Kesalahan Hipnoterapis Dalam Melakukan Induksi

15 Mei 2024 23:58

Syarat untuk dilakukan hipnoterapi adalah dibutuhkan kondisi hipnosis. Kondisi hipnosis ini terdiri atas beberapa jenjang: dangkal, menengah, dalam, sangat dalam, dan ekstrim.

Di ruang praktik, hipnoterapis profesional menuntun klien masuk kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism) menggunakan skrip induksi yang telah disiapkan.

Proses induksi menjadi tidak efektif karena terapis, tanpa ia sadari atau ketahui, melakukan kesalahan berikut:

1. Terapis tidak menyiapkan dirinya dengan baik, baik di aspek fisik, mental, dan emosi sebelum jumpa klien.

2. Terapis tidak menyiapkan klien dengan baik dan matang, membangun relasi terapeutik yang kuat, rasa aman, dan kepercayaan klien padanya, sebelum melakukan induksi.

3. Terapis masih berpegang pada teori lama yang membagi klien menjadi tiga kategori: sangat mudah, moderat, dan sulit dihipnosis.

Sering terjadi, saat terapis mengalami kendala dalam menuntun klien masuk kondisi hipnosis, ia menyimpulkan bahwa kliennya masuk kategori sulit atau tidak bisa dihipnosis.

Yang benar, semua klien bisa masuk kondisi hipnosis dengan mudah bila mereka setuju dan mengerti manfaatnya.

4. Terapis melakukan uji sugestibilitas pada klien dengan tujuan mengetahui tipe sugestiblitas klien dan setelahnya menentukan skrip yang sesuai untuk klien. Yang benar, tipe sugestibilitas tidak berlaku bila klien serius ingin menyelesaikan masalahnya. Tipe sugestibilitas tidak statis, namun dinamis, dapat berubah sesuai situasi dan kondisi.

5. Terapis berpikir ia yang membuat klien masuk kondisi hipnosis. Yang benar, klien masuk kondisi hipnosis karena ia bersedia mengikuti tuntunan terapis. Terapis hanya memfasilitasi proses induksi, bukan penyebab klien masuk kondisi hipnosis.

6. Terapis berpikir klien masuk kondisi hipnosis karena skrip yang ia gunakan. Yang benar, kontribusi skrip terhadap keberhasilan induksi tidak signifikan. Determinan keberhasilan induksi adalah kesiapan dan kesediaan klien berperan serta dalam proses induksi, didukung sikap dan pengharapan positif terapis.

7. Terapis tidak mengerti bila skrip induksi yang ia gunakan tidak sejalan dengan cara kerja pikiran bawah sadar sehingga menghambat klien masuk kondisi hipnosis dalam. Kesalahan ini biasanya terjadi karena skrip yang digunakan diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris tanpa memahami dan memerhatikan konteks dan budaya lokal.

8. Terapis lebih fokus membaca skrip dan tidak cermat melakukan pengamatan atas respons klien terhadap skrip yang ia bacakan, saat proses induksi.

9. Terapis berpikir proses induksi adalah semata dijalani klien dan terapis tinggal menanti hasilnya, klien masuk kondisi hipnosis dalam. Yang benar, sebelum melakukan induksi, terapis telah masuk dan berada di kedalaman hipnosis yang ia ingin klien capai. Baru setelahnya terapis menggunakan skrip, menuntun klien menuju kedalaman tempat terapis berada.

10. Terapis tidak menggunakan parameter yang tepat dan benar untuk menentukan secara presisi kedalaman hipnosis yang telah dicapai klien.

11. Terapis tidak memberi klien waktu yang cukup dan dibutuhkan klien untuk "turun" dan masuk kondisi hipnosis dalam dengan nyaman.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online6
Hari ini530
Sepanjang masa34.550.752
1 Facebook
2 Youtube
3 Instagram
4 Quantum Morphic Field Relaxation
5 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia
6 The Heart Technique