Empat Faktor Penting dalam Pendidikan Terapis

10 Juni 2018 01:12

Dalam artikel Sepuluh Karakteristik Terapis Efektif  telah dijelaskan kualitas inti yang perlu dikembangkan untuk dapat menjadi terapis efektif. Selain ini, masih ada faktor penting lain yang juga berpengaruh signifikan terhadahap kualitas dan keefektifan seorang terapis, yaitu pendidikan yang ia jalani.

Dalam proses pendidikan, ada empat faktor yang berpengaruh terhadap keluaran dan kualitas terapis yang dihasilkan. Pertama, kualitas “bahan baku” calon hipnoterapis. Semakin baik kualitasnya maka semakin besar kans untuk menghasilkan hipnoterapis cakap, andal, efektif. Kualitas yang dimaksud tidak semata merujuk pada tingkat kecerdasan intelektual (IQ), tapi lebih pada kecerdasan emosi (EQ), kematangan kepribadian, nilai-nilai hidup (value), kepercayaan (belief), citra diri, dan alasan yang mendasari seseorang memutuskan menjadi terapis.

Faktor kedua adalah kualitas pengajar. Ini adalah aspek paling penting dalam proses mencipta terapis kompeten. Penelitian menunjukkan bahwa dalam setiap kasus yang diteliti, kualitas, kecakapan, dan kemampuan pengajar sangat menentukan dan memengaruhi kualitas terapis yang dihasilkan. Dengan kata lain, pengajar yang benar-benar cakap (high functioning) dapat membentuk, mengembangkan murid dengan kemampuan awal di bawah rata-rata menjadi terapis yang juga cakap dan andal menyerupai dirinya. Demikian sebaliknya, pengajar yang tidak cakap (low functioning) akan menghasilkan terapis tidak efektif, sama seperti dirinya, dan dapat merugikan klien (Rothstein, 1988).

Hipnoterapi dipelajari sebagai cabang ilmu psikologi dan dipraktikkan sebagai seni yang hidup, menelusuri pikiran bawah sadar klien, mencari dan menemukan akar masalah, melakukan rekonstruksi kejadian paling awal untuk mencapai resolusi demi kebaikan hidup klien. Untuk itu, seorang pengajar harus benar-benar menguasai landasan teori materi yang ia ajarkan, menguasai dengan sangat baik beragam teknik intervensi klinis yang telah terbukti dan teruji secara klinis efektif membantu klien mengatasi beragam masalah, dan ia adalah praktisi aktif, berpengalaman, dengan rekam jejak yang baik.

Banyak sekali pengajar hanya menguasai teori, bukan praktisi. Tentu saat mengajar, mereka hanya mengajarkan pengetahuan terapi, bukan cara melakukan terapi efektif. Ini sama seperti seorang “ahli” renang, yang tidak bisa berenang, mengajarkan cara berenang di kelas, tanpa praktik di kolam renang. Saat muridnya masuk ke kolam renang, mereka sudah pasti tidak bisa berenang. Dan saat murid minta petunjuk kepada pengajarnya, ia tidak bisa memberikan bimbingan praktik, tidak berani masuk ke kolam renang, dan hanya bisa memberi petunjuk dari samping kolam dengan mengacu pada buku atau teori.

Ketiga, kurikulum dan fokus program pendidikan. Yang dimaksud dengan konten dan fokus di sini adalah materi yang diajarkan, hasil apa yang ingin dicapai, apakah pendidikan bertujuan menghasilkan hipnoterapis kompeten, mampu melakukan terapi dengan benar, efektif, ataukah hanya sekedar menghasilkan hipnoterapis yang tahu tentang hipnosis dan hipnoterapi namun tidak kompeten dalam melakukan terapi. Di sini perlu dicermati jurang lebar yang memisahkan certified hypnotherapist dan qualified hypnotherapist. Seorang certified hypnotherapist belum tentu qualified melakukan hipnoterapi. Sertifikat, berapapun jumlah yang dimiliki terapis, tidak serta merta menjamin ia adalah terapis efektif.

Pada hampir semua pelatihan hipnoterapi, baik di dalam maupun luar negeri yang pernah saya ikuti atau pelajari kurikulumnya, konten dan fokus hanya pada teori, teknik, dan bila sempat, praktik. Jarang ditemukan ada pelatihan yang fokus mengembangkan variabel karakater terapis efektif, terdiri atas sepuluh aspek. Pengembangan karakter ini tentunya butuh waktu, tidak bisa dicapai melalui proses singkat. Selain itu, sangat jarang ada pengajar hipnoterapi melakukan live therapy di depan kelas, untuk menunjukkan bagaimana seharusnya terapi dilakukan dengan benar, tepat, efektif seperti yang ia lakukan di ruang praktik.

Keempat, modalitas pendidikan yang tidak tepat sasaran. Dalam proses pendidikan menjadi hipnoterapis, atau terapis secara umum, peserta harus, selain mendapat landasan teori, mendapat kesempatan melakukan banyak praktik di bawah supervisi pengajar cakap dan berpengalaman (high functioning). Program pelatihan yang melibatkan banyak pengalaman praktik meningkatkan kemampuan terapi peserta didik secara signifikan.

Saat terapis telah menjalani proses pendidikan dan mengembangkan sepuluh kualitas inti dengan baik, saat praktik membantu klien mengatasi masalah, terapis perlu menyadari bahwa ada empat faktor penting yang juga sangat memengaruhi dan menentukan keberhasilan terapi: klien (40%), relasi (30%), plasebo atau pengharapan (15%), dan teknik (15%).

Faktor klien meliputi beberapa hal, antara lain keinginan (willingness) dan kesiapan (readiness) untuk berubah, kepercayaan atau belief-nya, dukungan orang dekat, pasangan atau keluarga, dan juga lingkungan.

Sementara yang dimaksud dengan faktor relasi adalah relasi terapeutik, bukan relasi biasa, bukan sekedar membangun hubungan persahabatan antara terapis dan klien, atau umumnya disebut rapport. Relasi terapeutik adalah hubungan khusus antara klien dan terapis, berlandaskan rasa saling percaya dan menghargai, komitmen masing-masing pihak untuk melakukan upaya maksimal demi mencapai tujuan terapeutik. Komunikasi antara terapis dan klien diarahkan semata untuk mencapai tujuan terapeutik.

Faktor plasebo atau pengharapan juga memainkan peran penting dalam proses terapi. Pengharapan memainkan peran penting karena salah satu hukum pikiran menyatakan apa yang pikiran harapkan terjadi, cenderung menjadi kenyataan. Jadi, bila klien (sangat) berharap untuk bisa sembuh, tanpa memerhatikan faktor lainnya, kemungkinan ia sembuh sebesar 15%. Ini satu angka yang cukup besar.

Dan yang terakhir adalah faktor teknik yang dikuasai oleh terapis. Ada banyak terapis, karena tidak mengerti atau mengetahui pentingnya sepuluh kualitas inti dan empat faktor yang dijelaskan di atas, lebih fokus memelajari berbagai teknik dengan harapan dapat menjadikan dirinya terapis efektif. Realitanya tidak seperti ini. Justru banyak terapis gagal mencapai tujuan terapi karena lebih sibuk menjalankan peran sebagai mekanik, bukan penyembuh.

Bila terapi yang mereka lakukan belum berhasil memberi hasil seperti yang diharapkan, alih-alih menelisik ke dalam diri apa yang masih kurang, mereka justru menyalahkan teknik karena dianggap tidak efektif. Untuk itu, mereka belajar lagi teknik yang diyakini lebih efektif, dan setelah dipraktikkan, gagal lagi. Demikian seterusnya hingga akhirnya mereka “sadar” bahwa terapi bukanlah bidang yang “sesuai” untuk mereka, dan memutuskan berhenti menjadi terapis.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online109
Hari ini865
Minggu ini6.660
Bulan ini47.384
Bulan lalu90.116
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends