Past Life Regression Kembali Makan Korban

29 Juli 2018 16:04

(Kisah ini ditulis atas ijin klien, untuk edukasi publik agar lebih hati-hati memilih hipnoterapis dan tidak jatuh korban berikutnya. Mohon dibaca sampai selesai. Dan silakan share.)

Seorang klien, sebut saja sebagai Indah, mengalami depresi akibat banyak masalah dan tekanan hidup, merasa dirinya bipolar, mengalami perubahan emosi dengan cepat, bisa merasa sedih dan tiba-tiba berubah gembira. Indah sudah beberapa hari sebelumnya sempat ada pikiran untuk bunuh diri. Indah tahu ia butuh pertolongan dan memilih dibantu hipnoterapis karena menghindari obat-obatan untuk mengatasi masalahnya.

Tanggal 5 Juli 2018 Indah menjalani terapi dengan seorang hipnoterapis di Jakarta, yang biasa melakukan past life regression (PLR) atau regresi kehidupan lampau. Hipnoterapis melakukan wawancara pada Indah. Dari hasil wawancara ini diketahui masalah Indah, menurut terapis, 80% karena orangtua. Untuk itu, terapis ingin tahu bagaimana relasi Indah dengan orangtuanya di kehidupan lampau dan memutuskan melakukan regresi kehidupan lampau pada Indah.

Indah sangat ingin mengatasi masalahnya dan patuh sepenuhnya pada permintaan, tuntunan, dan sugesti yang diberikan oleh terapisnya. Terapis memulai proses terapi dengan meminta Indah menarik dan mengembuskan napas, sambil memberi sugesti setiap kali Indah menarik napas, ia menjadi semakin rileks, masuk semakin dalam. Selanjutnya terapis minta Indah tutup mata dan memberi sugesti, “Mata Anda lengket, seperti ada lem perekat sangat kuat, tidak bisa dibuka. Mata Anda sangat lengket, tidak bisa dibuka.” Terapis juga minta Indah membayangkan dirinya menuruni tangga. Semakin turun, semakin dalam, semakin rileks. Ini adalah teknik deepening, bertujuan membawa klien masuk ke kondisi hipnosis yang (sangat) dalam (deep trance).

Setelahnya, terapis menuntun Indah mundur ke kehidupan lampau. Terapis bertanya pada klien apa yang ia lihat, di tahun berapa, pakai baju apa, siapa nama klien saat itu, dan apa kejadian yang ia lihat atau dirasa ia ingat. Klien menceritakan apa yang ia lihat atau rasa lihat, dan mengatakan mundur ke tahun 1773. Intinya, klien mendapat gambaran mengapa relasi ia dan keluarganya kurang baik. Di kehidupan lampau ini, klien dan orangtuanya (di kehidupan sekarang) adalah musuh.  Mereka berperang memperebutkan wilayah. Klien menang dan mengusir musuhnya. Jadi, kalau berdasar cerita ini, Indah adalah anak dari orangtua, yang adalah musuhnya di kehidupan lampau.

Kemudian terapis minta klien mundur lagi ke kehidupan lampau yang lain. Tiba-tiba klien melihat air, sungai besar. Klien sedang berenang dan merasa dirinya adalah ikan. Di kondisi ini, saat klien berada di kondisi sangat dalam, sedang mengalami pengalaman berenang sebagai ikan, tiba-tiba terapis membangunkan klien dengan perintah, "Sekarang tarik napas dan kamu kembali ke kondisi semula.”

Terapis membangunkan Indah dengan cepat karena ternyata klien berikutnya sudah datang. Indah dibangunkan tanpa ada hitungan naik, misal dari satu ke sepuluh, atau membayangkan naik tangga, atau sugesti bahwa perekat di matanya sudah dilepas. Singkatnya, terapis hanya memberi satu kalimat perintah untuk membawa klien keluar dari kondisi rileksasi yang sangat dalam, “Sekarang tarik napas dan kamu kembali ke kondisi semula.”

Indah merasa tubuhnya sangat berat, seperti orang koma, tidak bisa buka mata. Ia bisa mendengar suara tapi tubuhnya kaku, susah digerakkan. Indah tidak bisa berpikir jernih. Tapi Indah memaksakan diri untuk membuka mata mengikuti perintah terapis.

Saat sudah buka mata, terapis berkata pada Indah, “Kamu sekarang sudah bukan di tahun 1700an.” Selanjutnya terapis minta Indah untuk hanya mencatat hal-hal positif yang terjadi di kehidupan lampau itu. Hal-hal negatif dibuang atau dilupakan. Caranya, setiap kali Indah mengembuskan napas, Indah diminta untuk membuang hal-hal negatif ini ke tanah atau bumi.

Indah bertanya pada terapisnya, "Kok saya masih setengah sadar ya, seperti lagi tidur berjalan dan mata saya dibuka susah." Terapis berkata bahwa kondisi Indah ini tidak apa-apa. Nanti Indah akan kembali ke kondisi normal.

Beruntung Indah pulang ke rumah, usai terapi, dijemput teman. Bisa dibayangkan betapa bahaya kondisi Indah bila ia pulang ke rumah menyetir sendiri mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang dan juga sepanjang hari itu Indah merasa pikirannya kosong (blank), tidak bisa berpikir. Indah merasa dirinya seperti orang tidur tapi berjalan. Kesadaran Indah tidak pulih sepenuhnya. Ia merasa seperti sedang tidur. Badan dan batin Indah seperti terpisah, jalan sendiri-sendiri.

Malamnya, karena tidak tahan dengan kondisi ini, Indah menghubungi terapisnya dan menceritakan kondisi yang ia alami. Terapis hanya menyarankan Indah tarik napas dan kembali ke kesadaran semula, sambil ditambahkan sugesti bahwa sekarang ia adalah Indah. 

Hari demi hari, kondisi Indah tidak kunjung membaik. Indah telah menghubungi terapisnya tapi belum bisa dapat jadwal dan hanya disarankan tarik dan embuskan napas. Indah menjalankan saran terapis tapi tetap tidak ada perubahan. Terapisnya juga menyalahkan Indah karena saat sedang diterapi, Indah, kata terapisnya, tidak menuruti perintahnya, yaitu menarik dan membuang energi negatif.

Selama 11 hari Indah mengalami kondisi yang sangat mengganggu ini. Kesadarannya masih "tersangkut" di tahun 1700an. Menurut Indah, ia benar-benar ibarat penyelam (diver) yang dipaksa naik, sementara pikiran bawah sadarnya masih di dasar palung lautan.

Menurut Indah, ada dua sebab mengapa ia tersangkut, tidak bisa sepenuhnya keluar. Pertama,  saat terapis memberi perintah, “Sekarang tarik napas dan kamu kembali ke kondisi semula”, ia bingung. Kondisi semula yang mana yang terapis maksud. Indah tidak mengerti apakah ia diminta kembali ke tahun 1773 saat sedang perang ataukah diminta kembali ke tahun 2018. Kedua, cara terapis membangunkan dirinya salah. Terapis melakukan dengan cepat, secara tiba-tiba, tanpa mengikuti prosedur yang benar.

Setelah 11 hari menderita, kesadarannya tidak bisa pulih seperti semula, Indah akhirnya menghubungi hipnoterapis klinis, Ibu Widya Saraswati di Jakarta. Saat jumpa Ibu Widya, begitu duduk di kursi terapi, Indah langsung masuk deep trance, tanpa terapis melakukan apapun. Mulai jam 14.30 hingga 17.30, Indah menjalani sesi wawancara dan konseling dengan Ibu Widya. Selanjutnya, selama satu jam, mulai pukul 17.30 sampai 18.30, Ibu Widya menuntun Indah untuk keluar dari kondisi trance.

Ternyata tidak mudah membawa Indah keluar dari kondisi hipnosis sangat dalam, tempat kesadarannya tersangkut. Dibutuhkan upaya dan teknik khusus untuk membawa Indah keluar. Dua upaya pertama, tidak sepenuhnya berhasil membawa Indah keluar. Indah bisa naik namun tetap masih merasa tersangkut. Barulah pada upaya ketiga, Indah berhasil keluar sepenuhnya. Rupanya, ada Bagian Diri Indah yang merasa disalahkan oleh terapis yang melakukan regresi kehidupan lampau, karena Indah tidak bisa naik ke kondisi sadar normal.

Walau Indah berhasil keluar sepenuhnya, matanya masih kabur, kepala bagian belakang dan lehernya masih terasa sakit. Ibu Widya melanjutkan proses terapi, menangani rasa sakit ini. Setelahnya, barulah Indah bisa benar-benar pulih, segar sepenuhnya, sama seperti sebelum ia menjalani hipnoterapi dengan terapis pertama.

 

(Komentar dan penjelasan Adi W. Gunawan)

Hipnoterapi ibarat pisau sangat tajam digunakan untuk melakukan pembedahan psikis. Pisau ini bisa sangat bermanfaat dan juga sangat berbahaya bergantung pada kecakapan orang yang menggunakannya.

Kisah terapi yang diceritakan di atas adalah praktik hipnoterapi yang justru sangat merugikan klien. Alih-alih klien sembuh dari masalahnya, yang terjadi adalah justru muncul masalah baru.

Hipnoterapis yang diceritakan di atas, melakukan banyak kesalahan dalam konteks teknik, proses terapi, dan etik, antara lain:

1.   Terapis memutuskan melakukan regresi kehidupan lampau, bukan atas permintaan klien, tapi atas simpulannya sendiri bahwa masalah klien pasti ada hubungannya dengan kehidupan lampaunya. Ini adalah malapraktik berat karena terapis melakukan “Leading” bukan “Guiding”. Terapis melakukan therapist-centered bukan client-centered. Dari mana terapis tahu bila akar masalah benar ada di kehidupan lampau? Yang bisa mengungkap akar masalah klien adalah pikiran bawah sadar klien, bukan pikiran sadar terapis.

2.   Terapis secara tiba-tiba menghentikan proses terapi pada saat klien sedang di kondisi hipnosis dalam, tanpa menyelesaikan (akar) masalah. Ini ibarat dokter bedah sudah membuka perut pasien, lalu tiba-tiba pasien dibangunkan dan disuruh pulang tanpa menjahit dan menutup terlebih dahulu perut pasien. Ini sungguh berbahaya.

3.   Cara terapis menghentikan proses terapi sangat tidak etis. Terapis menghentikan terapi hanya demi menerima klien berikutnya, tanpa memikirkan kondisi dan keselamatan klien yang sedang duduk di kursi terapi.

4.   Cara terapis membawa klien keluar dari kondisi hipnosis salah. Terapis hanya memberi perintah, “Sekarang tarik napas dan kamu kembali ke kondisi semula.”

Ada dua kesalahan terapis. Pertama, terapis hanya memberi perintah klien untuk kembali ke kondisi semula. Ini cara yang salah. Cara yang benar untuk mengeluarkan klien dari kondisi hipnosis (sangat) dalam, tidak bisa dan tidak boleh dilakukan secara tiba-tiba. Prosedur baku dalam hipnoterapi, terapis melakukan emerging dengan membalik proses deepening secara perlahan. Bila untuk masuk ke kondisi hipnosis dalam, klien dituntun dengan hitungan 1 turun ke 10, atau menuruni tangga, maka untuk mengeluarkan klien, proses ini dibalik. Terapis harus menghitung naik dari 10 ke 1, atau minta klien membayangkan naik tangga. Proses naik ini dilakukan perlahan, tidak boleh buru-buru atau cepat. Semakin dalam klien, semakin perlahan naiknya.

Kedua, saat di awal, klien diberi sugesti tidak bisa buka mata. Lalu tiba-tiba diberi sugesti “Sekarang tarik napas dan kamu kembali ke kondisi semula.” Perintah ini tidak dipahami oleh pikiran bawah sadar klien sehingga klien mengalami kondisi "tersangkut" dalam kondisi trance.

5.   Terapis tidak mengerti bahwa sugesti yang ia berikan di awal proses terapi, yaitu klien tidak bisa buka mata, selama sugesti ini belum dianulir atau diganti dengan sugesti lainnya maka sugesti ini tetap bekerja. Meminta klien menarik napas berulang kali dengan harapan klien keluar dengan sendirinya ke kondisi sadar normal, ini tidak selamanya berhasil. Yang seharusnya terapis lakukan, bila mendapat keluhan dari klien, adalah langsung minta klien untuk jumpa terapis guna menyelesaikan apapun yang belum terselesaikan dari proses terapi ini.

6.   Membawa klien keluar dari kondisi hipnosis, saat ia masih mengalami dirinya sebagai ikan yang berenang di sungai, bisa berakibat fatal. Ikan bernapas di dalam air. Saat ikan dibawa keluar dari air, ikan tidak bisa bernapas. Bisa terjadi, dan untungnya ini tidak terjadi, klien tiba-tiba tidak bisa bernapas. Ini sangat berbahaya karena saat ini yang aktif adalah trance-logic pikiran bawah sadar, bukan conscious logic pikiran sadar.

7.   Terapis tidak memikirkan keselamatan klien. Dalam kondisi kesadaran belum pulih sepenuhnya klien seharusnya tidak diijinkan pulang. Untung klien tidak menyetir mobil sendiri. Bisa dibayangkan apa yang bisa terjadi bila klien menyetir mobil sendiri balik ke rumah.

 

Apakah regresi kehidupan lampau (past life regression / PLR) bisa menyelesaikan masalah? Tentu sangat dan pasti bisa. Ini dengan catatan, benar akar masalah berasal dari past life dan terapis tahu cara menyelesaikan akar masalah ini.

Yang sangat sering terjadi, terapis melakukan regresi ke past life, dengan sengaja untuk menemukan akar masalah. Ini secara konteks terapi salah karena terapis melakukan leading bukan guiding. Dan setelah berhasil "menemukan" akar masalah, akar masalah ini tidak diproses. Terapis hanya berkata pada klien, "Sekarang Anda sudah tahu apa yang membuat Anda bermasalah", dan berharap dari sini masalah bisa selesai dengan sendirinya. Mencari dan menemukan akar masalah adalah satu hal. Mengetahui akar masalah, ini hal lain. Memroses tuntas hingga terjadi resolusi trauma adalah hal berbeda lagi.

Apakah benar kejadian yang dialami seseorang, saat diregresi ke kehidupan lampau adalah benar-benar kehidupan lampau? Tidak ada yang tahu. Yang bisa saya sampaikan, pikiran bawah sadar sangat cerdas. Bisa saja, ini benar data dari kehidupan lampau, bagi yang percaya ada kehidupan lampau. Bisa juga ini adalah kriptomnesia, yaitu klien sudah pernah membaca, melihat, mendengar, atau mendapat informasi tertentu sebelumnya, dan klien lupa informasi ini. Saat proses PLR, data ini keluar dan seolah-olah adalah kejadian di kehidupan lampau. Kemungkinan lain, kejadian yang klien alami, di kehidupan lampau, sesungguhnya adalah metafora yang sengaja dimunculkan oleh pikiran bawah sadar untuk menyelesaikan masalah klien.

Saya tidak menentang PLR. Saya mengajarkan teknik PLR dan mendemokan cara melakukannya di kelas SECH (Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy). Dalam menangani klien, saya menggunakan teknik hypnotic age regression. Dalam beberapa kasus, terjadi regresi spontan ke past life. Bagi saya, ini hal biasa saja, tidak ada yang istimewa atau luar biasa. Saya proses kejadian di “past life” ini sampai tuntas, terjadi resolusi trauma, dan klien sembuh.

Saya tidak setuju bila terapis secara sengaja melakukan PLR. Saya tidak setuju karena dua hal. Pertama, bila PLR dilakukan secara sengaja, ini adalah leading. Kedua, berkaitan dengan iman. Ada agama yang mengajarkan tentang past life dan kelahiran kembali. Ada yang secara tegas mengatakan tidak ada past life.

Bila klien, dengan iman yang menyatakan tidak ada past life, menjalani PLR, apakah ia bisa mundur ke “past life”? Jawabannya, bisa ya, bisa tidak. Semua bergantung pada klien.

Bila klien yang tidak percaya tentang past life, berhasil diregresi ke “past life”, dan saat ini ia dalam kondisi hipnosis sangat dalam, maka pengalaman ini diterima pikiran bawah sadar sebagai kebenaran, terekam dengan sangat kuat di memori. Bisa dibayangkan apa yang mungkin terjadi dengan klien?

Saran buat para Sahabat yang ingin mengatasi masalah dengan hipnoterapi, pastikan Anda dibantu hipnoterapis cakap, kompeten, dan menjalankan praktiknya dengan integritas. Ada banyak hipnoterapis cakap, andal, dan sangat mumpuni dalam membantu klien. Sebaliknya, ada banyak hipnoterapis yang sebenarnya tidak tahu apa yang ia lakukan ternyata salah dan berbahaya bagi klien.

 

Ini saya dapat pertanyaan dari Indah: Pak Adi, bila misalnya kondisi seperti seperti saya ini, apakah klien bisa kembali pulih dan sadar dari kondisi trance, kalau sudah benar-benar dalam begitu seperti yang saya alami di coma state, keluar ke kondisi sadar normal dengan sendirinya, tanpa bantuan terapis? Maksudnya, lama-lama bisa pulih sendiri, walau butuh waktu lama.

Berikut ini jawaban saya:

Kondisi yang Indah alami ini sebenarnya adalah kondisi yang sangat alamiah, normal, wajar, biasa. Kedalaman trance berlapis-lapis. Ada banyak skala kedalaman trance. Di AWGI, kami menggunakan skala Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, menggunakan angka dari 1 sampai 40. Angka 1 artinya sadar normal dan 40 adalah tidur. Antara 1 dan 40 ada lapisan-lapisan kesadaran dan kedalaman trance dengan fenomena yang sangat spesifik.

Kalau membaca kisah Indah, yang merasa tubuh berat, tidak bisa bergerak atau sulit digerakkan, mata sulit dibuka, maka Indah berada di kedalaman 35 (Catatonia). Ini lebih dalam dari level 33, yang biasa disebut kondisi Esdaile atau Coma State atau Plenary State. Di level 33 ini terjadi anestesi spontan di seluruh tubuh, tanpa perlu sugesti. Artinya, siapa saja bila masuk di level 33, pasti mengalami fenomena ini. Ini kalau di dunia medis, bisa digunakan untuk operasi tanpa obat bius. Bisa untuk melahirkan, operasi perut, amputasi, dll.

Di pelatihan SECH AWGI saya biasa menuntun peserta masuk bahkan ke kedalaman hingga 37, 38, dan 39. Di kedalaman ini subjek tidak lagi bisa merasakan tubuhnya. Pikiran sadarnya berhenti total, tidak bisa berpikir apapun, walau subjek berusaha untuk berpikir. Yang ada hanyalah pikiran tenang, hening, diam. Ini adalah kondisi hipnosis atau trance atau meditatif yang sangat dalam.

Bedanya, kalau di kelas pelatihan SECH, saya menjelaskan detil dulu kedalaman trance ini, apa yang akan terjadi, apa yang dirasakan subjek, dan setelahnya saya menuntun subjek keluar dengan prosedur yang benar. Tidak asal disuruh buka mata dan kembali ke kondisi semula.

Bila subjek dituntun masuk ke dalama ekstrim ini, TANPA dijelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi, subjek bisa panik dan ketakutan, seolah tidak bisa keluar. Ketakutan atau panik ini justru bisa memperdalam kondisi trance. Semakin seseorang takut tidak bisa keluar trance, semakin besar kemungkinan ia TIDAK BISA keluar.

Ini terjadi karena hukum pikiran bawah sadar bekerja dengan cara berbeda dibandingkan dengan pikiran sadar. Di pikiran bawah sadar, berlaku trance-logic, bukan conscious-logic. Ini juga yang menyebabkan mengapa Indah tidak mengerti saat terapis memberi perintah, "Tarik napas dan kembali ke kondisi semula."

Jadi, sebenarnya, secara alamiah, subjek yang sudah dibimbing masuk ke kondisi deep trance dia PASTI akan keluar dengan sendirinya. Ini adalah kondisi alamiah kita setiap hari. Saat mau tidur, kita turun dari kondisi sadar normal ke kondisi tidur (tidak sadar). Saat bangun, kita naik dari kondisi tidur, perlahan-lahan, ke kondisi sadar normal.

Bedanya, kondisi Indah, ini tidak alamiah. Indah ada mendapat sugesti dari terapis, mata Indah lengket, tidak bisa dibuka. Juga ada sugesti, setiap tarik napas, Indah masuk semakin dalam dan semakin rileks. Sugesti-sugesti ini TIDAK PERNAH dicabut oleh terapis. Dengan demikian, sugesti ini justru menjadi semacam hypnotic seal atau segel hipnosis yang mencegah Indah keluar dari kondisi trance.

Ada hypnotic seal yang mencegah subjek masuk trance. Ada yang untuk mencegah subjek keluar trance. Ini bergantung kepiawaian si terapis. Dari kasus Indah, secara tidak sengaja atau tidak disadari, terapis memasang hypnotic seal yang mengakibatkan Indah sulit atau tidak bisa keluar dari trance.

Bila subjek dituntun dengan cara yang benar atau tepat, saat ia naik, keluar dari kondisi trance, sugesti mata lengket dll, ini secara otomatis dianulir oleh pikiran bawah sadar klien sehingga klien kembali ke kesadaran normal.

Demikianlah adanya....

Demikianlah kenyataannya.....

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online8
Hari ini120
Minggu ini6.174
Bulan ini37.256
Bulan lalu62.862
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends