Fobia dan Cara Mengatasinya

11 Oktober 2017 22:24

Fobia, menurut American Psychiatric Association, adalah rasa takut irasional dan berlebih terhadap suatu objek atau situasi. Ada sangat banyak fobia. Seiring perkembangan jaman, muncul fobia-fobia baru seperti nomofobia atau ketakutan bila tidak memiliki akses atau kesempatan menggunakan telepon genggam. 

Fobia dikategorikan sebagai gangguan kecemasan karena rasa cemas adalah emosi paling dominan yang dirasakan penderitanya. Rasa cemas biasanya berlanjut menjadi rasa takut, yang bila tidak ditangani dengan benar bisa berubah menjadi serangan panik. Adapun simtom yang berhubungan dengan fobia meliputi antara lain sesak napas, mual, pusing, gemetar, detak jantung meningkat, pandangan menjadi kabur, tubuh menjadi dingin, atau berkeringat.

Penyebab Fobia

Saat bayi lahir, ia hanya punya dua rasa takut: takut suara keras dan takut jatuh. Dengan demikian, takut-takut lainya ia pelajari dari lingkungan dalam proses tumbuh kembangnya, termasuk fobia.

Setiap fobia pasti memiliki kejadian paling awal yang membuat anak menjadi sensitif terhadap sesuatu. Kejadian paling awal ini disebut ISE atau initial sensitizing event. Selanjutnya anak akan mengalami satu atau beberapa kejadian lanjutan yang disebut dengan SSE atau subsequent sensitizing event hingga akhirnya muncul simtom berupa rasa takut berlebih. Walau jarang terjadi, ISE bisa langsung menyebabkan terjadinya fobia dalam diri seseorang.

Dari pengalaman klinis dan temuan di ruang praktik, seringkali ISE adalah kejadian sepele. Saya pernah membantu seorang klien fobia kecoak. Saat dilakukan hipnoanalisis untuk mencari akar masalah, ditemukan kejadian paling awal yaitu saat ia berusia lima tahun, sedang mandi dan tiba-tiba ada seekor kecoak muncul, entah dari mana, dan membuatnya kaget. Usai kejadian ini ia belum takut kecoak. Klien mengalami beberapa kejadian lanjutan, yang berhubungan dengan kecoak, antara lain ia melihat ibunya panik dan berteriak saat ada kecoak, hingga akhirnya rasa takut ini menjadi sangat kuat dan menetap dalam dirinya, menjadi fobia.

Ada lagi klien, seorang pria, takut tikus. Kejadian paling awal adalah saat berusia tujuh tahun, malam hari, ia berjalan di kebun dan tidak sengaja menginjak tikus. Tikusnya menjerit kesakitan, klien kaget karena merasa ada yang kenyal di telapak kakinya. Sejak saat itu ia fobia tikus.

Ada juga anak yang belajar menjadi fobia dari orang tua, terutama ibunya. Saat anak berulang kali melihat perilaku ibunya yang merasa takut berlebih pada sesuatu, ia belajar dan menyerap perilaku ibu ke dalam dirinya. Dengan pengulangan, akhirnya fobia ibu juga tercipta dalam diri si anak. Rasa takut berlebih bisa terhadap serangga, binatang, orang, benda, situasi, atau apa saja.

Cara Kerja Fobia

Prinsip kerja fobia sebenarnya sederhana. Fobia adalah program pikiran yang tercipta melalui suatu proses. Ia selalu menautkan dan terdiri dari dua hal, pemicu dan emosi. Bila, misalnya, seseorang fobia jarum suntik, maka jarum suntik adalah pemicu yang akan mengaktifkan emosi tertentu, misalnya cemas, takut, atau ngeri. Pemicu ini bisa berupa sesuatu yang nyata, klien melihat langsung jarum suntik, atau hanya dalam imajinasi, gambar, atau mendengar cerita tentang jarum suntik.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sumber masalah terletak bukan pada objek atau situasi, sebagai pemicu, tapi lebih pada emosi yang terpicu. Bila variabel emosi dapat dihilangkan maka tidak ada lagi yang bisa dipicu, klien sembuh. Pemicu ini bisa berupa gambar, suara, rasa, bau, sensasi fisik, atau perasaan yang terhubung dengan rasa takut atau cemas intens.

Mengatasi Fobia

Ada banyak cara mengatasi fobia. Dari semua cara ini, bila ditelisik lebih mendalam, sejatinya hanya terbagi menjadi dua kategori: memroses akar masalah dan tanpa memroses akar masalah.

Bila fobia diatasi dengan cara pertama, memroses akar masalah, maka terapis akan melakukan hipnoanalisis guna mencari dan menemukan kejadian paling awal penyebab fobia.

Saya pernah membantu klien fobia ular. Ternyata akar masalahnya sangat sederhana. Klien, saat berusia 5 tahun, sedang jalan di kebun, dan tiba-tiba jumpa bangkai ular. Klien kaget luar biasa. Saya memroses kejadian ini dan setelahnya klien langsung sembuh dari fobianya.

Ada banyak varian teknik mengatasi fobia tanpa memroses akar masalah atau sering disebut content free. Yang paling umum adalah desensitisasi. Bila fobia tercipta karena proses sensitisasi maka desentisasi membalik proses ini sehingga, diharapkan, fobia bisa hilang.

Dalam proses desensitisasi, klien dipertemukan dengan objek yang membuatnya takut, misal ulat. Ulat ini diletakkan agak jauh dari klien. Klien tentu merasa tidak nyaman. Namun, setelah beberapa saat, rasa tidak nyaman ini akan berkurang dan terus berkurang hingga ke level yang bisa ditolerir atau dikendalikan. Setelahnya, ulat ini semakin didekatkan pada klien. Proses ini terus diulangi dengan semakin mendekatkan objek pada klien hingga akhirnya objek berada di depan klien namun klien tidak lagi merasa takut.

Cara lain adalah flooding. Bila desensitisasi berusaha menghilangkan rasa takut secara gradual, flooding adalah kebalikannya. Klien langsung dihadapkan pada objek yang ia takuti. Bila fobia ulat, klien akan dihadapkan dengan banyak ulat. Bila fobia ketinggian, klien akan langsung dibawa ke tempat tinggi. Logika di balik teknik ini adalah saat klien dihadapkan pada objek fobia, emosi yang muncul dalam dirinya akan sangat intens. Namun emosi ini tidak bisa terus meningkat atau bertahan selamanya, karena sampai pada satu titik, energi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar emosi akan habis. Dan pada saat inilah intensitas emosi mulai menurun hingga akhirnya dapat dikendalikan.

Fobia juga bisa diatasi dengan sugesti, baik melalui proses swahipnosis atau heterohipnosis. Ada beberapa variabel yang perlu diperhatikan agar sugesti bisa bekerja maksimal mengatasi fobia. Pertama, skrip sugesti disusun menggunakan struktur yang benar agar dapat memberi pengaruh maksimal ke pikiran bawah sadar klien. Ada empat belas aturan yang perlu diindahkan saat menyusun skrip sugesti. Kedua, kedalaman hipnosis yang dicapai klien harus sesuai untuk kebutuhan teknik ini, minimal profound somnambulism, lebih dalam lebih baik. Ketiga, cara terapis menyampaikan sugesti pada klien. Keempat, intensitas emosi karena fobia, dan tingkat resistensi dalam diri klien terhadap sugesti.

Terapi kognitif dan perilaku (CBT) juga masuk kategori ini. Demikian pula EFT (Emotional Freedom Technique) dan beberapa teknik terapi berbasis NLP seperti mengubah strategi, mengubah submodalitas, swish pattern, collapsing anchor, dan fast phobica cure.

Fobia akan sangat mudah diatasi bila bersifat lapis tunggal, bukan lapis banyak. Yang dimaksud lapis tunggal adalah bila rasa takut pada objek atau situasi tertentu bukan berupa terusan dari objek atau situasi lain. Bila fobia bersifat lapis banyak maka harus dilakukan penelusuran di pikiran bawah sadar untuk menemukan akar masalah agar bisa tuntas. 

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online37
Hari ini2.331
Minggu ini4.391
Bulan ini68.930
Bulan lalu92.074
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends