Home Profile Services Products Events Articles My Notes Testimonial Contact  



Uji Sugestibilitas

Quantum Hypnosis Indonesia

Receive information on the latest events and happenings here!
Sign Up Your E-mail below:

: :





Ultimate Height (CD Audio Therapy)


Surabaya - Seminar Quantum Life Transformation
  16 Oktober 2010
Hotel Tunjungan Surabaya
Jl. Tunjungan 102-104 Surabaya
   
Seminar Hypnotherapy for Children
  11 Desember 2010
Hotel ASTON
Denpasar
   
SURABAYA: QLT for TEENS
  24-29 Desember 2010
Hotel Tretes Raya
Tretes (Surabaya)
   
 

Event lainnya, klik disini

My Notes

Barusan saya kembali dari Amerika untuk kembali meng-update ilmu untuk semakin mengembangkan diri saya. Sungguh satu perjalanan yang cukup melelahkan namun membahagiakan.

Saya berangkat dari Surabaya ke Hongkong selama sekitar 4 jam 30 menit. Transit ... (lanjut)


Testimonials

Selamat malam Pak Adi, saya Rusman dari Tarakan telah memutuskan untuk mengikuti workshop QHi Oktober mendatang. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Pak Adi. Ternyata apa ... (lanjut)


    Untitled Document

Terima Kasih Tuhan... Ternyata Anak Saya Normal

Saya menulis artikel ini berdasar pengalaman membantu menangani kasus anak SD kelas 3, sebut saja Ani, dari salah satu sekolah swasta ternama di Surabaya. Cerita lengkapnya sebagai berikut.

Minggu lalu saya mendapat telpon dari seorang ibu, sebut saja Lina, yang dengan nada cemas dan agak frustasi menceritakan kondisi Ani. Ani mengalami beberapa masalah seperti tidak percaya diri, sulit konsentrasi, dan sangat sulit menghapal materi pelajaran. Untuk membantu Ani, Bu Lina telah meminta bantuan guru dari sekolah Ani memberikan les atau pelajaran tambahan pada Ani setiap hari 3 jam. Namun hasilnya Ani tetap mengalami kendala belajar. Bahkan untuk pelajaran Pensos Ani sudah remedi 3 x dan hasilnya selalu jelek. Bu Lina pusing dan stress memikirkan anaknya.

Saat bertemu saya di ruang terapi, penilaian awal saya adalah Ani adalah anak yang pemalu dan memang kurang percaya diri. Namun setelah berinteraksi beberapa saat dengan saya Ani berani bicara dengan lebih leluasa. Menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh ibunya saya mulai melakukan serangkaian penggalian data untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada diri Ani.

Menurut Bu Lina guru les Ani telah berulang kali meminta agar Ani menjalani tes IQ. Alasannya adalah karena Ani sulit belajar dan konsentrasi. Namun Bu Lina tidak bersedia melakukan tes IQ pada Ani karena ia yakin anaknya normal dan tidak bermasalah.

Setelah melewati serangkaian tes yang saya lakukan dan kemas melalui permainan saya sampai pada kesimpulan yaitu:
1. Ani anak yang manis, baik, dan normal.
2. Kendala belajar, dalam hal ini menghapal, sebenarnya lebih disebabkan karena adanya mental block pembelajaran.
3. Guru les mengajar Ani dengan cara konvensional, bukan dengan teknik yang sesuai. Dan Ani telah les pada guru ini selama 2 tahun.
4. Ani tidak suka dengan guru lesnya.
5. Sistem pengujian yang dilakukan di sekolahnya mengharuskan Ani untuk bisa menjawab pertanyaan persis sama seperti yang ada di catatan.
6. Rasa kurang percaya diri Ani juga berhubungan dengan kemampuan Matematikanya, dalam hal ini penguasaan tabel perkalian yang masih lemah.

Saya membuktikan kepada Bu Lina mengenai temuan saya di atas. Pertama saya meminta Ani menghapalkan 10 kata yang saling tidak berhubungan. Seperti murid lainnya Ani menghapal dengan membaca kata demi kata secara berulang. Setelah itu saya meminta Ani mengulangi apa saja yang telah ia hapalkan. Ani mengalami kesulitan. Dari 10 kata yang Ani ingat hanya 3 saja.

Selanjutnya saya bertanya, "Tadi waktu Pak Adi minta Ani menghapalkan kata-kata ini, apa yang Ani rasakan?"

"Males, bosan, takut, merasa nggak bisa, nggak suka" jawab Ani dengan agak takut.

Selanjutnya saya menanyakan intensitas emosi yang ia rasakan. Ternyata sangat intens. Dari skala 1 sampai 10 Ani merasakannya di skala 8. Pantas, tadi saat Ani menghapal, walaupun ia telah berusaha keras, tetap saja tidak bisa maksimal.

Saya lalu mendemokan teknik Surrogate Hypno-EFT sambil disaksikan oleh Bu Lina. Hanya dengan kalimat Set Up ambil mengurut sore spot intesitas emosi langsung turun ke 0. Lalu saya lakukan uji hasil terapi ini. Hasilnya... confirmed...emosinya sudah clear semua. Selanjutnya memberikan beberapa sugesti tambahan untuk memperkuat hasil terapi ini. Baru setelah itu saya meminta Ani menghapal 10 kata yang telah saya siapkan namun kali ini saya mengajarkan teknik memori pada Ani.

Hasilnya?

Dahsyat. Ani mampu mengingat 10 kata ini dengan sempurna. Bahkan saya beberapa kali meminta Ani untuk mengulangi menyebutkan 10 kata yang telah ia hapalkan dan hasilnya Ani tetap bisa mengingat semuanya dengan sangat baik.

Saya melihat mata Bu Lina berkaca-kaca. Dan saya katakan bahwa Ani sebenarnya tidak ada masalah. Yang bermasalah justru guru lesnya yang tidak tahu cara mengajari Ani dengan benar. Dan yang lebih menjengkelkan adalah guru les ini dengan entengnya mengatakan bahwa Ani bermasalah, anak yang lamban, dan masalah belajar Ani disebabkan oleh IQ yang rendah. Itu sebabnya guru les ini berulang kali meminta agar Ani menjalani tes IQ. Keprihatinan seperti inilah yang saya tuangkan ke dalam artikel saya sebelumnya yang berjudul "Teaching Disabled vs Learning Disabled".

Sungguh kasihan Ani. Dalam satu hari ia "sekolah" 2 kali. Bayangkan, setiap hari Ani les 3 jam @ 60 menit sama dengan 180 menit. Kalau 1 jam pelajaran di sekolah adalah 35 menit maka ini sama saja Ani "sekolah" lagi di rumahnya, dan yang mengajar adalah guru les yang nota bene adalah guru di sekolahnya juga, selama 5 jam pelajaran.

Kendala kedua yang Ani hadapi adalah sistem sekolah yang kaku yang mengharuskan siswa menjawab sama persis seperti yang di catatan. Lha, kalau begini kondisinya, anak pasti akan mengalami kendala. Apalagi kalau yang ditanyakan adalah definisi. Jangankan muridnya, gurunya saja belum tentu bisa menghapal dan menjawab dengan benar.

Selanjutnya saya melakukan terapi pada beberapa aspek yang berhasil saya gali dari Ani, antara lain perasaan negatif yang muncul akibat ulah temannya dan juga gurunya. Dalam hal ini tidak penting apakah teman atau gurunya memang membuat masalah pada Ani. Yang penting adalah emosi yang tersimpan dalam diri Ani, akibat persepsinya atas kejadian itu, dinetralisir.

Sedangkan mengenai penguasaan tabel perkalian yang masih lemah saya menyarankan Bu Lina untuk segera fokus membantu Ani untuk menguasainya. Hal ini sangat penting karena tabel perkalian ini mutlak dibutuhkan untuk bisa mengerjakan soal yang lebih rumit di kelas atas. Jika tidak menguasai tabel perkalian maka anak akan mengalami kendala belajar yang bisa mempengaruhi konsep dirinya hingga dewasa.

Saya menyarankan Bu Lina untuk membaca buku saya Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian dan mengajarkannya pada Ani. Saya juga mendemokan cara menghapal perkalian 9 yang ternyata dalam waktu yang singkat berhasil Ani kuasai.

Saya mengatakan pada Bu Lina bahwa hanya ini yang saya bisa lakukan untuk membantu Ani. Untuk sistem di sekolah Ani, saya tidak bisa apa-apa. Bu Lina bisa memahami hal ini dan benar-benar merasa lega karena akhirnya terbukti bahwa anaknya normal.

Untuk memperkuat efek perubahan yang telah berhasil dicapai saya mengajarkan Bu Lina apa saja yang perlu ia dan suaminya lakukan di rumah untuk mendukung Ani agar bisa berkembang lebih baik lagi di masa depan.


Send to Friends
Tell Your Friends
Send to Friends
  Print Artikel



Artikel Lainnya:


Encouragement
Forensic Hypnosis and Memory
Treating Depression with Hypnotherapy
Rumah Tangga Berantakan Karena PLR
Uji Sugestibilitas: Perlukah?
Understanding Ego State
The Science of Gratitude
Advanced Hypnotic Abreaction Techniques
Daftar Artikel Lengkap
 
Home | Profile | Services | Products | Events | Articles | My Notes | Testimonial | Contact

Copyright © 2007 Adi W Gunawan. All Rights Reserved.
Design by MATAAIR Media Communications