The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel


Cerdas dan Bijak Memahami Hipnosis Hiburan

4 Januari 2014

Akhir-akhir ini saya sering mendapat pertanyaan yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut: Pak Adi, saya habis nonton acara hipnotis di tv. Itu benar nggak sih? Kok bisa ya orang dibikin tidur dan dikorek-korek rahasianya. Bisa dijelaskan cara melakukannya? Apa pak Adi juga mengajar hipnotis seperti yang di tv?”

Artikel ini saya tulis sebagai jawaban bagi para penonton acara hipnosis di layar kaca agar mampu cerdas dan bijak memahami hipnosis hiburan.

Hipnosis/hipnoterapi diterima sebagai cabang ilmu psikologi oleh American Psychological Association (APA) tahun 1960 dan adalah divisi ke 30 dari total 56 divisi yang ada di APA.

Ada lima cabang hipnosis yaitu stage hypnosis atau hipnosis untuk hiburan, clinical hypnosis/hypnotherapy yaitu aplikasi hipnosis dalam membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi atau perilaku, anodyne awareness yaitu aplikasi hipnosis untuk anestesi, forensic hypnosis yaitu aplikasi hipnosis untuk penggalian data atau informasi dari pikiran bawah sadar seseorang, khususnya untuk penyidikan, dan experimental hypnosis yaitu aplikasi hipnosis untuk eksperimen.

Dari lima cabang hipnosis yang paling sering tampil di televisi, khususnya di Indonesia, adalah stage hypnosis atau hipnosis untuk hiburan atau pertunjukkan. Lima cabang hipnosis semuanya menggunakan kondisi hipnosis sebagai sarana melakukan “kerja”, namun masing-masing dengan proses yang berbeda. Untuk mampu menguasai setiap cabang hipnosis membutuhkan pelatihan yang spesifik. Dalam artikel ini saya khusus membahas mengenai hipnosis untuk hiburan.

Stage hypnotist atau lebih sering disebut sebagai hipnotis adalah orang yang melakukan hipnosis untuk hiburan. Dari pengamatan saya sejauh ini ada dua jenis hipnotis. Pertama, hipnotis yang benar-benar menguasai ilmu hipnosis dan menggunakan kondisi hipnosis sebagai sarana untuk melakukan pertunjukkan. Kedua, orang yang mengaku sebagai hipnotis dan menggunakan rekayasa dalam pertunjukkannya.

Sebelum menjelaskan cara kerja masing-masing hipnotis saya akan menerangkan terlebih dahulu beberapa hal penting sehingga Anda, pembaca, mendapat pemahaman yang benar dan jernih agar dapat mengerti uraian saya selanjutnya.

 

Apa itu kondisi hipnosis?

Ada banyak definisi hipnosis bergantung pada pakar yang mendefinisikannya. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • hipnosis adalah altered state of consciousness (kondisi kesadaran yang meningkat)
  • hipnosis adalah kondisi pikiran yang rileks
  • hipnosis adalah kondisi pikiran yang reseptif
  • hipnosis adalah kondisi pikiran yang fokus
  • dll

 

Satu definisi yang saat ini diterima banyak kalangan adalah yang berasal dari Departemen Pendidikan Amerika, yang mendefinisikan hipnosis sebagai penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti tertentu.

Bagaimana caranya kita tahu apakah subjek berada dalam kondisi hipnosis?

Cara yang paling akurat adalah dengan melakukan pengukuran pola gelombang otak menggunakan mesin EEG. Namun tidak semua orang punya mesin EEG. Selain sulit mendapatkannya harganya juga cukup mahal.

Sebagai gantinya, kita bisa menggunakan beberapa indikator fisik dan atau mental untuk memastikan subjek telah masuk ke kondisi hipnosis.

Indikasi fisik yang menunjukkan subjek telah masuk kondisi hipnosis antara lain: REM (rapid eye movement) atau kelopak mata bergetar cepat, sering menelan ludah, produksi air mata meningkat, wajah menjadi pucat, otot wajah rileks dan datar, napas melambat, bicara menjadi (lebih) lambat atau pelan, bagian putih mata atau sclera berubah warna menjadi merah muda.

Sedangkan indikasi kondisi hipnosis secara mental antara lain: amnesia, halusinasi (visual,auditori,kinestetik, olfaktori, gustatori), munculnya Bagian Diri, abreaksi, dan distorsi waktu.

 

Sugestibilitas

Sugestibilitas adalah kepribadian hipnotik seseorang yang ditentukan atau dipengaruhi oleh semua pengkondisian dan pengalaman hidup, terutama pada usia enam hingga delapan tahun. Untuk mudahnya, sugestibilitas adalah cara seseorang belajar.

Seorang hipnotis perlu mengenal tipe sugestibilitas agar ia dapat memilih, dengan teknik tertentu, subjek yang sesuai untuk pertunjukkannya.

Ada dua tipe sugestibilitas yaitu physical suggestibility (PS) dan emotional suggestiblity (ES). Dari hasil riset didapatkan data bahwa sekitar 60% populasi adalah ES dan 40% PS.  Selain PS dan ES masih terdapat sub-kategori dari ES yang dinamakan intellectual suggestibility (IS), yang mewakili sekitar 5% populasi.

Setiap subjek biasanya merupakan kombinasi dari physical dan emotional suggestibility. Jika total sugestibilitas adalah 100% maka komposisi sugestibilitas bisa 30% physical dan 70% emotional, 40% emotional dan 60% physical, 50% physical dan 50% emotional, atau bisa kombinasi berapapun bergantung pada keunikan klien. Apakah ada yang 100% physical atau emotional? Ada, walaupun jarang.

Orang yang 50% physical dan 50% emotional disebut somnambulis. Orang ini paling baik untuk stage hypnosis karena ia berespon sangat baik terhadap sugesti baik yang bersifat physical maupun emotional.

Hipnotis pasti akan menghindari subjek tipe ES karena tipe ini sangat sulit dihipnosis dengan teknik induksi yang biasa digunakan dalam stage hypnosis. Tipe IS adalah yang paling dihindari oleh hipnotis karena ini tipe yang paling sulit untuk dihipnosis.

Untuk pertunjukkan, hipnotis akan mencari subjek tipe PS, terutama yang somnambulis karena mereka inilah yang paling sugestif sehingga sangat mudah dihipnosis dan masuk ke kondisi hipnosis yang (sangat) dalam dan mampu memunculkan berbagai fenomena trance dengan mudah.

 

Skala Kedalaman Trance

Hipnotis perlu memahami benar skala kedalaman trance beserta fenomena yang bisa muncul pada setiap level kedalaman. Skala kedalaman yang umumnya digunakan sebagai acuan adalah skala Davis Husband yang terdiri atas 30 level. Skala ini lebih sesuai untuk subjek tipe physically suggestible, daripada emotional suggestible.

Berikut adalah skala Davis Husband:

 

Insusceptible

0

1 Relaxation (relaksasi)

Hypnoidal

02 Fluttering of the eyelids (kelopak mata bergetar)

03 Closing of the eyes (menutup mata)

04 Complete physical relaxation (relaksas fisik sepenuhnya)

05 Catalepsy of the eyes (katalepsi mata)

Light Trance

06 Limb catalepsies (katalepsi tungkai)

07 Rigid Catalepsies (katalepsi rigid)

08,09,10 Glove Anesthesia (anestesi sarung tangan)

11,12 Partial posthypnothic amnesia (amnesia pascahipnotik parsial)

Medium Trance

13,14 Posthypnothic amnesia (amnesia pascahipnosis)

15,16 Personality changes (perubahan kepribadian)

17,18,19 Kinesthetic delusions (delusi kinestetik)

20 Complete amnesia by suggestion (amnesia menyeluruh dengan sugesti)

Deep Trance (Somnambulism)

21,22 Ability to open eyes without affecting the trance (mampu buka mata tanpa memengaruhi trance)

23,24 Complete somnambulism (somnambulism menyeluruh)

25 Positive visual hallucinations, posthypnotic (halusinasi visual positif, pascahipnosis)

26 Positive auditory hallucinations, posthypnotic (halusinasi auditori positif, pascahipnosis)

27 Systematized posthypnotic amnesias (amnesia pascahipnosis tersistematis)

28 Negative auditory hallucinations (halusinasi auditori negatif)

29 Negative visual hallucinations (halusinasi visual negatif)

30 Hyperesthesia (hiperestesia)

Saat melakuan induksi, tujuan hipnotis hanya satu yaitu dengan cepat membawa subjek masuk ke kedalaman trance sedalam mungkin, semakin dalam semakin baik. Bila subjek berhasil dibawa ke kedalaman, misalnya level 13, maka subjek akan dapat memunculkan fenomena di level 13 dan di level-level sebelumnya, dari 1 hingga 12, namun tidak dapat memunculkan fenomena trance di level yang lebih dalam.

Dengan demikian bila misalnya hipnotis berhasil membawa subjek masuk ke level 29 maka ini tentu sangat memudahkannya menjalankan skenario yang telah ia susun sebelumnya karena berbagai fenomena trance dapat dimunculkan dengan mudah.

Yang sering tidak diketahui penonton adalah saat subjek telah masuk ke kondisi hipnosis yang sangat dalam, misal level 28 atau 29 dan langsung diminta buka mata oleh hipnotis, subjek sebenarnya masih berada dalam kondisi hipnosis. Ia belum atau tidak keluar dari kedalaman ini. 

Berhubung level 28 atau 29 jauh lebih dalam dari level 21 atau 22 maka, sesuai dengan fenomena trance pada skala Davis Husband, saat diminta buka mata subjek masih tetap dalam kondisi hipnosis yang dalam, namun penonton mengira ia sudah keluar. Dan justru inilah yang membuat penonton takjub karena menyaksikan subjek yang dikira sudah kembali ke kesadaran normal namun melakukan hal-hal luar biasa mengikuti sugesti hipnotis.

 

Merancang Skenario Pertunjukkan

Seorang hipnotis profesional tidak akan tampil tanpa persiapan matang. Yang biasa dilakukan adalah merancang skenario pertunjukkan yang akan dimainkan setelah berhasil mendapatkan subjek yang sesuai. Kekuatan hipnotis, selain pada kecakapannya menghipnosis, juga terletak pada skenario, yang ia susun dengan sangat cermat, dan menjadi satu hiburan yang sangat menarik, asyik, dan menyenangkan bagi penonton.

 

Bagaimana memilih subjek?

Hipnosis untuk hiburan tidak bisa dilakukan asal-asalan. Hipnotis perlu mencari dan menemukan subjek yang bersedia dihipnosis dan adalah tipe physical suggestibility. Subjek juga harus bersedia secara sukarela menjadi “bintang” pertunjukkan.

Walau subjek bersedia menjadi bagian dari pertunjukkan, bersedia dengan sukarela dihipnosis, namun bila ia bukan tipe PS akan sangat riskan bagi hipnotis bila menghipnosis subjek ini.

Memilih subjek tipe PS dilakukan dengan uji sugestibilitas. Ada beberapa cara melakukannya. Pertama menggunakan Arm Raising Test(ART). ART dilakukan dengan meminta penonton menutup mata dan menjulurkan kedua lengan ke depan. Penonton diminta membayangkan tangan kanan memegang sebuah ember dan tangan kiri terikat dengan banyak balon gas. Mengikuti aba-aba hipnotis, ember diisi air semakin lama semakin penuh sehingga terasa berat dan lengan kanan bergerak turun. Sementara itu, lengan kiri menjadi semakin ringan dan terangkat ke atas.

 

Penonton yang paling responsif mengikuti sugesti hipnotis adalah yang nantinya akan dipilih menjadi subjek untuk pertunjukkan. Dan yang paling responsif adalah tipe PS.

Biasanya, setelah melakuan ART, hipnotis akan melanjutkan dengan Hand Locking Test. Untuk melaksanakan test ini, subjek diminta duduk dan menjulurkan kedua lengannya ke depan. Selanjutnya subjek disugestikan untuk merapatkan tangannya, kedua telapak tangan saling  menggenggam dengan erat, dan membuat kedua lengannya menjadi kaku. Hipnotis memberikan sugesti bahwa kedua telapak tangan subjek menggenggam sangat erat, sangat kuat, sehingga tidak bisa dilepas.

 

Subjek yang sugestif akan benar-benar mengalami kondisi seperti yang disugestikan dan tidak bisa melepas kedua tangannya. Subjek inilah yang dipilih untuk pertunjukkan karena sangat sugestif.

 

Bagaimana membawa subjek masuk kondisi hipnosis?

Ada beberapa cara untuk membawa subjek masuk kondisi hipnosis. Mengingat keterbatasan waktu, hipnotis menggunakan teknik induksi instan, biasa disebut dengan shock induction, yang mampu membawa subjek dengan sangat cepat masuk ke kondisi deep trance. Untuk hipnosis hiburan, semakin cepat dan dalam subjek masuk kondisi hipnosis, semakin baik.

Cara lain adalah dengan memasang anchor atau sugesti pascahipnosis. Caranya adalah dengan memilih subjek sebelum acara berlangsung. Subjek ini diberi sugesti pascahipnosis yang nantinya bila diaktifkan akan langsung membawa subjek masuk kembali ke dalam kondisi hipnosis yang dalam.

Bila ini dilakukan maka hipnotis hanya perlu mengaktifkan anchor dan subjek langsung “tertidur”. Penonton akan melihat hipnotis sebagai orang sakti mandraguna karena hanya dengan menjentikkan jari sambil berkata “tidur”, subjek langsung menutup mata dan “tidur”.

 

Kode Etik

Dalam melakuan hipnosis hiburan, hipnotis profesional harus mematuhi kode etik yaitu tidak boleh melakukan atau meminta subjek melakukan hal-hal yang merugikan diri subjek atau mempermalukan subjek, hal-hal yang membahayakan keselamatan hidup subjek atau orang lain, atau hal-hal yang melanggar norma, moral, atau nilai-nilai spiritual/agama.

Hukum emas yang harus dipegang teguh adalah perlakukan orang lain sama seperti bagaimana Anda ingin mereka memperlakukan diri Anda.

Saya mengenal rekan-rekan hipnotis yang bermain dengan cantik, santun, kreatif, dan sangat menghargai subjeknya. Mereka mampu menghibur penonton dengan berbagai aksi panggung yang cerdas bersama subjek dan tetap memegang teguh kode etik. 

Namun sangat disayangkan ada juga hipnotis yang tidak tahu atau mungkin tidak peduli dengan kode etik ini. Yang penting adalah acara mereka lucu dan menghibur. Dan kesan yang muncul adalah hipnosis identik dengan manipulasi pikiran, mempermalukan subjek, subjek dibuat "tidak sadar", dan tidak manusiawi. Ini yang sungguh sangat disayangkan.

 

Melakukan Hipnosis Hiburan

Di atas saya menjelaskan ada dua jenis hipnotis yaitu yang sungguh menguasai ilmu hipnosis dan yang hanya mengaku atau berlagak menguasai ilmu hipnosis. Sekarang saya akan jelaskan terlebih dulu bagaimana hipnotis jenis pertama melakukan hipnosis hiburan.

Hipnotis tipe pertama memahami benar apa yang telah saya jelaskan di atas, mulai dari memahami kondisi hipnosis, indikasi trance, sugestibilitas, skala kedalaman trance, merancang skenario pertunjukkan, teknik memilih subjek, membawa subjek masuk kondisi hipnosis, dan kode etik.

Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada para hipnotis yang sungguh-sungguh menjalani profesi mereka dengan profesional dan memegang teguh kode etik.

Untuk melakukan hipnosis hiburan sebenarnya sangat mudah. Yang dibutuhkan hanya dua hal yaitu keahlian memilih subjek dan kreativitas hipnotis.

Hipnotis profesional dan berpengalaman biasanya akan memilih subjek dari para penonton. Semakin banyak penonton yang hadir semakin baik karena semakin besar peluang ia menemukan subjek yang sangat sugestif melalui uji sugestibilitas.

Namun, bila ternyata jumlah penontonnya sedikit, atau pertunjukkannya disiarkan live, atau ini dilakukan di komunitas tertentu yang tidak memungkinkan hipnotis memilih subjek dari penonton, atau hipnotis ingin mencari aman dan memastikan show-nya berjalan dengan baik, maka ia akan menyiapkan subjeknya sendiri. Subjek ini adalah orang atau anak buah si hipnotis yang disusupkan seolah-olah menjadi salah satu dari hadirin. Nanti, melalui cara yang sangat halus hipnotis akan memilih subjek ini dari penonton. Dan ini yang seringkali terjadi.

Hadirin lain yang tidak menyadari hal ini tentu akan sangat kagum dengan kehebatan si hipnotis yang mampu menghipnosis salah satu dari mereka dengan begitu cepat, mudah, dan setelahnya melakukan pertunjukkan yang sangat menarik dan menghibur.

Di salah satu pasar swalayan Surabaya pernah hadir seorang hipnotis terkenal yang sering tampil di layar kaca. Setelah penonton berkumpul, si hipnotis memanggil salah satu karyawan pasar swalayan itu. Dan dengan tiba-tiba ia menghipnosis subjeknya hanya dengan menjentikkan jari dan berkata,“Tidur”. Selanjutnya ia melakukan pertunjukkan yang sangat heboh, mencengangkan, luar biasa, dan mengundang decak kagum para penonton. Pertunjukkan diakhiri dengan tepuk tangan luar biasa dari para hadirin. Semua puas dan gembira karena mendapat tontonan yang spektakuler.

Namun, yang tidak diketahui oleh si hipnotis, di pasar swalayan ini ada konter salah satu rekan saya, sebut saja, Joni. Joni kenal semua karyawan yang bekerja di sana. Ternyata Joni tidak mengenal karyawan yang menjadi subjek si hipnotis.

Usai acara, setelah semua penonton pergi, Joni bertanya kepada para karyawan lain yang tadi juga menyaksikan acara itu apakah mereka mengenal subjek. Barulah mereka tersadar bahwa subjek itu, walau mengenakan seragam yang sama seperti yang mereka kenakan, ternyata tidak mereka kenal. Dengan kata lain, “karyawan” yang dijadikan subjek sebenarnya adalah orangnya si hipnotis yang disusupkan seolah-olah adalah karyawan pasar swalayan, lengkap dengan mengenakan seragam.

Hipnotis tipe kedua, lain lagi ceritanya. Hipnotis inilah yang “merusak” citra dunia hipnosis/hipnoterapi. Mereka biasanya tidak menguasai ilmu hipnosis. Ia hanya mengandalkan keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi. Orang yang menjadi subjeknya biasanya bukan berasal dari penonton tapi sudah ia siapkan sebelumnya.  

Berdasar penjelasan saya di atas, tampak bahwa subjek yang tampil di pertunjukkannya bukanlah dari hasil uji sugestibilitas. Dengan demikian ini semua hanyalah rekayasa belaka. Yang hipnotis ini gunakan hanyalah skenario yang telah disepakati atau diatur sebelumnya dengan si subjek. Dan seringkali subjek adalah orang yang khusus dibayar untuk melakukan pertunjukkan itu. Tentu semua kesepakatan ini terjadi di balik layar.

Ada orang yang bersedia menjadi subjek dan melakukan yang diskenariokan oleh hipnotis karena ia dibayar. Ada pula yang melakukan untuk mendapat publikasi karena acaranya disiarkan di tv nasional.

Untuk menjadi hipnotis tipe kedua Anda tidak perlu ikut pelatihan. Yang dibutuhkan hanyalah rasa percaya diri yang tinggi, pintar bermain peran, komunikatif, pintar merancang skenario pertunjukkan, dan menemukan orang yang bersedia dibayar untuk pura-pura Anda hipnosis dan melakukan apapun yang Anda minta ia lakukan, atau orang yang senang menjadi pusat perhatian. Mudah, kan?

 

Menjadi Penonton yang Cerdas dan Bijak

Saya sering mendapat pertanyaan dari calon klien, “Saya lihat di tv, ada hipnotis yang hanya dengan bakar tisu mampu membuat subjeknya tidur. Ini benar ya? Trus, kok bisa ya orang itu dikorek-korek rahasianya. Hipnotisnya pake ilmu apa?”

Saya katakan padanya bahwa yang ia saksikan di tv itu adalah hiburan. Apakah bisa hanya dengan bakar tisu subjek langsung masuk kondisi hipnosis atau trance? Jawabannya, “Bisa”. Tapi ini butuh persiapan. Sebelumnya, subjek telah dipasangi anchor dan sugesti pascahipnosis, yaitu setiap kali ia melihat tisu yang terbakar maka ia langsung masuk ke dalam kondisi trance.

Masuk kondisi hipnosis membutuhkan beberapa persyaratan. Pertama, subjek/klien harus bersedia dan mengijinkan secara sadar untuk dihipnosis. Kedua, subjek/klien bersedia mengikuti bimbingan hipnotis/hipnoterapis. Ketiga, subjek/klien percaya sepenuhnya pada hipnotis/hipnoterapis dan sama sekali tidak ada rasa takut atau penolakan. Keempat, hipnotis/hipnoterapis cakap dan menguasai dengan sangat baik teknik induksi yang sesuai dengan tipe sugestibilitas subjek/klien.

Dalam kondisi hipnosis, sedalam apapun, subjek/klien tetap sadar dan sepenuhnya memegang kendali pikirannya. Hipnotis tidak bisa dan tidak akan mungkin mampu mengorek rahasia subjek. Yang terjadi adalah subjek secara sukarela menceritakan “rahasia”nya.

Logikanya sederhana sekali. Bila memang apa yang dilakukan di tv itu benar, bila hipnotis mampu membuat atau lebih tepatnya memaksa subjek menceritakan rahasianya maka kita tidak perlu KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Bawa saja para koruptor ke hipnotis dan selanjutnya semuanya akan terungkap terang benderang. Kenyataannya sampai saat ini belum pernah kita dengar ada koruptor yang dikorek rahasianya oleh hipnotis yang sering tampil di tv. Mengapa demikian? Ya karena memang ini tidak bisa dilakukan.

Saya pernah membaca di salah satu pemberitaan, saat ramai kasus Bank Century, anggota DPR, yang kesal karena para tersangka tidak bersedia mengungkap data sebenarnya dengan alasan lupa, hendak minta bantuan hipnotis yang sering muncul di tv untuk menghipnosis dan mengungkap rahasia yang disembunyikan oleh tersangka.

Saat dihubungi, si hipnotis berkata bahwa ia tidak bisa melakukan seperti yang diminta oleh anggota DPR. Dengan gamblang ia menjelaskan bahwa apa yang ditayangkan di tv adalah hipnosis hiburan, sesuatu yang sudah diatur sebelumnya sehingga menimbulkan kesan lucu dan menghibur. Hipnosis hanya bisa dilakukan bila subjek bersedia dihipnosis, bersedia bekerjasama sepenuhnya. Bila subjek menolak, hipnosis tidak bisa dilakukan.  

Selain itu, sebagai penonton yang cerdas dan bijak, kita bisa tahu apakah subjek benar masuk ke kondisi hipnosis atau itu hanya pura-pura alias rekayasa.

Bagaimana caranya?

Memang akan sulit untuk menggunakan indikasi kondisi hipnosis secara mental seperti amnesia, halusinasi (visual,auditori,kinestetik, olfaktori, gustatori), munculnya Bagian Diri, abreaksi, dan distorsi waktu. Saya katakan sulit karena ini bisa direkayasa atau subjek sengaja berbohong.

Yang mudah kita amati adalah indikasi fisiknya. Indikasi subjek sudah masuk ke kondisi hipnosis, secara fisik, antara lain: REM (rapid eye movement) atau kelopak mata bergetar cepat, sering menelan ludah, produksi air mata meningkat, wajah menjadi pucat, otot wajah rileks dan datar, napas melambat, bicara menjadi (lebih) lambat atau pelan, dan bagian putih mata atau sclera berubah warna menjadi merah muda.

Saya sering mengamati subjek yang dihipnosis oleh hipnotis, di tv, dan dari pengamatan menggunakan indikasi fisik saya menyimpulkan subjek itu sama sekali tidak masuk kondisi hipnosis.

Dari mana saya sampai pada simpulan ini?

Berikut adalah indikasi yang menunjukkan subjek tidak masuk kondisi hipnosis:

  • teknik induksi yang dilakukan, dari pengalaman klinis, tidak bisa membawa klien masuk kondisi deep trance. Ditambah lagi hipnotis tidak melakukan deepening untuk membawa subjek masuk kondisi hipnosis yang semakin dalam.
  • tidak ada REM, mata klien sama sekali tidak bergetar.
  • wajah subjek tetap normal, sama seperti sebelum “dihipnosis”.
  • subjek sering mengernyitkan alis mata, seolah tegang atau sedang berpikir. Ini tidak mungkin bisa terjadi bila subjek tipe PS ini benar-benar telah masuk ke kondisi hipnosis yang dalam. Ingat, untuk bisa melakukan hipnosis hiburan, subjek perlu masuk kondisi hipnosis yang dalam. Dan dalam kondisi ini otot-otot wajahnya rileks dan tampak datar.
  • subjek bicara dengan cepat. Orang dalam kondisi hipnosis cenderung bicara lebih lambat.
  • subjek setelah menjawab, bisa mengoreksi jawaban yang ia anggap salah. Ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang dalam kondisi hipnosis yang dalam.
  • subjek tidak literal. Saat ditanya, “Apakah boleh tahu mengenai ……..?”, subjek langsung bercerita panjang lebar. Padahal, salah satu ciri kondisi hipnosis adalah sifat literal, yaitu pola pikir subjek kembali seperti anak kecil yang bila ditanya akan menjawab apa adanya sesuai pertanyaan, bukan menjawab berdasar simpulan. Bila ditanya, “Apakah boleh tahu mengenai…..?”, maka jawaban seharusnya adalah, “Boleh.”
  • usai dihipnosis, saat buka mata, mata subjek sama sekali tidak ada perubahan warna. Yang umum terjadi, apalagi untuk subjek yang sugestif dan tipe physically suggestible, saat keluar dari kondisi hipnosis, sclera atau bagian putih mata akan berubah warna menjadi kemerahan atau merah mudah seperti baru bangun tidur.

 

Saat sedang menyelesaikan artikel ini saya sempat menyaksikan di salah satu televisi seorang subjek sedang diwawancarai oleh hipnotis. Hal-hal yang saya tulis di atas semuanya terjadi pada subjek. Ini adalah bukti bahwa apa yang ditampilkan di tv itu hanya rekayasa. Bahkan subjek sempat mengoreksi jawabannya dengan berkata, “Saat itu dia bilang ….eh.. aku yang bilang …..”

 

Apakah Hipnotis Sama Dengan Hipnoterapis?

Jawaban singkat, “Tidak sama.” Hipnotis adalah orang yang melakukan hipnosis untuk hiburan. Sedangkan hipnoterapis adalah orang yang melakukan terapi dengan atau dalam kondisi hipnosis untuk membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi atau perilaku. Kemampuan hipnotis berbeda dengan hipnoterapis. Apa yang disaksikan di tv, sekali lagi, hanya untuk hiburan, tidak bisa diaplikasikan untuk terapi.

Baca Selengkapnya

Refleksi Akhir Tahun Seorang Manusia Pembelajar

31 Desember 2013

Tidak terasa kita sudah memasuki akhir tahun 2013. Waktu berlalu dengan sangat cepat meninggalkan jejak peristiwa dan kesan penuh warna dan makna. Akhir tahun adalah waktu yang tepat melakukan refleksi berbagai aspek kehidupan. Dalam kesempatan ini saya merefleksi perjalanan karir saya sebagai manusia pembelajar yang berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup kepada publik.

Di tahun 2005 saya mulai menyelenggarakan pelatihan pengembangan diri dengan nama Supercamp Becoming a Money Magnet (SCBaMM) yang dilanjutkan dengan menulis buku dengan judul sama. Buku Becoming a Money Magnet berhasil masuk ke deretan buku laris kala itu dan hingga saat ini masih terus dicari pembaca.

Pelatihan SCBaMM  sangat diminati publik dan diselenggarakan hingga penghujung tahun 2007. SCBaMM telah berhasil membantu sangat banyak peserta mengalami perubahan hidup secara luar biasa. LOA (Law of Attraction) mereka menjadi aktif dengan sangat kuat dan menjadi Money Magnet. Ada sangat banyak testimoni yang saya dapatkan dari para alumni, baik yang dikirim lewat email, sms, atau disampaikan langsung pada saya.

Di akhir tahun 2007 terjadi satu peristiwa penting dalam hidup saya dan saya memutuskan menghentikan SCBaMM. Sebagai gantinya saya merancang pelatihan yang jauh lebih powerful dan diberi nama Quantum Life Transformation (QLT) . QLT pertama kali diselenggarakan di awal tahun 2008 bertempat di Hotel Selecta, Batu, Malang.

Di QLT ada banyak materi SCBaMM yang saya update. Tujuan semula memang masih mengajarkan cara mengaktifkan LOA dan menjadi Money Magnet. Seiring waktu berjalan, dengan saya mendalami secara all out teknologi pikiran, khususnya hipnoterapi klinis, menjadi hipnoterapis yang setiap hari membantu klien mengatasi beragam kasus, mulai kasus ringan hingga kasus berat, saya semakin mengerti cara kerja pikiran pada level terdalam, pikiran bawah sadar dan nirsadar, khususnya dalam transformasi diri.

Dalam membantu klien di ruang terapi saya menemukan satu hal penting. Setiap orang dapat berubah dengan cepat asalkan ia punya niat yang kuat dan dibantu dengan teknik yang efektif atau sesuai dengan kondisinya. Dari sinilah saya berpikir seharusnya hal yang sama juga dapat terjadi pada para peserta QLT.

Saya menyempurnakan materi QLT dengan menambahkan teori dan teknik transformasi diri yang bersumber dari teknik terapi yang digunakan di ruang praktik saya. Hanya teknik-teknik yang telah teruji secara klinis efektif dan efisien dalam membantu klien berubah yang saya ajarkan di QLT. Memang ada banyak teknik efektif yang bisa saya ajarkan. Dan setelah saya pilih dan pilah dengan sangat cermat, akhirnya didapatkan beberapa teknik yang benar-benar sangat efektif dan mudah dipraktikkan. Inilah yang diajarkan di QLT, tentunya dengan modifikasi sesuai setting dan tujuan pelatihan.

Perkembangan diri yang saya alami, pergumulan batin, dan pertumbuhan pemahaman saya akan makna dan tujuan hidup, masukan, saran, dan diskusi dengan banyak alumni QLT semuanya memberi warna yang berbeda pada setiap QLT.

Bila dulu SCBaMM  dan QLT awal bertujuan mengajarkan cara mengaktifkan LOA dan menjadi Money Magnet maka saat ini tujuan QLT sudah mengalami pergeseran signifikan.

QLT tidak lagi hanya fokus pada aktivasi LOA dan Money Magnet, walau di QLT tetap diajarkankan materi ini. Mengapa?

Pengalaman hidup saya pribadi, bukti empiris, pengalaman membantu dan menangani ribuan klien, dalam konteks hipnoterapi klinis, pemahaman lebih mendalam mengenai sifat dan hukum pikiran, proses manifestasi ide menjadi realita fisik, dan dari hasil diskusi dengan banyak alumni QLT yang mengalami perubahan hidup siginifikan membuktikan bahwa untuk mengaktifkan LOA dan menjadi Money Magnet sebenarnya sangatlah mudah.

Money Magnet adalah efek samping dari serangkaian perubahan yang jauh lebih penting yang terjadi di dalam diri. Perubahan inilah yang menjadi fondasi aktivasi LOA di aspek apa saja dalam hidup seseorang.

Berbekal pemahaman ini, kini QLT telah mengalami perluasan tujuan. Para peserta datang ke QLT dengan membawa pengharapan dan tujuan masing-masing. Ibarat seseorang menginap di hotel bintang lima dan ingin sarapan pagi, maka saat ke resto untuk sarapan mereka akan memilih makanan sesuai dengan selera mereka. Tentu tidak mungkin makan semua makanan yang tersedia.

Demikian pula para peserta QLT saat ini. Mereka datang fokus dengan tujuan masing-masing. Dan latar belakang para peserta juga sangat beragam. Saat ini, dari hasil wawancara dengan para peserta QLT diketahui tujuan mereka ikut QLT antara lain:

  • mengaktifkan LOA dan menjadi Money Magnet
  • meningkatkan kondisi finansial
  • meningkatkan kesadaran diri
  • lebih mengenal diri sendiri
  • menerima, menghargai, dan mencintai diri sendiri apa adanya
  • berdamai dengan diri sendiri
  • menjadi suami/istri yang lebih baik
  • menjadi orangtua yang lebih baik
  • menjadi guru/pengajar/trainer yang lebih efektif
  • menyembuhkan luka batin/trauma/fobia
  • meningkatkan kualitas kehidupan spiritual
  • masuk ke kondisi khusyuk
  • masuk ke kondisi meditatif yang dalam dengan cepat dan mudah
  • mengalami relaksasi fisik dan mental yang dalam
  • menyembuhkan berbagai penyakit psikosomatis
  • memaafkan orang/masa lalu
  • belajar dan memahami cara kerja pikiran untuk transformasi diri
  • memperbaharui visi dan misi pernikahan
  • belajar menentukan atau menemukan passion hidup
  • menjadi lebih sabar dan pengertian
  • menjadi anak yang lebih mampu mengasihi orangtua
  • lebih pasrah, ikhlas, dan tawakal
  • lebih sabar
  • mencari, menemukan, dan menghilangkan mental block penghambat sukses
  • ketenangan pikiran
  • hati yang damai
  • lebih menghargai diri sendiri
  • keluarga yang lebih harmonis
  • menemukan lingkungan atau komunitas yang positif
  • menjadi lebih bijak
  • mengerti makna dan tujuan hidup
  • mampu mengendalikan diri lebih baik
  • dan masih banyak lagi lainnya

 

Di awal saya mengatakan bahwa Money Magnet atau Success Magnet adalah efek samping. Lalu, apa yang mengakibatkan ini semua?aSemuanya kembali pada kesadaran diri, perasaan diri berharga, ketenangan pikiran, kedamaian hati, kepasrahan, dan kejelasan visi dan misi hidup.  Tanpa ini semua, apapun yang dilakukan untuk menjadi Money Magnet akan sulit terwujud.

Di pelatihan QLT terakhir saya mengajarkan teknik The Art of Manifesting. Dengan teknik ini para peserta mampu memprogram pikiran bawah sadar mereka untuk mencapai berbagai hal yang mereka inginkan, tidak hanya di aspek finansial.

Selain itu, untuk lebih meningkatkan proses, keefektifan, dan hasil QLT saya menggunakan berbagai skrip sugesti yang telah disusun dengan sangat hati-hati, dengan pilihan semantik yang cermat dan presisi, untuk memberikan efek terapeutik yang maksimal, dan dimasukkan ke pikiran bawah sadar peserta dalam kondisi relaksasi pikiran yang sangat dalam.

Saya menyampaikan terima kasih mendalam kepada para alumni QLT yang, setelah merasakan manfaat luar biasa dari QLT dan mengalami perubahan hidup signifikan, berhasil mencapai berbagai impian mereka, merekomendasikan QLT kepada rekan, sahabat, kolega, atasan, staff, dan anggota keluarga mereka.

Ijinkan saya menutup artikel ini dengan ungkapan rasa terima kasih mendalam kepada para alumni QLT atas kesempatan indah yang diberikan kepada saya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan terutama pengharapan akan masa depan dan kehidupan yang lebih baik yang menjadi hak kita sejak lahir.

Besar harapan saya dapat jumpa dengan rekan-rekan yang membaca artikel ini di QLT tahun 2014, belajar dan bertumbuh bersama mencapai potensi maksimal demi kebaikan hidup kita.

Semoga di tahun 2014 ini kita semua diberkahi dengan kesehatan, ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, keberlimpahan, dijernihkan pikirannya, disucikan hatinya, dan dimudahkan jalannya oleh Sang Maha Kuasa sehingga lebih mampu menjalani hidup dengan lebih sabar, pasrah, ikhlas dan tawakal…. Amin.

Baca Selengkapnya

Hipnoterapi untuk Anak

24 Desember 2013

Aplikasi hipnoterapi untuk membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi dan perilaku sangatlah luas. Salah satu aplikasinya adalah untuk membantu anak. 

Sebagai hipnoterapis klinis kami sering dimintai tolong oleh para orangtua untuk membantu mengatasi masalah anak mereka. Apa saja masalah anak yang biasa kami tangani? Sangat beragam, antara lain anak tidak disiplin, tidak fokus kalau belajar, sulit konsentrasi, tidak percaya diri, enuresis (ngompol saat tidur), bruxism (gigi menggerinda saat tidur), minder, sulit bergaul, kurang motivasi, malas kerja PR, mogok sekolah,  gagap, fobia (macam-macam fobia: kecoa, gelap, anjing, tikus, cecak, matematika, dll), kecanduan main game, rewel sejak punya adik, prestasi sekolah kurang/tidak baik atau menurun, suka berbohong, sulit mengendalikan emosi, impulsif, mencuri, membantah, tidak mandiri, dan masih banyak lagi masalah lainnya. 

Sebagai orangtua dan juga pendidik saya sepenuhnya dapat memahami rasa frustrasi orangtua yang anaknya “bermasalah”. Setiap orangtua pasti mendambakan dan berharap punya anak yang pandai, baik, cerdas, rajin, disiplin, penurut, mandiri, disiplin, dan masih banyak sifat atau karakter positif lainnya. 

Orangtua yang datang ke kami, hipnoterapis klinis, biasanya sudah mencoba segala cara untuk mengubah atau membuat anaknya menjadi seperti yang mereka inginkan. Bila segala cara yang diketahui atau terpikirkan oleh orangtua sudah dicoba namun anak masih tidak berubah seperti yang diinginkan, masih tetap “bermasalah”, maka orangtua akan mencari bantuan pihak ketiga atau profesional. Di tahap inilah biasanya orangtua menghubungi dan minta bantuan kami. 

Dalam konteks hipnoterapi umumnya ada tiga kategori anak. Pertama, anak usia sangat muda, dengan rentang usia mulai lahir hingga sekitar lima atau enam tahun. Kedua, anak usia muda, usia lima hingga sebelas tahun. Dan ketiga, anak remaja, usia dua belas tahun ke atas. 

Untuk keefektifan terapi, saya hanya menggunakan satu kategori anak. Saya mendefiniskan “anak” sebagai individu, berapapun usianya, yang masih memiliki ketergantungan baik secara finansial dan terutama emosional pada orangtua atau pengasuh utamanya. 

Bagaimana kami melakukan hipnoterapi pada anak? 

Protokol terapi yang saya dan para hipnoterapis alumni Adi W. Gunawan Institute gunakan, dalam konteks hipnoterapi untuk anak, mensyaratkan di sesi pertama kedua orangtuanya, ayah dan ibu, harus bersedia bertemu terapis untuk menjalani sesi wawancara mendalam dan konseling. 

Syarat ini sangat penting untuk dipenuhi. Biasanya bila salah satu orangtua tidak bersedia atau berkenan hadir maka kami tidak akan bersedia melakukan hipnoterapi pada anak mereka. Syarat ini tentu tidak berlaku bagi orangtua tunggal (single parent). 

Alasan kami meminta kedua orangtua hadir adalah karena kami ingin mendapat penjelasan detil seputar masalah anak dari sudut pandang kedua orangtua, pola asuh yang diterapkan di rumah, siapa pengasuh utama anak, interaksi orangtua dengan anak, pola komunikasi, lingkungan utama tempat anak bertumbuh dan berkembang, dan sekaligus menanyakan kesediaan orangtua untuk bekerja sama dalam membantu anak berubah. 

Karakter anak adalah hasil bentukan, bukan sekedar bawaan lahir.  Ada yang  mengatakan bahwa anak ibarat kertas kosong (tabula rasa). Ini adalah padangan yang kurang tepat. Yang benar adalah anak seperti sebuah media tempat pelukis (baca: orangtua) menorehkan cat lukis. Untuk dapat menghasilkan lukisan yang indah, pelukis harus mengenal media yang ia gunakan, apakah terbuat dari kertas, kanvas, kain, kaca, logam, keramik, tembok, atau media lainnya, dan tentunya juga menggunakan bahan dan teknik lukis yang sesuai. Sayangnya orangtua biasanya hanya mengenal satu teknik lukis yaitu teknik yang ia pelajari dari orangtuanya yang mendidiknya saat kecil. Teknik ini juga yang ia gunakan, lebih tepatnya dipaksakan, untuk menghasilkan lukisan dalam diri anaknya, yang mana seringkali tidaklah sesuai. 

Pengalaman klinis dan empiris menunjukkan bahwa masalah anak sebenarnya adalah cerminan dari kualitas sistem keluarganya. Bila anak “bermasalah” maka bisa dipastikan ini hanyalah akibat dari sistem keluarga yang bermasalah. Dan yang menjadi orang kunci dalam sistem keluarga adalah orangtua, ayah dan ibu. 

Setelah mendengar uraian dan jawaban dari kedua orangtua, barulah kami memutuskan apakah si anak perlu kami terapi ataukah justru orangtuanya yang perlu menjalani sesi konseling lanjutan atau bahkan perlu diterapi. 

Seringkali yang bermasalah bukanlah si anak namun justru salah satu atau kedua orangtuanya. Misalnya, orangtua tidak harmonis, sering tidak ada waktu untuk anak, berkata kasar, tidak sehati dalam mendidik anak. 

Orangtua yang tidak mengerti fase dan proses tumbuh kembang anak biasanya akan memaksakan standar yang mereka pikir benar kepada anak. Ada lagi yang suka membanding-bandingkan anak dengan saudaranya atau orang lain. 

Saya sering menjumpai orangtua, khususnya si Ibu, yang mengeluh bahwa anaknya bermasalah, tidak bisa konsentrasi, dan maunya main terus. Saat saya tanya apa maksudnya anak tidak bisa konsentrasi si ibu menerangkan bahwa rentang fokus anaknya sangat pendek. Kalaupun bisa fokus memelajari sesuatu ini hanya singkat, hanya beberapa menit, tidak bisa lama. 

“Maunya Ibu anak bisa konsentrasi dan fokus berapa lama?” tanya saya. 

“Ya kalau bisa minimal satu jam,” jawabnya. 

“Berapa usia anak Ibu,” tanya saya penasaran. 

“Tiga tahun Pak,” jawab si Ibu.

Astaghfirullah…. Saya sungguh kaget mendengar jawaban ini. Dari jawaban si Ibu saya memahami sepenuhnya bahwa si anak tidaklah bermasalah. Anak ini dianggap bermasalah oleh ibunya karena pemahaman yang tidak tepat yang dipegang oleh si Ibu. Bila si Ibu bersikukuh pada pandangannya bahwa anaknya bermasalah maka cepat atau lambat anaknya pasti jadi bermasalah seperti yang ia harapkan. 

Anak usia tiga tahun tidak mungkin, saya ulangi, tidak mungkin bisa tahan konsentrasi atau fokus belajar sampai satu jam. Cara belajar anak adalah dengan bermain. Bila ia suka maka ia bisa belajar dan fokus dalam waktu yang lebih lama. Namun tetap tidak mungkin bisa sampai satu jam. 

Sebagai terapis saya tidak menyalahkan orangtua. Mereka umumnya merasa telah melakukan yang terbaik dalam mendidik anak. Namun sayangnya apa yang mereka pikir baik ternyata kurang tepat atau salah. Di sinilah pentingnya peran terapis dalam memberikan konseling dan edukasi kepada orangtua mengenai cara mendidik anak dengan benar, cara mengisi tangki cinta anak, pengharapan positif, dan menggunakan kata-kata positif dalam komunikasi dengan anak. Dan yang juga sangat penting adalah kesatuan hati, sikap, dan komitmen kedua orangtua memberikan yang terbaik bagi anak mereka. 

Orangtua adalah hipnotis dan hipnoterapis terbaik bagi anaknya. Mereka yang membentuk anak-anak mereka dan mereka pula yang dapat dengan cepat mengubah anak mereka dengan pertama-tama mengubah sikap dan perilaku mereka sendiri. 

Setelah orangtua menjalani konseling atau terapi kami memberi tugas pada mereka, hal-hal yang tidak lagi boleh dilakukan dan apa yang sebaiknya mereka lakukan di rumah dalam upaya membantu anak berubah. Peran orangtua, dalam hal ini, sangat penting, yaitu sebagai hipnoterapis yang “menerapi” anak di rumah melalui perubahan dan modifikasi lingkungan dan interaksi. 

Bila anak membutuhkan penanganan maka, bisa di sesi yang sama atau di sesi selanjutnya, kami akan melakukan terapi. Teknik terapi yang digunakan sangat bergantung pada usia anak. 

Untuk anak usia di bawah lima tahun yang kami lakukan adalah memberikan edukasi kepada orangtua, mengajari orangtua cara melakukan teknik terapi sederhana namun efektif, dan membuatkan skrip sugesti yang akan dibacakan orangtua kepada anak. 

Bila anak berusia sekitar lima atau enam tahun hingga dua belas tahun maka kami akan membantu anak mengatasi emosi yang berhubungan dengan masalahnya, dan setelah itu memberikan sugesti yang sesuai. 

Selanjutnya bila usia anak dua belas tahun atau lebih maka kami menggunakan teknik terapi untuk orang dewasa. 

Saya pernah menangani “anak” usia 35 tahun dan 43 tahun yang masih tinggal serumah dengan kedua orangtuanya dan masih bergantung secara finansial dan emosional pada kedua orangtuanya. Di sesi awal saya mensyarakat kedua orangtuanya hadir. 

Di masyarakat ada pandangan yang kurang tepat mengenai hipnoterapi. Banyak yang berpandangan bahwa hipnoterapi adalah hanya dengan memberi sugesti sehingga berpikir bila anak sudah ke hipnoterapis dan diberi sugesti maka semua masalah pasti teratasi. Benarkah demikian? Tentu tidak sesederhana dan semudah ini. 

Ada banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan sebagai langkah konkrit membantu anak mengatasi masalah mereka. Secara umum, hipnoterapi untuk anak terdiri atas lima tahap yaitu mencari tahu masalah anak, menganalisis kemungkinan akar masalah, menetapkan strategi terapi, melakukan terapi, dan memantau hasil terapi. 

Berikut saya beri satu contoh kasus yang pernah saya tangani. Budi berusia hampir tujuh tahun dan duduk di kelas 1 SD. Ibunya mengeluh bahwa Budi sulit belajar dan hanya mau mengerjakan soal matematika. Kalau membaca dan menulis, Budi sangat lambat dan sering tidak menjawab pertanyaan. Akibatnya nilai Budi jeblok dan terancam tidak naik kelas. 

Dari hasil wawancara didapatkan data menarik. Budi setiap hari mendapat les pelajaran dari guru sekolahnya. Dan bila ditanya atau diuji secara lisan Budi pasti mampu menjawab dengan benar. Namun bila harus menuliskan jawabannya, Budi pasti mogok atau tidak mau. Nilai matematika Budi cukup tinggi. 

Sekilas yang tampak di permukaan masalah Budi adalah ia tidak mau mengerjakan jawaban dengan menulis. Bila terapis tidak cermat dan hanya memberi sugesti, masalahnya tidak akan pernah selesai. 

Saat saya tanya mengapa ia tidak mau menulis jawaban, Budi menjawab singkat, “Malas.” 

Selanjutnya saya melakuan hal berikut untuk memastikan sumber masalah Budi. Saya melakukan analisis dan identifikasi sumber kesulitan belajar yang Budi alami, meliputi aspek: apakah ada hambatan pada aspek pengetahuan dasar, apakah pada aspek penguasaan materi, apakah pada aspek manajemen waktu, ataukah pada aspek emosi. 

Ternyata Budi, walau sudah mau naik ke kelas 2 SD, masih tidak bisa membaca dan menulis dengan lancar. Saat saya beri bacaan Budi membaca dengan mengeja dan tampak cukup kerepotan. Di sinilah sebenarnya akar masalahnya. 

Berhubung Budi tidak lancar membaca dan menulis maka sudah tentu ia mengalami kesulitan membaca dan memahami soal ujian, dan menjawabnya. 

Yang saya sarankan pada orangtuanya adalah biarkan Budi tinggal kelas. Waktu yang tersisa selama tiga bulan tidak mungkin untuk bisa memaksa Budi meningkatkan kemampuan baca dan tulisnya. 

Mendengar hal ini tentu si Ibu kaget dan sangat keberatan. Si Ibu merasa malu kalau anaknya sampai tinggal kelas. Saya sampaikan bahwa ini adalah pendapat profesional saya dan saya tidak akan berargumentasi mengenai hal ini. Keputusan sepenuhnya saya serahkan pada si Ibu. Saya juga menjelaskan berbagai kemungkinan akibat negatif bila Budi dipaksa naik ke kelas dua. Dengan kemampuan baca dan tulis yang masih minim Budi pasti akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di kelas dua. Dan ini akan semakin membuat Budi patah semangat serta merusak harga dirinya. 

Benar, tinggal kelas juga bukan satu pilihan yang mudah. Namun, adalah lebih baik Budi tinggal kelas daripada dipaksakan naik kelas. Yang penting, orangtua tidak mempermasalahkan hal ini dan tetap sepenuhnya mendukung Budi untuk berkembang. 

Singkat cerita, si Ibu akhirnya mendengar saran dan masukan saya. Budi tinggal kelas namun tetap mendapat dukungan penuh dan perhatian dari orangtuanya. Selama setahun mengulang Budi mengejar semua kekurangannya di bidang membaca dan menulis. Hasilnya? Sangat positif. 

Untuk informasi lebih lengkap mengenai hipnoterapi untuk anak bisa dibaca di buku Hypnotherapy for Children.

Pembaca saya sarankan juga membaca artikel “Anak Penurut yang Tidak Menurut” (https://adiwgunawan.com/news/anak-penurut-yang-tidak-menurut)

Baca Selengkapnya

Apakah Kecemasan Bisa Diturunkan ke Anak?

12 Desember 2013

Satu artikel menarik dipublikasi di situs BBC* menyatakan bahwa perilaku bisa diturunkan melalui sebuah bentuk ingatan genetis dari pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya. Percobaan ini menunjukan bahwa sebuah pengalaman traumatis dapat mempengaruhi DNA pada sperma dan mengubah otak dan perilaku generasi berikutnya. Riset yang dilakukan Nature Neuroscience melakukan uji coba kepada tikus yang dikondisikan untuk takut kepada bau yang mirip bunga sakura.Tikus yang kemudian menghindari bau itu ternyata menurunkan perilakunya tersebut kepada cucu-cucunya.

Artikel yang sama menyatakan bahwa pengalaman orangtua, bahkan yang terjadi sebelum kehamilan, ternyata mempengaruhi struktur dan fungsi dalam sistem saraf generasi berikutnya," laporan itu menyimpulkan.

Temuan ini memberikan bukti adanya "warisan epigenetik transgenerasi" - bahwa lingkungan dapat mempengaruhi genetika individu, yang nantinya dapat diwariskan ke anak-anaknya.

Ini tentu satu informasi sangat menarik dan perlu kita perhatikan. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan, dari sudut ilmu pikiran, apakah mungkin kecemasan diturunkan ke anak. Jawaban singkat, “Bisa.”

Bila memang benar bisa, bagaimana prosesnya?

Kecemasan adalah satu bentuk emosi, sama halnya dengan takut, ngeri, sedih, marah, dan emosi lainnya. Emosi muncul sebagai akibat dari suatu sebab yang spesifik.

Data klinis dan empiris membantu puluhan ribuan klien yang kami lakukan menunjukkan temuan yang konsisten yaitu kecemasan dan berbagai emosi lainnya yang dialami orang tua, terutama pengasuh utama, dapat diturunkan kepada anak.

Untuk memahami mekanisme di balik “penularan” suatu emosi dari orangtua ke anak kita perlu mengerti bagaimana suatu data masuk ke pikiran bawah sadar.

Ada lima cara data masuk ke pikiran bawah sadar. Data hanya bisa masuk bila faktor kritis atau critical factor dari pikiran sadar berhasil ditembus. Faktor kritis berfungsi sebagai penjaga gerbang penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Cara pertama, melalui informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang sebagai figur otoritas. Kedua, melalui ide dengan muatan emosi yang tinggi. Ketiga, melalui repetisi atau pengulangan. Keempat, melalui identifikasi kelompok atau keluarga. Dan kelima, melalui kondisi pikiran yang rileks atau tenang.

Anak lahir hanya dengan dua rasa takut yaitu takut suara keras dan takut jatuh (tempat yang tinggi). Takut-takut lainnya adalah takut yang dipelajari atau ditanamkan ke dalam diri anak, baik secara sengaja maupun tidak, oleh lingkungannya.

Saat masih kecil, pikiran anak sangat peka, dan berfungsi sebagai spons yang mampu menyerap berbagai pengalaman hidup melalui interaksi dengan lingkungan terutama dengan pengasuh utama. Anak belajar tidak hanya dengan melihat dan mendengar namun juga meniru.

Saya beri contoh fobia kecoa. Saat lahir anak belum punya data mengenai kecoa. Bila jumpa kecoa yang ia lakukan adalah ia akan menangkap kecoa ini, mengamatinya, dan bahkan mungkin akan memasukkannya ke mulut.

Dalam memori anak belum ada data bahwa kecoa adalah serangga yang menjijikkan, menakutkan, mengerikan, kotor, sumber penyakit, harus dihindari, atau kalau perlu dibunuh.

Dari mana anak tahu bahwa kecoa adalah serangga yang menjijikkan?

Semua bermula dari sensitisasi yang ia alami. Misal anak sedang bermain dan tiba-tiba ia melihat kecoa. Tentu kecoa ini menjadi objek yang menarik untuk “dipelajari”. Anak mendekat dan berusaha memegang atau menangkap kecoa.

Melihat ini, ibunya dengan nada keras dan cemas atau jijik akan berkata, “Awas, jangan dipegang. Itu kotor.”

Biasanya si ibu tidak hanya berhenti sampai di sini. Ia akan mengusir atau memukul kecoa hingga mati. Belum lagi mimik wajah dan suaranya yang menunjukkan perasaan jijik atau cemas. Semua ini ditangkap oleh pikiran anak dan masuk ke dalam memorinya.

Sejak kejadian ini anak belajar dan mulai tahu bahwa kecoa adalah serangga yang kotor, menjijikkan, dan harus dihindari. Ini adalah kejadian paling awal yang nantinya akan membuat anak menjadi jijik dengan kecoa. Dalam hipnoterapi kejadian awal ini disebut initial sensitizing event (ISE).

Apakah setelah ini anak akan langsung takut atau jijik dengan kecoa? Biasanya masih belum.

Setelah kejadian ini anak akan lupa mengenai kecoa. Namun data awal ini sudah ada di pikiran bawah sadarnya. Beberapa waktu kemudian misalnya ibunya buka lemari dan berteriak kaget karena ada kecoa.

Anak yang ada di dekat ibunya akan melihat, mendengar, serta menyerap semua kejadian ini dan masuk ke pikiran bawah sadarnya. Bila misalnya si ibu sampai panik maka anak akan menangkap pesan yang sangat kuat bahwa kecoa sungguh berbahaya dan sangat mengganggu.

Pengalaman ini, yang merupakan kejadian lanjutan atau subsequent sensitizing event (SSE) akan memperkuat pengalaman awal (ISE) yang sudah ada di pikiran bawah sadar.

Bila anak berulang kali mengalami sensitisasi yang serupa maka cepat atau lambat ia akan takut atau jijik dengan kecoa walau ia sama sekali tidak punya pengalaman langsung dengan kecoa. Kecemasan yang anak alami merupakan hasil transfer dari kecemasan ibunya.

Yang terjadi sebenarnya suatu perasaan cemas atau jijik atau emosi apapun bukannya diturunkan namun lebih tepatnya anak “diprogram” untuk menjadi cemas, jijik, takut, atau mengalami emosi tertentu terhadap suatu objek atau situasi.

Ada orangtua yang sangat pencemas. Orangtua ini merasa dunia bukanlah tempat yang aman. Perasaan tidak aman ini tercermin dari gerak dan bahasa tubuh, ekspresi wajah, kosakata yang digunakan saat berkomunikasi baik dengan orang di sekitarnya maupun dengan anak, tekanan suara, dan emosi yang ia tampilkan dalam perilaku.

Sekarang mari kita amati kemungkinan yang terjadi pada diri anak bila punya orangtua pencemas mengikuti pemahaman cara kerja pikiran.

Orangtua adalah figur otoritas. Dan apa yang ia katakan pasti akan masuk ke pikiran bawah sadar anak dengan pasti dan mudah. Emosi yang dialami oleh orangtua, perasaan cemas atau takut juga memengaruhi anak. Ia sering-sering menunjukkan perasaan takut dan cemas dan ini juga terus diamati dan diserap oleh anak. Anak yang masih kecil meniru orangtua melalui proses identifikasi. Dan saat masih kecil secara alamiah faktor kritis masih lemah sehingga data apa saja dapat masuk dengan sangat mudah ke pikiran bawah sadar anak. Bila ini terus terjadi, cepat atau lambat, anak pasti “ketularan” perasaan cemas, takut, atau emosi apapun yang dialami orangtuanya.

Seorang kawan saya, sebut saja Ibu Ani, usia sekitar lima puluh tahun, punya kebiasaan yang unik. Bila misalnya ia sedang berada di tempat terbuka dan tiba-tiba turun hujan, tidak usah hujan deras, hujan gerimis saja, maka ia akan langsung panik dan dengan cepat mencari apa saja untuk menutupi kepalanya.

Saat saya tanya mengapa panik ia berkata, “Supaya tidak sakit.” Saya merasa penasaran dengan jawaban ini dan bertanya lagi, “Lho kok bisa kalau kepala kena air hujan bisa sakit?” Ia menjawab, “Sebab waktu kecil mama saya selalu mengatakan hal ini. Dan setiap kali saya kehujanan sedikit saja, khususnya bila rambut saya basah kena air hujan maka saya pasti langsung flu dan pilek.”

Kembali saya bertanya, “Kalau mandi keramas, rambut dan seluruh tubuh Anda basah, Anda sakit nggak?” Dengan tersenyum ia menjawab, “Oh kalau ini tidak.”

Di sini jelas bahwa perasaan cemasnya adalah hasil instalasi atau pemrograman yang dilakukan ibunya.

 

*www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131202_kesehatan_ingatan.shtml

Baca Selengkapnya

Perilaku

5 Desember 2013

Perilaku bisa diturunkan melalui sebuah bentuk ingatan genetis dari pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya, demikian hasil sebuah penelitian terhadap binatang.

Percobaan ini menunjukan bahwa sebuah pengalaman traumatis dapat mempengaruhi DNA pada sperma dan mengubah otak dan perilaku generasi berikutnya.

Riset yang dilakukan Nature Neuroscience melakukan uji coba kepada tikus yang dikondisikan untuk takut kepada bau yang mirip bunga sakura.

Tikus yang kemudian menghindari bau itu ternyata menurunkan perilakunya tersebut kepada cucu-cucunya.

Sebuah tim dari Emory University School of Medicine, di Amerika Serikat, lalu melihat apa yang terjadi di dalam sperma tikus tersebut.

Mereka mengatakan ada sebuah bagian di DNA yang bertanggung jawab atas perilaku sensitif terhadap bau, dan ini lebih aktif bekerja dalam sperma tersebut.

Anak dan cucu tikus terbukti "sangat sensitif" terhadap sakura dan akan menghindari bau itu, walau tidak memiliki pengalaman negatif langsung dalam hidupnya. Perubahan struktur otak juga ditemukan.

 

Penyakit Kecemasan

Pakar menganggap hasil riset ini sangat penting untuk menjelaskan fobia dan penyakit kecemasan pada manusia.

"Pengalaman orangtua, bahkan yang terjadi sebelum kehamilan, ternyata mempengaruhi struktur dan fungsi dalam sistem saraf generasi berikutnya," laporan itu menyimpulkan.

Temuan ini memberikan bukti adanya "warisan epigenetik transgenerasi" - bahwa lingkungan dapat mempengaruhi genetika individu, yang nantinya dapat diwariskan ke anak-anaknya.

Salah satu peneliti Dr Brian Dias mengatakan kepada BBC: "Ini mungkin salah satu mekanisme bahwa keturunan menunjukkan jejak dari nenek moyang mereka.

"Sama sekali tidak ada keraguan bahwa apa yang terjadi pada sperma dan sel telur akan mempengaruhi generasi berikutnya."

Pakar mengatakan hasil ini sangat penting bagi penelitian terhadap fobia dan penyakit kecemasan.

Prof Marcus Pembrey, dari University College London, mengatakan temuan itu "sangat relevan dengan fobia, kecemasan dan gangguan stres pasca-trauma" dan memberikan "bukti kuat" bahwa bentuk ingatan bisa diturunkan antara generasi."

(Sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131202_kesehatan_ingatan.shtml)

 

Catatan AWG:

Pengalaman klinis dan empiris kami membantu klien membuktikan bahwa apa yang terjadi pada anak semasa dalam kandungan berpengaruh signifikan baik terdapat kondisi mental, emosi, perilaku, dan juga fisiknya setelah lahir dan tumbuh kembang menjadi manusia dewasa. 

Baca Selengkapnya

Hipnoterapi Bantu Sembuhkan Psikosomatis

2 Desember 2013

Dalam kondisi fisik sehat, seringkali muncul gejala yang bikin tubuh tidak nyaman. Misalnya kaki yang terasa sakit, kepala terasa pusing, atau mual. Berbagai gejala ini semakin membuat tubuh tak nyaman jika penyebabnya tak diketahui.

Bila kondisi ini terjadi pada Anda, bisa jadi Anda sedang mengalami kondisi psikosomatis, yaitu gangguan pada tubuh akibat kondisi psikologi. Jika sebelumnya sudah ada penyakit dan diperparah gangguan emosi, maka keadaan itu disebut penyakit psikosomatis. 

"Sekitar 90 persen penyakit disebabkan faktor psikogenik, bukan organik. Jadi bisa dikatakan, kondisi psikis mendominasi keadaan tubuh," kata pakar mind technology, Adi W Gunawan mengutip dari The American Academy of Family Physicians. Hal ini disampaikannya pada media workshop bertajuk, Menavigasi Pikiran dengan Hipnoterapi Klinis, di Jakarta, Rabu (13/11/13). 

Sedikitnya ada 15 emosi penyebab  psikosomatis antara lain memori sakit, konflik diri, menghukum diri, masa lalu atau masa kini yang tidak terselesaikan, harga diri yang mengalami trauma, dan empat jenis emosi negatif. 

Yang termasuk emosi negatif  di antaranya rasa malu, bersalah, marah, dan takut. Rasa marah meliputi jengkel, benci, dendam, frustasi, sakit hati, dan tersinggung. Rasa malu, menurut Adi, adalah emosi destruktif penyebab penyakit psikosomatis paling besar. Malu juga bisa menyulut tiga emosi lainnya. 

Lantas, bagaimana emosi bisa menyebabkan psikosomatis ? 

"Emosi bisa diumpamakan api dari berbagai pengalaman, yang membakar tungku penuh air. Seharusnya uap air hasil pemanasan bisa keluar. Namun hal ini tidak terjadi pada tungku yang ditutup," kata Adi.

Adi menjelaskan perumpamaan ini. Pada tungku yang ditutup, uap air tidak bisa keluar sempurna. Akibatnya uap tertahan dan bisa mengakibatkan tungku pecah karena terlalu panas. Hal yang sama terjadi pada emosi yang terus ditahan dan tidak bisa dilepas. Kondisi ini tentu berbahaya karena bisa mengakibatkan penderitanya bunuh diri. 

"Adanya gejala psikosomatis sebetulnya lebih baik dibanding bila tidak ada gejala apa pun. Dengan adanya gejala, maka penyakit lebih cepat diketahui dan hipnoterapi bisa segera dilakukan," kata Adi. 

Hipnoterapi memungkinkan terapis menggali pengalaman masa lalunya untuk mengetahui penyebab psikosomatis. Kendati begitu, penyembuhan psikosomatis tidak semata bergantung pada terapis. Penyelesaian ini membutuhkan kerjasama dan kemauan klien, terutama untuk mengizinkan terapis membuka masa lalunya dalam keadaan rileks sangat dalam yang disebut somnambulis. Klien harus menuntun teknisi ke masa saat gejala psikosomatis terjadi. Selanjutnya klien akan mendengarkan arahan teknisi, untuk menyelesaikan apa yang terjadi sebelum gejala psikosomatis muncul. 

Menurut Adi, hipnoterapi memiliki persentase kesembuhan tertinggi dibanding psikoanalisa dan terapi perilaku. Hipnoterapi memiliki persentase kesembuhan 93 persen setelah enam sesi terapi. Angka ini lebih tinggi dibanding psikoanalisa sebesar 38 persen dari 600 sesi terapi, dan terapi perilaku sebesar 72 persen dari 22 sesi terapi. 

Kendati begitu Adi mengingatkan, hipnoterapi adalah terapi komplemen atau pelengkap. Terapi utama tetaplah medis yang hanya bisa dilakukan dokter, melalui pemeriksaan dan pemberian resep obat. Hipnoterapi adalah terapi penunjang sehingga kesembuhan pasien tercapai sepenuhnya.

(sumber: http://health.kompas.com/read/2013/11/14/0858559/Hipnoterapi.Bantu.Sembuhkan.Psikosomatis)


Baca Selengkapnya

Perlunya Belajar Dari Sumber yang Akurat

15 November 2013

Ada rekan yang bertanya pada saya, "Pak Adi, saya ada baca tulisan seseorang yang mengatakan bahwa hipnosis/hipnoterapi ini adalah semacam sulap tanpa trik alias bohong, bukan science tapi science fiction, dan banyak pernyataan lain yang menjelekkan hipnosis/hipnoterapi. Bagaimana tanggapan Bapak?" 

"Ah.. biasa aja," jawab saya. 

"Lho, bapak tidak marah atau tersinggung?" tanya rekan ini lagi. 

"Nggak," jawab saya. 

"Pernyataannya juga menyebut nama bapak dan beberapa nama trainer dan praktisi hipnosis/hipnoterapi di Indonesia. Kalau bapak tidak marah atau tersinggung, bisa jelaskan alasannya?" kejar rekan ini dengan penasaran. 

Pemahaman masyarakat mengenai hipnosis/hipnoterapi tentunya sangat beragam bergantung dari data atau informasi yang ia miliki. 

Sudah tentu kita perlu memaklumi bila ada orang yang bersikeras mengatakan hipnosis/hipnoterapi ini bohong, tidak benar, hanya tipuan belaka, tidak ilmiah, dsb. Semua ini menjelaskan pemahaman orang yang membuat pernyataan. 

Saya ingat dulu waktu di awal karir saya sebagai hipnoterapis dan trainer, saya banyak mendapat pertanyaan, "Apa hipnosis/hipnoterapi menggunakan kuasa gelap atau magic?" 

Saat ini sudah sangat jarang saya jumpai masyarakat yang mengajukan pertanyaan ini. Setiap hari saya menangani klien dengan beragam masalah. Dan klien-klien ini sudah punya pemahaman yang memadai mengenai hipnosis/hipnoterapi. 

Ini semua berkat edukasi yang terus dilakukan oleh para trainer, praktisi, dan pemerhati hipnosis/hipnoterapi baik melalui pelatihan, artikel di blog/web, siaran radio atau televisi, buku, dll. 

Memahami hipnosis/hipnoterapi secara benar tentu perlu waktu. Sumber informasi yang dijadikan acuan juga harus benar-benar valid. Banyak yang "tahu" hipnosis/hipnoterapi hanya melalui televisi yang menunjukkan stage hypnosis atau hipnosis untuk hiburan. Dari sini, orang yang salah belajar ini, melakukan generalisasi dan haqul yaqin itulah hipnosis/hipnoterapi. 

Ada lagi yang "belajar" hanya dari membaca majalah atau koran, atau mendengar dari rekannya yang juga tidak mengerti hipnosis/hipnoterapi. 

Ada lagi yang belajar dari buku-buku. Dan yang "keren" adalah yang belajar dari Google. Saking hebatnya "menguasai" hipnosis/hipnoterapi melalui Google, ia mendapat gelar khusus, yang membuat iri para trainer hipnoterapi top di Indonesia karena tidak punya gelar ini, yaitu G.CHt alias Google Certified Hypnotherapist... :)). 

Sumber informasi paling akurat adalah jurnal yang berisi hasil riset di bidang hipnosis/hipnoterapi. Beberapa jurnal yang dijadikan acuan belajar antara lain:

  • International Journal Of Clinical & Experimental Hypnosis
  • The European Journal of Clinical Hypnosis
  • American Journal of Clinical Hypnosis
  • The Australian Journal of Clinical Hypnotherapy & Hypnosis

Selain jurnal, kita juga bisa menggunakan text book terbitan universitas ternama sebagai acuan kita.

Hipnosis/hipnoterapi telah diterima dan diakui oleh British Medical Association thn 1955, American Medical Association thn 1958, dan oleh American Psychological Association (APA) di thn 1960. Hipnosis untuk aplikasi klinis adalah divisi ke 30, dari total 56 divisi yang ada di APA saat ini. 

Jadi, daripada berdebat dengan orang yang belum mengerti, menghabiskan waktu dan energi, saya lebih memilih fokus menulis artikel, melakukan riset, dan membantu klien mengatasi masalah mereka. 

Saya juga ingat beberapa tahun lalu seorang sahabat karib saya menelpon saya dan berkata, "Pak Adi, Anda jangan sembarangan mengajarkan ilmu sesat. Ini bertentangan dengan agama. Segeralah kembali ke jalan yang benar." 

"Lho, saya ini sudah kembali ke jalan yang benar. Itu sebabnya saya menulis buku hipnosis, hipnoterapi, dan memberi pelatihan hipnoterapi. Dulu saya tersesat karena berpikir dan yakin hipnosis/hinoterapi adalah ilmu sesat," jawab saya.

Sahabat ini rupanya mendengar saya mempraktikkan hipnoterapi dan juga menulis buku. Jadi ia bermaksud baik ingin "menyelamatkan" saya agar bisa kembali ke jalan yang benar. 

"Saya ini praktisi dan juga penulis buku. Tentu saya sangat menguasai materi ini. Bila ingin diskusi dengan saya mengenai topik hipnosis/hipnoterapi, minimal Anda punya pengetahuan yang cukup. Apakah Anda sudah baca buku saya?" tanya saya.

"Belum," jawab sahabat ini. 

Saya katakan, "Ini saya beri 20 judul buku terbitan luar negeri dan juga jurnal hipnosis/hipnoterapi. Anda beli dan baca semuanya. Pahami dengan benar isinya, baru setelah itu kita jumpa untuk diskusi." 

Sekarang sahabat ini berhasil saya sesatkan ke jalan yang benar. Ia kini adalah penggemar hipnosis/hipnoterapi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia pikiran.

Baca Selengkapnya

Anak Penurut yang Tidak Menurut

14 November 2013

Beberapa hari lalu, rekan sejawat saya Ibu Ratih Mestikawati CCH., mengunjungi AWG Institute. Beliau tinggal di Malang, kebetulan ada acara di Surabaya dan menyempatkan diri bertemu saya untuk mendiskusikan beberapa hal.

Salah satu topik yang disampaikan pada saya adalah mengenai pengalaman Beliau menangani beberapa kasus klien anak. Saya menyimak dengan penuh antusias penjelasan Ibu Ratih karena memang sangat menarik. Atas ijin Beliau saya meringkas diskusi kami dan menuliskannya menjadi artikel ini agar dapat menjadi pembelajaran bersama, khususnya para orangtua.

Kasus pertama adalah anak laki usia 4 tahun, sebut saja sebagai Didik, yang kalau makan sukanya mengemut makanan. Didik makannya lama sekali karena makanan tidak dikunyah tapi disimpan di dalam mulut untuk waktu yang lama. Bila ini berlangsung terus menerus pasti akan memengaruhi kesehatan giginya.

Semula kedua orangtua Didik ingin terapis langsung menerapi si anak. Permintaan ini tidak dikabulkan karena dari pengalaman selama ini masalah anak selalu bersumber pada orangtua atau pengasuh utama.

Kedua orangtua diminta hadir jumpa terapis untuk sesi wawancara dan konseling. Dalam sesi ini terapis menggali informasi mengenai pola asuh di rumah, siapa pengasuh utama si anak, interaksi anak dan orangtua, serta komunikasi. Dari sini akhirnya diketahui penyebab Didik suka mengemut makanan.

Si ayah kerja di luar kota dan sering menelpon ke rumah. Setiap kali menelpon ke rumah selalu mengajak bicara si anak. Ayah selalu berpesan kepada Didik, “Mas… kalau makan jangan diemut ya.” Pesan ini yang selalu disampaikan ayah kepada Didik.

Selain ayah, ibu setiap kali menyuap Didik selalu didahului dengan pesan, “Mas… kalau makan jangan diemut.” Ini juga terjadi berkali-kali.

Yang terjadi adalah Didik kalau makan sukanya diemut, lama sekali. Mengetahui hal ini terapis meminta kedua orangtua Didik mengubah semantik yang digunakan saat berkomunikasi dengan anaknya.

Kebiasaan mengemut makanan yang Didik lakukan terjadi karena dua hal. Pertama, kedua orangtuanya, sadar atau tidak, telah memberi sugesti kepada Didik untuk mengemut makanan.

Lha, kok bisa?

Anak usia 4 tahun dominan beroperasi di level pikiran bawah sadar. Dalam dunia hipnoterapi dikenal istilah pharsing yaitu kecenderungan pikiran bawah sadar untuk menolak kata yang bersifat negasi seperti “tidak” atau “jangan”. Jadi, saat Didik mendengar kata “jangan diemut” maka pikiran bawah sadarnya menegasi kata “jangan” sehingga yang diterima dan dijalankan hanyalah “diemut”. Dan memang inilah yang terjadi.

Kedua, Didik sama sekali tidak punya data bahwa kalau makan perlu dikunyah lalu ditelan. Terapis menyarankan ibu Didik mensugestikan, “Mas… kalau makan… setelah makanan masuk ke dalam mulut, makanannya dikunyah. Kalau sudah halus.. makanannya ditelan masuk ke dalam perut.”

Selang beberapa hari kemudian ibu Didik menghubungi terapis dan mengatakan bahwa Didik sudah berubah, kalau makan tidak ladi diemut, makanan langsung dikunyah dan ditelan seperti yang diinginkan orangtua.

Kasus kedua mengenai anak laki usia 3 tahun, Aan, yang pipis sembarangan. Saat ingin pipis, Aan langsung saja melakukannya tanpa peduli tempat. Aan bisa pipis di teras, di tembok, di tengah ruangan, atau di mana saja. Terapis bertanya pada ayah Aan, “Pak, kalau Aan kencing sembarangan, apa yang bapak katakan padanya?”

“Jangan pipis di situ,” jawab si ayah.

“Apakah Aan nurut sama perintah bapak?” kejar terapis.

“Ya, Aan nurut,” jawab si ayah lagi.

“Lain kali, kalau Aan pipis sembarangan lagi, apa yang bapak katakan?” tanya terapis.

“Jangan pipis di situ,” jawab si ayah.

Di sini tampak bahwa si ayah hanya bisa melarang tapi tidak pernah mengajari anaknya secara benar. Saat dijelaskan mengenai hal ini, si ayah berkata, “Lha, masa begini saja tidak tahu. Kalau pipis ya ke kamar kecil.”

Lho, ini anak kecil 3 tahun tentu tidak punya pengetahuan bahwa pipis tidak boleh sembarangan. Terapis menjelaskan mengenai pentingnya orangtua tidak hanya melarang tapi juga memberi solusi. Bila anak selalu dilarang pipis di teras maka ia akan pindah ke tempat lain, misalnya kamar. Kalau dilarang pipis di kamar, anak pindah ke pagar. Kalau dilarang pipis di pagar maka anak akan pindah ke tembok.

Yang benar adalah orangtua memberi arahan dan bimbingan, “Nak, jangan pipis sembarangan. Kalau pipis harus di dalam kamar kecil. Sini papa antar ya.”

Kasus ketiga mengenai seorang ibu yang mengeluh ketiga anaknya, SD kelas 6,4, dan 3, yang sering terlambat bangun (bangun siang), kamar berantakan tidak pernah dirapikan, buku sekolah sering ketinggalan, tidak belajar dan PR sering tidak dikerjakan.

Seperti biasa, untuk kasus anak, orangtua diminta datang jumpa terapis. Dari sesi wawancara diketahui bahwa di rumah tidak ada pembantu dan si ibu adalah pengasuh utama ketiga anaknya.

Kali ini terapis meminta si ibu pulang dan melakukan satu tugas khusus. Apa itu? Si ibu harus mencatat apa saja yang ia katakan pada anak-anaknya mulai pagi hari sampai malam saat menjelang tidur.

Beberapa hari kemudian si ibu datang lagi menghadap terapis dan menyerahkan tugasnya. Saat membaca apa yang ia tulis, terapis tersenyum lebar. Apa pasal?

Ternyata si ibu menulis “Kalian ini memang suka telatan”, “Bangun jangan siang-siang”, “Kamar kok selalu berantakan, “ Buku mesti ketinggalan”, “Mesti sukanya nonton tv”, “Tidak pernah belajar”, “PR tidak dibuat”.

Terapis mengajari si ibu untuk mengubah kata-kata yang digunakan dalam komunikasi dengan anak. Si ibu diminta mengubah semua kalimat negatif ini menjadi kalimat positif. Katakan apa yang Anda inginkan terjadi, bukan yang tidak anda inginkan.

Misalnya “Bangun jangan siang-siang” diganti dengan “Bangun pagi jam 06.00”. Kalimat “Kamar kok selalu berantakan” diganti menjadi “Rapikan kamar kalian”. “Buku mesti ketinggalan” menjadi “Ingat bawa buku”. “Tidak pernah belajar” diganti menjadi “Suka belajar”, “PR tidak dibuat” menjadi “Suka buat PR”.

Hanya dalam waktu empat hari si ibu menghubungi terapis dan mengabarkan bahwa anak-anaknya berubah total. Namun ia mengeluh bahwa sulit untuk bisa terus menggunakan kalimat positif. Ia ingin kembali ke kebiasaan lamanya.

Terapis mengatakan bahwa ini adalah pilihannya. Kalau kembali menggunakan kalimat negatif maka anak-anaknya akan kembali seperti dulu.

Kasus keempat mengenai seorang ibu yang mengeluh anaknya, Budi, tidak berani masuk sendiri ke dalam kelas. Anak ibu ini baru masuk TK. Setiap hari Budi minta diantar ibunya. Saat sudah di depan kelas Budi menarik-narik baju ibunya dan minta ditemani.

Terapis bertanya, “Kalau Budi menarik baju ibu dan minta ditemani di dalam kelas, apa yang ibu katakan?”

Saya bilang, “Aduh Bud… kamu kok penakut sih. Nempel terus sama mama kayak perangko.”

Sama seperti kasus anak pipis sembarangan di atas. Orangtua seringkali berpikir anak harusnya mengerti kalau masuk kelas ya masuk sendiri, tidak perlu ditemani.

Hanya dalam waktu tiga hari masalah Budi dengan mudah diselesaikan. Terapis meminta si ibu berhenti berkata “Aduh Bud… kamu kok penakut sih. Nempel terus sama mama kayak perangko” dan menggantikannya dengan “Budi anak pintar dan berani. Sana masuk ke dalam kelas sendirian dan duduk seperti teman-teman lainnya ya.”

Pembaca, contoh kasus di atas menunjukkan betapa pentingnya semantik yang digunakan orangtua dalam berkomunikasi dengan anak. Semantik yang kita gunakan berlaku sebagai sugesti bagi anak. Saat masih kecil faktor kritis pikiran sadar masih sangat lemah atau baru terbentuk. Dengan demikian, apapun yang kita katakan pada anak, tidak dapat disaring, dan pasti langsung masuk ke pikiran bawah sadarnya, serta dilaksanakan dengan patuh.

Jadi, cerdas dan bijaklah dalam memilih kata agar anak menuruti apa yang kita ingin ia turuti, bukan apa yang kita tidak ingin ia turuti.

Baca Selengkapnya
Tampilan : Thumbnail List