Lebih Memahami Self Hypnosis

22 Februari 2017 14:35

Hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu. Sesuai definisinya, hipnosis sejatinya relaksasi pikiran, bukan relaksasi fisik. Relaksasi fisik bisa, namun tidak selalu, terjadi saat individu dalam kondisi hipnosis. Dengan demikian relaksasi fisik tidak dapat digunakan sebagai acuan penentu kondisi dan kedalaman hipnosis. Acuan presisi yang digunakan adalah relaksasi mental.

Hipnosis dapat terjadi sebagai heterohypnosis, yaitu hipnosis yang dilakukan operator pada subjek, parahypnosis yaitu hipnosis yang terjadi karena pengaruh obat, autohypnosis yaitu hipnosis yang terjadi secara spontan dan bersifat adaptif untuk keselamatan hidup, serta self-hypnosis yaitu hipnosis yang dilakukan pada dan oleh diri sendiri.

Proses mental pada masing-masing hipnosis berbeda satu dengan yang lain. Pada heterohypnosis, ego terbagi menjadi dua yaitu satu bagian yang mengalami kondisi hipnosis dan satu lagi yang mengamati. Pada parahypnosis, bagian yang mengamati sangat lemah, bisa juga non-aktif, sehingga yang ada hanyalah bagian yang mengalami hipnosis. Dalam autohypnosis, individu tidak menyadari keberadaan hipnosis karena prosesnya sepenuhnya dijalankan oleh pikiran bawah sadar. Bahkan saat keluar dari kondisi hipnosis, ia juga tidak menyadarinya. Pada self-hypnosis, terjadi aktivasi tiga ego berbeda yaitu bagian yang mengalami hipnosis, bagian yang melakukan hipnosis (director / sutradara), dan bagian yang mengamati.

Mode Fungsi Ego dalam Self Hypnosis

Dalam self-hypnosis terdapat tiga mode fungsi ego, yaitu ego pasif (ego passivity), ego aktif (ego activity), dan ego reseptif (ego receptivity). Konsep ini dikembangkan oleh Fromm dan Kahn (1990). Ego pasif didefinisikan sebagai ketidakberdayaan akibat dorongan internal atau batasan lingkungan. Ini bisa berupa ketidakmampuan sementara untuk membuat keputusan atau sebuah regresi patologis, seperti dalam psikosis. Dalam self-hypnosis, ego pasif terjadi saat klien merasa terbebani oleh gambar mental yang ia alami dan tidak mampu mengatasi konflik akibat bentuk-bentuk pikiran yang muncul dari dalam diri.

Ego aktif terdiri atas pembuatan keputusan, kegiatan yang diarahkan oleh tujuan, berpikir logis berurutan, aktivasi dan pemeliharaan mekanisme pertahanan diri secara psikologis. Dalam self-hypnosis, ego aktif adalah aktivitas mental yang diarahkan seperti keputusan, pikiran, atau sugesti yang klien berikan pada dirinya sendiri (Fromm dan Kahn, 1990). Mode ini melibatkan pilihan, kehendak bebas, mekanisme pertahanan, dan penguasaan.

Ego reseptif adalah mode di mana kendali secara sadar dari pengalaman internal, penilaian kritis, dan berpikir yang diarahkan oleh tujuan, untuk sementara waktu dilepas, dan individu mengijinkan materi dari nirsadar dan bawah sadar secara bebas muncul (Fromm dan Kahn, 1990). Ini serupa dengan sugestibilitas dalam heterohypnosis.

Dalam penelitian Chicago Paradigm, pada subjek-subjek yang sangat sugestif ditemukan mode yang paling sering terjadi dalam self hypnosis adalah ego aktif dan ego reseptif. Suseptibilitas hipnosis, kedalaman hipnosis, ketercerapan, dan imaji berorientasi realita semuanya berhubungan dengan ego reseptif. Ini semua menunjukkan bahwa ego menjadi sangat reseptif terhadap stimuli yang berasal dari dalam diri saat terjadi self-hypnosis.

Dari perspektif teori kepribadian, individu yang menyukai keteraturan, kepastian, struktur baku dalam kehidupan mereka, dan membutuhkan peneguhan atau penguatan serta arahan dari orang lain, saat melakukan self-hypnosis akan bersifat ego aktif. Mereka akan memberi diri mereka sangat banyak sugesti sehingga tidak mengijinkan gambaran mental muncul spontan dan tidak tercerap dalam proses yang dijalani, atau mengijinkan diri mereka masuk ke kondisi hipnosis lebih dalam. Sementara individu mandiri, berani mengambil risiko, butuh sedikit dukungan eksternal, dan tidak membutuhkan keteraturan yang tinggi dalam hidup cenderung akan sangat ego reseptif dan terbuka terhadap pengalaman internal (Fromm dan Kahn, 1990).

Self-Hypnosis Klinis

Self-hypnosis klinis berbeda dengan self-hypnosis umumnya yaitu ia merupakan pelengkap pendekatan terapi lainnya, bisa psikoterapi individual, terapi kelompok, atau terapi keluarga (Sanders, 1991). Dalam konteks ini, terapis mengajari klien self-hypnosis, biasanya melalui heterohypnosis, mengarahkan klien untuk kemudian mempraktikkannya sendiri di rumah. Ini mendorong klien untuk berperan serta aktif dalam terapi, bekerja sama dengan terapis, dan membangun kecakapan penguasaan diri dan pemeliharaan diri. Klien melakukan self-hypnosis di rumah, di sela sesi terapi.

Cara Melakukan Self-Hypnosis

Cara paling mudah melakukan self-hypnosis adalah melalui heterohypnosis. Dalam heterohypnosis subjek masuk kondisi hipnosis karena bimbingan operator. Setelah subjek berada di kedalaman yang diinginkan, subjek bisa diberi sugesti atau jangkar (anchor) sehingga nanti dapat masuk kembali ke kedalaman yang sama, atau lebih dalam lagi, sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

Situasinya berbeda bila sedari awal subjek berusaha melakukan self-hypnosis sendiri. Dari uraian di atas jelas sekali bahwa subjek yang dibimbing masuk kondisi hipnosis, melalui heterohypnosis, ego yang aktif hanya dua: yang mengalami dan yang mengamati. Saat melakukan self-hypnosis, ego terbagi menjadi tiga: yang mengalami, yang melakukan, dan yang mengamati. Bagi yang tidak biasa, ini tentu akan cukup sulit untuk bisa masuk ke kondisi hipnosis yang (sangat) dalam karena ada satu bagian diri (ego) yang harus tetap aktif melakukan hipnosis pada diri sendiri.

Cara lain melakukan self-hypnosis adalah menggunakan rekaman audio yang berisikan skrip tertentu. Prosesnya sama seperti heterohypnosis. Bedanya, heterohypnosis butuh orang lain sebagai operator sementara dalam rekaman audio peran operator digantikan oleh mesin yang memainkan rekaman yang telah disiapkan sebelumnya.

Fenomena dalam self-hypnosis, yang umum dipahami, melibatkan keseluruhan kepribadian (ego). Namun pada beberapa klien yang mengalami resistensi biasanya ada satu atau beberapa bagian diri (ego personality/ EP) yang merasa tidak nyaman, takut, atau menolak proses self-hypnosis.

Untuk mengatasi hal ini terapis perlu mencari dan menemukan EP yang resisten, melakukan terapi pada EP ini sehingga akhirnya subjek dapat dengan mudah dan mampu melakukan self-hypnosis (McNeal dan Frederick, 1998).

Belajar Self-Hypnosis

Self-hypnosis, bila mampu dilakukan dengan benar, sangat banyak manfaatnya. Saat seseorang dalam kondisi hipnosis, tubuhnya mengalami respon relaksasi yang sangat baik untuk kesehatan. Penelitian tentang respon relaksasi ini telah dilakukan secara intensif oleh Herbert Benson dari Harvard Medical School.

Untuk tujuan terapi diri, self-hypnosis, dalam pengertian sebagai upaya swadaya untuk masuk kondisi hipnosis, tidak terapeutik. Kondisi hipnosis per se tidak bersifat terapeutik, namun adalah prasyarat untuk bisa melakukan teknik-teknik penyembuhan secara efektif yang melibatkan pikiran bawah sadar. Untuk bisa melakukan penyembuhan diri swadaya membutuhkan teknik yang sesuai dengan kondisi yang hendak diatasi.

