The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
Perilaku manusia dikendalikan oleh program pikiran yang tersimpan di pikiran bawah sadar (PBS). Program-program ini sering tidak disadari namun dapat dilacak keberadaan dan pengaruhnya melalui pola pikir, berucap, dan bertindak yang menjadi kebiasaan seseorang.
Bila akhirnya disadari ada program tidak mendukung diri mencapai tujuan tertentu maka program ini perlu segera diganti dengan program baru yang mendukung keberhasilan. Salah satu cara yang sangat sering digunakan untuk memrogram ulang PBS adalah dengan menggunakan afirmasi.
Namun sering dijumpai banyak orang telah melakukan afirmasi, gagal mengalami perubahan seperti yang diinginkan. Berikut ini saya akan jelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses pemrograman PBS dengan afirmasi bisa berjalan dengan baik, mudah, dan efektif.
Memahami Cara Kerja Pikiran
Untuk bisa memahami proses masuknya afirmasi ke PBS, saya akan jelaskan terlebih dahulu cara kerja pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS).
Manusia punya dua pikiran, PS dan PBS. Masing-masing dengan fungsi dan perannya. Kita melakukan perencanaan, penilaian, menimbang, membuat keputusan dengan PS berdasar informasi, data, pengetahuan, dan pengalaman yang tersimpan di PBS.
PBS memiliki banyak peran dan fungsi, antara lain, tempat memori, karakter, kepercayaan, nilai hidup, kebiasaan, dan berbagai program yang menjalankan dan mengendalikan hidup kita. Semua data di PBS diproteksi dengan sangat ketat, agar tidak mudah diubah, melalui mekanisme perlindungan data yang dijalankan oleh Faktor Kritis (Critical Factor) PS dan empat filter mental PBS.
Perlindungan data di PBS, agar tidak mudah diubah, sangat terkait erat dengan fungsi utama PBS yaitu melindungi individu dari hal-hal yang ia (PBS) pandang, rasa, yakini, perkirakan, atau asumsikan berbahaya atau merugikan diri individu. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi pada hidup kita bila data-data yang ada di PBS dapat diubah dengan begitu mudahnya, hidup kita pasti akan kacau.
Setiap informasi yang akan masuk ke PBS selalu melewati proses pemeriksaan yang dilakukan Faktor Kritis. Faktor Kritis melakukan pengecekan keselarasan data baru dengan data lama yang ada di PBS. Bila data baru sejalan, mendukung, selaras, tidak bertentangan dengan data lama maka data baru ini diijinkan dan leluasa masuk ke PBS. Bila data baru ini ternyata tidak sejalan dengan data lama, ia pasti ditolak.
Ada dua cara melakukan afirmasi: dalam kondisi sadar dan hipnosis. Afirmasi dalam kondisi sadar dilakukan dengan membaca kalimat tertentu berulang kali. Contohnya begini. Data lama di PBS kita menyatakan bahwa 2+2 = 4. Ini kita terima sebagai kebenaran. Dan bila kita mau mengubah data ini menjadi 2+2 = 5, maka dalam dalam kondisi sadar normal kita berulang kali mengucapkan kepada diri sendiri: 2+2 = 5.
Bila afirmasi dilakukan dalam kondisi sadar normal, sebelum data ini masuk ke PBS, ia pasti diperiksa oleh Faktor Kritis. Faktor Kritis membandingkan data ini dengan data yang telah ada di PBS. Dan karena data baru ini tidak selaras dengan data di PBS, ia ditolak dan tidak diijinkan masuk ke PBS.
Bentuk dan derajat penolakan data baru oleh PBS berupa perasaan tidak nyaman yang dirasakan individu, baik itu secara fisik, emosi, bisa berupa suara internal, atau bisa ketiganya. Semakin tinggi intensitas rasa tidak nyaman atau suara yang muncul menandakan semakin kuat penolakan dari PBS.
Cara lain memasukkan data baru ke PBS adalah dengan menggunakan bantuan kondisi hipnosis atau relaksasi pikiran. Kondisi pikiran rileks membuat kewaspadaan Faktor Kritis PS menurun. Dengan demikian, fungsi pemeriksaan yang biasa ia lakukan juga sangat menurun. Tingkat penurunan kewaspadaan Faktor Kritis PS sejalan dengan tingkat kedalaman hipnosis yang dicapai seseorang. Pada kedalaman ekstrim, PS dan Faktor Kritis tidak bekerja.
Memasukkan data dengan kondisi hipnosis bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, dilakukan sendiri, dengan teknik swaterapi (self-hypnosis). Kedua, dengan hetero-hipnosis yaitu meminta bantuan seseorang menghipnosis kita dan setelahnya membacakan kalimat afirmasi. Ketiga, dengan autohipnosis, yaitu saat malam hari hendak tidur, saat sangat mengantuk, kita masuk kondisi hipnosis (hypnagogic). Dalam kondisi ini kita bisa membaca kalimat afirmasi berulang kali atau merekam kalimat afirmasi dan kemudian mendengar rekaman ini.
Satu cara lain melakukan swahipnosis adalah dengan menggunakan bantuan musik binaural. Cara kerja musik ini adalah dengan memainkan musik dengan frekuensi berbeda di telinga kiri dan kanan dengan selisih frekuensi sesuai dengan target gelombang otak dominan yang hendak dicapai: alfa (8-12 Hz), theta (4-8 Hz), atau delta (0,1-4 Hz). Setelah tercapai kondisi yang diinginkan, barulah rekaman afirmasi dimainkan. Cara lain memasukkan data ke PBS menggunakan teknologi audio subliminal message. Masih ada satu cara lagi cara memasukkan data baru ke PBS, tapi tidak relevan saya bahas di sini, yaitu menggunakan otoritas.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kondisi hipnosis adalah jalan pintas dan mudah untuk memasukkan data baru ke PBS. Namun yang perlu diperhatikan adalah kedalaman hipnosis yang dicapai seseorang, idealnya minimal hipnosis dalam (profound somnambulism).
Saat data atau informasi berhasil masuk atau dimasukkan ke PBS, tidak berarti ia bisa langsung leluasa aktif bekerja. Data ini harus melewati empat filter mental PBS: filter keselamatan hidup, moral/agama, benar/salah, masuk akal/tidak masuk akal. Bila lolos, barulah ia bisa aktif dan bekerja. Bila tidak lolos, data ini akan dianulir oleh PBS. Ini tampak pada para subjek yang dihipnosis oleh hipnotis dan disugesti, diberi kalimat afirmasi, lupa nama mereka. Walau hipnotis tidak memberi sugesti agar mereka ingat kembali nama mereka, PBS subjek pasti menganulir sugesti “Lupa nama” karena ini akan berbahaya, merugikan, dan bertentangan dengan filter mental PBS.
Keefektifan suatu program di PBS bergantung pada tiga hal. Pertama, kalimat afirmasi yang digunakan harus sejalan dengan prinsip dan cara kerja PBS. Bila kalimat afirmasi tidak ditulis atau disusun dengan benar maka kalimat ini bisa masuk ke PBS tapi tidak efektif. Kedua, kekuatan program ini. Semakin besar kekuatannya, semakin kuat ia. Dan ketiga, ada atau tidak penolakan oleh program lain yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila ada penolakan dari program lain, dan program ini ternyata lebih kuat, maka program baru ini pasti akan terhambat kerjanya. Cara paling efektif untuk mengatasi hal ini adalah dengan menetralisir program lama yang menghambat kerja program baru.
Contohnya begini. Ada orang sulit menghasilkan uang dan mau berubah. Ia menggunakan kalimat afirmasi "Saya mudah mendapatkan uang". Bila ia berusaha memasukkan kalimat afirmasi ini ke PBS, dalam kondisi sadar normal, dengan membaca kalimat ini berulang kali, maka pasti akan mendapat penolakan dari PBS-nya, berupa perasaan tidak nyaman. Semakin ia paksakan, semakin tidak nyaman. Ini terjadi karena data baru ini ditolak oleh Faktor Kritis PS.
Misalkan ia memasukkan kalimat afirmasi ini dengan bantuan kondisi hipnosis, kita asumsikan Faktor Kritis PS tidak bekerja, maka kalimat afirmasi ini bisa leluasa masuk ke PBS. Di PBS, kalimat afirmasi ini harus melewati empat filter mental, dan bila lolos, masih harus berhadapan dengan program lama "Saya sulit cari uang".
Syarat Menulis Kalimat Afirmasi
Afirmasi berasal dari kata bahasa Inggris "affirmation" yang berasal dari kata kerja " to affirm" yang bermakna menegaskan, meneguhkan, mengukuhkan, menguatkan.
Dengan demikian afirmasi adalah kalimat yang terdiri atas rangkaian kata spesifik dengan tujuan menegaskan, menguatkan, meneguhkan sesuatu (tujuan). Kalimat afirmasi ini dibaca berulang agar masuk ke pikiran bawah sadar dan menjadi program yang membantu memudahkan, mempercepat proses manifestasi atau pencapaian tujuan.
Kalimat afirmasi sebenarnya sama dengan kalimat sugesti. Kalimat afirmasi (sugesti) yang efektif perlu disusun mengikuti dan memenuhi syarat, antara lain: singkat dan jelas, menggunakan kata-kata positif, jelas - tidak boleh ambigu atau multi-tafsir, menggunakan kerangka waktu sekarang, bila ditujukan untuk digunakan pada diri sendiri maka ia menggunakan bentuk orang pertama, personal dan bermakna, dan beberapa syarat lain.
Kalimat afirmasi adalah pernyataan tujuan atau goal. Dengan demikian, kalimat afirmasi adalah perintah kepada PBS untuk bertindak atau melakukan sesuatu sesuai dengan pernyataan dalam kalimat afirmasi.
PBS Tidak Secerdas yang Anda Pikirkan
PBS memang cerdas, namun ia tidak secerdas yang diperkirakan banyak orang. Di beberapa literatur dinyatakan bahwa PBS sangat cerdas. Dalam beberapa hal, ini benar. Namun PBS tidak cerdas dalam arti ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah sendiri. Ia bekerja berdasar prinsip stimulus respons, berdasar perintah, bukan atas inisiatif atau pemikirannya sendiri. Kemampuan berpikir PBS setara dengan anak berusia 8 tahun. Bila PBS begitu cerdas, ia pasti bisa menyelesaikan semua masalah kita. Namun kenyataannya, tidak. PBS butuh tuntunan untuk bisa menyelesaikan masalah. PBS cerdas karena ia sangat menyadari pentingnya resolusi trauma, tapi ia bukan penyelesai masalah. Ia butuh bantuan PS atau diarahkan oleh hipnoterapis untuk menyelesaikan masalah.
Yakin Afirmasi Telah Diterima PBS?
Saat melakukan afirmasi, baik dalam kondisi sadar normal atau dalam kondisi hipnosis, kita tentu berharap afirmasi ini masuk dan diterima PBS. Namun hanya berharap tidak bisa memastikan afirmasi benar telah diterima PBS. Untuk itu perlu dilakukan pengecekan ke PBS. Sangat disayangkan, satu tahap penting ini sangat jarang, bisa dibilang tidak pernah, dilakukan oleh mereka yang melakukan afirmasi.
Umumnya orang melakukan afirmasi dan berharap, siapa tahu, afirmasi ini masuk dan diterima PBS menjadi program pikiran untuk mendukung sukses. Pernahkah anda berpikir, bagaimana bila setelah melakukan afirmasi, bisa dengan cara apa saja, ternyata afirmasi ini tidak diterima oleh PBS?
Tentu akan sangat menyenangkan bila kita bisa melakukan pengecekan masuk tidaknya afirmasi ke PBS sehingga kita bisa memutuskan untuk berhenti, tidak perlu menghabiskan banyak waktu, bila afirmasi sudah masuk diterima PBS, atau melakukan pengulangan afirmasi, bila ia belum diterima PBS. Ada cara sangat mudah untuk memastikan apakah benar suatu afirmasi telah masuk dan diterima PBS, sekaligus diketahui kekuatan afirmasi ini. Ini akan saya jelaskan di artikel lain.
Afirmasi Mencipta Potensi, Tidak Menggaransi Hasil
Afirmasi yang berhasil masuk dan diterima oleh PBS menjadi program pikiran. Afirmasi ini mencipta potensi, di level PBS, dan perlu ditindaklanjuti dengan tindakan. Tanpa tindakan, tidak mungkin akan ada hasil. Program pikiran yang mendukung goal atau tujuan menjadikan tindakan atau aksi menjadi mudah dilakukan, fokus, dan dengan cepat membangun momentum menuju sukses.
Untuk mencapai sukses, setelah memrogram diri dengan afirmasi positif dan mendukung, kita perlu memiliki keterdesakan untuk bertindak dan kesabaran dalam menunggu hasil.
Simpulan
Setelah membaca uraian di atas, saya yakin pembaca kini mengerti apa saja yang perlu diperhatikan untuk bisa melakukan afirmasi efektif dan mencapai tujuan dengan mudah:
Induksi hipnotik adalah proses menuntun subjek berpindah dari kondisi kesadaran normal ke kondisi hipnosis. Kondisi hipnosis sejatinya kondisi kesadaran dengan banyak derajat kedalaman, masing-masing dengan fenomena spesifik baik pada aspek fisik maupun mental, mulai kedalaman dangkal (hypnoidal), kedalaman menengah (medium trance), kedalaman dalam (profound somnambulism), dan kedalaman ekstrim (extreme depth of hypnosis).
Ada sangat banyak teknik induksi dalam dunia hipnosis/hipnoterapi. Salah satu yang sangat terkenal adalah Elman Induction yang disusun berdasarkan materi pelatihan yang diajarkan oleh tokoh hipnoterapi terkemuka, Dave Elman.
Dave Elman lahir 6 Mei 1900 dengan nama Dave Kopelman di Dakota Utara, besar di Fargo, dan meninggal tahun 1967. Dave mulai tertarik pada hipnosis di usia 8 tahun, saat seorang hipnotis berhasil menghilangkan rasa sakit yang diderita ayahnya akibat kanker, dan ini memungkinkan ayahnya bermain dengan Dave untuk terakhir kalinya.
Ketertarikannya pada hipnosis mendorong Dave, saat itu berusia 12 tahun, membaca dan memelajari buku Suggestive Therapeutics: A Treatise on the Nature and Uses of Hypnotism karya Hippolyte Bernheim, dokter Prancis yang terkenal dengan teorinya tentang sugestibilitas dan hubungannya dengan hipnosis (Kein, 1993).
Di tahun 1949, Elman mendemonstrasikan metode induksi cepat dan pengetahuan tentang kendali rasa sakit kepada para dokter. Setelahnya, ia diminta mengajarkan hipnosis kepada dokter dan dokter gigi. Elman tidak mempraktikkan ilmu kedokteran tetapi hanya mengajarkan teknik-teknik hipnosis.
Murid-murid Elman, para dokter dan dokter gigi, meneliti lebih lanjut aplikasi hipnosis dalam dunia medis dan melaporkan temuan mereka untuk dibahas dalam pelatihan berikutnya. Elman mengabdikan hidupnya mengajar hipnosis kepada dokter dan dokter gigi.
Elman, semasa hidupnya, sangat aktif mengajar hipnosis. Rekaman pelatihannya dikumpulkan menjadi The Master’s Voice – The Legendary Dave Elman Training Course.Elman hanya menulis satu buku Findings in Hypnosis, yang kemudian hari diterbitkan dengan judul Hypnotherapy, dan adalah buku klasik dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi. Dave Elman tidak pernah secara khusus mengajarkan Elman Induction. Induksi yang saat ini dikenal dengan Elman Induction sebenarnya adalah teknik induksi berulang (Elman, 1977:102), dan adalah salah satu induksi paling efektif, mudah dipelajari dan dipraktikkan.
Ada banyak varian teknik Elman Induction. Secara ringkas, struktur Elman Induction adalah sebagai berikut:
Berikut ini adalah skrip Elman Induction, diterjemahkan dari versi bahasa Inggris, yang penulis gunakan di awal karir sebagai hipnoterapis klinis tahun 2005:
Sekarang, tarik napas panjang dan tahan beberapa detik. Sambil anda mengembuskan napas, ijinkan mata anda menutup dan lepaskan semua ketegangan di tubuh anda. Ijinkan tubuh anda menjadi serileks mungkin sekarang.
Sekarang, pusatkan perhatian anda pada otot-otot mata anda dan rilekskan otot-otot di sekeliling mata anda hingga mereka tidak bisa bekerja. Bila anda yakin mereka telah sangat rileks dan selama anda mempertahankan rileksasi ini, maka mereka tidak bisa bekerja. Pertahankan rileksasi ini dan coba buka mata tapi pastikan mata Anda tidak bisa bekerja.
Sekarang, saya ingin, rileksasi yang anda rasakan di mata anda, juga dirasakan di seluruh tubuh anda. Jadi, biarkan kualitas rileksasi seperti ini mengalir ke seluruh tubuh anda mulai dari kepala hingga ke ujung jari-jari kaki anda.
Sekarang, anda dapat semakin memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan meminta anda buka mata dan menutup mata anda. Saat anda menutup mata, ini adalah sinyal bagi anda untuk mengijinkan perasaan rileks ini menjadi sepuluh kali lebih dalam. Semua yang perlu anda lakukan adalah menginginkannya terjadi dan anda dapat membuatnya terjadi dengan sangat mudah.
Baiklah, sekarang, buka mata anda…tutup mata anda dan rasakan perasaan rileks mengalir ke seluruh tubuh anda, membawa anda masuk lebih dalam lagi. Gunakan imajinasi anda yang luar biasa dan bayangkan seluruh tubuh anda diselimuti, dibungkus dalam selimut rileksasi yang hangat.
Sekarang, Anda dapat lebih memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan minta anda buka mata dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan rileksasi yang anda alami sekarang. Buat ia menjadi dua kali lebih dalam. Baiklah, sekarang sekali lagi, buka mata anda… tutup mata anda dan lipat duakan rileksasi anda… bagus. Biarkan semua otot di tubuh anda menjadi sangat rileks dan selama anda mempertahankan kualitas rileksasi seperti ini, setiap otot di tubuh anda tidak akan bekerja.
Sebentar lagi, saya akan minta anda buka dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan relaksasi yang anda rasakan sekarang. Buat ia menjadi dua kali lebih dalam. Baiklah, sekarang sekali lagi buka mata anda… tutup mata anda dan duakan lipat rileksasi anda… bagus. Ijinkan semua otot di tubuh anda menjadi sangat rileks sehingga selama anda mempertahankan kualitas rileksasi seperti ini, setiap otot di tubuh anda tidak bekerja.
Sebentar lagi saya akan mengangkat tangan (kiri atau kanan) anda di pergelangan, beberapa centimeter, dan melepaskannya. Jika anda telah mengikuti perintah saya hingga ke titik ini, tangan itu akan menjadi sangat rileks, menjadi lemas tidak bertenaga seperti kain basah, dan akan jatuh ke pangkuan. Sekarang, jangan mencoba untuk bantu saya. Ijinkan saya yang melakukan semua kerjanya, mengangkat tangan anda, sehingga saat saya lepas nanti, ia jatuh ke bawah dan anda masuk semakin dalam.
(Jika subjek membantu mengangkat tangan) Katakan,”Sekarang, ijinkan saya yang mengangkat, jangan bantu saya. Biarkan tangan anda berat tidak bertenaga. Jangan bantu saya. Anda bisa merasakannya sekarang.
Ini adalah rileksasi fisik sepenuhnya. Saya ingin anda tahu bahwa ada dua cara orang menjadi rileks. Anda dapat rileks secara fisik dan anda dapat rileks secara mental. Anda telah membuktikan bahwa anda dapat rileks secara fisik, dan sekarang ijinkan saya untuk menunjukkan pada anda cara rileks secara mental. Sebentar lagi, saya akan minta anda mulai menghitung perlahan, mundur, dengan suara keras, mulai 100.
Sekarang, inilah rahasia rileksasi mental. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, lipat duakan rileksasi mental anda. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, biarkan pikiran anda menjadi dua kali lebih rileks. Sekarang, jika anda melakukan ini, saat anda mencapai angka 98, atau mungkin lebih cepat lagi, pikiran anda telah menjadi sangat rileks, anda akhirnya merilekskan sisa angka yang muncul setelah angka 98 di pikiran anda. Tidak ada angka tersisa. Sekarang, anda harus melakukan ini, saya tidak dapat melakukannya untuk anda. Angka-angka itu akan meninggalkan anda jika anda menginginkannya pergi. Sekarang, mulai dengan menginginkan ini terjadi dan anda dapat dengan mudah menghilangkan mereka dari pikiran anda.
Sekarang, ucapkan angka pertama, 100 dan lipat duakan rileksasi mental anda.
Klien : 100
Terapis : Sekarang lipat duakan rileksasi mental itu. Biarkan angka-angka itu mulai menjadi pudar.
Klien : 99
Terapis : Lipat duakan rileksasi mental. Mulai membuat angka-angka itu pergi. Mereka akan pergi bila anda menginginkan mereka pergi.
Klien : 98
Terapis : Sekarang, mereka akan hilang. Hilangkan mereka. Buang mereka. Buat ini terjadi, anda bisa melakukannya. Saya tidak bisa melakukannya untuk anda. Dorong mereka keluar. Buat ini terjadi. SEMUA SUDAH HILANG?
Mengikuti struktur induksi yang telah dijelaskan di atas, berikut ini akan dibahas setiap tahapan dalam Elman Induction.
Persiapan
Skrip untuk tahap Persiapan sengaja tidak diberikan di sini karena sifatnya sangat situasional. Intinya, pada tahap Persiapan, ada tiga hal yang terjadi: komunikasi antara operator dan subjek, penyiapan subjek untuk diinduksi, di sini operator meminta persetujuan eksplisit dari subjek untuk menjalani induksi, dan menghilangkan keraguan, keengganan, rasa takut, rasa tidak percaya pada operator, atau hal lain yang membuat subjek tidak nyaman. Tidak ada skrip yang baku untuk digunakan di tahap Persiapan. Semua bergantung pada kebutuhan, situasi, dan kondisi subjek.
Katalepsi Kelompok Otot Kecil
Sekarang, pusatkan perhatian anda pada otot-otot mata anda dan rilekskan otot-otot di sekeliling mata anda hingga mereka tidak bisa bekerja. Bila anda yakin mereka telah sangat rileks dan selama anda mempertahankan rileksasi ini, maka mereka tidak bisa bekerja. Pertahankan rileksasi ini dan coba buka mata tapi pastikan mata tidak bisa bekerja.
Kalimat di atas bertujuan menembus faktor kritis pikiran sadar dan mencapai kondisi pemikiran selektif, yaitu subjek percaya, menerima, dan menjalankan sugesti yang diberikan. Bila mata subjek berhasil tidak bisa dibuka, ini indikator ia telah masuk kondisi hipnosis dangkal atau hipnoidal, dan bisa dilanjutkan ke langkah berikutnya yaitu pendalaman.
Pendalaman
Pendalaman bertujuan untuk menuntun subjek turun ke kondisi hipnosis yang semakin dalam. Ini dicapai dengan operator memberi sugesti: Sekarang, saya ingin, rileksasi yang anda rasakan di mata anda, juga dirasakan di seluruh tubuh anda. Jadi, biarkan kualitas rileksasi seperti ini mengalir ke seluruh tubuh anda mulai dari kepala hingga ke ujung jari-jari kaki anda.
Fraksinasi
Fraksinasi bertujuan untuk membawa subjek masuk ke kondisi hipnosis lebih dalam lagi. Elman menyebut tahap ini “Three trips to Bernheim” atau tiga perjalanan ke Bernheim. Ia mendapat ide fraksinasi setelah membawa buku Bernheim, Suggestive Therapeutic.
Dalam buku ini diceritakan Bernheim menghipnosis pasiennya lima kali, masing-masing dengan jarak satu minggu. Minggu pertama, kedua, dan ketiga, pasien hanya masuk kondisi hipnosis dangkal (light trance). Di sesi keempat, pasien berhasil masuk kondisi hipnosis menengah (medium trance). Baru pada sesi kelima, pasien berhasil mencapai kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism).
Berangkat dari kisah ini, Elman mendapat ide, bagaimana bila jarak antarsesi bukan satu minggu tapi satu hari. Elman mencoba melakukan hipnosis dengan pemikiran ini dan mencapai hasil seperti yang dicapai Bernheim kala melakukan hipnosis dengan jarak antarsesi satu minggu. Selanjutnya Elman berpikir, bagaimana bila jarak antarsesi adalah satu jam, dan akhirnya jarak antarsesi hanya satu menit.
Untuk mencapai kondisi ini, Elman menggunakan fraksinasi, yaitu meminta klien membuka dan kemudian menutup mata, sebanyak tiga kali, sambil diberi sugesti. Gerakan membuka dan menutup mata ini memberi efek pendalaman sehingga subjek semakin masuk ke dalam kondisi hipnosis.
Sekarang, anda dapat semakin memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan meminta anda buka mata dan menutup mata anda. Saat anda menutup mata, ini adalah sinyal anda untuk mengijinkan perasaan rileks ini menjadi sepuluh kali lebih dalam.
Sekarang, kita dapat lebih memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan meminta anda buka mata dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan rileksasi yang anda alami sekarang.
Sebentar lagi, saya akan minta anda buka mata dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan relaksasi yang anda rasakan sekarang. Buat ia menjadi dua kali lebih dalam.
Katalepsi Kelompok Otot Besar
Di tahap ini, operator menuntun subjek untuk semakin rileks dan mencapai katalepsi kelompok otot besar dengan memberi sugesti:
Sebentar lagi saya akan mengangkat tangan (kiri atau kanan) anda di pergelangan tangan, beberapa centimeter, dan melepaskannya. Jika anda telah mengikuti perintah saya hingga ke titik ini, tangan itu akan menjadi begitu sangat rileks, menjadi lemas tidak bertenaga seperti kain basah, dan akan jatuh ke pangkuan.
Bila subjek berhasil melakukan yang disugestikan, ini berarti subjek telah berada di kedalaman hipnosis menengah (medium trance).
Amnesia dengan Sugesti
Tahap final dari Elman Induction adalah menuntun subjek ke kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism) dengan menggunakan skrip berikut:
Sebentar lagi, saya akan minta anda mulai menghitung perlahan, mundur, dengan suara keras, mulai 100. Sekarang, inilah rahasia rileksasi mental. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, lipat duakan rileksasi mental anda. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, biarkan pikiran anda menjadi dua kali lebih rileks. Sekarang, jika anda melakukan ini, saat anda mencapai angka 98, atau mungkin lebih cepat lagi, pikiran anda telah menjadi sangat rileks, anda akhirnya merilekskan sisa angka yang muncul setelah angka 98 di pikiran anda. Tidak ada angka tersisa….dst.
Kendala Menggunakan Elman Induction
Banyak hipnoterapis pemula, karena tidak mendapat penjelasan mendalam tentang teori, alur, dan cara yang benar melakukan Elman Induction, mengalami kegagalan beruntun dan akhirnya tidak lagi berani menggunakannya. Kendala yang sangat sering dialami hipnoterapis saat melakukan Elman Induction:
Di masa awal berpraktik sebagai hipnoterapis klinis, penulis juga menggunakan Elman Induction dan mengalami kegagalan seperti yang dijelaskan di atas. Hasil induksi tidak konsisten berhasil membawa klien masuk ke kondisi hipnosis dalam, terutama pada klien kritis dan analitis. Lebih sering terjadi kegagalan daripada keberhasilan.
Setelah kegagalan berulang, penulis akhirnya menyadari bahwa proses alih bahasa skrip induksi dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia selain perlu mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku dan benar, juga perlu memerhatikan sifat dan cara kerja pikiran sadar dan bawah sadar, serta budaya lokal. Dengan kata lain, skrip tidak bisa asal diterjemahkan tetapi perlu mendapat validasi budaya dan linguistik (cultural and linguistic validation).
Adopsi dan Modifikasi
Elman Induction sebenarnya sama dengan induksi hipnotik pada umumnya. Yang membedakannya, di dalam Elman Induction telah disertakan uji kedalaman tersamar untuk mengetahui derajat kedalaman hipnosis yang dicapai subjek pada saat tertentu.
Elman Induction dipraktikkan serta diajarkan Dave Elman di tahun 1950an dan telah terbukti sangat efektif. Penulis, setelah memelajari secara cermat struktur dan alur Elman Induction, melakukan adopsi dan modifikasi untuk menyusun skrip induksi yang kini dikenal dengan AWG Induction.
Adopsi dan modifikasi ini didasarkan pada temuan dan pengalaman praktik penulis, diperkuat dengan pengetahuan dan pemahaman dari hasil pembelajaran penulis kepada tokoh hipnoterapi dan pakar teknologi pikiran: Anna Wise (2009), Tom Silver (2009), Gil Boyne (2010), Randal Churchill (2012), dan John Butler (2014).
Adopsi dan modifikasi yang dilakukan terhadap skrip orisinal Elman Induction juga dengan memerhatikan dan berlandaskan ekstraksi pengetahuan yang diperoleh dari berbagai literatur yang khusus membahas induksi, sugesti, dan pilihan diksi yang bersifat hipnotik.
Skrip AWG Induction dan strategi melakukannya kepada subjek telah mengalami tiga kali penyempurnaan, sejak disusun pertama kali tahun 2005. Pengembangan dan penyempurnaan dilakukan tahun 2008, 2013, dan terakhir 2017.
Dalam AWG Induction, induksi dimaknai sebagai proses, bukan sekadar pembacaan skrip. Bagian paling penting dalam AWG Induction adalah tahap Persiapan, karena keberhasilan dan kegagalan induksi sepenuhnya ditentukan di sini. Di tahap ini operator melakukan pemeriksaan kesiapan dan kesediaan subjek menjalani induksi, edukasi dan melatih pikiran sadar dan bawah sadar subjek tentang apa yang akan terjadi dan subjek alami, menjawab pertanyaan subjek untuk mengatasi keraguan dan perasaan tidak nyaman terkait proses induksi hipnotik yang akan subjek jalani dan alami.
Skrip AWG Induction disusun dengan sangat cermat untuk menghindari perangkap pharsing, yaitu kecenderungan pikiran bawah sadar menolak kata-kata bersifat negasi saat seseorang dalam kondisi hipnosis dalam (Kein, 2003).
Diksi yang dipilih juga bersifat pasif, langsung (direct), jernih sehingga mudah dipahami, dengan tujuan mencipta kondisi rileks dan pasif pada diri subjek (O’Hanlon, 2009), diterima dan dijalankan baik oleh subjek bertipe sugestibilitas fisik dan emosional/kritis analitis (Kappas, 1999). Pilihan diksi yang cermat juga meniadakan efek dualisme, salah satu faktor utama penghambat proses rileksasi mental mental (Wise, 2009).
Skrip dalam AWG Induction mengedepankan pemanfaatan keterhubungan memori dan kondisi rileksasi sehingga subjek tidak perlu berusaha menjadi rileks atau membuat dirinya rileks. Rileksasi terjadi dan berjalan alamiah berdasar aktivasi jangkar memori-fisik yang telah ada di pikiran bawah sadarnya. Sejatinya setiap subjek mampu secara alamiah untuk rileks, baik secara fisik maupun mental karena aktivitas rileksasi alamiah ini ia lakukan setiap hari saat beralih dari kondisi sadar normal ke kondisi tidur (Silvester, 2003; Webb, 2008; Nongard, 2011).
Asal mula fraksinasi hipnotik merujuk pada eksperimen Oskar Vogt, seorang dokter berkebangsaan Jerman. Sekitar tahun 1903 Vogt menyadari bahwa subjek cenderung masuk ke kondisi hipnosis lebih cepat dan lebih dalam di setiap sesi berikutnya, sehingga ia mencoba membawa subjek masuk dan keluar dari kondisi hipnosis berkali-kali dengan sangat cepat, untuk memberi subjek pengalaman banyak sesi hipnosis hanya dalam beberapa menit. Dampak dari perlakuan ini mengakibatkan subjek masuk ke kondisi hipnosis sangat dalam dengan cepat.
Fraksinasi hipnotik adalah proses pendalaman kondisi hipnosis dengan membawa subjek masuk dan keluar kondisi hipnosis secara berulang. Inti dari fraksinasi adalah subjek dituntun untuk masuk ke kondisi hipnosis. Selanjutnya, subjek yang telah berada di dalam kondisi hipnosis, dibawa keluar dari kondisi hipnosis dan dilanjutkan dengan mengulangi proses hipnosis. Setiap pengulangan masuk-keluar kondisi hipnosis mengakibatkan efek pendalaman yang kuat. Waktu pengulangan bisa satu menit, satu jam, satu hari, atau satu minggu, bergantung
Sementara dalam Elman Induction, subjek tidak dibawa keluar dari kondisi hipnosis namun hanya diminta membuka mata. Membuka mata tidak serta merta membuat subjek keluar dari kondisi hipnosis. Dengan demikian, sesuai definisi fraksinasi di atas, teknik pendalaman dengan meminta subjek membuka dan menutup mata beberapa kali dalam Elman Induction bukan fraksinasi dalam arti yang sesungguhnya.
Yang membuat subjek masuk lebih dalam adalah kepatuhannya menjalankan sugesti yang diberikan operator yaitu membuka dan menutup mata, yang selalu disertai dengan sugesti lanjutan untuk menjadi lebih rileks dari kondisi sebelumnya. Sesuai dengan cara kerja pikiran, setiap sugesti yang dijalankan membuka jalan untuk sugesti berikutnya juga dijalankan seperti sugesti sebelumnya. Efek pengulangan sugesti ini memberi efek penguatan atau compounding (Kein, 2005).
Berdasar pemahaman ini, untuk meningkatkan keefektifan pendalaman kondisi hipnosis, AWG Induction tidak menggunakan fraksinasi namun menggunakan teknik pendalaman kondisi hipnosis berbasis penurunan fungsi kritis analitis pikiran sadar menggunakan jalur somatik (Wise, 2009). Hal yang juga sangat berbeda, dan ini adalah ciri khusus AWG Induction adalah kondisi kedalaman hipnosis yang telah berhasil dicapai subjek distabilkan menggunakan pendekatan somatopsikis.
Pada bagian akhir Elman Induction, pendalaman bersifat opsional. Sementara dalam AWG Induction, pendalaman adalah satu keharusan untuk memastikan subjek benar-benar turun ke kedalaman hipnosis dalam. Teknik pendalaman akhir kondisi hipnosis dalam AWG Induction menggunakan pendekatan jangkar memori seperti yang digunakan dalam teknik Ultra Depth (Ramey, 1996, 2005).
Referensi
Boyne, Gil. 2010. Master Class in Clinical Hypnotherapy workbook (pdf)
Churchil, Randal. 2012. Clinical Hypnotherapy workbook. San Fracisco: HTI
Elman, Dave. 1977. Hypnotherapy. Glendale: Westwood Publishing Co.
Kappas, John G. 1999. Professional Hypnotism Manual : A Practical Approach For Modern Times. Boston: Panorama Publishing Company
Kein, Gerald. 1993. How to do the Dave Elman induction. DeLand: OHTC. 50 mins
Kein, Gerald. 2003. 7 Powerful Keys to direct suggestion success. DeLand: OHTC. 50 mins.
Nongard, Richard K. 2011. Magic words: The Sourcebook of Hypnosis Patter & Scripts & How to Overcome Hypnotic Difficulties. Tulsa: PeachTree Professional Education
O'Hanlon, Bill. 2009. A guide to trance land. New York: Norton
Ramey, James. 1996. The Ultra Depth. 120 mins.
Ramey, James. 2005. Ultra Deep Relaxation. 120 mins.
Silver, Tom. 2009. Scientific & Clinical Hypnotherapy workbook. Camarillo: TSI
Silvester, Trevor. 2003. Wordweaving Vol. 1 : The Science Of Suggestion. Cambs: The Quest Institute
Webb, Kerin. 2008. The Language pattern bible: Indirect Hypnotherapy Patterns of Influence. Glendale: Best Buddy Books
Wise, Anna. 2009. The Awakened Mind workbook. Berkeley: AWS
Saya sering membantu klien yang mengalami kendala dalam meraih sukses, khususnya di aspek bisnis atau finansial. Masalah mereka umumnya, salah satu dari kondisi berikut: sulit meningkatkan penghasilan walau telah mencoba berbagai cara atau strategi, penghasilan mereka berhenti sampai di angka tertentu, bisa menghasilkan penghasilan besar namun tidak pernah bisa menabung, sering salah dalam berinvestasi, telah mengikuti banyak pelatihan investasi namun sering merugi karena tidak mampu menerapkan strategi yang diajarkan, sering salah dalam melakukan analisis bisnis, mengalami kegagalan berulang, tidak konsisten dalam menerapkan strategi bisnis atau investasi yang telah ditetapkan sehingga mengalami kerugian, antara rencana dan pelaksanaan tidak sesuai, dan masih banyak lagi.
Klien-klien saya ini banyak yang telah ikut berbagai pelatihan pengembangan diri, pelatihan investasi, membaca buku-buku investasi, buku-buku positif, buku-buku tentang kekuatan pikiran bawah sadar dan pengaruhnya terhadap sukses, nonton banyak video Youtube membahas rahasia sukses, aktivasi Hukum Daya Tarik (The Law of Attraction), melakukan afirmasi menjadi Money Magnet, dan bahkan ada yang menggunakan jasa business coach untuk memandu dan menuntun mereka meraih goal . Namun semua cara ini tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Saat saya bertanya pada mereka mengapa mereka belum sukses, jawaban mereka sangat rasional, logis, dan cerdas. Mereka bisa menjelaskan dengan detil dan yakin tentang hal atau strategi yang perlu mereka lakukan untuk segera mencapai sukses, mengapa mereka perlu melakukan ini, alasan mereka belum berhasil dan cara mengatasi situasi ini, rencana dan aktivitas rutin yang perlu dilakukan untuk memastikan sukses dapat diraih dengan pasti.
Mereka juga menyadari bahwa semakin banyak mereka ikut pelatihan bisnis atau investasi, semakin banyak baca banyak buku, membaca informasi tentang cara meraih sukses di group-group yang diikuti, mereka menjadi semakin paham tentang kunci sukses. Namun yang mereka tidak habis pikir adalah mengapa setelah melakukan semua yang dibutuhkan untuk sukses, mereka tetap belum bisa sukses seperti yang diinginkan.
Apakah ada yang salah dengan klien-klien saya ini sehingga sukses menjadi begitu jauh dan sulit diraih?
Tidak ada yang salah. Semua yang mereka lakukan sudah benar. Yang mereka tidak sadari atau tidak ketahui, untuk meraih sukses butuh dukungan penuh baik dari pikiran sadar (PS) maupun bawah sadar (PBS).
Szegedy-Maszak (2005) dalam artikel Mysteries of the Mind: Your Unconscious Is Making Your Everyday Decisions menyatakan:
According to cognitive neuroscientists, we are conscious of only about 5 percent of our cognitive activity, so most of our decisions, actions, emotions, and behavior depends on the 95 percent of brain activity that goes beyond our conscious awareness.
(Menurut neurosaintis kognitif, kita hanya menyadari sekitar 5 persen dari aktivitas berpikir kita, dengan demikian hampir semua keputusan, tindakan, emosi, dan perilaku kita sepenuhnya bergantung pada 95 persen aktivitas otak yang berlangsung tanpa kita sadari.)
Kekuatan pengaruh PS dan PBS yang diajukan Szegedy-Maszak tidak jauh berbeda dengan yang ditulis dalam berbagai literatur hipnoterapi, khususnya tentang pengaruh PS dan PBS, yaitu 10% berbanding 90%.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sekelompok ilmuwan dari Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences di Leipzig, bekerja sama dengan Charité University Hospital dan Bernstein Center for Computational Neuroscience in Berlin, di bawah pimpinan Professor John-Dylan Haynes.
Hasil penelitian yang dipublikasi di Science Daily, 15 April 2008, menyatakan bahwa aktivitas otak memprediksi, bahkan hingga 7 detik lebih awal, bagaimana seseorang akan membuat keputusan. Dengan kata lain, pembuatan keputusan adalah hasil dari aktivitas mental yang bersifat tidak disadari (nirsadar).
Prof. Manfred Zimmermann, dari Universitas Heildelberg dalam artikelnya berjudul The Nervous System in the Context of Information Theory, yang dimuat dalam Human Physiology (1989) menyatakan:
What we perceive at any moment, therefore, is limited to an extremely small compartment in the stream of information about our surroundings flowing in from the sense organs.
(Apa yang mampu kita sadari pada satu saat adalah sangat terbatas, hanya satu bagian sangat kecil dari arus informasi berasal dari lingkungan yang masuk melalui indera-indera kita.)
Prof. Zimmermann lebih lanjut menyatakan:
We can therefore conclude that the maximal information flow of the process of conscious sensory perception is about 40 bits/sec – many orders of magnitude below that taken in by receptors (nerve endings). Our perception, then, would appear to be limited to a minute part of abundance of information available as sensory input.
(Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa jumlah maksimal informasi yang dapat disadari adalah sekitar 40 bit/detik – sangat jauh di bawah jumlah yang diterima oleh reseptor-reseptor (ujung-ujung saraf). Persepsi kita, dengan demikian, sangat terbatas, hanya satu bagian sangat kecil dari demikian banyak informasi yang tersedia, yang dapat diterima oleh indera.)
Sementara menurut Dietrich Trincker (dalam Norrentranders, 1998:126) dari semua informasi yang masuk ke otak setiap detik, yang berasal dari semua sensor organ, hanya sejumlah sangat kecil disadari. Rasio antara kapasitas persepsi dan kapasitas apersepsi adalah satu juta berbanding satu. Dengan kata lain, hanya satu per satu juta informasi yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan yang berasal dari organ atau indera lainnya, yang muncul ke kesadaran dan kita ketahui atau sadari.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, perbandingan kapasitas pemrosesan data antara pikiran sadar dan bawah sadar adalah 40 bit/detik berbanding 40.000.000 bit/detik atau 1 berbanding 1.000.000.
Pikiran Bawah Sadar: Apa dan Bagaimana?
PBS aktif sejak pembuahan dan akan terus aktif hingga individu meninggal. PBS adalah tempat penyimpanan informasi, data, emosi, dan program-program yang digunakan untuk menjalankan hidup.
PBS berfungsi seperti harddisk komputer yang terus menerus diisi data melalui dua proses: pengunduhan dan repetisi. Saat dalam kandungan hingga berusia sekitar 7 tahun, PBS kita hanya menjalankan satu fungsi utama yaitu melakukan pengunduhan (download) data yang berasal dari lingkungan, terutama dari pengasuh utama atau orang tua.
Proses pengunduhan data berlangsung sangat cepat, efisien, dan adalah kemampuan bawaan agar manusia muda dapat menjalankan hidupnya dan selamat. Di usia 0 hingga 2 tahun, gelombang otak dominan anak adalah delta, pada kisaran 0,1 hingga 4 Hz. Antara usia 2 hingga 6 tahun, gelombang otak dominan bertambah, theta, pada kisaran 4,1 hingga 8 Hz.
Pada usia sangat reseptif ini, semua data diunduh tanpa melewati proses verifikasi dan validasi kebenaran dan manfaatnya. Sebagian data yang masuk ke PBS anak berupa program-program pikiran tentang apa yang bisa dan tidak bisa, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang mungkin dan tidak mungkin, apa yang baik dan tidak baik, apa yang mampu dan tidak mampu anak lakukan. Intinya, disadari atau tidak, ada program mendukung dan ada yang membatasi.
Program-program ini sangat kuat mengendalikan diri individu karena dua hal. Pertama, ia dijalankan oleh PBS, yang 95 kali lebih kuat dari PS, dengan kecepatan dan kapasitas pemrosesan data 1 juta kali lebih cepat dan besar daripada PBS. Kedua, program ini aktif dan beroperasi tanpa diketahui atau disadari oleh individu. Dengan demikian ia tidak dapat dideteksi dan dihentikan. Program-program ini akan terus aktif dan beroperasi memengaruhi, mengendalikan, mengarahkan, dan mendikte proses berpikir, ucapan, tindakan, perilaku, kebiasaan, dan tindakan kita sampai ia diidentifikasi dan diganti dengan program baru.
Setelah lewat usia 7 tahun, proses pengisian data ke PBS terutama dilakukan melalui rangkaian kegiatan berulang, baik itu belajar hal baru, mengembangkan kebiasaan baru, hingga menguasai keterampilan atau kecakapan baru.
Fungsi utama PBS adalah melindungi individu, pikiran sadar dan tubuh fisik, dari hal-hal yang ia nilai, pandang, persepsikan, rasa, yakini, atau asumsikan merugikan atau membahayakan. Kebenaran penilaian ini sepenuhnya menurut PBS, bukan menurut PS individu. Hal yang baik menurut PS individu belum tentu baik menurut PBS, demikian pula sebaliknya.
Fungsi lain PBS adalah ia sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia tidak mampu menyelesaikan sendiri masalah. Untuk bisa menyelesaikan masalah, PBS akan menempatkan individu pada situasi, kejadian, peristiwa, atau kondisi yang sama atau mirip dengan kondisi yang dulu pernah individu alami.
PBS dan Sukses
Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa setiap upaya meraih sukses bila hanya mengandalkan kekuatan PS akan mengalami kendala atau hambatan bila rencana atau keinginan ini tidak sejalan atau mendapat dukungan dari program yang ada di PBS. Derajat capaian pada setiap aspek hidup dipengaruhi oleh derajat keselarasan dan dukungan program pikiran di PBS.
Cara untuk mengetahui keberadaan program pikiran yang mendukung atau menghambat adalah dengan secara jujur mengamati dan mengakui kualitas hidup kita pada aspek tertentu. Bila kualitas atau capaian aspek ini (sangat) baik atau memuaskan, ini menunjukkan program pikiran di PBS mendukung individu, demikian pula sebaliknya.
Cara lain untuk mendeteksi keberadaan program pikiran yang tidak mendukung adalah dengan menggunakan indikator perasaan. Saat kita menetapkan target tertentu, cek perasaan, nyaman atau tidak. Bila muncul perasaan tidak nyaman, ini indikasi terjadi benturan antara keinginan PS dan program di PBS. Ketidakselarasan ini harus segera diatasi bila kita ingin mencapai sukses dengan mudah dan lancar.
Sebaliknya bila kita merasa nyaman dengan goal tertentu, ini adalah indikasi keselarasan antara target yang ditetapkan secara sadar (PS) dengan program di PBS.
Daya dukung dan daya hambat program pikiran di PBS pada target yang ingin dicapai memiliki derajat, dapat dinyatakan dengan menggunakan skala angka, mulai 0 hingga 10.
Seringkali, saat saya membantu klien yang sulit meraih sukses finansial, saya temukan akar masalah yang sama sekali di luar dugaan klien. Satu contoh, klien yang sangat sering merugi saat investasi saham.
Klien ini sudah ikut banyak pelatihan. Pengetahuannya sangat memadai, lebih dari cukup untuk berinvestasi saham dengan cerdas. Ia bahkan punya program yang dapat menyeleksi saham-saham apa saja yang akan segera naik atau turun. Singkat kata, tidak ada alasan baginya untuk tidak sukses.
Tapi kenyataannya, ia rugi terus. Kalau untung kecil, ia sering dapat. Tapi kalau untung besar, entah mengapa, walau telah melakukan analisis dengan benar, ia tidak berani masuk pasar. Ia masuk, seringkali, saat arah pasar mulai berubah. Akibatnya, ia sering rugi besar.
Ternyata akar masalahnya bukan pada teknik atau strateginya, tapi karena saat dalam kandungan, ibunya sempat mencoba menggugurkan dirinya. Dari sini muncul perasaan diri tidak berharga, tidak layak, tidak pantas untuk sukses.
Kasus klien lainnya, kendala dalam meraih sukses finansial, akar masalahnya adalah karena saat kecil, ia sering dapat masukan dari orang tuanya bahwa orang kaya itu jahat, karena menggunakan uang mereka untuk menyusahkan orang lain. Ucapan ini menjadi program pikiran yang menghambat dirinya saat mencoba peruntungan berinvestasi properti.
Beberapa contoh akar masalah yang menghambat sukses finansial antara lain: keyakinan bahwa uang adalah akar segala kejahatan, menginginkan lebih sama dengan serakah dan tidak tahu bersyukur, uang tidak penting karena tidak dibawa mati, hidup miskin adalah mulia, takut rugi sehingga terlalu cepat membeli atau menjual, menghukum diri sendiri, merasa tidak mungkin bisa menghasilkan uang banyak dengan cepat dan mudah, merasa tidak layak untuk ambil untung banyak, dll.
Setiap kasus adalah unik dengan akar masalah yang berbeda. Kasus serupa bila terjadi pada orang yang berbeda, memiliki akar masalah yang berbeda. Walau akar masalah selalu berbeda, dari pengalaman praktik, kami menemukan ada pola konsisten.
Orang yang dapat dengan mudah meraih sukses, disadari atau tidak, goal yang mereka tetapkan sejalan dan didukung oleh program PBS. Semakin selaras dan didukung oleh program PBS, semakin mudah sukses dicapai, dan semakin tinggi pula capaian ini.
Mengubah Program PBS
Menemukan keberadaan program yang menghambat adalah satu hal. Sementara menggantinya dengan program pikiran konstruktif adalah hal lain. Menemukan program pikiran secara tepat bukan pekerjaan mudah, demikian pula menggantinya.
Cara yang sering digunakan untuk mengganti program pikiran negatif adalah dengan baca buku positif, melakukan afirmasi positif. Kalimat afirmasi atau sugesti positif dibaca berulang kali dengan harapan afirmasi ini masuk ke PBS.
Cara lain adalah dengan melakukan swahipnosis. Saat seseorang masuk kondisi hipnosis dalam (deep trance), gelombang otak dominan adalah theta. Ini adalah gelombang otak persis sama dengan yang ia alami saat kecil dulu, pikirannya menjadi sangat reseptif untuk menerima informasi.
Ada juga yang berusaha berubah dengan mengandalkan kekuatan kehendak (will power). Ini bukan hal mudah karena ia menggunakan kekuatan PS, yang besarnya 5, melawan PBS yang berkekuatan 95.
Beberapa klien saya mencoba memrogram PBS mereka dengan ikut pelatihan yang menawarkan jalan di atas bara api atau jalan di atas pecahan kaca. Argumentasinya, bila ia yang semula tidak percaya bisa jalan di atas bara api atau pecahan kaca dengan aman dan selamat, akhirnya karena menggunakan kekuatan kehendak (will power) mampu melakukannya, maka ia pasti bisa mengubah dirinya dengan mudah. Ini logika PS, tidak demikian halnya dengan logika PBS.
Ada tiga cara mudah, dari pengalaman saya sebagai hipnoterapis klinis, mengubah program pikiran. Pertama, minta bantuan hipnoterapis klinis untuk mencari, menemukan, dan mengganti program pikiran yang tidak mendukung sukses.
Kedua, melakukan swahipnosis (self-hypnosis). Ada dua syarat untuk bisa melakukan swahipnosis dengan efektif: masuk ke kedalaman hipnosis yang tepat dan memasukkan skrip yang benar. Ini butuh pengetahuan dan latihan. Anda perlu belajar kepada pengajar berpengalaman, tidak bisa hanya belajar sendiri atau dengan baca buku.
Ketiga, menggunakan teknik pemrograman ulang berbasis neurosains yang digabung dengan teknik komunikasi dengan PBS melalui jalur energi tubuh. Untuk teknik ini tidak butuh kondisi hipnosis.
Menjadi hipnoterapis profesional, cakap, andal, dan efektif membantu sesama mengatasi beragam masalah perilaku dan emosi, butuh proses belajar panjang, dengan standar mutu pelatihan dan kompetensi yang jelas dan terukur.
Sejak belajar hipnoterapi pertama kali dengan guru saya, alm. Yan Nurindra di tahun 2005, saya melanjutkan belajar dan mendalami hipnoterapi ke berbagai pakar hipnoterapi dunia, baik secara langsung maupun melalui buku-buku yang mereka tulis, dan juga video-video mereka.
Hingga saat ini saya masih terus belajar dan mengembangkan diri. Selalu ada hal baru yang saya temukan. Dan semakin didalami, semakin saya sadari betapa luas dan dalam dunia pikiran. Saya teguh memegang prinsip bahwa menjadi hipnoterapis profesional mensyaratkan komitmen, dedikasi, proses belajar dan bertumbuh sepanjang hayat.
Menjadi hipnoterapis profesional diawali dengan pengetahuan dan kesadaran akan alasan dan tujuan belajar hipnoterapi. Calon hipnoterapis perlu menyadari bahwa terdapat perbedaan mendasar antara tanda kesertaan (sertifikat) yang diperoleh usai mengikuti pelatihan dan kompetensi yang berhasil dibangun. Sertifikat dan gelar tidak menjamin kompetensi. Sayangnya, banyak orang lebih menggemari sertifikat daripada kompetensi.
Terdapat perbedaan mendasar antara mereka yang ikut pelatihan hipnoterapi dengan tujuan untuk sekadar tahu dan mereka yang sungguh-sungguh belajar hipnoterapi dengan tujuan menjadi hipnoterapis profesional.
Untuk mengetahui secara pasti dan jelas standar pelatihan hipnoterapi yang baik, kita dapat mengacu pada standar yang digunakan atau ditetapkan asosiasi hipnoterapi terkemuka dunia.
Berikut ini berberapa di antaranya. Saya tuliskan nama negara, nama asosiasi, jenjang sertifikasi dan lama masa pelatihannya.
Amerika
A.C.H.E (American Council of Hypnotist Examiners)
Certified Hypnotherapist - 200 jam (25 hari)
Certified Clinical Hypnotherapist - 300 jam (38 hari)
Inggris
G.H.S.C (General Hypnotherapy Standards Council)
Certified Hypnotherapist - 120 jam (15 hari)
Canada
A.R.C.H (Association of Registered Clinical Hypnotherapists)
Certified Hypnotherapist - 225 jam (28 hari)
Certified Clinical Hypnotherapist - 325 jam (41 hari)
Australia
A.H.A (Australian Hypnotherapy Association)
Certified Hypnotherapist - 300 jam (38 hari)
Sementara American Society of Clinical Hypnosis (ASCH) menetapkan syarat sertifikasi hipnosis klinis (Certification of Clinical Hypnosis) antara lain:
Syarat utama suatu terapi dikategorikan sebagai hipnoterapi adalah ia harus dilakukan dalam kondisi hipnosis. Definisi hipnosis menurut Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology adalah kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar rileks, fungsi kritis analitis menurun, fokus meningkat, sehingga individu menjadi responsif terhadap informasi atau sugesti yang disampaikan kepada pikiran bawah sadarnya.
Ada empat cara untuk menghasilkan kondisi hipnosis: autohipnosis, swahipnosis, heterohipnosis, dan parahipnosis. Autohipnosis adalah kondisi hipnosis yang terjadi secara spontan, alamiah, tanpa disadari individu. Swahipnosis adalah kondisi hipnosis yang terjadi sebagai hasil dari upaya sadar individu melakukan hipnosis pada dirinya sendiri. Heterohipnosis adalah kondisi hipnosis yang muncul dalam diri subjek sebagai hasil dari upaya sadar yang dilakukan operator pada subjek. Dan parahipnosis adalah kondisi hipnosis yang tercipta karena pengaruh obat.
Sugestibilitas, secara sederhana, bermakna kecenderungan seseorang menerima dan menjalankan sugesti yang diberikan padanya. Terdapat tiga jenis sugestibilitas, sugestibilitas fisik (physical suggestibility) dan sugestibilitas emosi (emotional suggestibility), dan sugestibilitas intelektual (intellectual suggestibility). Populasi bersugestibilitas fisik sebesar 40%, bersugestibilitas emosi sebesar 60%. Sementara populasi bersugestibilitas intelektual sebesar 5% dari sugestibilitas emosi. Somnambulis adalah orang yang bersugestibilitas fisik 50%, dan bersugetibilitas emosi 50% (Kappas, 1978).
Hipnoterapis, umumnya, melakukan uji sugestibilitas sebelum melakukan induksi. Uji sugestibilitas yang sering digunakan adalah uji lengan berat dan ringan (heavy and light arm test), uji tangan atau jari lengket, membayangkan minum air jeruk, dan uji postural sway.
Dari pengalaman klinis, ditemukan bahwa uji sugestibilitas lebih banyak gagal daripada berhasil dan sering membuat hipnoterapis menjadi tidak percaya diri. Uji sugestibilitas yang disebut di atas ternyata lebih sesuai untuk klien-klien bersugestibilitas fisik (40%) dan tidak akan mendapat respon dari klien-klien bersugetibilitas emosi (60%), dan terutama dari klien-klien bersugestibilitas intelektual (5% dari ES). Dengan demikian, secara statistik, probabilitas keberhasilan uji sugestibilitas hanya 40%.
Saat uji sugestibilitas yang hipnoterapis lakukan pada klien, sebelum melakukan induksi, tidak bekerja seperti yang diharapkan, karena ternyata kliennya bersugestibilitas emosi atau intelektual, hipnoterapis menjadi ragu apakah mereka mampu menginduksi dan menuntun klien masuk ke kondisi hipnosis. Keraguan ini diperkuat dengan minimnya teknik-teknik induksi yang dikuasai dengan baik oleh hipnoterapis, yang dapat digunakan sesuai tipe sugestibilitas klien. Akibatnya, banyak hipnoterapis mengalami kegagalan saat mencoba menginduksi klien. Dan mereka berkilah klien tidak bisa dihipnosis karena klien masuk kategori orang yang tidak bisa dihipnosis.
Ada dua hal penting dalam proses yang baru dijelaskan di atas. Pertama, hipnoterapis melepas tanggung-jawab atas kegagalan induksi dan menempatkan klien sebagai penyebab kegagalan. Kedua, kegagalan dalam melakukan induksi, bila terus berulang, mengakibatkan hipnoterapis kehilangan rasa percaya diri dan akhirnya berhenti menjadi hipnoterapis. Biasanya hanya dibutuhkan antara lima hingga sepuluh kegagalan induksi untuk membuat hipnoterapis pemula berhenti praktik hipnoterapi. Ini belum termasuk kegagalan mereka dalam melakukan terapi. Hipnoterapis, umumnya, sangat menghindari klien-klien bersugestibilitas emosi dan, terutama, intelektual karena, menurut mereka, tidak bisa dihipnosis.
Salah satu upaya untuk mengatasi kendala menginduksi klien yang sulit, klien bersugestibilitas emosi dan intelektual, hipnoterapis memilih menggunakan induksi kejut (shock induction). Induksi kejut merupakan varian dari heterohipnosis, dan sesuai namanya, adalah induksi yang dilakukan dengan memberi kejutan, terutama melalui fisik, sehingga klien kaget, dan diikuti dengan pemberian sugesti dalam bentuk perintah yang tegas dan keras oleh hipnoterapis kepada pikiran bawah sadar (PBS) klien untuk masuk kondisi hipnosis.
Induksi ini memanfaatkan menurunnya, secara tiba-tiba, fungsi kritis analitis pikiran sadar akibat kejutan yang dialami klien, yang berlangsung sekitar 0,5 - 3/4 detik, dan pada saat inilah hipnoterapis memberi perintah ke PBS untuk "tidur". Induksi kejut sulit membawa klien bersugestibilitas emosi dan intelektual untuk masuk kondisi hipnosis.
Uji sugestibilitas dan induksi kejut, menurut hemat saya, lebih tepat digunakan untuk hipnosis hiburan (stage hypnosis) dan tidak untuk hipnoterapi karena alasan berikut:
1. Uji sugestibilitas bukan indikator kemampuan individu masuk kondisi hipnosis. Faktor utama yang memengaruhi kemampuan dan kecepatan klien tipe apa saja, baik itu bersugestibilitas fisik, emosi, atau intelektual untuk masuk kondisi hipnosis adalah rasa aman, kesediaan (readiness) dan kesiapan (willingness) klien untuk menjalani terapi. Dengan kata lain, kemampuan klien masuk kondisi hipnosis berbanding lurus dengan motivasinya. Teknik induksi hanyalah alat bantu, bukan yang utama.
Ekstraksi pengalaman klinis para hipnoterapis AWGI dan anggota AHKI (Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia) menyatakan bahwa klien akan masuk (kondisi hipnosis) sedalam yang ia butuhkan untuk menyelesaikan masalahnya dan bertahan sedangkal mungkin untuk menjaga keselamatannya.
2. Induksi kejut bersifat agresif dan mendominasi, dan harus dipraktikkan dengan hati-hati sekali. Hipnoterapis yang akan menggunakan induksi kejut, di ruang praktik, harus benar-benar cakap dan terampil guna menghindari cidera fisik pada klien.
Induksi kejut tidak tepat bila digunakan pada klien dengan otoritas lebih tinggi daripada terapis. Induksi kejut juga tidak tepat digunakan pada klien yang memiliki masalah dengan figur otoritas, karena klien bisa merasa tidak nyaman dan merasa terintimidasi. Hipnoterapis wanita umumnya tidak nyaman menggunakan induksi kejut karena menilainya sebagai terlalu agresif dan bertentangan dengan kepribadian mereka.
Kondisi hipnosis per se tidak bersifat terapeutik. Kondisi hipnosis hanya faktor pendukung yang memfasilitasi akses ke pikiran bawah sadar. Hipnoterapis kompeten dinilai dari hasil terapi yang ia lakukan, bukan dari kemampuannya melakukan uji sugestibilitas dan induksi.
Di Indonesia, dalam konteks praktik hipnoterapi profesional, sejatinya hanya ada dua tipe praktisi: hipnoterapis dan hipnoterapis klinis. Yang dimaksud dengan hipnoterapis adalah mereka yang dalam praktik hipnoterapinya lebih mengandalkan sugesti untuk mencapai tujuan terapeutik, tanpa memroses akar masalah penyebab simtom. Sementara hipnoterapis klinis adalah praktisi hipnoterapi yang mengutamakan pencarian akar masalah penyebab simtom, menggunakan teknik hipnoanalisis, dan memroses tuntas akar masalah ini. Sementara yang dimaksud dengan profesional adalah memiliki kompetensi atau keterampilan tinggi, sebagai seorang profesional di bidang kerjanya, bukan amatir.
Kedua pendekatan ini, hipnoterapi berbasis sugesti dan hipnoterapi berbasis hipnoanalisis, memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Untuk bisa menjadi hipnoterapis dan hipnoterapis klinis kompeten, mampu membantu klien mengatasi masalah, butuh pendidikan dan pelatihan dengan standar kompetensi yang jelas, kurikulum yang sesuai dengan tujuan pelatihan, dan tentu pengajar yang adalah praktisi aktif, berpengalaman, cakap, dan bimbingan berkelanjutan.
Wawancara
Dari berbagai sumber yang sempat diwawancarai, baik hipnoterapis maupun klien hipnoterapi, langkah terapi yang dilakukan hipnoterapis adalah sebagai berikut:
Artikel ini ditulis dengan tujuan edukasi publik dan memberi pemahaman yang benar terkait proses dan teknik terapi, khususnya penanganan masalah perilaku dan emosi.
Saya pernah menulis artikel membahas teknik terapi yang diklaim sangat efektif dan sangat cepat menyembuhkan masalah klien. Saking cepatnya, pengajar atau terapisnya, dalam publikasinya, mengatakan bahwa teknik terapinya mampu menyembuhkan klien hanya dalam sekejap atau sekedipan mata, adalah teknik pamungkas, lebih dahsyat daripada teknik terapi apapun yang pernah ada, termasuk hipnoterapi. Wow... sungguh hebat dan dahsyat. Namun, apakah benar seperti ini realitanya?
Sejatinya, penanganan masalah perilaku dan emosi hanya terbagi menjadi dua: menggunakan obat dan tanpa obat. Terapi menggunakan obat atau dikenal dengan farmakoterapi hanya boleh dilakukan oleh dokter atau psikiater.
Terapi tanpa obat dilakukan dengan berbagai cara atau pendekatan, dan terbagi menjadi dua: tanpa memroses akar masalah dan memroses akar masalah.
Teknik Terapi Tanpa Memroses Akar Masalah
Ada sangat banyak cara atau teknik yang digunakan dalam upaya mengatasi masalah tanpa perlu memroses akar masalah, antara lain: doa, konseling, meditasi konsentrasi, rileksasi, curhat, pemberian sugesti, hipnoterapi berbasis sugesti, pengalihan, menekan/represi, kelompok pendukung (support group), ikhlas dan pasrah, meningkatkan kesadaran diri, teknik-teknik berbasis metafora, mengalami abreaksi, terapi berbasis energi, atau teknik berbasis supranatural.
Demikian pula pendekatan terapi dalam psikoterapi seperti terapi kognitif perilaku atau CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang bertujuan membantu melatih cara berpikir atau fungsi kognitif dan cara bertindak (behavior) seseorang dalam mengatasi masalahnya.
Teknik-teknik dalam NLP (neurolinguistic programming) juga tidak memroses akar masalah, yang dalam terminologi NLP disebut bebas konten (content-free), antara lain swish pattern, visual squash, reverse trigger, pengubahan submodalitas (submodality change), fast phobia cure, collapsing anchor, dan six step reframming, dan yang lain.
Teknik Terapi Memroses Akar Masalah
Salah satu modalitas terapi yang secara khusus mengatasi masalah perilaku dan emosi dengan memroses akar masalah adalah hipnoterapi berbasis hipnoanalisis. Hipnoterapi ini membutuhkan waktu antara 2 - 4 jam untuk satu sesi terapi.
Proses hipnoterapi ini selalu diawali dengan wawancara mendalam yang dilakukan terapis pada klien, dilanjutkan dengan menuntun klien masuk ke kedalaman hipnosis tertentu, melakukan pencarian akar masalah, memroses tuntas akar masalah, melakukan uji hasil terapi, pengecekan final, dan pengakhiran terapi.
Ukuran Keefektifan
Terlepas dari apapun pendekatan, cara, strategi, atau teknik dan lama waktu yang dibutuhkan untuk menerapi, yang sudah tentu semua bertujuan baik adanya, satu hal paling penting adalah soal keefektifan.
Teknik terapi dinyatakan efektif bila minimal memenuhi dua syarat berikut:
1. Hasil terapi bersifat segera. Klien langsung dapat merasakan perubahan positif dalam dirinya pascaterapi. Perubahan ini tidak berarti, walau tentu akan sangat baik bila, masalah klien berhasil disembuhkan tuntas hanya dalam satu sesi. Yang penting adalah klien mengalami perubahan positif signifikan.
2. Perubahan positif ini tidak bersifat sementara (temporer) namun stabil dan bertahan dalam waktu lama. Kestabilan ini hanya diketahui dengan terapis melakukan tindak-lanjut (follow up) menanyakan perkembangan klien dalam rentang waktu satu minggu, dua minggu, dan satu bulan pascaterapi.
Teknik Terapi Abal-Abal
Saya banyak menemukan klaim dari terapis atau pengajar, baik di seminar, workshop, atau di flyer yang menyatakan bahwa teknik yang mereka ajarkan dapat langsung menyembuhkan klien, saat itu juga.
Klaim ini perlu disikapi dengan pikiran terbuka dan tetap kritis. Bila memang apa yang dinyatakan oleh terapis atau pengajar ini adalah hal yang benar maka kita sangat perlu belajar tekniknya karena sangat bermanfaat.
Di sisi lain, kita perlu bersikap kritis dengan menanyakan beberapa hal berikut:
1. Apa saja kasus yang telah berhasil ia tangani dan sembuhkan menggunakan teknik ini? Ini bisa juga kita cek dengan memantau media sosial atau situs resminya.
2. Berapa persen tingkat keberhasilannya?
3. Apakah ia melakukan tindak-lanjut dengan mengecek perkembangan klien pascaterapi?
4. Bila ya, berapa lama kesembuhan yang terjadi pada klien bisa bertahan?
5. Apakah ia bersedia mendemonstrasikan keefektifan teknik terapinya dengan melakukan live therapy menangani klien di depan kelas, dan berani memberi jaminan bahwa klien ini pasti bisa ia sembuhkan?
Bila terapis atau pengajar hanya mengklaim tekniknya efektif berdasar kasus klien yang ia tangani, saat demo atau praktik di depan kelas, maka ini tidak valid.
Mengapa tidak valid? Saya akan terangkan dari perspektif teori Ego Personality. Manusia bukan entitas tunggal. Di dalam diri kita ada Bagian Diri atau Ego Personality (EP) yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing.
Saat klien bermasalah, ini tidak berarti semua dirinya bermasalah. Klien bermasalah karena ada EP bermasalah, aktif mengendalikan diri klien.
Saat klien diminta maju ke depan kelas untuk demo, bisa jadi EP bermasalah ini mundur ke latar belakang, tidak aktif. Bila ini yang terjadi, klien seolah sembuh. Apakah ini karena teknik terapi yang digunakan oleh terapis atau pengajar? Jawabannya, may... may be yes... may be no. Bisa juga klien pura-pura sembuh karena kasihan pada terapis, agar tidak malu karena gagal menerapi dirinya di depan kelas.
Bila klien "sembuh" karena terjadi pergeseran EP, saat ia diterapi di depan kelas, maka saat klien kembali ke rumah, EP ini pasti akan aktif lagi dan masalah klien kembali muncul.
Dengan demikian, satu-satunya cara untuk memastikan bahwa klien benar telah sembuh adalah dengan menggunakan waktu sebagai alat ujinya, untuk mengukur dan menentukan tingkat kestabilan kesembuhan pascaterapi. Dan ini sangat jarang ditanyakan peserta pelatihan kepada pengajar.
Beberapa waktu lalu saya dihubungi hipnoterapis Singapore yang mengaku bisa menyembuhkan klien-kliennya yang sudah kritis, di rumah sakit, karena sakit berat seperti kanker. Hebatnya, ia mengklaim hanya butuh satu sesi untuk menyembuhkan klien-kliennya.
Ia juga mengklaim bisa menyembukan beragam penyakit yang secara medis sangat sulit atau tidak bisa disembuhkan, menggunakan hipnoterapi. Bagian Diri saya yang pembelajar tentu sangat antusias mendapat kabar luar biasa ini. Saya sangat haus ilmu. Bila benar ia mampu melakukan yang ia sampaikan pada saya, saya tidak segan berangkat ke Singapore untuk berguru dan belajar padanya, walau dengan investasi yang sangat tinggi sekalipun.
Namun, Bagian Diri saya yang akademisi dan ilmuwan, tetap mengutamakan pemikiran kritis dan logis. Saya bertanya tentang landasan teori dari teknik yang ia gunakan, bagaimana ia melakukan hipnoterapinya, tingkat keberhasilannya. Sayangnya, ia tidak bisa memberi saya jawaban yang memuaskan.
Bila ia tidak bisa menjelaskan landasan teorinya, saya masih bisa maklum. Tidak semua fenomena bisa dijelaskan segera karena kurangnya penelitian di bidang ini atau belum ada teori yang sahih. Saya lebih mementingkan bukti empiris.
Namun saat saya minta bukti hasil pemeriksaaan laboratorium yang klien-kliennya jalani sebelum dan sesudah terapi, ia sama sekali tidak bisa memberi satupun data yang saya minta.
Teknik terapi yang tidak berhasil melewati dua syarat minimal di atas, menurut hemat saya, adalah teknik terapi abal-abal.
Terapi dan penanganan masalah perilaku dan emosi, menggunakan pendekatan psikologis, sejatinya hanya terbagi menjadi dua: tanpa memroses akar masalah dan memroses akar masalah.
Pendekatan terapi tanpa memroses akar masalah, dilakukan antara lain dengan pemberian sugesti, teknik berbasis metafora, teknik-teknik NLP (neurolinguistic programming), konseling, berbagai pendekatan dalam psikoterapi (Wedding dan Corsini, 2014) seperti psikoanalisis, psikoterapi Alderian, Rogerian, terapi perilaku emotif rasional, terapi perilaku, terapi kognitif, psikoterapi eksistensial, terapi Gestalt, psikoterapi interpersonal, terapi keluarga, dan psikoterapi positif.
Terapi perilaku dan emosi dengan memroses akar masalah dilakukan dalam hipnoterapi, menggunakan teknik yang sesuai, diawali dengan upaya mencari dan menemukan akar masalah, salah satunya dengan teknik regresi. Ada banyak teknik regresi dalam hipnoterapi. Semua bertujuan menuntun klien mundur, menyusuri garis waktu di dalam pikirannya, untuk mencapai akar masalah. Teknik-teknik regresi ini dikelompokkan menjadi dua, berbasis afek dan nonafek.
Teknik regresi berbasis nonafek antara lain teknik “Buku Kehidupan”, “Layar Komputer”, “Perahu Kehidupan”, “Karpet Ajaib”, “Terowongan Waktu”, “Kalender”, “Bola Kristal”, “Kotak Masalah”, “Ideomotor Magic”, dan masih banyak lagi. Intinya, teknik ini tidak menggunakan afek atau emosi sebagai bahan bakar yang mendorong klien begerak mundur ke masa lalunya.
Teknik regresi berbasis afek atau dikenal dengan jembatan afek (affect bridge) adalah prosedur hipnotik yang digunakan untuk melacak dan menemukan awal mula kejadian yang memunculkan emosi yang dirasakan di masa kini. Jembatan afek didasarkan pada fakta psikologis bahwa emosi atau perasaan dapat mengaktifkan, mengarahkan, atau meningkatkan daya ingat ( Watkins, 1971;Watkins & Barabasz, 2008; Yapko, 2012)
Bagaimana Melakukan Regresi Affect Bridge?
Dalam regresi affect bridge, klien dituntun mundur, dari waktu kini ke kejadian di masa lalu, menggunakan afek sebagai bahan bakar regresi. Caranya, afek di masa kini, yang dirasakan klien dan berhubungan dengan masalah, ditingkat intensitasnya dan semua aspek dari pengalamannya secara hipnotik dihapus. Klien selanjutnya diminta mundur, ke pengalaman paling awal saat afek ini muncul atau tercipta untuk pertama kali dalam hidupnya, dan dilanjut dengan revivifikasi spontan.
Klien bergerak mundur menyusuri garis waktu dan mendarat di satu peristiwa masa lalu. Di sini terapis meminta klien menceritakan apa yang terjadi dan apa yang klien rasakan. Selanjutnya terapis melakukan validasi untuk mengungkap apakah benar kejadian ini adalah kejadian paling awal atau ISE (initial sensitizing event), atau kejadian lanjutan atau SSE (subsequent sensitizing event). Bila ternyata kejadian ini adalah ISE maka proses regresi berakhir di sini. Namun bila kejadian ini bukan ISE, tapi SSE, maka regresi dilanjutkan menggunakan afek yang muncul pada kejadian ini, hingga mencapai ISE.
Saat mencapai ISE, terapis membantu klien melakukan rekonstruksi kejadian ini, dengan tujuan membantu klien mendapat pemahaman baru dan pembelajaran. Akhir dari proses ini adalah terjadinya pengalaman emosional korektif (corrective emotional experience) pada diri klien.
Pada satu kejadian biasanya klien mengalami lebih dari satu afek. Di sini sangat dibutuhkan kejelian terapis dalam menentukan emosi atau afek yang digunakan sebagai bahan bakar regresi lanjutan. Kekeliruan dalam menentukan afek mengakibatkan regresi yang menyimpang dari jalur seharusnya untuk mencapai ISE.
Berdasar prosedur validasi akar masalah, dalam regresi affect bridge, terdapat dua kelompok hipnoterapis. Pertama, hipnoterapis yang langsung menerima bahwa kejadian yang terungkap melalui regresi sebagai akar masalah, tanpa melakukan validasi (single affect bridge regression). Dan kedua, hipnoterapis yang melakukan validasi untuk memastikan bahwa hasil regresi adalah benar kejadian paling awal atau initial sensitizing event (ISE). Bila melalui proses validasi diketahui bahwa kejadian yang terungkap bukan ISE, melainkan subsequent sensitizing event (SSE), terapis akan mengulang regresi hingga berhasil menemukan ISE (serial-affect bridge regression) (Gunawan, 2017). Dalam praktik klinis, agak langka dijumpai dalam sekali regresi langsung berhasil ditemukan ISE. Biasanya, ISE dicapai melalui satu atau beberapa SSE. Para hipnoterapis Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI) menamakan proses sekali regresi langsung menemukan akar masalah sebagai jackpot.
Dalam praktik hipnoterapinya, para hipnoterapis AWGI menggunakan serial affect bridge regression, dan menemukan hal penting yang tidak dialami atau ditemukan oleh para hipnoterapis yang mempraktikkan single affect bridge regression atau yang hanya mengandalkan sugesti sebagai teknik intervensinya.
Proses menuju akar masalah, dalam regresi affect bridge, selalu melalui salah satu dari tiga cara: regresi tunggal afek tunggal (single regression single affect), regresi serial afek tunggal (serial regression single affect), dan regresi serial afek serial (serial regression serial affect).
Yang dimaksud dengan “regresi tunggal afek tunggal” adalah hanya ada satu regresi dengan satu afek dan langsung berhasil mencapai kejadian paling awal. Yang dimaksud “regresi serial afek tunggal” adalah terdapat lebih dari satu regresi, dimulai dengan regresi awal (initial regression) dengan afek tertentu, dan satu atau beberapa regresi lanjutan (subsequent regression) menggunakan afek yang sama atau serupa dengan afek pada regresi awal, hingga mencapai kejadian paling awal.
Yang dimaksud dengan “regresi serial afek serial” adalah terdapat lebih dari satu regresi, dimulai dengan regresi awal (initial regression) dengan afek tertentu, dan satu atau beberapa regresi lanjutan (subsequent regression), di mana minimal terjadi satu regresi lanjutan dengan afek yang berbeda dengan afek pada regresi awal, hingga mencapai kejadian paling awal.
Penelisikan lebih dalam pada tiga tipe regresi ini menunjukkan bahwa walau terdapat perbedaan afek yang mendasari regresi awal dan regresi lanjutan, proses regresi, bila dilakukan dengan tepat, akhirnya pasti berakhir pada kejadian paling awal yang menjadi asal muasal simtom yang klien alami.
Hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti bagaimana tepatnya mekanisme di pikiran bawah sadar dalam menentukan jumlah kejadian yang menjadi penyebab munculnya simtom. Dari pengalaman praktik para hipnoterapis AWGI, dijumpai bahwa ada klien yang hanya dengan sekali regresi affect bridge bisa langsung mencapai kejadian paling awal atau akar masalah. Namun yang lebih sering terjadi adalah dibutuhkan beberapa regresi affect bridge untuk mencapai kejadian paling awal.
Hal lain yang juga ditemukan, namun juga belum dapat diketahui dengan pasti adalah bagaimana pikiran bawah sadar menentukan hanya dibutuhkan kejadian tunggal (sufficient condition) sebagai akar masalah, dan bagaimana pikiran bawah sadar menentukan dan menautkan beberapa kejadian (necessary condition) sehingga menjadi rangkaian kejadian penyebab munculnya simtom.
Terlepas dari mekanisme di atas, yang masih perlu ditelisik lebih jauh, dan ini adalah bagian dari penelitian yang terus dilakukan secara kolektif oleh para hipnoterapis AWGI dan anggota AHKI (Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia), satu hal yang sudah pasti adalah terdapat koridor regresi di pikiran bawah sadar yang menghubungkan masa kini dan masa lalu, berujung pada kejadian paling awal yang menjadi akar masalah.
Dua hari lalu di Jakarta saya membawakan seminar Maximum Achievement with Mind Technology untuk sekitar 350an penyelia dari perusahaan publik yang saat ini sedang melakukan ekspansi masif, buka sembilan supermarket baru di berbagai kota di Indonesia.
Sebelumnya, target mereka adalah buka lima supermarket baru per tahun. Khusus untuk tahun ini, target dinaikkan menjadi sembilan, hampir dua kali lipat.
Pihak manajemen mengakui bahwa kenaikan target ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi tim mereka. Saya diundang hadir untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, motivasi, inspirasi, dan pola pikir yang memberdayakan para penyelia sehingga dapat mencapai target dengan sebaiknya.
Saya membawakan materi Maximum Achievement with Mind Technology mulai pukul 09.00 hingga 12.30. Semua peserta sangat antusias mengikut paparan materi. Bahkan ada yang protes karena merasa materinya terlalu cepat selesai, padahal saya bicara hampir empat jam nonstop.
Saat makan siang, saya sampaikan ke pihak manajemen bahwa seminar 4 jam ini adalah langkah awal. Untuk bisa memberikan pengaruh maksimal, perubahan mindset, peningkatan kinerja yang berkelanjutan, staf mereka perlu mengikuti workshop Maximum Achievement with Mind Technology yang berlangsung 3 malam 4 hari. Dan pihak manajemen setuju dengan saran saya. Mereka akan aturkan waktu untuk menyelenggarakan workshop ini.
Apa saja yang saya sampaikan di seminar 4 jam ini? Sangat banyak. Inti dari paparan saya dapat dinyatakan dalam formula berikut:
Kinerja = (Motivasi X Kompetensi)/Hambatan
Dari rumus di atas, tampak jelas bahwa untuk mencapai kinerja tinggi, butuh motivasi dan kompetensi tinggi dari para karyawan. Ada banyak cara meningkatkan motivasi dan kompetensi. Walau dua komponen ini berhasil dimaksimalkan, kinerja tidak serta merta meningkat. Masih ada satu faktor lagi yang sangat berpengaruh, hambatan.
Saat motivasi dan kompetensi tinggi, namun hambatan besar atau sangat besar, maka kinerja, mengikuti formula di atas, otomatis menjadi rendah. Sebaliknya, bila motivasi dan kompetensi tinggi, sementara hambatan rendah atau tidak ada, maka kinerja menjadi sangat tinggi.
Ada dua jenis hambatan: eksternal dan internal. Umumnya perusahaan fokus pada hambatan eksternal, seperti kompetitor, regulasi, atau kondisi pasar, karena ini paling mudah diamati. Yang paling sulit dan sesungguhnya paling besar dan masif pengaruhnya adalah hambatan internal, hambatan dalam diri staf atau karyawan yang sering tidak disadari atau diketahui.
Saat menunggu waktu panggilan masuk ke pesawat, di terminal 3 bandara Soetta, dalam perjalanan balik ke Surabaya, saya disapa oleh seseorang, “Halo Pak Adi. Masih ingat saya?” “Tentu ingat…Cokro,” jawab saya.
Cokro adalah kawan lama dan leader asuransi terkemuka di Indonesia. Kami hampir sepuluh tahun tak jumpa. Setelah bertegur saya, Cokro tanya yang saya lakukan di Jakarta, dan saya jelaskan bahwa saya baru selesai beri seminar di satu perusahaan. Diskusi berlanjut di dalam pesawat. Cokro kebetulan dapat kursi di samping saya.
Hambatan Internal
Sebagai seorang leader asuransi Cokro sepenuhnya sadar akan kendala yang biasa dialami para agen asuransinya. Banyak yang walau telah berusaha keras, tetap tidak bisa produksi atau berhasil closing. Para agen ini tentu telah dibekali berbagai pengetahuan tentang produk, cara presentasi, mengatasi dan menjawab penolakan, teknik komunikasi, mengenal kepribadian dan kecenderungan calon nasabah, dan masih banyak pengetahuan lainnya. Namun, walau telah memiliki semua yang dibutuhkan, tetap sangat banyak agen gagal dan tidak bisa mencapai target. Banyak yang akhirnya mengalami “muntaber” atau mundur tanpa berita. Ada juga yang mengalami “tetanus” atau tetap aktif tanpa bonus.
Cokro bertanya pada saya apa yang sebenarnya terjadi pada para agen, yang menghambat mereka sukses mencapai target, dari persepektif ilmu pikiran.
Saya jelaskan pada Cokro bahwa sejatinya semua orang ingin sukses. Namun yang menghambat mereka, dari pengalaman saya sebagai praktisi teknologi pikiran sejak tahun 2005 hingga saat ini, adalah hambatan internal atau yang disebut blocking. Ada dua jenis blocking: mental block dan emotional block. Blocking ini bisa terjadi pada target dan atau strategi.
Untuk lebih memperjelas maksud saya, saya memberi contoh yang terjadi di dunia asuransi. Contoh ini juga berlaku di bidang usaha lain, karena sebenarnya secara prinsip, sama.
Di awal tahun, setiap perusahaan pasti menetapkan target yang akan dicapai. Dan untuk mencapai target ini, ada serangkaian kegiatan yang perlu dilakukan oleh staf atau karyawan. Saya menyebutnya sebagai strategi. Jadi, ada target dan strategi.
Biasanya, saat target dinaikkan, karyawan merasa kurang nyaman, namun mereka tentu tidak berani mengutarakan hal ini pada pihak manajemen. Perasaan tidak nyaman ini bisa karena mereka tidak mau keluar dari zona nyaman atau bisa juga karena mereka memang merasa targetnya tidak realistis, menurut mereka, sehingga merasa sangat berat atau mustahil dicapai.
Dalam dunia asuransi, agen menetapkan target yang akan dicapai, misal omzet sekian banyak per tahun. Setelahnya, tentu mereka perlu melakukan aktivitas untuk bisa mencapai target ini, yaitu: buat daftar nama, menghubungi calon nasabah, melakukan presentasi, melakukan closing, dan minta referensi.
Untuk mengetahui apakah ada blocking pada target atau strategi, bisa dilakukan dengan mudah. Caranya, saya minta agen atau karyawan tutup mata dan membayangkan target, dan tanya bagaimana perasaan mereka. Bila mereka merasa nyaman, ini artinya tidak ada hambatan internal atau blocking. Namun, bila mereka merasa tidak nyaman, ini tandanya ada penolakan dari dalam diri mereka, ada blocking.
Perasaan tidak nyaman ini adalah indikator blocking dan dinyatakan dengan skala 0 hingga 10, di mana 0 berarti sama sekali tidak ada hambatan dan 10 adalah hambatan maksimal.
Demikian pula untuk mengetahui hambatan pada strategi. Saya minta mereka membayangkan melakukan aktivitas, misalnya membuat daftar nama, menelpon calon nasabah, melakukan presentasi, dan seterusnya. Pada setiap aktivitas ini saya akan memeriksa dan minta karyawan melaporkan perasaan mereka, nyaman atau tidak. Bila nyaman, berarti tidak ada hambatan. Bila tidak nyaman, ini artinya ada hambatan.
Sumber Hambatan Internal
Manusia punya dua pikiran, sadar dan bawah sadar. Perbandingan kekuatan pengaruh pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS) terhadap individu adalah 1 : 99.
Hambatan internal adalah program pikiran yang ada di PBS. Dengan demikian, saat PS ingin mencapai target dan PBS menolak target ini, apapun yang individu lakukan tidak akan bisa berhasil, karena kekuatan PBS adalah 99x lebih kuat dari PS.
Program pikiran yang menghambat terbentuk dari proses tumbuh kembang saat individu berusia 0 hingga 10 tahun, melalui interaksi dengan lingkungan.
Begitu program pikiran terbentuk dan tersimpan di PBS, ia akan terus berada di PBS hingga digantikan dengan program baru. Semua program bekerja di di bawah sadar. Dengan demikian, sangatlah sulit untuk bisa menyadari keberadaannya dan menggantinya dengan program yang mendukung pencapaian target atau kinerja.
Mengatasi Hambatan Internal
Perusahaan rutin menyelenggarakan pelatihan untuk memotivasi dan meningkatkan kompetensi karyawan. Umumnya perusahaan mengundang atau menggunakan jasa pembicara, baik dari perusahaan sendiri atau mengundang pembicara luar.
Ada dua format pelatihan yang biasa dibawakan pembicara: seminar dan workshop. Seminar biasanya berdurasi antara satu hingga tiga jam. Sementara workshop, lebih lama, bisa antara satu hingga beberapa hari.
Apapun materi yang disampaikan pembicara, mereka selalu terbagi dalam dua kelompok. Pertama, pembicara yang mengajarkan perubahan berdasar kekuatan kehendak (will power) atau pikiran sadar, dan kedua, yang mengajarkan perubahan melalui proses pemberdayaan pikiran bawah sadar. Masing-masing pendekatan memiliki keunggulan dan keterbatasan.
Pembicara yang mengajarkan perubahan berbasis pikiran sadar biasanya membawakan materi dengan semangat tinggi, berapi-api, dan karyawan dimotivasi sehingga menjadi bersemangat. Perubahan yang terjadi, menurut banyak pimpinan perusahaan yang saya jumpai, hanya bertahan satu atau dua hari. Setelahnya, karyawan kembali ke pola lama.
Ada juga yang menggunakan outbound, berjalan di atas api, berjalan di atas pecahan kaca, menggunakan pendekatan pain (sakit) dan pleasure (rasa senang) di mana setiap peserta menggunakan karet gelang yang ditarik dengan sangat keras dan menjepret tangan mereka sendiri dengan tujuan menghilangkan blocking.
Pendekatan-pendekatan di atas, dari pengalaman selama ini, benar bisa menghasilkan perubahan dalam diri karyawan namun sifatnya temporer, tidak bertahan lama.
Perubahan baru bisa terjadi dengan sangat cepat dan bertahan lama (sustainable) bila perubahan dilakukan langsung di pikiran bawah sadar. Tidak banyak pembicara yang mampu melakukan hal ini karena untuk bisa melakukannya, butuh keahlian, kompetensi sangat tinggi dan spesifik. Saya kenal bebeberapa rekan pembicara dengan kompetensi ini. Namun, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari.
Saya menyelenggarakan workshop Maximum Achievement with Mind Technology bagi karyawan, untuk meningkatkan kinerja, melalui pemberdayaan pikiran bawah sadar. Workshop ini sangat intens, berbasis terapi, berlangsung tiga malam empat hari. Peserta belajar tentang cara kerja pikiran, berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar, cara menemukan program yang menghambat diri mereka, menggantinya dengan program yang mendukung pencapaian target, berpikir dan merasakan emosi positif, kerjasama tim pada level vibrasi, dan masih banyak lagi.
Dan yang paling penting, mereka membawa pulang teknik pemberdayaan diri yang dapat mereka lakukan sendiri pascapelatihan. Dengan demikian, perubahan yang dicapai bersifat jangka panjang.
Bulan Agustus 2018 lalu, salah satu perusahaan bisnis jaringan, minta saya menyelenggarakan satu kelas khusus untuk para distributor mereka, berjumlah 84 orang.
Selama tiga malam empat hari saya mengajari pengetahuan, teknik, inspirasi, dan masih banyak lagi kepada para peserta. Hasilnya? Sangat luar biasa.
Dari salah satu pimpinan perusahaan ini, saya mendapat informasi bahwa, pascapelatihan, omzet bisnis khusus kelompok ini mengalami peningkatan sangat signifikan. Dan ini terus bertahan hingga akhir tahun 2018. Kelompok ini mencatatkan pertumbuhan bisnis dan juga pembagian bonus jauh di atas kelompok lain, yang belum ikut pelatihan. Melihat hasil yang sangat positif ini, perusahaan merekomendasi anggota mereka lainnya untuk ikut pelatihan ini.
Mengapa bisa terjadi capaian seperti ini?
Hambatan internal ternyata berkorelasi langsung dan berbanding terbalik dengan motivasi. Semakin besar hambatan internal, semakin kecil motivasi. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil hambatan internal, semakin besar motivasi. Dengan demikian, saat variabel hambatan internal berhasil diminimalisir dengan teknik yang tepat, motivasi meningkat, dan berakibat kinerja meningkat signifikan.
Sahabat saya, pimpinan kantor cabang pembantu satu bank swasta nasional, menerapkan prinsip yang saya jelaskan di atas dan berhasil mencapai target yang diberikan kantor pusat dengan mudah.
Setiap tahun kantornya pasti berhasil mencapai dan bahkan melebihi target yang diberikan kantor pusat. Tahun lalu, saat ia diberi target untuk menyalurkan kredit pemilikan rumah sebesar 45 miliar dan kredit kendaran bermotor sebesar 8 miliar. Target yang berhasil dicapainya, KPR sebesar 112 miliar dan KKB sebesar 17 miliar.
KCP yang ia pimpin adalah kelas B. Namun, berkat capaian yang sangat tinggi ini, ia minta ke kantor pusat untuk menaikkan status KCP-nya menjadi kelas A, dan disetujui. Tentu ini berimbas pula pada bonus kinerja yang diterimanya dan juga para stafnya.