The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
“Pak Adi, saya ada masalah dan mau terapi sama bapak. Tapi saya tidak bisa dihipnosis. Apa Pak Adi bisa menerapi saya dengan kondisi seperti ini?” begitu bunyi pesan yang saya terima di inbox.
“Dari mana Anda tahu bahwa Anda tidak bisa dihipnosis?” tanya saya.
“Saya sudah ke tiga hipnoterapis. Mereka semua sudah mencoba berbagai cara untuk menghipnosis saya. Tidak ada yang berhasil. Terapis terakhir yang bilang kalau saya ini tipe klien yang tidak bisa dihipnosis” jawabnya.
Pembaca, apakah benar ada tipe klien yang tidak bisa dihipnosis?
Dari literatur yang saya pelajari, SHSS (Standford Hypnotic Susceptibility Scale) berdasar riset Ernest Hilgard, menyatakan secara umum manusia dibagi menjadi tiga kelompok, dalam konteks sugestibilitas, yaitu yang mudah dihipnosis 10%, moderat 85%, dan yang sulit 10%.
Sedangkan riset yang dilakukan oleh Dr. John Kappas menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi dua tipe sugestibilitas yaitu 40% physical suggestibility dan 60% emotional suggestibility. Masih ada sub kategori dari emotional suggestibility, yang dinamakan intellectual suggestibility dan ini mewakili sekitar 5% populasi. Orang tipe intellectually suggestible adalah individu yang sangat kritis dan selalu menuntut penjelasan yang detil mengenai segala sesuatu.
Berdasar data riset di atas dan pengalaman praktik selama ini saya menyimpulkan bahwa semua orang pada dasarnya bisa dihipnosis. Dengan demikian hipnoterapis yang menyatakan bahwa klien tidak bisa dihipnosis adalah pernyataan yang tidak tepat.
Beberapa kali saya bertemu dengan klien yang menyatakan bahwa mereka tidak bisa dihipnosis. Untuk bisa menghipnosis klien ini saya perlu menetralisir “sugesti” yang diberikan oleh terapis sebelumnya yang menyatakan klien tidak bisa dihiposis. Klien yang semula yakin bahwa mereka tidak bisa dihipnosis, setelah mendapat penjelasan yang benar mengenai proses hipnosis, dapat dengan begitu mudah dan cepat masuk ke kondisi hipnosis yang sangat dalam.
Lalu, apa yang salah dengan proses hipnosis yang ia alami sebelumnya? Saya tidak bisa komentar karena tidak tahu persis apa yang terjadi di ruang terapi saat klien ini dihipnosis.
Apakah ini disebabkan oleh terapis yang tidak cakap? Belum tentu. Ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan induksi.
Untuk dapat lebih memahami penjelasan saya selanjutnya terlebih dulu saya akan menjelaskan apa itu induksi.
Induksi adalah proses yang dilakukan oleh hipnoterapis untuk membantu klien berpindah dari kondisi kesadaran normal ke kondisi relaksasi pikiran yang dalam atau kondisi hipnosis. Hal ini tampak dari pergesesan pola gelombang otak yang semula dominan beta menjadi dominan alfa, theta, dan delta.
Induksi adalah proses yang melibatkan dua pihak, hipnoterapis dan klien. Ada syarat yang harus dipenuhi baik oleh hipnoterapis maupun klien agar induksi dapat berjalan lancar dan mencapai hasil seperti yang diharapkan.
Induksi terbagi atas tiga tahap. Setiap tahap ini harus dijalani dengan baik. Kegagalan di satu tahap mengakibatkan tahap berikutnya tidak dapat dijalankan dengan hasil yang optimal.
Tahap satu, hipnoterapis harus memastikan bahwa klien, pada level pikiran sadar dan bawah sadar, bersedia menjalani proses induksi. Satu hal penting dalam tahap ini yaitu dalam diri klien tidak boleh ada perasaan takut atau mispersepsi tentang hipnosis.
Tahap dua, hipnoterapis meningkatkan imajinasi dan pengharapan mental klien. Hal ini penting dan sejalan dengan hukum mental yang menyatakan bahwa apa yang diharapkan terjadi oleh pikiran cenderung akan diwujudkan oleh pikiran.
Tahap satu dan dua bertujuan untuk mendapatkan hypnotic contract yang akan digunakan di tahap tiga yaitu membimbing klien masuk ke kondisi hipnosis.
Di atas saya menyatakan ada banyak faktor yang mempengaruhi proses dan menentukan hasil induksi. Hasil induksi akan tampak dari kedalaman hipnosis yang berhasil dicapai oleh klien.
Walau ada cukup banyak faktor yang mempengaruhi keefektivan induksi namun dapat dibagi menjadi dua komponen besar, faktor klien dan terapis.
Faktor dalam diri klien yang mempengaruhi keefektivan induksi antara lain niat, motivasi, keikhlasan untuk dihipnosis (mengijinkan atau tidak), kepercayaan pada hipnoterapis, tingkat kecerdasan, level pendidikan, pemahaman bahasa, ada atau tidak rasa takut, bersedia tidak menganalisis, dan resistensi. Dari riset yang dilakukan di Adi W. Gunawan Insititue kami menemukan ada enam belas jenis resistensi dalam diri klien yang dapat menghambat induksi.
Sedangkan faktor dalam diri terapis antara lain conscious dan hypnotic rapport yang terjalin dengan klien, tingkat rasa percaya diri, niat, keterampilan melakukan induksi, ragam teknik induksi yang dikuasai, postur, level otoritas hipnoterapis di mata klien, dan kemampuan komunikasi yang baik, dan kemampuan menurunkan gelombang otak secara sadar masuk ke kondisi yang rileks saat melakukan induksi.
Seringkali klien yang sebenarnya sudah berhasil masuk ke kondisi hipnosis yang dalam tetap merasa belum masuk. Hal ini disebabkan karena pemahaman klien tentang kondisi hipnosis salah atau kurang tepat dan hipnoterapis tidak menyediakan cukup waktu menjelaskan informasi yang benar pada klien. Pandangan klien pada umumnya tentang hipnosis adalah mereka akan tertidur atau tidak sadarkan diri, dan tidak bisa mendengar suara apapun. Jadi saat mereka masih bisa mendengar atau sadar, walaupun sebenarnya sudah masuk sangat dalam / rileks, mereka tetap merasa belum berhasil dihipnosi.
Pandangan yang salah lainnya yaitu klien berpikir hipnosis adalah sesuatu yang dilakukan terapis kepada diri mereka. Yang benar, induksi adalah proses yang melibatkan dua pihak. Terapis membimbing dan klien menjalankan bimbingan.Jadi, induksi sebenarnya adalah apa yang klien lakukan pada diri mereka sendiri dengan mengikuti bimbingan terapis.
Hipnoterapis umumnya juga tidak dapat menjelaskan dan meyakinkan kliennya bahwa klien telah masuk kondisi hipnosis karena ia tidak memahami level kedalaman hipnosis beserta fenomena yang bisa terjadi di setiap level kedalaman, baik di aspek fisik maupun mental.
Terapis, sejauh pengamatan saya, jarang melakukan uji kedalaman atau trance ratification. Ada tiga alasan. Pertama, mereka khawatir bila uji kedalaman dilakukan dan ternyata tidak berhasil maka ini akan sangat memalukan. Kedua, mereka tidak tahu cara melakukannya. Ketiga, mereka tidak merasa perlu melakukannya.
Hipnoterapis lebih sering menggunakan teknik induksi progressive relaxation (PR). Nama progressive relaxation sebenarnya kurang tepat. Yang benar adalah fractionated relaxation.
Alasan kebanyakan hipnoterapis menggunakan PR adalah karena:
•teknik ini paling mudah dilakukan karena tinggal membaca script.
•tidak perlu menyentuh klien.
•tidak perlu melakukan uji kedalaman (trance ratification).
•hipnoterapis berpikir bahwa relaksasi fisik adalah indikasi kondisi hipnosis, padahal tidak. Yang benar hipnosis adalah rileksasi pikiran.
Teknik PR tidak cocok untuk semua tipe klien. PR hanya cocok untuk klien tipe physically suggestible. Ini juga salah satu faktor yang menyebabkan klien sulit masuk kondisi hipnosis yaitu teknik induksinya tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas.
Kecakapan melakukan induksi hanya bisa diperoleh melalui latihan dan tidak bisa dengan membaca buku saja. Mengerti teknik induksi adalah satu hal. Mempraktikkan teknik induksi adalah hal lain.
Dalam proses induksi, saat klien sudah duduk di kursi terapi dan menutup mata, maka satu-satunya alat yang dimiliki oleh terapis untuk membimbing dan mempengaruhi klien masuk ke kondisi hipnosis adalah kemampuan komunikasi verbal.
Dalam buku Silent Message karya Albert Mehrabian dikatakan bahwa manusia berkomunikasi dengan menggunakan tiga komponen.Tiga komponen ini adalah kata yang digunakan, nada suara atau intonasi nada saat mengucapkan kata-kata tersebut, dan bagaimana kita menggunakan ekspresi wajah bahasa tubuh untuk menegaskan apa yang kita sampaikan.
Dari ketiga komponen ini ternyata pemilihan kata menempati urutan paling kecil dalam hal keefektivan, yaitu hanya 7%. Nada suara atau intonasi menempati urutan kedua, yaitu sebesar 38%, dan yang paling besar pengaruhnya adalah ekspresi wajah dan bahasa tubuh, yaitu sebesar 55%.
Saat klien menutup mata maka ia tidak bisa melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh terapis. Dengan demikian terapis hanya bisa mengandalkan penggunaan nada suara atau intonasi dan pemilihan kata atau semantik. Untuk itu hipnoterapis perlu berlatih terus menerus sehingga bisa merasakan dan menemukan pola yang tepat untuk melakukan indukasi yang efektif.
Di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy saya mengajarkan 10 teknik dasar induksi. Semua teknik induksi yang ada dalam dunia hipnoterapi bila diteliti dengan cermat pasti menggunakan satu atau kombinasi dari beberapa teknik dasar induksi ini.
Berikut saya jelaskan enam teknik dasar induksi seperti yang saya tulis di buku Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring:
1.Eye Fixation (Fiksasi mata)
Yang dimaksud dengan fiksasi mata adalah klien diminta untuk menatap dengan pandangan yang terfokus pada suatu objek. Objek yang digunakan bisa berupa satu titik pandang, cahaya lilin, ujung jari kelingking, atau apa saja, yang bila mata fokus memandang, akan membuat mata lelah. Teknik fiksasi mata bertujuan untuk membuat pikiran sadar menjadi bosan sehingga lengah.
2. Relaxation or Fatique of Nervous System (Relaksasi atau kelelahan Sistem Syaraf)
Semua teknik induksi yang meminta klien untuk rileks secara fisik dan mental, dengan mata tertutup, menggunakan relaksasi sebagai dasar untuk induksi, termasuk teknik relaksasi progresif dan induksi Ericksonian yang menggunakan cerita.
Relaksasi progresif adalah relaksasi fisik yang sistematis, yang dimulai dari bagian atas tubuh misalnya dari kepala kemudian turun ke kaki, atau bisa juga dilakukan dari arah sebaliknya, yang disertai dengan sugesti dan atau visualisasi yang bertujuan untuk memperdalam kondisi rileks. Relaksasi dapat diulangi hingga tubuh telah benar-benar rileks, yang mengakiatkan pikiran juga sangat rileks sehingga dapat menghasilkan kondisi trance yang diinginkan.
Sedangkan Eriksonian adalah bentuk hipnosis yang menggunakan metafora dan menggunakan kondisi fisik klien saat relaksasi terjadi, sebagai masukan agar klien dapat masuk ke dalam trance. Misalnya: “Dan saya melihat napas anda semakin lambat dan berat yang berarti anda semakin masuk ke dalam kondisi rileks yang dalam
3.Mental Confusion (Membingungkan Pikiran)
Setiap teknik yang dirancang untuk membingungkan dan membuat lengah pikiran sadar dapat membuat klien masuk ke kondisi hipnosis (trance). Saat pikiran sadar sibuk memikirkan makna dari apa yang diucapkan atau dilakukan oleh terapis, pikiran sadar menjadi lengah. Dengan demikian terapis dapat memberikan sugesti yang langsung masuk ke pikiran bawah sadar.
Cara lain adalah dengan memberikan banyak input secara bersamaan sehingga pikiran sadar tidak sanggup mengatasi banjir informasi (information overload).
4.Mental Misdirection (Menyesatkan pikiran)
Mental misdirection adalah adalah teknik induksi yang menggunakan respon fisik tertentu terhadap sesuatu yang diimajinasikan.Teknik ini menggunakan uji sugestibilitas sebagai sarana untuk membawa klien masuk ke kondisi hipnosis. Contohnya adalah dengan menggunakan teknik eye catalepsy yaitu dengan meminta klien menutup mata dan menggerakkan bola mata ke atas, ke arah ubun-ubun.
Selanjutnya klien disugesti bahwa ia tidak dapat membuka matanya, dan saat klien tidak dapat membuka mata maka klien merasa telah masuk ke kondisi hipnosis. Jika klien dapat membuka matanya, maka terapis harus cepat menggunakan teknik lain tanpa perlu menjelaskan apa yang telah terjadi.
5.Loss of Equilibrium (Kehilangan keseimbangan)
Teknik Loss of Equilibirum adalah teknik yang dilakukan sambil menggerakkan sebagian atau seluruh tubuh klien. Para ibu sering menggunakan teknik ini saat mengayun-ayun anaknya agar tidur.
Contoh lain adalah orang yang duduk di kursi goyang, yang bila menggoyang-goyangkan kursinya, akan semakin rileks dan akhirnya akan tertidur.
6.Shock to Nervous System (Kejutan pada sistem syaraf)
Ada dua cara yang digunakan untuk dapat secara cepat mengalihkan pengawasan pikiran sadar terhadap pintu gerbang bawah sadar. Bila ini berhasil dilakukan maka pikiran bawah sadar akan dapat diakses dengan cepat dan leluasa. Cara pertama adalah dengan membuat pikiran sadar menjadi bosan ( misalnya dengan Eriksonian dan Relaksasi progresif) dan yang kedua adalah membuat pikiran sadar ”kaget”.
Caranya adalah dengan memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka sehingga pikiran sadar, untuk sesaat, menjadi bingung karena berusaha mencari makna dari kejadian itu. Pada saat pikiran sadar ”kaget” maka pintu gerbang bawah sadar terbuka untuk sesaat, karena penjaganya sedang lengah, dan pada saat itu dapat dimasukkan sugesti ke dalam pikiran bawah sadar. Sugesti yang dimasukkan bisa berupa perintah agar klien menjadi rileks.
Teknik induksi yang menggunakan kejutan pada sistem syaraf biasa disebut juga dengan teknik induksi cepat. Teknik ini bila dilakukan dengan tepat dan efektif, akan dapat membawa klien masuk ke kondisi hipnosis yang dalam dalam waktu sangat singkat.
Semua orangtua ingin anak-anaknya nanti kelak menjadi orang sukses. Untuk itu orangtua sibuk menyiapkan anak dengan memberi pendidikan formal (baca: sekolah), dan juga pendidikan informal (baca: les) terbaik yang bisa mereka dapatkan untuk anak.
Ini semua tentu sangat baik untuk anak. Dan yang perlu disadari orangtua yaitu masih ada satu lagi bentuk pendidikan yang justru paling penting dari semuanya yaitu pendidikan nonformal atau pendidikan keluarga di rumah.
Sukses dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dipelajari di rumah, bukan di sekolah atau tempat les. Orangtua seringkali, saking sibuknya atau tidak peduli atau malas atau abai atau memang tidak mengerti, lupa mendidik anak-anak mereka hal-hal yang tampak kecil namun sangat penting sebagai fondasi kebiasaan sukses anak di masa depan.
Apa saja hal-hal kecil yang orangtua jaman sekarang "lupa” atau tidak ajarkan pada anak-anak mereka?
Berikut beberapa hal yang saya temukan:
- orangtua tidak mengajari anak delayed gratification atau kecakapan, keterampilan, dan kekuatan mental untuk menunda kenikmatan agar memperoleh hasil yang lebih besar. Anak-anak jaman sekarang hidup pemenuhan keinginan, bukan kebutuhan, yang instan.
Dari pengamatan saya sejauh ini seringkali orangtua yang sibuk dan tidak bisa memberi waktu dan perhatian yang dibutuhkan anak cenderung “menebus” rasa bersalah dengan memberikan anak benda, materi, liburan, atau uang, yang sebenarnya tidak anak butuhkan.
- orangtua tidak mengajari anak keterampilan komunikasi yang baik. Banyak yang berpikir bahwa dengan anak bisa bicara maka anak secara otomatis terampil berkomunikasi. Kemampuan komunikasi ini antara lain meliputi kemampuan mendengar dengan fokus dan empati, menganalisis, memahami, dan memberi respon yang sesuai. Menguasai bahasa adalah satu hal. Mampu berkomunikasi dengan terampil adalah hal lain.
- Orangtua tidak mengajari anak etos kerja yang baik. Anak kurang didorong, didukung, dan diarahkan untuk melakukan kerja keras dan cerdas. Hal ini akan tampak dalam diri anak yang mudah putus asa, mudah menyerah, tidak mau susah, mau mudahnya saja, dan komitmen dan keterikatan pada tugas yang rendah.
- Orangtua tidak mengajari anak untuk mandiri. Kemandirian bukanlah sesuatu yang diberikan kepada anak. Kemandirian tidak bisa diperoleh secara instan. Kemandirian adalah satu kebiasaan yang dibangun oleh anak melalui tindakan yang berulang.
Satu contoh kejadian yang tidak mendidik anak untuk mandiri adalah orangtua atau pembantu atau pengasuh anak melakukan atau mengerjakan sesuatu untuk anak padahal sebenarnya anak bisa melakukannya sendiri. Misalnya mengambil makanan, merapikan tempat tidur, meletakkan tas atau sepatu di tempatnya, menyiapkan buku pelajaran, membawa tas sekolah, memasang tali sepatu, dan masih banyak contoh lainnya. Intinya, anak tidak diberi kesempatan melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa ia lakukan. Dengan demikian anak merasa dirinya tidak mampu. Ini mengakibatkan anak tidak mandiri.
- Orangtua, sering secara tidak sadar atau sengaja, memaksa anak bersikap tidak jujur. Hal ini tampak, antara lain, saat orangtua mengerjakan tugas atau projek sekolah anaknya; saat ada yang menelpon dan orangtua meminta anak menjawab bahwa mereka tidak ada di rumah; orangtua terlalu keras menghukum anak sehingga anak cenderung berbohong agar terhindar dari hukuman; meminta anak berbohong pada guru bahwa jalanan macet sehingga anak telat tiba di sekolah padahal yang sebenarnya terjadi adalah orangtuanya bangun kesiangan atau mampir di super market terlalu lama.
- Orangtua tidak mendorong dan mendukung anak untuk menjadi pribadi yang kompetitif, terutama dengan diri anak sendiri. Atas nama sayang atau cinta, orangtua enggan mendorong anak untuk berani meningkatkan standar pencapaian.
- Orangtua tidak mengajari dan mendorong anak untuk berani mengambil risiko. Sudah tentu risiko untuk ukuran anak adalah membuat pilihan dengan konsekuensi yang logis dan terukur di mana anak bisa saja merasa kecewa, sedih, atau menyesal bila ternyata ia salah dalam membuat keputusan. Sebaliknya anak bisa merasa senang, bahagia, dan semangat saat mengetahui keputusannya benar. Orangtua yang baik adalah mereka yang memberi anak ruang untuk berbuat salah.
