Beberapa Temuan Penting Terkini Dinamika Pikiran di AWGI

25 April 2017 22:05

Format pelatihan hipnoterapi klinis profesional SECH (Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy) mulai tahun 2017 ini mengalami perubahan. Bila sebelumnya pelatihan berlangsung selama sembilan hari, terbagi menjadi tiga pertemuan masing-masing tiga hari, kini lama pelatihan sepuluh hari dan khusus di minggu kedua, lama masa pelatihan adalah empat hari. Keputusan menambah waktu pelatihan satu hari bertujuan untuk memberi lebih banyak ruang dan waktu untuk memaparkan materi secara lebih mendalam karena banyak sekali update dan temuan terkini yang diajarkan di kelas SECH.

Di pertemuan barusan, para peserta berlatih teknik regresi dan juga EP (ego personality). Sebelumnya, setelah tiga hari pertama, para peserta mendapat tugas melakukan induksi kepada minimal sepuluh klien dan memastikan para klien berhasil dibimbing masuk kondisi hipnosis dalam (deep trance / profound somnambulism). Hasil praktik induksi, semua klien berhasil masuk kondisi hipnosis dalam. Bahkan banyak yang masuk ke kondisi sangat dalam.

Ada beberapa temuan penting dan menarik berkenaan dengan dinamika pikiran, saat klien dalam kondisi hipnosis dalam dan menjalani proses regresi. Temuan ini adalah hasil dari pengalaman para peserta pelatihan yang diceritakan kepada forum usai latihan sekaligus menjadi bahan diskusi menarik dan ditinjau dari teori dan cara kerja pikiran bawah sadar yang dikembangkan AWGI.

Saat klien dalam kondisi hipnosis dalam, pikiran bekerja tidak seperti dalam kondisi sadar normal, light atau medium trance. Kondisi kedalaman hipnosis yang wajib dicapai klien untuk bisa menjalani terapi berdasar protokol AWGI adalah profound somnambulism. Saat dalam kondisi profound somnambulism, pikiran sadar sangat rileks, malas berpikir, dan menjadi pasif. Dengan kata lain, pikiran klien diam menunggu instruksi terapis, apa yang akan dilakukan. Saat terapis minta klien mundur ke satu masa atau kejadian spesifik yang dulu pernah klien alami, secara spontan klien langsung teregresi dan mengalami kembali kejadian ini (revivifikasi). Setelahnya, klien hanya diam di kejadian ini sampai ada instruksi lebih lanjut. Saat instruksi diberikan, misalnya klien sedang berdiri di pinggir jalan menanti bus, dan bila terapis berkata, “Sekarang anda lihat bus sudah datang, bus berhenti di depan anda, dan anda naik bus ini”, klien tidak mengalami ini semua secara bertahap tapi dari posisi berdiri di pinggir jalan, klien merasa seolah menaiki bus tapi tiba-tiba sudah duduk di dalam bus. Jadi, prosesnya sangat cepat.

Peserta lain, “stuck” dan sama sekali tidak bisa mundur saat diregresi. Upaya regresi dilakukan berulang kali namun ia tetap tidak bisa mundur, tersangkut di saat ini, pikirannya diam, sama sekali tidak bereaksi, dan muncul warna tertentu seperti cahaya di pikirannya. Berdasar teori yang dikembangkan di AWGI, kami tahu apa yang terjadi pada peserta ini, mengapa ia tidak bisa mundur, dan berapa kedalaman trance yang ia capai. Peserta ini masuk terlalu dalam, minimal ke kedalaman 30 dari total 40 kedalaman trance pada AWG Hypnotic Depth Scale. Saat ia diminta buka mata, dibawa naik dulu, kemudian diminta menutup mata dan diregresi, kali ini bisa.

Saat klien diregresi dan mengalami revivifikasi ternyata gambaran yang muncul di pikiran belum tentu jelas. Yang umum terjadi, klien mengalami kejadian, melihat apa yang sedang terjadi namun agak samar. Ini hal yang wajar dan tidak penting. Yang penting adalah perasaan atau emosi yang dirasakan saat mengalami kejadian, karena protokol hipnoterapi klinis AWGI fokus pada upaya menetralisir emosi yang lekat pada memori.

Revivifikasi membutuhkan klien bisa menjelaskan, berdasar “penglihatan”-nya, apa yang sedang ia alami. Namun hal ini tidak selalu berlaku saat menggunakan teknik EP. Saat terapis mengakses EP tertentu untuk menyelesaikan masalah klien, EP menjadi aktif dan bisa langsung berkomunikasi, memberi informasi yang diminta oleh terapis, tanpa harus revivifikasi. “Jalur” aktivasi dan penggalian informasi yang digunakan oleh EP berbeda dengan regresi. Walau sejatinya, saat klien mengalami regresi dan memberi informasi yang diminta oleh terapis, yang berkomunikasi dengan terapis adalah juga EP.

Hal menarik lain, dan ini sudah dijelaskan detil kepada para peserta sebelum mereka berlatih praktik, pikiran bawah sadar memiliki kecerdasan dan cara berpikir yang terpisah dari pikiran sadar. Saat klien dalam kondisi deep trance, pikiran sadar menjadi sangat rileks, malas berpikir, dan saat itu pikiran bawah sadar mengambil alih kendali diri. Gerakan pikiran bawah sadar sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh input yang diberikan padanya, dalam hal ini adalah ucapan atau sugesti dari terapis. Lebih spesifik lagi, semantik yang digunakan oleh terapis.

Pilihan semantik yang kurang tepat, disadari atau tidak, membuat pikiran bawah sadar bergerak tidak seperti yang diharapkan. Contoh semantik yang kurang tepat adalah penggunakan kata “itu”, “di situ”, “waktu itu”, “di sana”, “saat itu”, “ingat-ingat”, atau “bayangkan” secara tidak disadari menggeser posisi revivifikasi (asosiasi) menjadi hipermnesia (disosiasi). Contoh lainnya adalah saat klien, sebut saja sebagai Ibu Ani, telah teregresi ke usia lima tahun, misalnya, dan pada saat itu terapis tetap menyebut klien sebagai Ibu Ani. Salah sebut ini berakibat klien mengalami progresi, dari titik mendarat regresi, di masa kecil, kembali ke masa sekarang di ruang terapi. Itu sebabnya saat terapis bertanya pada klien apa yang terjadi, apa yang ia rasakan, klien tidak bisa memberi jawaban atau hanya berkata tidak merasakan apapun.  

Melalui praktik beberapa kali, di bawah supervisi ketat para asisten, peserta SECH belajar dari kesalahan kecil berdampak besar, yang mereka lakukan tanpa disadari, memetik hikmah, memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan siap untuk menjadi hipnoterapis cakap dan andal.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online37
Hari ini1.200
Minggu ini18.313
Bulan ini64.728
Bulan lalu107.975
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends