Forensic hypnosis adalah salah satu cabang ilmu hipnosis yang fokus pada penggalian data/memori (memory retrieval) di pikiran bawah sadar subjek. Forensic hypnosis digunakan dalam penyidikan untuk membantu saksi mata mengingat kembali kejadian dan memberikan gambaran mengenai pelaku atau orang yang dicurigai sebagai pelaku. Tidak semua upaya mengingat kembali suatu kejadian membutuhkan bantuan forensic hypnosis. Forensic hypnosis digunakan apabila semua upaya standar telah dilakukan dan saksi (korban) tetap tidak mampu mengingat kejadian, karena terjadi blocking yang mengakibatkan (selective) amnesia.
Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh hipnoterapis, yang melakukan forensic hypnosis, yaitu ia tidak bisa membuat atau memaksa seorang tersangka untuk mengaku sebagai pelaku kejahatan karena hal ini tidak mungkin bisa dilakukan. Kasus persidangan pertama yang melibatkan forensic hypnosis adalah kasus Cornell vs Superior Court of San Diego di tahun 1959.
Proses melakukan forensic hypnosis mirip, namun berbeda, dengan proses mencari akar masalah dalam hipnoterapi. Dalam hipnoterapi, hipnoterapis membantu klien menemukan akar masalah yang ... (lanjut)
Di tahun 1999, WHO (World Health Organization) melansir laporan mengenai prevalensi depresi yang menyatakan bahwa depresi adalah musuh nomor empat manusia setelah sakit jantung, kanker, dan kecelakaan lalu lintas. Laporan yang sama menyatakan bahwa di tahun 2020 depresi akan naik peringkat menjadi faktor nomor dua yang menyebabkan penderitaan manusia (Murray & Lopez, 1997).
Apa sebenarnya depresi?
Simtom depresi menurut DSM-IV yaitu perasaan tertekan hampir sepanjang hari atau hilangnya minat pada hal-hal yang umumnya disukai atau sering dilakukan, nafsu makan menurun drastis yang mengakibatkan turunnya berat badan, gangguan tidur, emosi tidak stabil, kelelahan yang sangat (fatique), perasaan diri tidak berharga, perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak pada tempatnya, konsentrasi yang buruk, keinginan atau kencederungan bunuh diri, dan bahkan sampai melakukan tindakan bunuh diri (APA, 1994). Data yang dikeluarkan WHO menyatakan bahwa depresi merenggut lebih dari 850.000 jiwa setiap tahun.
Depresi bisa dialami oleh siapa saja, baik pria atau wanita, dewasa atau anak-anak. Namun sayangnya kurang ... (lanjut)