Regresi Dalam Hipnoterapi

6 September 2023 17:23

Berbagai kondisi emosi dan perilaku tidak kondusif yang dialami individu tidak muncul tiba-tiba. Kondisi ini disebabkan salah satu atau gabungan dari tujuh kemungkinan: menghukum diri sendiri (self-punishment), pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan (unresolved past experience), konflik internal (internal conflict), masalah saat ini yang tidak terselesaikan (unresolved present issue), keuntungan yang tidak disadari (secondary gain), identifikasi, dan penanaman kepercayaan atau imprint (Tebbets, 1987).

Tujuh kemungkinan sumber masalah ini oleh Tebbets dinamakan tujuh psikodinamika simtom. Berdasar temuan kami, para hipnoterapis AWGI, psikodinamika simtom dapat dikelompokkan menjadi dua kategori: kejadian masa lalu dan kejadian masa sekarang.

Pemahaman ini sangat penting dalam konteks hipnoterapi karena memampukan dan memudahkan hipnoterapis menangani masalah klien melalui proses yang tepat, tajam, ringkas, mudah, dan efektif sehingga dicapai hasil terapi optimal untuk kebaikan dan kesejahteraan klien.

Dalam hipnoterapi terdapat dua strategi utama penanganan masalah: tanpa memproses akar masalah dan memproses akar masalah.

Penanganan tanpa memproses akar masalah mengutamakan penggunaan sugesti. Sementara penanganan dengan memproses akar masalah menggunakan teknik-teknik hipnoanalisis untuk menelisik pikiran bawah sadar (PBS) klien guna mencari, menemukan, dan memproses tuntas akar masalah.

Akar masalah bisa berupa pengalaman traumatik, belief (kepercayaan), baik yang berasal dari pemaknaan sendiri atau yang ditanamkan oleh figur otoritas ke PBS individu, kejadian atau pengalaman masa lalu yang mengakibatkan tercipta Ego Personality dengan fungsi atau tujuan tertentu dalam diri individu, baik yang aktif penuh atau yang dorman menunggu pemicu untuk menjadi aktif.

Pada banyak kasus yang kami temukan, akar masalah bersumber pada kejadian traumatik masa lalu, tersimpan di memori PBS dalam bentuk rekaman kejadian bermuatan emosi negatif intens.

Khusus penanganan kejadian traumatik, dalam dunia hipnoterapi ada dua kubu. Kubu pertama menyatakan bahwa pengungkapan pengalaman traumatik per se bersifat terapeutik. Dengan kata lain, saat memori traumatik berhasil diungkap atau diketahui maka secara otomatis terjadi kesembuhan.

Kubu kedua, dan ini didukung oleh hasil penelitian dan temuan di ruang praktik kami, menyatakan pengungkapan memori traumatik tanpa diikuti resolusi trauma tidak berdampak terapeutik. 

Dalam konteks pengungkapan memori traumatik juga terdapat dua kubu. Kubu pertama hanya memproses kejadian tunggal yang diungkap oleh PBS klien, tanpa melakukan validasi apakah ini kejadian paling awal atau bukan. Sementara kubu kedua berupaya, melalui rangkaian regresi, mencari dan menemukan kejadian paling awal.

Definisi dan Jenis Regresi

Dalam kerangka penyelesaian akar masalah, sangat penting menyimak dengan cermat pernyataan Alexander dan French (1946) tentang pengalaman emosional korektif (corrective emotional experience).

Pengalaman emosional korektif adalah pemaparan ulang individu, dalam situasi yang lebih mendukung, pada situasi emosional yang tidak dapat ia hadapi di masa lalu. Hal ini meliputi proses di mana individu meninggalkan pola perilaku lama dan belajar atau belajar ulang pola-pola baru dengan mengalami kembali kebutuhan dan perasaan-perasaan yang belum terselesaikan di masa lalu (Alexander, French, 1946).

Dalam upaya mengatasi masalahnya, individu harus menjalani pengalaman emosional korektif yang sesuai untuk memperbaiki dampak dari pengalaman-pengalaman traumatik sebelumnya.

Untuk klien bisa menjalani pengalaman emosional korektif, ada empat syarat yang harus dipenuhi. Pertama, proses pemaparan ulang harus dilakukan dalam kondisi hipnosis dalam. Kedua, trance logic berhasil diaktifkan. Ketiga, proses belajar ulang dilakukan pada kejadian paling awal dan kejadian-kejadian lanjutan yang mendasari munculnya simtom. Keempat, afek yang lekat pada setiap kejadian diproses tuntas (Gunawan, 2008).

Cara memaparkan klien pada kejadian masa lalu, seperti yang disarankan oleh Alexander dan French, adalah dengan menggunakan teknik regresi.

Regresi adalah fenomena hipnosis di mana subjek memainkan peran dalam pola simulasi untuk memerankan peristiwa masa lalu dalam kerangka masa kini (Kroger, 1963, 2009).

Weitzenhoffer (2000) mendefiniskan regresi sebagai fenomena hipnosis di mana subjek mengalami kembali kejadian masa lalu secara kognisi, emosi, dan perilaku. Sementara Yapko (2009) mendefiniskan regresi sebagai pencerapan yang diintensifkan dalam pemanfaatan pengalaman memori.

Terdapat dua jenis pengalaman regresi, revivifikasi dan hipermnesia, masing-masing dengan proses mental berbeda. Pengalaman emosional korektif hanya bisa terjadi bila klien mengalami revivifikasi, khususnya jenis parsial, dan tidak efektif bila klien hanya mengalami hipermnesia.

Teknik Regresi

Terdapat sangat banyak teknik regresi. Semua teknik ini dikelompokkan menjadi dua, berbasis nonafek dan afek.

Teknik regresi berbasis nonafek antara lain teknik “Buku Kehidupan”, “Layar Komputer”, “Perahu Kehidupan”, “Karpet Ajaib”, “Terowongan Waktu”, “Kalender”, “Bola Kristal”, “Kotak Masalah”, “Ideomotor”, dan masih banyak lagi. Intinya, teknik ini tidak menggunakan afek atau emosi sebagai bahan bakar yang mendorong klien begerak mundur ke masa lalunya.

Teknik regresi berbasis afek atau dikenal dengan jembatan afek (affect bridge) adalah prosedur hipnotik yang digunakan untuk melacak dan menemukan awal mula kejadian penyebab simtom yang dialami individu di masa kini. Jembatan afek didasarkan pada fakta psikologis bahwa emosi atau perasaan dapat mengaktifkan, mengarahkan, atau meningkatkan daya ingat ( Watkins, 1971; Watkins & Barabasz, 2008; Yapko, 2012)

Dalam proses resolusi pengalaman traumatik, sangat penting kesadaran individu dewasa tetap terjaga, aktif dan hadir sebagai pengamat untuk membangun pemahaman baru yang memberi perspektif baru bersifat terapeutik, yang selanjutnya diaplikasikan di kehidupannya saat ini (Lynn dan Kirsch, 2006; Spiegel, 2010).

Data Hasil Regresi

Sangat penting untuk diketahui bahwa penggunaan regresi hipnotik meskipun dapat mengungkap memori kejadian masa lalu, terutama kejadian masa kecil, tidak berarti dan tidak ada jaminan kejadian ini benar-benar terjadi demikian adanya.

Memori tidak bersifat reproduktif, tapi rekonstruktif. Memori perlu dimengerti sebagai sebuah proses perekaman informasi ke PBS berdasar persepsi individu, dapat mengalami modifikasi atau diubah sepanjang hidup individu untuk memenuhi kebutuhan fungsi dinamis tertentu dalam menjalankan hidup keseharian (Kandel, 2007; Squire dan Kandel, 2008).

Memori dapat terpengaruh baik secara sadar atau tanpa disadari karena sifatnya yang lentur (Sheehan (1998, 1995; Loftus, 2017).

Individu bisa mengalami regresi secara spontan sebagai respon terhadap stimulus eksternal yang terhubung dengan pengalaman traumatik di masa kecil. Ia juga bisa mengalami regresi dengan mengikuti tuntunan terapis.

Saat individu mengalami regresi spontan, ke kejadian masa kecilnya, ia mengalami revivifikasi dan adalah anak kecil berusia seturut kejadian yang ia alami.

Ada individu tersangkut di kejadian ini dan berperilaku sebagai anak kecil. Untuk orang awam, kondisi ini tentu sulit dimengerti. Upaya penyembuhan yang dilakukan biasanya tidak efektif karena tidak menyelesaikan masalahnya, yaitu ia tersangkut di masa lalu.

Hipnoterapis berpengalaman dapat dengan mudah mengenali kondisi ini, dan menggunakan kecakapannya, mampu menuntun individu ini keluar dari kondisi hipnosis, kembali ke kondisi kesadaran sebagai orang dewasa di masa kini.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online2
Hari ini8
Sepanjang masa34.511.958
1 Facebook
2 Youtube
3 Instagram
4 Quantum Morphic Field Relaxation
5 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia
6 The Heart Technique