Salah satu contoh risiko adalah dengan mendorong anak mengikuti kompetisi tertentu. Di sini sudah tentu ada kemungkinan menang atau tidak menang. Risiko dipandang sebagai bagian dari proses tumbuh kembang untuk menjadi pribadi yang sehat.
- Orangtua tidak mengajari anak untuk mengenali dan mengelola emosinya. Orangtua yang protektif cenderung untuk membuat hidup anak selalu nyaman dan terhindar dari berbagai perasaan tidak nyaman atau emosi negatif. Termasuk dalam pengelolaan emosi adalah kemampuan mengatasi emosi negatif, kecakapan memberi respon terhadap kritik baik oleh orang lain atau yang dilakukan oleh diri sendiri.
Kecakapan mengelola emosi sangat penting karena kontribusi pengaruhnya terhadap prestasi dan keberhasilan hidup lebih dari 90%.
- Orangtua tidak mengajari anak pengetahuan mengenai uang dan cara mengelola uang dengan baik, benar, dan bertanggung jawab.
- Orangtua tidak mengajari anak untuk hidup hemat yang wajar, bukan pelit atau kikir. Menghargai dan menjalani hidup secara wajar, menikmati uang dengan benar, membeli apa yang menjadi kebutuhan, bukan keinginan, adalah salah satu pelajaran paling penting mengenai uang dan keuangan.
- Orangtua jarang mengajari anak untuk bersyukur atas semua nikmat dan kemudahan yang anak peroleh dalam hidup.
- Orangtua jarang mengajari anak kebiasaan membaca buku. Ada pepatah sangat bagus yang berbunyi Leaders are readers. Kebiasaan membaca sangat penting sebagai bagian dari kecakapan menjadi pembelajar sepanjang hayat (life long learner).
Benarkah ada anak yang bodoh? Saya tidak percaya dengan hal ini. Yang benar adalah anak merasa bodoh karena lingkungan memprogram dirinya bodoh.
Berbagai pengalaman negatif dalam proses tumbuh kembang anak sangat mempengaruhi konsep dirinya. Salah satunya adalah konsep diri di bidang akademik. Dan ini tampak dalam prestasi akademiknya.
Lalu, bagaimana caranya membantu anak agar bisa sukses di bidang akademik?
Salah satu perjalanan penting dalam karir akademik anak-anak kita adalah ujian nasional. Terlepas dari pro dan kontra perlu tidaknya ujian nasional diselenggarakan, suka atau tidak suka, tetap perlu dilalui oleh anak-anak kita.
Pengalaman kami selama ini membantu sangat banyak pelajar meningkatkan prestasi akademik, mulai jenjang SD hingga SMA, menghasilkan temuan penting dan menarik. Banyak anak yang sebenarnya mampu atau cakap secara akademik namun bila ujian nilai yang dicapai sering tidak optimal. Hal ini disebabkan banyak faktor. Namun yang paling banyak adalah hambatan internal yang kita sebut mental block.
Mental block dalam pembelajaran antara lain:
- blank saat ujian padahal sudah belajar sungguh-sungguh
- sering ragu sehingga salah menjawab
- tidak semangat
- merasa tidak dicintai orangtua
- punya masalah dengan orangtua
- kurang mendapat perhatian dan dukungan dari orangtua
- takut dan cemas
- merasa tidak mampu
- merasa bodoh
- tidak bisa atau sulit memahami materi pelajaran tertentu
- tidak percaya diri / minder
- sering tidak teliti dalam menghitung / menjawab
- mudah lupa
- merasa bosan
- tidak suka pelajaran tertentu atau hampir semua pelajaran
- sulit fokus / konsentrasi
- lebih sering melamun
- tidak suka belajar
- lebih suka main game
- suka menunda belajar
- dll.....dan masih banyak lagi...
Berdasar riset ditemukan empat kemungkinan hubungan antara prestasi akademik dan konsep diri:
1. Prestasi akademik menentukan konsep diri
Pengalaman akademik, baik keberhasilan maupun kegagalan, lebih
mempengaruhi konsep diri anak, dari pada sebaliknya.
2. Level konsep diri mempengaruhi level keberhasilan akademik.
3. Konsep diri dan prestasi akademik saling mempengaruhi dan saling menentukan
4. Terdapat variabel lain yang dapat mempengaruhi konsep diri dan prestasi akademik. Variabel itu antara lain variabel pribadi, variabel lingkungan, variabel akademik dan non akademik.
Terlepas dari mana atau kapan faktor penghambat ini muncul dalam hidup anak dan terprogram sangat kuat di pikiran bawah sadarnya sehingga mempengaruhi kinerjanya bila kita ingin membantu anak berhasil maka salah satu cara paling efektif adalah dengan menghilangkan hambatan ini.
Untuk itu dibutuhkan cara atau teknik yang tepat sehingga hambatan ini dapat diatasi dengan efektif dan cepat, mengingat waktu ujian nasional semakin dekat.
Berita baik bagi rekan-rekan semua yaitu kami di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, berdasar pengalaman lebih dari empat tahun membantu begitu banyak pelajar, telah menyusun protokol khusus untuk mengatasi hambatan internal ini.
Protokol yang sangat detil ini telah kami berikan kepada semua hipnoterapis alumni kami dan mereka siap membantu anak-anak kita mengatasi hambatan mentalnya untuk sukses di bidang akademik, tidak hanya ujian nasional.
Dalam proses membantu anak-anak kita ini sangat dibutuhkan dukungan dari para orangtua. Untuk itu hipnoterapis kami juga akan memberi konseling dan arahan bagi para orangtua apa yang terbaik yang bisa dilakukan untuk bisa membantu anak menumbuhkembangkan potensi mereka secara optimal
Untuk informasi hipnoterapis alumni kami yang tinggal di kota Anda silakan menghubungi Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology di 031-5461857, 5470437.
“Pak Adi, saya minta waktu bertemu. Saya mau bawa anak saya ke tempat Bapak” demikian suara dari seberang sana.
“Lho, masalahnya apa ya?” tanya saya.
“Anak saya nilainya jelek semua. Saya minta Pak Adi menghipnotis anak saya supaya bisa pandai dan nurut sama saya” jawab si Ibu penuh harap.
Ada lagi salah satu pembaca buku yang mengirim email mengeluhkan kondisi keuangannya, “Pak Adi, saya mau minta tolong. Saya barusan kalah main forex. Saya invest 25.000 dolar. Saya sudah tanya ke pikiran bawah sadar saya dan diarahkan untuk memasang posisi USD/EURO. Ternyata saran ini salah dan akibatnya saya rugi besar. Kenapa ya kok bisa sampai salah padahal saya sudah tanya ke bawah sadar saya. Saya bahkan sudah pake pendulum lho, pak? Apa saran Pak Adi?”
Di masyarakat ada pemahaman bahwa pikiran bawah sadar sangat cerdas dan bisa ditanyai macam-macam dan pasti memberi jawaban yang benar. Apakah benar demikian?
Hipnosis atau hipnoterapi benar adalah salah satu cara paling efektif untuk bisa menembus critical factor, mengakses, dan berkomunikasi langsung dengan pikiran bawah sadar. Namun yang perlu diingat adalah hipnosis atau hipnoterapi bukan pil ajaib yang bisa membuat seseorang langsung berubah dan kinerjanya meningkat. Hipnosis/hipnoterapi hanya bisa memaksimalkan kemampuan, kecakapan, kinerja, prestasi berdasarkan sumber daya yang ada di pikiran bawah sadar seseorang.
Pada contoh pertama di atas hipnosis/hipnoterapi saja tidak bisa membuat seorang anak menjadi cerdas. Yang bisa dilakukan adalah terapis membantu si anak untuk mengatasi mental block dalam pembelajaran. Dari berbagai kasus yang sering kami tangani terdapat satu pola yang konsisten sama yang mengakibatkan seorang anak prestasinya rendah.
