Mencicipi Kebahagiaan Sebagai Strategi Terapi

25 Oktober 2020 00:32

Setiap kasus adalah menarik dan unik. Kasus serupa, bila diproses, memunculkan dinamika yang berbeda antara satu klien dengan yang lain. Kasus yang tampak ringan, saat diproses ternyata sangat mudah diselesaikan. Ada kasus berat, saat diproses, ternyata sangat mudah penyelesaiannya. Sebaliknya, ada kasus ringan, saat diproses, ternyata memiliki akar masalah yang sangat pelik. Demikian pula, ada kasus berat, yang memang memiliki akar masalah kompleks dan butuh kecakapan, ketekunan, dan kreatifitas terapeutik tinggi untuk menyelesaikannya.

Saya pernah menangani kasus klien wanita yang merasa sangat terluka karena mendapati suaminya selingkuh. Dan setelah saya bantu dengan hipnoterapi, masalahnya dapat terselesaikan dengan mudah.

Pernah juga, kasus serupa, namun klien wanita ini bergeming melepas perasaan marah, kecewa, sakit hati, benci, jijik, dan masih banyak emosi lainnya yang muncul akibat mendapai suaminya selingkuah.

Dalam sesi wawancara, saya berusaha memberi pandangan, pemahaman, dan pengertian akan pentingnya melepas emosi negatif yang telah hampir setahun mengganggu hidupnya. Ia perlu memaafkan dan mengampuni baik suaminya maupun selingkuhan suaminya, demi kebaikan dirinya sendiri.

Apakah ia setuju dan bersedia melakukan yang saya sarankan? Sama sekali tidak. Ia tetap ingin membalas dan menghukum suami dan selingkuhan suaminya.

Saya mengerti bahwa ia tidak bisa memaafkan dan mengampuni karena dalam dirinya masih ada emosi negatif sangat intens dari luka hati akibat perbuatan suaminya.

Saya putuskan untuk tidak melanjutkan edukasi melalui pikiran sadar (PS). Saya akan langsung memroses pikiran bawah sadar (PBS) klien ini, karena di sinilah sumber masalah sesungguhnya.

Ternyata ada Ego Personality atau Bagian Diri yang keberatan dan menolak melepas emosi negatif yang telah sekian lama ia pegang. EP ini merasa lebih baik klien seperti sekarang ini, menderita batin dan fisik, agar terus bisa mengingat pengkhianatan suaminya, dan agar klien tidak disakiti lagi.

Berbagai cara saya gunakan untuk memberi edukasi dan pemahaman pada EP ini agar ia bersedia, demi  kebaikan klien, melepas semua emosi negatif yang ia pegang. EP ini bergeming.

Saya simpulkan saya sedang berhadapan dengan EP yang tadi berkomunikasi dengan saya saat sesi wawancara. Dan setelah saya cek, memang benar demikian adanya.

Saya bisa saja menggunakan teknik atau strategi hipnoterapi tertentu untuk menetralisir EP ini. Namun saya memilih cara maternal, lembut, dan menghargai niat baik EP dalam upaya melindungi klien saya. Saya menghormati tujuan EP ini.

Setelah berpikir cepat, saya akhirnya menawarkan EP ini pilihan. Selama ini ia merasa telah melakukan hal yang baik dan benar untuk klien saya, menurutnya. Walau klien menderita, sering menangis, marah, teriak-teriak, fisiknya sakit, sering sesak napas, migren, tangannya gemetar seperti orang kena penyakit Parkinson, tekanan darah tinggi, dan masih banyak masalah fisik lainnya.

Klien saya ingin lepas dari kondisi ini. Ia tidak bisa keluar dari kondisi ini karena ada EP di PBS-nya yang menjalankan fungsi proteksi. Saya menggunakan mekanisme proteksi ini untuk melakukan edukasi pada EP.

Saya jelaskan, bahwa klien saya telah sekian lama menderita akibat luka hatinya. Dan EP merasa perlu mempertahankan semua emosi ini di dalam diri klien demi kebaikan klien.

Saya minta EP beri saya kesempatan untuk menetralisir emosi-emosi negatif ini untuk beberapa saat saja. Dan setelahnya, EP boleh bertanya pada klien saya mana kondisi yang lebih baik, menurut klien saya. EP juga boleh menilai mana kondisi yang lebih baik.

Bila misalnya, setelah semua emosi negatif ini lepas, dan EP merasa ini tidak baik untuk klien, maka saya bisa mengembalikan semua emosi ini seperti sebelum saya melakukan terapi. Saya minta EP mengizinkan klien saya mencicipi kebahagiaan terbebas dari emosi negatif.

Setelah mendapat izin EP, saya proses tuntas semua emosi negatif yang selama ini mengganggu klien. Setelahnya saya minta EP berkomunikasi dengan klien, menanyakan perasaan dan kondisi klien. Klien menjelaskan bahwa ia merasa sangat nyaman dan bahagia.

Walau telah mendapat jawaban ini, EP tampak ragu dan saya merasakan gelagat bila EP akan minta saya mengembalikan emosi-emosi negatif yang tadi sudah saya hilangkan. Bila ia meminta hal ini, saya wajib mengembalikan semua emosi ini, sesuai janji saya.

Saya tawarkan EP untuk bisa turut merasakan kebahagiaan yang klien saya rasakan, perasaan tenang, damai, nyaman, dan EP bersedia. Saat EP merasakan semua perasaan positif ini, yang dialami klien saya, saya bisa melihat perubahan pada EP ini. Dan setelahnya saya tawarkan ia untuk mengembalikan semua emosi negatif yang tadi telah saya hilangkan. EP dengan cepat dan tegas menolak.

EP ini menjelaskan bahwa ternyata kondisi bahagia adalah jauh lebih baik daripada kondisi yang selama ini ia pikir baik, yaitu mempertahankan berbagai emosi negatif. Dengan pernyataan EP ini, tuntas sudah kerja saya membantu klien.

Saya akhiri sesi terapi dengan melakukan uji hasil terapi dan memberi sugesti untuk menguatkan perubahan positif yang telah terjadi dalam diri klien. Selanjutnya saya membawa klien keluar dari kondisi rileksasi.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online2
Hari ini191
Minggu ini8.673
Bulan ini3.198
Bulan lalu109.022
1 Facebook
2 Youtube
3 Instagram
4 @adiwgunawan
5 Tell Friends