The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
Dalam proses mempelajari suatu keterampilan, kita mengenal konsep Four Stages of Competence, yaitu empat tahap perkembangan kompetensi.
Tahap pertama adalah Unconscious Incompetence. Seseorang belum kompeten dan, yang lebih penting, ia belum menyadari bahwa dirinya belum kompeten.
Tahap kedua adalah Conscious Incompetence. Ia mulai belajar dan menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang belum ia ketahui dan kuasai.
Tahap ketiga adalah Conscious Competence. Ia telah mampu melakukan keterampilan dengan benar, tetapi masih harus berpikir, mengingat langkah, dan secara sadar memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.
Tahap terakhir adalah Unconscious Competence. Melalui latihan dan pengalaman yang benar dan memadai, keterampilan semakin terinternalisasi sehingga dapat dilakukan secara natural dan otomatis.
Secara ideal, prosesnya berjalan seperti ini:
Unconscious Incompetence → Conscious Incompetence → Conscious Competence → Unconscious Competence
Setelah hampir dua puluh tahun mengajar dan mengamati proses pembelajaran dalam pendidikan hipnoterapis, saya melihat bahwa perjalanan menuju kompetensi ternyata tidak selalu berlangsung seperti ini.
Ada satu jalur lain yang justru jauh lebih berbahaya.
Saya menyebutnya Siklus Kompetensi Semu atau Pseudo-Competence Cycle.
Model ini bukan perluasan resmi dari Four Stages of Competence, melainkan kerangka konseptual yang saya gunakan untuk menjelaskan pola yang saya amati dalam proses pendidikan dan praktik hipnoterapi.
Ketika Seseorang Merasa Kompeten Padahal Tidak
Bayangkan seseorang sedang belajar menjadi hipnoterapis.
Pada awalnya, ia berada pada tahap Unconscious Incompetence. Ia belum tahu banyak tentang hipnoterapi dan juga belum mengetahui apa saja yang belum ia ketahui.
Kemudian ia mulai belajar.
Ia mulai mengenal induksi, deepening, sugesti, regresi, abreaction, hipnoanalisis, teknik EP, dan berbagai teknik lainnya.
Pada tahap tertentu, seharusnya ia mencapai Conscious Incompetence.
Semakin banyak belajar, ia semakin sadar bahwa hipnoterapi ternyata tidak sesederhana yang sebelumnya ia bayangkan. Ada banyak hal yang perlu dipahami, dilatih, dan dikuasai.
Bila ia mendapat pendidikan yang tepat, fondasi teori yang benar, latihan yang memadai, mentoring, supervisi, serta umpan balik korektif, perlahan tapi pasti ia bergerak menuju Conscious Competence.
Pertanyaannya, bagaimana bila pendidikan yang ia terima tidak memadai?
Bagaimana bila materi, metode, atau pemahaman yang diterima selama proses pembelajaran belum sepenuhnya tepat atau akurat?
Bagaimana bila selama pelatihan ia hanya berlatih dalam bentuk simulasi praktik kepada sesama peserta dan bukan melakukan terapi kepada klien dengan kasus riil?
Bagaimana bila selama pelatihan tidak tersedia praktik tersupervisi, evaluasi proses, mentoring, atau mekanisme umpan balik dari pengajar yang memiliki standar kompetensi yang memadai?
Bagaimana pula bila ia tidak pernah melihat pengajarnya sendiri menangani klien riil, sehingga tidak pernah tahu seperti apa standar praktik yang benar ketika benar-benar diterapkan?
Di sinilah masalah mulai terjadi.
Ia melakukan sesuatu dengan cara tertentu.
Tidak ada yang memberi tahu bahwa cara tersebut salah.
“Klien” memberikan respons.
Proses “terapi” tampaknya berjalan.
Ia kemudian menarik kesimpulan: “Berarti yang saya lakukan sudah benar.”
Padahal, belum tentu.
Inilah tahap yang saya sebut False Conscious Competence, atau Kompetensi Sadar Semu.
Secara subjektif, orang tersebut merasa kompeten.
Ia tahu apa yang hendak dilakukan. Ia mempunyai teknik. Ia mempunyai prosedur. Ia bahkan dapat menjelaskan alasan di balik tindakannya.
Masalahnya, apa yang ia pahami sebagai “benar” sebenarnya belum tentu benar.
Dengan kata lain: ia sadar terhadap apa yang dilakukannya, tetapi tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya salah.
Kondisi ini justru lebih berbahaya dibandingkan Conscious Incompetence.
Orang yang sadar bahwa dirinya belum kompeten masih mempunyai ruang belajar yang sangat besar. Ia tahu bahwa dirinya belum tahu.
Sebaliknya, orang yang mengalami False Conscious Competence merasa dirinya sudah tahu.
Karena merasa sudah tahu, ia tidak merasa perlu mempertanyakan kembali apa yang dilakukannya.
Bagaimana Mengetahui Kompetensi Semu Setelah Pelatihan?
Ada satu indikator yang sangat penting, yaitu kualitas proses dan hasil praktik.
Setelah seseorang mengikuti pelatihan hipnoterapi, memperoleh sertifikat, memahami berbagai teknik, dan mulai menangani klien, bagaimana kita mengetahui bahwa sebenarnya ia masih berada dalam kondisi Unconscious Incompetence?
Salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian adalah ketika dalam praktik seseorang berulang kali tidak mampu menjalankan proses terapi sesuai standar kompetensi dan proses yang ditetapkan, mengalami kegagalan proses atau hasil yang berulang, tetapi tetap merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan tidak melihat adanya aspek yang perlu dievaluasi.
Artinya, ada kompetensi yang belum ia kuasai, tetapi ia tidak menyadari bahwa kompetensi tersebut belum ia kuasai.
Di sinilah persoalannya.
Ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu.
Dengan kata lain, sertifikat pelatihan tidak otomatis menghilangkan Unconscious Incompetence.
Seseorang bisa saja telah mengikuti pelatihan berdurasi ratusan jam, mengetahui banyak istilah, menguasai puluhan teknik, bahkan telah menangani banyak klien, tetapi tetap memiliki blind spot yang tidak ia sadari.
Oleh karena itu, ukuran kompetensi tidak boleh berhenti pada:
“Apakah ia sudah belajar?”
atau:
“Apakah ia sudah mendapat sertifikat?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apakah ia mampu menjalankan proses terapi secara benar, konsisten, dan sesuai standar, serta mengevaluasi secara tepat proses dan hasil yang diperoleh?”
Di sinilah praktik nyata menjadi sangat penting untuk mengetahui apakah pengetahuan dan keterampilan benar-benar telah berkembang menjadi kompetensi.
Practice Does Not Make Perfect
Kita sering mendengar ungkapan: Practice makes perfect.
Menurut saya, kalimat ini tidak tepat.
Latihan tidak otomatis menghasilkan kesempurnaan.
Bila seseorang terus berlatih melakukan sesuatu dengan cara yang salah, ia justru menjadi semakin terampil melakukan kesalahan tersebut.
Oleh karena itu, saya lebih setuju dengan:
Practice does not make perfect. Perfect practice makes perfect.
Dalam konteks hipnoterapi, otomatisasi kesalahan dapat terjadi dalam berbagai bentuk.
Seorang terapis, misalnya, terbiasa mengajukan pertanyaan yang bersifat leading. Klien memberikan jawaban dan proses terapi tampaknya berjalan. Karena merasa pertanyaannya efektif, terapis terus menggunakan cara yang sama.
Setelah pola ini diulang puluhan atau bahkan ratusan kali tanpa koreksi, pertanyaan leading akhirnya keluar secara otomatis. Terapis bahkan tidak lagi menyadari bahwa pertanyaannya bersifat leading.
Kesalahan serupa dapat terjadi ketika terapis terbiasa membuat asumsi.
Misalnya, klien menangis saat menceritakan hubungannya dengan ayah. Terapis langsung menyimpulkan bahwa sumber masalah klien adalah pengalaman traumatis dengan ayah, lalu mengarahkan proses terapi berdasarkan kesimpulan tersebut.
Bila pola ini terus dilakukan tanpa koreksi, terapis dapat menjadi semakin cepat mengambil kesimpulan dan menganggap kecepatan tersebut sebagai tanda pengalaman dan kompetensi.
Padahal, respons klien adalah data. Makna di balik respons tersebut tetap perlu ditemukan dan diuji bersama klien. Semakin cepat mengambil kesimpulan tidak selalu berarti semakin tepat.
Otomatisasi kesalahan juga dapat terjadi dalam mengevaluasi hasil terapi.
Misalnya, setelah proses terapi klien mengatakan, “Sekarang saya sudah lega.”
Terapis menganggap pernyataan tersebut sebagai bukti bahwa masalah telah selesai dan terapi berhasil. Ia kemudian mengakhiri proses tanpa melakukan pengujian hasil secara memadai.
Ketika hal ini terus dilakukan, terapis dapat terbiasa menyamakan perubahan perasaan sesaat dengan ketuntasan terapeutik. Padahal, rasa lega merupakan data penting, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan bahwa masalah telah tuntas.
Bila pola ini terus berulang, terapis tidak lagi merasa perlu melakukan pengujian karena menurutnya respons positif klien sudah cukup membuktikan keberhasilan terapi.
Ketiga contoh tersebut menunjukkan pola yang sama.
Kesalahan dilakukan → tidak disadari → tidak dikoreksi → diulang → semakin lancar → menjadi otomatis.
Pada titik ini, terapis memang semakin lancar.
Sayangnya, kelancaran tidak sama dengan kompetensi.
Yang menjadi otomatis bukan keterampilan yang benar.
Yang menjadi otomatis adalah kesalahan.
Dari Kompetensi Semu Kembali ke Unconscious Incompetence
Di sinilah Siklus Kompetensi Semu terbentuk.
Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Unconscious Incompetence
↓
Conscious Incompetence
↓
False Conscious Competence
↓
Repeated Incorrect Practice
↓
Automated Error
↓
Entrenched Unconscious Incompetence
Saya menggunakan istilah Entrenched Unconscious Incompetence untuk membedakannya dari kondisi awal seseorang yang sama sekali belum belajar.
Pada tahap awal, seseorang belum kompeten karena memang belum tahu.
Kita dapat menyebut kondisi ini Naïve Unconscious Incompetence.
Setelah bertahun-tahun melakukan kesalahan yang sama, kondisinya menjadi berbeda.
Ketidakkompetenannya telah mengakar.
Kesalahan telah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan telah menjadi otomatis.
Karena dilakukan secara otomatis, orang tersebut tidak lagi menyadari bahwa yang ia lakukan sebenarnya salah.
Inilah Entrenched Unconscious Incompetence, yaitu inkompetensi yang mengakar karena terinternalisasi.
Menurut saya, kondisi kedua jauh lebih sulit diperbaiki.
Orang yang belum pernah belajar dapat diajari.
Orang yang telah belajar secara salah harus terlebih dahulu melakukan unlearning sebelum dapat belajar kembali dengan benar.
Pengalaman Tidak Selalu Sama dengan Kompetensi
Inilah alasan saya selalu berhati-hati ketika mendengar seseorang mengatakan:
“Sudah sepuluh tahun saya praktik.”
Pertanyaannya bukan hanya:
Berapa lama ia telah praktik?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Apa yang ia praktikkan selama sepuluh tahun tersebut?
Apakah praktiknya didasarkan pada kerangka keilmuan yang jelas, koheren, dan dapat dipertanggungjawabkan?
Apakah ada standar?
Apakah ada protokol?
Apakah ada mentoring?
Apakah ada supervisi?
Apakah ada pengujian hasil?
Apakah ada mekanisme untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan?
Pertanyaan lainnya, apakah ia hanya melakukan pola yang sama selama bertahun-tahun tanpa pernah dievaluasi?
Seseorang bisa memiliki sepuluh tahun pengalaman.
Bisa juga, ia hanya memiliki satu tahun pengalaman yang sama yang diulang sepuluh kali.
Lebih buruk lagi, ia mungkin memiliki satu pola yang salah dan mengulang pola tersebut selama sepuluh tahun.
Semakin lama pola tersebut dilakukan, semakin otomatis tindakannya dan semakin kuat keyakinannya bahwa cara tersebut benar.
Peserta Perlu Melihat Seperti Apa Praktik yang Benar
Ada satu hal lain yang menurut saya sangat penting dalam pendidikan keterampilan terapi.
Peserta tidak cukup hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan. Mereka perlu melihat secara langsung seperti apa standar kerja yang benar ketika diterapkan dalam situasi nyata.
Ketika pengajar mengajarkan berbagai teknik terapi, peserta perlu mempunyai acuan atau model kerja yang jelas.
Bagaimana teknik tersebut digunakan?
Kapan teknik itu digunakan?
Bagaimana pengajar mengajukan pertanyaan?
Bagaimana respons klien diamati dan dimaknai?
Bagaimana pengajar menentukan langkah berikutnya?
Apa yang dilakukan ketika respons klien tidak sesuai perkiraan?
Bagaimana pengajar menjaga proses tetap client-centered, tidak membuat asumsi, dan tidak leading?
Semua ini tidak cukup hanya dijelaskan secara teoretis.
Peserta perlu melihatnya terjadi di depan mereka.
Menurut saya, salah satu cara terbaik untuk memberikan acuan tersebut adalah dengan pengajar melakukan demonstrasi terapi secara langsung kepada klien riil yang bukan berasal dari peserta pelatihan.
Demonstrasi seperti ini tentu harus dilakukan dengan persetujuan klien, setelah ia memahami bahwa sesinya akan disaksikan peserta. Kerahasiaan identitas dan isi sesi wajib dijaga oleh semua yang hadir. Kepentingan dan keselamatan klien tetap berada di atas kepentingan pembelajaran.
Tidak setiap klien atau kasus sesuai untuk demonstrasi di depan kelas. Pemilihan klien harus mempertimbangkan kesiapan psikologis, karakter masalah, privasi, serta keselamatan klien. Persetujuan harus diberikan secara bebas, tanpa tekanan, dan klien tetap berhak menghentikan proses apabila merasa tidak nyaman.
Mengapa ini penting?
Praktik kepada klien riil sangat berbeda dengan simulasi antarpeserta.
Dalam simulasi, situasi dapat diperkirakan. Peserta sama-sama mengetahui teknik yang sedang dipelajari. Respons yang muncul pun sering kali, sadar atau tidak sadar, dipengaruhi oleh konteks latihan.
Klien riil berbeda.
Pengajar tidak mengetahui sebelumnya apa yang akan muncul.
Respons klien tidak sepenuhnya dapat diprediksi atau diskenariokan.
Proses terapi dapat bergerak ke arah yang tidak terduga.
Di sinilah peserta dapat melihat bagaimana teori, prinsip, protokol, teknik, pengambilan keputusan terapeutik, dan kemampuan membaca respons klien benar-benar digunakan dalam praktik.
Dengan kata lain, peserta bukan hanya mendengar:
“Lakukan seperti ini.”
Mereka melihat secara langsung:
“Inilah seperti apa praktik yang dimaksud.”
Demonstrasi tersebut kemudian menjadi acuan kerja bagi peserta.
Setelah melihat bagaimana proses yang benar dilakukan, barulah peserta melakukan praktik sendiri berdasarkan standar yang telah mereka lihat.
Dengan demikian, peserta tidak sekadar “asal praktik”.
Mereka mempunyai referensi yang jelas mengenai kualitas proses yang harus dicapai.
Menurut saya, urutannya seharusnya adalah:
Standar dijelaskan → Pengajar mendemonstrasikan → Peserta mengobservasi → Peserta memahami alasan di balik setiap langkah → Peserta mempraktikkan → Pengajar mengevaluasi → Kesalahan dikoreksi → Peserta mempraktikkan kembali.
Inilah yang membedakan latihan yang terstruktur dari sekadar pengulangan aktivitas.
Sayangnya, dalam banyak program pendidikan hipnoterapis, demonstrasi terapi kepada klien riil di depan kelas tidak selalu menjadi bagian dari proses pendidikan.
Ada pengajar yang lebih banyak menjelaskan teori dan teknik.
Ada pula yang meminta peserta langsung berlatih dengan sesama peserta.
Peserta sendiri belum pernah melihat bagaimana pengajar tersebut menerapkan seluruh prinsip dan teknik yang diajarkan ketika berhadapan dengan klien riil.
Di sinilah muncul satu persoalan penting.
Bagaimana peserta dapat mengetahui seperti apa standar praktik yang benar apabila mereka belum pernah melihat standar tersebut diwujudkan secara langsung?
Tanpa model yang jelas, peserta berisiko membangun standar berdasarkan interpretasinya sendiri.
Ia mendengar teori.
Ia memahami teknik menurut versinya.
Kemudian ia langsung berlatih.
Bila interpretasinya tidak tepat dan tidak segera dikoreksi, kesalahan tersebut dapat mulai diulang.
Karena itu, dalam pendidikan keterampilan profesional, demonstrasi bukan sekadar tontonan dan bukan pula sarana menunjukkan kemampuan pengajar.
Demonstrasi adalah bagian dari proses pembelajaran.
Tujuannya adalah memberikan referensi konkret mengenai standar kompetensi yang nantinya harus dicapai peserta.
Demonstrasi juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab profesional pengajar. Melalui demonstrasi, peserta dapat melihat secara langsung konsistensi antara prinsip dan teknik yang diajarkan dengan penerapannya ketika pengajar berhadapan dengan klien yang responsnya tidak dapat ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, standar yang diajarkan tidak berhenti sebagai pengetahuan teoretis, tetapi dapat diamati penerapannya dalam praktik nyata.
Barulah setelah memiliki acuan tersebut, praktik peserta mempunyai arah yang jelas.
Ia tahu apa yang sedang ia upayakan.
Ia tahu seperti apa proses yang benar.
Ia mempunyai standar untuk membandingkan praktiknya sendiri.
Ketika kemudian mendapat umpan balik, ia dapat memahami dengan jauh lebih baik di mana praktiknya telah sesuai dengan standar dan di mana masih terdapat kesenjangan yang perlu diperbaiki.
Prinsip inilah yang saya terapkan dalam pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH).
Di setiap kelas SECH, saya melakukan empat sesi live therapy di depan peserta. Klien yang diterapi adalah orang dengan masalah riil dan bukan peserta pelatihan. Mereka mendaftarkan diri untuk menjalani terapi di depan kelas.
Satu sesi terapi berlangsung antara tiga hingga empat jam. Dari empat sesi langsung ini saja, peserta menyaksikan 12 hingga 16 jam proses terapi yang sesungguhnya, dari awal hingga akhir. Mereka melihat sendiri bagaimana protokol dijalankan, bagaimana respons klien dibaca, bagaimana keputusan terapeutik diambil, dan bagaimana pengujian hasil dilakukan.
Selain itu, peserta juga menonton empat rekaman live therapy dari sesi-sesi sebelumnya. Dengan demikian, setiap peserta menyaksikan delapan proses terapi utuh dengan klien riil.
Dengan acuan inilah peserta kemudian mempraktikkan protokol yang sama kepada klien mereka sendiri.
Mengapa Saya Sangat Ketat di Kelas SECH
Inilah salah satu alasan mengapa dalam pelatihan SECH saya sangat ketat dan menuntut setiap peserta mempraktikkan hipnoterapi mengikuti protokol hipnoterapi AWGI yang telah ditetapkan.
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa harus begitu ketat?
Mengapa peserta harus mengikuti protokol?
Mengapa setiap langkah harus dilakukan dengan benar dan runtut?
Mengapa tidak dibiarkan saja setiap peserta mengembangkan gayanya sendiri sejak awal?
Jawabannya sederhana.
Saya ingin mereka membangun kebiasaan yang benar dan efektif sejak awal.
Protokol bukan dibuat untuk membatasi kreativitas terapis.
Protokol berfungsi sebagai struktur pembelajaran agar peserta berlatih melakukan hal yang benar, dengan urutan yang benar, berdasarkan alasan yang benar, dan dengan standar yang jelas.
Tujuannya bukan sekadar agar peserta hafal protokol.
Tujuannya agar pola berpikir dan pola kerjanya menjadi benar, ajeg, efektif, dan pada akhirnya terinternalisasi.
Ketika peserta terus melakukan proses yang benar berulang kali, kita sedang membantu mereka membangun jalur menuju Correct Conscious Competence, kemudian menuju Correct Unconscious Competence.
Saya sengaja menambahkan kata “correct” untuk menegaskan bahwa otomatisasi saja tidak cukup. Yang menjadi tujuan adalah otomatisasi keterampilan yang telah melalui standar, evaluasi, dan koreksi yang memadai.
Kebiasaan yang telah menjadi otomatis jauh lebih sulit diubah.
Itulah sebabnya saya lebih memilih bersikap sangat ketat pada tahap pembentukan keterampilan daripada membiarkan kesalahan menjadi kebiasaan yang kelak harus dibongkar kembali.
Mengapa Peserta SECH Harus Menangani Lima Klien?
Inilah pula alasan saya mewajibkan setiap peserta SECH, saat masih dalam masa pendidikan, mempraktikkan hipnoterapi menggunakan protokol hipnoterapi AWGI kepada lima klien dengan kasus riil.
Sekadar melakukan terapi terhadap lima klien tentu belum cukup.
Untuk setiap klien, peserta wajib menuliskan laporan kasus secara detail dan runtut.
Dalam laporan tersebut peserta harus menjelaskan proses terapi yang dilakukan dari awal hingga akhir, apa yang terjadi, apa yang ia lakukan, bagaimana respons klien, keputusan terapeutik yang ia ambil, dan hasil yang diperoleh.
Laporan ini kemudian dikirimkan kepada saya sebagai pengajar untuk mendapatkan penilaian, koreksi, saran, masukan, dan arahan.
Dalam proses ini, peserta tidak hanya belajar dari umpan balik yang diberikan pada laporan kasusnya sendiri.
Setiap peserta juga wajib membaca dan mempelajari penilaian, koreksi, saran, masukan, dan arahan yang saya berikan pada laporan kasus teman-temannya.
Dengan demikian, pengalaman belajar seorang peserta tidak terbatas pada lima kasus yang ia tangani sendiri. Ia juga belajar dari banyak kasus yang ditangani peserta lain, termasuk dari keputusan terapeutik yang tepat, kesalahan yang terjadi, koreksi yang diberikan, serta alasan di balik koreksi tersebut.
Cara belajar seperti ini memungkinkan peserta memperluas pengalaman klinisnya dalam waktu relatif singkat. Ia dapat mengenali berbagai pola, variasi respons klien, potensi kesalahan, dan pertimbangan terapeutik tanpa harus terlebih dahulu mengalami semuanya sendiri dalam praktik.
Dengan kata lain, satu laporan kasus tidak hanya menjadi sarana belajar bagi peserta yang menulisnya, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh peserta kelas.
Ada satu aturan yang sangat penting.
Peserta harus mengirimkan laporan satu kasus demi satu kasus.
Ia tidak diperbolehkan menangani lima klien terlebih dahulu, kemudian mengirimkan lima laporan sekaligus.
Setelah menangani klien pertama, ia harus menyelesaikan laporan kasus pertama dan mengirimkannya kepada saya.
Saya kemudian membaca dan mengevaluasi laporan tersebut.
Saya melihat apakah proses terapi telah dilakukan sesuai protokol.
Apakah ada langkah yang terlewat?
Apakah ada keputusan yang kurang tepat?
Apakah ada pertanyaan yang leading?
Apakah peserta membuat asumsi?
Apakah respons klien dibaca dengan tepat?
Apakah proses terapi berjalan sesuai momentum?
Apakah pengujian hasil dilakukan dengan benar?
Bila ada kesalahan, saya koreksi.
Hal yang sudah dilakukan dengan benar, saya beri pujian dan penguatan.
Bila ada sesuatu yang perlu diperbaiki, saya berikan masukan.
Bila ada bagian yang perlu mendapat perhatian khusus, saya berikan arahan.
Peserta baru diperbolehkan menangani klien berikutnya setelah laporan kasus sebelumnya mendapat penilaian, koreksi, saran, masukan, dan arahan.
Mengapa saya membuat aturan seperti ini?
Tujuannya adalah mencegah peserta melakukan kesalahan yang sama secara berulang.
Bayangkan bila pada klien pertama seorang peserta melakukan suatu kesalahan, tetapi ia tidak menyadari bahwa yang dilakukannya salah.
Ia kemudian langsung menangani klien kedua.
Kesalahan yang sama kembali dilakukan.
Begitu pula pada klien ketiga.
Dalam lima kasus saja, ia telah melatih kesalahan yang sama sebanyak lima kali.
Apa yang seharusnya menjadi praktik untuk membangun kompetensi justru berubah menjadi latihan untuk memperkuat inkompetensi.
Oleh karena itu, proses praktik dalam SECH dilakukan secara bertahap:
Kasus 1 → Laporan → Penilaian → Koreksi → Saran dan Arahan → Perbaikan → Kasus 2
Kemudian:
Kasus 2 → Laporan → Penilaian → Koreksi → Saran dan Arahan → Perbaikan → Kasus 3
Proses ini berlanjut hingga lima kasus.
Dengan demikian, yang saya wajibkan bukan sekadar lima pengalaman menangani klien, melainkan lima siklus praktik, evaluasi, koreksi, dan pembelajaran. Bila ditambah pembelajaran dari laporan kasus peserta lain, setiap peserta memperoleh paparan terhadap jauh lebih banyak proses terapi daripada kasus yang ia tangani sendiri.
Setiap kasus menjadi satu siklus pembelajaran.
Peserta melakukan.
Peserta melaporkan.
Pengajar mengevaluasi.
Hal yang sudah dilakukan dengan benar diberi pujian dan penguatan.
Kesalahan ditemukan.
Kesalahan dikoreksi.
Pemahaman diperbaiki.
Baru setelah itu peserta kembali praktik.
Idealnya, kualitas praktik kasus kedua harus lebih baik daripada kasus pertama.
Kasus ketiga lebih baik daripada kasus kedua.
Demikian seterusnya.
Inilah yang saya maksud dengan corrective feedback loop atau siklus umpan balik korektif.
Secara sederhana, proses ini bekerja dalam dua arah:
yang benar → dikenali → dipuji → diperkuat → dipertahankan
yang salah → dikenali → dikoreksi → dipahami → diperbaiki
Lima Klien Bukan Sekadar Persyaratan Kelulusan
Oleh karena itu, praktik lima klien dalam pendidikan SECH bukan sekadar persyaratan administratif.
Tujuannya jauh lebih penting.
Lima kasus tersebut, yang ditangani menggunakan protokol lengkap selama masa pendidikan, merupakan bagian dari proses pembentukan pola berpikir dan pola kerja terapeutik yang benar.
Saya ingin peserta terbiasa menjalankan terapi secara sistematis.
Saya ingin mereka terbiasa mengikuti protokol.
Saya ingin mereka mampu mempertanggungjawabkan setiap langkah yang mereka lakukan.
Saya ingin mereka belajar membaca respons klien.
Saya ingin mereka mampu mengenali ketika proses terapi tidak berjalan sebagaimana seharusnya.
Saya juga ingin kesalahan ditemukan sedini mungkin, sebelum kesalahan tersebut diulang, diperkuat, dan akhirnya berubah menjadi kebiasaan.
Di sinilah perbedaan antara practice dan perfect practice.
Perfect practice bukan berarti peserta harus sempurna sejak awal dan tidak boleh membuat kesalahan.
Justru dalam proses belajar, membuat kesalahan adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
Yang menjadi masalah bukan semata-mata terjadinya kesalahan.
Yang berbahaya adalah:
Kesalahan terjadi → tidak disadari → tidak dikoreksi → diulang → diperkuat → menjadi kebiasaan → menjadi otomatis.
Inilah jalan menuju Siklus Kompetensi Semu.
Sebaliknya, proses yang saya inginkan adalah:
Kesalahan terjadi → diketahui → dikoreksi → dipahami → diperbaiki → praktik berikutnya menjadi lebih baik.
Itulah makna perfect practice dalam konteks pembelajaran hipnoterapi.
Bukan latihan tanpa kesalahan.
Sebaliknya, yang dimaksud adalah latihan berdasarkan standar yang benar, disertai evaluasi dan koreksi sebelum kesalahan tersebut semakin mengakar dan menjadi pola yang sulit diubah.
Mengapa Mentoring dan Umpan Balik Sangat Penting
Belajar suatu keterampilan profesional tidak cukup hanya dengan mendapatkan informasi.
Tidak cukup hanya membaca buku.
Tidak cukup hanya menonton video.
Bahkan tidak cukup hanya mengikuti kelas.
Ada satu unsur penting yang sering diabaikan, yaitu umpan balik korektif atau corrective feedback.
Seseorang perlu mendapatkan umpan balik dari orang yang memiliki standar kompetensi yang memadai.
Ia perlu mengetahui:
Apa yang sudah benar?
Apa yang belum tepat?
Di bagian mana ia membuat asumsi?
Di mana ia leading?
Di mana ia kehilangan momentum terapi?
Di mana ia mengambil kesimpulan terlalu cepat?
Di mana ia gagal membaca respons klien?
Mengapa suatu intervensi tidak memberikan hasil sebagaimana seharusnya?
Yang paling penting:
Apa yang tidak ia sadari bahwa ia tidak tahu?
Hal terakhir inilah yang justru menjadi inti dari Unconscious Incompetence.
Kita tidak mungkin memperbaiki sesuatu yang keberadaannya saja tidak kita sadari.
Itulah fungsi pendidikan, mentoring, supervisi, evaluasi, dan standar kompetensi.
Bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membantu seseorang melihat blind spot dirinya sendiri.
Pembentukan kompetensi terapeutik perlu dilakukan secara sengaja, terstruktur, dan sistematis selama masa pendidikan, bukan diserahkan begitu saja pada pengalaman setelah pendidikan selesai.
Jalan Keluar dari Siklus Kompetensi Semu
Untuk keluar dari Entrenched Unconscious Incompetence, seseorang harus kembali memasuki proses belajar.
Pertama-tama, ia harus dibuat sadar bahwa ada sesuatu yang selama ini dilakukannya secara tidak tepat.
Dengan kata lain, ia perlu kembali dari:
Unconscious Incompetence → Conscious Incompetence
Ini mungkin merupakan tahap yang paling tidak nyaman.
Seseorang yang selama bertahun-tahun merasa dirinya kompeten tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa sebagian dari apa yang selama ini ia lakukan perlu dikoreksi.
Setelah itu barulah proses unlearning dapat dimulai.
Pola lama dihentikan.
Pemahaman diperbaiki.
Keterampilan yang benar dipelajari.
Kemudian dilakukan corrective practice atau latihan korektif, yaitu latihan yang bukan sekadar diulang, tetapi dilakukan kembali berdasarkan standar yang benar disertai umpan balik yang tepat.
Dari sini seseorang dapat bergerak menuju:
Correct Conscious Competence → Correct Unconscious Competence
Dalam model yang saya gunakan di tulisan ini, istilah tersebut merupakan penegasan konseptual, bukan tahap tambahan dalam Four Stages of Competence.
Kata “correct” sangat penting.
Otomatisasi bukan tujuan utama.
Yang kita inginkan adalah otomatisasi keterampilan yang benar dan efektif.
Implikasinya bagi Pendidikan Hipnoterapis
Inilah alasan pendidikan hipnoterapis tidak boleh berhenti pada pengajaran teknik.
Teknik hanyalah bagian yang terlihat.
Di bawah teknik harus ada bangunan keilmuan yang jelas, paradigma yang tepat, prinsip kerja, standar proses, protokol, kode etik, batas kompetensi, prosedur evaluasi, dan mekanisme koreksi.
Peserta juga perlu mendapat kesempatan untuk melihat demonstrasi pada klien riil, berlatih, mendapatkan observasi, menerima umpan balik, melakukan perbaikan, dan diuji kembali.
Prosesnya seharusnya berbentuk suatu siklus umpan balik:
Standar → Pembelajaran → Demonstrasi → Praktik → Observasi → Umpan Balik → Koreksi → Pengujian Hasil → Praktik kembali
Tanpa siklus umpan balik ini, pengulangan tidak menjamin peningkatan kompetensi.
Sebaliknya, pengulangan justru dapat membuat kesalahan semakin kuat.
Ketika kesalahan telah dilakukan dengan sangat lancar, orang lain bahkan dapat keliru menganggap kelancaran tersebut sebagai tanda keahlian.
Padahal:
Kelancaran tidak selalu menunjukkan kompetensi. Seseorang dapat menjadi sangat terampil melakukan sesuatu dengan cara yang salah.
Oleh karena itu:
Practice does not make perfect. Perfect practice makes perfect.
Salah satu prinsip terpenting dalam pengembangan kompetensi profesional adalah:
Pengulangan tidak selalu menghasilkan kompetensi. Tanpa standar, pendidikan yang tepat, mentoring, supervisi, evaluasi, dan umpan balik korektif, pengulangan justru dapat mengotomatisasi kesalahan hingga ketidakkompetenan dirasakan sebagai kompetensi.
Inilah bahaya terbesar dari Siklus Kompetensi Semu.
Bukan ketika seseorang tidak tahu.
Bahaya terbesar muncul ketika seseorang tidak tahu bahwa ia salah, merasa dirinya sudah benar, lalu terus mengulang kesalahan tersebut hingga kesalahan berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi otomatis, dan otomatisasi itu akhirnya ia yakini sebagai kompetensi.
Oleh karena itulah, dalam pendidikan hipnoterapi, tujuan kita seharusnya bukan sekadar membuat peserta banyak berlatih.
Tujuan kita adalah memastikan mereka:
berlatih hal yang benar, dengan cara yang benar, mendapatkan koreksi ketika melakukan kesalahan, lalu mengulang proses yang benar hingga yang benar menjadi kebiasaan.