The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel


Coronaphobia dan Psikosomatis Covid-19

25 Maret 2020
Saya dihubungi beberapa calon klien yang minta waktu jumpa saya untuk menjalani sesi terapi. Kata mereka ini kondisi mendesak dan minta agar mereka bisa segera jumpa saya.
 
Saya tanya, apa masalahnya, ternyata mereka rata-rata mengalami perasaan takut, cemas, yang berakibat pada kondisi pikiran tidak tenang, hati tidak damai, dan sulit tidur.
 
Saya tanya lagi, mulai kapan gangguan emosi ini muncul atau mereka alami, hampir semua menjawab mereka mengalami kecemasan tinggi sejak ramai diberitakan tentang virus corona (Covid-19).
 
Bahkan ada tiga calon klien yang mengaku mengalami gejala serupa dengan Covid-19 seperti flu, batuk kering, tenggorokan sakit, dan demam.
 
Saya tanya lagi, apakah mereka ada keluar rumah, ke tempat ramai, kumpul-kumpul sama teman, bersalaman atau berdekatan dengan orang yang mengalami Covid-19 atau orang dalam pengawasan, dan semua menjawab tidak.
 
Mereka bahkan mengatakan bahwa sudah dua minggu lebih mereka tidak ke mana-mana, hanya istirahat dan melakukan kegiatan dari rumah.
 
Saya tanya lagi, apakah mereka rutin atau sering baca informasi atau berita, baik itu dari media massa seperti televisi, surat kabar, atau dari media sosial, terutama dari grup percakapan seperti WA atau Telegram, dan mereka semua menjawab ya. Sekarang jelas duduk persoalan dan akar masalahnya.
 
Saya mohon maaf karena belum bisa jumpa mereka. Saat ini saya dan semua hipnoterapis AWGI, untuk sementara waktu, berhenti total melakukan terapi. Ini untuk kebaikan bersama dan mematuhi himbauan pemerintah untuk melakukan social/physical distancing untuk meredam penyebaran Covid-19.
 
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini?
 
Saya beri mereka beberapa saran dan masukan. Pertama, mereka berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19.
 
Tidak ada gunanya untuk hidup mereka dengan mengetahui sudah berapa banyak orang yang terkena Covid-19, berapa yang meninggal, dan berapa yang sembuh.
 
Saya minta mereka berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19 minimal selama dua minggu dan setelahnya mereka bisa beri laporan perkembangan yang dialami.
 
Kedua, saya sarankan mereka untuk banyak membaca buku-buku positif, nonton film atau video yang lucu, karaoke, senam atau olahraga, rileksasi atau meditasi, berdoa, atau apa saja yang positif dan bisa membuat pikiran dan perasaan mereka tenang dan bahagia.
 
Cukup sudah kita menebar dan menyebar informasi terkait virus corona (Covid-19) di media sosial dan grup percakapan seperti WA atau Telegram yang justru semakin menguatkan berbagai emosi negatif seperti takut, khawatir, cemas, merasa tidak berdaya, dll.
 
Sekarang waktunya kita melawan virus corona (Covid-19) dengan berpikir positif dan merasakan emosi positif, mengirimkan vibrasi positif untuk diri sendiri dan lingkungan, menyebar informasi yang sifatnya meneduhkan, menenangkan untuk kebaikan diri sendiri dan bersama.
 
Lalu, bagaimana sampai orang mengalami psikosomatis Covid-19?
 
Informasi masuk ke pikiran bawah sadar melalui lima jalur:
  1. Otoritas : informasi, benar atau salah, yang disampaikan oleh figur otoritas pasti dengan mudah masuk dan diterima oleh pikiran bawah sadar (PBS) sebagai kebenaran.
  2. Emosi : setiap informasi yang diterima individu, bila disertai emosi intens, baik positif atau negatif, akan dicatat oleh PBS sebagai sesuatu yang penting.
  3. Repetisi : informasi serupa bila terus diulang, dilihat, dibaca, dibicarakan, diingat, dibayangkan, atau didengarkan pasti masuk ke memori PBS.
  4. Identifikasi Kelompok: saat informasi ini diterima atau dinyatakan benar oleh satu kelompok atau komunitas, setiap anggota kelompok ini menerimanya sebagai kebenaran.
  5. Relaksasi pikiran : saat pikiran rileks, sore atau malam hari saat mau tidur, atau pagi hari saat baru bangun tidur, bila kita membaca, mendengar, menonton tayangan atau informasi tertentu, informasi ini langsung masuk ke PBS tanpa bisa disaring oleh faktor kritis pikiran sadar.
 
Informasi tentang Covid-19, benar atau salah, yang telah terekam di PBS, tidak akan pernah bisa hilang. Informasi ini akan terus ada di memori sampai dilakukan upaya secara sadar untuk mengganti informasi ini dengan informasi lain.
 
Semakin seseorang membaca dan mengingat gejala-gejala Covid-19, semakin ia mengulang memunculkan informasi ini di pikirannya, semakin kuat informasi ini jadinya, dan semakin ia terpengaruh.
 
Ia menjadi semakin cemas dan takut. Disadari atau tidak, ia akan memeriksa kondisi fisiknya, apakah ada gejala yang sama atau menyerupai Covid-19. Ini sesungguhnya adalah hal yang wajar karena semua orang pasti ingin selamat, ingin tetap hidup. Dan fungsi utama PBS adalah melindungi dan menjaga keselamatan hidup kita.
 
Semakin ia melakuan pengecekan, semakin PBS mendapat informasi bahwa ini adalah sesuatu yang penting. Dan sesuai hukum pikiran, apa yang menjadi fokus pasti bertumbuh dan menguat. Ini menjadi semakin kuat saat dilandasi emosi negatif intens.
 
Akhirnya, PBS memunculkan simtom atau gejala yang sama atau serupa dengan gejala Covid-19. Saat ini terjadi, individu menjadi semakin cemas, takut, panik, dan gejalanya menjadi semakin nyata, semakin kuat.
 
Semakin ia cemas atau takut, semakin stres ia, semakin banyak hormon stres diproduksi oleh tubuhnya, dan semakin tertekan kerja sistem imun, dan semakin besar kemungkinan ia jatuh sakit, semakin besar risikonya bila ia benar-benar terpapar virus corona.
 
Virus corona belum tentu mengenai semua orang. Namun saat ini hampir semua orang sudah tertular virus pikiran yang membuat mereka cemas, khawatir, takut, paranoid.
 
Sekarang saatnya kita bangkit bersama melawan virus corona. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menghambat kemungkinan virus corona semakin tersebar.
 
Dan berlakulah CERDAS dan BIJAK. Sebarkan hanya berita-berita positif. SARING sebelum SHARING.
Baca Selengkapnya

Analisis Kasus dan Strategi Membantu Anak Tantrum

18 Februari 2020

Saya dapat pertanyaan dari salah satu peserta SECH, sebut saja sebagai Ibu Wati, psikolog klinis, cara menangani kasus anak usia 10 tahun yang mudah terpicu emosinya dan tantrum. Saat tantrum, anak ini berperilaku seperti individu berusia sekitar satu tahun.

Untuk bisa membantu anak ini, saya jelaskan pada para peserta, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi di pikiran bawah sadar (PBS) menggunakan teori dan paradigma yang diajarkan di kelas SECH.

Tantrum adalah ledakan emosi pada individu disertai sikap dan perilaku seperti keras kepala, menjerit, menangis, sulit atau menolak untuk ditenangkan. Seringkali, walau kemauan individu ini telah dipenuhi, perilaku tantrumnya terus berlanjut. 

Tantrum, dari perspektif AWGI, adalah salah satu bentuk abreaksi, luapan emosi, untuk melepas tekanan dalam pot mental individu. Di bawah pot mental ini ada api emosi yang telah membakar pot dalam waktu cukup lama. Saat ada tambahan api, walau hanya sedikit (baca: ada kejadian yang memicu emosi negatif tertentu), tekanan dalam pot mencapai titik kritis dan membahayakan keutuhan pot mental (baca: sistem psikis).

Sebagai upaya pencegahan agar pot mental tidak pecah dan meledak, PBS membuat satu atau beberapa lubang untuk mengeluarkan uap dari dalam pot. Uap ini adalah simtom atau gejala yang tampak dalam bentuk pemikiran, ucapan, dan perilaku atau tindakan tertentu. Dalam kasus anak ini, tantrum adalah simtom.

Simtom bukan masalah. Simtom adalah ekspresi masalah. Simtom adalah pesan dari PBS. Simtom perlu diakui, diterima, dan dimengerti. Simtom adalah petunjuk untuk menemukan solusi.

Dalam kasus anak tantrum, dari perspektif teori yang diajarkan di kelas SECH, masalah yang harus diselesaikan adalah mencari dan menemukan api yang membakar pot mental anak, dan selanjutnya memadamkan api ini. Saat api padam, pot mental dengan sendirinya menjadi dingin dan tidak lagi ada uap yang keluar dari lubang. Dan kalaupun ada api (baca: emosi) baru yang terpicu karena sesuatu hal, anak tidak langsung tantrum karena tekanan dalam pot mentalnya belum atau tidak mudah mencapai titik kritis.

Untuk menemukan akar masalah pada anak usia 10 tahun bisa dilakukan dengan wawancara mendalam dengan kedua orang tua atau pengasuh utama anak. Bila upaya ini tidak membuahkan hasil, barulah terapis menggunakan teknik hipnoanalisis.

Mengingat usia anak masih sangat muda, sumber api emosi anak biasanya berasal dari orang tua dan lingkungan. Penelusuran sumber emosi dalam diri anak diawali dengan bertanya tentang kondisi pikiran dan emosi ibunya sangat mengandung anak ini.

Dari pengalaman dan temuan di ruang praktik, saat anak masih di dalam kandungan ibu, sebagai janin, ia terpapar emosi, baik positif maupun negatif, yang ibunya alami dan rasakan.  Janin menyerap emosi ini dan menyimpannya di memori PBS. Emosi negatif adalah api yang membakar pot mental si anak.

Bila selama ibu mengandung tidak ada masalah emosi, penelusuran dilanjutkan dengan mencari tahu apakah ada kejadian traumatik yang anak alami dalam proses tumbuh kembang dari sejak lahir hingga usia 10 tahun.

Semua informasi yang diperoleh dari hasil penelusuran ini dicatat rapi sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan strategi terapi yang akan diterapkan dalam membantu anak mengatasi masalahnya.

Setelah mendengar uraian saya ini, Ibu Wati menambahkan bahwa anak ini bukan anak kandung tapi anak adopsi. Saat masih bayi, ia ditemukan di keranjang sampah dan diadopsi ke dalam keluarganya saat ini. Rupanya, anak ini dibuang oleh ibu kandungnya setelah dilahirkan.

Berdasar informasi tambahan ini kita dapat dengan sangat gamblang menjelaskan asal mula emosi dalam diri si anak. Yang pasti, ia adalah anak yang tidak diinginkan oleh ibunya sehingga dibuang di keranjang sampah sesaat setelah dilahirkan. Sudah tentu anak ini marah, kecewa, sakit hati, sangat terluka karena ia ditolak dan sengaja hendak dibunuh oleh ibunya.

Besar kemungkinan ia adalah hasil hubungan yang tidak "lazim" antara ibunya dengan pria yang seharusnya menjadi ayahnya. Ibunya bisa saja stres berat kronis saat mengandungnya. Mengingat PBS telah aktif sejak terjadi pembuahan maka apapun yang dialami dan dirasakan si ibu juga dirasakan oleh janin dan semuanya terekam di memori PBS janin.

Anak ini mudah terpicu emosinya dan setelahnya, ia tantrum. Saya jelaskan bahwa ada lima syarat yang harus dipenuhi agar suatu peristiwa direkam di PBS sebagai pengalaman traumatik, yaitu memori disertasi emosi negatif intens.

Kelima syarat ini adalah ada peristiwa yang memunculkan emosi negatif (intens), peristiwa ini bermakna bagi individu, senyawa kimiawi otak pada momen kejadian mendukung, individu merasa terperangkap, dan individu merasa tidak berdaya. Salah satu saja dari kelimat syarat ini tidak terpenuhi, trauma tidak bisa terjadi. Dengan demikian, strategi terapi ditujukan untuk meniadakan salah satu atau beberapa syarat trauma.

Saat individu mengalami emosi negatif intens seperti marah, cemas, atau takut, secara instingtif tubuh masuk ke mode lawan atau lari (fight - flight) dan memproduksi adrenalin guna menyiapkan individu menghadapi bahaya atau apapun yang dipersepsikan sebagai bahaya.

Keberadaan adrenalin mengakibatkan otak menjadi sangat fokus untuk mengamati dan merekam semua data atau informasi pada momen peristiwa ini. Yang direkam adalah data visual (gambar atau warna), auditori (suara), kinestetik (sensasi fisik atau perasaan), olfaktori (aroma atau bau), dan gustatori (rasa).

Rekaman data ini selanjutnya digunakan sebagai acuan agar individu, di masa depan, berhati-hati dalam menjalani hidup. Data ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini agar individu tidak mengalami lagi kejadian serupa atau sama dengan yang dulu ia alami. Dan ini adalah fungsi utama PBS yaitu melindungi keselamatan individu dari hal-hal yang ia (PBS) pandang, rasa, nilai, persepsikan, yakini berbahaya atau merugikan individu.

Selanjutnya, kapanpun atau setiap kali individu jumpa data (stimulus/i) yang sama atau serupa dengan data di PBS, yang berasal dari kejadian traumatik, stimulus/i ini mengaktifkan pola reaktif di PBS.

Dalam kasus anak ini, sesuatu di lingkungannya, bisa berupa benda, gambar, wajah orang, warna,  suara, sentuhan, bau atau rasa tertentu menjadi pemicu mengaktifkan memori traumatik dan memunculkan emosi negatif dalam dirinya.

Setiap kali pola reaktif dalam diri si anak terpicu, ia mengalami emosi negatif intens dan emosi ini selanjutnya terakumulasi di dalam sistem psikisnya, mengakibatkan kondisinya menjadi semakin rentan dan tidak stabil.

Dari cerita Ibu Wati, saat anak ini tantrum, ia berperilaku seperti individu berusia satu tahun, dapat disimpulkan bahwa emosi yang membuat ia tantrum juga mengakibatkan terjadi regresi spontan ke usia satu tahun.  Jadi, yang tantrum sesungguhnya adalah anak satu tahun (inner child) mengekspresikan emosinya menggunakan tubuh anak berusia 10 tahun. Inner child ini mengalami fiksasi dan tidak bertumbuh.

Upaya terapi yang dapat dilakukan untuk membantu anak mengatasi masalah tantrum, berdasar uraian di atas adalah, pertama, bila ibu kandungnya bisa dijumpai, terapis membantu menetralisir emosi negatif dalam diri ibunya saat mengandung anak ini. Ini penting dilakukan karena keterhubungan batin antara ibu dan anak pasti berdampak pada anak. Kedua, terapis menetralisir emosi negatif pada kejadian paling awal (akar masalah) dalam diri anak. Ketiga, melakukan modifikasi pada copaste ibu menjadi copaste ibu ideal. Keempat, bila dibutuhkan, terapis menumbuhkembangkan inner child yang mengalami fiksasi di usia satu tahun, dan kelima, terapis menetralisir pola reaktif di PBS anak sehingga stimulus/i yang sama atau serupa dengan data di PBS anak, tentang kejadian traumatik yang ia alami dulu, tidak lagi bisa memicu munculnya emosi negatif. Dan keenam, lingkungan anak, terutama keluarga inti, memberi dukungan penuh, perhatian, dan kasih sayang yang anak butuhkan sehingga ia merasa aman.  

Strategi dan teknik untuk melakukan terapi seperti dijelaskan di atas, diajarkan secara detil, runtut, diperjelas dengan latihan, dan empat terapi klien di depan kelas, disaksikan semua peserta. 

Baca Selengkapnya

Can Change Happen in an Instant?

10 Januari 2020

Kalimat di atas adalah judul salah satu bab dalam buku Awaken the Giant Within karya Anthony Robbins yang saya baca tahun 1993.

Di tahun 1993 saya belum belajar hipnosis atau hipnoterapi. Di masa itu saya membaca buku-buku pengembangan diri populer karya Napolen Hill, Zig Ziglar, David Schwartz, Dale Carnegie, Brian Tracy, Wayne Dyer, dan penulis lainnya.

Saat membaca pertanyaan di atas, saya sangat tergelitik dan penasaran. Tony Robbins menyatakan, dari pengalaman membantu klien-kliennya berubah, bahwa perubahan dapat terjadi dalam waktu sangat singkat atau sekejap (instant). Tony Robbins menggunakan teknik NAC atau Neuro Associative Conditioning.

Ia memberi beberapa contoh yang terjadi pada kliennya. Apa yang saya baca di buku ini, semuanya sangat sulit diterima nalar saya, kala itu, karena saya tidak memiliki referensi pendukung. Namun, bertahun-tahun kemudian, setelah belajar dan praktik hipnoterapi, saya akhirnya mengerti benar apa yang dimaksud oleh Tony Robbins.

Perubahan dapat terjadi dengan sangat cepat ditentukan oleh dua faktor: klien dan terapis. Di sisi klien, ia perlu siap (ready) dan bersedia (willing) untuk melakukan dengan sungguh-sungguh semua hal yang dibutuhkan untuk berubah.

Sementara di sisi terapis, ia perlu melakukan upaya maksimal dan terbaik dalam membantu kliennya. Tentu saja, upaya ini harus dilandasi pengetahuan yang cukup, berasal dari pendidikan dan pelatihan yang memadai, kompetensi terapeutik dan pengalaman yang sesuai untuk membantu klien berubah dengan cepat.

Ada satu komponen lagi yang sangat penting untuk diperhatikan. Komponen ini dapat menjadi pendorong atau penghambat proses perubahan (baca: terapi) yang dijalani klien dan upaya yang dilakukan terapis. Komponen ini adalah kepercayaan atau belief bahwa perubahan atau kesembuhan bisa terjadi dengan mudah dan cepat, apapun kondisi, situasi, atau masalah klien.

Kepercayaan tidak berada pada tataran tunggal, namun berjenjang. Ia ada pada pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS). Perubahan cepat dan bertahan lama hanya bisa terjadi bila kesiapan, kesediaan, dan kepercayaan akan perubahan yang ada di PS sejalan dengan PBS. Bila tidak, proses perubahan menjadi perjalanan panjang, sangat melelahkan, dan sulit mencapai hasil yang diinginkan.

Demikian pula halnya dengan terapis. Bila terapis tidak percaya perubahan bisa terjadi dalam waktu singkat maka ia tidak akan pernah bisa membantu klien berubah dengan cepat.

Sebenarnya, dari pengalaman saya dulu, ketidakpercayaan ini lebih dilandasi oleh ketidakmampuan, ketiadaan kompetensi, bukan karena perubahan cepat tidak mungkin terjadi. Perubahan yang baik, menurut beberapa kalangan, harus berlangsung gradual, perlahan, dan lama.

Proses perubahan saya kategorikan sebagai cepat bila terjadi antara satu hingga empat sesi terapi. Perubahan yang berhasil dicapai, baik melalui proses cepat atau lambat, hanya benar-benar baik bila ia stabil dan bertahan lama.

Saat saya sedang menulis artikel ini, saya mendapat kabar dari sahabat saya, pastor DR. Moses Komela Avan. Romo Moses telah belajar hipnoterapi di AWGI.

Rm. Moses cerita bahwa di dua kesempatan, dalam kurun waktu enam bulan terakhir, ada dua umat Beliau yang datang dan minta tolong untuk disembuhkan.

Umat ini datang dengan pandangan mata kosong, menatap datar tanpa ekspresi, bicara ngelantur-halusinatif, dan mengalami kecemasan tinggi. Ia juga telah minum obat. Oleh Rm. Moses, umat ini diajak bicara dan ia menyatakan ingin sembuh. Rm. Moses kemudian melakukan sedikit deepening dan mendoakan umatnya.

Menurut Romo, kata-kata yang digunakan dalam doanya memang bersifat terapeutik. Romo mendoakan dan menyatakan bahwa kesembuhan yang terjadi adalah berkat kuasa Tuhan. Melalui proses yang berlangsung hanya antara 5-10 menit, umat ini tiba-tiba seperti kaget, baru kembali dari "dunia lain", dan sembuh. Dan hingga kini ia tetap sehat dan normal.

Keyakinan saya bahwa klien dapat berubah menjadi baik kondisinya (baca: sembuh) dalam waktu sangat singkat terinspirasi dari tulisan Josef Breuer, guru Sigmund Freud, dalam buku berbahasa Jerman, terbit 1895, Studien über Hysterie. Selanjutnya buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Studies on Hysteria.

Buku ini menceritakan kisah yang terjadi pada pasien Breuer, Bertha Pappenheim, yang lebih dikenal sebagai Anna O. Anna mengalami histeria dan telah ditangani Breuer cukup lama namun tidak kunjung sembuh. Hingga akhirnya, pada satu sesi terpai, Anna mengalami katarsis dan setelahnya semua simtomnya hilang. Ia dinyatakan sembuh.

Saya juga membaca apa yang dilakukan oleh John G. Watkins dalam buku klasiknya, Hypnotherapy for War Neuroses, terbit tahun 1949. Intinya, apa yang dilakukan Watkins dalam membantu pasiennya sejalan dengan apa yang terjadi pada Anna O.

Dari sini saya mencari dan menemukan banyak literatur yang mendukung pemahaman dan keyakinan saya bahwa perubahan bisa terjadi dengan cepat.

Saat saya jelaskan bahwa fobia dapat sembuh hanya dalam waktu sekitar 10 menit, banyak yang tidak percaya. Demikian pula saat saya menyembuhkan alergi dengan cepat, hanya dalam waktu beberapa menit saja, juga banyak yang skeptis, tidak percaya.

Bahkan, pernah salah satu peserta pelatihan Quantum Life Transformation, sahabat saya, tetap dengan keyakinannya bahwa perubahan tidak bisa terjadi dengan cepat. Ia menolak mempraktikkan teknik yang saya ajarkan di QLT dengan alasan, "This is too good to be true."

Ia tetap berpegang teguh pada keyakinannya ini walau melihat teman-temannya telah mendapat hasil positif menggunakan teknik ini.

Jadi, apakah perubahan atau kesembuhan bisa terjadi dalam waktu singkat?

Jawabannya bergantung pada kepercayaan yang dipegang seseorang. Bahkan, bila kepercayaan ini sangat kuat, teknik sebenarnya tidak penting, hanya aksesori, sekedar pelengkap.

Yang pasti, klien datang ke terapis dengan tujuan untuk mendapat hasil. Dan mereka ingin mendapatkan hasil dengan cepat dan mampu bertahan lama.

Baca Selengkapnya

Pseudo-ISE, ISE, dan Hipnoterapi Mazhab AWGI

4 Desember 2019

Dalam dunia hipnoterapi sejatinya dikenal dua mazhab utama: hipnoterapi berbasis sugesti dan hipnoterapi berbasis hipnoanalisis.

Sesuai namanya, hipnoterapi berbasis sugesti lebih mengutamakan penggunaan sugesti dalam upaya membantu klien mengatasi masalah. Mazhab ini berkembang pesat di pantai timur Amerika. Sementara hipnoterapi berbasis hipnoanalisis lebih mengutamakan pencarian akar masalah menggunakan beragam strategi atau teknik. Mazhab ini berkembang pesat di pantai barat Amerika, terutama daerah California.

Semula saya belajar hipnoterapi mazhab pantai timur Amerika. Berhubung saya menginginkan sesi terapi yang lebih singkat dan hasil terapi yang lebih stabil untuk jangka panjang, saya putuskan mendalami hipnoterapi mazhab pantai barat Amerika yang lebih kompleks dan sulit namun lebih lengkap dari sisi teknik.

Di awal karir saya sebagai hipnoterapis klinis, setelah selama tiga tahun mencoba banyak teknik atau strategi, akhirnya saya memutuskan menggunakan dan mengembangkan hanya dua teknik terapi utama, dalam konteks hipnoanalisis, untuk mencari, menemukan, memroses dan merekonstruksi akar masalah klien.

Saya juga membangun teori sendiri tentang pikiran bawah sadar (PBS). Selanjutnya, materi state of the art dan the cutting edge teknologi pikiran ini diajarkan detil dan mendalam di kelas SECH.

Saya juga mengajarkan satu postulat sangat penting yang menjadi pedoman segenap hipnoterapis AWGI dalam praktik mereka. Postulat ini menyatakan bahwa tidak ada satupun pihak yang bisa mengungkap atau menunjukkan atau menentukan akar masalah klien kecuali dan hanya pikiran bawah sadar klien sendiri.

Berdasar postulat ini, hipnoterapis AWGI tidak bisa dan tidak boleh menentukan akar masalah klien hanya melalui sesi wawancara dengan klien saat klien dalam kondisi sadar normal, atau berdasar kisah yang disampaikan atau diyakini klien atau yang disampaikan keluarga klien sebagai akar masalah.

Apapun yang disampaikan oleh klien perlu dicatat untuk diperhatikan. Namun, hanya melalui proses hipnoanalisis yang benar, sesuai protokol yang diajarkan di kelas SECH, akar masalah klien bisa ditemukan atau terungkap.

Akar masalah adalah kejadian paling awal yang menjadi dasar muncul atau terciptanya simtom. Secara teknis kami menamakannya Initial Sensitizing Event atau ISE.

Simtom bisa muncul segera setelah kejadian tunggal yang sekaligus adalah ISE. Simtom juga bisa muncul setelah ISE yang diikuti oleh satu atau beberapa kejadian lanjutan yang kami namakan Subsequent Sensitizing Event (SSE).

Dalam laporan kasus yang dikirim oleh para peserta SECH, ada peserta yang menemukan, lebih tepatnya menentukan, "akar masalah" (ISE) klien hanya berdasar cerita kliennya, dalam kondisi sadar normal. 

Ia mencatat kejadian ini dan saat proses terapi, ia meregresi klien langsung menuju ke "ISE". Proses pencarian dan penemuan ISE seperti ini tidak dibenarkan karena melanggar protokol yang diajarkan di kelas SECH. Dan bagi kami, ini adalah masalah serius dan pelanggaran berat protokol AWGI.

Dari pengalaman selama ini, sungguh sangat jarang terjadi akar masalah, yang berhasil diungkap melalui proses hipnoanalisis, sama dengan yang diceritakan atau diyakini klien saat sesi wawancara mendalam (anamnesa eksploratif).

Apakah klien bisa sembuh dengan cara di atas?

Ada beberapa yang sembuh, tapi banyak yang hanya sembuh sementara, setelahnya kambuh lagi. Biasanya, klien sembuh walau "ISE"-nya salah karena kejadian ini berisi muatan emosi negatif (sangat) intens.

Saat emosi negatif intens yang lekat pada memori kejadian ini diproses, terjadi "Efek Tarikan" atau "Pull Effect", ini adalah terminologi yang saya ciptakan sendiri untuk menerangkan apa yang terjadi, yang tanpa terapis atau klien sadari ternyata turut menarik dan membersihkan emosi negatif pada kejadian paling awal (ISE).

Saya menamakan "ISE" yang ditentukan oleh pikiran sadar klien atau terapis, yang sesungguhnya bukan ISE, walau ternyata saat diproses klien sembuh, sebagai pseudo-ISE. 

Berkenaan dengan proses terapi yang dilakukan para hipnoterapis AWGI, sejatinya kami kini mempraktikkan hipnoterapi yang berbeda dari baik mazhab pantai timur maupun pantai barat Amerika.

Hipnoterapi yang kami praktikkan menggunakan protokol, pendekatan, strategi, dan teknik-teknik terapi yang dikembangkan, disempurnakan, atau diciptakan berlandaskan teori (grounded theory) yang dibangun di AWGI. Hipnoterapi yang kami praktikkan khas AWGI dan bersifat eklektik integratif. Saya menamakannya mazhab AWGI.

Baca Selengkapnya

Joker

31 Oktober 2019

Saya dapat permintaan dari beberapa sahabat untuk mengulas film Joker dari sisi keilmuan hipnoterapi. Untuk memenuhi permintaan para sahabat ini, sore ini saya menonton film Joker bersama keluarga.

Usai film Joker, saat hendak keluar dari gedung bioskop, saya agak kaget karena menemukan ada dua wanita muda menonton film ini sambil membawa anak perempuan mereka yang masih kecil, berusia 3 tahun.

Film Joker menurut saya biasa saja. Saya lebih tertarik mengulas risiko anak kecil, usia 3 tahun, menyaksikan film dengan adegan kekerasan yang cukup brutal.

Ada risiko sangat besar yang mungkin tidak diketahui para orang tua yang membiarkan anak mereka menyaksikan film berisi adegan kekerasan.

Beberapa tahun lalu saya menangani klien anak SMA kelas 3, berusia 18 tahun, sebut sebagai Budi. Budi datang dari negeri jiran dan mengalami masalah serius. Ia sudah ditangani penyembuh profesional di luar negeri, diberi obat namun selama tiga bulan tidak kunjung teratasi masalahnya.

Masalah Budi adalah ia sering tertawa sendiri terbahak-bahak sambil menengadahkan kepalanya. Budi juga mudah marah dan meledak. Budi marah kepada pihak otoritas dan hendak membunuh kepala negara tempat ia berdiam.

Dari sesi wawancara mendalam saya mendapatkan data bahwa Budi, selama kelas 1 dan 2 SMA, sering dirundung (bully) oleh teman-teman dan juga guru di sekolahnya.

Kedua orang tua Budi sibuk bekerja dan tidak ada waktu untuk mendengarkan keluh kesah Budi. Budi memendam kemarahan, rasa sakit, kecewa, dan terluka yang ia alami selama beberapa tahun ini, hingga suatu hari Budi dan teman-temannya menyaksikan film The Clown. Dalam film ini The Clown juga disakiti, dirundung oleh orang-orang di sekitarnya. The Clown akhirnya marah dan membunuh semua orang yang menyakiti dirinya.

Tanpa disadari, Budi mengidentifikasi dirinya dengan The Clown. Dan tanpa ia kehendaki, di dalam pikiran bawah sadar (PBS) Budi muncul ego personality (EP) The Clown.

Setiap kali EP The Clown ini aktif, ia mengambil alih kesadaran Budi dan sepenuhnya menguasai tubuh Budi sebagai media ekspresi dirinya. Untuk lebih memahami tentang ini, pembaca saya sarankan membaca artikel Aktivasi Ego Personality, Klien, dan Host di https://bit.ly/35PYhVg.

Dari perspektif teori Ego State (ES), seperti yang digagas oleh Paul Federn (1952), ego state atau Bagian Diri tercipta saat usia dini. Sementara menurut Watkins dan Watkins (1997) formasi atau pembentukan/penciptaan ES melalui salah satu dari tiga cara: tercipta secara alamiah (normal differentiation), trauma, dan introjeksi dari orang-orang penting atau berpengaruh bagi individu.

Data dan temuan lanjutan menyatakan ES benar dapat tercipta melalui pengalaman traumatik (Putnam, 1989; Ross, 1993). Dalam situasi tertentu bisa tercipta ES yang bersifat membantu individu (Frederick dan Kim, 1993; Gainer, 1993, 1997; Frederick, Sheltren, dan Toothman, 2000).

Temuan kami, para hipnoterapis AWGI yang secara intensif melakukan praktik teknik-teknik terapi berbasis Ego Personality (EP), kami menyebut ES sebagai EP, sejak tahun 2005 hingga saat ini, terdapat 10 (sepuluh) cara lain EP tercipta (Gunawan, 2017), di samping tiga cara yang telah disampaikan oleh Watkins dan Watkins (1997).

Salah satu cara EP tercipta yang kami temukan adalah melalui proses belajar, baik secara visual, auditori, dan atau kinestetik. The Clown adalah EP yang tercipta di dalam PBS Budi melalui cara ini. Saya menamakan EP ini sebagai Phantom.

Anak kecil yang menyaksikan film Joker lebih berisiko daripada orang dewasa. Saat anak masih kecil, pikiran sadarnya belum aktif atau belum kuat. Dengan demikian anak sepenuhnya beroperasi di PBS. Apapun yang ia lihat, dengar, dan rasakan sepenuhnya terekam dengan sangat kuat, apa adanya, di PBS-nya, tanpa bisa ia saring. Dan bisa jadi, EP Joker ini suatu saat akan terpicu dan aktif. Ini tentu sangat berisiko.

Pengalaman saya menangani Budi cukup menegangkan namun juga sangat membelajarkan. Budi tahu keberadaan EP The Clown. Namun setiap kali EP The Clown aktif, EP ini mengambil alih kendali dan kesadaran Budi. Apa yang The Clown lakukan, Budi sama sekali tidak tahu.

Baca Selengkapnya

Aktivasi Ego Personality, Klien, dan Host

17 Oktober 2019

Akhir September 2019 lalu, di Medan, saat membawakan materi pelatihan sehari The Heart Technique® (THT) untuk penyembuh profesional, saya sempat membantu salah satu peserta, sebut saja sebagai Ani. Ani menderita asma sejak kecil. Ani juga kerap masuk IGD karena asmanya sering kambuh dan mengakibatkan ia sesak napas.

Saya melakukan wawancara dan mencermati kondisi Ani dengan sangat hati-hati. Saya tentu menghindari Ani mengalami sesak napas sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dalam proses terapi yang akan saya lakukan. Berdasar hasil anamnesa eksploratif, saya putuskan kondisi Ani terlalu berat dan tidak bisa diterapi menggunakan THT.

THT butuh mengakses emosi untuk selanjutnya emosi ini diproses tuntas. Masalahnya, setiap kali Ani mengingat kejadian spesifik yang hendak diakses, emosinya langsung memuncak dan ia sesak napas. Semakin intens emosinya, semakin sesak napasnya.

Akhirnya saya menerapi Ani, di depan kelas, menggunakan Ego Personality Technique (EPT). Saya sengaja lakukan ini, menerapi Ani menggunakan EPT, untuk menunjukkan kepada para peserta modalitas terapi lain, selain THT, yang saya praktikkan dan ajarkan di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH).

Dari proses hipnoterapi yang saya lakukan pada Ani, saya menemukan ada ego personality (EP) Ani kecil, berusia 5 tahun, yang menyimpan emosi marah pada seseorang dari kejadian masa kecilnya. Saat Ani mengingat kejadian ini, dadanya langsung sesak, ia sulit bernapas dan asmanya hampir kambuh.

Melalui pengamatan pada pola bahasa dan respon fisik, saya tahu bahwa saat Ani dewasa mengingat kejadian di usia 5 tahun dan merasakan munculnya emosi marah di dadanya, pada saat itu yang sebenarnya terjadi adalah ada satu EP berusia 5 tahun (inner child), menjadi aktif atau eksekutif, dan EP 5 tahun ini menguasai tubuh Ani dewasa (host). Aktivasi EP 5 tahun beserta emosi marah yang sangat intens yang ia pegang selama ini mengakibatkan tubuh fisik Ani dewasa (host) terpengaruh dan menjadi sesak napas.

Saya memroses EP 5 tahun menggunakan teknik spesifik, memisahkan EP 5 tahun dan Ani dewasa, meredakan emosi marah pada EP 5 tahun, agar tubuh fisik Ani dewasa tetap dapat beroperasi normal, tidak sesak napas, sehingga dapat saya proses tuntas.

Dalam waktu singkat, emosi marah sangat intens pada EP 5 tahun berhasil dinetralisir. Saat saya minta Ani dewasa untuk mengingat kembali kejadian di usia 5 tahun, ia merasa biasa saja, tidak lagi ada emosi marah seperti sebelumnya. Demikian pula saat saya minta Ani 5 tahun melakukan hal yang sama, mengingat kejadian itu, hasilnya netral, emosinya datar.

 

EP Eksekutif dan Host (Induk Semang)

Dalam keseharian, setiap individu umumnya butuh antara 5 hingga 7 EP untuk menjalankan hidup secara normal. EP-EP ini aktif by default, aktif bergantian sesuai situasi, kondisi, kebutuhan, dan mengendalikan diri individu dan adalah individu. EP-EP ini berada atau tinggal di permukaan (surface) dan tidak membutuhkan kendali EP Pengendali (EP CEO) untuk aktif bergantian. Selain EP permukaan, juga ada EP-EP underlying yang tinggal di kedalaman pikiran bawah sadar (PBS). Untuk mengakses EP-EP ini dibutuhkan kondisi hipnosis dan atau teknik tertentu.

Untuk mudahnya, EP adalah “manusia” yang ada di dalam diri kita. Setiap EP, karena ia adalah “manusia” yang tercipta melalui proses tertentu, memiliki kesadaran, pikiran, pola pikir, emosi, sikap, kebiasaan, memori, keinginan, energi, kekuatan, pengetahuan, dan tujuan.

Kita memiliki banyak EP. Dan kita tidak tahu berapa jumlah EP yang ada dalam diri kita. Tidak ada satupun literatur yang pernah saya baca dan pelajari, termasuk pendapat dan pemikiran para pakar hipnoterapi klinis dari berbagai masa, yang secara gamblang menyatakan jumlah atau perkiraan jumlah EP dalam diri individu.

EP aktif bergantian menempati dan menggunakan host untuk mengekspresikan dirinya. EP hanya bisa aktif dan menggunakan host selama kondisi host, terutama dari aspek energi fisik dan energi psikis mampu menopang kegiatan EP ini, dan tidak ada EP lain yang lebih kuat melakukan intervensi.

Bila ada EP yang lebih kuat melakukan intervensi, atau bila energi fisik dan atau energi psikis host sudah tidak lagi mampu mendukung kegiatan EP maka EP yang semula aktif akan memudar ke latar belakang dan terpaksa nonaktif atau tidak bisa aktif. Walau EP memiliki energi sangat besar, energi EP berbeda dengan energi host. EP dan host adalah dua “entitas” berbeda.

Walau EP dan host sejatinya adalah dua “entitas” berbeda, saat EP aktif, ia menguasai dan menggunakan host sebagai media ekspresi dirinya dan host adalah EP. Di saat ini, EP yang sebelumnya aktif sebagai klien bergeser dan tidak lagi menggunakan host. Dengan demikian, apapun yang terjadi dan dilakukan host, baik pikiran, ucapan, dan atau tindakan sesungguhnya adalah aktivitas EP. Bila EP mengalami sakit tertentu ini juga termanifestasi pada host.

EP CEO mengendalikan EP mana yang aktif pada satu waktu. Untuk EP permukaan, EP CEO tidak banyak mengatur karena switching atau pergantian aktivasi EP berjalan otomatis berdasar pola kebiasaan yang telah terbangun selama ini. Walau EP CEO seolah tidak aktif, dalam kondisi ini, sejatinya ia tetap memantau semua pergerakan EP. Hingga suatu saat, bilamana dibutuhkan, EP CEO melakukan intervensi dan menentukan EP mana yang aktif dan boleh menggunakan host untuk mengekspresikan diri atau berkegiatan. Butuh latihan dan kesadaran yang baik agar EP CEO menjadi kuat, lentur, terampil, peka, dan tanggap untuk mengendalikan aktivasi EP sesuai kebutuhan individu.

 

Aktivasi EP

Dalam satu waktu hanya bisa ada satu EP menjadi eksekutif, menempati, dan menggunakan host. EP yang aktif ini bisa berasal dari permukaan (surface) atau dari kedalaman lapis kesadaran (underlying). EP bisa aktif secara spontan karena terpicu oleh stimulus atau situasi-kondisi tertentu. EP juga bisa aktif karena karena diaktifkan secara sengaja seperti yang terjadi dalam konteks terapi. EP yang sering diakses atau diaktifkan cenderung akan semakin sering aktif dan menjadi semakin kuat.

Dalam konteks terapi, aktivasi EP tidak bersifat terapeutik. EP yang telah diaktifkan dan menjadi eksekutif perlu diproses menggunakan teknik-teknik yang sesuai agar terjadi edukasi, resolusi, rekonsiliasi, atau reintegrasi sehingga tercapai kondisi kondusif untuk kebaikan dan kesejahteraan klien.

Saat klien menjalani terapi, ia memercayakan dan memasrahkan peran pengendali aktivasi EP kepada terapis. Dengan kata lain, terapis bertindak sebagai EP CEO mengendalikan dan mengelola aktivasi EP secara bergantian menggunakan host, menjalin komunikasi, baik antara terapis dan EP-EP, komunikasi antara klien dan EP-EP, komunikasi antara EP satu dengan EP lainnya dalam diri klien, atau komunikasi antara terapis, klien, dan EP-EP.

Dari temuan kami di ruang praktik, diketahui bahwa ada EP yang dapat terus bertumbuh dan berkembang dan ada EP yang mengalami fiksasi, tidak bertumbuh dan berkembang.

Khusus untuk EP yang mengalami fiksasi, bila dibutuhkan untuk kebaikan klien, dapat ditumbuh-kembangkan hingga mencapai usia optimal untuk membantu klien menjalani hidup dengan baik. Tentu, dalam proses ini, EP tidak hanya ditumbuhkan secara usia namun yang lebih penting adalah pertumbuhan di aspek pengetahuan, kebijaksanaan, dan emosi.

Setelah anda membaca dan mencermati tulisan di atas, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan penting untuk direnungkan, "Siapakah diri anda sesungguhnya?"

Baca Selengkapnya

Teori Polivagus, Pikiran Bawah Sadar, dan Hipnoterapi Klinis

9 Agustus 2019

Artikel ini bertujuan menjelaskan secara singkat teori Polivagus (Polyvagal Theory) yang digagas oleh Stephen W. Porges dan korelasinya dengan pikiran bawah sadar dan hipnoterapi klinis.

Teori Polivagus pertama kali diungkap ke publik oleh Stephen W. Porges, 8 Oktober 1994, di hadapan komunitas ilmiah Society of Psychophysiological Research. Beberapa bulan kemudian, teori ini dipublikasi dalam artikel Orienting in a Defensive World: Mammalian Modifications of Our Evolutionary Heritage dan diterbitkan di jurnal Psychophysiology (Porges, 1995).

 

Neurosepsi (Neuroception)

Menurut teori Polivagus, sebelum otak mengerti apa yang terjadi dan memberi makna secara sadar pada suatu situasi atau kejadian, sistem saraf otonom melalui proses yang dinamakan neurosepsi, telah memindai (scan) dan menilai (assess) berbagai informasi yang bersumber baik dari dalam tubuh, lingkungan, maupun dari individu lain, dan memberi makna pada informasi ini (Porges, 2004).

Makna yang dihasilkan melalui proses ini bisa berupa salah satu dari tiga hal berikut: aman, tidak aman/berbahaya, atau mengancam keselamatan hidup. Selanjutnya, masih tanpa melibatkan kesadaran (conscious awareness), sistem saraf memulai dan mendorong terjadinya respon seturut makna.  

Neurosepsi dapat dipandang sebagai sinyal somatik yang memengaruhi pembuatan keputusan dan respon perilaku tanpa secara sadar mengetahui keberadaan isyarat atau pemicu (Klarer dkk, 2014 : 7076). Beberapa karakteristik neurosepsi terekam ke dalam sistem saraf kita, menjadi strategi adaptif, dan diturunkan melalui proses evolusi (Porges, 2009b).

Berbeda dengan persepsi yang melibatkan kesadaran hingga derajat tertentu, neurosepsi berlangsung sangat cepat, tidak melibatkan fungsi kognisi atau kesadaran, namun melibatkan struktur subkortikal sistem limbik (Morris, Ohman, dan Dolan, 1999). Hasil dari neurosepsi berupa firasat (gut feelings), perasaan yang muncul dari hati (heart-informed feelings), dan perasaan tersirat (implicit feelings) yang menggerakkan individu dalam kontinum respon aman dan keselamatan hidup (survival). Neurosepsi mengendalikan kondisi mental emosi, memberi warna pada pengalaman, dan mencipta respon otonom.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh sekelompok ilmuwan Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences di Leipzig, bekerja sama dengan Charité University Hospital dan Bernstein Center for Computational Neuroscience di Berlin, di bawah pimpinan Professor John-Dylan Haynes. Hasil penelitian yang dipublikasi di Science Daily, 15 April 2008, menyatakan bahwa aktivitas otak memprediksi, bahkan hingga 7 detik lebih awal, bagaimana seseorang akan membuat keputusan. Dengan kata lain, pembuatan keputusan adalah hasil dari aktivitas mental yang bersifat tidak disadari (nirsadar). 

Pemindaian dan penilaian yang dilakukan sistem saraf otonom, melalui proses neurosepsi, bekerja berdasar pola kebiasaan yang berkembang seiring waktu dan dibentuk melalui pengalaman hidup, baik pengalaman positif dan memberdayakan, maupun pengalaman traumatik. Neurosepsi membentuk kondisi psikologis (kognisi dan emosi) dan selanjutnya kondisi ini menentukan respon individu (Dana, 2018).

Secara anatomis, tiga bagian otak yang terlibat dalam proses neurosepsi adalah temporal cortex, periaqueductal gray (PAG), dan insula (Porges, 2009b, 2011). Temporal cortex bekerjasama dengan amigdala menjalankan fungsi mengenali dan berespon pada wajah, suara, dan gerakan tangan orang untuk menentukan derajat keterpercayaan seseorang. PAG berkomunikasi dengan sistem saraf simpatik dan dorsal vagus untuk mengelola perilaku konfrontatif, perilaku menghindar atau lari, dan perilaku imobilisasi. Insula terlibat dalam interosepsi, mengolah informasi yang berasal dari organ tubuh, atau membawa umpan balik dari organ viseral ke permukaan sehingga diketahui oleh pikiran sadar (Craig, 2009a).

Neurosepsi memberi individu akses pada informasi yang tidak dapat individu amati secara sadar. Bila neurosepsi bekerja dengan baik, ia adalah berkah dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan individu. Namun, neurosepsi juga bisa salah dalam melakukan penilaian akibat distorsi yang disebabkan oleh trauma masa lalu, berbagai emosi negatif dalam diri, akibat pengaruh obat, kondisi fisik lelah, gula darah rendah, sakit, atau bahkan saat individu sedang jatuh cinta.

 

Sistem Saraf Otonom

Sebelum Teori Polivagus, sistem saraf otonom manusia digambarkan sebagai sistem antagonis dua bagian, simpatik dan parasimpatik, dengan peran dan fungsinya masing-masing, dan hanya satu sistem saraf yang bisa aktif pada satu waktu tertentu. Sistem saraf simpatik berespon pada sinyal atau isyarat bahaya,  melepas adrenalin dan menyiapkan tubuh untuk proses penyelamatan hidup melalui respon lawan atau lari (fight-flight response). Sementara sistem saraf parasimpatik berfungsi merilekskan individu.

Teori Polivagus mengidentifikasi jenis respon ketiga, yang Porges (2004) sebut sebagai sistem keterlibatan sosial (social engagement system), perpaduan antara  respon aktif dan menenangkan, beroperasi melalui pengaruh saraf yang unik.

Dalam Teori Polivagus dinyatakan bahwa sistem saraf parasimpatik memiliki dua cabang dengan fungsi berbeda: ventral vagus dan dorsal vagus. Dengan demikian, menurut teori ini, terdapat tiga jalur dalam sistem saraf otonom kita: simpatik, ventral vagus dan dorsal vagus (Porges, 2011).

Saraf simpatik berawal dari dalam kolom tulang belakang, menuju ke bagian tengah medula spinalis dalam kolom sel medialolateral (atau tanduk lateral), dimulai pada segmen toraks pertama dari medula spinalis dan diperkirakan meluas ke segmen lumbar kedua atau ketiga. Saraf simpatik memobilisasi energi individu melalui dua sistem: medula simpatik adrenal (sympathetic adrenal medullary / SAM) dan poros hipotalamus-pituitari-adrenal (hypopthalamic-pituitary-adrenal axis) atau poros HPA.

Saat sistem saraf memaknai situasi sebagai bahaya atau mengancam, SAM aktif dan mengakibatkan semburan adrenalin untuk respon segera terhadap stresor. Respon sekejap ini berlangsung dalam rentang waktu 100 milidetik. Aktivasi SAM bertujuan untuk respon jangka pendek dan setelahnya tubuh kembali ke kondisi normal. Namun apabila situasi tidak dapat diatasi dengan aktivasi SAM, selanjutnya poros HPA aktif dan melepas hormon stres kortisol.

Manusia memiliki 12 pasang saraf kranial (saraf yang muncul langsung dari otak). Saraf vagus adalah saraf kranial 10, paling panjang dari semua saraf kranial, dan merupakan komponen utama dari sistem saraf parasimpatik. Saraf vagus bukan saraf tunggal namun berupa kumpulan serabut saraf dalam selubung.

Saraf vagus terbagi menjadi dua jalur di diafragma: ventral vagus dan dorsal vagus. Ventral vagus memengaruhi kerja organ-organ di atas diafragma (supradiafragmatik) seperti jantung dan paru-paru, sementara dorsal vagus memengaruhi kerja organ-organ di bawah diafragma (subdiafragmatik), terutama organ pencernaan.

Ventral vagus berespon pada isyarat situasi atau kondisi aman dan mendukung rasa aman untuk keterlibatan dan keterhubungan secara sosial. Sementara dorsal vagus berespon pada isyarat bahaya ekstrim yang mengancam keselamatan, guncangan hebat baik fisik atau psikis (shock – trauma), atau bila individu merasa tidak berdaya menghadapi situasi tertentu.

Aktifnya dorsal vagus dapat diamati melalui karakteristik fisik antara lain wajah kehilangan warna, datar, dan tampak tidak responsif. Suara juga berubah menjadi datar, respon verbal menjadi (sangat) lambat, mata nanar dan tekanan darah turun. Aliran darah ke lobus frontalis juga menurun mengakibatkan otak tidak mampu membentuk narasi dan gambaran kejadian yang dialami individu. Individu mengalami amnesia. Ini terjadi karena pada saat mengalami guncangan hebat, individu bereaksi menggunakan bagian otak dan sistem saraf yang lebih primitif.

Hampir semua saraf ventral vagus termielinasi. Sementara saraf-saraf dorsal vagus hampir semuanya tidak termielinasi. Mielinisasi membuat ventral vagus mampu memroses informasi dengan cepat dan efisien (Porges, 1997).

Hal penting lainnya, 80% saraf vagus adalah saraf aferen, yaitu saraf yang mengirim sinyal sensorik ke otak. Sementara 20%-nya adalah saraf eferen, yaitu saraf yang mengirim sinyal dari otak ke otot-otot dan kelenjar-kelenjar.

Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa saat situasi aman, ventral vagus aktif, individu dapat menjalani interaksi sosial (social engagement) dengan baik. Saat situasi tidak aman atau bahaya, saraf simpatik aktif dan individu masuk mode lawan atau lari (fight-flight). Dan saat menghadapi bahaya ekstrim, dorsal vagus aktif, individu mengalami kondisi imobilisasi atau freeze.

 

Hirarki Aktivasi

Untuk memahami cara kerja dan urutan aktivasi ketiga sistem saraf otonom ini, dapat digunakan analogi tangga. Posisi paling atas tangga adalah ventral vagus. Di bawahnya, sistem saraf simpatik. Dan paling bawah adalah dorsal vagus.

Dalam kondisi normal, saat neurosepsi memberi makna aman terhadap situasi di dalam diri, lingkungan, atau orang lain di sekitar individu, saraf ventral vagus aktif. Aktifnya ventral vagus berakibat individu merasa aman, nyaman, dan mampu berinteraksi sosial dengan baik.

Apabila karena sesuatu hal, neurosepsi memaknai suatu isyarat sebagai tanda bahaya maka aktivasi ventral vagus menurun dan saraf simpatik mulai aktif. Bila kondisi bahaya ini dapat segera diatasi, saraf simpatik menjadi nonaktif dan ventral vagus kembali aktif sepenuhnya sehigga individu dapat menjalani kehidupan dengan perasaan nyaman dan mampu berinteraksi dengan lingkungan.

Namun bila kondisi bahaya ini tidak dapat diatasi, ventral vagus segera menjadi nonaktif dan saraf simpatik aktif sepenuhnya mengendalikan individu. Saraf simpatik mengaktifkan respon lawan atau lari (fight-flight response). Saat individu menghadapi bahaya ekstrim yang mengancam keselamatan atau guncangan ektrim yang dinilai di luar kemampuan individu untuk mengatasinya, dorsal vagus aktif, dan individu masuk kondisi imobilisasi/beku (freeze), menarik atau menutup diri,dan bisa mengalami disosiasi.

Pengalaman tidak kondusif atau traumatik dalam proses tumbuh kembang individu mengakibatkan neurosepsi sering salah dalam memaknai suatu informasi. Informasi yang sebenarnya netral atau bukan masalah dimaknai sebagai sesuatu yang mengancam atau berbahaya, mengakibatkan ventral vagus nonaktif, dan sistem saraf simpatik atau dorsal vagus aktif.  

Untuk mampu menjalankan interaksi dan fungsi sebagai makhluk sosial dengan baik, merasa tenang, aman, bahagia, aktif, penuh perhatian, semangat, dan menikmati hidup, individu butuh aktivasi ventral vagus. Namun, semua hal ini tidak bisa individu alami bila sistem saraf simpatik atau dorsal vagus aktif, yang menempatkan individu dalam mode genting lawan atau lari, atau kondisi imobilisasi.

Pengalaman tidak kondusif atau traumatik dalam proses tumbuh kembang dapat mengakibatkan individu tersangkut dalam mode sistem saraf simpatik aktif atau dorsal vagus aktif untuk waktu lama.

Saat sistem saraf telah terkondisi sedemikian rupa, ia akan terus berada dalam kondisi ini hingga individu secara sadar melakukan pengkondisian baru. Perubahan melalui pengkondisian baru sifatnya penting karena neurosepsi mengikuti pola terkondisi ini.

 

Trauma dan Sistem Saraf Otonom

Setiap individu, dalam perjalanan hidupnya, pasti pernah mengalami peristiwa yang mengguncang, intens, dan penuh tekanan. Namun, respon setiap individu tidaklah sama. Ada yang dapat mengatasi kondisi ini dengan cepat dan kembali ke kondisi seimbang, nyaman, dan mampu melanjutkan hidup dengan baik melalui interaksi sosial bermakna. Sementara ada juga individu yang berubah, akibat kejadian ini, dan tidak lagi sama seperti dirinya sebelum kejadian.

Gangguan psikologis pascatrauma, bila ditilik dari perspektif Teori Polivagus, sejatinya terbagi menjadi dua. Pertama, kondisi pascatrauma kronis melalui aktivasi sistem saraf simpatik yang menghasilkan respon lawan atau lari, atau lebih sering disebut kondisi stres. Kedua, kondisi pascatrauma kronis melalui aktivasi dorsal vagus yang menghasilkan respon menarik atau menutup diri akibat perasaan takut, tidak berdaya, putus asa, dan berbagai perilaku depresi (Rosenberg, 2017).

Gangguan stres pascatrauma terjadi bila respon genting lawan, lari, atau imobilisasi teraktivasi namun tidak berhasil dinonaktifkan kembali dan individu mengalami fiksasi psikofisiologis, mengakibatkan ventral vagus nonaktif untuk waktu lama.

 

Pikiran Bawah Sadar

Manusia memiliki dua pikiran: pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS). PBS mulai aktif sejak terjadi pembuahan. Ia akan terus dan selalu aktif hingga individu meninggal. Sementara PS baru mulai aktif saat individu berusia tiga tahun. Berbeda dengan PBS yang senantiasa aktif dan bekerja, PS hanya aktif saat individu dalam kondisi bangun dan sadar penuh. Saat individu tidur, pingsan, dibawah pengaruh obat, atau dianestesi, PS tidak aktif (sepenuhnya).

PS terus berkembang seiring proses tumbuh-kembang individu dan menjadi sangat kuat saat usia 13 tahun. PS memiliki fungsi berpikir analitis, rasional, menyimpan memori jangka pendek, kekuatan kehendak, dan faktor kritis (Gunawan, 2012).

PBS memiliki lebih banyak fungsi daripada PS. Fungsi paling utama PBS adalah menjaga dan atau melindungi keselamatan individu dari segala sesuatu yang ia pandang, rasa, yakin, percaya, atau asumsikan sebagai hal membahayakan kesejahteraan atau keselamatan individu (Tebbetts, 1987; Gunawan, 2012). PBS melindungi individu berdasar keputusan dan cara yang ia pilih. Fungsi lain PBS adalah sebagai tempat menyimpan kepercayaan (belief), nilai (value), memori jangka panjang, kebiasaan (baik, buruk, netral), kepribadian, karakter, intuisi, kreatifitas, dan sumber emosi (Churchill, 2012; Gunawan, 2012).

PBS melindungi individu menggunakan data yang tersimpan di memori yang dihimpun seiring pertumbuhan dan perkembangan individu. Selanjutnya, dengan menggunakan data ini sebagai parameter, PBS memindai (scan) berbagai informasi, baik yang bersumber dari dalam diri maupun lingkungan.

Data hasil pemindaian yang masuk ke PBS, dengan sangat cepat dibandingkan dengan data di memori, dan setelahnya PBS memberi makna: aman, berbahaya, atau mengancam keselamatan jiwa. Berdasar makna ini, PBS menyiapkan respon adaptif yang sesuai. Semua ini terjadi dengan sangat cepat tanpa melibatkan PS.

Kapasitas dan kecepatan PBS dalam memroses data sangat besar dan cepat. Menurut Zimmermann (1989) jumlah maksimal informasi yang dapat disadari adalah sekitar 40 bit/detik – sangat jauh di bawah jumlah yang diterima oleh reseptor-reseptor (ujung-ujung saraf). Sementara Trincker (dalam Norrentranders, 1998:126) menyatakan bahwa dari semua informasi yang masuk ke otak setiap detik, yang berasal dari semua sensor organ, hanya sejumlah sangat kecil disadari. Rasio antara kapasitas persepsi dan kapasitas apersepsi adalah satu juta berbanding satu. Dengan kata lain, hanya satu per satu juta informasi yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan yang berasal dari organ atau indera lainnya, yang muncul ke kesadaran dan diketahui atau disadari. Dari dua pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa perbandingan kapasitas pemrosesan data antara PS dan PBS adalah 40 bit/detik berbanding 40.000.000 bit/detik atau 1 berbanding 1.000.000.

Dengan kecepatan pemrosesan data yang sedemikian tinggi, PBS dapat secara instan memberi makna pada suatu informasi yang ia terima, dan selanjutnya mengirim sinyal ke pikiran sadar terutama melalui tiga dari lima jalur komunikasi utama: perasaan, sensasi fisik, suara hati (inner talk). Dua jalur lainnya adalah intuisi dan mimpi.

Para pakar hipnoterapi seperti Erickson, Boyne, Tebbetts, Kein, Churchill dan yang lainnya menyatakan bahwa besarnya daya pengaruh PS dan PBS dalam memengaruhi dan mengendalikan individu adalah 10% berbanding 90%. Hal yang sama dinyatakan oleh Szegedy-Maszak (2005) bahwa manusia hanya menyadari sekitar 5% dari aktivitas berpikirnya, dengan demikian hampir semua keputusan, tindakan, emosi, dan perilaku seseorang sepenuhnya bergantung pada 95% aktivitas otak yang berlangsung tanpa ia sadari. 

Saat seseorang di masa kecil, misalnya pernah mengalami trauma karena digigit anjing, maka data berupa narasi kejadian dan emosinya tersimpa di memori PBS. Selanjutnya, berdasar data ini, PBS akan memindai apakah ada anjing di sekitar individu dan bila ada, PBS akan langsung mengaktifkan tanda bahaya berupa perasaan tidak nyaman, takut, atau sensasi fisik tertentu, atau bahkan ada suara hati yang memerintah individu untuk segera menjauh dari anjing.

Demikian pula bila seseorang pernah mengalami perlakukan buruk, misal dimarahi oleh orang tua dengan suara keras, narasi kejadian dan emosinya disimpan di memori PBS. Setelahnya, setiap kali ia mendengar suara keras, walau suara ini tidak ditujukan padanya, PBS memberi sinyal tanya bahaya.

Sinyal ini direspon fisik dalam bentuk aktivasi sistem saraf simpatik. Dan bila bahaya telah berlalu dan individu merasa aman atau nyaman, sesuai dengan pemaknaan PBS, ia kembali rileks. Individu menjadi rileks karena sistem saraf parasimpatik, tepatnya ventral vagus, aktif.

Dan bila berdasar penilaian PBS individu tidak mungkin bisa mengatasi kondisi atau situasi yang sedang ia hadapi, sebagai langkah perlindungan, PBS akan membuat individu menjadi lemas, tidak mampu bergerak, bahkan pingsan. PBS juga bisa membuat individu mengalami disosiasi agar tidak mengalami sakit atau penderitaan berlebih. Kondisi ini sejatinya adalah aktivasi saraf dorsal vagus.

Dalam hipnoterapi, dilakukan induksi hipnotik dengan tujuan membuat PS menjadi rileks sehingga faktor kritis PS menjadi nonaktif. Dengan demikian, terapis dapat berbicara langsung dengan PBS klien tanpa intervensi dari PS.

Dalam kondisi hipnosis sedalam apapun, saat PS tidak lagi bekerja, PBS klien tetap aktif dan senantiasa menjalankan fungsi proteksi pada diri individu. Ini sejatinya adalah proses neurosepsi yang dilakukan sistem saraf otonom.

 

Hipnoterapi Klinis

Teori Polivagus menyatakan bahwa sistem saraf terkondisi oleh pengalaman hidup dan membentuk pola spesifik sebagai acuan pemberian makna oleh proses neurosepsi. Pengalaman traumatik mengakibatkan neurosepsi lebih sering memberi makna bahaya terhadap isyarat atau informasi yang bersumber dari dalam diri atau lingkungan. Kondisi ini mengakibatkan saraf simpatik atau dorsal vagus lebih sering aktif.

Sementara pengalaman positif yang dialami individu dalam proses tumbuh kembangnya membuat neurosepsi lebih tepat memberi makna pada isyarat atau informasi yang diterima dari dalam diri atau lingkungan, sebagai kondisi aman atau terkendali. Hal ini mengakibatkan individu lebih sering berada dalam mode aktivasi ventral vagus dan mampu menjalankan hidup dengan baik melalui interaksi sosial.

Pengkondisian ulang sistem saraf yang cenderung mengaktifkan saraf simpatik dan dorsal vagus dapat dilakukan dengan teknik tertentu (Porges dan Dana, 2018; Dana, 2018). Teknik dimaksud adalah dengan melatih individu mengenali kapan salah satu dari tiga sistem sarafnya aktif, apa yang membuat sistem saraf ini aktif, dan apa yang bisa ia lakukan untuk mengubah situasi ini.

Dengan sering berlatih mengenali dan melakukan koreksi atas respon, individu melakukan pengkondisian ulang pada sistem sarafnya. Hal yang sebelumnya oleh neurosepsi dimaknai bahaya atau mengancam keselamatan, padahal sesungguhnya tidak, akan terkoreksi sehingga bila individu bertemu dengan isyarat atau informasi yang sama, neurosepsi memberi makna berbeda.

Dari perspektif hipnoterapi klinis, pola berulang yang dialami individu sejatinya adalah program pikiran berisi narasi kejadian dan emosi dengan intensitas tertentu, yang tersimpan di memori PBS.

Berbagai kejadian traumatik dan emosi intens yang lekat padanya, tersimpan di memori, tidak hilang walau telah lama berlalu. Memori ini, tidak seperti memori pada umumnya yang akan pudar dengan sendirinya, akan terus aktif, bahkan setelah puluhan tahun. Bagi para individu ini, masa lalu selalu hadir di masa sekarang, dan mengakibatkan individu kerap dalam kondisi waspada berlebih. (Van der Kolk, 2014),

Kondisi waspada, akibat aktifnya saraf simpatik, adalah simtom yang bersumber dari energi yang terperangkap dalam sistem saraf dan sangat menganggu keseimbangan serta kesejahteraan tubuh dan pikiran. Residu ini terjadi karena individu tidak dapat menyelesaikan proses melewati atau keluar dari kondisi tak berdaya saat mengalami kejadian (Levine, 1997). Kondisi ini hanya bisa berubah atau diubah saat emosi yang lekat pada memori kejadian berhasil dikeluarkan sepenuhnya dari sistem psikis individu.

Melalui proses hipnoterapi klinis, individu dibimbing untuk dengan aman mencari, menemukan, dan mengakses pengalaman traumatik masa lalu, yang mengakibatkan ia mengalami fiksasi psikofisiologis berupa respon sistem saraf yang tidak akurat dan malfungsi neurosepsi.

Saat pengalaman traumatik ini berhasil direkonstruksi, emosi yang lekat pada memori berhasil dinetralisir dan tuntas dikeluarkan dari sistem psikis individu, individu mengalami pengalaman emosional korektif, sistem saraf kembali ke kondisi homeostasis alamiah, ventral vagus aktif, dan neurosepsi dapat bekerja dengan benar.

 

 

Referesi:

Churchill, Randal. 2012. Advanced Clinical Hypnotherapy workbook.

Craig, A. D. 2009a. How do you feel—now? The anterior insula and human awareness. Nature Reviews Neuroscience, 10, 59–70.

Dana, Deb. 2018. The Polyvagal Theory in Therapy: Engaging the Rhythm of Regulation. New York: Norton

Gunawan, Adi W. 2012. The Miracle of MindBody Medicine. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Klarer, M., Arnold, M., Günther, L., Winter, C., Langhans, W., & Meyer, U. 2014. Gut vagal afferents differentially modulate innate anxiety and learned fear. Journal of Neuroscience, 34(21), 7067–7076

Levine, Peter.1997. Waking the Tiger: Healing Trauma. Berkeley: North Atlantic

Morris, J.S., Ohman, A., & Dolan, R.J. 1999. A subcortical pathway to the right amygdala mediating “unseen” fear. Proceedings of the National Academy of Sciences USA, 96, 1680-1685

Norrentranders, T. 1998. The User Illusion: Cutting Consciousness Down to Size. New York: Penguin Books

Porges, Stephen W. 2009a. The polyvagal theory: New insights into adaptive reactions of the autonomic nervous system. Cleveland Clinic Journal of Medicine, 76 (Suppl 2), S86–S90.

Porges, Stephen W., Dana, A., Deb. 2018. Clinical Applications of the Polyvagal Theory: The Emergence of Polyvagal-Informed Therapies. New York : Norton

Porges, Stephen W. 1995. Orienting in a Defensive World: Mammalian Modifications of Our Evolutionary Heritage. Psychophysiology. 32(4):301-318.

Porges, Stephen W. 1997. Emotion: An evolutionary by-product of the neural regulation of the autonomic nervous system. Annals of the New York Academy of Sciences, 807, 62–77.

Porges, Stephen W. 2011. The Polyvagal Theory: Neurophysiological Foundations of Emotions, Attachment, Communication, and Self-regulation. New York: Norton

Rosenberg, Stanley. 2017. Accessing the Healing Power of the Vagus Nerve. Berkeley: North Atlantic Book.

Sciencedaily. 2008, 15 April. Decision-making May Be Surprisingly Unconscious Activity. Diakses 8 Agustus 2019, dari https://www.sciencedaily.com/releases/2008/04/080414145705.htm

Szegedy-Maszak, M. 2005. Mysteries of the Mind, Is your unconscious making your everyday decisions? U.S. News & World Report

Tebbetts, Charles. 1987. Self Hypnosis and Other Mind-Expanding Techniques. Glendade: Westwood Pulishing

Van der kolk, Bessel. 2014. The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. New York: Penguin Books

Zimmermann, Manfred. The Nervous System in the Context of Information Theory. Human Physiology, 89, 166-173

Baca Selengkapnya

Memrogram Ulang Pikiran Bawah Sadar Dengan Afirmasi

15 Juli 2019

Perilaku manusia dikendalikan oleh program pikiran yang tersimpan di pikiran bawah sadar (PBS). Program-program ini sering tidak disadari namun dapat dilacak keberadaan dan pengaruhnya melalui pola pikir, berucap, dan bertindak yang menjadi kebiasaan seseorang.

Bila akhirnya disadari ada program tidak mendukung diri mencapai tujuan tertentu maka program ini perlu segera diganti dengan program baru yang mendukung keberhasilan. Salah satu cara yang sangat sering digunakan untuk memrogram ulang PBS adalah dengan menggunakan afirmasi.

Namun sering dijumpai banyak orang telah melakukan afirmasi, gagal mengalami perubahan seperti yang diinginkan. Berikut ini saya akan jelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses pemrograman PBS dengan afirmasi bisa berjalan dengan baik, mudah, dan efektif.

 

Memahami Cara Kerja Pikiran

Untuk bisa memahami proses masuknya afirmasi ke PBS, saya akan jelaskan terlebih dahulu cara kerja pikiran sadar (PS) dan pikiran bawah sadar (PBS).

Manusia punya dua pikiran, PS dan PBS. Masing-masing dengan fungsi dan perannya. Kita melakukan perencanaan, penilaian, menimbang, membuat keputusan dengan PS berdasar informasi, data, pengetahuan, dan pengalaman yang tersimpan di PBS.

PBS memiliki banyak peran dan fungsi, antara lain, tempat memori, karakter, kepercayaan, nilai hidup, kebiasaan, dan berbagai program yang menjalankan dan mengendalikan hidup kita. Semua data di PBS diproteksi dengan sangat ketat, agar tidak mudah diubah, melalui mekanisme perlindungan data yang dijalankan oleh Faktor Kritis (Critical Factor) PS dan empat filter mental PBS.

Perlindungan data di PBS, agar tidak mudah diubah, sangat terkait erat dengan fungsi utama PBS yaitu melindungi individu dari hal-hal yang ia (PBS) pandang, rasa, yakini, perkirakan, atau asumsikan berbahaya atau merugikan diri individu. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi pada hidup kita bila data-data yang ada di PBS dapat diubah dengan begitu mudahnya, hidup kita pasti akan kacau.

Setiap informasi yang akan masuk ke PBS selalu melewati proses pemeriksaan yang dilakukan Faktor Kritis. Faktor Kritis melakukan pengecekan keselarasan data baru dengan data lama yang ada di PBS. Bila data baru sejalan, mendukung, selaras, tidak bertentangan dengan data lama maka data baru ini diijinkan dan leluasa masuk ke PBS. Bila data baru ini ternyata tidak sejalan dengan data lama, ia pasti ditolak.

Ada dua cara melakukan afirmasi: dalam kondisi sadar dan hipnosis. Afirmasi dalam kondisi sadar dilakukan dengan membaca kalimat tertentu berulang kali. Contohnya begini. Data lama di PBS kita menyatakan bahwa 2+2 = 4. Ini kita terima sebagai kebenaran. Dan bila kita mau mengubah data ini menjadi 2+2 = 5, maka dalam dalam kondisi sadar normal kita berulang kali mengucapkan kepada diri sendiri: 2+2 = 5.

Bila afirmasi dilakukan dalam kondisi sadar normal, sebelum data ini masuk ke PBS, ia pasti diperiksa oleh Faktor Kritis. Faktor Kritis membandingkan data ini dengan data yang telah ada di PBS. Dan karena data baru ini tidak selaras dengan data di PBS, ia ditolak dan tidak diijinkan masuk ke PBS.

Bentuk dan derajat penolakan data baru oleh PBS berupa perasaan tidak nyaman yang dirasakan individu, baik itu secara fisik, emosi, bisa berupa suara internal, atau bisa ketiganya.  Semakin tinggi intensitas rasa tidak nyaman atau suara yang muncul menandakan semakin kuat penolakan dari PBS.

Cara lain memasukkan data baru ke PBS adalah dengan menggunakan bantuan kondisi hipnosis atau relaksasi pikiran. Kondisi pikiran rileks membuat kewaspadaan Faktor Kritis PS menurun. Dengan demikian, fungsi pemeriksaan yang biasa ia lakukan juga sangat menurun. Tingkat penurunan kewaspadaan Faktor Kritis PS sejalan dengan tingkat kedalaman hipnosis yang dicapai seseorang. Pada kedalaman ekstrim, PS dan Faktor Kritis tidak bekerja.

Memasukkan data dengan kondisi hipnosis bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, dilakukan sendiri, dengan teknik swaterapi (self-hypnosis). Kedua, dengan hetero-hipnosis yaitu meminta bantuan seseorang menghipnosis kita dan setelahnya membacakan kalimat afirmasi. Ketiga, dengan autohipnosis, yaitu saat malam hari hendak tidur, saat sangat mengantuk, kita masuk kondisi hipnosis (hypnagogic). Dalam kondisi ini kita bisa membaca kalimat afirmasi berulang kali atau merekam kalimat afirmasi dan kemudian mendengar rekaman ini.

Satu cara lain melakukan swahipnosis adalah dengan menggunakan bantuan musik binaural. Cara kerja musik ini adalah dengan memainkan musik dengan frekuensi berbeda di telinga kiri dan kanan dengan selisih frekuensi sesuai dengan target gelombang otak dominan yang hendak dicapai: alfa (8-12 Hz), theta (4-8 Hz), atau delta (0,1-4 Hz). Setelah tercapai kondisi yang diinginkan, barulah rekaman afirmasi dimainkan.  Cara lain memasukkan data ke PBS menggunakan teknologi audio subliminal message. Masih ada satu cara lagi cara memasukkan data baru ke PBS, tapi tidak relevan saya bahas di sini, yaitu menggunakan otoritas.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kondisi hipnosis adalah jalan pintas dan mudah untuk memasukkan data baru ke PBS. Namun yang perlu diperhatikan adalah kedalaman hipnosis yang dicapai seseorang, idealnya minimal hipnosis dalam (profound somnambulism).

Saat data atau informasi berhasil masuk atau dimasukkan ke PBS, tidak berarti ia bisa langsung leluasa aktif bekerja. Data ini harus melewati empat filter mental PBS: filter keselamatan hidup, moral/agama, benar/salah, masuk akal/tidak masuk akal. Bila lolos, barulah ia bisa aktif dan bekerja. Bila tidak lolos, data ini akan dianulir oleh PBS. Ini tampak pada para subjek yang dihipnosis oleh hipnotis dan disugesti, diberi kalimat afirmasi, lupa nama mereka. Walau hipnotis tidak memberi sugesti agar mereka ingat kembali nama mereka, PBS subjek pasti menganulir sugesti “Lupa nama” karena ini akan berbahaya, merugikan, dan bertentangan dengan filter mental PBS.

Keefektifan suatu program di PBS bergantung pada tiga hal. Pertama, kalimat afirmasi yang digunakan harus sejalan dengan prinsip dan cara kerja PBS. Bila kalimat afirmasi tidak ditulis atau disusun dengan benar maka kalimat ini bisa masuk ke PBS tapi tidak efektif. Kedua, kekuatan program ini. Semakin besar kekuatannya, semakin kuat ia. Dan ketiga, ada atau tidak penolakan oleh program lain yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila ada penolakan dari program lain, dan program ini ternyata lebih kuat, maka program baru ini pasti akan terhambat kerjanya. Cara paling efektif untuk mengatasi hal ini adalah dengan menetralisir program lama yang menghambat kerja program baru.

Contohnya begini. Ada orang sulit menghasilkan uang dan mau berubah. Ia menggunakan kalimat afirmasi "Saya mudah mendapatkan uang". Bila ia berusaha memasukkan kalimat afirmasi ini ke PBS, dalam kondisi sadar normal, dengan membaca kalimat ini berulang kali, maka pasti akan mendapat penolakan dari PBS-nya, berupa perasaan tidak nyaman. Semakin ia paksakan, semakin tidak nyaman. Ini terjadi karena data baru ini ditolak oleh Faktor Kritis PS.

Misalkan ia memasukkan kalimat afirmasi ini dengan bantuan kondisi hipnosis, kita asumsikan Faktor Kritis PS tidak bekerja, maka kalimat afirmasi ini bisa leluasa masuk ke PBS. Di PBS, kalimat afirmasi ini harus melewati empat filter mental, dan bila lolos, masih harus berhadapan dengan program lama "Saya sulit cari uang".

 

Syarat Menulis Kalimat Afirmasi

Afirmasi berasal dari kata bahasa Inggris "affirmation" yang berasal dari kata kerja " to affirm" yang bermakna menegaskan, meneguhkan, mengukuhkan, menguatkan.

Dengan demikian afirmasi adalah kalimat yang terdiri atas rangkaian kata spesifik dengan tujuan menegaskan, menguatkan, meneguhkan sesuatu (tujuan). Kalimat afirmasi ini dibaca berulang agar masuk ke pikiran bawah sadar dan menjadi program yang membantu memudahkan, mempercepat proses manifestasi atau pencapaian tujuan.

Kalimat afirmasi sebenarnya sama dengan kalimat sugesti. Kalimat afirmasi (sugesti) yang efektif perlu disusun mengikuti dan memenuhi syarat, antara lain: singkat dan jelas, menggunakan kata-kata positif, jelas - tidak boleh ambigu atau multi-tafsir, menggunakan kerangka waktu sekarang,  bila ditujukan untuk digunakan pada diri sendiri maka ia menggunakan bentuk orang pertama, personal dan bermakna, dan beberapa syarat lain.

Kalimat afirmasi adalah pernyataan tujuan atau goal. Dengan demikian, kalimat afirmasi adalah perintah kepada PBS untuk bertindak atau melakukan sesuatu sesuai dengan pernyataan dalam kalimat afirmasi.

 

PBS Tidak Secerdas yang Anda Pikirkan

PBS memang cerdas, namun ia tidak secerdas yang diperkirakan banyak orang. Di beberapa literatur dinyatakan bahwa PBS sangat cerdas. Dalam beberapa hal, ini benar. Namun PBS tidak cerdas dalam arti ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah sendiri. Ia bekerja berdasar prinsip stimulus respons, berdasar perintah, bukan atas inisiatif atau pemikirannya sendiri. Kemampuan berpikir PBS setara dengan anak berusia 8 tahun. Bila PBS begitu cerdas, ia pasti bisa menyelesaikan semua masalah kita. Namun kenyataannya, tidak. PBS butuh tuntunan untuk bisa menyelesaikan masalah. PBS cerdas karena ia sangat menyadari pentingnya resolusi trauma, tapi ia bukan penyelesai masalah. Ia butuh bantuan PS atau diarahkan oleh hipnoterapis untuk menyelesaikan masalah.

 

Yakin Afirmasi Telah Diterima PBS?

Saat melakukan afirmasi, baik dalam kondisi sadar normal atau dalam kondisi hipnosis, kita tentu berharap afirmasi ini masuk dan diterima PBS. Namun hanya berharap tidak bisa memastikan afirmasi benar telah diterima PBS. Untuk itu perlu dilakukan pengecekan ke PBS. Sangat disayangkan, satu tahap penting ini sangat jarang, bisa dibilang tidak pernah, dilakukan oleh mereka yang melakukan afirmasi.

Umumnya orang melakukan afirmasi dan berharap, siapa tahu, afirmasi ini masuk dan diterima PBS menjadi program pikiran untuk mendukung sukses. Pernahkah anda berpikir, bagaimana bila setelah melakukan afirmasi, bisa dengan cara apa saja, ternyata afirmasi ini tidak diterima oleh PBS?

Tentu akan sangat menyenangkan bila kita bisa melakukan pengecekan masuk tidaknya afirmasi ke PBS sehingga kita bisa memutuskan untuk berhenti, tidak perlu menghabiskan banyak waktu, bila afirmasi sudah masuk diterima PBS, atau melakukan pengulangan afirmasi, bila ia belum diterima PBS. Ada cara sangat mudah untuk memastikan apakah benar suatu afirmasi telah masuk dan diterima PBS, sekaligus diketahui kekuatan afirmasi ini. Ini akan saya jelaskan di artikel lain.

 

Afirmasi Mencipta Potensi, Tidak Menggaransi Hasil

Afirmasi yang berhasil masuk dan diterima oleh PBS menjadi program pikiran. Afirmasi ini mencipta potensi, di level PBS, dan perlu ditindaklanjuti dengan tindakan. Tanpa tindakan, tidak mungkin akan ada hasil. Program pikiran yang mendukung goal atau tujuan menjadikan tindakan atau aksi menjadi mudah dilakukan, fokus, dan dengan cepat membangun momentum menuju sukses.

Untuk mencapai sukses, setelah memrogram diri dengan afirmasi positif dan mendukung, kita perlu memiliki keterdesakan untuk bertindak dan kesabaran dalam menunggu hasil.

 

Simpulan

Setelah membaca uraian di atas, saya yakin pembaca kini mengerti apa saja yang perlu diperhatikan untuk bisa melakukan afirmasi efektif dan mencapai tujuan dengan mudah:

  • Kalimat afirmasi ditulis dengan benar mengikuti hukum kerja pikiran bawah sadar.
  • Afirmasi dibaca atau didengarkan, minimal dalam kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism), lebih dalam lagi lebih baik.
  • Dilakukan pemerikasaan untuk memastikan afirmasi telah masuk dan diterima oleh PBS.
  • Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada atau tidak program lain di PBS yang menghambat program baru. Bila ada, program ini perlu dinetralisir.
  • Perlu dilakukan pengulangan pemberian afirmasi untuk penguatan.
  • Program baru perlu didukung dengan tindakan nyata yang sejalan dengannya agar tujuan yang diinginkan bisa segera tercapai.
Baca Selengkapnya

Elman Induction dan AWG Induction

13 Juni 2019

Induksi hipnotik adalah proses menuntun subjek berpindah dari kondisi kesadaran normal ke kondisi hipnosis. Kondisi hipnosis sejatinya kondisi kesadaran dengan banyak derajat kedalaman, masing-masing dengan fenomena spesifik baik pada aspek fisik maupun mental, mulai kedalaman dangkal (hypnoidal), kedalaman menengah (medium trance), kedalaman dalam (profound somnambulism), dan kedalaman ekstrim (extreme depth of hypnosis).

Ada sangat banyak teknik induksi dalam dunia hipnosis/hipnoterapi. Salah satu yang sangat terkenal adalah Elman Induction yang disusun berdasarkan materi pelatihan yang diajarkan oleh tokoh hipnoterapi terkemuka, Dave Elman.

Dave Elman lahir 6 Mei 1900 dengan nama Dave Kopelman di Dakota Utara, besar di Fargo, dan meninggal tahun 1967. Dave mulai tertarik pada hipnosis di usia 8 tahun, saat seorang hipnotis berhasil menghilangkan rasa sakit yang diderita ayahnya akibat kanker, dan ini memungkinkan ayahnya bermain dengan Dave untuk terakhir kalinya.

Ketertarikannya pada hipnosis mendorong Dave, saat itu berusia 12 tahun, membaca dan memelajari buku Suggestive Therapeutics: A Treatise on the Nature and Uses of Hypnotism karya Hippolyte Bernheim, dokter Prancis yang terkenal dengan teorinya tentang sugestibilitas dan hubungannya dengan hipnosis (Kein, 1993).

Di tahun 1949, Elman mendemonstrasikan metode induksi cepat dan pengetahuan tentang kendali rasa sakit kepada para dokter. Setelahnya, ia diminta mengajarkan hipnosis kepada dokter dan dokter gigi. Elman tidak mempraktikkan ilmu kedokteran tetapi hanya mengajarkan teknik-teknik hipnosis.

Murid-murid Elman, para dokter dan dokter gigi, meneliti lebih lanjut aplikasi hipnosis dalam dunia medis dan melaporkan temuan mereka untuk dibahas dalam pelatihan berikutnya. Elman mengabdikan hidupnya mengajar hipnosis kepada dokter dan dokter gigi.

Elman, semasa hidupnya, sangat aktif mengajar hipnosis. Rekaman pelatihannya dikumpulkan menjadi The Master’s Voice – The Legendary Dave Elman Training Course.Elman hanya menulis satu buku Findings in Hypnosis, yang kemudian hari diterbitkan dengan judul Hypnotherapy, dan adalah buku klasik dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi. Dave Elman tidak pernah secara khusus mengajarkan Elman Induction. Induksi yang saat ini dikenal dengan Elman Induction sebenarnya adalah teknik induksi berulang (Elman, 1977:102), dan adalah salah satu induksi paling efektif, mudah dipelajari dan dipraktikkan.

 

Ada banyak varian teknik Elman Induction. Secara ringkas, struktur Elman Induction adalah sebagai berikut:

  1. Persiapan
  2. Katalepsi kelompok otot kecil
  3. Pendalaman
  4. Fraksinasi
  5. Katalepsi kelompok otot besar
  6. Amnesia dengan sugesti

 

Berikut ini adalah skrip Elman Induction, diterjemahkan dari versi bahasa Inggris, yang penulis gunakan di awal karir sebagai hipnoterapis klinis tahun 2005:

Sekarang, tarik napas panjang dan tahan beberapa detik. Sambil anda mengembuskan napas, ijinkan mata anda menutup dan lepaskan semua ketegangan di tubuh anda. Ijinkan tubuh anda menjadi serileks mungkin sekarang.

Sekarang, pusatkan perhatian anda pada otot-otot mata anda dan rilekskan otot-otot di sekeliling mata anda hingga mereka tidak bisa bekerja. Bila anda yakin mereka telah sangat rileks dan selama anda mempertahankan rileksasi ini, maka mereka tidak bisa bekerja. Pertahankan rileksasi ini dan coba buka mata tapi pastikan mata Anda tidak bisa bekerja.

Sekarang, saya ingin, rileksasi yang anda rasakan di mata anda, juga dirasakan di seluruh tubuh anda. Jadi, biarkan kualitas rileksasi seperti ini mengalir ke seluruh tubuh anda mulai dari kepala hingga ke ujung jari-jari kaki anda.

Sekarang, anda dapat semakin memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan meminta anda buka mata dan menutup mata anda. Saat anda menutup mata, ini adalah sinyal bagi anda untuk mengijinkan perasaan rileks ini menjadi sepuluh kali lebih dalam. Semua yang perlu anda lakukan adalah menginginkannya terjadi dan anda dapat membuatnya terjadi dengan sangat mudah.

Baiklah, sekarang, buka mata anda…tutup mata anda dan rasakan perasaan rileks mengalir ke seluruh tubuh anda, membawa anda masuk lebih dalam lagi. Gunakan imajinasi anda yang luar biasa dan bayangkan seluruh tubuh anda diselimuti, dibungkus dalam selimut rileksasi yang hangat.

Sekarang, Anda dapat lebih memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan minta anda buka mata dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan rileksasi yang anda alami sekarang. Buat ia menjadi dua kali lebih dalam. Baiklah, sekarang sekali lagi, buka mata anda… tutup mata anda dan lipat duakan rileksasi anda… bagus. Biarkan semua otot di tubuh anda menjadi sangat rileks dan selama anda mempertahankan kualitas rileksasi seperti ini, setiap otot di tubuh anda tidak akan bekerja.

Sebentar lagi, saya akan minta anda buka dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan relaksasi yang anda rasakan sekarang. Buat ia menjadi dua kali lebih dalam. Baiklah, sekarang sekali lagi buka mata anda… tutup mata anda dan duakan lipat rileksasi anda… bagus. Ijinkan semua otot di tubuh anda menjadi sangat rileks sehingga selama anda mempertahankan kualitas rileksasi seperti ini, setiap otot di tubuh anda tidak bekerja.

Sebentar lagi saya akan mengangkat tangan (kiri atau kanan) anda di pergelangan, beberapa centimeter, dan melepaskannya. Jika anda telah mengikuti perintah saya hingga ke titik ini, tangan itu akan menjadi sangat rileks, menjadi lemas tidak bertenaga seperti kain basah, dan akan jatuh ke pangkuan. Sekarang, jangan mencoba untuk bantu saya. Ijinkan saya yang melakukan semua kerjanya, mengangkat tangan anda, sehingga saat saya lepas nanti, ia jatuh ke bawah dan anda masuk semakin dalam.

(Jika subjek membantu mengangkat tangan) Katakan,”Sekarang, ijinkan saya yang mengangkat, jangan bantu saya. Biarkan tangan anda berat tidak bertenaga. Jangan bantu saya. Anda bisa merasakannya sekarang.

Ini adalah rileksasi fisik sepenuhnya. Saya ingin anda tahu bahwa ada dua cara orang menjadi rileks. Anda dapat rileks secara fisik dan anda dapat rileks secara mental. Anda telah membuktikan bahwa anda dapat rileks secara fisik, dan sekarang ijinkan saya untuk menunjukkan pada anda cara rileks secara mental. Sebentar lagi, saya akan minta anda mulai menghitung perlahan, mundur, dengan suara keras, mulai 100.

Sekarang, inilah rahasia rileksasi mental. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, lipat duakan rileksasi mental anda. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, biarkan pikiran anda menjadi dua kali lebih rileks. Sekarang, jika anda melakukan ini, saat anda mencapai angka 98, atau mungkin lebih cepat lagi, pikiran anda telah menjadi sangat rileks, anda akhirnya merilekskan sisa angka yang muncul setelah angka 98 di pikiran anda. Tidak ada angka tersisa. Sekarang, anda harus melakukan ini, saya tidak dapat melakukannya untuk anda. Angka-angka itu akan meninggalkan anda jika anda menginginkannya pergi. Sekarang, mulai dengan menginginkan ini terjadi dan anda dapat dengan mudah menghilangkan mereka dari pikiran anda.

Sekarang, ucapkan angka pertama, 100 dan lipat duakan rileksasi mental anda.

Klien     : 100

Terapis : Sekarang lipat duakan rileksasi mental itu. Biarkan angka-angka itu mulai menjadi pudar.

Klien     : 99

Terapis : Lipat duakan rileksasi mental. Mulai membuat angka-angka itu pergi. Mereka akan pergi bila anda menginginkan mereka pergi.

Klien     : 98

Terapis : Sekarang, mereka akan hilang. Hilangkan mereka. Buang mereka. Buat ini terjadi, anda bisa melakukannya. Saya tidak bisa melakukannya untuk anda. Dorong mereka keluar. Buat ini terjadi. SEMUA SUDAH HILANG?

 

Mengikuti struktur induksi yang telah dijelaskan di atas, berikut ini akan dibahas setiap tahapan dalam Elman Induction.

 

Persiapan

Skrip untuk tahap Persiapan sengaja tidak diberikan di sini karena sifatnya sangat situasional. Intinya, pada tahap Persiapan, ada tiga hal yang terjadi: komunikasi antara operator dan subjek, penyiapan subjek untuk diinduksi, di sini operator meminta persetujuan eksplisit dari subjek untuk menjalani induksi, dan menghilangkan keraguan, keengganan, rasa takut, rasa tidak percaya pada operator, atau hal lain yang membuat subjek tidak nyaman. Tidak ada skrip yang baku untuk digunakan di tahap Persiapan. Semua bergantung pada kebutuhan, situasi, dan kondisi subjek.

 

Katalepsi Kelompok Otot Kecil

Sekarang, pusatkan perhatian anda pada otot-otot mata anda dan rilekskan otot-otot di sekeliling mata anda hingga mereka tidak bisa bekerja. Bila anda yakin mereka telah sangat rileks dan selama anda mempertahankan rileksasi ini, maka mereka tidak bisa bekerja. Pertahankan rileksasi ini dan coba buka mata tapi pastikan mata tidak bisa bekerja.

Kalimat di atas bertujuan menembus faktor kritis pikiran sadar dan mencapai kondisi pemikiran selektif, yaitu subjek percaya, menerima, dan menjalankan sugesti yang diberikan. Bila mata subjek berhasil tidak bisa dibuka, ini indikator ia telah masuk kondisi hipnosis dangkal atau hipnoidal, dan bisa dilanjutkan ke langkah berikutnya yaitu pendalaman.

 

Pendalaman

Pendalaman bertujuan untuk menuntun subjek turun ke kondisi hipnosis yang semakin dalam. Ini dicapai dengan operator memberi sugesti: Sekarang, saya ingin, rileksasi yang anda rasakan di mata anda, juga dirasakan di seluruh tubuh anda. Jadi, biarkan kualitas rileksasi seperti ini mengalir ke seluruh tubuh anda mulai dari kepala hingga ke ujung jari-jari kaki anda.

 

 

Fraksinasi

Fraksinasi bertujuan untuk membawa subjek masuk ke kondisi hipnosis lebih dalam lagi. Elman menyebut tahap ini “Three trips to Bernheim” atau tiga perjalanan ke Bernheim. Ia mendapat ide fraksinasi setelah membawa buku Bernheim, Suggestive Therapeutic.

Dalam buku ini diceritakan Bernheim menghipnosis pasiennya lima kali, masing-masing dengan jarak satu minggu. Minggu pertama, kedua, dan ketiga, pasien hanya masuk kondisi hipnosis dangkal (light trance). Di sesi keempat, pasien berhasil masuk kondisi hipnosis menengah (medium trance). Baru pada sesi kelima, pasien berhasil mencapai kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism).

Berangkat dari kisah ini, Elman mendapat ide, bagaimana bila jarak antarsesi bukan satu minggu tapi satu hari. Elman mencoba melakukan hipnosis dengan pemikiran ini dan mencapai hasil seperti yang dicapai Bernheim kala melakukan hipnosis dengan jarak antarsesi satu minggu. Selanjutnya Elman berpikir, bagaimana bila jarak antarsesi adalah satu jam, dan akhirnya jarak antarsesi hanya satu menit.

Untuk mencapai kondisi ini, Elman menggunakan fraksinasi, yaitu meminta klien membuka dan kemudian menutup mata, sebanyak tiga kali, sambil diberi sugesti. Gerakan membuka dan menutup mata ini memberi efek pendalaman sehingga subjek semakin masuk ke dalam kondisi hipnosis.

Sekarang, anda dapat semakin memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan meminta anda buka mata dan menutup mata anda. Saat anda menutup mata, ini adalah sinyal anda untuk mengijinkan perasaan rileks ini menjadi sepuluh kali lebih dalam.

Sekarang, kita dapat lebih memperdalam rileksasi ini. Sebentar lagi, saya akan meminta anda buka mata dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan rileksasi yang anda alami sekarang.

Sebentar lagi, saya akan minta anda buka mata dan menutup mata sekali lagi. Dan lagi, saat anda menutup mata, lipat duakan relaksasi yang anda rasakan sekarang. Buat ia menjadi dua kali lebih dalam.

 

Katalepsi Kelompok Otot Besar

Di tahap ini, operator menuntun subjek untuk semakin rileks dan mencapai katalepsi kelompok otot besar dengan memberi sugesti:

Sebentar lagi saya akan mengangkat tangan (kiri atau kanan) anda di pergelangan tangan, beberapa centimeter, dan melepaskannya. Jika anda telah mengikuti perintah saya hingga ke titik ini, tangan itu akan menjadi begitu sangat rileks, menjadi lemas tidak bertenaga seperti kain basah, dan akan jatuh ke pangkuan.

Bila subjek berhasil melakukan yang disugestikan, ini berarti subjek telah berada di kedalaman hipnosis menengah (medium trance).

 

Amnesia dengan Sugesti

Tahap final dari Elman Induction adalah menuntun subjek ke kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism) dengan menggunakan skrip berikut:

Sebentar lagi, saya akan minta anda mulai menghitung perlahan, mundur, dengan suara keras, mulai 100. Sekarang, inilah rahasia rileksasi mental. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, lipat duakan rileksasi mental anda. Dengan setiap angka yang anda ucapkan, biarkan pikiran anda menjadi dua kali lebih rileks. Sekarang, jika anda melakukan ini, saat anda mencapai angka 98, atau mungkin lebih cepat lagi, pikiran anda telah menjadi sangat rileks, anda akhirnya merilekskan sisa angka yang muncul setelah angka 98 di pikiran anda. Tidak ada angka tersisa….dst.

 

Kendala Menggunakan Elman Induction

Banyak hipnoterapis pemula, karena tidak mendapat penjelasan mendalam tentang teori, alur, dan cara yang benar melakukan Elman Induction, mengalami kegagalan beruntun dan akhirnya tidak lagi berani menggunakannya. Kendala yang sangat sering dialami hipnoterapis saat melakukan Elman Induction:

  • Tidak terjadi katalepsi kelompok otot kecil. Saat operator meminta subjek untuk melakukan tes buka mata, mata subjek yang seharusnya terkunci rapat, lengket, tidak bisa terbuka, tidak terjadi. Subjek bisa buka mata.
  • Tidak terjadi katalepsi kelompok otot besar. Saat operator meminta subjek untuk merilekskan lengannya sehingga menjadi berat saat diangkat oleh operator, subjek tidak bisa melakukannya dengan benar. Lengan subjek tetap ringan.
  • Tidak terjadi amnesia dengan sugesti. Klien sulit mengalami kondisi amnesia ini. Akibatnya, saat hitungan mundur terus terjadi, operator mulai panik karena bila subjek menghitung mundur hingga mencapai angka satu atau nol, berarti tahap ini gagal.

 

Di masa awal berpraktik sebagai hipnoterapis klinis, penulis juga menggunakan Elman Induction dan mengalami kegagalan seperti yang dijelaskan di atas. Hasil induksi tidak konsisten berhasil membawa klien masuk ke kondisi hipnosis dalam, terutama pada klien kritis dan analitis. Lebih sering terjadi kegagalan daripada keberhasilan.

Setelah kegagalan berulang, penulis akhirnya menyadari bahwa proses alih bahasa skrip induksi dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia selain perlu mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku dan benar, juga perlu memerhatikan sifat dan cara kerja pikiran sadar dan bawah sadar, serta budaya lokal. Dengan kata lain, skrip tidak bisa asal diterjemahkan tetapi perlu mendapat validasi budaya dan linguistik (cultural and linguistic validation).

 

Adopsi dan Modifikasi

Elman Induction sebenarnya sama dengan induksi hipnotik pada umumnya. Yang membedakannya, di dalam Elman Induction telah disertakan uji kedalaman tersamar untuk mengetahui derajat kedalaman hipnosis yang dicapai subjek pada saat tertentu.

Elman Induction dipraktikkan serta diajarkan Dave Elman di tahun 1950an dan telah terbukti sangat efektif. Penulis, setelah memelajari secara cermat struktur dan alur Elman Induction, melakukan adopsi dan modifikasi untuk menyusun skrip induksi yang kini dikenal dengan AWG Induction.

Adopsi dan modifikasi ini didasarkan pada temuan dan pengalaman praktik penulis, diperkuat dengan pengetahuan dan pemahaman dari hasil pembelajaran penulis kepada tokoh hipnoterapi dan pakar teknologi pikiran: Anna Wise (2009), Tom Silver (2009), Gil Boyne (2010), Randal Churchill (2012), dan John Butler (2014).

Adopsi dan modifikasi yang dilakukan terhadap skrip orisinal Elman Induction juga dengan memerhatikan dan berlandaskan ekstraksi pengetahuan yang diperoleh dari berbagai literatur yang khusus membahas induksi, sugesti, dan pilihan diksi yang bersifat hipnotik.

Skrip AWG Induction dan strategi melakukannya kepada subjek telah mengalami tiga kali penyempurnaan, sejak disusun pertama kali tahun 2005. Pengembangan dan penyempurnaan dilakukan tahun 2008, 2013, dan terakhir 2017.

Dalam AWG Induction, induksi dimaknai sebagai proses, bukan sekadar pembacaan skrip. Bagian paling penting dalam AWG Induction adalah tahap Persiapan, karena keberhasilan dan kegagalan induksi sepenuhnya ditentukan di sini. Di tahap ini operator melakukan pemeriksaan kesiapan dan kesediaan subjek menjalani induksi, edukasi dan melatih pikiran sadar dan bawah sadar subjek tentang apa yang akan terjadi dan subjek alami, menjawab pertanyaan subjek untuk mengatasi keraguan dan perasaan tidak nyaman terkait proses induksi hipnotik yang akan subjek jalani dan alami.

Skrip AWG Induction disusun dengan sangat cermat untuk menghindari perangkap pharsing, yaitu kecenderungan pikiran bawah sadar menolak kata-kata bersifat negasi saat seseorang dalam kondisi hipnosis dalam (Kein, 2003).

Diksi yang dipilih juga bersifat pasif, langsung (direct), jernih sehingga mudah dipahami, dengan tujuan mencipta kondisi rileks dan pasif pada diri subjek (O’Hanlon, 2009), diterima dan dijalankan baik oleh subjek bertipe sugestibilitas fisik dan emosional/kritis analitis (Kappas, 1999). Pilihan diksi yang cermat juga meniadakan efek dualisme, salah satu faktor utama penghambat proses rileksasi mental mental (Wise, 2009).

Skrip dalam AWG Induction mengedepankan pemanfaatan keterhubungan memori dan kondisi rileksasi sehingga subjek tidak perlu berusaha menjadi rileks atau membuat dirinya rileks. Rileksasi terjadi dan berjalan alamiah berdasar aktivasi jangkar memori-fisik yang telah ada di pikiran bawah sadarnya. Sejatinya setiap subjek mampu secara alamiah untuk rileks, baik secara fisik maupun mental karena aktivitas rileksasi alamiah ini ia lakukan setiap hari saat beralih dari kondisi sadar normal ke kondisi tidur (Silvester, 2003; Webb, 2008; Nongard, 2011).

Asal mula fraksinasi hipnotik merujuk pada eksperimen Oskar Vogt, seorang dokter berkebangsaan Jerman. Sekitar tahun 1903 Vogt menyadari bahwa subjek cenderung masuk ke kondisi hipnosis lebih cepat dan lebih dalam di setiap sesi berikutnya, sehingga ia mencoba membawa subjek masuk dan keluar dari kondisi hipnosis berkali-kali dengan sangat cepat, untuk memberi subjek pengalaman banyak sesi hipnosis hanya dalam beberapa menit. Dampak dari perlakuan ini mengakibatkan subjek masuk ke kondisi hipnosis sangat dalam dengan cepat.

Fraksinasi hipnotik adalah proses pendalaman kondisi hipnosis dengan membawa subjek masuk dan keluar kondisi hipnosis secara berulang. Inti dari fraksinasi adalah subjek dituntun untuk masuk ke kondisi hipnosis. Selanjutnya, subjek yang telah berada di dalam kondisi hipnosis, dibawa keluar dari kondisi hipnosis dan dilanjutkan dengan mengulangi proses hipnosis. Setiap pengulangan masuk-keluar kondisi hipnosis mengakibatkan efek pendalaman yang kuat. Waktu pengulangan bisa satu menit, satu jam, satu hari, atau satu minggu, bergantung

Sementara dalam Elman Induction, subjek tidak dibawa keluar dari kondisi hipnosis namun hanya diminta membuka mata. Membuka mata tidak serta merta membuat subjek keluar dari kondisi hipnosis. Dengan demikian, sesuai definisi fraksinasi di atas, teknik pendalaman dengan meminta subjek membuka dan menutup mata beberapa kali dalam Elman Induction bukan fraksinasi dalam arti yang sesungguhnya.

Yang membuat subjek masuk lebih dalam adalah kepatuhannya menjalankan sugesti yang diberikan operator yaitu membuka dan menutup mata, yang selalu disertai dengan sugesti lanjutan untuk menjadi lebih rileks dari kondisi sebelumnya. Sesuai dengan cara kerja pikiran, setiap sugesti yang dijalankan membuka jalan untuk sugesti berikutnya juga dijalankan seperti sugesti sebelumnya. Efek pengulangan sugesti ini memberi efek penguatan atau compounding (Kein, 2005).

Berdasar pemahaman ini, untuk meningkatkan keefektifan pendalaman kondisi hipnosis, AWG Induction tidak menggunakan fraksinasi namun menggunakan teknik pendalaman kondisi hipnosis berbasis penurunan fungsi kritis analitis pikiran sadar menggunakan jalur somatik (Wise, 2009). Hal yang juga sangat berbeda, dan ini adalah ciri khusus AWG Induction adalah kondisi kedalaman hipnosis yang telah berhasil dicapai subjek distabilkan menggunakan pendekatan somatopsikis.

Pada bagian akhir Elman Induction, pendalaman bersifat opsional. Sementara dalam AWG Induction, pendalaman adalah satu keharusan untuk memastikan subjek benar-benar turun ke kedalaman hipnosis dalam. Teknik pendalaman akhir kondisi hipnosis dalam AWG Induction menggunakan pendekatan jangkar memori seperti yang digunakan dalam teknik Ultra Depth (Ramey, 1996, 2005).

 

Referensi

Boyne, Gil. 2010. Master Class in Clinical Hypnotherapy workbook (pdf)

Churchil, Randal. 2012. Clinical Hypnotherapy workbook. San Fracisco: HTI

Elman, Dave. 1977. Hypnotherapy. Glendale: Westwood Publishing Co.

Kappas, John G. 1999. Professional Hypnotism Manual : A Practical Approach For Modern Times. Boston: Panorama Publishing Company

Kein, Gerald. 1993. How to do the Dave Elman induction. DeLand: OHTC. 50 mins

Kein, Gerald. 2003. 7 Powerful Keys to direct suggestion success. DeLand: OHTC. 50 mins.

Nongard, Richard K. 2011. Magic words: The Sourcebook of Hypnosis Patter & Scripts & How to Overcome Hypnotic Difficulties. Tulsa: PeachTree Professional Education

O'Hanlon, Bill. 2009. A guide to trance land. New York: Norton

Ramey, James. 1996. The Ultra Depth. 120 mins.

Ramey, James. 2005. Ultra Deep Relaxation. 120 mins.

Silver, Tom. 2009. Scientific & Clinical Hypnotherapy workbook. Camarillo: TSI

Silvester, Trevor. 2003. Wordweaving Vol. 1 : The Science Of Suggestion. Cambs: The Quest Institute

Webb, Kerin. 2008. The Language pattern bible: Indirect Hypnotherapy Patterns of Influence. Glendale: Best Buddy Books

Wise, Anna. 2009. The Awakened Mind workbook. Berkeley: AWS

Baca Selengkapnya
Tampilan : Thumbnail List