The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel


Ketika Sakit Menjadi Perlindungan, Terapi Membuka Jalan Pemulihan

25 Mei 2026
Ketika Sakit Menjadi Perlindungan, Terapi Membuka Jalan Pemulihan
Minggu lalu saya mendapat kesempatan membantu seorang klien wanita berusia 27 tahun, sebut sebagai Indah, dalam sesi live therapy di depan para peserta kelas Scientific EEG and Clinical Hypnotherapy di kampus AWGI Surabaya.
 
Masalah Indah cukup kompleks, bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu kasus paling kompleks yang pernah saya tangani dalam live therapy. Saya memutuskan untuk tetap menangani Indah karena intuisi saya menyatakan bahwa ia sangat perlu dibantu.
 
Tujuan Indah menjalani sesi terapi adalah untuk mengatasi keinginannya memiliki penyakit kronis secara terus-menerus. Saat ini, ia telah mengalami beberapa kondisi kesehatan yang cukup serius:
 
• IBD-related arthritis: peradangan sendi yang muncul sebagai komplikasi dari Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau penyakit radang usus kronis. Kondisi ini menyebabkan sendi membengkak, nyeri, dan kaku.
 
• Neuritis optik: peradangan pada saraf mata atau saraf optik yang menghubungkan mata ke otak.
 
• Distal demyelinating neuropathy: jenis kerusakan saraf tepi yang menyerang lapisan pelindung saraf, yaitu mielin, terutama pada bagian tubuh terjauh seperti tangan dan kaki.
 
• Sindrom Sjögren: penyakit autoimun kronis yang menyebabkan penurunan drastis produksi air mata dan air liur.
 
Psikiater menyatakan bahwa Indah mengalami depresi mayor, Complex PTSD atau CPTSD, yaitu gangguan kesehatan mental yang berkembang akibat trauma kronis atau berulang, dan Purely Obsessional OCD, yaitu salah satu bentuk gangguan obsesif-kompulsif di mana penderitanya mengalami pikiran atau dorongan mengganggu secara konstan.
 
Setiap kali Indah diminta menghindari makanan tertentu, ia justru sengaja melanggar pantangan tersebut agar penyakit autoimun yang ia alami kambuh atau berada dalam kondisi flare.
 
Ketika dokter menyatakan perkembangan kondisi kesehatannya membaik, suasana hati Indah langsung hancur. Setelah itu, ia melakukan berbagai upaya agar penyakitnya tetap kambuh. Di sisi lain, ketika ia benar-benar berada dalam kondisi sakit, ada momen ketika ia ingin menyerah dan mengakhiri hidup. Kondisi ini terus berputar dalam siklus yang sangat melelahkan.
 
Indah telah dua kali mencoba melakukan upaya mengakhiri hidupnya. Namun, masih ada kesadaran yang cukup kuat dalam dirinya yang mencegah hal itu terjadi.
 
Emosi yang ia alami sangat banyak dan sangat intens. Dengan menggunakan skala 0 sampai 10, Indah melaporkan emosi berikut: marah (10), kecewa (10), terluka (10), dendam (10), sakit hati (10), tersinggung (10), benci (10), menyesal (10), frustrasi (10), takut (10), cemas (10), malu (10), kesepian (9), sedih (10), merasa tidak mampu (10), putus asa (7), merasa tidak berdaya (10), merasa kecil (10), merasa tidak diinginkan (10), dan merasa hampa (10).
 
Untuk mengobati kondisinya, Indah setiap hari minum cukup banyak obat. Menurut Indah, biaya obat dalam satu minggu bisa mencapai sekitar Rp4 juta.
 
Obat yang Indah minum adalah HCQ (2x1), Imuran (2x1), Amitriptyline (2x1), Pariet (2x1), Ondansetron (3x1), Xepazym (3x1), Eperisone (2x1), Pregabalin (2x1), Methycobal (3x1), dan Salofalk Enema (1x1).
 
Obat dari psikiater adalah Alprazolam (2x1), Depram (1x2), Zudem (1x2), dan Dayvigo (1x1).
 
Obat yang diminum bila nyeri adalah Celebrex (2x1) dan Ultracet (2x1).
 
Sebelum bertemu saya, Indah pernah ditangani oleh dua terapis. Terapis pertama menggunakan hipnoterapi dengan durasi satu jam. Terapis kedua menggunakan pendekatan conversational hypnosis dengan durasi terapi 20 menit.
 
Kondisi Indah menjadi semakin rumit dan serius karena, selain kondisi yang telah dijelaskan di atas, sejak dua tahun lalu Indah juga telah dipasangi alat pacu jantung karena mengalami aritmia dan sebelumnya pernah pingsan.
 
Sebelum live therapy dilakukan, saya membahas Intake Form dan menjelaskan kepada para peserta SECH langkah serta strategi yang perlu dilakukan untuk membantu Indah. Saya juga menjelaskan risiko yang dapat terjadi pada Indah bila penanganan dilakukan secara keliru, mengingat kondisi jantungnya. Kasus ini harus ditangani dengan sangat hati-hati.
 
Saya juga memberikan penjelasan mendalam kepada Indah tentang hubungan antara pikiran, emosi, tubuh, dan kesehatan, mekanisme dan respons stres, psikoneuroimunologi, epigenetika, mekanisme pertahanan diri, saraf vagus, serta cara kerja dan fungsi proteksi pikiran bawah sadar (PBS).
 
Walaupun kondisi jantung Indah perlu mendapat perhatian khusus, saya tetap menggunakan pendekatan Dual Layer Therapy dengan sejumlah modifikasi agar proses terapi tetap aman, tepat, dan sesuai dengan kondisi Indah.
 
Dalam pendekatan Dual Layer Therapy, terapi tidak hanya diarahkan untuk menemukan dan menetralisir emosi yang menjadi akar masalah, tetapi juga untuk memahami bagaimana sistem di pikiran bawah sadar mempertahankan masalah tersebut. Lapisan pertama bekerja pada muatan emosi dan pengalaman traumatik yang menjadi sumber luka. Pada lapisan ini, emosi-emosi intens yang melekat pada kejadian traumatik diproses, dinetralisir, dan dilepaskan dari sistem diri klien.
 
Lapisan kedua bekerja pada struktur diri, bagian diri, atau program pikiran bawah sadar yang selama ini menjalankan fungsi proteksi tertentu, meskipun cara kerjanya justru menimbulkan masalah bagi klien.
 
Dalam kasus Indah, keinginan untuk tetap sakit ternyata bukan sekadar gejala, melainkan bagian dari program protektif yang memiliki tujuan tertentu di pikiran bawah sadar. Karena itu, terapi tidak cukup hanya dengan menetralisir emosi traumatik. Program yang mempertahankan sakit juga perlu ditemukan, dipahami tujuannya, diajak berkomunikasi, dan direstrukturisasi agar dapat menjalankan fungsi proteksinya dengan cara baru yang lebih sehat, aman, dan adaptif.
 
Dengan cara ini, Dual Layer Therapy bekerja secara lebih menyeluruh. Bukan hanya “mengapa luka itu ada” yang diproses, tetapi juga “bagaimana sistem diri mempertahankan luka itu” yang ditangani. Ketika kedua lapisan ini berhasil diproses, pikiran bawah sadar tidak lagi perlu mempertahankan gejala lama sebagai cara untuk melindungi diri. Energi psikis yang sebelumnya digunakan untuk mempertahankan sakit dapat dialihkan untuk mendukung pemulihan, ketenangan, dan kehidupan yang lebih sehat.
 
Terapi berlangsung dalam suasana santai, tetapi tetap serius. Saya melakukan terapi sambil sesekali memberikan penjelasan kepada para peserta.
 
Saya membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam untuk menuntaskan terapi. Melalui proses hipnoanalisis, berhasil ditemukan empat kejadian traumatik yang Indah alami, yang menjadi penyebab utama masalahnya.
 
Selain itu, saya juga menemukan program pikiran di pikiran bawah sadar (PBS) Indah yang selama ini membuatnya terus-menerus ingin sakit, sekaligus membuat tubuhnya tetap mempertahankan kondisi sakit. Program pikiran ini memiliki kekuatan atau daya yang cukup besar.
 
Emosi-emosi negatif intens yang berhasil diproses ternyata berdiam di lokasi tubuh Indah yang selama ini mengalami sakit, seperti sendi-sendi, tulang panggul, perut, kaki, dan daerah kepala.
 
Saya menjelaskan kepada para peserta SECH bahwa di mana pun emosi negatif berdiam di tubuh, ia pasti mengganggu kerja sel atau organ dan dapat menimbulkan masalah.
 
Usai terapi, wajah Indah tampak berubah total. Wajahnya terlihat lebih cerah, bersinar, dan hidup. Vibrasinya pun terasa jauh lebih baik, ringan, dan nyaman. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan dengan saat ia pertama kali duduk di kursi terapi.
 
Saya juga menyampaikan pesan kepada Indah agar berkonsultasi dengan dokter yang menangani kondisi kesehatannya, termasuk mendiskusikan obat-obatan yang saat ini ia minum, apakah dosisnya sebaiknya tetap dipertahankan atau dapat dikurangi.
 
Saya menegaskan bahwa hipnoterapi bersifat mendukung proses pengobatan medis, bukan menggantikannya. Terkait obat, keputusan untuk mempertahankan, mengurangi, menambah, atau menghentikan dosis sepenuhnya merupakan wewenang dokter yang menangani.
 
Saya dan segenap peserta SECH menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Indah atas kesempatan sangat berharga yang telah diberikan kepada kami untuk melakukan praktik, menyaksikan proses terapi, dan belajar langsung dari kasus Indah.
 
Melalui proses terapi yang berlangsung sangat intens, para peserta SECH belajar secara langsung tentang prosedur layanan hipnoterapi profesional, mulai dari cara melakukan wawancara mendalam, membangun rapport, memberikan edukasi yang mendalam, tepat sasaran, dan bersifat terapeutik, hingga menggunakan strategi terapi yang tepat serta aman untuk kondisi khusus seperti ini.
 
Mereka juga dapat menyaksikan sendiri bagaimana proses terapi yang dilakukan secara benar, mengikuti protokol hipnoterapi yang telah teruji aman dan efektif, mampu menghasilkan perubahan yang sangat optimal hanya dalam satu sesi terapi. 
 
Beberapa hari kemudian kami menghubungi Indah untuk menanyakan perkembangan kondisinya pascaterapi. Berikut ini jawaban Indah:
 
"Sampai saat ini, saya merasa lebih hidup dan semakin yakin akan masa depan saya yang Indah. Saya merasa way way better. Saya optimis sembuh dari kondisi saya. Terima kasih Pak Adi dan segenap tim AWGI. Nanti saya akan update perkembangan selanjutnya. Terima kasih."
.
.
(Kisah terapi ini ditulis dan tayang atas izin Indah untuk edukasi publik.)

_PRINT