Mengatasi Dorongan Bunuh Diri dengan Hipnoterapi Klinis

9 Februari 2017 18:41

Beberapa waktu lalu saya kedatangan seorang klien dari luar kota. Klien ini, sebut saja sebagai Budi, usia awal 40an, telah berkeluarga. Budi datang ke saya setelah didesak oleh istrinya dan juga kedua orangtuanya untuk mencari bantuan profesional. Masalah Budi adalah ia sering tiba-tiba menangis tanpa sebab dan ia juga tidak bisa merasakan apa emosi yang menyebabkan ia menangis. Kondisinya semakin diperparah dengan adanya dorongan sangat kuat untuk melakukan tindakan bunuh diri. Beberapa kali Budi mencoba bunuh diri dengan minum obat penenang dan mengiris urat nadi. Kejadian terakhir yang akhirnya mendorong Budi jumpa saya adalah saat berada di lantai sepuluh salah satu mal muncul keinginan sangat kuat untuk melompat, terjun bebas ke lantai dasar. 

Melalui proses wawancara ditemukan beberapa fakta menarik mengenai proses perjalanan hidup Budi. Kedua orangtua, terutama ayah Budi, sangat keras dalam mendidik Budi. Setiap kali Budi dapat nilai ujian jelek, ayahnya pasti akan memberi hukuman dalam bentuk pukulan menggunakan rotan atau sabuk hingga kaki Budi terluka dan berdarah. Dan memang saat kecil Budi mengalami kesulitan belajar. Ia sulit konsentrasi sehingga tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Budi berulang kali mengatakan bahwa ia yakin pengalaman buruk dengan ayahnya inilah yang menjadi penyebab dorongan untuk bunuh diri yang ia rasakan. 

Saat kelas empat, Budi sering berkelahi dengan teman-temannya. Menurut Budi, sebenarnya ia tidak berkelahi. Ia meminta teman-temannya untuk memukuli dirinya dan ia sama sekali tidak melawan. Budi menikmati setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya, termasuk saat ia ditendang dan diinjak-injak. Dorongan menyakiti diri sendiri ini terus berlanjut hingga usia remaja, terutama saat SMP dan SMA. 

Dorongan bunuh diri, menurut Budi, muncul pertama kali saat usia 15 tahun. Untuk mengatasi dorongan bunuh diri, setiap hari Budi minum minuman beralkohol, olahraga berlebih, dan menyibukkan diri dengan bekerja mulai pagi hingga larut malam. Budi juga suka memukul tembok atau objek lain untuk menghilangkan dorongan bunuh diri. Semua yang Budi lakukan tak kuasa menanggulangi dorongan yang semakin lama semakin kuat ia rasakan. 

Saya mencatat semua yang Budi sampaikan dan selanjutnya mulai melakukan terapi dengan mengakses pikiran bawah sadar Budi. Mengikuti alur Quantum Hypnotherapeutic Protocol, saya mengakses Bagian Diri atau Ego Personality (EP) yang mendorong Budi melakukan tindakan bunuh diri. EP ini jugalah yang menikmati rasa sakit yang dialami klien saat dipukuli teman-temannya dulu. 

Ternyata tidak mudah melakukan negosiasi dan edukasi pada EP ini agar ia berhenti melakukan yang telah ia lakukan selama ini pada Budi. Walau terkesan setuju dengan usul atau saran saya, agar ia mengganti peran dalam diri Budi, saya menangkap ada keengganan. 

Tidak ada cara lain, untuk menuntaskan kasus ini, saya perlu mengakses dan memodifikasi struktur pembentukan EP. Dengan teknik tertentu, setelah melalui rangkaian yang terdiri dari dua kejadian, saya berhasil menemukan struktur awal pembentukan EP. Saya memodifikasi dan mengubah struktur ini. Selanjutnya saya melakukan pengecekan apakah dorongan bunuh diri ini masih ada atau tidak. 

Saat saya tanyakan hal ini pada Budi, ia menjawab dorongan bunuh diri masih ada. Hal ini tentu membuat saya penasaran. Biasanya, saat struktur pembentukan EP dimodifikasi, sifat EP pasti berubah. Tapi, kali ini tidak. Apa yang terjadi?

Saat saya bertanya siapa yang mendorong Budi bunuh diri, sekarang, ternyata buka EP ini. Ada EP lain yang memunculkan dorongan ini. Saya segera sadar bahwa ini bukan kasus sederhana. Dorongan bunuh diri ini bersifat multilayer atau banyak lapisan. 

Saya putuskan mengganti teknik untuk mencari dan menuntaskan akar masalah. Dengan teknik hipnoanalisis, yang dilakukan dalam kondisi deep trance, ditemukan hal sangat menarik. 

Pada hipnoanalisis pertama, dorongan bunuh diri dirasakan disekujur lengan kiri dengan intesitas delapan, menggunakan skala nol hingga sepuluh. Dibutuhkan dua regresi berbasis afek untuk bisa menemukan kejadian paling awal (ISE). Setelah ini dibereskan, dorongan bunuh diri masih ada. 

Saya lanjut dengan hipnoanalisis kedua. Kali ini dorongan bunuh diri dirasakan di seluruh telapak tangan kiri, dengan intensitas sembilan. Sama dengan sebelumnya, butuh dua kali regresi berbasis afek untuk bisa menemukan ISE. Setelah dilakukan proses menetralisir emosi di dua kejadian ini, dorongan bunuh diri masih tetap ada. 

Proses terapi dilanjutkan dengan hipnoanalisis ketiga. Kali ini Budi merasakan dorongan bunuh diri hanya di empat jari kiri, dengan intensitas lima. Untuk menemukan akar masalah dibutuhkan tiga kali regresi. Saat emosi pada tiga kejadian ini telah dinetralisir, saat ditanya, Budi tetap masih merasakan adanya dorongan bunuh diri. 

Lanjut dengan hipnoanalisis keempat. Dorongan bunuh diri kali ini dirasakan di ujung-ujung jari tangan kiri dengan intensitas enam. Kali ini hanya butuh dua regresi untuk menemukan akar masalah (ISE). Saat tahap ini selesai dilakukan, Budi merasa lega dan menyatakan tidak lagi merasakan keberadaan dorongan bunuh diri. 

Selaku terapis saya tentu gembira dengan pernyataan Budi. Namun, pengalaman klinis membuat saya menunda rasa gembira ini. Saya memutuskan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada sistem psikis dan tubuh Budi. Menggunakan teknik khusus yang didesain untuk tujuan ini, saya melakukan pengecekan dan akhirnya ditemukan sisa dorongan bunuh diri yang menempati betis kanan Budi. Walau disebut sisa, namun dorongan ini masih cukup kuat karena intensitasnya masih di angka delapan. Dorongan ini yang membuat Budi ingin melompat dari tempat tinggi untuk bunuh diri. 

Saya putuskan lanjut dengan hipnoanalisis kelima. Dan kali ini, hanya dengan sekali regresi berhasil ditemukan akar masalah. Saya memroses tuntas akar masalah ini. Kemudian lanjut dengan pengecekan ulang. Hasilnya, bersih. Sama sekali tidak ada sisa sedikitpun dorongan untuk bunuh diri. 

Proses terapi dilakukan selama empat jam dua puluh menit. Proses ini cukup melelahkan Budi. Sebenarnya masih ada satu kasus lagi yang Budi ingin saya bantu atasi namun saya putuskan ditunda mengingat kondisinya yang sudah cukup lelah. 

Kasus ini, jujur, bukan kasus yang mudah. Butuh kesabaran tinggi dan kejelian untuk bisa benar-benar menuntaskan akar masalah. Total, ada enam proses. Masing-masing proses menemukan akar masalah berbeda. Bila diibaratkan sungai, dorongan bunuh diri pada Budi adalah muara yang aliran airnya dipasok oleh enam sungai berbeda. Masing-masing sungai dengan deras dan debit air yang berbeda namun sama kuatnya. Dengan demikian bisa dibayangkan betapa besar kekuatan tenaga aliran sungai di muara.  

Usai terapi, saya sengaja mengajak Budi diskusi. Dan ini saya lakukan selama dua puluh menit sambil mengamati kondisi fisik dan terutama psikis Budi. Budi barusan melewati proses terapi yang panjang. Dan saya perlu memastikan Budi benar-benar telah keluar dari kondisi somnambulisme dan berada di kesadaran normalnya. Selain itu, fisik Budi juga perlu segar kembali. Semua ini penting mengingat Budi datang ke tempat saya dengan mengendarai mobil. Cukup riskan bila ia pulang ke rumahnya, mengendarai mobil, dengan kondisi fisik dan psikis yang belum segar sepenuhnya. 

Tiga hari kemudian Budi jumpa saya lagi untuk sesi lanjutan. Saat jumpa saya, saya bertanya apa saja yang ia rasakan atau alami pascaterapi. Budi dengan gembira menjawab bahwa ia kini sudah bisa merasakan emosinya. Ia juga tidak lagi ada dorongan bunuh diri. Biasanya, sebelum diterapi, setiap bangun tidur selalu muncul keinginan untuk melukai diri. Namun setelah terapi, keinginan ini hilang total. Budi juga bisa tidur dengan mudah, tidak lagi minum minuman beralkohol. Budi merasa ada beban yang sangat besar lepas dari dirinya dan ia kini merasa bebas. Wajah Budi juga lebih cerah dan ceria. Orangtua Budi juga mengabarkan perubahan positif Budi. Mereka merasakan benar perubahan Budi pascaterapi. 

Di sesi kedua saya membantu Budi mengatasi kasus lain, yang belum sempat tertangani di sesi pertama karena Budi sudah kelelahan. 

(Kisah ini ditulis dan dipublikasi atas ijin klien. Nama klien diganti untuk menjaga kerahasiaan dan privasi. Klien mengijinkan kisahnya ditulis dan dibaca publik agar dapat memberi inspirasi dan harapan bahwa sesulit apapun suatu kondisi, tetap ada solusi.)

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online32
Hari ini3.155
Minggu ini17.295
Bulan ini53.607
Bulan lalu104.366
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends