bagus merasa sangat yakin kemarahannya ini berasal dari masa kecilnya, kelas satu SD, saat ia dipukul oleh temannya, padahal ia tidak berbuat salah. Dan ketika kejadian ini diketahui gurunya, bukannya menegur teman yang memukulnya, guru justru memarahi dan menyalahkan Bagus. Ini membuat Bagus marah sekali pada gurunya tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.

Saat saya tanya dari mana ia tahu atau yakin akar masalahnya adalah kejadian di kelas satu SD ini, Bagus mengatakan bahwa setiap kali ia marah, yang muncul selalu memori ini. Dan terapi yang telah ia lakukan, selama ini, fokus pada upaya untuk mengatasi kejadian ini. Memang setelah terapi ia merasa lega, nyaman. Namun beberapa hari kemudian, kambuh lagi. Ia bingung dan frustrasi dengan keadaannya.

Setelah merasa cukup mendapat informasi dari sesi wawancara, saya mulai melakukan hipnoterapi pada Bagus. Saya membimbing Bagus untuk masuk ke kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism). Ini adalah kedalaman yang menjadi syarat untuk bisa melakukan hipnoanalisis, regresi berbasis afek, revivifikasi, teknik Ego Personality, mengaktifkan trance-logic, dan teknik-teknik intervensi lainnya dengan efektif.

Dengan teknik hipnoanalisis, khususnya regresi, pikiran bawah sadar Bagus mundur menelusuri garis waktu, melewati rangkaian lima kejadian. Pertama, ia mundur ke usia 12 tahun saat ia dikeroyok tiga temannya karena salah paham.

Kemudian, di usia 10 tahun, di kejadian ia dituduh mencuri uang temannya dan dipukul ibunya karena merasa malu, padahal Bagus tidak melakukan hal ini.

Mundur lagi ke usia 7 tahun, saat kelas satu SD, saat ia dipukuli temannya dan setelahnya dimarahi guru. Ini kejadian yang Bagus dewasa ceritakan sering muncul saat ia marah. Dan ternyata ini bukan akar masalah. Kemudian Bagus mundur ke usia 2 tahun saat ia melihat kedua orangtuanya ribut besar.

Bagus sangat ketakutan dan kasihan pada ibunya. Bagus marah pada ayahnya dan merasa tidak berdaya karena tidak bisa membantu dan melindungi ibu.

Terakhir, ia mundur ke masa dalam kandungan, sebagai janin berusia 2 bulan. Di kejadian ini, ibunya merasa sakit hati, marah, dan ribut besar dengan ayah Bagus karena sering pulang malam dan berjudi. Dan yang lebih parah lagi, ayah Bagus mengadu pada ibunya, neneknya Bagus, dan si nenek ini ikut-ikutan memarahi ibunya Bagus. Ibu Bagus merasa tidak bisa menghadapi kedua orang ini akhirnya memendam perasaan marahnya. Dan tanpa ia sadari, kemarahan ini diserap oleh janin dalam kandungannya.

Saat Bagus lahir, tanpa ia sadari, di pikiran bawah sadarnya telah ada emosi marah yang cukup intens, yang berasal dari ibunya. Emosi ini mendapat penguatan lanjutan dari beberapa kejadian hingga akhirnya menjadi masalah, tanpa Bagus pernah tahu apa penyebabnya.

Untuk bisa benar-benar mengatasi masalah ini, saya membantu Bagus menyelesaikan satu demi satu kejadian, dengan cara menuntun dan mengarahkan Bagus mengeluarkan emosinya dengan cara yang aman, terkendali, hingga tuntas, dan melakukan rekonsiliasi dengan pelaku pada kejadian-kejadian ini.

Apakah sudah selesai sampai di sini? Oh, belum. Ini baru separuh jalan.

Untuk memastikan emosi pada lima kejadian ini, terutama pada kejadian paling awal, telah benar-benar tuntas teratasi, Bagus masih perlu melewati satu tahap lagi. Ini adalah tahap pemeriksaan final yang dilakukan pada pikiran bawah sadar untuk memastikan semua emosi negatif ini telah tuntas teratasi dan tidak ada Bagian Diri yang keberatan atas semua perubahan positif yang telah terjadi pada Bagus.

Ini tahap penting karena seringkali masih ada sisa emosi yang tidak lagi klien rasakan, karena telah sangat samar atau halus, dan bila tidak benar-benar bersih, ia bisa menjadi akar yang menumbuhkan kembali masalah serupa.

Usai terapi Bagus merasa sangat lega. Dan dalam sesi wawancara pascaterapi, Bagus menyatakan ia kini mengerti mengapa selama ini masalahnya tidak bisa tuntas teratasi. Ternyata, proses terapi yang ia lakukan selama ini bukan pada akar masalah. Dan ia sama sekali tidak menyangka kalau akar masalahnya berasal dari masa dalam kandungan. Total waktu yang dibutuhkan untuk terapi sekitar 3,5 jam.

Satu minggu kemudian Bagus memberi kabar bahwa ia sekarang sudah sangat nyaman. Ia tidak lagi mudah marah karena hal-hal sepele. Dan kalaupun marah, emosi marah atau kesal yang ia rasakan masih dalam batas yang wajar dan bisa ia kendalikan.



Dipublikasikan di http://adiwgunawan.com/articles/mencabut-masalah-perlu-hingga-ke-akarnya pada tanggal 20 Oktober 2017 23:44