The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
Satu artikel menarik dipublikasi di situs BBC* menyatakan bahwa perilaku bisa diturunkan melalui sebuah bentuk ingatan genetis dari pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya. Percobaan ini menunjukan bahwa sebuah pengalaman traumatis dapat mempengaruhi DNA pada sperma dan mengubah otak dan perilaku generasi berikutnya. Riset yang dilakukan Nature Neuroscience melakukan uji coba kepada tikus yang dikondisikan untuk takut kepada bau yang mirip bunga sakura.Tikus yang kemudian menghindari bau itu ternyata menurunkan perilakunya tersebut kepada cucu-cucunya.
Artikel yang sama menyatakan bahwa pengalaman orangtua, bahkan yang terjadi sebelum kehamilan, ternyata mempengaruhi struktur dan fungsi dalam sistem saraf generasi berikutnya," laporan itu menyimpulkan.
Temuan ini memberikan bukti adanya "warisan epigenetik transgenerasi" - bahwa lingkungan dapat mempengaruhi genetika individu, yang nantinya dapat diwariskan ke anak-anaknya.
Ini tentu satu informasi sangat menarik dan perlu kita perhatikan. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan, dari sudut ilmu pikiran, apakah mungkin kecemasan diturunkan ke anak. Jawaban singkat, “Bisa.”
Bila memang benar bisa, bagaimana prosesnya?
Kecemasan adalah satu bentuk emosi, sama halnya dengan takut, ngeri, sedih, marah, dan emosi lainnya. Emosi muncul sebagai akibat dari suatu sebab yang spesifik.
Data klinis dan empiris membantu puluhan ribuan klien yang kami lakukan menunjukkan temuan yang konsisten yaitu kecemasan dan berbagai emosi lainnya yang dialami orang tua, terutama pengasuh utama, dapat diturunkan kepada anak.
Untuk memahami mekanisme di balik “penularan” suatu emosi dari orangtua ke anak kita perlu mengerti bagaimana suatu data masuk ke pikiran bawah sadar.
Ada lima cara data masuk ke pikiran bawah sadar. Data hanya bisa masuk bila faktor kritis atau critical factor dari pikiran sadar berhasil ditembus. Faktor kritis berfungsi sebagai penjaga gerbang penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Cara pertama, melalui informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang sebagai figur otoritas. Kedua, melalui ide dengan muatan emosi yang tinggi. Ketiga, melalui repetisi atau pengulangan. Keempat, melalui identifikasi kelompok atau keluarga. Dan kelima, melalui kondisi pikiran yang rileks atau tenang.
Anak lahir hanya dengan dua rasa takut yaitu takut suara keras dan takut jatuh (tempat yang tinggi). Takut-takut lainnya adalah takut yang dipelajari atau ditanamkan ke dalam diri anak, baik secara sengaja maupun tidak, oleh lingkungannya.
Saat masih kecil, pikiran anak sangat peka, dan berfungsi sebagai spons yang mampu menyerap berbagai pengalaman hidup melalui interaksi dengan lingkungan terutama dengan pengasuh utama. Anak belajar tidak hanya dengan melihat dan mendengar namun juga meniru.
Saya beri contoh fobia kecoa. Saat lahir anak belum punya data mengenai kecoa. Bila jumpa kecoa yang ia lakukan adalah ia akan menangkap kecoa ini, mengamatinya, dan bahkan mungkin akan memasukkannya ke mulut.
Dalam memori anak belum ada data bahwa kecoa adalah serangga yang menjijikkan, menakutkan, mengerikan, kotor, sumber penyakit, harus dihindari, atau kalau perlu dibunuh.
Dari mana anak tahu bahwa kecoa adalah serangga yang menjijikkan?
Semua bermula dari sensitisasi yang ia alami. Misal anak sedang bermain dan tiba-tiba ia melihat kecoa. Tentu kecoa ini menjadi objek yang menarik untuk “dipelajari”. Anak mendekat dan berusaha memegang atau menangkap kecoa.
Melihat ini, ibunya dengan nada keras dan cemas atau jijik akan berkata, “Awas, jangan dipegang. Itu kotor.”
Biasanya si ibu tidak hanya berhenti sampai di sini. Ia akan mengusir atau memukul kecoa hingga mati. Belum lagi mimik wajah dan suaranya yang menunjukkan perasaan jijik atau cemas. Semua ini ditangkap oleh pikiran anak dan masuk ke dalam memorinya.
Sejak kejadian ini anak belajar dan mulai tahu bahwa kecoa adalah serangga yang kotor, menjijikkan, dan harus dihindari. Ini adalah kejadian paling awal yang nantinya akan membuat anak menjadi jijik dengan kecoa. Dalam hipnoterapi kejadian awal ini disebut initial sensitizing event (ISE).
Apakah setelah ini anak akan langsung takut atau jijik dengan kecoa? Biasanya masih belum.
Setelah kejadian ini anak akan lupa mengenai kecoa. Namun data awal ini sudah ada di pikiran bawah sadarnya. Beberapa waktu kemudian misalnya ibunya buka lemari dan berteriak kaget karena ada kecoa.
Anak yang ada di dekat ibunya akan melihat, mendengar, serta menyerap semua kejadian ini dan masuk ke pikiran bawah sadarnya. Bila misalnya si ibu sampai panik maka anak akan menangkap pesan yang sangat kuat bahwa kecoa sungguh berbahaya dan sangat mengganggu.
Pengalaman ini, yang merupakan kejadian lanjutan atau subsequent sensitizing event (SSE) akan memperkuat pengalaman awal (ISE) yang sudah ada di pikiran bawah sadar.
Bila anak berulang kali mengalami sensitisasi yang serupa maka cepat atau lambat ia akan takut atau jijik dengan kecoa walau ia sama sekali tidak punya pengalaman langsung dengan kecoa. Kecemasan yang anak alami merupakan hasil transfer dari kecemasan ibunya.
Yang terjadi sebenarnya suatu perasaan cemas atau jijik atau emosi apapun bukannya diturunkan namun lebih tepatnya anak “diprogram” untuk menjadi cemas, jijik, takut, atau mengalami emosi tertentu terhadap suatu objek atau situasi.
Ada orangtua yang sangat pencemas. Orangtua ini merasa dunia bukanlah tempat yang aman. Perasaan tidak aman ini tercermin dari gerak dan bahasa tubuh, ekspresi wajah, kosakata yang digunakan saat berkomunikasi baik dengan orang di sekitarnya maupun dengan anak, tekanan suara, dan emosi yang ia tampilkan dalam perilaku.
Sekarang mari kita amati kemungkinan yang terjadi pada diri anak bila punya orangtua pencemas mengikuti pemahaman cara kerja pikiran.
Orangtua adalah figur otoritas. Dan apa yang ia katakan pasti akan masuk ke pikiran bawah sadar anak dengan pasti dan mudah. Emosi yang dialami oleh orangtua, perasaan cemas atau takut juga memengaruhi anak. Ia sering-sering menunjukkan perasaan takut dan cemas dan ini juga terus diamati dan diserap oleh anak. Anak yang masih kecil meniru orangtua melalui proses identifikasi. Dan saat masih kecil secara alamiah faktor kritis masih lemah sehingga data apa saja dapat masuk dengan sangat mudah ke pikiran bawah sadar anak. Bila ini terus terjadi, cepat atau lambat, anak pasti “ketularan” perasaan cemas, takut, atau emosi apapun yang dialami orangtuanya.
Seorang kawan saya, sebut saja Ibu Ani, usia sekitar lima puluh tahun, punya kebiasaan yang unik. Bila misalnya ia sedang berada di tempat terbuka dan tiba-tiba turun hujan, tidak usah hujan deras, hujan gerimis saja, maka ia akan langsung panik dan dengan cepat mencari apa saja untuk menutupi kepalanya.
Saat saya tanya mengapa panik ia berkata, “Supaya tidak sakit.” Saya merasa penasaran dengan jawaban ini dan bertanya lagi, “Lho kok bisa kalau kepala kena air hujan bisa sakit?” Ia menjawab, “Sebab waktu kecil mama saya selalu mengatakan hal ini. Dan setiap kali saya kehujanan sedikit saja, khususnya bila rambut saya basah kena air hujan maka saya pasti langsung flu dan pilek.”
Kembali saya bertanya, “Kalau mandi keramas, rambut dan seluruh tubuh Anda basah, Anda sakit nggak?” Dengan tersenyum ia menjawab, “Oh kalau ini tidak.”
Di sini jelas bahwa perasaan cemasnya adalah hasil instalasi atau pemrograman yang dilakukan ibunya.
*www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131202_kesehatan_ingatan.shtml
Perilaku bisa diturunkan melalui sebuah bentuk ingatan genetis dari pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya, demikian hasil sebuah penelitian terhadap binatang.
Percobaan ini menunjukan bahwa sebuah pengalaman traumatis dapat mempengaruhi DNA pada sperma dan mengubah otak dan perilaku generasi berikutnya.
Riset yang dilakukan Nature Neuroscience melakukan uji coba kepada tikus yang dikondisikan untuk takut kepada bau yang mirip bunga sakura.
Tikus yang kemudian menghindari bau itu ternyata menurunkan perilakunya tersebut kepada cucu-cucunya.
Sebuah tim dari Emory University School of Medicine, di Amerika Serikat, lalu melihat apa yang terjadi di dalam sperma tikus tersebut.
Mereka mengatakan ada sebuah bagian di DNA yang bertanggung jawab atas perilaku sensitif terhadap bau, dan ini lebih aktif bekerja dalam sperma tersebut.
Anak dan cucu tikus terbukti "sangat sensitif" terhadap sakura dan akan menghindari bau itu, walau tidak memiliki pengalaman negatif langsung dalam hidupnya. Perubahan struktur otak juga ditemukan.
Penyakit Kecemasan
Pakar menganggap hasil riset ini sangat penting untuk menjelaskan fobia dan penyakit kecemasan pada manusia.
"Pengalaman orangtua, bahkan yang terjadi sebelum kehamilan, ternyata mempengaruhi struktur dan fungsi dalam sistem saraf generasi berikutnya," laporan itu menyimpulkan.
Temuan ini memberikan bukti adanya "warisan epigenetik transgenerasi" - bahwa lingkungan dapat mempengaruhi genetika individu, yang nantinya dapat diwariskan ke anak-anaknya.
Salah satu peneliti Dr Brian Dias mengatakan kepada BBC: "Ini mungkin salah satu mekanisme bahwa keturunan menunjukkan jejak dari nenek moyang mereka.
"Sama sekali tidak ada keraguan bahwa apa yang terjadi pada sperma dan sel telur akan mempengaruhi generasi berikutnya."
Pakar mengatakan hasil ini sangat penting bagi penelitian terhadap fobia dan penyakit kecemasan.
Prof Marcus Pembrey, dari University College London, mengatakan temuan itu "sangat relevan dengan fobia, kecemasan dan gangguan stres pasca-trauma" dan memberikan "bukti kuat" bahwa bentuk ingatan bisa diturunkan antara generasi."
(Sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131202_kesehatan_ingatan.shtml)
Catatan AWG:
Pengalaman klinis dan empiris kami membantu klien membuktikan bahwa apa yang terjadi pada anak semasa dalam kandungan berpengaruh signifikan baik terdapat kondisi mental, emosi, perilaku, dan juga fisiknya setelah lahir dan tumbuh kembang menjadi manusia dewasa.
Dalam kondisi fisik sehat, seringkali muncul gejala yang bikin tubuh tidak nyaman. Misalnya kaki yang terasa sakit, kepala terasa pusing, atau mual. Berbagai gejala ini semakin membuat tubuh tak nyaman jika penyebabnya tak diketahui.
Bila kondisi ini terjadi pada Anda, bisa jadi Anda sedang mengalami kondisi psikosomatis, yaitu gangguan pada tubuh akibat kondisi psikologi. Jika sebelumnya sudah ada penyakit dan diperparah gangguan emosi, maka keadaan itu disebut penyakit psikosomatis.
"Sekitar 90 persen penyakit disebabkan faktor psikogenik, bukan organik. Jadi bisa dikatakan, kondisi psikis mendominasi keadaan tubuh," kata pakar mind technology, Adi W Gunawan mengutip dari The American Academy of Family Physicians. Hal ini disampaikannya pada media workshop bertajuk, Menavigasi Pikiran dengan Hipnoterapi Klinis, di Jakarta, Rabu (13/11/13).
Sedikitnya ada 15 emosi penyebab psikosomatis antara lain memori sakit, konflik diri, menghukum diri, masa lalu atau masa kini yang tidak terselesaikan, harga diri yang mengalami trauma, dan empat jenis emosi negatif.
Yang termasuk emosi negatif di antaranya rasa malu, bersalah, marah, dan takut. Rasa marah meliputi jengkel, benci, dendam, frustasi, sakit hati, dan tersinggung. Rasa malu, menurut Adi, adalah emosi destruktif penyebab penyakit psikosomatis paling besar. Malu juga bisa menyulut tiga emosi lainnya.
Lantas, bagaimana emosi bisa menyebabkan psikosomatis ?
"Emosi bisa diumpamakan api dari berbagai pengalaman, yang membakar tungku penuh air. Seharusnya uap air hasil pemanasan bisa keluar. Namun hal ini tidak terjadi pada tungku yang ditutup," kata Adi.
Adi menjelaskan perumpamaan ini. Pada tungku yang ditutup, uap air tidak bisa keluar sempurna. Akibatnya uap tertahan dan bisa mengakibatkan tungku pecah karena terlalu panas. Hal yang sama terjadi pada emosi yang terus ditahan dan tidak bisa dilepas. Kondisi ini tentu berbahaya karena bisa mengakibatkan penderitanya bunuh diri.
"Adanya gejala psikosomatis sebetulnya lebih baik dibanding bila tidak ada gejala apa pun. Dengan adanya gejala, maka penyakit lebih cepat diketahui dan hipnoterapi bisa segera dilakukan," kata Adi.
Hipnoterapi memungkinkan terapis menggali pengalaman masa lalunya untuk mengetahui penyebab psikosomatis. Kendati begitu, penyembuhan psikosomatis tidak semata bergantung pada terapis. Penyelesaian ini membutuhkan kerjasama dan kemauan klien, terutama untuk mengizinkan terapis membuka masa lalunya dalam keadaan rileks sangat dalam yang disebut somnambulis. Klien harus menuntun teknisi ke masa saat gejala psikosomatis terjadi. Selanjutnya klien akan mendengarkan arahan teknisi, untuk menyelesaikan apa yang terjadi sebelum gejala psikosomatis muncul.
Menurut Adi, hipnoterapi memiliki persentase kesembuhan tertinggi dibanding psikoanalisa dan terapi perilaku. Hipnoterapi memiliki persentase kesembuhan 93 persen setelah enam sesi terapi. Angka ini lebih tinggi dibanding psikoanalisa sebesar 38 persen dari 600 sesi terapi, dan terapi perilaku sebesar 72 persen dari 22 sesi terapi.
Kendati begitu Adi mengingatkan, hipnoterapi adalah terapi komplemen atau pelengkap. Terapi utama tetaplah medis yang hanya bisa dilakukan dokter, melalui pemeriksaan dan pemberian resep obat. Hipnoterapi adalah terapi penunjang sehingga kesembuhan pasien tercapai sepenuhnya.
(sumber: http://health.kompas.com/read/2013/11/14/0858559/Hipnoterapi.Bantu.Sembuhkan.Psikosomatis)
Ada rekan yang bertanya pada saya, "Pak Adi, saya ada baca tulisan seseorang yang mengatakan bahwa hipnosis/hipnoterapi ini adalah semacam sulap tanpa trik alias bohong, bukan science tapi science fiction, dan banyak pernyataan lain yang menjelekkan hipnosis/hipnoterapi. Bagaimana tanggapan Bapak?"
"Ah.. biasa aja," jawab saya.
"Lho, bapak tidak marah atau tersinggung?" tanya rekan ini lagi.
"Nggak," jawab saya.
"Pernyataannya juga menyebut nama bapak dan beberapa nama trainer dan praktisi hipnosis/hipnoterapi di Indonesia. Kalau bapak tidak marah atau tersinggung, bisa jelaskan alasannya?" kejar rekan ini dengan penasaran.
Pemahaman masyarakat mengenai hipnosis/hipnoterapi tentunya sangat beragam bergantung dari data atau informasi yang ia miliki.
Sudah tentu kita perlu memaklumi bila ada orang yang bersikeras mengatakan hipnosis/hipnoterapi ini bohong, tidak benar, hanya tipuan belaka, tidak ilmiah, dsb. Semua ini menjelaskan pemahaman orang yang membuat pernyataan.
Saya ingat dulu waktu di awal karir saya sebagai hipnoterapis dan trainer, saya banyak mendapat pertanyaan, "Apa hipnosis/hipnoterapi menggunakan kuasa gelap atau magic?"
Saat ini sudah sangat jarang saya jumpai masyarakat yang mengajukan pertanyaan ini. Setiap hari saya menangani klien dengan beragam masalah. Dan klien-klien ini sudah punya pemahaman yang memadai mengenai hipnosis/hipnoterapi.
Ini semua berkat edukasi yang terus dilakukan oleh para trainer, praktisi, dan pemerhati hipnosis/hipnoterapi baik melalui pelatihan, artikel di blog/web, siaran radio atau televisi, buku, dll.
Memahami hipnosis/hipnoterapi secara benar tentu perlu waktu. Sumber informasi yang dijadikan acuan juga harus benar-benar valid. Banyak yang "tahu" hipnosis/hipnoterapi hanya melalui televisi yang menunjukkan stage hypnosis atau hipnosis untuk hiburan. Dari sini, orang yang salah belajar ini, melakukan generalisasi dan haqul yaqin itulah hipnosis/hipnoterapi.
Ada lagi yang "belajar" hanya dari membaca majalah atau koran, atau mendengar dari rekannya yang juga tidak mengerti hipnosis/hipnoterapi.
Ada lagi yang belajar dari buku-buku. Dan yang "keren" adalah yang belajar dari Google. Saking hebatnya "menguasai" hipnosis/hipnoterapi melalui Google, ia mendapat gelar khusus, yang membuat iri para trainer hipnoterapi top di Indonesia karena tidak punya gelar ini, yaitu G.CHt alias Google Certified Hypnotherapist... :)).
Sumber informasi paling akurat adalah jurnal yang berisi hasil riset di bidang hipnosis/hipnoterapi. Beberapa jurnal yang dijadikan acuan belajar antara lain:
Selain jurnal, kita juga bisa menggunakan text book terbitan universitas ternama sebagai acuan kita.
Hipnosis/hipnoterapi telah diterima dan diakui oleh British Medical Association thn 1955, American Medical Association thn 1958, dan oleh American Psychological Association (APA) di thn 1960. Hipnosis untuk aplikasi klinis adalah divisi ke 30, dari total 56 divisi yang ada di APA saat ini.
Jadi, daripada berdebat dengan orang yang belum mengerti, menghabiskan waktu dan energi, saya lebih memilih fokus menulis artikel, melakukan riset, dan membantu klien mengatasi masalah mereka.
Saya juga ingat beberapa tahun lalu seorang sahabat karib saya menelpon saya dan berkata, "Pak Adi, Anda jangan sembarangan mengajarkan ilmu sesat. Ini bertentangan dengan agama. Segeralah kembali ke jalan yang benar."
"Lho, saya ini sudah kembali ke jalan yang benar. Itu sebabnya saya menulis buku hipnosis, hipnoterapi, dan memberi pelatihan hipnoterapi. Dulu saya tersesat karena berpikir dan yakin hipnosis/hinoterapi adalah ilmu sesat," jawab saya.
Sahabat ini rupanya mendengar saya mempraktikkan hipnoterapi dan juga menulis buku. Jadi ia bermaksud baik ingin "menyelamatkan" saya agar bisa kembali ke jalan yang benar.
"Saya ini praktisi dan juga penulis buku. Tentu saya sangat menguasai materi ini. Bila ingin diskusi dengan saya mengenai topik hipnosis/hipnoterapi, minimal Anda punya pengetahuan yang cukup. Apakah Anda sudah baca buku saya?" tanya saya.
"Belum," jawab sahabat ini.
Saya katakan, "Ini saya beri 20 judul buku terbitan luar negeri dan juga jurnal hipnosis/hipnoterapi. Anda beli dan baca semuanya. Pahami dengan benar isinya, baru setelah itu kita jumpa untuk diskusi."
Sekarang sahabat ini berhasil saya sesatkan ke jalan yang benar. Ia kini adalah penggemar hipnosis/hipnoterapi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia pikiran.
Beberapa hari lalu, rekan sejawat saya Ibu Ratih Mestikawati CCH., mengunjungi AWG Institute. Beliau tinggal di Malang, kebetulan ada acara di Surabaya dan menyempatkan diri bertemu saya untuk mendiskusikan beberapa hal.
Salah satu topik yang disampaikan pada saya adalah mengenai pengalaman Beliau menangani beberapa kasus klien anak. Saya menyimak dengan penuh antusias penjelasan Ibu Ratih karena memang sangat menarik. Atas ijin Beliau saya meringkas diskusi kami dan menuliskannya menjadi artikel ini agar dapat menjadi pembelajaran bersama, khususnya para orangtua.
Kasus pertama adalah anak laki usia 4 tahun, sebut saja sebagai Didik, yang kalau makan sukanya mengemut makanan. Didik makannya lama sekali karena makanan tidak dikunyah tapi disimpan di dalam mulut untuk waktu yang lama. Bila ini berlangsung terus menerus pasti akan memengaruhi kesehatan giginya.
Semula kedua orangtua Didik ingin terapis langsung menerapi si anak. Permintaan ini tidak dikabulkan karena dari pengalaman selama ini masalah anak selalu bersumber pada orangtua atau pengasuh utama.
Kedua orangtua diminta hadir jumpa terapis untuk sesi wawancara dan konseling. Dalam sesi ini terapis menggali informasi mengenai pola asuh di rumah, siapa pengasuh utama si anak, interaksi anak dan orangtua, serta komunikasi. Dari sini akhirnya diketahui penyebab Didik suka mengemut makanan.
Si ayah kerja di luar kota dan sering menelpon ke rumah. Setiap kali menelpon ke rumah selalu mengajak bicara si anak. Ayah selalu berpesan kepada Didik, “Mas… kalau makan jangan diemut ya.” Pesan ini yang selalu disampaikan ayah kepada Didik.
Selain ayah, ibu setiap kali menyuap Didik selalu didahului dengan pesan, “Mas… kalau makan jangan diemut.” Ini juga terjadi berkali-kali.
Yang terjadi adalah Didik kalau makan sukanya diemut, lama sekali. Mengetahui hal ini terapis meminta kedua orangtua Didik mengubah semantik yang digunakan saat berkomunikasi dengan anaknya.
Kebiasaan mengemut makanan yang Didik lakukan terjadi karena dua hal. Pertama, kedua orangtuanya, sadar atau tidak, telah memberi sugesti kepada Didik untuk mengemut makanan.
Lha, kok bisa?
Anak usia 4 tahun dominan beroperasi di level pikiran bawah sadar. Dalam dunia hipnoterapi dikenal istilah pharsing yaitu kecenderungan pikiran bawah sadar untuk menolak kata yang bersifat negasi seperti “tidak” atau “jangan”. Jadi, saat Didik mendengar kata “jangan diemut” maka pikiran bawah sadarnya menegasi kata “jangan” sehingga yang diterima dan dijalankan hanyalah “diemut”. Dan memang inilah yang terjadi.
Kedua, Didik sama sekali tidak punya data bahwa kalau makan perlu dikunyah lalu ditelan. Terapis menyarankan ibu Didik mensugestikan, “Mas… kalau makan… setelah makanan masuk ke dalam mulut, makanannya dikunyah. Kalau sudah halus.. makanannya ditelan masuk ke dalam perut.”
Selang beberapa hari kemudian ibu Didik menghubungi terapis dan mengatakan bahwa Didik sudah berubah, kalau makan tidak ladi diemut, makanan langsung dikunyah dan ditelan seperti yang diinginkan orangtua.
Kasus kedua mengenai anak laki usia 3 tahun, Aan, yang pipis sembarangan. Saat ingin pipis, Aan langsung saja melakukannya tanpa peduli tempat. Aan bisa pipis di teras, di tembok, di tengah ruangan, atau di mana saja. Terapis bertanya pada ayah Aan, “Pak, kalau Aan kencing sembarangan, apa yang bapak katakan padanya?”
“Jangan pipis di situ,” jawab si ayah.
“Apakah Aan nurut sama perintah bapak?” kejar terapis.
“Ya, Aan nurut,” jawab si ayah lagi.
“Lain kali, kalau Aan pipis sembarangan lagi, apa yang bapak katakan?” tanya terapis.
“Jangan pipis di situ,” jawab si ayah.
Di sini tampak bahwa si ayah hanya bisa melarang tapi tidak pernah mengajari anaknya secara benar. Saat dijelaskan mengenai hal ini, si ayah berkata, “Lha, masa begini saja tidak tahu. Kalau pipis ya ke kamar kecil.”
Lho, ini anak kecil 3 tahun tentu tidak punya pengetahuan bahwa pipis tidak boleh sembarangan. Terapis menjelaskan mengenai pentingnya orangtua tidak hanya melarang tapi juga memberi solusi. Bila anak selalu dilarang pipis di teras maka ia akan pindah ke tempat lain, misalnya kamar. Kalau dilarang pipis di kamar, anak pindah ke pagar. Kalau dilarang pipis di pagar maka anak akan pindah ke tembok.
Yang benar adalah orangtua memberi arahan dan bimbingan, “Nak, jangan pipis sembarangan. Kalau pipis harus di dalam kamar kecil. Sini papa antar ya.”
Kasus ketiga mengenai seorang ibu yang mengeluh ketiga anaknya, SD kelas 6,4, dan 3, yang sering terlambat bangun (bangun siang), kamar berantakan tidak pernah dirapikan, buku sekolah sering ketinggalan, tidak belajar dan PR sering tidak dikerjakan.
Seperti biasa, untuk kasus anak, orangtua diminta datang jumpa terapis. Dari sesi wawancara diketahui bahwa di rumah tidak ada pembantu dan si ibu adalah pengasuh utama ketiga anaknya.
Kali ini terapis meminta si ibu pulang dan melakukan satu tugas khusus. Apa itu? Si ibu harus mencatat apa saja yang ia katakan pada anak-anaknya mulai pagi hari sampai malam saat menjelang tidur.
Beberapa hari kemudian si ibu datang lagi menghadap terapis dan menyerahkan tugasnya. Saat membaca apa yang ia tulis, terapis tersenyum lebar. Apa pasal?
Ternyata si ibu menulis “Kalian ini memang suka telatan”, “Bangun jangan siang-siang”, “Kamar kok selalu berantakan, “ Buku mesti ketinggalan”, “Mesti sukanya nonton tv”, “Tidak pernah belajar”, “PR tidak dibuat”.
Terapis mengajari si ibu untuk mengubah kata-kata yang digunakan dalam komunikasi dengan anak. Si ibu diminta mengubah semua kalimat negatif ini menjadi kalimat positif. Katakan apa yang Anda inginkan terjadi, bukan yang tidak anda inginkan.
Misalnya “Bangun jangan siang-siang” diganti dengan “Bangun pagi jam 06.00”. Kalimat “Kamar kok selalu berantakan” diganti menjadi “Rapikan kamar kalian”. “Buku mesti ketinggalan” menjadi “Ingat bawa buku”. “Tidak pernah belajar” diganti menjadi “Suka belajar”, “PR tidak dibuat” menjadi “Suka buat PR”.
Hanya dalam waktu empat hari si ibu menghubungi terapis dan mengabarkan bahwa anak-anaknya berubah total. Namun ia mengeluh bahwa sulit untuk bisa terus menggunakan kalimat positif. Ia ingin kembali ke kebiasaan lamanya.
Terapis mengatakan bahwa ini adalah pilihannya. Kalau kembali menggunakan kalimat negatif maka anak-anaknya akan kembali seperti dulu.
Kasus keempat mengenai seorang ibu yang mengeluh anaknya, Budi, tidak berani masuk sendiri ke dalam kelas. Anak ibu ini baru masuk TK. Setiap hari Budi minta diantar ibunya. Saat sudah di depan kelas Budi menarik-narik baju ibunya dan minta ditemani.
Terapis bertanya, “Kalau Budi menarik baju ibu dan minta ditemani di dalam kelas, apa yang ibu katakan?”
Saya bilang, “Aduh Bud… kamu kok penakut sih. Nempel terus sama mama kayak perangko.”
Sama seperti kasus anak pipis sembarangan di atas. Orangtua seringkali berpikir anak harusnya mengerti kalau masuk kelas ya masuk sendiri, tidak perlu ditemani.
Hanya dalam waktu tiga hari masalah Budi dengan mudah diselesaikan. Terapis meminta si ibu berhenti berkata “Aduh Bud… kamu kok penakut sih. Nempel terus sama mama kayak perangko” dan menggantikannya dengan “Budi anak pintar dan berani. Sana masuk ke dalam kelas sendirian dan duduk seperti teman-teman lainnya ya.”
Pembaca, contoh kasus di atas menunjukkan betapa pentingnya semantik yang digunakan orangtua dalam berkomunikasi dengan anak. Semantik yang kita gunakan berlaku sebagai sugesti bagi anak. Saat masih kecil faktor kritis pikiran sadar masih sangat lemah atau baru terbentuk. Dengan demikian, apapun yang kita katakan pada anak, tidak dapat disaring, dan pasti langsung masuk ke pikiran bawah sadarnya, serta dilaksanakan dengan patuh.
Jadi, cerdas dan bijaklah dalam memilih kata agar anak menuruti apa yang kita ingin ia turuti, bukan apa yang kita tidak ingin ia turuti.
Ada calon peserta kelas hipnoterapi (SECH) yang bertanya, "Pak Adi, saya lihat di materi pelatihan yang Bapak ajarkan di kelas SECH tidak ada materi Ericksonian Hypnosis. Ini memang tidak ada di kelas 100 jam ya? Kalau di kelas advanced apa diajarkan?"
"Saya tidak mengajarkan Ericksonian Hypnosis baik di kelas 100 jam dan di kelas SECH Advanced," jawab saya.
"Apakah Pak Adi menguasai Ericksonian Hypnosis?," tanyanya lagi.
Saya sudah beberapa kali mendapat pertanyaan ini. Secara formal, saya belum pernah belajar Ericksonian Hypnosis baik di Milton H. Erickson Foundation atau dengan salah satu muridnya seperti Stephen Gilligan, Ernest Rossi, Bill O'Hanlon, atau yang lain.
Walau demikian saya sangat tertarik memelajari dan mendalami teknik para pakar hipnoterapi, siapa saja, yang telah terbukti secara klinis dan empiris mampu membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi dan perilaku. Saya tidak fanatik pada satu atau dua pakar dan membuka diri untuk belajar teknik siapa saja. Syaratnya hanya satu, teknik ini harus telah terbukti secara klinis efektif dan efisien.
Saya punya pemikiran dan strategi yang agak berbeda saat mendalami teknik Milton Erickson. Saya tidak bisa hanya sekedar belajar tekniknya. Sebagai orang yang sangat logis dan kritis saya perlu memahami secara mendalam dasar teori dan pemikiran di balik setiap teknik yang digunakan oleh Milton Erickson. Dan satu-satunya cara adalah dengan membaca sebanyak mungkin artikel atau buku yang Beliau tulis.
Saya membeli semua artikel/paper yang ditulis oleh Milton Erickson, yang bisa saya dapatkan, baik yang diterbitkan (published) dalam bentuk buku/jurnal maupun yang tidak diterbitkan (unpublished) dan juga beberapa videonya di Milton H. Erickson Foundation dan beberapa toko buku di Amerika. Saya dapatkan dalam dua format, buku dan digital. Total ada sekitar 6.000 halaman. Dari sini barulah saya bisa lebih memahami pemikiran Milton Erickson.
Format digital menyediakan fasilitas “search” sehingga hanya dengan mengetikkan satu kata atau kalimat maka program ini akan mencari di semua artikel yang ada yang mengandung kata yang saya ketik. Dengan demikian saya tidak perlu susah payah membaca semua artikel untuk menemukan hal yang ingin saya baca atau ketahui.
Saya juga membaca berbagai buku yang ditulis oleh para murid Erickson untuk bisa mendapat pemahaman lebih mendalam aplikasi dan varian teknik yang mereka gunakan di ruang terapi, yang berasal dari Erickson.
Pemahaman dan pengetahuan yang saya dapatkan dari berbagai sumber ini, mengenai pemikiran dan teknik Erickson, sangat memperkaya wawasan dan pengetahuan saya, dan saya integrasikan ke dalam teori dan protokol terapi yang saya kembangkan.
Satu contoh tentang induksi. Erickson sering menangani klien yang sulit, klien yang tidak bersedia dihipnosis, atau secara pikiran bawah sadar menunjukkan kesediaan untuk dihipnosis namun pikiran sadar menolak atau skeptis. Induksi yang Erickson gunakan memang sangat dahsyat. Lama waktu yang digunakan juga berbeda. Ada yang 40 menit, dan bahkan ada yang sampai 4 jam.
Di sisi lain, saat saya mendalami teknik induksi Erickson, saya mengalami kesulitan untuk bisa menghasilkan efek yang sama dengan yang Erickson capai. Erikson sangat lihay dan kreatif menggunakan berbagai cara sehingga dapat menembus faktor kritis pikiran sadar kliennya. Kesulitan saya, setelah saya renungkan, lebih disebabkan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman saya saat itu.
Dalam konteks klinis, saya menyimpulkan harusnya ada cara yang lebih mudah dan pasti untuk membimbing klien masuk ke kondisi trance yang (sangat) dalam. Dari sini saya mengembangkan teknik induksi khusus, EAI, menggabungkan pendekatan psiko-somatis dan somato-psikis. Dari hasil praktik hingga saat ini teknik induksi EAI terbukti secara klinis dan empiris sangat efektif dan efisien membawa subjek, tanpa memandang tipe sugestibilitas, masuk ke kondisi deep trance atau lebih dalam lagi dengan tingkat keberhasilan berkisar antara 97% - 99,5%. Dan satu hal lagi, teknik induksi EAI sangat mudah dipelajari dan diduplikasi tanpa harus bingung dengan semantik yang digunakan. Semua alumnus pelatihan SECH (Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy) hanya dengan membaca skrip saja dijamin pasti mampu membawa klien masuk deep trance.
Perjalanan karir sebagai hipnoterapis klinis, yang sempat jatuh bangun di tiga tahun pertama, memberikan saya pemahaman dan strategi untuk bisa membuat proses terapi menjadi lebih mudah dan menyenangkan, baik untuk klien maupun saya sebagai terapis, dengan mengembangkan protokol terapi yang saya beri nama Quantum Hypnotherapeutic Protocol (QHP). Berhubung saya tidak bisa menghipnosis orang yang tidak mau dihipnosis, seperti yang bisa dilakukan oleh Milton Erickson, maka saya membuat syarat dan kriteria klien yang bisa dan bersedia saya tangani.
Saya melakukan penyaringan melalui wawancara awal, biasanya melalui telpon, alasan klien minta diterapi, apakah atas keinginan sendiri ataukah atas permintaan, dorongan, rayuan, atau paksaan pihak lain. Saya hanya menerima klien yang datang atas kemauannya sendiri.
Selanjutnya klien perlu jelas mengenai masalah yang ia ingin dibantu untuk diselesaikan atau diatasi. Hal ini akan tampak saat wawancara pertama, melalui telpon, juga saat mengisi intake form dan wawancara di dalam ruang terapi. Bila klien tidak jelas tujuannya maka terapi tidak saya lakukan.
Bila klien berhasil melewati saringan awal ini maka sudah jelas ia ingin saya terapi untuk mengatasi masalahnya. Jadi, dalam hal ini, saya tidak akan pernah jumpa klien yang tidak bersedia dihipnosis. Mereka pasti bersedia dihipnosis karena ingin sembuh. Kalaupun mereka dengan sengaja tidak bersedia dihipnosis maka yang rugi adalah diri mereka sendiri. Mereka akan jumpa saya lagi di sesi berikutnya. Dan untuk setiap sesi mereka perlu membayar profesional fee saya. Ini tentu menjadi satu pertimbangan serius bagi klien yang mungkin hanya ingin coba-coba atau tidak serius.
Saat klien bersedia dihipnosis maka urusan selanjutnya menjadi sangat mudah. Saya tinggal menggunakan teknik induksi EAI yang saya kembangkan, dan dengan cepat, mudah, dan pasti klien masuk ke kondisi minimal profound somnambulism (deep trance).
Membawa klien masuk kondisi deep trance adalah satu hal. Apa yang dilakukan setelah ini adalah hal lain. Di sinilah saya menggunakan teknik intervensi klinis yang berbeda dengan Milton Erickson.
Pendekatan dan teknik terapi yang saya gunakan lebih banyak dipengaruhi oleh teknik yang saya pelajari dari Gil Boyne, Dave Elman, Charles Tebbetts, dan terakhir adalah Randal Churcill. Saya sangat nyaman, pas, dan mantap menggunakan pendekatan mereka sehingga tidak menggunakan cara Erickson dalam menangani klien. Hal ini tidak berarti pendekatan atau teknik pakar lainnya tidak efektif.
Selain itu, di berbagai literatur yang saya baca, Milton Erickson tidak membahas secara mendalam mengenai regresi, abreaksi, Ego Personality, dan beberapa teknik lain yang biasa saya gunakan, seperti yang dibahas oleh pakar lain yang saya sebutkan di atas.
Terlepas dari ini semua, saya sangat menikmati tulisan dan pemikiran Milton Erickson. Di salah satu kesempatan saya mendengar bahwa Milton Erickson pernah menangani pasangan suami istri, keduanya enuresis. Yang Erickson lakukan, saat pertama kali saya mendengar caranya, sungguh tidak masuk akal.
Apa yang ia lakukan? Ia meminta baik suami dan istri untuk selama dua minggu ke depan, setiap malam sebelum tidur, dengan sengaja dan bersama-sama, jongkok dan buang air kecil di atas ranjang mereka. Setelah itu mereka diharuskan tidur di atas matras yang basah. Bila sampai dua minggu mereka masih tetap belum sembuh maka proses terapi ini dilanjutkan ke fase berikutnya di mana mereka diharuskan melakukan hal yang sama selama tiga minggu berturut-turut. Ternyata menjelang dua minggu mereka tidak lagi enuresis. Mereka bangun pagi dengan ranjang yang kering. Mereka sembuh.
Saya tentunya sangat penasaran dengan hal ini. Ada tiga pertanyaan besar dalam pikiran saya. Pertama, apa alasannya sehingga Erickson memilih strategi ini? Kedua, bagaimana caranya sehingga ia bisa membuat kedua klien ini bersedia melakukan teknik yang sungguh tidak masuk akal ini? Ketiga, mengapa klien bisa sembuh?
Barulah setelah membaca uraiang lengkap mengenai proses terapi ini, seperti yang ditulis Erickson di bukunya dan juga di buku lain yang ditulis oleh muridnya, akhirnya saya memahami benar pemikiran Erickson, dan bagaimana ia bisa membuat kedua kliennya patuh dan bersedia menjalankan teknik yang ia ajarkan, dan sembuh. Hal ini sejalan dengan sifat dan hukum pikiran bawah sadar yang telah saya pelajari dari sumber lain. Pemahaman ini saya integrasikan ke dalam dasar teori yang saya gunakan untuk terapi.
Saya juga pernah menyaksikan video saat Erickon menghipnosis subjek dan membuat subjek ini mengalami katalepsi dan disosiasi.Erickson mengangkat lengan kanan subjek dan lengan ini berhenti, menggantung di udara, dan subjek sama sekali tidak bisa menggerakkan lengannya.
Di lain kesempatan Erickson membuat seorang subjek mengalami disosiasi sehingga sama sekali tidak bisa menggerakkan lengannya. Lengan subjek terpisah dari kontrol pikiran sadarnya dan “tertidur”.
Barulah setelah saya membaca penjelasan detil melalui sumber lain akhirnya saya mengerti apa yang terjadi. Dengan pemahaman ini, menggunakan semantik yang sedikit berbeda dengan yang Erickson gunakan, sekarang saya juga bisa melakukan hal yang sama. Cara ini saya ajarkan kepada murid saya dan mereka juga bisa melakukan hal yang sama. Ternyata sangat mudah.
Demikian pula mengenai amnesia, distorsi waktu, dan berbagai fenomena trance lainnya. Sempat ada yang bertanya pada saya, “Apakah terapis perlu membuat klien amnesia terhadap proses terapi yang dilakukan?”
Saya tidak pernah melakukan hal ini pada klien saya karena dalam protokol terapi yang saya kembangkan klien perlu tahu dan memetik pembelajaran /hikmah dari kejadian masa lalunya. Justru bila terapis melakukan amnesia, apa lagi ini sering ia lakukan, perlu ditanyakan tujuannya.
Namun pertanyaan ini sangat menggelitik rasa ingin tahu saya. Apakah boleh? Apa efeknya terhadap klien? Dalam situasi apa saja amnesia boleh dilakukan secara sengaja pada klien?
Saat membaca salah satu artikel yang menceritakan sesi tanya jawab antara Rossi dan Erickson mengenai amnesia, barulah saya mendapat jawaban yang gamblang. Ternyata Erickson tidak setuju dengan terapis melakukan amnesia pada klien. Amnesia hanya boleh dilakukan pada klien dengan kondisi khusus. Dan pemahaman ini saya jelaskan dan ajarkan kepada murid-murid saya.
Jadi, apakah saya menguasai dan mengajar Ericksonian Hypnosis? Jawaban saya, “Secara formal saya tidak pernah belajar apalagi mengajar Ericksonian Hypnosis. Secara informal, saya belajar secara mendalam pemikiran dan teknik Milton Erickson langsung dari berbagai artikel/paper dan buku yang Beliau tulis, video-video Erickson, dan juga yang ditulis oleh murid-muridnya.”
Abreaksi (abreaction) adalah kondisi di mana muatan emosi dari pikiran bawah sadar meluap atau meledak keluar dalam bentuk ucapan atau perilaku tertentu. Ada abreaksi yang sifatnya “keras” di mana luapan emosi ini keluar dengan begitu deras dan subjek menangis, berteriak, memukul, meninju, meremas, mengeram, mencakar, dan bahkan menendang. Ada juga abreaksi yang sifatnya “lunak” di mana klien hanya menangis perlahan. Walau perilaku abreaksi berbeda namun yang terjadi setelah abreaksi umumnya adalah subjek merasakan kelegaan atau plong. Ini yang disebut dengan katarsis.
“Penemuan” abreaksi sebagai teknik terapi secara tidak sengaja terjadi saat Jospeh Breuer (1842-1925), sejawat dan kolega Sigmund Freud, menangani pasien histerikal, Anna O., yang masalahnya berawal dari ketakutan hebat saat mengetahui ayahnya mengalami abses paru. Walau Breuer telah melakukan berbagai upaya dengan menggunakan hipnosis, kondisi Anna, semakin hari semakin memburuk. Ia menjadi semakin menderita akibat simtom fisik yang ia alami dan kondisi kesadaran kesadaran yang berubah-ubah.
Secara tidak sengaja, suatu hari, Breuer menginduksi Anna, dan ia dengan bebas bicara dan mengungkapkan emosi yang mengganggunya selama ini. Usai mengungkapkan emosinya Anna mengalami perasaan lega serta tidak lagi mengeluhkan kondisinya seperti sebelumnya.
Suatu sore, saat hawa sedang sangat panas, Anna merasa sangat haus, namun saat akan minum, ia tidak bisa menelan air yang sudah ada di dalam mulutnya. Selama enam minggu berikutnya ia mengatasi rasa hausnya hanya dengan makan buah, terutama melon.
Di salah satu sesi hipnosis, Anna, dengan penuh kemarahan bercerita bahwa ia melihat seorang pengasuh anak membiarkan seekor anjing minum dari gelas. Anna merasa jijik sekali. Saat itu Anna tidak protes atau menegur pengasuh ini. Usai mengeluarkan perasaannya tiba-tiba Anna minta minum dan langsung bisa minum dengan normal.
Melalui proses hipnosis yang cukup panjang akhirnya Anna berhasil mengungkap berbagai kejadian yang menjadi penyebab histeria yang ia alami dan akhirnya sembuh.
Hasil yang dicapai Breuer sangat penting dalam konteks hipnoterapi karena ia mengubah pendekatan terapi kala itu yang hanya berupaya menghilangkan simtom melalui sugesti menjadi mencari dan menemukan akar masalah.
Freud sangat terkesan dengan hasil terapi dan kerja Breuer hingga di tahun di 1895 mereka menerbitkan buku berjudul Studien über Hysterie. Dari buku inilah muncul teori yang menyatakan bahwa neurosis disebabkan oleh pengalaman traumatik (akar masalah) di masa lalu.
Mereka menyatakan, “We found at first to our greatest surprise, that the individual hysterical symptoms immediately disappeared without returning if we succeeded in thoroughly awakening the memories of the causal process with its accompanying affect, and if the patient circumstantially discussed the process in the most detailed manner and gave verbal expression to the affect.” (Kami semula sangat terkejut saat menemukan bahwa simtom histerikal yang dialami individu segera hilang, tidak kembali lagi, bila kami berhasil secara menyeluruh memunculkan kembali memori yang menjadi akar masalah beserta emosi yang menyertainya, dan bila pasien secara tidak langsung mendiskusikan kejadiannya dengan sangat detil dan mengungkap secara verbal emosi yang ia rasakan).
Namun sungguh disayangkan, Freud akhirnya meninggalkan hipnosis karena merasa bahwa kemajuan terapeutik yang berhasil dicapai melalui abreaksi sifatnya temporer. Dari berbagai literatur tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Freud melakukan abreaksi berulang untuk menguji kesimpulannya. Jadi, yang Freud lakukan adalah abreaksi tunggal yang memang secara klinis kurang optimal dalam mengatasi masalah.
Seiring waktu berjalan hipnosis/hipnoterapi mengalami perkembangan sangat pesat. Ada banyak temuan riset yang dilakukan oleh para pakar dan praktisi seperti Pierre Janet (1907), Wilhelm Reich (1949), Lowen (1975), Rolf (1978), khususnya yang berkaitan dengan abreaksi dan teknik penanganan abreaksi,
Salah satu pengguna aktif terapi abreaksi hipnotik adalah William Brown (1920). Brown menerapi ribuan kasus neurosis akibat perang dan melakukan pencatatan detil terhadap setiap kliennya. Ia menyimpulkan bahwa lepasnya emosi yang selama ini tertekan atau terpendam di pikiran bawah sadar mengakibatkan segmen kepribadian yang tadinya mengalami disosiasi kini bisa kembali terintegrasi.
Menurut Brown penting untuk melakukan abreaksi secara intensif, berkelanjutan hingga benar-benar tuntas, dan mengulangi abreaksi beberapa kali. Ia juga menyatakan, usai pelepasan emosi, penting untuk memberi dukungan dan penguatan bagi klien, serta memberi makna pada kejadian agar hilangnya simtom sifatnya permanen.
Saat perang dunia kedua, John G. Watkins (1949) menyempurnakan dan menggunakan teknik abreaksi di U.S. Army’s Welch Convalescent Hospital di Daytona Beach, Florida, untuk membantu menyembuhkan tentara yang mengalami gangguan emosi akibat perang di Italia dan Perancis. Watkins menjelaskan tekniknya di buku Hypnotherapy of War Neuroses.
Alexander dan French (1946) menekankan pentingnya klien mengalami pengalaman emosional korektif (corrective emotional experience) dalam bentuk mengalami kembali peristiwa yang menjadi sumber masalah, melepas emosi pada peristiwa itu, dan pemahaman baru melalui pemaknaan, baik melalui analisis transferensi dan dalam kondisi hipnosis.
Tidak semua abreaksi, dari pengalaman klinis dan temuan kami, sifatnya terapeutik. Hal ini tampak dari berbagai kisah nyata saat seseorang mengalami abreaksi, baik yang hebat atau ringan, dan setelahnya untuk sementara waktu merasa lega. Namun beberapa saat kemudian kembali mengalami masalah yang sama.
Teknik penanganan abreaksi yang kami kembangkan di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology selain berdasar pada teori pikiran bawah sadar dan hasil riset kami juga terutama didasarkan pada pemikiran Helen H. Watkins dan disempurnakan dengan materi yang saya pelajari dari Randal Churchill.
Agar dapat menghasilkan efek terapeutik yang permanen maka beberapa syarat berikut perlu dipenuhi:
Dalam konteks memori, rekonstruksi yang dilakukan dapat mengakibatkan salah satu dari dua kemungkinan. Pertama, memori lama yang telah terhapus tidak lagi dapat diakses (Loftus, 1979). Ini dikenal dengan The Memory Alteration Hypothesis. Kedua, memori lama dan baru keduanya ada di pikiran bawah sadar dan keduanya dapat diakses (Bekerian dan Bowers, 1983; Christiaansen dan Ochalek, 1983). Ini dikenal dengan The Memory Coexistence Hypothesis.
Tidak jadi masalah apakah klien ingat memori awal atau versi yang telah dikoreksi, selama empat poin di atas telah dilakukan dengan baik dan benar, maka saat ia keluar dari kondisi hipnosis perubahan yang telah terjadi selama proses terapi tetap berlaku.
Rekonstruksi memori ini akan sangat efektif memengaruhi klien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran yang (sangat) dalam (deep trance) karena di kedalaman inilah terapis dapat menggunakan trance logic pikiran klien secara optimal.
Sekitar tiga tahun lalu saya pernah mendapat cerita dari seorang rekan sejawat hipnoterapis yang kebetulan menghadiri seminar hipnosis di kotanya. Dengan serius rekan ini menyimak materi yang disajikan oleh trainer. Dan memang ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari.
Namun, ada satu hal yang menjadi keprihatinan rekan ini, yang ia sampaikan pada saya. Saat masuk ke sesi demo hipnosis, trainer ini berkata, “Saya punya teknik induksi yang sangat efektif untuk membawa orang masuk deep trance. Saya tidak perlu menggunakan suara, tidak perlu bicara seperti yang selama ini diajarkan di berbagai pelatihan. Saya jamin bila Anda memelajari dan mempraktikkan teknik saya ini maka Anda pasti mampu membawa siapa saja masuk kondisi deep trance, walau ia menolak. Sekarang, siapa yang mau menjadi contoh di depan dan merasakan ampuhnya teknik induksi ini?”
Seorang peserta maju ke depan, naik ke panggung, kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Selanjutnya, si trainer melakukan induksinya pada peserta ini. Dan dalam waktu sekejap pandangan mata peserta ini menjadi nanar, mukanya pucat, dan lemas. Setelah itu, dengan yakin dan bangga si trainer berkata, “Anda lihat… mudah kan? Sekarang dia sudah masuk deep trance.”
Saat peserta ini dibangunkan dari kondisi “trance”, ia mengeluh kepalanya pusing dan keluar keringat dingin serta napasnya tersengal-sengal.
Kemarin, salah satu peserta pelatihan SECH, bercerita bahwa beberapa waktu lalu ia bertemu dengan seorang hipnoterapis. Hipnoterapis ini melakukan “induksi” padanya. Dan ia mengalami kondisi yang sama dengan subjek yang saya jelaskan di atas. Peserta SECH ini mengalami pandangan matanya tiba-tiba menjadi gelap seperti mau pingsan. Dan ia hampir tidak sadarkan diri. Saat ia dibangunkan, ia merasakan tubuhnya sangat tidak nyaman, agak gemetar.
Saya tidak mengenal trainer yang saya ceritakan di awal artikel ini. Demikian pula saya tidak mengenai siapa hipnoterapis yang “menginduksi” peserta SECH ini. Namun, dari penjelasan yang saya dapat, ternyata teknik “induksi” ini menggunakan cara yang sama. Dan ini yang ingin saya jelaskan di artikel ini.
Teknik “induksi” apa yang dilakukan oleh si trainer dan hipnoterapis sehingga sedemikian dahsyatnya memengaruhi subjeknya? Apakah benar subjek masuk kondisi deep trance?
Trainer dan hipnoterapis itu sebenarnya tidak melakukan induksi seperti yang dikenal dalam dunia hipnoterapi. Yang mereka sebut sebagai teknik “induksi” itu adalah satu tindakan yang sangat berbahaya. Mereka mengatakan melakukan induksi. Namun yang sebenarnya mereka lakukan adalah menekan arteri karotid, baik yang di leher sebelah kiri dan kanan. Arteri karotid adalah pembuluh darah utama yang memasok darah beroksigen ke kepala dan leher. Masing-masing memiliki dua cabang utama, arteri karotid eksternal dan internal. Arteri karotid ini dapat Anda rasakan dengan menyentuh lembut leher sebelah samping dan akan terasa adanya denyutan.
Tindakan ini sungguh sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan stroke iskemik, kerusakan otak, dan bahkan kematian. Subjek sebenarnya tidak masuk kondisi deep trance namun kehilangan kesadaran/pingsan akibat suplai darah ke otak terhambat. Bila tekanan di kedua arteri karotid ini dilakukan cukup kuat dan lama, subjek akan pingsan dan bahkan bisa meninggal.
Dari berbagai literatur yang pernah saya baca dan pelajari, khususnya yang membahas teknik induksi dalam hipnosis dan hipnoterapi, tidak pernah sekalipun saya menemukan teknik induksi dengan menekan arteri karotid kiri dan kanan. Jadi, ini bukan teknik induksi. Ini adalah teknik “induksi” yang tidak punya dasar ilmiah dan dipraktikkan oleh orang yang sama sekali tidak mengerti hipnosis atau hipnoterapi, dan tidak bertanggung jawab.
Bila suatu saat nanti Anda atau rekan Anda bertemu dengan orang yang mengaku sebagai hipnotis atau hipnoterapis yang berusaha menginduksi Anda dengan menekan leher sebelah kiri dan kanan maka jangan pernah ijinkan ia melakukannya. Anda bisa masuk “trance” dan tidak pernah lagi bisa keluar. Dengan bahasa yang lebih to the point, anda meninggal.