The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
“There is no coincidence” begitu kata Master Oogway dalam film Kungfu Panda. Sejak masih di Berkeley, saat belajar ke Anna Wise minggu lalu, sesi private workshop yang kedua, hingga saat kepulangan saya ke Indonesia, saya mendapat beberapa pertanyaan khususnya dari rekan-rekan praktisi, pemerhati, dan pecinta teknologi pikiran yang dikirim ke saya melalui baik sms maupun email. Pertanyaan yang mereka ajukan kepada saya ternyata sama yaitu mereka menanyakan mengenai kedalaman trance yang dikenal dengan Ultra Depth.
Pertanyaan yang mereka ajukan antara lain, “Apakah level Ultra Depth itu?”, “Siapa yang menemukan level ini?”, “Bagaimana cara mempelajarinya?”, “Apa bukti ilmiah yang membuktikan bahwa level Ultra Depth adalah level paling dalam yang bisa dicapai manusia?”, “Bisakah tekniknya dilakukan secara masal?”, “Bisakah masuk ke Ultra Depth seorang diri?”
Saya tidak tahu apa yang menjadi pemicu sehingga tiba-tiba ada beberapa orang yang sangat tertarik untuk lebih memahami level kedalaman trance, yang konon, adalah level terdalam yang bisa dicapai manusia, berdasar riset yang dilakukan Walter Sichort. Saat ini James Ramey, salah satu murid Sichort, dipercaya untuk meneruskan penelitian, pengembangan, dan mengajarkan Ultra Depth Process, yaitu teknik spesifik untuk bisa mencapai level kedalaman Ultra Depth atau yang sekarang lebih dikenal dengan level Sichort.
Apa sih sebenarnya Ultra Depth itu? Bagaimana cara untuk bisa masuk ke kedalaman ini? Apa manfaatnya? Apakah ini sama dengan kondisi hipnosis?
Pertanyaan ini juga yang dulu berkecamuk di benak saya saat pertama kali membaca mengenai level Sichort. Sebagai seseorang yang sangat passionate dengan dunia pikiran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan fenomena pikiran sudah tentu saya tidak akan membiarkan informasi ini lewat begitu saja.
Akhirnya saya menghubungi James Ramey di Amerika dan dimulailah perjalanan mendalami dan mempelajari teknik yang dikenal dengan Ultra Depth Process.
Butuh waktu yang tidak sedikit untuk benar-benar mengerti dan menguasai prosedurnya. Untungnya saya adalah seorang praktisi dan juga pengajar hipnoterapi. Saya sangat terbantu karena telah mempunyai dasar pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman mengenai prosedur teknis untuk membimbing klien masuk ke kondisi very deep trance atau profound somnambulism.
Untuk memahami level Sichort, kita perlu memahami level kedalaman trance. Ada banyak skala kedalaman trance yang digunakan dalam dunia hipnoterapi. Skala itu diciptakan oleh pakar yang berbeda.
Skala trance ini terdiri atas dua komponen yaitu depth (kedalaman) dan objective symptoms. Depth umumnya terdiri atas 5 hingga 8 level; insusceptible, hypnoidal, light trance, medium trance, artificial somnambulism, deep or somnambulistic trance, coma or plenary state, dan hypnosleep. Sedangkan objective symptoms yang merupakan sublevel dari depth bisa mencapai antara 30 hingga 50. Ini adalah fenomena fisik dan pikiran yang bisa muncul atau dimunculkan pada depth tertentu.
Umumnya kita mengenal Davis-Husband Scale, Le Cron-Bordeuaux Scale, Heron Depth Scale, Arons Master Depth Rule, Hartman Depth Scale, dan Kappas Scale.
Agar tidak bingung maka saya akan menjelaskan kedalaman trance menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Untuk mudahnya begini. Kita tentukan dulu dua level yang menjadi batas atas dan bawah. Batas atas adalah kondisi saat kita sadar, kondisi saat kita berpikir dan fokus. Kita sadar sesadar-sadarnya apa yang kita rasakan, lakukan, alami, atau pikirkan. Batas ini dikenal dengan nama normal waking consciousness atau kesadaran bangun normal. Sedangkan yang menjadi batas bawah adalah kondisi saat kita “tidak sadar” atau saat kita tidur.
Di antara batas atas dan bawah terdapat begitu banyak level kesadaran “khusus” yang dikenal sebagai “altered state of consciousness” (ASC). ASC terdapat tidak hanya di antara dua batas ini tapi juga terdapat di bawah batas bawah dan juga di atas batas atas.
Salah satu skala kedalaman trance yang cukup populer dalam dunia hipnoterapi adalah skala Elman. Elman membagi kedalaman trance menjadi: light trance, medium trance, somnambulism, Esdaile, dan hypnosleep. Masih menurut Elman, 2 level pertama yaitu light dan medium trance adalah level yang sama sekali tidak bermanfaat untuk terapi. Terapi hanya bisa dilakukan efektif pada level somnambulism. Sedangkan level Esdaile dan hypnosleep mempunyai manfaat terapeutik yang agak berbeda.
Skala lain yang awalnya diajarkan pada tahun 1940an dan masih banyak digunakan hingga saat ini adalah skala Harry Arons. Untuk lebih mudah memahami setiap level relaksasi pikiran atau mental maka saya akan menjelaskan fenomena yang menjadi ciri setiap level.
Harry Arons membagi level relaksasi mental menjadi 6 level. Persis di bawah batas atas, normal waking consciousness terdapat kondisi relaksasi yang dikenal dengan nama hypnoidal.
Ini adalah kondisi relaksasi yang paling mudah dicapai. Kondisinya mirip dengan orang yang sedang melamun. Salah satu ciri kondisi hypnoidal adalah eye catalepsy atau mata yang tidak bisa dibuka walaupun kita ingin membukanya.
Di bawah hypnoidal terdapat level light trance yang bercirikan kondisi sugestibilitas meningkat karena kelompok otot yang mengalami catalepsy menjadi meluas ke bagian tubuh yang lain.
Di bawah lagi ada level medium trance dengan ciri atau karakteristik berupa catalepsy pada kelompok otot besar yang mengakibatkan seseorang tidak bisa bergerak, tidak bisa bangkit dari kursi, atau tidak bisa jalan. Pada level ini seseorang juga bisa mengalami aphasia atau kesulitan berbicara karena mendapat sugesti demikian.
Di bawah medium trance terdapat level threshold of somnambulism yang merupakan level kedalaman minimal untuk melakukan hipnoterapi yang efektif. Kedalaman ini minimal harus dicapai agar teknik advanced seperti hypnoanalysis, age regression, ego state therapy, dan forgiveness therapy, atau bahkan death bed therapy dapat dilakukan secara efektif dan mudah. Ciri utama pada level ini adalah terjadinya amnesia (klien menjadi lupa sesuatu) dan analgesia (berkurangnya intensitas rasa sakit).
Di bawah lagi terdapat level full somnambulim. Pada level ini klien menjadi sangat sugestif dan bila diberikan suatu sugesti maka pengaruh sugesti akan bertahan (sangat) lama.
Kedalaman full somnambulim mutlak dibutuhkan untuk melakukan anestesi (untuk operasi dan melahirkan) atau untuk age regression. Level ini tidak cocok untuk teknik direct suggestion yang bertujuan melakukan perubahan perilaku seperti menghentikan kebiasaan merokok, atau menggigit jari. Satu ciri utama pada level ini adalah possitivie hallucination.
Level paling dalam pada skala Harry Arons adalah profound somnambulism. Level ini mencakup semua hal positif dari level full somnambulim dan ditambah dengan kemampuan negative hallucination.
Tepat di bawah profound somnambulism terdapat level Esdaile atau yang juga dikenal dengan hypnotic coma. Satu hal yang perlu dipahami yaitu kondisi hypnotic coma ini tidak sama dengan kondisi medical coma.
Kondisi Esdaile ini adalah kondisi di mana seseorang merasa begitu senang dan bahagia. Ini adalah kondisi euphoria. Orang yang masuk ke dalam kondisi ini biasanya tidak mau keluar dari kondisi ini karena begitu “enak” dan “nikmat”nya kondisi ini, semua masalahnya hilang, semua sempurna adanya. Jika seorang klien atau subjek masuk ke kondisi ini maka dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa membawa klien keluar. Jika tidak, maka klien akan terus berada di level ini.
Level Esdaile tidak cocok untuk terapi karena pada kondisi ini pikiran kita tidak bisa menerima sugesti apapun. Level ini digunakan untuk total anestesia, untuk painless childbirthing atau melahirkan tanpa rasa sakit, stress management, dan bisa digunakan oleh dokter untuk membantu mengembalikan posisi tulang atau otot pasiennya, dengan cara mengurut bagian yang dislokasi, saat pasien berada di kondisi Esdaile.
Dari level profound somnambulism subjek/klien dapat dibawa turun ke level Esdaile dengan cepat dan mudah, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit saja.
Di bawah level Esdaile terdapat level catatonic. Ini adalah kondisi di mana tubuh subjek atau klien menjadi plastis tapi kaku/terkunci, tanpa pemberian sugesti, dan bisa diposisikan pada posisi/postur tertentu dalam waktu yang lama dan postur itu sama sekali tidak akan berubah. Level ini tidak digunakan dalam terapi. Di bawah level catatonic inilah terletak level Sichort.
Lalu bagaimana caranya untuk bisa masuk ke level Sichort?
Oh, mudah. Saya akan mengulang level kedalaman trance agar anda bisa mendapat gambaran yang utuh. Langkah awal adalah kita membawa subjek dari kondisi hypnoidal (light trance), medium trance, full somnambulism, hingga ke kedalaman profound somnambulism. Ini hanya langkah awal, lho.
Dan untuk setiap level kedalaman trance di atas kita perlu melakukan tes. Tes ini harus dilakukan agar kita benar-benar yakin dan pasti posisi kedalaman yang dicapai subjek pada suatu saat. Bila subjek tidak lolos tes, pada kedalaman tertentu, berarti ia belum berhasil mencapai level yang kita inginkan. Maka kita perlu melakukan deepening lagi untuk memperdalam trance sehingga dicapai level yang diinginkan.
Saat subjek berhasil mencapai kedalaman tertentu maka akan diberikan sugesti tertentu, sebagai anchor, untuk bisa membawa subjek langsung masuk kembali ke dan keluar dari kedalaman tersebut. Demikian seterusnya.
Setelah berhasil mencapai profound somnambulism, subjek dibimbing masuk ke level Esdaile. Seorang operator yang cakap akan mampu melakukan hal ini hanya dalam waktu maksimal 4 menit. Operator akan memberikan tes untuk memastikan subjek telah benar-benar berada di level Esdaile. Total ada 6 tes yang diberikan. Dan subjek harus lolos semua tes ini.
Satu level di bawah adalah level catatonic. Ini adalah level non-suggested state. Fenomena yang timbul pada level ini terjadi dengan sendirinya tanpa perlu sugesti apapun. Pada level ini juga dilakukan tes kedalaman.
Baru setelah ini semua berhasil dicapai, subjek akhirnya bisa masuk ke kondisi Sichort melalui relaksasi masa bayi.
Jadi, kunci untuk masuk ke level Sichort sebenarnya adalah kecakapan untuk driving depth atau deepening. Semakin cakap kita maka semakin mudahlah membimbing subjek masuk ke level Sichort.
Saat mengajar Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy di program magister (S2) pikologi di Universitas Surabaya baru-baru ini saya membimbing dua orang mahasiswa saya hingga mencapai level catatonic. Saya juga mengukur aktivitas gelombang otak mereka. Dan dari sini saya mendapatkan beberapa temuan menarik yang menvalidasi beberapa pemikiran saya mengenai metode deepening yang lebih cepat dan efektif untuk membawa subjek turun ke kedalaman trance yang kita inginkan.
Saya sengaja tidak membawa mereka ke level Sichort karena materi yang saya bahas adalah hipnoterapi, bukan level Sichort. Selain itu saya juga tidak ingin mahasiswa saya bingung atau malah terlalu berambisi untuk masuk ke kondisi Sichort, yang untuk saat ini sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Hasil pengukuran dengan DBSA menunjukkan bahwa pada level catatonic, gelombang beta, alfa, theta, dan delta, semuanya aktivitasnya sangat minim. Hal ini tampak pada amplitudo yang sangat rendah dan stabil, tidak terjadi flare atau lonjakan amplitudo pada segmen frekuensi tertentu, seperti yang biasa terjadi pada level kedalaman trance yang di atasnya.
Apa saja yang bisa dilakukan pada level Sichort?
Kita bisa melakukan, antara lain, Mind-to-Mind Healing, Computer Console Technique, Skywalker Technique, Cellular Reeducation Technique, Hallway of Doors Technique, dan Warehouse Technique.
Ada yang bertanya, “Apakah level Sichort ini juga termasuk dalam kondisi hipnosis?”
Beberapa pakar mengatakan bahwa level Sichort bukan level hipnosis karena kondisi hipnosis hanya sampai di kedalaman profound somnabulism. Bahkan masih menurut pakar yang lain, pada level Esdaile pikiran bawah sadar tidak menerima sugesti dalam bentuk apapun.
Ada pro dan kontra mengenai pernyataan di atas. Saya pribadi lebih suka mengacu pada pernyataan yang dikeluarkan oleh U.S. Dept. of Education, Human Services Division, yang menyatakan, “Hypnosis is the bypass of the critical factor of the conscious mind and followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau “hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya sugesti atau pemikiran tertentu (oleh pikiran bawah sadar)”.
Dari apa yang saya pelajari, khususnya dengan update pengetahuan dari Anna Wise, saya menyimpulkan bahwa kondisi Sichort bukan kondisi hipnosis. Kondisi hipnosis bermain di level pikiran bawah sadar sedangkan Sichort bermain pada level pikiran nirsadar.
Salah satu indikasi bahwa level Sichort bermain di level nirsadar adalah karena pada level ini proses healing pada aspek fisik terjadi 6 hingga 10 kali lebih cepat dari keadaan normal. Sedangkan pada Computer Console Technique bisa dilakukan healing pada berbagai sistem tubuh yang bersifat otonom. Dan dari riset diketahui bahwa bagian pikiran yang mengendalikan fungsi tubuh yang otonom adalah pikiran nirsadar, bukan pikiran bawah sadar.
Ada yang bertanya kepada saya mengapa saya tidak mengajarkan Ultra Depth Process di pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy yang saya selenggarakan?
Alasan utama adalah saya tidak melihat banyak manfaat yang bisa dicapai orang awam, apalagi hipnoterapis pemula, untuk menggunakan kondisi Sichort. Dalam hipnoterapi, level kedalaman optimal untuk melakukan terapi yang efektif adalah profound somnambulism. Dan ini telah dibuktikan dengan efektivitas hasil terapi yang dilakukan alumni pelatihan QHI. Mereka sama sekali tidak perlu membawa klien masuk ke kondisi Sichort untuk melakukan terapi secara efektif. Cukup hanya di level profound somnambulism saja.
Nah, untuk membawa subjek atau klien ke kedalaman profound somnambulism bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila teknik induksi yang digunakan tidak tepat. Jika level ini saja tidak bisa dicapai maka tidak mungkin bisa mencapai level berikutnya.
Cukup riskan bila hipnoterapis pemula langsung belajar untuk membimbing klien masuk ke level Sichort. Sangat besar kemungkinan mereka akan gagal. Jika di tahap awal pembelajaran mereka telah sering mengalami kegagalan maka ini akan berakibat negatif terhadap rasa percaya diri mereka.
Selain itu, dari sekian banyak literatur yang saya pelajari, tidak ada satupun yang menyatakan perlunya melakukan hipnoterapi hingga ke kedalaman di bawah profound somnambulism, apalagi pada level Sichort. Nama-nama besar seperti McGill, Erickson, Tebbetts, Boyne, Spiegel, Elman, Kein, Churchill, Haley, Rossi, Hilgard, dan Watkins tidak pernah menyarankan baik secara eksplisit atau implisit mengenai perlunya kedalaman di bawah profound somnambulism untuk melakukan hipnoterapi. Saya juga telah berusaha mencari informasi di jurnal hiposis/hipnoterapi internasional mengenai pemanfaatan kondisi Sichort untuk (hipno)terapi. Namun hingga saat ini belum atau tidak mendapatkan informasi mengenai hal ini.
Saat saya mempelajari Ultra Depth jujur saya tidak punya bukti ilmiah, melalui pengukuran dengan instrumen tertentu, yang mendukung bahwa ini adalah level paling dalam yang bisa dicapai seseorang. Saya percaya apa yang dikatakan oleh Sichort melalui cross check dengan literatur lain yang membahas kedalaman trance. Dan memang benar, Ultra Depth jauh lebih dalam dari level trance yang biasa digunakan untuk terapi.
Namun sekarang saya bisa mengukur dengan menggunakan Mind Mirror dan ESR. Dari sini akan tampak seberapa dalam relaksasi pikiran/mental dan fisik yang berhasil dicapai seseorang saat ia berada di level Sichort.
Apakah teknik ini bisa dilakukan secara masal? Tidak bisa dan tidak mungkin. Mengapa tidak mungkin? Karena untuk masuk ke level Sichort perlu dilakukan tes atau uji kedalaman pada setiap level trance. Uji ini sangat penting untuk memastikan subjek benar-benar turun ke kedalaman yang diinginkan secara bertahap. Jika jumlah orangnya banyak maka tidak mungkin uji kedalaman bisa dilakukan pada masing-masing individu.
Apakah kita bisa masuk ke level Ultra Depth seorang diri? Oh, tentu bisa. Kita bisa dengan cara mengaktifkan trigger tertentu yang dipasang oleh operator yang sebelumnya membantu kita masuk ke kondisi Sichort. Jadi, untuk tahap awal kita tetap membutuhkan bantuan operator.
Pembaca, jika anda cukup jeli, judul artikel saya di atas adalah Ultimate Depth Process, bukan Ultra Depth Process. Mengapa saya menggunakan judul Ultimate Depth Process?
Saya memang mempelajari Ultra Depth Process. Dan sekarang dengan berbagai update pengetahuan yang saya dapatkan dari Anna Wise dan Tom Silver, dan seperti yang saya katakan di atas bahwa inti dari Ultra Depth adalah bagaimana kita melakukan deepening, maka saat ini saya telah mengembangkan teknik saya sendiri untuk mencapai kedalaman seperti Ultra Depth.
Saya mengatakan “seperti” Ultra Depth karena saya berpatokan pada aktivitas dan pola gelombang otak, baik pada aspek frekuensi dan amplitudo, yang diukur dengan menggunakan Mind Mirror, maupun relaksasi fisik, yang diukur dengan menggunakan ESR, pada saat seseorang masuk ke kedalaman ini. Hasil pengukuran ini sangat akurat karena tidak sekedar mengandalkan uji kedalaman konvensional seperti yang dilakukan selama ini.
Dari Anna Wise saya belajar satu hal yang luar biasa yaitu dengan menggunakan semantik tertentu kita dapat membawa seseorang masuk dengan sangat cepat ke kedalaman yang belum pernah ia capai sebelumnya.
Lalu apa yang membedakan Ultimate Depth Process dan Ultra Depth Process?
Perbedaannya ada pada proses membawa subjek turun. Jika Ultra Depth Process banyak menggunakan progresive relaxation yang telah dimodifikasi dan deepening yang berulang plus pengujian kedalaman trance, maka Ultra Depth Process lebih bermain pada semantik dan protokol yang secara bertahap namun cepat mampu mereduksi segmen gelombang otak tertentu dan membuka jalur pikiran bawah sadar dan nirsadar. Ultimate Depth Process dikembangkan berdasar pada hasil pengukuran relaksasi pikiran dan fisik dengan menggunakan Mind Mirror dan ESR.
Level kedalaman yang jauh di bawah profound somnambulism, baik itu level Esdaile, Catatonic, Hypnosleep, maupun Ultra Depth, adalah wilayah yang asyik untuk dijelajahi. Namun ini lebih untuk tujuan eksperimen.
Seorang rekan sejawat, sesama hipnoterapis, baru-baru ini mengirimi saya email dan menceritakan salah satu kasus yang ia tangani. Kasusnya cukup menarik dan saya terus terang merasa iri karena bukan saya yang menanganinya. Saya iri lebih karena melihat bahwa kasus ini benar-benar asyik dan bisa digunakan untuk menambah jam terbang dan mengasah kemampuan. Bukan karena alasan lain.
Klien dari rekan saya ini, seorang wanita, telah sekian tahun sulit tidur dan mengalami depresi. Ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya dan telah sekian tahun minum obat, telah ke berbagai praktisi kesehatan, minta tolong orang pintar, namun tetap belum bisa sembuh.
Singkat cerita setelah melalui dua sesi terapi yang sangat intens klien berhasil mengalami sangat banyak kemajuan. Dari yang tadinya stress dan mudah putus asa menjadi semangat. Memang, masih ada aspek lain yang perlu dibereskan yaitu klien masih sulit tidur.
Namun, bila dilihat hasil yang telah dicapai hanya dalam dua sesi terapi, dibandingkan dengan apa yang telah klien jalani dan alami selama ini, sungguh suatu hasil yang luar biasa.
Seminggu kemudian, rekan sejawat saya melakukan follow-up dan menghubungi kliennya. Apa yang terjadi? Ternyata kondisi klien kembali seperti sebelum diterapi. Tiga hari kemudian klien menghubungi rekan saya dan memberikan laporan bahwa kondisinya semakin menurun.
Lho, kok bisa?
Ternyata setelah diselidiki, klien, setelah selesai terapi dengan rekan saya ini, sesi kedua, sebenarnya sudah sangat baik kondisinya. Namun besoknya, oleh orangtuanya, klien dibawa ke “terapis” lain yang melakukan pengobatan dengan cara “lain”.
“Terapis” ini melakukan upacara yang katanya bisa mengusir “roh jahat” yang berdiam di dalam diri klien. Pengusiran “roh jahat” ini dilakukan beberapa kali dengan menggunakan cara yang menurut si “terapis” mujarab. Setelah beberapa kali “terapi”, kondisi klien justru semakin memburuk.
Saya tidak berpretensi untuk mengatakan bahwa si “terapis” ini yang membuat kondisi klien semakin memburuk. Sama sekali tidak ada maksud saya untuk berkata demikian. Yang ingin saya bahas adalah mengapa klien bisa relapse dan justru semakin parah.
Saya sendiri, dalam karir saya sebagai seorang terapis, pernah beberapa kali mengalami apa yang dialami oleh rekan saya. Klien yang sudah hampir pulih tiba-tiba relapse dan akhirnya menjadi lebih parah lagi kondisinya.
Dulu saya bingung. Saya berpikir ini semua karena saya tidak becus melakukan terapi dengan baik. Namun dari hasil perenungan dan review sesi terapi yang saya lakukan, berdasarkan catatan terapi, saya tidak menemukan kesalahan dalam praktik saya. Lalu apa yang salah?
Ternyata yang terjadi sama dengan yang dialami rekan saya ini. Klien, setelah selesai terapi dengan saya juga melakukan terapi ke terapis lain, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan saya atau terapis sebelumnya.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa terapi apapun, termasuk hipnoterapi, membutuhkan waktu untuk bisa membantu seseorang benar-benar pulih dari kondisi mental atau emosi mereka yang sebelumnya agak kacau.
Jika kasusnya cukup berat maka dibutuhkan sampai beberapa sesi, ada yang 4 sesi atau bahkan lebih, untuk benar-benar menstabilkan kondisi klien.
Yang sering terjadi adalah (keluarga) klien tidak sabar dan ingn mempercepat proses kesembuhan. Mereka mencampuradukkan beberapa modalitas terapi. Akibatnya? Sangat buruk untuk klien.
Setiap modalitas terapi mempunyai paradigma sendiri. Teknik yang digunakan tentunya berdasarkan teori yang sangat spesifik yang hanya akan bekerja selama dilakukan di dalam koridor teori itu. Tindakan klien mencampuradukkan beberapa jenis terapi, saya biasa menyebutnya dengan istilah Therapy Shopping, justru kontraproduktif.
Apalagi bila terapisnya dipandang sebagai figur otoritas. Hasil terapi yang sebelumnya sangat baik, namun karena belum final dan stabil, menjadi mentah lagi karena pikiran klien sendiri, setelah mendapat pengaruh baik langsung maupun tidak langsung dari terapis berikutnya, meng-undo hasil terapi sebelumnya.
Anda mungkin bertanya, “Ah, masa bisa sampai seperti ini kejadiannya?”
Saya pernah melakukan terapi pada seseorang, kasus ringan yaitu fobia kecoa, dan dalam sekejap klien sembuh. Dites dengan kecoa hidup, klien sama sekali tidak takut. Namun, untuk membuktikan bahwa klien bisa relapse atau kambuh, saya meng-undo hasil terapi saya hanya dengan satu perintah spesifik. Dalam sekejap klien kembali menjadi sangat takut terhadap kecoa, sama kondisinya seperti sebelum saya terapi.
Setelah itu saya kembalikan kondisinya seperti setelah selesai saya terapi dan fobia klien langsung hilang dan saya menyegel perubahan yang telah terjadi sehingga klien tidak bisa kembali ke pola lamanya.
Saya juga pernah punya klien yang sangat senang Therapy Shopping. Ia berpindah dari satu hipnoterapis ke hipnoterapis lainnya. Bukannya hipnoterapisnya tidak efektif namun si klien sendiri yang memang suka sekali keliling, dari satu terapis ke terapis lainnya, dan ia sangat menikmati diterapi. Sepertinya terapi sudah menjadi satu trend atau kebutuhan hidupnya. Ia bukannya mau sembuh dari masalahnya tapi justru menikmati masalahnya.
Akibatnya? Ya nggak sembuh. Setiap terapis tentu punya pendekatan yang berbeda dalam menangani suatu kasus. Setiap terapi melibatkan proses dan dinamika yang unik. Kasus yang sama bisa dibereskan dengan pendekatan atau teknik yang berbeda. Semua bergantung pada jam terbang, pengalaman, dan intuisi si terapis.
Satu kasus lain, seorang pria, yang juga sulit tidur dan mendengar ada suara di dalam kepalanya, telah lebih dari 6 tahun berkeliling mencari terapis untuk mengatasi masalahnya. Dari sekian lama upayanya hasilnya nihil.
Selidik punya selidik ternyata dia juga melakukan Therapy Shopping. Dan keluarganya mendukung serta sangat menyarankan hal ini. Saat ke psikiater dan diberi obat, obatnya hanya diminum sedikit. Setelah itu ia ke Sinshe untuk didiagnosa dan mendapat obat lain. Kemudian ke orang pintar, terus ke akupunturis, ke dokter saraf, terus ke Singapore untuk melakukan fMRI karena ia merasa ada masalah dengan otaknya.
Hasil dari Singapore menunjukkan bahwa otaknya tidak bermasalah. Ia hanya stress saja. Perlu banyak istirahat. Namun klien ini tetap gigih mencari kesembuhan. Ia pergi ke tukang pijat yang katanya bisa menotok jalan darah sehingga aliran darah bisa lebih lancar. Plus minum bermacam-macam obat dari berbagai terapis. Plus, plus, juga melakukan energy healing, prana, reiki, chikung. Wah… pokoknya macam-macam deh.
Hasil akhirnya bagaimana? Ya, tetap nggak sembuh.
Lha, bagaimana mau sembuh. Teknik terapi, seperti yang telah saya jelaskan di atas, membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil. Pada saat proses masih berlangsung tiba-tiba terapi dihentikan dan ia berpindah ke jenis terapi lain. Demikian seterusnya.
Kembali ke klien rekan saya. Setelah dengan terapis yang melakukan pengusiran “roh jahat” tidak membuahkan hasil, klien ini ingin kembali ke rekan saya untuk terapi lanjutan. Tentu bukan kerja yang ringan untuk bisa membantu klien ini karena hasil terapi dua sesi sebelumnya telah hilang akibat klien melakukan Shopping Therapy.
Jadi, saran saya bagi anda, jika anda sedang menjalani suatu sesi terapi, dengan terapis manapun, berilah waktu untuk terapis ini membantu anda. Jangan suka berganti terapis. Jika dalam beberapa sesi anda merasakan perubahan positif berarti apa yang dilakukan terapis ini bekerja. Nah, beri waktu sedikit lebih lama. Teruskan terapi anda.
Namun, jika setelah menjalani sampai, katakanlah, lebih dari empat sesi, sama sekali belum ada perubahan signifikan, maka anda boleh memutuskan untuk mencari bantuan terapis lain.
Jadi, hati-hati ya. Jangan melakukan Therapy Shopping.
Hampir setiap hari saya mendapat email dari pembaca buku maupun artikel-artikel yang saya posting di web saya. Mereka ingin belajar hipnoterapi dengan saya. Namun umumnya mereka mundur setelah saya menjelaskan beberapa hal kepada mereka. Ternyata banyak yang tidak serius hendak menjadi hipnoterapis.
Apa saja yang saya jelaskan pada mereka?
Untuk bisa menjadi hipnoterapis anda maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, alasan hendak menjadi hipnoterapis. Jika anda ingin menjadi hipnoterapis setelah menonton acara di televisi maka ini bukanlah alasan yang tepat atau kuat. Menjadi hipnoterapis harus dilandasi dengan passion atau keinginan yang tulus dan kuat untuk membantu orang lain. Tanpa dilandasi passion yang benar maka upaya atau perjalanan panjang untuk menjadi seorang hipnoterapis akan terasa berat dan sulit.
Faktor kedua adalah komitmen. Komitmen di sini meliputi aspek waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. Banyak yang mundur dan tidak bersedia belajar hipnoterapi saat mereka mendengar bahwa mereka perlu belajar minimal 100 jam tatap muka di kelas. Banyak yang bertanya, “Pak Adi, apa nggak ada cara yang lebih singkat dan mudah untuk bisa menguasai hipnoterapi?”
Sejujurnya ada. Cara paling mudah dan singkat untuk belajar hipnoterapi, menurut pemahaman dan pengetahuan saya, adalah dengan belajar 100 jam di kelas. Ini adalah jalan pintas. Tidak ada jalan pintas lain. Saat saya mendengar seseorang mulai “menawar” waktu pelatihan maka saya tahu bahwa ia tidak serius. Ia tidak bersedia membayar harga untuk bisa menjadi seorang hipnoterapis andal yaitu komitmen waktu.
Banyak yang berharap bisa menguasai hipnoterapi hanya dalam waktu 1 atau 2 hari. Mereka berpikir bahwa hipnoterapi adalah sesuatu yang bisa dipelajari sambil lalu, ya… kalau sempat. Tidak bisa. Hipnoterapi adalah sesuatu yang sangat serius dan harus dipelajari dengan sungguh-sungguh.
Jika hendak belajar stage-hypnosis atau hipnosis untuk pertunjukkan maka ini bisa dilakukan hanya dalam waktu 1 (satu) hari saja. Hipnoterapi? Tidak mungkin bisa.
Faktor ketiga adalah kepercayaan. Apakah anda percaya bahwa hipnosis/hipnoterapi benar-benar bisa bekerja dan berhasil? Jika tidak, maka anda perlu mulai membaca lebih banyak. Bacalah buku, artikel, jurnal, atau menonton video mengenai hipnoterapi. Dan yang lebih penting lagi bertanyalah pada praktisi hipnoterapi yang berhasil. Hipnoterapi telah diakui lembaga bergengsi seperi British Medical Association, American Medical Association, dan American Psychological Association.
Anda juga perlu mengalami sendiri hipnoterapi. Untuk itu anda bisa membuat janji dengan hipnoterapis yang anda tahu memang mampu melakukan hipnoterapi secara benar. Dengan mengalami sendiri proses hipnoterapi maka anda akan percaya. Ini sangat penting bagi proses pembelajaran anda. Jika anda ragu atau tidak percaya maka anda tidak akan bisa belajar dengan optimal.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah apakah anda percaya dengan trainer , orang, atau lembaga yang mengajar anda? Jika tidak, lebih anda tidak ikut pelatihannya. Jangan pernah mengikuti suatu pelatihan, apalagi yang berhubungan dengan hipnoterapi, hanya karena harga. Harga bukan jaminan. Baik itu harga yang mahal atau yang murah.
Untuk meyakinkan diri anda sendiri, sehingga anda bisa yakin dengan trainer anda, maka hal-hal yang anda perlu tanyakan sebelum mengikuti suatu pelatihan hipnoterapi adalah:
· Apakah trainer anda adalah hipnoterapis aktif yang menerima klien secara rutin?
· Sudah berapa lama ia praktik sebagai hipnoterapis?
· Bagaimana dengan succes rate atau tingkat keberhasilan ia melakukan terapi?
· Sertifikasi trainer ini dari lembaga mana? Berapa lama ia mengikuti pelatihan hingga mendapat sertifikasi sebagai hipnoterapis?
· Bagaimana dengan kemampuan terapi alumnus pelatihan trainer ini?
· Apakah anda percaya bahwa teknik atau pendekatan terapi yang diajarkan trainer ini pasti bisa bekerja dengan baik?
Pertanyaan di atas sangat perlu kita ajukan untuk membuat kita benar-benar yakin. Jika kita tidak yakin pada trainer itu lalu buat apa kita mengikuti pelatihannya. Kalaupun kita ikut maka hasilnya tidak akan efektif.
Saya punya pengalaman pribadi mengenai hal ini. Saya pernah belajar salah satu teknik induksi. Teknik ini diajarkan oleh banyak trainer dan lembaga. Saya, walaupun telah mempelajarinya, tetap tidak bisa menggunakan teknik ini dengan berhasil. Selidik punya selidik ternyata saya tidak yakin dengan trainer yang mengajar teknik ini.
Saat saya bertemu dengan seorang pakar yang sangat saya hormati, yang juga mengajarkan teknik yang sama, tiba-tiba setelah itu saya mampu melakukan induksi dengan penuh percaya diri dan selalu berhasil.
Ternyata saat saya belajar dengan trainer lain, saya tidak percaya dan tidak puas dengan penjelasannya. Saya merasa apa yang ia jelaskan tidak ilmiah atau dasar teorinya tidak kuat. Ini yang membuat saya tidak yakin. Namun dengan pakar ini, saya benar-benar puas, yakin, dan percaya.
Jika rata-rata alumnus pelatihan trainer ini berhasil mempraktikkan hipnoterapi dengan efektif dan mampu membantu klien mereka dengan berhasil maka anda tahu bahwa apa yang diajarkan oleh trainer ini bekerja.
Dan jika anda masih tetap belum bisa mempraktikkan hipnoterapi dengan baik dan efektif mengikuti apa yang diajarkan trainer anda maka satu pesan saya kepada anda, “Segera cari hipnoterapis untuk membantu anda mengatasi mental block anda .” Yang bermasalah bukanlah trainer atau lembaga tempat anda belajar namun diri anda sendiri.
Yang terakhir adalah support system atau dukungan yang diberikan oleh trainer atau lembaga tempat anda belajar hipnoterapi. Dari pengalaman saya pribadi adalah tidak mungkin seseorang belajar hipnoterapi, walaupun yang kelas 100 jam, dan setelah itu ia jalan sendiri. Kita tetap masih membutuhkan dukungan, masukan, saran, dan bimbingan karena saat praktik kita akan bertemu dengan kasus yang tidak dijelaskan di kelas karena keterbasan waktu. Tanpa dukungan ini akan sangat sulit mengembangkan diri kita.
So… anda siap belajar dan menjadi hipnoterapis andal?
Ada banyak prosedur hipnotik yang bisa digunakan untuk menangani atau mengatasi rasa sakit. Prosedur yang paling umum digunakan, namun tidak selalu berhasil, adalah dengan menggunakan sugesti hipnotik langsung untuk menghilangkan keseluruhan rasa sakit (direct hypnotic suggestion for total abolition of pain). Prosedur ini berhasil diterapkan secara sangat efektif untuk beberapa klien. Namun seringkali tidak berhasil untuk klien lainnya dan mengakibatkan klien menjadi ragu terhadap manfaat dan efektivitas hipnosis sehingga menghambat penggunaan hipnosis untuk penanganan klien selanjutnya. Selain itu, walaupun efeknya bagus, kadang efeknya tidak bisa bertahan lama.
Prosedur kedua yang bisa digunakan adalah hipnosis tidak langsung yang bersifat permisif untuk menghilangkan sakit ( permissive indirect hypnotic abolition of pain). Prosedur ini seringkali lebih efektif, walaupun sangat mirip dengan sugesti langsung, namun dikemas dalam bentuk sugesti yang lebih maternal dan tidak langsung sehingga lebih kondusif terhadap penerimaan dan respon klien.
Prosedur ketiga untuk pengendalian rasa sakit dengan menggunakan hipnosis adalah dengan menggunakan amnesia. Dalam hidup seringkali kita lupa terhadap rasa sakit bila kita mengalami suatu situasi atau kondisi yang lebih berbahaya atau menyita perhatian kita.
Contohnya adalah saat seorang ibu yang mengalami rasa sakit luar biasa dan tiba-tiba tidak lagi merasakan sakit itu saat ia melihat anaknya yang masih bayi jatuh dan mengalami luka serius. Ia lupa pada sakitnya karena pikirannya begitu mengkhawatirkan kondisi anaknya. Contoh lain adalah seseorang yang lupa terhadap sakit gigi, sakit kepala, atau sakit persendian saat ia begitu fokus atau tercerap pada film yang ia tonton. Amnesia untuk mengatasi rasa sakit dapat diterapkan dalam beragam cara. Amnesia bisa digunakan untuk menghilangkan sebagian atau bahkan keseluruhan rasa sakit sekaligus.
Prosedur keempat adalah dengan menggunaan hypnotic analgesia, yang bisa menghilangkan sebagian, semua, atau bagian sakit tertentu. Dengan prosedur ini terapis bisa membuat klien merasa “mati rasa” pada bagian tubuh yang sakit namun bagian tubuh ini tetap bisa merasakan sensasi sentuhan atau tekanan.
Dengan demikian semua pengalaman sakit menjadi berubah dan memberikan klien perasaan lega dan puas, walaupun analgesia yang dihasilkan tidak bersifat menyeluruh. Perubahan sensori yang dialami klien seperti perasaan “mati rasa”, meningkatnya perasaan hangat, berat, rileks, dan lainnya, akan meningkatkan hypnotic analgesia hingga menjadi menyeluruh.
Metode kelima adalah hypnotic anesthesia. Metode ini lebih sulit daripada metode sebelumnya dan paling baik dicapai dengan menggunakan pendekatan tidak langsung yaitu dengan membangun situasi psikologis dan emosi tertentu yang bertujuan untuk menghasilkan reaksi anestesi yang selanjutnya diperkuat dengan sugesti pascahipnosis.
Prosedur keenam adalah sugesti yang menghasilkan penggantian sensasi dengan bantuan kondisi hipnosis (hypnotic replacement or substitution of sensations. Contohnya, seorang pasien kanker yang mengalami sakit yang luar biasa ternyata memberikan respon yang sangat baik terhadap sugesti yang membuat ia merasa gatal yang luar biasa di telapak kakinya. Tubuhnya yang lemah karena kanker membuat ia tidak bisa menggaruk bagian tubuh yang gatal. Dengan demikian perhatiannya tersita untuk merasakan gatal ini. Selanjutnya terapis mensugestikan perasaan hangat, dingin, berat, dan mati rasa secara sistematis di berbagai bagian tubuhnya yang sakit.
Tindakan lanjutan yang diberikan adalah sugesti bahwa ia meraskan sensasi gatal yang sungguh tidak nyaman di samping mastektomi-nya. Prosedur ini sangat membantu hidup klien untuk sisa enam bulan hidupnya.
Prosedur ketujuh adalah pemindahan sakit secara hipnosis (hypnotic displacement of pain). Prosedur ini menggunakan sugesti untuk memindahkan rasa sakit dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Misalnya klien yang mengalami rasa sakit luar biasa di bagian perut dan rasa sakit ini sungguh mengganggu hidupnya maka dengan menggunakan sugesti rasa sakit ini bisa dipindahkan ke bagian tubuh yang mampu mengatasi rasa sakit ini, misalnya dipindahkan ke tangan.
Prosedur kedelapan, hypnotic dissociation digunakan untuk pengendalian rasa sakit, dan metode yang paling efektif adalah disorientasi waktu dan tubuh (time and body disorientation). Klien, dalam kondisi hipnosis, dapat dibawa ke masa awal munculnya penyakit, saat rasa sakit masih belum terlalu mengganggu. Dan level atau intensitas rasa sakit yang muncul saat disorientasi waktu ini tetap dipertahankan dan dialami oleh klien saat keluar dari kondisi hipnosis. Klien tetap merasa sakit namun rasa sakit yang ia alami berkurang ke level saat awal penyakitnya muncul .
Pada disorientasi tubuh (body disorientation), klien, dalam kondisi hipnosis, mengalami disosiasi dan mengalami dirinya terpisah dari tubuhnya. Dengan kata lain, seseorang yang mengalami rasa sakit luar biasa, melalui respon pascahipnosis, akan masuk ke kondisi trance dan mengalami dirinya berada di ruang lain sementara fisiknya yang menderita berada di ranjang. Dengan demikian ia tidak merasakan sakit di tubuhnya.
Prosedur kesembilan, yang sangat mirip dengan prosedur penggantian sensasi, adalah pemaknaan ulang pengalaman sakit dalam kondisi hipnosis (hypnotic reinterpretation of pain experience). Dalam prosedur ini, saat dalam kondisi hipnosis, perasaan sakit diberi arti baru sebagai perasaa lemah, malas bergerak, dan selanjutnya sebagai rileksasi dengan perasan hangat dan nyaman yang menyertai rileksasi otot yang sangat dalam.
Perasaan sakit yang berdenyut, mengganggu, menusuk diterjemahkan sebagai perasan yang tidak nyaman tapi tidak menyakitkan dan dirasakan sebagai sensasi seperti berada di dalam kapal yang terombang-ambing di tengah badai.
Hypnotic time distortion seringkali merupakan prosedur hipnosis yang paling efektif untuk mengendalikan dan mengatasi rasa sakit. Satu contoh yang sangat bagus menjelaskan efektivitas prosedur ini adalah seorang klien yang menderita rasa sakit luar biasa, yang terjadi setiap dua puluh hingga tiga puluh menit, siang dan malam, yang serangan rasa sakitnya setiap kali berlangsung antara lima hingga sepuluh menit.
Saat berada di waktu jeda di antara serangan rasa sakit klien ini merasa sangat takut. Dengan menggunakan hipnosis dan mengajari klien distorsi waktu, maka ia dapat menggunakan gabungan dari beberapa prosedur yang dijelaskan di atas untuk mengatasi rasa sakitnya. Dalam kondisi trance klien diajarkan untuk menimbulkan amnesia terhadap semua serangan rasa sakit sebelumnya. Selanjutnya klien dilatih untuk melakukan distorsi waktu sehingga ia dapat merasakan rasa sakit lima hingga sepuluh menit hanya dalam waktu sepuluh hingga dua puluh detik saja. Ia juga diberi sugesti pascahipnosis yang menyatakan bahwa setiap serangan rasa sakit akan datang sebagai suatu kejutan, dan saat terjadi serangan ini ia akan masuk ke kondisi hipnosis selama dua puluh detik, merasakan semua rasa sakit, dan kemudian keluar dari trance dengan tidak mengingat bahwa ia telah masuk trance dan mengalami rasa sakitnya.
Prosedur kesebelas adalah sugesti hipnotik yang mempengaruhi berkurangnya rasa sakit (hypnotic suggestions effecting a diminution of pain), sakitnya tidak hilang semua karena klien tidak sepenuhnya responsif seperti yang diharapkan.
Pengurangan ini paling baik dicapai dengan mensugesti klien, saat dalam kondisi hipnosis, bahwa sakitnya akan berkurang sedikit demi sedikit, tanpa ia rasakan, dan akhirnya hilang semua, mungkin dalam waktu beberapa hari. Dengan mensugestikan bahwa sakitnya akan hilang sedikit demi sedikit tanpa ia sendiri bisa merasakannya maka klien tidak bisa menolak sugesti ini.
Pengharapan yang muncul membuat klien berharap dalam beberapa hari ke depan mungkin akan terjadi pengurangan rasa sakit. Pengharapan ini sendiri berlaku sebagai autosuggestion yang akan membuat rasa sakit klien benar-benar berkurang dan bersifat progresif.
Dalam semua prosedur pengendalian rasa sakit perlu diperhatikan bahwa klien lebih bisa menerima sugesti tidak langsung (indirect) daripada yang bersifat langsung (direct). Prosedur yang digunakan bisa merupakan gabungan dari beberapa prosedur yang dijelaskan di atas sesuai dengan kebutuhan dan respon klien.
Di milis SECH yang menjadi wajah saling belajar dan membelajarkan khusus untuk alumni SECH baru-baru ini hangat dibicarakan terapi anak. Salah satu topik yang dibahas adalah cara mengatasi kebiasaan anak yang suka berbohong. Saya tidak akan menjelaskan teknik terapinya di sini namun saya akan membagikan alasan mengapa anak berbohong. Satu hal yang perlu disadari para orangtua yaitu berbohong adalah suatu kebiasaan yang dipelajari bukan bawaan sejak lahir.
Anak berbohong karena 4 alasan utama:
1. Meniru orangtua. Seringkali orangtua berbohong di depan anda. Misalnya ada tetangga atau tamu yang mencari si ayah atau ibu. Namun karena mereka, orangtua, tidak mau bertemu dengan tamu ini, maka mereka meminta pembantu menyampaikan pesan, “Katakan kalo Bapak atau Ibu lagi tidur”, dan ini mereka lakukan di depan anak mereka.
Yang lebih parah lagi kalau pas HP mereka bunyi dan mereka tahu yang menelpon adalah orang yang mereka hindari maka mereka meminta anak menjawab telpon sambil dibisiki, “Bilang saja mama lagi pergi dan lupa bawa HP”.
2. Orangtua bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya sudah jelas diketahui si orangtua. Misalnya si Ibu lagi nonton TV dan di ruang itu ada anaknya bermain, tidak ada orang lain. Tiba-tiba si Ibu mendengar suara gelas pecah dan langsung bertanya, “Siapa yang mecahin gelas?”
Ini pertanyaan yang salah karena sebenarnya si Ibu tahu pasti anaknya yang memecahkan gelas. Yang benar pertanyaannya adalah, “Bagaimana kok bisa pecah?”
Bila anak mendapat pertanyaan pertama maka besar kemungkinan ia akan berbohong.
3. Bila hukumannya terlalu berat dibandingkan dengan kesalahan yang dilakukan. Bisa dibayangkan bila kita melanggar lampu merah dan hukumannya adalah dendan Rp. 10 juta atau 1 tahun penjara. Siapa yang mau? Semua pasti mati-matian akan berbohong walaupun sebenarnya melanggar lampu merah. Benar kan? Ini adalah suatu bentuk defense mechanism alamiah. Sama dengan anak. Jika anak jujur dan mengakui kesalahannya tapi hukumannya terlalu berat maka anak akan cenderung berbohong demi mencari selamat.
4. Orangtua tidak konsisten. Misalnya ortu berjanji asalkan anak berkata jujur maka mereka tidak akan marah atau menghukum si anak. Eh, saat anak mengaku atau berkata jujur malah dimarahi atau dipukul. Dari sini anak belajar satu hal. Lebih aman berbohong daripada jujur. Kalau perilaku ini sering diulang maka akan menjadi habit.
Satu hal lagi, perilaku adalah bentuk strategi yang paling efektif, dari berbagai strategi yang telah dicoba oleh seorang anak, untuk bisa mendapatkan hal-hal yang ia inginkan dengan cepat dan mudah dan dengan tingkat keberhasilan yang paling tinggi.
Contohnya kalau anak minta sesuatu dan tidak dituruti orangtua anak bisa mencoba strategi menangis, marah, teriak, memukul,atau berguling-guling di lantai. Jika dengan strategi ini keinginannya tercapai maka ia akan mengulanginya lagi. Bila terjadi repetisi maka akhirnya jadi kebiasaan atau habit. Habit akan mengeras menjadi karakter dan karakter akhirnya yang akan menentukan nasib si anak saat ia dewasa kelak.
Ini yang sebenarnya digarap oleh Nanny 911. Mereka mengubah perilaku anak dengan tidak mengijinkan strategi si anak bisa berhasil mendapatkan yang si anak inginkan. Untuk bisa berhasil maka si anak “dipaksa” mencoba strategi baru. Dan begitu strategi yang dilakukan anak adalah yang baik maka strategi ini langsung mendapat penguatan (reinforcement) sehingga menjadi perilaku baru, tentunya yang baik, seperti yang diinginkan oleh orangtua.
Saat ini di masyarakat ramai dibicarakan acara The Master yang mengusung tema kekuatan pikiran bawah sadar. Saya sendiri semula tidak begitu tertarik menyaksikan acara ini. Namun karena sangat sering mendapat pertanyaan mengenai berbagai fenomena pikiran bawah sadar yang ditunjukkan dalam acara ini akhirnya saya jadi penasaran juga. Saya putuskan menyaksikan acara ini beberapa kali. Dan benar seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Acara ini adalah kombinasi antara trik sulap dan stage hypnosis yang dikemas untuk acara hiburan. Tentu saja dengan bumbu penyedap yang berbau metafisis agar lebih laris manis.
Di salah satu episode yang saya tonton tampil seorang hipnotis wanita yang dengan begitu mudahnya menghipnosis 5 orang subjek di atas panggung hanya dengan meniupkan “kecupan”. Setelah itu hipnotis ini melakukan berbagai hal yang intinya “membuat” subjek melakukan berbagai hal lucu, kadang terkesan tidak masuk akal, sehingga penonton tertawa terpingkal-pingkal.
Pertanyaan yang diajukan oleh orang awam saat menyaksikan acara ini antara lain, “Benarkah hipnotis dapat menguasai pikiran subjek dan membuatnya melakukan apapun yang diminta oleh si hipnotis?”, “Bagaimana cara melakukannya?”,”Apakah menggunakan ilmu (magic) tertentu?”
Berikut saya berikan penjelasan ilmiah dari apa yang dilakukan hipnotis yang melakukan hipnosis untuk hiburan. Apa yang dilakukan stage hypnotist sama sekali tidak ada unsur magic. Semuanya ilmiah dan sangat mudah dilakukan bila anda menguasai dasar hipnosis secara benar.
Pertama saya ingin meluruskan satu hal penting yaitu bahwa seorang stage hypnotist, orang yang melakukan hipnosis untuk hiburan, belum tentu seorang hypnotherapist. Namun seorang hypnotherapist pasti mampu melakukan stage hypnosis. Mengapa demikian? Karena untuk menjadi seorang hypnotherapist dibutuhkan pemahaman dan pemahaman ilmu hipnosis dan terapi yang lebih dalam dan menyeluruh. Dengan kata lain seorang stage hypnotist belum tentu bisa melakukan terapi tapi seorang hypnotherapist pasti bisa melakukan stage hypnosis.
Nah, apa yang sebenarnya terjadi di atas panggung, saat seorang stage hypnotist beraksi?
Yang dilihat di panggung adalah “hasil akhir” dari persiapan yang sudah dilakukan dengan sangat hati-hati dan terencana. Nggak lucu kan bila ternyata saat show, eh… subjeknya tidak mau menjalankan perintah yang diberikan si hipnotis.
Nah, apa saja persiapannya?
Persiapan yang paling penting adalah menemukan subjek yang sangat sugestif dan bersedia mengikuti perintah hipnotis saat di atas panggung. Dua komponen ini sangat penting.
Mengapa harus subjek yang bersedia melakukan apa yang diminta hipnotis?
Karena, dan ini tidak diketahui oleh orang awam, saat seseorang dalam kondisi hipnosis,sedalam apapun kondisinya, subjek tetap punya kendali diri sepenuhnya atas apa yang akan ia lakukan. Untuk bisa menjadi subjek yang baik maka ia tidak boleh menolak melakukan apa yang diminta oleh si hipnotis. Dengan kata lain subjek setuju sepenuhnya secara sadar untuk melakukan hal-hal yang diminta oleh hipnotis.
Mengapa perlu subjek yang sangat sugestif?
Karena untuk bisa memunculkan berbagai fenomena trance, seperti positive visual hallucination (melihat sesuatu yang tidak ada menjadi ada ,misalnya bintang film terkenal, ice cream, dll), negative visual hallucination (apa yang ada menjadi tidak tampak), positive/negative auditory hallucination (bisa mendengar bunyi-bunyian tertentu padahal bunyi ini sebenarnya tidak ada atau sebaliknya yang ada bunyi menjadi tidak terdengar), amnesia (lupa angka, nama, salah dalam menghitung, dll), rigid catalepsy (tubuh menjadi kaku), anesthesia (pembiusan secara mental sehingga subjek tidak bisa merasakan perasaan sakit di tubuhnya), halusinasi olfaktori dan gustatori (klien bisa merasakan seakan-akan sedang makan, minum, atau menikmati sesuatu), kinestetic delusion, dan lain-lain dibutuhkan kedalaman hipnosis yang sesuai. Dan paling aman adalah bila bisa membawa subjek masuk sampai ke level profound somnambulism dengan cepat dan pasti. Dan untuk mudahnya maka hipnotis harus mencari dan menemukan subjek tipe ini. Subjek tipe ini dikenal dengan nama natural somnmabulist dan jumlah sekitar 5% dari populasi.
Bila ada subjek tipe natural somnambulist maka siapa saja bisa menjadi stage hypnotist. Lho kok bisa? Ya jelas bisa. Karena subjek tipe ini sangat mudah masuk deep trance dan perintah apapun yang diberikan oleh orang lain cenderung akan dijalankan.
Pertanyaanya sekarang, “Bagaimana menemukan subjek tipe natural somnambulist atau sangat sugestif?”
Kalau untuk acara seperti di The Master maka hipnotis akan menyiapkan sebelum acara dimulai. Ini yang jarang orang ketahui. Kan nggak lucu kalau pas acara waktu dihipnosis ternyata subjek nggak bisa atau nggak mau masuk kondisi trance atau nggak mau menjalankan perintah si hipnotis.
Biasanya sebelum acara, setelah menemukan subjek yang sesuai, maka hipnotis akan meng-instal program tertentu yang akan dijalankan di atas panggung saat acara berlangsung. Misalnya si hipnotis memasang program, “Bila saya meniup ke arah anda (atau bila saya menjentikkan jari saya) maka anda akan langsung tidur yang sangat dalam!”. Nah, di atas panggung saat program ini dijalankan maka subjek akan langsung masuk ke kondisi yang diinginkan.
Bila hipnotis tidak sempat menyiapkan subjeknya maka ia bisa memilih dari penonton. Untuk ini perlu dilakukan uji sugestibilitas untuk melihat siapa yang paling sugestif. Nah, orang-orang ini yang diminta tampil di depan dan akhirnya menjadi “Bintang Tamu” di acara itu. Untuk ini dibutuhkan jam terbang yang cukup agar bisa memilih subjek dengan cepat dan akurat.
Setelah didapatkan subjek yang sangat sugestif selanjutnya acara akan berjalan sesuai kreativitas si hipnotis. Biasanya hipnotis telah menyiapkan skenario apa yang akan ia lakukan di atas panggung. Sudah tentu dengan bumbu penyedap berupa musik, lighting, dan kesan dahsyat yang ia ciptakan agar penonton melihat betapa hebatnya si hipnotis.
Untuk subjek yang dipilih dari penonton maka hipnotis harus mampu melakukan induksi dengan sangat cepat untuk membawa subjek masuk ke kondisi deep trance atau profound somnambulism. Cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan shock induction.
Mengapa dengan shock induction bisa begitu cepat?
Karena saat subjek dibuat kaget, biasanya dengan suatu sentakan, baik di bahu, di lengan, atau dengan cara lain, maka saat itu faktor kritis di pikiran sadar subjek terbuka sesaat dan hipnotis langsung memasukkan satu sugesti “Tidur”. Selanjutnya hipnotis memperdalam kondisi ini dengan teknik tertentu untuk memastikan subjek masuk di kondisi deep trance. Setelah ini barulah show dilakukan.
Namun ini semua, sekali lagi, hanya bisa dilakukan bila subjek bersedia secara sadar atau tidak menolak. Bila klien menolak maka dijamin hipnosis tidak akan bisa dilakukan. Dan jika kita cermati di layar kaca, saat acara berlangsung, maka yang tampak adalah subjek dengan ciri-ciri wajah tertentu. Dan ini adalah ciri-ciri mereka yang sugestif.
Ada yang bertanya, “Pak, kok bisa tanpa perlu mengucapkan kata apapun, hanya dengan menggunakan bahasa isyarat tertentu, si hipnotis bisa membuat subjeknya, misalnya tidur, tertawa, atau lupa nama?”
Oh, kalau ini penjelasannya sangat mudah dan logis. Kemarin malam waktu ada acara gathering milis Money Magnet di Surabaya saya mendemokan hal ini kepada seorang peserta yang sebelumnya merasa sulit masuk ke kondisi somnambulism.
Hanya dalam waktu sekejap, dan ini benar-benar instan karena saya tidak melakukan induksi apapun, hanya memberikan perintah tertentu, peserta ini langsung masuk ke kondisi profound somnambulism dan dia sendiri tidak tahu kalau sudah berada di kedalama ini. Beberapa alumnus QHI yang hadir dan juga hipnoterapis aktif tahu pasti level kedalamannya karena saya, tanpa diketahui oleh peserta ini, melakukan uji kedalaman trance dengan cepat. Selanjutnya saya memberikan “program”, “Bila anda melihat saya menjentikkan jari saya seperti ini (saya tunjukkan menjentikkan jari) maka anda akan langsung lupa nama anda. Anda lupa kalau telah saya beri “program” ini.” Setelah itu saya bertanya kepada peserta ini apa yang baru saya sampaikan dan ia sama sekali tidak ingat. Ini adalah amnesia. Dan benar, saat saya menjentikkan jari saya dan menanyakan siapa namanya maka peserta ini sama sekali tidak bisa ingat namanya.
Bagi peserta lain yang melihat proses sebelumnya, saya memasukkan program dan membuat peserta ini amnesia, maka saat saya menjentikkan jari dan peserta ini benar-benar lupa namanya, ini adalah hal yang biasa saja. Lumrah….logis. Lha, programnya memang begitu.
Namun bagi mereka yang tidak tahu proses di balik ini dan hanya melihat saya menjentikkan jari eh.. tahu-tahu…subjek lupa namanya maka ini menimbulkan kesan dahsyat, luar biasa, magis, dan lain sebagainya bergantung kesan apa yang ingin diciptakan oleh si hipnotis.
Anda jelas sekarang? Ini semua bergantung persiapan yang matang dan kreativitas hipnotis.
Setelah anda membaca sejauh ini maka anda pasti mengerti apa sih sebenarnya yang dilakukan oleh para stage hypnotist. Pertunjukkan ini semakin seru saat dimasukkan unsur sulap dengan trik yang canggih.
Satu hukum yang harus ditaati oleh semua stage hypnotist yaitu kita tidak boleh melakukan sesuatu yang akan membahayakan keselamatan subjek, baik secara fisik, mental, emosi, dan spiritual, dan juga tidak boleh mempermalukan subjek. Prinsipnya adalah kita hanya boleh melakukan atau memberikan perintah kepada seseorang bila kita sendiri mau menjalankan perintah itu. Do unto others what you want others do unto you.
Perintah atau sugesti harus dirancang dengan hati-hati dengan mempertimbangkan banyak hal agar tidak menimbulkan efek negatif terhadap subjek.
Ini satu contoh ya. Pada tahun 1993 seorang subjek hipnosis di Inggris, yang dihipnosis dalam satu pertunjukkan, dan mendapat sugesti, “Anda merasakan sekarang tubuh anda seakan-akan dialiri listrik bertegangan 10.000 volt.” Tanpa diketahui oleh si hipnotis subjek ini ternyata punya phobia terhadap listrik akibat pengalaman traumatik di masa kecilnya.
Beberapa jam sepulang dari pertunjukkan ini subjek ditemukan meninggal. Tentu saja keluarganya tidak terima dan mengajukan tuntutan. Dari penelitian yang dilakukan dicapai kesimpulan bahwa mungkin subjek meninggal karena faktor lain. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa hipnotis tidak bersalah. Namun terlepas dari hasil persidangan kita tentu saja sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh si hipnotis ini.
Kasus lain yang bisa terjadi adalah saat subjek dalam kondisi deep hypnosis ada kemungkinan repressed material yang selama ini tidak bisa naik ke permukaan akhirnya keluar dan terjadilah ledakan emosi yang dikenal dengan istilah abreaction atau catharsis.
Jika stage hypnotist tidak menguasai benar teknik hipnoterapi maka kondisi ini akan sangat merugikan subjek. Ibarat luka lama yang terbuka tapi tidak diobati. Efeknya bisa sangat negatif.
Stage hypnosis memang asyik dan bisa sangat menghibur. Namun kita harus melakukannya dengan integritas, karakter, dan penuh rasa hormat kepada subjek.
Bagi anda yang berminat untuk mendalami stage hyponis saya sarankan untuk membaca The New Encyclopedia of Stage Hypnotism dan Professional Stage Hypnotism karya Ormond McGill dan The Ronning Guide to Modern Stage Hypnosis karya Geoffrey Ronning.
Seorang kawan SD, setelah 25 tahun berpisah, baru-baru ini bertemu dalam seminar saya. Sudah tentu saya kaget dan senang sekali bertemu dengannya. Dan saat kawan ini bertanya, “Masih ingat saya?” Sudah tentu saya masih ingat sambil menyebut nama kawan saya ini. Sekarang gantian kawan saya yang kaget kok saya masih ingat namanya.
Setelah saling bertukar sapa dan kabar kawan saya bertanya, “Di, apa sih yang sebenarnya kamu lakukan? Khususnya yang berhubungan dengan terapi?”
Nah, ini pertanyaan yang singkat tapi membutuhkan jawaban yang panjang. Setelah berpikir cepat, dan karena keterbatasan waktu, saya akhirnya memberikan penjelasan yang to the point mengenai Scientific EEG and Clinical Hypnotherapy.
Apa sih yang dilakukan terapis terhadap klien?
Untuk mudahnya begini. Kita ibaratkan pikiran seperti necktop computer. Saat komputer kita bermasalah atau bekerja tidak seperti yang kita harapkan, ada gangguan, dan kita tidak bisa membereskannya sendiri maka kita akan meminta bantuan orang lain, yang ahli di bidang komputer, untuk mencari tahu apa yang terjadi dan sekaligus membereskan masalahnya.
Nah, terapi itu ibarat saya melakukan otak-atik pada program yang ada di drive C, di folder Program Files. Untuk bisa masuk ke dalam komputer sudah tentu saya harus mendapat ijin dari administrator. Jika administrator tidak mengijinkan maka saya tidak bisa masuk. Karena untuk masuk dibutuhkan login password yang hanya diketahui oleh administrator. Jika saya diijinkan maka admin akan memberikan saya password sehingga saya bisa masuk dengan leluasa.
Setelah berhasil masuk, berdasar informasi yang saya dapatkan dari administrator, saya mulai melakukan otak-atik. Saya mencari tahu apa yang tidak beres dengan komputer ini. Program mana yang bermasalah. Apakah masalahnya ada di program aplikasi ataukah justru di operating system? Apakah masalah muncul karena terjadi perubahan setting yang dilakukan oleh administrator baik secara disengaja atau tidak ataukah perubahan ini dilakukan oleh orang lain tanpa sepengetahuan admin? Atau mungkin ada virus? Saya bisa juga melakukan pemeriksaan melalui Control Panel.
Semua kemungkinan bisa terjadi. Dengan pengalaman dan ditunjang dengan berbagai tools yang tersedia maka saya bisa melakukan scanning dengan cepat untuk menemukan sumber masalah. Setelah berhasil ditemukan maka tinggal diputuskan apakah file/program yang bermasalah ini apakah akan di-delete, dikarantina, di-repair, di-uninstall, atau bahkan di-upgrade. Mengapa perlu upgrade? Karena bisa jadi program yang dulunya bekerja sangat baik, dan hingga saat ini juga tetap sangat baik, menjadi bermasalah karena tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan yang semakin berkembang. Dengan kata lain program ini telah obsolete.
Jika ditemukan virus maka virus ini akan di-delete dan segera dipasang anti virus, jika sebelumnya belum ada program anti virus. Jika sudah ada tapi tetap bisa terinfeksi berarti virus definition perlu diupdate secara berkala.
Setelah selesai melakukan perbaikan maka saya perlu memastikan bahwa perubahan yang telah dilakukan akan bersifat permanen. Caranya adalah dengan memproteksi perubahan ini, misalnya dengan mengubah atribut file menjadi “read only” sehingga tidak bisa dimodifikasi tanpa sepengetahuan administrator. Bisa juga saya memasang program tertentu sehingga bila ada yang mau melakukan modifikasi program tanpa ijin administrator maka akan muncul peringatan.
Pembaca, apa yang saya ceritakan di atas, mengenai komputer, sebenarnya serupa dengan terapi yang saya lakukan pada klien saya. Klien datang ke terapis karena masalah yang tidak bisa ia selesaikan sendiri. Di tahap awal klien akan menceritakan masalahnya dan terapis akan mencatat serta bertanya hal-hal yang perlu ia ketahui. Proses ini dikenal dengan wawancara atau ada yang menyebutnya dengan anamnesa.
Setelah dirasa cukup terapis selanjutnya akan meminta persetujuan dan kesediaan klien untuk merilekskan pikiran (klien) dengan tuntunan terapis. Persetujuan ini sangat penting karena jika klien tidak bersedia maka terapis tidak akan bisa masuk ke pikiran bawah sadar klien (drive C). Saat klien merilekskan pikirannya maka gelombang otaknya akan turun dari yang dominan beta menjadi dominan theta dan delta yang sebenarnya merupakan lokasi penyimpanan memori dan emosi.
Penting bagi klien untuk bisa turun ke theta dan delta karena saat beta sudah sangat minim maka pada kondisi ini ibaratnya berbagai program yang tidak dibutuhkan sudah berhasil dinonaktifkan sehingga tidak menganggu proses perbaikan yang dilakukan. Jika masih ada banyak program yang aktif maka komputer bisa berjalan lambat dan tersendat-sendat. Penonaktifan program ini mirip dengan kita menekan tombol Ctrl-Alt-Del yang akan memunculkan Windows Task Manager. Dari sini kita bisa melakukan End Task pada program yang tidak kita butuhkan.
Terapi dilakukan dengan menggunakan teknik yang spesifik untuk mencari dan menemukan segmen memori tertentu yang ada di pikiran bawah sadar. Perintah search dilakukan dengan bertanya langsung ke pikiran bawah sadar, bisa menggunakan Ego State/Parts Therapy, bisa menggunakan Affect Bridge, Somatic Bridge, Regression (ada banyak cara), mimpi (dream therapy), atau teknik-teknik lainnya.
Setelah memori (baca: program) yang menjadi sumber masalah berhasil ditemukan maka langkah selanjutnya adalah memproses emosi yang melekat pada memori ini. Sebenarnya memori sendiri tidak akan jadi masalah. Yang membuat hidup kita susah adalah emosi khususnya emosi negatif.
Saat menemukan memori itu kita akan tahu history program: siapa yang memasang program, kapan dipasang, sudah mengalami update berapa kali, dan seterusnya dan kapan pertama kali program ini aktif. Saat pertama kali program dipasang maka ini dikenal dengan istilah initial sensitizing event atau ISE. Update selanjutnya adalah subsequent sensitizing event (SSE). Dan saat program mulai aktif bekerja dikenal dengan istilah activating event (AE).
Proteksi yang diberikan agar program yang telah berhasil diperbaiki tidak dapat dimodifikasi tanpa seijin administrator disebut dengan advanced reinforcement dengan sugesti pascahipnosis yang bersifat self-reinforcing dan self-sustained. Hal ini termasuk tindakan pencegahan agar klien, baik disengaja maupun tidak, tidak dapat kembali lagi ke pola lamanya. Bila terpaksa dan dirasa perlu maka proteksi ini juga dilakukan terhadap administrator. Admin, tanpa seijin terapis, tidak akan bisa melakukan modifikasi pada program yang telah diproteksi.
Anda mungkin akan bertanya, “Ah… masa sih terapi yang Bapak lakukan seperti otak-atik komputer?
Memang demikianlah adanya. Saya bahkan pernah me-recover data-data penting dari pikiran seorang klien karena mengalami amnesia yang dipaksakan oleh “seseorang”. Dan ini saya lakukan secara live di dalam kelas pelatihan QHI angkatan 4 di Jakarta dan disaksikan 25 peserta workshop dan beberapa alumni yang reseat saat itu.
Ceritanya begini. Klien ini pernah mengikuti satu pelatihan dan setelah itu sebagian memorinya yang berhubungan dengan pengetahuan tertentu hilang atau tidak lagi bisa diakses. Saya selanjutnya melakukan crack password, karena segmen memori ini telah diproteksi oleh “seseorang” itu, dan selanjutnya melakukan proses recovery melalui back up yang disimpan di tempat tertentu di harddisk pikiran bawah sadarnya.
Saat proses recovery berlangsung iseng-iseng saya bertanya, “Laporkan status anda saat ini?” dan saya mendapat jawaban, “Sudah 73%”, persis seperti di komputer. Peserta pelatihan saya yang mengerti benar mengenai IT hanya bisa geleng-geleng kepala karena heran tapi takjub dan sudah tentu sangat penasaran.
Sungguh suatu pengalaman yang begitu mengasyikkan dan sangat menantang. Itulah sebabnya mengapa saya begitu mencintai dunia pikiran. Semakin digeluti semakin asyik dan mencerahkan. Pikiran manusia mirip seperti komputer tapi jauh lebih canggih dan dahsyat.
Banyak ilmuwan yang telah menginvestasikan sangat banyak waktu mereka untuk memelajari gelombang otak. Saat ini telah berhasil dihimpun banyak data penting mengenai gelombang otak dan hubungannya dengan kondisi kesadaran manusia. Secara umum kita mengenal empat jenis gelombang otak dengan fungsinya masing-masing.
Gelombang beta, dengan frekuensi 12 – 25 Hz, adalah gelombang yang aktif saat kita berpikir. Gelombang ini mewakili kondisi sadar. Kisaran frekuensi beta yang lebih tinggi (high beta) mengindikasikan kondisi kecemasan. Alfa, 8 – 12 Hz, adalah gelombang yang muncul saat seseorang dalam kondisi sadar tapi rileks, waspada tapi pasif, atau saat kita menutup mata. Alfa berperan sebagai jembatan yang menghubungkan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar/nirsadar. Alfa tidak selalu muncul dalam setiap saat. Salah satu kondisi tidak ada alfa yaitu saat kita tidur lelap. Alfa juga tidak muncul/ada saat seseorang sangat tegang, takut, atau marah. Dengan demikian orang yang sugestif biasanya lebih rileks. Theta, 4 – 8 Hz, adalah wilayah pikiran bawah sadar dan delta, 0,5 – 4 Hz, adalah wilayah pikiran nirsadar.
Saat dalam kondisi hipnosis terjadi penurunan sangat signifikan gelombang beta dan peningkatan gelombang alfa, theta, dan atau tanpa delta. Sedangkan delta akan sangat jelas saat subjek berada dalam kondisi deep trance dan mengalami emosi tertentu.
Banyak orang bingung mengenai kondisi hipnosis karena mendapat masukan atau informasi dari sumber-sumber yang tidak kredibel. Salah satunya adalah mispersepsi bahwa saat dalam kondisi hipnosis subjek hipnosis akan tidak sadar, tidak berdaya, dan tidak bisa mendengar atau tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Kondisi yang sebenarnya adalah justru saat dalam kondisi deep trance fokus subjek menjadi sangat tajam. Dari pengukuran dengan DBSA, dan ini saya demonstrasikan di kelas pelatihan Scientific EEG & Clincial Hypnotherapy yang diselenggarakan Quantum Hypnosis Indonesia, tampak jelas bahwa saat subjek masuk ke kondisi deep trance gelombang low beta tetap aktif walaupun sangat minim, amplitudo rendah pada kisaran 5-10 microvolt.
Aktifnya gelombang beta ini berfungsi sebagai jalur komunikasi antara dunia di dalam diri subjek (pikiran bawah sadar/nirsadar) dan dunia di luarnya. Jika sampai terjadi beta sama sekali tidak ada maka jalur komunikasi antara dunia luar dan dunia di dalam diri akan terputus. Subjek tidak akan bisa diajak berkomunikasi.
Hasil pengukuran DBSA juga menunjukkan bahwa saat deep trance maka amplitudo semua gelombang turun drastis. Gelombang yang dominan aktif hanya delta dan theta. Alfa tetap aktif hanya sebagai jembatan untuk menyalurkan informasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar (beta) sehingga informasi ini bisa diproses saat dilakukan restrukturisasi program pikiran. Jika alfa sampai “menghilang” maka terjadi alpha blocking sehingga informasi dari “bawah” tidak bisa naik ke “permukaan”. Kondisi ini biasanya berhubungan dengan adanya muatan yang hendak disembunyikan oleh pikiran bawah sadar karena dianggap riskan bila diketahui pikiran sadar.
Banyak orang yang salah saat berpikir bahwa kondisi hipnosis adalah sama dengan relaksasi fisik. Yang benar kondisi hipnosis adalah relaksasi pikiran, dengan atau tanpa perlu relaksasi fisik. Induksi yang digunakan untuk membawa subjek/klien masuk ke kondisi hipnosis umumnya hanya menggunakan relaksasi fisik seperti Progressive Relaxation Induction. Relaksasi fisik adalah langkah awal untuk membantu seseorang masuk ke kondisi relaksasi pikiran.
Saat seseorang mengalami abreaction atau catharsis, yang tampak dalam bentuk klien menangis keras, teriak, kejang-kejang, marah-marah, atau bahkan sampai “ngamuk”, apakah ia masih dalam kondisi trance? Apakah pikirannya tetap rileks?
Ini pertanyaan yang cukup “mengganggu” saya karena jujur beberapa waktu lalu saya belum punya jawabannya. Nah, dengan DBSA kini saya bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi pada gelombang otak saat seseorang mengalami abreaction/catharsis.
Saat abreaction sebenarnya klien semakin masuk ke kondisi trance. Pada saat ini semua gelombang muncul dengan amplitudo beta yang sangat tinggi pada kedua hemisfir. Besarnya tegangan listrik (yang dinyatakan dalam microvolt) gelombang beta ini jauh di atas kondisi normal. “Sesuatu” terjadi di pikiran dan memperkuat amplitudo beta. Amplitudo delta yang tinggi menggambarkan emosi yang sangat intens yang dialami klien. Theta juga demikian, yang mewakili memori yang diakses saat itu. Dan alfa sudah tentu juga ada dan sangat aktif karena berfungsi sebagai “penghantar” informasi dari pikiran bawah sadar/nirsadar ke pikiran sadar dan demikian sebaliknya.
Selain menggunakan EEG para peneliti juga menggunakan piranti lain yang sangat canggih yaitu fMRI atau Functional Magnetic Resonance Imaging. Salah satu ilmuwan yang menggunakan fMRI untuk meneliti fenomena hipnosis adalah Gruzelier.
Gruzelier dan rekannya memelajari aktivitas otak 12 subjek yang sangat sugestif dan 12 yang kurang sugestif dengan menggunakan fMRI. Dalam uji ini kedua kelompok diminta menyelesaikan tugas kognitif standar.
Gruzelier menemukan bahwa otak subjek yang sugestif saat berada dalam kondisi hipnosis menunjukkan aktivitas yang signifikan di daerah anterior cingulate gyrus dibandingkan dengan otak subjek yang tidak begitu sugestif. Kelompok yang sangat sugestif juga menunjukkan aktivitas otak yang tinggi di sisi kiri dari prefrontal cortex daripada kelompok yang kurang sugestif. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan proses berpikir level tinggi dan perilaku.
Gruzelier menyimpulkan, dalam kondisi hipnosis, bagian otak ini harus bekerja jauh lebih keras untuk mencapai hasil kognitif yang sama. Dengan kata lain selama dalam kondisi hipnosis otak mampu melakukan hal-hal yang berbeda dibandingkan saat kondisi normal.
Penelitian lain yang dilakukan Christina Liossi, psikolog dari University of Wales, terhadap 80 pasien kanker, usia antara 6 dan 16 tahun, menemukan bahwa dalam kondisi hipnosis para pasien ini mengalami rasa sakit yang sangat berkurang jika dibandingkan dengan anak-anak normal, yang menjalani terapi serupa, tanpa bantuan kondisi hipnosis (kontrol).
Penelitian lain yang dilakukan di Universitas Montreal Kanada, menggunakan pemindai PET (Positron Emission Tomography), akhirnya mampu menjawab pertanyaan mengapa hipnosis bisa digunakan untuk mengurangi rasa sakit (mental analgesia) dan menghilangkan rasa sakit (mental anesthesia).
Beberapa ilmuwan, sebelumnya menduga bahwa subjek penelitian berpura-pura dan berbohong kepada peneliti bahwa mereka tidak merasakan sakit saat bagian tertentu tubuh mereka diberi stimulasi yang sebenarnya cukup menyakitkan. Namun, berkat pemindai PET para ilmuwan dapat melihat apa yang sesungguhnya terjadi di otak subjek dan bagaimana rasa sakit bisa “dihilangkan” melalui sugesti tertentu.
Pemindai PET adalah semacam sinar X subatomic yang dapat mendeteksi peredaran darah dan menunjukkan bagian otak yang paling aktif pada suatu saat. Alat ini bekerja paling baik dengan pelacak radioaktif yang disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah.
Dalam riset ini, penelitinya bukan seorang hipnoterapis, tapi seorang dokter yang membacakan script sugesti yang telah disiapkan dengan tujuan membuat subjek rileks. Sebelum script dibacakan tangan subjek dimasukkan ke dalam air yang cukup panas dan dilihat apa yang terjadi di otaknya. Selanjutnya setelah subjek benar-benar rileks peneliti kembali memasukkan salah satu tangan subjek ke dalam air yang cukup panas, yang bila dalam kondisi normal subjek pasti tidak akan bisa menahannya.
Saat sebelum hipnosis bila tangan subjek dimasukkan ke dalam air yang panas maka di satu bagian otaknya muncul titik berwarna merah sebagai indikasi sinyal rasa sakit diterima oleh otak. Saat dalam kondisi rileks (hipnosis) titik berwarna merah ini hilang dan subjek tidak merasakan apapun. Jelas sekali bawah sakit bukan dirasakan oleh tubuh tetapi oleh otak. Hipnosis, dari penelitian ini, terbukti mampu memengaruhi otak sehingga subjek tidak merasakan rasa sakit yang seharusnya ia rasakan bila dalam kondisi normal.
Ilmuwan lain, Kossylan dan Thompson, dari Universitas Harvard melakukan penelitian, dengan menggunakan mesin pemindai (scanner) PET (Positron Emission Tomography) untuk melihat apa yang terjadi pada otak seseorang saat berada atau mengalami kondisi hipnosis. Pemindaian dilakukan dengan mengukur aliran darah di otak sehingga diketahui apa yang sesungguhnya terjadi.Dalam riset ini para subjek penelitian ditunjukkan benda berbentuk segi empat dengan warna tertentu dan mereka, secara mental, diminta menghilangkan warna dari benda yang mereka lihat. Selanjutnya subjek yang sama ditunjukkan gambar segi empat berwarna abu-abu dan diminta untuk memberi warna pada gambar itu dengan menggunakan pikiran (imajinasi) mereka.
Saat tidak dalam kondisi hipnosis, saat subjek diminta untuk melihat warna, tidak peduli apakah mereka bisa melihat atau tidak, maka akan tampak aktivitas di hemisfir kanan. Saat mereka diminta untuk melihat warna abu-abu maka juga terjadi perubahan aktivitas di otak kanan mereka. Eksperimen ini diulangi dengan subjek dalam kondisi hipnosis.
Hal yang menarik saat subjek dalam kondisi hipnosis dan diminta melakukan eksperimen ini tampak jelas aktivitas baik di hemisfir kiri maupun hemisfir kanan.Peneliti ini berhipotesis bahwa saat dalam kondisi hipnosis, saat diminta untuk melihat, maka yang menerima perintah ini adalah otak kiri. Sedangkan otak kanan akan aktif saat subjek menerima perintah melihat warna, baik saat berada di dalam kondisi hipnosis maupun tidak dalam kondisi hipnosis.
Hal ini sangat menarik karena otak kiri berhubungan dengan logika dan rasional. Sedangkan otak kanan berhubungan dengan warna. Tapi dalam eksperimen ini otak kiri justru aktif dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh otak kanan. Kossylan menyatakan bahwa hal ini berarti hipnosis mengubah pengalaman sadar dalam cara yang tidak mungkin bisa dilakukan bila kita tidak dalam kondisi hipnosis.
Dalam proses terapi, baik dilakukan dalam kondisi sadar sepenuhnya, light trance, maupun deep trance, klien, cepat atau lambat, pasti akan mengalami suatu luapan emosi. Luapan emosi ini, bisa yang ringan hingga yang sangat intens , merupakan bentuk pelepasan tekanan psikis yang selama ini terpendam di pikiran bawah sadar. Luapan emosi ini dikenal dengan istilah abreaction atau catharsis.
Istilah abreaction pertama kali digunakan dalam psikoterapi saat Josef Breuer mengembangkan “cathartic method” seperti yang dijelaskan dalam buku Studies in Hysteria, yang ia tulis bersama Sigmund Freud di tahun 1895.
Secara teknis, abreaction atau catharsis adalah proses terapeutik berupa lepasnya emosi yang intens yang diikuti dengan terungkapnya suatu emosi yang bersifat traumatik dengan tujuan tercapainya suatu resolusi. Saya menjelaskan hubungan antara simtom, pelepasan tekanan psikis, emosi negatif, dan kesembuhan di artikel saya yang berjudul “Teori Tungku Mental” yang bisa anda baca di http://adiwgunawan.com/index.php?pid=dtl_artikel&id=48.
Pada definisi di atas tampak bahwa tujuan utama terjadinya abreaction adalah untuk mencapai suatu penyelesaian atau resolusi dari suatu masalah. Namun sayangnya pemahaman ini jarang diungkapkan dengan jelas. Banyak yang mengira bahwa saat klien menangis atau meledak emosinya maka dengan demikian masalah telah berhasil diselesaikan. Benarkah demikian?
Yang terjadi sebenarnya adalah keluarnya emosi yang sekian lama dibendung, ditekan, dan disimpan di reservoir pikiran bawah. Seperti air yang tumpah ruah keluar dari suatu bendungan saat pintu bendungan dibuka. Namun bila sumber air yang mengisi bendungan tidak dihentikan maka saat bendungan ditutup akan kembali terjadi penumpukan air di dalam bendungan.
Inilah yang terjadi pada banyak sesi terapi yang tidak efektif termasuk yang sering terjadi di berbagai retreat. Saat klien mengalami abreaction, ia mengeluarkan begitu banyak tekanan psikis dan setelah itu ia akan merasa begitu lega dan nyaman. Ia merasa masalahnya sudah selesai. Terapis pun menyatakan klien sudah sembuh. Namun beberapa hari atau minggu kemudian simtom yang sama kembali muncul dan klien harus kembali menemui terapis (lain).
Terapis yang mumpuni akan tahu kapan perlu melakukan teknik terapi yang membuat klien mengalami abreaction dan kapan ia tidak perlu melakukannya. Selain itu ada banyak hal yang harus diperhatikan agar dapat membimbing klien mengalami abreaction secara aman, terkendali, dan diakhiri dengan tercapainya resolusi atau penyelesaian masalah.
Terapis pemula biasanya tidak akan nyaman menghadapi abreaction. Sama dengan saya dulunya. Pada saat klien “meledak” saya langsung blank dan kalang kabut plus panik. Namun berkat pembelajaran dan pengalaman akhirnya saya tahu cara yang aman dan efektif menghadapi klien yang mengalami abreaction.
Abreaction adalah sesuatu yang serius dan tidak bisa dibuat main-main. Terapis harus benar-benar siap dan mampu mengatasi luapan emosi kliennya dan memfasilitasi keseluruhan proses abreaction secara mulus, terstruktur, dan berhasil guna. Jika tidak ditangani secara benar maka abreaction justru akan membuat klien semakin “kacau”.
Apa sih sebenarnya yang terjadi pada klien saat ia mengalami abreaction?
Saat klien mengalami abreaction maka ia mengakses memori yang ada di pikiran bawah sadarnya beserta berbagai emosi negatif yang menyertai memori itu. Pada saat memori dan emosi ini naik dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar maka klien akan mengalami kembali semua kejadian (revivification) yang dulu ia alami dan yang mengakibatkan trauma ini. Dengan kata lain ini seperti kita membuat luka lama. Begitu luka ini terbuka maka kita harus cekatan membersihkannya, mensterilkan, memberi obat, dan menjahit kembali sehingga proses penyembuhan terjadi dengan alamiah dan optimal.
Apa yang terjadi bila setelah luka dibuka lalu kita biarkan begitu saja? Pasti akan terjadi infeksi dan membuat luka menjadi semakin parah dan bisa berakibat sangat fatal bagi klien.
Bila melihat penyebab terjadinya maka abreaction dibagi menjadi dua jenis. Pertama, abreaction yang disengaja. Abreaction jenis ini memang sengaja dilakukan oleh terapis terhadap klien dengan menggunakan tenik tertentu dan telah direncanakan dengan sangat hati-hati dan terstruktur. Terapis benar-benar tahu apa dan mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan.
Kedua, abreaction yang tidak direncanakan atau bersifat spontan. Abreaction ini dapat terjadi sewaktu-waktu saat sesi terapi berlangsung. Terapis yang andal akan mampu memfasilitasi dengan baik abreaction yang disengaja maupun yang spontan karena secara teknis penanganannya sebenarnya sama saja.
Saya pernah meminta seorang klien, di salah satu kelas pelatihan QHI, untuk mundur ke satu masa yang sangat menyenangkan dan membahagiakan dirinya. Saat itu saya sedang memberikan contoh melakukan regresi. Saat saya regresi bukannya mundur ke masa bahagia klien malah mundur ke masa yang menyakitkan. Klien langsung abreaction dan menangis hebat. Saya langsung membawa klien keluar dari abreactionnya. Saya sengaja tidak memproses abreaction ini karena di awal sesi kita telah sepakat bahwa klien hanya akan mundur ke masa bahagia.
Setelah klien tenang saya kembali melakukan regresi ke masa bahagia. Kembali ia mundur ke masa yang menyakitkan. Ternyata pikiran bawah sadarnya tahu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan repressed content karena ia berada di tempat yang aman dan dalam penanganan orang yang mampu membantunya. Kembali saya membawanya keluar dari abreaction. Selanjutnya kembali saya melakukan regresi dan ia kembali lagi ke masa yang menyakitkan. Saya langsung menghentikan proses regresi dan membawa klien keluar dari kondisi profound somnambulism. Sengaja saya tidak lakukan terapi karena keterbatasan waktu dan mengingat kondisi fisik dan mental saya yang sudah cukup lelah setelah mengajar sehari penuh. Pada pertemuan berikutnya barulah saya memproses abreactionnya hingga tuntas.
Pernah juga terjadi ada seorang pasien wanita di rumah sakit, saat kembali sadar setelah menjalani suatu operasi yang mengharuskan dilakukan pembiusan total, tiba-tiba mengalami abreaction hebat. Ternyata saat itu secara tidak sengaja ia mengakses materi psikis yang selama ini disembunyikan pikiran bawah sadarnya. Waktu kecil ia sering mengalami pelecehan seksual dan dipukuli tetangganya. Akibatnya pasien ini mengalami depresi. Untunglah dokter yang merawatnya cukup tanggap dan merujuk pasien ini ke seorang terapis yang mampu membantu klien mengatasi pengalaman traumatik ini dan bisa sembuh.
Anda mungkin bertanya, “Lho, kok bisa pasien ini mengingat repressed content yang selama ini disembunyikan pikiran bawah sadarnya?”
Jawabannya, “Bisa”. Ada tiga macam hipnosis. Pertama self-hypnosis atau hipnosis yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri. Kedua, hetero-hypnosis atau hipnosis yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Dan yang ketiga, para-hypnosis atau kondisi hipnosis yang disebabkan oleh obat-obatan tertentu. Nah, pasien ini saat mulai kembali sadar ia sebenarnya keluar dari kondisi hipnosis. Saat dalam kondisi ini secara tidak sengaja ia mengakses repressed content itu.
Salah satu situasi yang menurut saya cukup berbahaya adalah, dan ini cukup sering terjadi, terapis yang tidak memahami cara penanganan abreaction justru secara tidak sengaja membuat klien mengakses materi psikis (memori) yang selama ini ditekan dan dipendam di pikiran bawah sadar. Materi ini sengaja disembunyikan oleh pikiran bawah sadar klien, bahkan klien seringkali lupa atau tidak ingat mengenai materi ini, demi kebaikan klien. Pengalaman yang sangat traumatik, dengan muatan emosi negatif yang begitu intens, tentunya bisa berakibat fatal bagi kesehatan mental/emosi klien. Dan karena salah satu sifat pikiran bawah sadar adalah melindungi diri kita dari segala hal yang ia (pikiran bawah sadar) persepsikan berbahaya, baik secara fisik maupun mental/emosi, maka pengalaman atau memori ini disembunyikannya sehingga tidak bisa diakses oleh pikiran sadar.
Dengan menggunakan Mind Mirror tampak jelas bagaimana pikiran bawah sadar menghambat akses ke memori ini. Gelombang theta klien sangat aktif dan fluktuatif pertanda ada sesuatu. Namun terjadi alpha blocking sehingga data ini tidak bisa naik ke pikiran sadar (beta).
Secara umum abreaction biasanya terjadi saat dilakukan regresi, baik age regression maupun past life regression. Dengan kedalaman trance yang sesuai, profound somnambulism, maka klien akan mengalami kembali (revivification) semua kejadian yang dulunya membuat ia trauma. Jika kedalamannya tidak mencapai profound somnambulism, misalnya hanya di level medium trance maka yang terjadi adalah pseudo-revivification atau yang lebih dikenal dengan hypermnesia. Dalam kondisi ini sulit terjadi abreaction.
Bila materi yang sangat traumatik ini sampai naik ke pikiran sadar dan tidak terjadi resolusi maka efeknya sangat negatif terhadap klien. Ada seorang wanita yang mengalami guncangan emosi yang luar biasa setelah menjalani past life regression (PLR) yang dilakukan seorang terapis di satu kota besar. Dan karena penanganannya tidak optimal kabar terakhir yang saya dengar klien ini masuk rumah sakit jiwa. Ini pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua agar tidak main-main dengan pikiran klien.
Hal yang perlu dilakukan adalah membantu klien mengeluarkan (semua) emosi yang terpendam dengan intensitas sesuai yang diijinkan oleh pikiran bawah sadarnya. Terapis tidak boleh memaksa klien untuk mengeluarkan secara tuntas semua emosi ini hanya dalam satu sesi terapi. Jika klien siap maka boleh dalam satu sesi tuntas. Jika tidak maka abreaction ini bisa “dicicil” atau dilakukan dalam sesi yang berbeda.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah apakah klien mengidap sakit jantung, tekanan darah tinggi, atau epilepsi. Bila ya maka terapis harus benar-benar ekstra hati-hati bila terpaksa membimbing klien untuk mengalami abreaction.
Saya pribadi tidak akan membiarkan klien yang mengalami masalah kesehatan seperti yang saya sebutkan di atas mengalami abreaction. Terlalu riskan. Saya biasanya menggunakan teknik lain yang bisa dengan sangat cepat menetralisir emosi apapun yang klien rasakan tanpa klien harus merasakan kembali emosi itu. Dengan kata lain saya memodifikasi proses abreaction sehingga walaupun agak berbeda tapi hasilnya sama. Kalaupun saya terpaksa harus membimbing klien ini mengalami abreaction maka prosesnya saya cicil, sedikit demi sedikit.
Teknik ini juga saya gunakan untuk membantu wanita yang mengalami pelecehan seksual. Sudah tentu akan sangat menyakitkan kalau klien harus abreaction dan mengalami kembali pengalaman traumatik itu.
Dalam kondisi normal setelah klien mengalami abreaction, setelah tekanan psikis berhasil dilepas, maka langkah selanjutnya adalah membimbing klien menjalani proses restrukturisasi program pikiran atau memori. Begitu tahap ini berhasil dilakukan dengan sempurna maka proses terapi berhasil mengeliminir emosi dari memori. Selanjutnya bila klien mengingat kembali kejadian, yang dulunya membuat ia sangat trauma, perasaannya datar dan sama sekali tidak ada pengaruh.
Lalu, bagaimana cara menangani abreaction agar dicapai resolusi terbaik untuk klien?
Pertama, terapis harus punya postur yang bagus di depan klien. Apakah klien benar-benar yakin dan percaya pada kemampuan dan integritas terapis ataukah ada keraguan di hati klien? Hal ini sangat penting karena terapi sebenarnya bermula sejak seorang klien mulai tahu tentang terapis, bukan saat klien bertemu terapis di ruang praktik.
Setelah itu dapatkan hypnotic contract antara terapi dan pikiran bawah sadar klien. Pastikan bahwa pikiran bahwa sadar klien sepakat untuk menjalankan semua bimbingan, arahan, dan instruksi yang disampaikan kepadanya selama sesi terapi. Hal ini penting agar saat terjadi abreaction, sehebat apapun, pikiran bawah sadar klien tetap menjalankan berbagai sugesti yang diberikan. Sudah tentu sugestinya antara lain klien kuat menjalani abreaction atau klien keluar dari abreaction.
Sebelum melakukan terapi pastikan klien telah benar-benar masuk ke kondisi profound somnamblism. Hal ini bertujuan agar secara fisik dan terutama pikiran klien telah benar-benar rileks. Pada kondisi ini sistem saraf yang aktif atau dominan adalah sistem saraf parasimpatetik. Intensitas abreaction pada saat sistem saraf simpatetik sedang aktif akan lebih ringan dan terkendali daripada dalam kondisi normal.
Selanjutnya, sebelum melakukan terapi pastikan memberikan sugesti pengaman. Misalnya dalam kondisi apapun pikiran bawah sadar klien tetap akan patuh sepenuhnya menjalankan instruksi yang diberikan terapis. Bentuk pengaman lainnya adalah meminta klien membuat tempat kedamaian dan melakukan eksplorasi tempat kedamaiannya untuk beberapa saat. Eksplorasi ini selain membuat klien merasa sangat aman dan nyaman juga merupakan salah satu teknik deepening yang sangat efektif bagi klien yang visual. Dengan sedikit modifikasi maka akan sama efektif untuk klien yang auditori dan kinestetik.
Gunakan tempat ini sebagai safety exit bila abreaction klien sangat intens dan sudah mencapai level yang tidak bisa ia tolerir lagi. Bisa juga terapis mensugestikan agar klien kembali menyadari sedang berbaring di kursi di ruang terapi. Jadi, kursi terapinya digunakan sebagai tempat kedamaian. Satu hal yang perlu diwaspadai, jangan pernah memaksakan tempat kedamaian anda kepada klien. Biarkan klien menentukan atau menciptakan sendiri tempat kedamaiannya.
Cara lain yang sangat ampuh adalah dengan mensugestikan klien keluar dari pengalaman traumatik yang sedang ia alami. Saat klien mengalami abreaction maka yang terjadi adalah revivification. Klien benar-benar mengalaminya seperti dulu saat kejadian itu terjadi. Ini adalah kondisi asosiasi. Lakukan sebaliknya yaitu disosiasi. Minta klien keluar dari pengalaman itu dan hanya menyaksikan pengalaman atau kejadian itu sebagai film. Kalau emosinya masih tetap intens, lakukan modifikasi pada submodalitas visual atau auditori dari film yang sedang ditonton klien dengan tujuan menurunkan intensitas emosinya.
Di awal saya mengatakan bahwa sangat penting bagi terapis untuk punya postur yang bagus di depan klien. Terapis harus tampil dan dipandang sebagai figur otoritas.Hal ini sangat bermanfaat saat membimbing klien dalam kondisi somnambulism, apalagi saat abreaction.
Di salah satu sesi pelatihan QHI para peserta saling melakukan terapi. Ternyata ada satu peserta yang mengalami abreaction dan tidak bisa reda walaupun rekannya telah melakukan berbagai teknik yang saya ajarkan. Saat saya yang memberikan sugesti kepada pikiran bawah sadar peserta itu untuk menghentikan dan keluar dari abreaction serta merta peserta ini langsung rileks dan keluar dari abreaction-nya. Mengapa ini bisa terjadi? Karena otoritas saya, menurut persepsi pikiran bawah sadar peserta ini, sangat tinggi dan melampaui otoritas rekannya yang juga lagi sama-sama belajar. Anda jelas sekarang?
Teknik yang saya jelaskan di atas sangat manjur untuk membawa klien keluar dari abreaction. Saya dulu selalu menggunakan teknik-tenik ini. Dan sekarang sudah hampir tidak pernah lagi. Bukan karena tidak efektif namun saya mengembangkan sendiri teknik penanganan abreaction berdasar pengalaman saya. Sekarang hanya dalam waktu 2 detik saya bisa mengeluarkan klien dari abreaction sehebat apapun yang ia alami. Dan teknik ini selalu berhasil. Teknik ini diajarkan di kelas pelatihan Quantum Hypnosis Indonesia dan telah sangat membantu alumnus pelatihan saya menangani dan memproses abreaction dengan sangat mudah, aman, dan efektif. Akan sangat teknis bila saya jelaskan di artikel ini.
Saat klien dibimbing keluar dari abreaction dan berada di tempat kedamaian beri kesempatan klien ”istirahat” sejenak sambil memberikan beberapa sugesti untuk menguatkan klien. Setelah klien siap bimbing ia kembali ke kejadian traumatik itu dan mengalami kembali abreactionnya. Demikian seterusnya hingga tekanan psikis berhasil dikeluarkan semua.
Setelah tekanan psikis habis barulah dilakukan restrukturisasi. Lakukan pemaknaan ulang atas peristiwa itu dan netralisir emosi yang mungkin masih tersisa. Terapi ditutup dengan melakukan posthypnotic suggestion untuk mengamankan dan memperkuat perubahan yang telah dilakukan sehingga klien tidak lagi bisa kembali ke pola lamanya walaupun ia secara sadar menginginkannya atau mungkin lingkungan yang memprovokasi ia kembali ke pola lama itu. Dan sebagai sentuhan akhir yang juga sangat penting lakukan “penyegelan” atau sealing pada program positif yang baru diinstal sehingga tidak dapat sembarangan diotak-atik oleh klien atau mereka yang tidak berkepentingan.
Sekalipun abreaction atau catharsis merupakan fenomena yang umum terjadi dalam proses terapi namun bila tidak ditangani dengan baik akan dapat berpotensi semakin menyengsarakan hidup klien, seakan menoreh luka baru di atas luka lama. Melalui kehati-hatian yang tentunya dilandasi pengetahuan mendalam, ketenangan, kebijaksanaan, dan pengalaman dari hasil akumulasi jam terbang yang cukup maka terapis dapat memfasilitasi dengan baik hal ini sehingga menjadi salah satu teknik pelepasan tekanan mental yang sangat positif, konstruktif, dan efektif dalam membantu klien mengatasi masalahnya.