Dalam hipnoterapi, cara terapis bertanya bukan persoalan kecil. Pertanyaan adalah instrumen klinis.
Pertanyaan yang tepat membantu klien mengakses, mengenali, dan mengungkap pengalaman yang berasal dari dirinya, sedangkan pertanyaan yang keliru dapat memasukkan asumsi, mengarahkan proses, bahkan menambahkan informasi yang sebelumnya tidak pernah disampaikan oleh klien.
Masalahnya, kesalahan bertanya di ruang praktik sering kali tidak terlihat sebagai kesalahan.
Terapis bertanya. Klien menjawab. Respons muncul. Proses terapi tampaknya tetap berjalan.
Terapis, karena itu, dapat menarik kesimpulan bahwa cara bertanyanya sudah tepat.
Padahal, belum tentu.
Pertanyaan yang keliru dapat mengarahkan eksplorasi menjauh dari data yang sebenarnya berasal dari klien, mempersempit kemungkinan, atau memasukkan informasi yang sebelumnya tidak pernah muncul. Akibatnya, proses terapi dapat menjadi terhambat, melenceng, atau berkembang berdasarkan asumsi terapis, bukan berdasarkan data klien.
Yang membuat persoalan ini semakin serius adalah terapis sering tidak menyadari bahwa sumber hambatan tersebut justru berasal dari cara ia bertanya.
Klien tetap memberikan respons dan proses tampaknya bergerak. Adanya respons, meski demikian, tidak otomatis berarti pertanyaan yang diajukan tepat atau proses terapi berjalan sebagaimana seharusnya.
Bila pola bertanya seperti ini terus digunakan tanpa evaluasi dan koreksi, kesalahan dapat berulang dan menjadi kebiasaan. Terapis dapat semakin lancar bertanya dengan cara yang keliru tanpa menyadari bahwa cara itulah yang menghambat proses terapi.
Kemampuan membedakan guiding, leading, dan misleading question, karena itu, bukan sekadar persoalan pilihan kata. Ini adalah bagian dari kompetensi klinis terapis.
Dalam praktik hipnoterapi AWGI, karena itu, berlaku satu prinsip yang sangat mendasar: Guiding, not Leading.
Terapis membimbing proses eksplorasi, tetapi tidak mengarahkan klien kepada jawaban yang sudah ada di pikiran terapis.
Prinsip Guiding, not Leading merupakan salah satu fondasi dan acuan setiap hipnoterapis AWGI dalam melakukan hipnoterapi, terutama ketika bekerja dengan pengalaman masa lalu, regresi, emosi, memori, dan berbagai proses yang melibatkan pikiran bawah sadar.
Prinsip ini berkaitan erat dengan satu disiplin klinis lain yang sangat penting dalam praktik hipnoterapi AWGI: Terapis dilarang berasumsi.
Terapis tidak boleh mengisi bagian yang belum diketahui dengan dugaan, kemudian memperlakukan dugaan tersebut seolah-olah merupakan fakta.
Isi pengalaman yang dieksplorasi harus berasal dari klien, bukan dimasukkan oleh terapis.
Apa yang disampaikan atau dialami klien dalam proses terapi merupakan data klinis yang perlu dipahami dalam konteksnya, tetapi tidak otomatis dapat dianggap sebagai fakta historis yang telah terverifikasi.
Mengapa Cara Bertanya Sangat Penting?
Scoboria dkk. (2002) melakukan penelitian eksperimental terhadap 111 mahasiswa untuk membandingkan efek misleading questions dan efek hipnosis terhadap laporan memori seseorang, baik secara terpisah maupun bersamaan.
Dalam penelitian tersebut, peserta terlebih dahulu mendengarkan sebuah cerita. Setelah itu, sebagian peserta mendapat pertanyaan netral, sedangkan sebagian lainnya mendapat misleading questions, yaitu pertanyaan yang mengandung informasi menyesatkan mengenai kejadian yang sebelumnya mereka dengarkan.
Pertanyaan tersebut diberikan dalam kondisi hipnosis maupun tanpa hipnosis. Peserta yang dihipnosis juga diberi sugesti bahwa jawaban atas pertanyaan akan muncul dengan mudah dalam pikiran mereka. Setelah hipnosis diakhiri, seluruh peserta kembali diuji menggunakan pertanyaan netral tanpa hipnosis.
Hasil penelitian tahun 2002 menunjukkan bahwa baik hipnosis maupun misleading questions meningkatkan jumlah kesalahan dalam laporan memori. Efek misleading questions dalam meningkatkan kesalahan secara signifikan lebih besar daripada efek hipnosis. Kedua efek tersebut bersifat aditif, sehingga kombinasi hipnosis dan pertanyaan menyesatkan menghasilkan jumlah kesalahan paling banyak. Efek-efek ini tetap bertahan ketika peserta kembali ditanya dengan pertanyaan netral di luar hipnosis.
Temuan tersebut, meski demikian, perlu dibaca bersama penelitian lanjutan yang dilakukan beberapa tahun kemudian.
Pada penelitian lanjutan dengan 194 mahasiswa, Scoboria dkk. (2006) kembali menemukan bahwa misleading questions menurunkan akurasi laporan memori dan, ketika peserta ditanya ulang dengan pertanyaan netral setelah jeda, menurunkan respons “tidak tahu”. Mereka, meski demikian, tidak berhasil mereplikasi efek negatif hipnosis terhadap laporan memori yang ditemukan dalam penelitian tahun 2002.
Para peneliti menduga perbedaan hasil ini sebagian disebabkan oleh perbedaan prosedur. Penelitian tahun 2002 menggunakan wawancara satu lawan satu dengan jawaban lisan, sedangkan penelitian tahun 2006 dilakukan secara berkelompok dengan jawaban tertulis.
Menurut mereka, efek hipnosis pada penelitian tahun 2002 mungkin sebagian berasal dari tekanan sosial implisit yang lebih mudah muncul dalam interaksi antara satu pewawancara dan satu orang yang diwawancarai. Dalam konteks hipnoterapi, kemungkinan ini patut dicermati karena proses terapi juga berlangsung dalam interaksi langsung antara terapis dan klien.
Hal lain yang juga penting, peserta yang dihipnosis dalam kedua penelitian diberi sugesti yang membangun harapan bahwa hipnosis dapat membantu kemampuan mengingat. Penelitian Burgess dan Kirsch (1999) menunjukkan bahwa ekspektasi mengenai efektivitas hipnosis dalam meningkatkan memori dapat memengaruhi kualitas laporan memori.
Pada peserta dengan sugestibilitas tinggi, mereka yang diberi informasi bahwa hipnosis dapat meningkatkan memori menghasilkan lebih banyak kesalahan yang diyakini dengan percaya diri selama hipnosis dan mempertahankan sebagian memori keliru tersebut setelah hipnosis. Sebaliknya, efek ini berkurang ketika peserta sebelumnya diperingatkan bahwa hipnosis dapat menghasilkan distorsi memori. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian efek yang dikaitkan dengan hipnosis dapat pula dipengaruhi oleh ekspektasi yang menyertai prosedur hipnosis.
Jika kedua penelitian tersebut dibaca bersama, temuan yang paling konsisten adalah efek misleading questions terhadap laporan memori. Dalam kedua penelitian, pertanyaan menyesatkan meningkatkan kesalahan dan menurunkan akurasi laporan memori. Sebaliknya, efek negatif hipnosis tidak konsisten antara penelitian tahun 2002 dan 2006.
Kesimpulan seperti:
“Hipnosis menyebabkan false memory.”
terlalu jauh dan tidak didukung secara konsisten oleh kedua penelitian tersebut.
Kedua penelitian ini, meski demikian, juga tidak mendukung penggunaan hipnosis sebagai teknik untuk meningkatkan daya ingat. Pada penelitian tahun 2002, peningkatan jawaban benar selama hipnosis tidak bertahan setelah hipnosis diakhiri, sementara peningkatan kesalahan yang menyertainya justru bertahan. Pada penelitian tahun 2006, hipnosis tidak menambah distorsi memori, tetapi juga tidak meningkatkan daya ingat. Dengan kata lain, hipnosis tidak dapat diperlakukan sebagai alat untuk memperoleh memori yang lebih akurat.
Kesimpulan yang lebih hati-hati dan lebih kuat secara ilmiah adalah:
Cara pewawancara atau terapis mengajukan pertanyaan dapat memengaruhi laporan memori seseorang.
Perlu dicatat bahwa kedua penelitian tersebut merupakan penelitian eksperimental pada mahasiswa, bukan penelitian hipnoterapi klinis pada klien. Materi yang diingat peserta pun berupa cerita rekaman, bukan memori autobiografis atau pengalaman emosional, dan hal ini diakui sendiri oleh Scoboria dkk. (2006) sebagai keterbatasan validitas ekologis. Kedua studi ini, karena itu, tidak secara langsung membuktikan bahwa pendekatan guiding lebih efektif secara terapeutik dibandingkan leading. Keduanya, meski demikian, memberikan dukungan empiris yang relevan bahwa pertanyaan menyesatkan dapat memengaruhi laporan memori.
Dalam konteks hipnoterapi, implikasi praktisnya jelas: terapis harus sangat disiplin dalam bertanya.
Leading Question dan Misleading Question
Leading question dan misleading question berkaitan erat, tetapi keduanya tidak persis sama.
Leading question adalah pertanyaan yang mengarahkan jawaban atau arah eksplorasi.
Misleading question adalah pertanyaan yang memasukkan informasi yang salah atau tidak sesuai dengan kejadian, atau menyajikan informasi yang belum terkonfirmasi seolah-olah informasi tersebut merupakan fakta.
Pembedaan ini sejalan dengan rumusan Scoboria dkk. (2002). Menurut mereka, leading question mengandung materi yang secara langsung menyiratkan jawaban yang diinginkan atau dianggap benar. Jika materi yang disiratkan itu tidak akurat, leading question tersebut sebenarnya merupakan misleading question. Contoh yang mereka gunakan adalah pertanyaan “Apakah perempuan itu memiliki satu atau dua anak?”, padahal cerita yang didengar peserta sama sekali tidak menyebutkan anak. Pertanyaan ini menyiratkan bahwa perempuan itu memiliki anak dan bahwa salah satu pilihan jawaban pasti benar. Mereka juga mencatat, dengan merujuk pada penelitian sebelumnya, bahwa perbedaan sekecil satu kata dalam pertanyaan dapat memengaruhi jawaban seseorang.
Perbedaannya akan lebih jelas melalui contoh.
Misalnya, dalam proses regresi klien berkata:
“Saya berada di sebuah kamar. Saya merasa takut.”
Leading Question
Terapis kemudian bertanya:
“Apakah ayah Anda ada di kamar itu?”
Pertanyaan tersebut bersifat leading.
Klien belum mengatakan bahwa ayahnya berada di sana. Terapis telah mengarahkan proses eksplorasi kepada figur tertentu berdasarkan dugaan yang berasal dari pikirannya sendiri.
Contoh lain:
“Apakah Anda takut karena seseorang sedang mengancam Anda?”
Klien sebelumnya hanya mengatakan bahwa ia merasa takut. Ia belum mengatakan adanya seseorang ataupun ancaman.
Terapis telah memasukkan suatu kemungkinan tertentu sebagai arah eksplorasi.
Masalahnya bukan bahwa kemungkinan tersebut pasti salah.
Mungkin memang ada seseorang.
Mungkin memang terdapat ancaman.
Kenyataannya, terapis belum mengetahuinya.
Terapis, dengan demikian, telah mengarahkan proses berdasarkan asumsi.
Leading Tidak Selalu Berbentuk Pertanyaan
Leading tidak selalu terjadi dalam bentuk pertanyaan. Leading juga dapat terjadi ketika terapis, bahkan sebelum terapi dimulai, telah menetapkan kerangka penyebab tertentu dan kemudian mengarahkan proses terapi untuk mencari sesuatu yang sesuai dengan kerangka tersebut.
Misalnya, terapis menyatakan bahwa dalam terapi ia akan mencari kejadian di kehidupan lampau (past life) yang menyebabkan masalah klien saat ini.
Pernyataan seperti ini sudah mengandung asumsi bahwa masalah klien saat ini memang disebabkan oleh kejadian di kehidupan lampau, padahal kesimpulan tersebut belum diperoleh dari data klien.
Akibatnya, proses eksplorasi berisiko tidak lagi mengikuti data yang muncul dari klien, tetapi diarahkan untuk menemukan sesuatu yang sesuai dengan keyakinan atau asumsi terapis.
Dalam praktik hipnoterapi AWGI, terapis tidak menentukan terlebih dahulu apa yang harus ditemukan. Terapis mengikuti data yang muncul dari klien dan membimbing proses berdasarkan data tersebut.
Terapis tidak menentukan arah berdasarkan asumsi. Terapis mengikuti data yang muncul dari klien, kemudian memeriksa dan memahaminya dalam konteks keseluruhan proses terapi.
Misleading Question
Sekarang bayangkan terapis bertanya:
“Apa yang dilakukan pria berkumis itu setelah ia mengunci pintu kamar?”
Padahal klien hanya mengatakan:
“Saya berada di sebuah kamar. Saya merasa takut.”
Klien belum pernah mengatakan bahwa ada seorang pria, bahwa pria tersebut berkumis, ataupun bahwa pintu kamar dikunci.
Pertanyaan terapis telah menyajikan sejumlah informasi seolah-olah informasi tersebut telah diketahui sebagai fakta.
Dalam konteks terapi, pertanyaan seperti ini berpotensi menjadi misleading karena informasi yang belum berasal dari klien dimasukkan ke dalam proses eksplorasi dan disajikan sebagai bagian dari kejadian.
Jika kemudian klien menerima informasi tersebut dan memasukkannya ke dalam laporannya, menjadi semakin sulit membedakan mana informasi yang memang muncul dari pengalaman atau memorinya dan mana informasi yang sebelumnya diperkenalkan oleh terapis.
Inilah salah satu alasan terapis harus sangat berhati-hati ketika bekerja dengan memori.
Ketika Pertanyaan Sekaligus Leading dan Misleading
Sebuah pertanyaan dapat sekaligus bersifat leading dan misleading.
Misalnya:
“Apakah pria berkumis yang memukul Anda itu adalah ayah Anda?”
Jika klien sebelumnya belum pernah menyebut adanya pria, kumis, pemukulan, maupun ayah, pertanyaan ini sangat leading karena mengarahkan klien kepada skenario tertentu.
Pada saat yang sama, pertanyaan tersebut berpotensi misleading karena sejumlah informasi yang belum dikonfirmasi disajikan seolah-olah merupakan fakta.
Singkatnya:
Sebuah misleading question sering kali sekaligus merupakan leading question, tetapi tidak setiap leading question otomatis merupakan misleading question.
Perbedaannya terletak pada hal berikut.
Leading question terutama mengarahkan jawaban atau arah eksplorasi.
Misleading question memasukkan informasi yang salah atau memperlakukan informasi yang belum terkonfirmasi sebagai fakta, sehingga dapat memengaruhi laporan berikutnya.
Guiding: Membimbing tanpa Menentukan Isi
Dalam praktik hipnoterapi AWGI, terapis menggunakan pendekatan guiding.
Kembali pada pernyataan klien:
“Saya berada di sebuah kamar. Saya merasa takut.”
Terapis dapat bertanya:
“Apa yang terjadi?”
“Ada siapa atau apa di sana?”
“Apa yang Anda rasakan?”
“Apa yang terjadi berikutnya?”
Pertanyaan seperti ini tetap membuat proses bergerak maju.
Terapis, meski demikian, tidak menentukan terlebih dahulu apa yang harus ditemukan oleh klien.
Terapis tidak memasukkan ayah.
Tidak memasukkan pria.
Tidak memasukkan ancaman.
Tidak memasukkan kekerasan.
Tidak memasukkan informasi apa pun yang belum berasal dari klien.
Inilah inti guiding:
Terapis membantu proses bergerak maju tanpa memasukkan isi pengalaman yang belum berasal dari klien.
Hipnoterapis AWGI Dilarang Berasumsi
Prinsip Guiding, not Leading tidak dapat dipisahkan dari larangan berasumsi.
Salah satu disiplin yang sangat penting dalam praktik hipnoterapi AWGI adalah: Terapis dilarang berasumsi.
Larangan ini berlaku sejak wawancara awal hingga proses terapi selesai.
Terapis tidak boleh berasumsi mengenai akar masalah klien, siapa yang terlibat dalam suatu kejadian, apa yang dirasakan klien, apa makna suatu pengalaman bagi klien, apa penyebab suatu respons, atau apa yang terjadi sebelum maupun sesudah suatu peristiwa.
Semua perlu digali, diperiksa, dan dikonfirmasi.
Misalnya, klien menangis ketika berbicara tentang ayahnya.
Menangis adalah data.
Terapis, meski demikian, tidak boleh langsung menyimpulkan:
“Anda pasti marah kepada Ayah.”
Marah adalah interpretasi yang berasal dari terapis.
Klien mungkin sedih.
Mungkin rindu.
Mungkin kecewa.
Mungkin merasa bersalah.
Mungkin lega.
Atau mungkin mengalami emosi lain yang sama sekali belum diketahui terapis.
Terapis, karena itu, bertanya:
“Apa yang Anda rasakan sekarang?”
Jawaban klien kemudian menjadi data mengenai pengalaman internal yang sedang dialaminya.
Prinsipnya sederhana:
Jangan mengisi bagian yang belum diketahui dengan asumsi terapis.
Asumsi Berbeda dengan Hipotesis
Larangan berasumsi bukan berarti terapis tidak boleh berpikir, menganalisis, atau menggunakan penalaran klinis.
Terapis justru perlu membangun hipotesis.
Yang jelas, asumsi berbeda dengan hipotesis.
Asumsi adalah sesuatu yang dianggap benar tanpa data atau konfirmasi yang memadai.
Hipotesis adalah kemungkinan penjelasan sementara yang dibangun berdasarkan data dan tetap terbuka untuk diuji.
Seorang terapis, misalnya, dapat berpikir:
“Ada kemungkinan pengalaman dengan ayah berkaitan dengan masalah klien.”
Ini adalah hipotesis.
Hipotesis tersebut dapat membantu terapis menentukan apa yang perlu dieksplorasi lebih lanjut.
Hipotesis berubah menjadi masalah, meski demikian, ketika terapis mulai memperlakukannya sebagai fakta dan kemudian menyusun pertanyaan untuk membuktikan bahwa dirinya benar.
Pada titik itu, terapis tidak lagi mengikuti data.
Ia mulai mengarahkan data agar sesuai dengan hipotesisnya.
Kesimpulannya:
Hipotesis harus mengikuti data. Data tidak boleh dipaksa mengikuti hipotesis.
Hipotesis Bukan Fakta
Bahaya leading question menjadi semakin besar ketika terapis sudah mempunyai dugaan kuat mengenai akar masalah klien.
Ia mungkin menduga bahwa masalah klien berkaitan dengan ayah, ibu, pasangan, pengalaman seksual, kekerasan, pengalaman masa kecil, atau figur tertentu.
Dugaan seperti ini dapat muncul sebagai bagian dari penalaran klinis.
Yang pasti: Hipotesis bukan fakta.
Masalah mulai terjadi ketika terapis mencari data untuk membuktikan bahwa hipotesisnya benar.
Pada saat itu, proses yang seharusnya client-centered dapat tanpa disadari berubah menjadi therapist-centered.
Terapis tidak lagi berusaha memahami klien sebagaimana adanya.
Ia mulai mencari konfirmasi terhadap apa yang sudah ada dalam pikirannya sendiri.
Terapis, karena itu, perlu terus membedakan:
Apa yang dikatakan klien?
Apa yang saya amati?
Apa yang saya interpretasikan?
Apa yang saya duga?
Apa yang benar-benar telah terkonfirmasi?
Seorang terapis boleh memiliki hipotesis.
Yang penting, ia tidak boleh jatuh cinta pada hipotesisnya sendiri.
Hipotesis harus selalu terbuka untuk diuji, dikoreksi, diubah, bahkan dibuang ketika data dari klien menunjukkan arah yang berbeda.
Bertanya untuk Menemukan, Bukan Menanamkan
Dalam hipnoterapi, terutama ketika bekerja dengan pengalaman masa lalu, memori, dan emosi yang mendalam, disiplin dalam bertanya menjadi sangat penting.
Sebelum mengajukan pertanyaan, terapis perlu terus memeriksa dirinya:
Apakah saya sedang menggali atau mengarahkan?
Apakah informasi ini berasal dari klien atau dari asumsi saya?
Apakah saya sedang membantu klien menemukan, atau sedang memberi tahu klien apa yang harus ditemukan?
Apakah pertanyaan saya membuka kemungkinan, atau justru mempersempitnya berdasarkan dugaan saya sendiri?
Apakah saya sedang mengikuti data, atau mencari data untuk membenarkan hipotesis saya?
Pertanyaan yang baik membuka ruang bagi data untuk muncul.
Pertanyaan yang buruk dapat mengisi ruang tersebut dengan asumsi terapis.
Semakin dalam proses terapi berlangsung, semakin penting disiplin ini dijaga.
Fondasi Praktik Hipnoterapi AWGI
Dalam praktik hipnoterapi AWGI, Guiding, not Leading bukan sekadar teknik bertanya.
Prinsip ini merupakan bagian dari ketelitian klinis, penalaran klinis, etika, dan perlindungan terhadap klien.
Larangan berasumsi merupakan disiplin yang sama pentingnya.
Keduanya merupakan disiplin yang saling berkaitan.
Asumsi terapis dapat melahirkan leading question.
Leading question dapat memasukkan informasi ke dalam proses eksplorasi.
Jika informasi tersebut salah atau disajikan sebagai fakta yang belum terkonfirmasi, pertanyaan tersebut dapat menjadi misleading.
Hipnoterapis AWGI, karena itu, membimbing.
Bukan mengarahkan.
Hipnoterapis AWGI menggali.
Bukan menanamkan.
Hipnoterapis AWGI bertanya.
Bukan berasumsi.
Hipnoterapis AWGI membangun hipotesis.
Bukan menetapkan dugaan sebagai fakta.
Hipnoterapis AWGI membantu klien menemukan dan mengungkap pengalamannya.
Bukan menentukan apa yang seharusnya ditemukan oleh klien.
Inilah sebabnya Guiding, not Leading dan larangan berasumsi menjadi fondasi dan acuan setiap hipnoterapis AWGI dalam melakukan hipnoterapi.
Terapis boleh memiliki pengetahuan.
Terapis boleh memiliki pengalaman.
Terapis boleh memiliki hipotesis.
Pengetahuan, pengalaman, dan hipotesis terapis tidak boleh menggantikan data dari klien.
Terapis membimbing proses. Klien menyediakan data. Terapis tidak berasumsi.
Itulah inti Guiding, not Leading dalam praktik hipnoterapi AWGI.
Rujukan
Burgess, C. A., & Kirsch, I. (1999). Expectancy information as a moderator of the effects of hypnosis on memory. Contemporary Hypnosis, 16(1), 22–31. https://doi.org/10.1002/ch.146
Scoboria, A., Mazzoni, G., Kirsch, I., & Milling, L. S. (2002). Immediate and persisting effects of misleading questions and hypnosis on memory reports. Journal of Experimental Psychology: Applied, 8(1), 26–32. https://doi.org/10.1037/1076-898X.8.1.26
Scoboria, A., Mazzoni, G., & Kirsch, I. (2006). Effects of misleading questions and hypnotic memory suggestion on memory reports: A signal-detection analysis. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 54(3), 340–359. https://doi.org/10.1080/00207140600689538
Dipublikasikan di https://adiwgunawan.com/index.php?p=news&action=shownews&pid=554 pada tanggal 24 Oktober 2026