Hipnoterapi Mengalahkan Setan?

2 Mei 2018 01:12

Walau hipnoterapi telah berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 2005 hingga saat ini, ternyata masih juga ada yang salah memahami esensi dan praktik hipnoterapi. Dulu ada yang berpikir hipnoterapi sama dengan gendam, menggunakan kuasa gelap, menguasai pikiran orang lain, subjek yang dihipnosis dalam kondisi tidak sadar, dan bisa diminta melakukan apa saja, bisa tersangkut atau tidak bisa keluar dari kondisi hipnosis, bisa lupa ingatan, dan masih banyak mispersepsi lainnya.

Banyak harapan dan permintaan dari para calon klien, yang karena berlandaskan pemahaman keliru tentang hipnoterapi, tidak dapat kami penuhi. Ada menantu yang minta saya menghipnosis mertuanya agar tidak cerewet dan patuh pada apapun permintaan dan kemauannya. Ada lagi yang minta saya membuktikan apakah suaminya selingkuh atau tidak. Dan yang lebih luar biasa, pernah ada yang minta saya “menghipnotis” rekan bisnisnya agar segera membayar utang, dan ini dilakukan dari jarak jauh.

Baru-baru ini saya dihubungi oleh orangtua calon klien, sebut saja sebagai Ibu Dian yang mengeluhkan kondisi anaknya, Budi, sebelas tahun. Menurut Bu Dian, anaknya ini lemah iman sehingga mudah dipengaruhi setan. Bu Dian minta saya untuk memperkuat iman anaknya agar dapat mengalahkan setan yang sering mengganggunya.

Ini satu permintaan menarik dan belum pernah saya jumpai sepanjang karir saya sebagai hipnoterapis klinis. Dan hal ini tentu membuat saya penasaran dan ingin tahu lebih lanjut. Saya putuskan untuk bertanya lebih jauh apa yang ia maksudkan dengan menguatkan iman untuk mengalahkan setan.

Ibu Dian menjelaskan bahwa Budi punya kebiasaan buruk yaitu ketagihan main game, nonton video porno, dan masturbasi. Saya tanya Bu Dian apa hubungan antara yang Budi lakukan dengan setan, dan mendapat penjelasan yang akhirnya membuat saya paham duduk persoalannya.

Dalam keyakinan Bu Dian, setan adalah makhluk yang senang menggoda manusia untuk melakukan hal-hal buruk dan menjauhkan manusia dari Tuhan. Menurut Bu Dian, apa yang Budi lakukan pasti karena bisikan atau godaan setan. Budi tidak kuat menolak atau melawan pengaruh setan. Selaku orangtua, Bu Dian sudah berulang kali menasihati dan mendoakan Budi agar bertobat dan berhenti melakukan hal-hal buruk. Budi mau mendengar nasihat Ibunya dan berubah paling lama sekitar satu minggu. Setelahnya ia kembali pada kebiasaan lama. Menurut Budi, ia benar-benar mau berhenti melakukan hal-hal buruk itu, namun tak mampu. Semakin ia berusaha berhenti, semakin tidak bisa. Ia merasa ada bisikan atau dorongan untuk melakukan dan mengulangi perbuatannya dan ia tak kuasa menolak. Bu Dian merasa frustrasi dan mau mencoba hipnoterapi untuk membantu anaknya.

Saya jelaskan pada Bu Dian bahwa hipnoterapi adalah cabang ilmu psikologi. Urusan iman dan setan adalah ranah agama, bukan hipnoterapi. Untuk itu saya sarankan ia jumpa dan konsultasi dengan pemuka agamanya. Tapi Bu Dian bersikeras dan yakin saya bisa membantu putranya karena ia mendapat informasi dari sahabatnya bahwa saya memiliki kemampuan khusus. Nah, lho?

Jadi begini ya. Hipnoterapi, seperti yang telah saya jelaskan adalah cabang ilmu psikologi. Saya menghindari membahas iman atau setan karena ini di luar ranah keilmuan dan kompetensi saya. Dan saya akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Budi dari perspektif ilmu pikiran, khususnya hipnoterapi klinis.

Kita berhubungan atau kontak dengan lingkungan melalui enam indera: penglihatan, penciuman, perasa/pengecap, pendengaran, perabaan, dan pikiran. Melalui kontak ini muncul sensasi yang masuk ke pikiran. Selanjutnya pikiran, dengan daya imajinasinya, bisa netral, menguatkan, atau melemahkan, memberi makna senang (positif), netral, atau tidak senang (negatif). Mengikuti makna, muncul emosi senang (positif), netral, atau tidak senang (negatif). Selanjutnya data berupa narasi kejadian plus emosi yang lekat padanya disimpan di memori pikiran bawah sadar (PBS).

Data ini bisa bertumbuh menjadi program pikiran yang dorman (tidak aktif), lemah, kuat, atau sangat kuat bergantung beberapa hal, antara lain repetisi, level otoritas orang yang memasukkan program ke pikiran bawah sadar, dan atau intensitas emosi. Bila kontak sering terjadi, data menjadi semakin kuat. Demikian pula bila intensitas emosi yang lekat pada data (baca: memori kejadian) semakin intens, baik emosi positif atau negatif, ia menjadi semakin kuat. Sesuai dengan sifat dasar manusia, mengejar kesenangan dan menghindari penderitaan, maka bila tidak secara sadar dikendalikan, segala sesuatu yang memberi rasa senang pasti akan cenderung terus diulangi, sementara yang memberi rasa tidak senang pasti sedapat mungkin dihindari.

Dari perspektif ilmu pikiran, khususnya hipnoterapi klinis, manusia bukan entitas tunggal. Dalam diri kita ada banyak Bagian Diri yang, secara teknis, disebut Ego Personality (EP). EP ini bertindak sebagai manusia kecil di dalam diri setiap individu. Ia memiliki tujuan, fungsi, memori, emosi, logika pikir, karakter, kepribadian, atau peran spesifik bergantung pada alasan dan proses terciptanya. 

Jadi, pertanyaan paling mendasar pada kasus Budi adalah mengapa ia sampai melakukan yang ia lakukan?

Teorinya sebenarnya sangat sederhana. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Untuk setiap akibat (baca: perilaku) pasti ada sebab. Sebab inilah yang sering tidak orang pahami sehingga muncul mispersepsi.

Kembali pada penjelasan saya di atas, perilaku Budi ketagihan main game, nonton video porno, dan masturbasi pasti ada sebabnya. Dari pengalaman dan temuan kami, anak umumnya main game sebagai upaya mengatasi kesepian, bisa karena kurang mendapat perhatian orangtua atau karena tidak punya teman. Saat anak pertama kali main game, muncul rasa senang. Bila pengalaman ini berulang, ia menjadi kesan yang sangat kuat terekam di PBS anak. EP yang memegang pengalaman ini tentunya akan mendorong anak untuk terus mengulangi. Demikian pula dengan nonton video porno dan masturbasi. Sekali anak terpapar dengan pornografi, ia pasti sangat terpengaruh dan cenderung akan terus mengulanginya.

Salah satu fungsi PBS adalah tempat menyimpan program pikiran yang bersifat stimulus respon. Maksudnya, saat ada stimulus atau pemicu maka memori atau program yang ada di PBS akan aktif dan selanjutnya memengaruhi dan mengendalikan individu. Stimulus bisa berasal dari luar maupun dalam diri, dari  pikiran. Saat anak merasa kesepian, PBS secara otomatis mengarahkan ia untuk main game, agar terhibur dan tidak lagi kesepian. Demikian pula saat anak melihat gawai, memori yang berhubungan dengan gawai terpicu dan menjadi aktif. Emosi yang lekat pada memori ini mendorong anak untuk mengulangi kesenangan main game. Sama halnya dengan pornografi. Tidak perlu stimulus dari luar diri. Hanya dengan mengingat kembali atau membayangkan apa yang telah ia tonton sebelumnya, dan biasanya diperkuat dengan imajinasi, ini saja sudah cukup untuk mengaktifkan memori dan akhirnya mendorong anak mengulangi yang ia lakukan. Perilaku ini mengalami penguatan berulang dan menjadi semakin kuat mencengkeram individu dan sangat sulit dikendalikan, menjadi kemelekatan atau adiksi.

Motivasi bertindak sering muncul dalam diri seseorang dalam bentuk suara hati yang seolah membisiki atau mendorong mereka melakukan sesuatu. Dari perspektif hipnoterapi klinis, ini adalah ulah EP, bukan setan. PBS, dalam hal ini EP, berkomunikasi dengan individu (pikiran sadar) melalui lima cara yaitu suara yang terdengar dari dalam hati, perasaan atau emosi, sensasi fisik, mimpi, dan intuisi.

Mengapa sulit untuk menghentikan kebiasaan ini?

Kebiasaan tersimpan di PBS dan PBS 95-99 kali lebih kuat dari pikiran sadar (PS). Saat orangtua menasihati anaknya, si anak secara sadar tentunya mau berubah. Nasihat orangtua sejatinya adalah sugesti yang masuk ke PBS. Masalahnya, di PBS telah ada EP atau program pikiran yang jauh lebih kuat menguasai anak dibanding dengan sugesti untuk berubah. Itu sebabnya berbagai upaya yang dilakukan untuk membantu anak berubah selalu menemui jalan buntu. Anak bisa menggunakan kekuatan kehendak (will-power) untuk berubah namun ini hanya bisa berlangsung sementara. Untuk mengalami perubahan yang bertahan lama yang perlu diproses adalah PBS bukan PS.

Untuk mengatasi masalah ini, hipnoterapis klinis akan memroses EP yang mendorong klien melakukan perilaku atau tindakan yang hendak dihentikan. Jadi, yang diproses hanya satu EP, bukan klien secara keseluruhan. Hipnoterapis akan bertanya tujuan EP melakukan yang ia lakukan, memberi edukasi, melakukan negosiasi agar EP berhenti melakukan yang ia lakukan, dan melakukan rekonstruksi kejadian paling awal yang membuat EP muncul.

Selanjutnya, menggunakan teknik cathexis alteration, hipnoterapis memperkuat EP yang mendukung klien, misalnya EP yang membuat klien rajin belajar, fokus, semangat, atau sejenisnya. Dengan demikian, usai terapi, masalah klien teratasi dan ia berubah menjadi pribadi yang lebih baik, seperti yang diharapkan.

Dari perspektif orang awam, yang tentunya tidak memahami apa yang kami lakukan, kesannya adalah dengan hipnoterapi kami dapat “mengalahkan” setan yang selama ini menjadi pembisik, penggoda, atau pendorong si anak melakukan suatu tindakan yang merugikan dirinya. Dengan anak menjadi kuat, tidak mudah tergoda, mereka menyimpulkan hipnoterapi dapat sekaligus menguatkan iman.

Setelah mendengar uraian saya, Bu Dian berkata, “Nah, benar kan seperti yang dikatakan teman saya. Pak Adi punya kemampuan khusus. Berarti, dengan hipnoterapi Pak Adi bisa menguatkan iman Budi sehingga kuat menghadapi bisikan atau godaan setan. Kapan saya bisa bawa anak saya jumpa Pak Adi?”

Lho….?

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online25
Hari ini848
Minggu ini7.695
Bulan ini53.996
Bulan lalu52.558
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends