Menyembuhkan “Epilepsi” dengan Hipnoterapi Klinis

Beberapa hari lalu saya kedatangan klien, sebut saja Budi, usia 20 tahun. Budi datang bersama kedua orangtuanya dengan harapan saya bisa membantu mengatasi masalahnya, sering kejang. Di Intake Form, Budi menulis masalahnya adalah epilepsi.

Sesuai protokol, saya melakukan wawancara pada kedua orangtua Budi terlebih dahulu. Karena menurut mereka ini adalah epilepsi, saya tentu tidak boleh gegabah. Epilepsi adalah kondisi serius yang harus ditangani oleh dokter, bukan hipnoterapis klinis tanpa latar belakang medis. Melalui wawancara, saya mendapat informasi penting tentang kejang yang Budi alami, kapan awal serangan kejang ini terjadi, frekuensinya, apa yang Budi alami saat kejang, bagaimana kondisi fisik dan atau emosi Budi sebelum terjadi serangan, berapa lama serangan ini berlangsung, obat apa yang Budi minum, pemeriksaan apa yang telah Budi jalani, dan bagaimana respon lingkungan terhadap kondisi Budi. 

Saya jelaskan hubungan antara emosi, pikiran bawah sadar, abreaksi, dan somatisasi. Emosi, khususnya emosi negatif, saat muncul dan dialami seseorang, tapi tidak bisa terekspresi dengan baik, tidak bisa keluar atau dikeluarkan dari sistem psikis, pasti akan memengaruhi tubuh.

Pikiran bawah sadar (PBS) akan memberi pesan khusus pada individu untuk membereskan emosi negatif melalui empat tahap. Pertama, individu akan merasa emosi atau perasaan tidak nyaman. Bila ini tidak segera diatasi, dan individu terus mengalami emosi negatif, maka PBS akan menaikkan “peringatan” ke level dua yaitu kepala pusing. Bila ini tetap tidak diatasi, level tiga adalah terjadinya reaksi fisik berupa tangan gemetar. Orang yang tidak paham kondisi ini umumnya berpikir mereka kena parkinson. Bukan, ini bukan parkinson tapi hysterical tremor. Saya pernah menangani klien usia 24 tahun yang mengalami tangan gemetar. Setelah emosi yang mengganggu dirinya berhasil dinetralisir, tangannya kembali normal. Level lima adalah kondisi sangat serius yaitu serangan kejang. Kunci dari penanganan masalah ini adalah emosi.

Menurut mereka, Budi pertama kali mengalami kejang saat kelas 5 SD, saat main game. Ini terjadi di rumah. Serangan ini berlangsung beberapa saat, sekitar lima menit, setelahnya Budi sadar kembali. Berikutnya, bila Budi sedang stres atau suasana hatinya tidak bagus, banyak tekanan karena tugas sekolah, atau bisa juga tegang akibat main game, terjadi serangan kejang.

Budi telah menjalani pemeriksaan MRI dan juga EEG. Menurut dokter yang menangani Budi, hasilnya normal, sama sekali tidak ada masalah. Sudah dua tahun terakhir Budi minum obat Depakote ER 500mg. Setelah mendapat penjelasan ini barulah saya putuskan menangani kasus ini. Bila hasil pemeriksaan medis menunjukkan memang ada masalah pada otak Budi, ini bukan ranah saya, tapi harus ditangani dokter.

Berdasar hal yang telah disampaikan oleh kedua orangtuanya, besar kemungkinan Budi mengalami Psychogenic Nonepileptic Seizures (PNES). Serangan PNES tampak serupa dengan kejang akibat epilepsi, namun ia bukan akibat gangguan pada listrik otak. Diperkirakan dari semua penderita epilepsi, 20-30% terdiagnosa mengalami PNES. Pada banyak penderita PNES sering dijumpai pengalaman traumatik di masa lalu mereka (Benbasdis, 2005).

Saya sampaikan pada orangtua Budi bahwa saya telah beberapa kali menangani kasus serupa dan berhasil dengan baik. Asalkan secara medis tidak ada masalah maka ini bisa dibantu dengan hipnoterapi klinis.

Selanjutnya saya menjumpai Budi yang sedang menanti di ruang tunggu, diikuti kedua orangtuanya. Saya jelaskan pada Budi bahwa ada teknik terapi berbasis meridian, yang bila dipraktikkan, bisa mencegah dan menghentikan serangan kejang sebelum mencapai titik maksimal.

Saya minta Budi rileks, tutup mata, dan mengingat saat ia terakhir kali mengalami serangan kejang, bulan lalu. Saya minta ia rasakan benar gejala awal serangan. Selang beberapa saat, Budi mulai merasa merinding di kedua tangan dan kakinya. Saya minta Budi meniatkan untuk meningkatkan level serangan ini. Jari-jari Budi mulai gemetar dan tubuhnya mulai terasa dingin. Saat serangan ini terus meningkat, saya langsung mempraktikkan teknik terapi yang dimaksud dengan menyentuh dua titik di tubuh Budi. Dalam waktu sekitar tujuh detik Budi mengatakan serangan ini mereda dengan sendirinya. Baik Budi maupun kedua orangtuanya bingung. Mereka bertanya, “Kok bisa ya, Pak? Biasanya kalau sudah begini pasti jadi. Ini tiba-tiba hilang tak berbekas.”

Saya jelaskan bahwa bila Budi bisa secara sengaja memunculkan serangan ini maka ia tentunya juga bisa memadamkannya. Budi punya kendali penuh atas dirinya. Saya mengajarkan teknik ini pada Budi untuk ia gunakan bila dibutuhkan.

Saya lanjut menerapi Budi di ruang praktik. Setelah melakukan wawancara mendalam, saya mulai lakukan hipnoanalisis di pikiran bawah sadar (PBS) untuk mendapat informasi mengapa Budi sampai mengalami kejang. Ternyata ada satu bagian diri atau EP (ego personality) Budi sengaja membuat Budi kejang. EP ini, menamakan dirinya sebagai Otak, melakukan ini karena merasa kesal pada Budi. Budi terlalu memaksakan dirinya, terutama main game. Saat tubuh Budi lelah, mata juga sudah terasa pedih, Budi tetap memaksa diri main game hingga larut malam dan bahkan dini hari. EP Otak sengaja “menghukum” Budi agar tidak melanjutkan perbuatannya. EP Otak mau Budi menjaga kesehatannya, hidup teratur.

Saat saya tanya ke EP Otak kapan ia pertama kali membuat Budi kejang, ia menjawab sejak Budi kelas 4 SD. Jadi, sebenarnya EP Otak ini telah memberi sinyal, berkomunikasi dengan Budi melalui simtom yang ia munculkan namun Budi tidak paham dan mengabaikannya.

Setelah dewasa, saat kuliah, Budi sering tidur dini hari karena main game. Dan besok pagi jam 07.30 Budi kuliah hingga sore jam 17.00. Pulang ke rumah, Budi main game sampai dini hari. Dan ini dilakukan hampir setiap hari. EP Otak marah dan membuat Budi kejang.

Untuk mengatasi hal ini saya melakukan edukasi pada EP Otak agar ia tidak lagi menghukum Budi. Saya minta Budi bicara langsung dengan EP Otak. Terjadi komunikasi yang cukup alot. Intinya, EP Otak bersikeras minta Budi mengatur hidup lebih baik. Bila tidak menuruti kemauannya, ia akan membuat Budi kejang. Akhirnya saya menengahi dan terjadilah diskusi tiga arah, saya selaku terapis, Budi, dan EP Otak.

Melalui proses negosiasi dan edukasi yang panjang, EP Otak bergeming dengan keputusannya, sama sekali tidak mau berubah. Untuk melunakkan hati EP Otak, saya menggunakan teknik tertentu, mengubah struktur pembentukannya, tentu tanpa disadari atau diketahui oleh EP Otak, dan setelahnya barulah ia melunak serta bersedia diajak diskusi secara konstruktif.

Akhirnya, berhasil dicapai kesepakatan antara Budi dan EP Otak. Budi boleh main game tapi maksimal sampai jam 23.00. Kalau belajar, maksimal sampai jam 24.00. Bila kesepakatan ini dilanggar Budi maka EP Otak akan memberi peringatan sampai tiga kali. Bila ini tidak diindahkan, EP Otak akan langsung melakukan serangan kejang. Sebaliknya EP Otak berjanji mendukung Budi sehingga lebih fokus, daya ingat semakin kuat, dan kemampuan menyerap materi yang ia pelajari juga meningkat pesat.

Untuk memastikan semua kesepakatan ini telah diterima, dimengerti, dan setuju dilaksanakan oleh para pihak, dalam hal ini Budi dan EP Otak, saya melakukan simulasi. Saya minta Budi sengaja melanggar kesepakatannya dengan EP Otak, dan benar, Budi mulai merasakan serangan, yang bila diteruskan pasti akan membuatnya kejang. Sebaliknya, saat Budi tetap memegang janjinya, EP Otak mendukungnya dalam proses belajar.

 

 

 



Dipublikasikan di http://adiwgunawan.com/articles/menyembuhkan-epilepsi-dengan-hipnoterapi-klinis pada tanggal 31 Januari 2018 16:06