The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
Dalam hipnoterapi berbasis hipnoanalisis, sangatlah penting untuk dapat mengungkap kejadian paling awal (ISE - Initial Sensitizing Event) dan kejadian-kejadian lanjutan (SSE - Subsequent Sensitizing Event) yang menjadi akar masalah—penyebab utama muncul, bertahan, dan berkembangnya simtom yang dialami klien. Saat ISE dan SSE berhasil diproses tuntas, simtom hilang dengan sendirinya.
Setiap hipnoterapis tentu berharap bahwa proses pengungkapan informasi dari Pikiran Bawah Sadar (PBS) dapat berjalan secara mudah dan lancar. Namun faktanya, dalam praktik klinis, sering dijumpai situasi di mana informasi yang seharusnya dapat diakses justru tertahan—sulit muncul, bahkan tidak terungkap sama sekali. Ketika diberikan pertanyaan eksploratif, klien berulang kali menjawab, “Tidak tahu.”
Ada banyak faktor yang mengakibatkan kondisi ini, antara lain:
- Klien tidak berada di kedalaman hipnosis yang menjadi syarat dilakukan hipnoanalisis secara efektif dan optimal,
- Klien, karena alasan tertentu, merasa tidak nyaman atau takut dengan terapis atau proses hipnoterapi yang ia jalani,
- PBS memilih untuk "mengubur" data tersebut demi menjaga keberlangsungan keseimbangan psikologis klien, terutama jika data itu berkaitan dengan pengalaman yang secara moral, sosial, atau emosional dianggap sangat tidak dapat diterima.
- PBS secara aktif menahan akses terhadap memori karena adanya emosi intens seperti rasa bersalah, malu, takut, atau trauma yang belum terselesaikan,
- Klien analitis atau overthinking, tidak mengizinkan dirinya untuk rileks sehingga PS (Pikiran Sadar) terus aktif dan menghambat proses pengungkapan informasi,
- Klien memiliki kepercayaan (belief) yang membatasi, seperti keyakinan bahwa masa lalu tidak relevan, atau bahwa mengungkap masa lalu justru berbahaya,
- Adanya trauma berat yang menciptakan disosiasi, sehingga memori kejadian terekam dan terputus dari akses normal,
- Protokol penggalian data tidak disesuaikan dengan struktur pengalaman subjektif klien, sehingga tidak membangun jembatan komunikasi yang efektif dengan PBS.
- Dan masih banyak lagi alasan PBS menolak mengungkap data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah klien.
Selain faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, bila ditilik dari pola gelombang otak, terdapat kondisi khusus yang juga bersifat menghambat proses pengungkapan data dari PBS: alpha blocking.
Saya pertama kali mendengar dan belajar tentang alpha blocking dari guru saya, alm. Anna Wise, tahun 2009 di Berkeley, Amerika, saat saya mendalami The Awakened Mind menggunakan mesin EEG khusus Mind Mirror.
Selanjutnya, saya menggunakan Mind Mirror untuk melakukan uji coba dan pengukuran gelombang otak pada banyak subjek di Indonesia, dan memvalidasi pola gelombang otak yang mengakibatkan alpha blocking.
Alpha blocking adalah kondisi neurofisiologis di mana amplitudo gelombang alfa (8–12 Hz) menurun drastis atau bahkan terhambat total. Gelombang alfa berperan sebagai jembatan antara pikiran sadar (beta) dan pikiran bawah sadar (theta–delta). Ketika gelombang alfa terhambat, proses transfer dan integrasi informasi dari level bawah sadar ke pikiran sadar menjadi terganggu.
Varian dari alpha blocking adalah pola gelombang otak yang dinamakan repressed content. Pada pola ini, gelombang theta sangat aktif–menandakan ada konten PBS yang sedang berusaha naik, tapi terhambat oleh jembatan alfa yang menyempit atau menutup.
Dalam konteks hipnoterapi, terutama yang menggunakan pendekatan hipnoanalisis, alpha blocking menjadi tantangan serius. Walaupun klien terlihat berada dalam kondisi hipnosis dalam, namun dalam kenyataannya akses terhadap memori atau data bawah sadar menjadi tertutup atau terblokir, sehingga proses penggalian informasi yang dibutuhkan untuk penyembuhan menjadi sangat terbatas.
Bila saya tidak belajar The Awakened Mind dan tidak memiliki mesin EEG Mind Mirror, saya tidak akan pernah tahu tentang alpha blocking. Dari sekian banyak buku yang saya pelajari, berbagai pelatihan yang telah saya ikuti di luar negeri, tidak pernah sekalipun ada yang membahas tentang alpha blocking, kecuali di kelas The Awakened Mind.
Biasanya, bila sampai terjadi klien menjawab "Tidak tahu" berulang kali, kami, hipnoterapis AWGI, akan melakukan beberapa teknik khusus untuk dapat menjangkau lebih dalam dan menarik keluar data dari PBS. Bila segala cara telah diupayakan dan klien tetap menjawab "Tidak tahu", sangat perlu dicurigai klien mengalami alpha blocking.
Alpha blocking sejatinya adalah manifestasi dari resistensi PBS. Terdapat dua strategi yang bisa dilakukan untuk membuka alpha blocking, yaitu melalui edukasi PBS untuk mengatasi resistensi, dan melalui jalur fisik.
Proses edukasi PBS untuk menurunkan resistensi sehingga data bisa diungkap membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ini tentunya akan sangat menyita waktu yang telah dialokasikan untuk terapi. Untuk itu, saya lebih memilih menggunakan jalur fisik, yaitu dengan memanfaatkan keterhubungan antara tubuh fisik dan PBS, kami bisa membuka jalur alpha dengan cepat sehingga data bisa segera terungkap.
Walau alpha blocking sangat jarang ditemukan di ruang praktik, saya tetap mengajarkan teknik khusus untuk membuka blocking ini kepada para hipnoterapis AWGI. Ini sebagai antisipasi bila suatu saat mereka bertemu kondisi ini di ruang praktik, mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk membuka alpha blocking guna menarik keluar data yang dibutuhkan dari PBS.
Beberapa hipnoterapis AWGI melaporkan bahwa ada klien mereka yang mengalami alpha blocking. Setelah mereka menggunakan teknik untuk membuka blocking ini, data yang tadinya tidak bisa naik karena terhambat oleh rendahnya amplitudo alpha—sehingga klien selalu menjawab "tidak tahu"—tiba-tiba langsung bisa diketahui oleh klien. Selanjutnya proses pengungkapan data menjadi lancar, ISE dan SSE berhasil ditemukan dengan mudah.
Bila proses pengungkapan informasi dari PBS terhambat, ISE dan SSE tidak berhasil ditemukan, maka sesi hipnoterapi yang dilakukan bisa dikatakan mengalami hambatan serius dan belum tuntas secara terapeutik.
Dalam hipnoterapi berbasis hipnoanalisis, sangatlah penting untuk dapat mengungkap kejadian paling awal (ISE - Initial Sensitizing Event) dan kejadian-kejadian lanjutan (SSE - Subsequent Sensitizing Event) yang menjadi akar masalah—penyebab utama muncul, bertahan, dan berkembangnya simtom yang dialami klien. Saat ISE dan SSE berhasil diproses tuntas, simtom hilang dengan sendirinya.
Setiap hipnoterapis tentu berharap bahwa proses pengungkapan informasi dari Pikiran Bawah Sadar (PBS) dapat berjalan secara mudah dan lancar. Namun faktanya, dalam praktik klinis, sering dijumpai situasi di mana informasi yang seharusnya dapat diakses justru tertahan—sulit muncul, bahkan tidak terungkap sama sekali. Ketika diberikan pertanyaan eksploratif, klien berulang kali menjawab, “Tidak tahu.”
Ada banyak faktor yang mengakibatkan kondisi ini, antara lain:
- Klien tidak berada di kedalaman hipnosis yang menjadi syarat dilakukan hipnoanalisis secara efektif dan optimal,
- Klien, karena alasan tertentu, merasa tidak nyaman atau takut dengan terapis atau proses hipnoterapi yang ia jalani,
- PBS memilih untuk "mengubur" data tersebut demi menjaga keberlangsungan keseimbangan psikologis klien, terutama jika data itu berkaitan dengan pengalaman yang secara moral, sosial, atau emosional dianggap sangat tidak dapat diterima.
- PBS secara aktif menahan akses terhadap memori karena adanya emosi intens seperti rasa bersalah, malu, takut, atau trauma yang belum terselesaikan,
- Klien analitis atau overthinking, tidak mengizinkan dirinya untuk rileks sehingga PS (Pikiran Sadar) terus aktif dan menghambat proses pengungkapan informasi,
- Klien memiliki kepercayaan (belief) yang membatasi, seperti keyakinan bahwa masa lalu tidak relevan, atau bahwa mengungkap masa lalu justru berbahaya,
- Adanya trauma berat yang menciptakan disosiasi, sehingga memori kejadian terekam dan terputus dari akses normal,
- Protokol penggalian data tidak disesuaikan dengan struktur pengalaman subjektif klien, sehingga tidak membangun jembatan komunikasi yang efektif dengan PBS.
- Dan masih banyak lagi alasan PBS menolak mengungkap data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah klien.
Selain faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, bila ditilik dari pola gelombang otak, terdapat kondisi khusus yang juga bersifat menghambat proses pengungkapan data dari PBS: alpha blocking.
Saya pertama kali mendengar dan belajar tentang alpha blocking dari guru saya, alm. Anna Wise, tahun 2009 di Berkeley, Amerika, saat saya mendalami The Awakened Mind menggunakan mesin EEG khusus Mind Mirror.
Selanjutnya, saya menggunakan Mind Mirror untuk melakukan uji coba dan pengukuran gelombang otak pada banyak subjek di Indonesia, dan memvalidasi pola gelombang otak yang mengakibatkan alpha blocking.
Alpha blocking adalah kondisi neurofisiologis di mana amplitudo gelombang alfa (8–12 Hz) menurun drastis atau bahkan terhambat total. Gelombang alfa berperan sebagai jembatan antara pikiran sadar (beta) dan pikiran bawah sadar (theta–delta). Ketika gelombang alfa terhambat, proses transfer dan integrasi informasi dari level bawah sadar ke pikiran sadar menjadi terganggu.
Varian dari alpha blocking adalah pola gelombang otak yang dinamakan repressed content. Pada pola ini, gelombang theta sangat aktif–menandakan ada konten PBS yang sedang berusaha naik, tapi terhambat oleh jembatan alfa yang menyempit atau menutup.
Dalam konteks hipnoterapi, terutama yang menggunakan pendekatan hipnoanalisis, alpha blocking menjadi tantangan serius. Walaupun klien terlihat berada dalam kondisi hipnosis dalam, namun dalam kenyataannya akses terhadap memori atau data bawah sadar menjadi tertutup atau terblokir, sehingga proses penggalian informasi yang dibutuhkan untuk penyembuhan menjadi sangat terbatas.
Bila saya tidak belajar The Awakened Mind dan tidak memiliki mesin EEG Mind Mirror, saya tidak akan pernah tahu tentang alpha blocking. Dari sekian banyak buku yang saya pelajari, berbagai pelatihan yang telah saya ikuti di luar negeri, tidak pernah sekalipun ada yang membahas tentang alpha blocking, kecuali di kelas The Awakened Mind.
Biasanya, bila sampai terjadi klien menjawab "Tidak tahu" berulang kali, kami, hipnoterapis AWGI, akan melakukan beberapa teknik khusus untuk dapat menjangkau lebih dalam dan menarik keluar data dari PBS. Bila segala cara telah diupayakan dan klien tetap menjawab "Tidak tahu", sangat perlu dicurigai klien mengalami alpha blocking.
Alpha blocking sejatinya adalah manifestasi dari resistensi PBS. Terdapat dua strategi yang bisa dilakukan untuk membuka alpha blocking, yaitu melalui edukasi PBS untuk mengatasi resistensi, dan melalui jalur fisik.
Proses edukasi PBS untuk menurunkan resistensi sehingga data bisa diungkap membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Ini tentunya akan sangat menyita waktu yang telah dialokasikan untuk terapi. Untuk itu, saya lebih memilih menggunakan jalur fisik, yaitu dengan memanfaatkan keterhubungan antara tubuh fisik dan PBS, kami bisa membuka jalur alpha dengan cepat sehingga data bisa segera terungkap.
Walau alpha blocking sangat jarang ditemukan di ruang praktik, saya tetap mengajarkan teknik khusus untuk membuka blocking ini kepada para hipnoterapis AWGI. Ini sebagai antisipasi bila suatu saat mereka bertemu kondisi ini di ruang praktik, mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk membuka alpha blocking guna menarik keluar data yang dibutuhkan dari PBS.
Beberapa hipnoterapis AWGI melaporkan bahwa ada klien mereka yang mengalami alpha blocking. Setelah mereka menggunakan teknik untuk membuka blocking ini, data yang tadinya tidak bisa naik karena terhambat oleh rendahnya amplitudo alpha—sehingga klien selalu menjawab "tidak tahu"—tiba-tiba langsung bisa diketahui oleh klien. Selanjutnya proses pengungkapan data menjadi lancar, ISE dan SSE berhasil ditemukan dengan mudah.
Bila proses pengungkapan informasi dari PBS terhambat, ISE dan SSE tidak berhasil ditemukan, maka sesi hipnoterapi yang dilakukan bisa dikatakan mengalami hambatan serius dan belum tuntas secara terapeutik.
Fungsi utama Pikiran Bawah Sadar (PBS), menurut konsep Protective Unconscious, adalah melindungi individu dari hal-hal yang diyakini atau dipersepsikan sebagai ancaman terhadap keselamatan atau kesejahteraan, baik secara fisik, mental, maupun emosi.
Salah satu ancaman serius, menurut PBS, adalah upaya sadar yang kita lakukan untuk mengubah program default. Program default adalah berbagai kepercayaan (belief) yang kita adopsi melalui interaksi dengan pengasuh utama (orang tua), dan lingkungan selama proses tumbuh kembang, terutama sejak lahir hingga tiga belas tahun pertama.
Program default ini bekerja seperti perangkat lunak yang beroperasi di kedalaman PBS dan tanpa disadari mengendalikan kehidupan kita. PBS menggunakan program ini untuk menentukan dan mengarahkan pandangan, pikiran, perasaan, ucapan, tindakan, serta perilaku individu dalam berinteraksi dengan dunia dan memaknai setiap pengalaman hidup.
Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh kualitas program default-nya. Program default yang positif menghasilkan kehidupan yang baik. Sebaliknya, program default yang negatif menciptakan kehidupan yang penuh keterbatasan.
Namun, upaya mengubah program default bukan perkara mudah. Program default hanya bisa diubah saat kita menyadari keberadaannya. Kesadaran ini saja tidak cukup untuk menggantinya, karena PBS secara alami akan menolak perubahan. Upaya mengubah program default menjadi sulit karena dua alasan berikut:
1. PBS Menghindari Rasa Sakit (Pain) dan Mengejar Rasa Senang (Pleasure)
PBS beroperasi dengan prinsip dasar menghindari rasa sakit (pain) dan mencari kesenangan (pleasure). Namun, definisi pain dan pleasure bagi PBS berbeda dengan yang dipahami oleh pikiran sadar (PS).
Menurut PBS, pain (rasa sakit) adalah segala sesuatu yang tidak dikenal (unknown). Sebaliknya, pleasure (rasa senang) adalah segala sesuatu yang sudah dikenal (known). Dengan prinsip ini, PBS tidak peduli apakah sesuatu itu baik atau buruk bagi individu.
Jika seseorang terbiasa menderita dan situasi ini sudah lama dikenal oleh PBS, maka penderitaan tersebut oleh PBS diterima sebagai pleasure. Sebaliknya, jika ada sesuatu yang baik tetapi belum dikenal oleh PBS, hal itu akan diterima sebagai pain dan harus dihindari.
Karena itu, meskipun individu secara sadar ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik, jika kondisi baru tersebut belum dikenal oleh PBS, maka perubahan ini akan dimaknai sebagai ancaman (pain), sehingga PBS pasti menolaknya.
2. PBS Dirancang untuk Menjaga dan Mempertahankan Status Quo
PBS memiliki fungsi utama sebagai mekanisme proteksi, dan salah satu cara untuk melindungi individu adalah dengan menjaga segala sesuatu tetap seperti adanya (status quo).
PBS akan melakukan apa pun untuk memastikan program default tidak berubah, sehingga individu tetap berada dalam pola lama. Jika seseorang berusaha mengubah kebiasaan atau belief lama, PBS akan menciptakan resistensi dan perlawanan.
Strategi dan Kreativitas PBS Dalam Mempertahankan Status Quo
Dalam perjalanan saya mendalami dunia pikiran, khususnya hipnoterapi, sejak tahun 2005 hingga saat ini, saya aktif berpraktik dan membantu klien yang datang dengan berbagai kondisi. Mereka semua ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Hal yang sama juga saya temukan pada para peserta pelatihan transformasi diri Quantum Life Transformation® (QLT).
Dalam proses membantu klien dan peserta, saya sering kali menghadapi resistensi atau perlawanan dari Pikiran Bawah Sadar (PBS) dalam berbagai bentuk dan strategi. Melalui pengamatan yang saya lakukan secara berkelanjutan dalam waktu yang cukup lama, saya menemukan bahwa PBS menggunakan pola-pola yang konsisten untuk mempertahankan program default.
Berikut ini adalah ekstraksi dari temuan saya di ruang praktik dan hasil interaksi dengan para peserta QLT. Dengan memahami strategi yang digunakan oleh PBS, kita dapat lebih mudah mengatasi resistensi dalam upaya mencapai perubahan positif, terutama dalam mengganti program default yang tidak mendukung keberhasilan hidup dengan program yang lebih konstruktif, produktif, dan mendukung kesejahteraan.
Berikut ini adalah strategi PBS dalam mempertahankan status quo:
1. Menjaga Fokus dan Konsistensi
PBS dirancang untuk memastikan individu tetap berada dalam pola pikir, kebiasaan, dan keyakinan yang sudah tertanam sejak lama. Salah satu caranya adalah dengan menjaga fokus dan konsistensi terhadap program default.
Strategi yang PBS lakukan adalah dengan terus menghadirkan pandangan, pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan yang selaras dengan program yang telah tertanam.
Jika seseorang telah lama memiliki keyakinan bahwa dirinya "tidak berbakat dalam bisnis", PBS akan menjaga konsistensi dengan menghadirkan pemikiran seperti:
"Ini terlalu sulit untuk saya."
"Saya tidak punya pengalaman yang cukup."
"Saya lebih cocok bekerja daripada berbisnis."
Akibatnya, setiap kali individu mencoba melakukan sesuatu di luar kebiasaannya, PBS akan menarik kembali fokusnya ke zona nyaman dan membuatnya merasa harus tetap dalam pola lama yang telah dikenal.
Contohnya, seseorang yang terbiasa bangun siang ingin mulai bangun lebih pagi. PBS akan menciptakan rasa malas, dorongan untuk menekan tombol snooze, atau pikiran seperti "Tidur lebih lama lebih baik untuk kesehatanku."
Semua ini bertujuan untuk menjaga konsistensi dengan kebiasaan lama.
2. Memberi Hukuman
PBS menggunakan mekanisme "hukuman" untuk mencegah seseorang keluar dari pola lama yang sudah tertanam. Hukuman ini sering kali muncul dalam bentuk emosi negatif, rasa tidak nyaman, atau gejala fisik saat seseorang mencoba melakukan perubahan.
Strategi yang PBS lakukan adalah saat individu mencoba keluar dari program default, PBS akan menciptakan rasa takut, cemas, merasa tidak aman, atau stres yang membuat individu berpikir bahwa perubahan tersebut berbahaya.
Hukuman ini bisa berbentuk:
- Rasa takut gagal.
- Kecemasan berlebihan.
- Pikiran negatif yang terus muncul.
- Munculnya rasa bersalah atau malu.
- Ada suara dalam hati yang menegur dan berkata negatif.
Akibatnya, individu sering kali merasa bahwa perubahan itu lebih menyakitkan daripada tetap berada dalam kondisi lama.
PBS ingin memastikan individu tetap aman dalam status quo, bahkan jika status quo tersebut sebenarnya tidak sehat atau menghambat perkembangan.
Contohnya, bila seseorang yang ingin berbicara di depan umum tetapi memiliki trauma sosial sejak kecil, ia akan merasa takut, detak jantung meningkat, berkeringat, atau merasa sesak napas.
Ini adalah "hukuman" yang diberikan PBS agar individu tidak melanjutkan perubahan.
3. Penguatan Positif
Selain menggunakan hukuman untuk mempertahankan status quo, PBS juga menggunakan strategi penguatan positif dengan memberi reward setiap kali individu tetap berada dalam kebiasaan lama. Ini memperkuat program default sehingga semakin sulit untuk diubah.
Strategi yang PBS lakukan adalah setiap kali individu tetap dalam pola lama, PBS akan menciptakan rasa aman, nyaman, lega, senang, atau kepuasan sesaat untuk meyakinkan individu bahwa mereka telah membuat keputusan yang benar.
Contoh bentuk penguatan positif yang dilakukan PBS:
- Merasa nyaman saat menunda pekerjaan (karena tidak harus menghadapi stres).
- Merasa aman dalam hubungan yang tidak sehat (karena takut sendirian lebih menyakitkan).
- Merasa lega setelah menuruti kebiasaan buruk seperti makan berlebihan atau merokok.
Akibatnya, individu menjadi lebih terikat pada kebiasaan lama karena PBS terus memberikan "hadiah" berupa rasa nyaman dan lega setiap kali mereka tetap berada dalam pola lama.
Contohnya, seorang perokok yang ingin berhenti merokok akan mengalami stres atau kecemasan saat tidak merokok.
PBS kemudian memberi "penguatan positif" dengan memberikan rasa tenang saat individu kembali merokok, seolah-olah itu adalah solusi yang tepat.
4. Membatasi Ketersediaan Pilihan
PBS mempertahankan status quo dengan menciptakan ilusi keterbatasan pilihan, membuat individu merasa bahwa mereka tidak memiliki banyak opsi untuk berubah.
Strategi yang PBS lakukan adalah dengan membentuk pola pikir yang membuat individu tidak bisa melihat peluang baru, atau merasa bahwa opsi yang ada sangat terbatas.
Ini dilakukan melalui:
- Keyakinan bahwa "Tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan."
- Keyakinan bahwa "Ini sudah nasib saya."
- Pikiran seperti "Saya tidak punya bakat," atau "Saya tidak punya kesempatan seperti orang lain."
- Fokus hanya pada kesulitan, bukan pada kemungkinan.
Akibatnya, individu merasa terjebak dalam kondisi yang ada dan akhirnya tidak mencoba mencari jalan keluar. Mereka percaya bahwa perubahan tidak mungkin terjadi atau terlalu sulit untuk dicapai.
Contohnya, seorang karyawan yang merasa tidak bahagia dalam pekerjaannya tetapi tetap bertahan karena berpikir, "Saya tidak punya keterampilan lain, jadi saya tidak bisa mencari pekerjaan baru."
PBS menciptakan keyakinan ini agar individu tetap berada dalam pola lama yang telah dikenalnya. Padahal bila dipikir secara logis, karyawan ini sebenarnya dapat memilih untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru. Namun ini tidak dilakukan karena ia tidak dapat melihat opsi ini.
5. Menciptakan Ilusi Rasa Aman
PBS cenderung menahan seseorang dalam zona nyaman, karena menganggap apa yang sudah dikenal sebagai yang paling aman. Perubahan dianggap sebagai ancaman, bahkan jika perubahan itu sebenarnya mengarah pada sesuatu yang lebih baik.
Ini dilakukan dengan cara setiap kali individu mencoba sesuatu yang baru, PBS akan menciptakan ketakutan terhadap ketidakpastian, rasa tidak aman, membuat individu ragu-ragu untuk melangkah keluar dari kebiasaan lama.
Akibatnya, individu menolak perubahan dan lebih memilih bertahan dalam kondisi yang tidak ideal hanya karena sudah terbiasa.
Contohnya, seorang wanita yang memiliki pasangan toksik dan abusive tidak berani memutuskan hubungan dan menjalin relasi dengan pria lain karena berpikir, "Bagaimana bila ternyata pasangan baru saya tidak lebih baik dari yang sekarang, tapi lebih buruk?
Ia berpikir adalah jauh lebih aman bertahan dalam relasi toksik dan abusive dengan pasangannya saat ini, daripada mendapat pasangan baru yang ternyata jauh lebih buruk.
6. Menghasilkan Resistensi dan Sabotasi Diri
PBS menciptakan resistensi terhadap perubahan dengan membangkitkan keraguan diri, kecemasan, atau bahkan sabotase diri agar individu kembali ke pola lama.
Ini dilakukan dengan cara setiap kali seseorang ingin membuat perubahan besar, PBS akan membuat individu menunda-nunda, mencari alasan, atau menciptakan konflik internal.
Akibatnya, individu merasa seperti "terjebak" dalam pola lama dan tidak mampu bergerak maju.
Contohnya, seseorang ingin mulai berolahraga secara rutin, tetapi setiap kali waktunya tiba untuk berolahraga, muncul pikiran seperti:
"Saya terlalu lelah hari ini."
"Besok saja mulai."
"Saya tidak punya peralatan yang tepat."
"Sedang hujan, besok saja saat hari cerah."
Akhirnya, ia tidak pernah benar-benar memulai rutinitas olahraga tersebut.
7. Memanfaatkan Identitas Diri
PBS mengaitkan program lama dengan identitas seseorang, sehingga perubahan dianggap sebagai ancaman terhadap jati diri.
Cara yang PBS lakukan adalah dengan terus mengarahkan perilaku dan pikiran agar selaras dengan keyakinan lama yang sudah tertanam. Akibatnya, individu sulit berkembang karena merasa perubahan berarti kehilangan identitasnya.
Contohnya, ada seseorang yang sejak kecil selalu dianggap pemalu oleh keluarga dan lingkungan. Ketika ia ingin lebih percaya diri dalam berbicara di depan umum, muncul pemikiran seperti:
"Saya bukan tipe orang yang bisa berbicara di depan banyak orang."
"Saya memang terlahir sebagai introvert, tidak mungkin bisa berubah."
Pemikiran ini membuat ia tetap menghindari situasi yang membutuhkan keberanian berbicara.
8. Mengaktifkan Mekanisme Pertahanan Emosi
PBS menggunakan mekanisme pertahanan psikologis seperti rasionalisasi, proyeksi, atau penyangkalan untuk menolak perubahan.
Untuk mencapai tujuan ini, PBS akan menciptakan alasan-alasan logis untuk membenarkan mengapa perubahan tidak perlu dilakukan. Akibatnya, individu merasa bahwa tidak perlu berusaha karena merasa nyaman dengan kondisi yang ada.
Contohnya, seorang pekerja kantoran yang ingin memulai bisnis sampingan, tetapi ia terus berkata:
"Saya tidak punya modal."
"Saya tidak berbakat dalam bisnis."
"Lebih baik tetap di pekerjaan yang stabil."
Semua ini adalah bentuk rasionalisasi yang dibuat oleh PBS untuk mempertahankan status quo.
9. Mengulang Pola Lama Melalui Asosiasi Emosi
PBS menyimpan asosiasi emosi dari pengalaman masa lalu dan menggunakannya untuk mengarahkan perilaku di masa sekarang.
Setiap kali individu mencoba sesuatu yang mirip dengan pengalaman buruk di masa lalu, PBS akan memunculkan kembali perasaan negatif tersebut. Hal ini mengakibatkan individu menghindari situasi baru karena takut mengalami hal buruk yang sama.
Contohnya, seorang wanita yang pernah mengalami hubungan yang toksik kini sulit membuka diri untuk hubungan baru. Setiap kali ada seseorang yang mendekatinya, ia berpikir:
"Nanti aku akan disakiti lagi."
"Semua laki-laki sama saja."
"Lebih baik sendiri daripada terluka."
PBS menggunakan pengalaman masa lalu untuk melindungi individu, tetapi pada saat yang sama juga menghambat pertumbuhan emosionalnya.
10. Memprogram Persepsi Terhadap Waktu
PBS sering kali mengacaukan persepsi terhadap waktu, membuat seseorang merasa masih ada banyak waktu atau sebaliknya, sudah terlambat untuk berubah.
PBS melakukan ini, membuat individu terjebak dalam stagnasi, dengan cara memberi kesan bahwa masih ada waktu yang cukup, atau bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Ini mengakibatkan individu terus menunda atau menyerah sebelum mencoba.
Contohnya, setiap kali individu hendak melakukan sesuatu yang baru, ia akan pikir:
"Saya masih muda, nanti saja mulai menabung."
"Saya sudah terlalu tua untuk belajar hal baru."
"Mungkin tahun depan saya akan mulai bisnis."
Akhirnya, waktu terus berlalu tanpa ada perubahan nyata.
11. Mengunci Pola Melalui Medan Morfik
PBS mempertahankan resonansi dengan medan morfik lama, memastikan individu tetap berada di lingkungan dan kebiasaan yang selaras dengan program default.
Cara PBS melakukan strategi ini adalah dengan menarik individu ke lingkungan, orang-orang, dan situasi yang mendukung pola lama.
Akibatnya, individu sulit keluar dari pola lama karena lingkungan terus memperkuat kebiasaannya.
Contohnya, seseorang yang ingin berhenti merokok tetapi tetap berada di lingkungan perokok berat akan terus merasa sulit untuk berubah. Medan morfiknya masih selaras dengan pola lama, sehingga meskipun ada niat berubah, resonansi dengan lingkungan membuatnya kembali ke kebiasaan semula.
12. Memicu Keterikatan Emosional Terhadap Masa Lalu
PBS mempertahankan status quo dengan menciptakan keterikatan emosional terhadap masa lalu, membuat individu terjebak dalam nostalgia atau trauma untuk menghambat perubahan.
Akibatnya, individu merasa lebih nyaman hidup di masa lalu daripada bergerak maju.
Contoh:
"Dulu saya lebih bahagia, sekarang semuanya berbeda."
"Saya tidak bisa move on dari masa-masa indah dulu."
"Saya takut melupakan kenangan lama."
Akhirnya, individu tidak berani membuat perubahan karena masih menggenggam masa lalu.
13. Membatasi Imajinasi Terhadap Masa Depan
PBS membatasi kemampuan seseorang untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik.
PBS menjalankan strategi ini dengan menanamkan keyakinan bahwa perubahan tidak mungkin terjadi, sehingga individu tidak mampu membayangkan versi dirinya yang lebih baik. Akibatnya, individu merasa tidak ada harapan untuk berubah.
Contoh:
"Saya tidak bisa sukses, saya bukan orang yang beruntung."
"Saya tidak bisa membayangkan hidup yang lebih baik dari ini."
"Perubahan itu hanya untuk orang lain, bukan untuk saya."
Tanpa imajinasi yang kuat, seseorang tidak memiliki motivasi untuk berkembang.
14. Membangkitkan Ketakutan akan Kehilangan
Setiap perubahan membawa konsekuensi, dan PBS sering kali lebih menekankan apa yang mungkin hilang jika seseorang berubah, bukan apa yang bisa didapatkan.
PBS menjalankan strategi ini dengan menciptakan rasa takut akan kehilangan, sehingga individu ragu untuk mengambil langkah perubahan. Akibatnya, individu tetap bertahan dalam kondisi lama meskipun tidak lagi nyaman.
Contoh:
"Kalau saya berhenti kerja, saya mungkin kehilangan keamanan finansial."
"Jika saya berubah, mungkin teman-teman saya menjauh."
Akhirnya, individu lebih memilih untuk tetap berada dalam kondisi yang ada daripada mengambil risiko.
Kesimpulan
PBS memiliki banyak strategi untuk mempertahankan status quo. Namun, dengan memahami bagaimana PBS bekerja, kita bisa lebih mudah mengatasi resistensi dan melakukan perubahan secara efektif.
Dengan kesadaran dan teknik yang tepat, kita bisa melepaskan batasan bawah sadar dan membangun kehidupan yang lebih baik. Kita tidak harus terjebak dalam program lama. Kita bisa menulis ulang kehidupan kita. Dan kita bisa memilih untuk berubah.