Ada banyak trainer atau lembaga yang mengajarkan self-hypnosis, masing-masing dengan durasi pelatihan dan kurikulum yang berbeda. Artikel ini tidak bertujuan untuk menunjuk langsung atau merekomendasikan pelatihan mana yang sebaiknya diikuti. Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar satu pelatihan dikatakan baik dalam konteks mengajarkan self-hypnosis.

Syarat ini antara lain, pertama, pengajarnya adalah seorang hipnoterapis klinis yang aktif menangani klien di ruang terapi. Syarat pertama ini mutlak perlu dipenuhi mengingat trainer yang baik adalah trainer yang praktisi, bukan teoris. Kedua, dalam pelatihan dijelaskan detil tentang landasan teoretik yang digunakan trainer mengajar self-hypnosis, cara kerja pikiran sadar dan bawah sadar, apa itu kondisi hipnosis, bagaimana cara mencapai kondisi ini, apa saja ukuran baku untuk mengetahui dan memastikan seseorang telah masuk kedalaman kondisi hipnosis tertentu. Akan sangat baik bila trainer memiliki alat ukur guna membuktikan secara kuantitatif kondisi hipnosis yang dicapai peserta. Ketiga, teknik self-hypnosis yang diajarkan mampu membawa peserta dengan tipe sugestibilitas berbeda untuk bisa masuk kondisi hipnosis. Ini sangat penting mengingat sering dijumpai peserta pelatihan yang tidak bisa masuk kondisi hipnosis karena teknik yang diajarkan tidak efektif. Keempat, peserta mendapatkan teknik-teknik self-healing yang telah teruji secara klinis efektif untuk mengatasi masalah. 

Dari berbagai literatur dan juga pengalaman klinis dapat disimpulkan bahwa untuk memelajari self-hypnosis secara mendalam tidak mungkin dilakukan hanya dalam dua atau tiga jam. Selain perlu mendapat uraian mendalam tentang teori dan teknik, para peserta juga perlu berlatih, di tempat pelatihan, untuk bisa masuk ke kondisi hipnosis sendiri. Dan di tahap awal ini tentu butuh bimbingan dan bantuan trainer.

Kontraindikasi untuk Self-Hypnosis Klinis

Walau self-hypnosis memiliki banyak manfaat, terdapat beberapa kontraindikasi penggunaannya. Self-hypnosis sebaiknya tidak digunakan oleh klien dengan transferensi erotik atau negatif yang kuat (Soskis, 1986). Self-hypnosis juga tidak disarankan digunakan oleh klien yang mengalami gangguan stres pascatrauma atau PTSD (post-traumatic stress disorder) atau disosiatif yang belum memelajari bagaimana menghasilkan kondisi hipnosis yang positif atau bebas konflik, atau yang belum cukup mampu mengendalikan pergantian alter yang bermasalah. Self-hypnosis juga tidak disarankan penggunaannya oleh klien delusi paranoid, atau klien psikotik atau gangguan kepribadian ambang (borderline) yang sebaiknya tidak mengalami kontak dengan imaji atau gambaran mental yang berasal dari proses berpikir primer. 

Selain itu, self-hypnosis juga sebaiknya tidak diajarkan pada klien yang motivasinya rendah, atau yang menggunakan self-hypnosis sebagai pelarian dari realita atau yang secara aktif menolak terapi. Beberapa klien bisa menggunakan self –hypnosis sebagai cara untuk memuaskan adiksinya pada trauma, dengan secara sengaja dan berulang mengakses pengalaman traumatik dan mengalami abreaksi sebagai bentuk stimulasi yang membangkitkan gairah.

Self-hypnosis juga sebaiknya tidak diajarkan pada klien yang bertujuan untuk mengungkap “fakta” yang tersimpan di memori pikiran bawah sadar. Memori bersifat rekonstruktif, bukan reproduktif. Dengan demikian, sama seperti dalam heterohypnosis, memori yang terungkap belum tentu akurat mengingat distorsi yang dapat terjadi pada memori.

(sumber: www.AgusWirajaya.com)

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online64
Hari ini1.469
Minggu ini16.796
Bulan ini45.168
Bulan lalu91.401
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends