Progresi Dalam Hipnoterapi

Dalam hipnoterapi terdapat dua strategi, khususnya yang memanfaatkan fenomena mental berkaitan dengan penelusuran garis waktu: regresi (age regression) dan progresi (age progression).

Progresi adalah fenomena hipnosis melibatkan mengalami masa depan seakan terjadi di masa sekarang (Torem, 1992; Bonshtein dan Torem 2017). Idealnya, pengalaman ini melibatkan semua indra dan diperkuat dengan emosi (Gunawan, 2008).

Bila regresi bertujuan menemukan akar masalah, kejadian di masa lalu, penyebab simtom yang dialami individu di masa kini, progresi sebaliknya bertujuan mencipta solusi masalah melalui simulasi capaian masa depan.

Strategi ini dapat dilakukan dengan pertama menuntun klien masuk kondisi  hipnosis dalam, dilanjutkan dengan simulasi kejadian masa depan, sebagai hasil akhir yang diinginkan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Watzlawick (1984) bahwa pemikiran dan imajinasi seseorang tentang masa depannya memengaruhi realitas masa depannya.

Sementara menurut Erickson (1954, 1980) teknik-teknik terapi berhubungan dengan progresi dirancang untuk berfungsi mengatasi rasa putus asa tentang masa depan. Erickson menggambarkan progresi sebagai teknik difasilitasi hipnosis yang ia namakan “pseudo-orientation in time” (orientasi semu waktu).

Strategi terapi berbasis progresi digunakan dalam hipnoterapi dengan pemikiran klien menjalani sesi terapi untuk mengubah masa depan, bukan masa lalu.

Salah satu teknik terapi berbasis progresi adalah “Back from the Future” atau “Kembali dari Masa Depan”. Dalam teknik ini, klien, dalam kondisi hipnosis, dituntun menyusuri garis waktu, maju ke masa depan, ke suatu masa dan tempat di mana ia telah berhasil mencapai resolusi masalah yang ia alami.

Selanjutnya, klien disugesti untuk menerima masa depan ini sebagai masa kini, dan terapis bertanya pada klien apa yang telah ia pelajari atau lakukan hingga mampu menyelesaikan masalahnya.

Teknik “Back from the Future” telah banyak digunakan dalam menangani beragam kondisi atau masalah seperti depresi (Torem, 2006, 2017b), gangguan makan (Torem, 1991, 2001, 2017c), kendali terhadap kekerasan yang dilakukan pada diri sendiri (Torem, 1995, 1997), untuk penguatan ego atau peningkatan kepercayaan diri (Torem, 1990), untuk integrasi ego state yang terpisah (Torem dan Gainer, 1995), untuk penanganan mual saat hamil (Torem, 1994), dan penanganan gangguan autoimun (Torem, 2007, 2017c).

Teknik ini juga telah digunakan dengan sangat berhasil dalam bidang olahraga (Stanton, 1994), dan mengatasi rasa sakit kronis (Jensen, 2011, 2017).

Torem (2017) menggunakan varian lain dari teknik berbasis progresi yaitu “forward affect bridge”, modifikasi dari teknik “affect bridge” Watkins. Teknik “forward affect bridge” hanya efektif untuk klien dengan tingkat sugestibilitas tinggi.

Progresi dapat digunakan dalam dua strategi umum. Pertama, ia digunakan sebagai intervensi terapeutik, dan kedua, digunakan untuk menguji manfaat dan hasil kerja klinis saat ini (Yapko, 2019).

Pemanfaatan progresi sebagai intervensi terapeutik berdasar konsep pengharapan seperti yang dijelaskan oleh Kirsch (2001, 2006).

Pemikiran Yapko (2019) sejalan dengan Gunawan (2008) yang merumuskan  manfaat progresi untuk pemrograman pikiran bawah sadar, uji keberadaan hambatan mental, uji hasil terapi, pemberdayaan pikiran bawah sadar dengan pemberian informasi atau sumberdaya yang berasal dari masa depan, dan menemukan atau mencipta solusi.

Cara Kerja Progresi

Teknik berbasis progresi bisa bekerja dengan baik dan efektif bila klien berada dalam kondisi hipnosis dalam, khususnya kedalaman profound somnambulism. Dalam kondisi ini, fungsi kritis (conscious logic) pikiran sadar sudah sangat menurun, sementara yang aktif adalah logika pikiran bawah sadar (trance logic).

Di pikiran bawah sadar sejatinya hanya berlaku satu waktu, sekarang. Pikiran bawah sadar tidak mengenal masa lalu dan masa depan.

Dengan demikian, saat klien dituntun “maju” ke masa depan, yang terjadi di pikirannya, ia berpindah dari satu momen memori ke momen memori lain, baik memori yang adalah rekaman kejadian masa lalu maupun memori hasil rekayasa.

Di pikiran bawah sadar sesungguhnya tidak terjadi pergeseran waktu, semua terjadi di masa kini, di pikiran bawah sadar, namun pikiran sadar, seturut sugesti yang diberikan, memaknai sebagai masa depan.



Dipublikasikan di https://adiwgunawan.com/articles/progresi-dalam-hipnoterapi pada tanggal 2 November 2023 10:18