Pola ini tampak dalam bentuk respon perilaku antara lain anak merasa malas, ragu, bosan, sulit konsentrasi, mengantuk, tidak percaya diri, tidak suka mata pelajaran tertentu, merasa bodoh, takut gagal, merasa sulit, tidak bisa menghapal, tidak atau sulit mengerti materi yang dipelajari, mudah lupa, blank saat ujian, gelisah, lebih suka main game, merasa tidak mampu.
Untuk bisa membantu anak sukses di sekolah, menjadi cerdas atau pintar maka terapis perlu membantu anak menghilangkan mental block di atas. Selanjutnya terapis memberi sugesti, arahan, bimbingan, dan saran bagaimana belajar yang baik dan benar. Anak menjadi cerdas dan pintar bila ia konsisten belajar dan memahami apa yang ia pelajari.
Bila anak hanya disugesti atau diterapi saja, tanpa dilanjutkan dengan belajar secara konsisten maka anak tidak akan bisa berkembang. Kemampuan dan prestasi akademik anak meningkat seiring dengan semakin banyak materi yang ia kuasai dengan baik.
Bagaimana dengan yang main forex?
Sama saja. Pikiran bawah sadar selalu bersikap jujur dan apa adanya. Bila ditanya maka ia pasti memberi jawaban. Perkara jawabannya benar atau salah itu urusan lain.
Dari hasil menelaah berbagai kejadian dan pengalaman praktik hipnoterapis alumni Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, tim Research & Development kami merumuskan satu hukum penting tentang pikiran bawah sadar. Hukum ini berbunyi: pikiran bawah sadar cerdas di bidang yang ia mengerti dan kuasai dengan baik dan bodoh di bidang yang ia tidak mengerti atau tidak kuasai dengan baik.
Pengalaman kami di ruang praktik menemukan benar pikiran bawah sadar seseorang memberi respon atau jawaban jujur dan apa adanya saat ditanya. Namun respon atau jawaban ini sepenuhnya berdasar pada data yang ia miliki. Bila datanya lengkap dan komprehensif maka jawabannya juga akan sangat akurat. Demikian pula sebaliknya.
Untuk mudahnya begini. Misalnya anda tidak bisa bahasa Prancis. Anda datang ke seorang hipnoterapis dan minta ia menghipnosis Anda dengan tujuan agar bisa lancar bicara bahasa Prancis. Apakah hal ini mungkin terjadi? Jawabannya pasti tidak mungkin. Mengapa? Karena di pikiran bawah sadar Anda tidak ada data mengenai bahasa Prancis.
Bagaimana kalau Anda sudah belajar tapi belum bisa bicara atau takut salah? Nah, kalau ini situasinya, hipnosis/hipnoterapi akan sangat membantu. Perasaan takut salah ini dihilangkan terlebih dahulu. Setelah itu Anda akan diberi sugesti untuk bisa bicara lancar dan percaya diri menggunakan semua data bahasa Prancis yang sudah berhasil Anda himpun di pikiran bawah sadar Anda.
Demikian pula bila Anda datang ke seorang hipnoterapis dan minta dihipnosis agar jago main golf. Bila Anda tidak pernah belajar main golf maka apapun yang dilakukan terapis tidak akan bisa membuat Anda jago main golf. Anda boleh diminta melakukan visualisasi, membayangkan, dan merasakan seolah-olah jago main golf, namun tetap tidak akan pernah bisa main golf dengan baik. Pikiran bawah sadar Anda tidak punya data cara memegang stick, cara memukul, posisi tubuh, kondisi mental saat akan memukul, kemampuan memperkirakan kekuatan pukulan, dan sebagainya.
Saran saya untuk pemain forex adalah melakukan virtual trading dulu selama 6 (enam) bulan. Dari sini pikiran bawah sadar akan mendapat sangat banyak data yang diperlukan untuk berpikir, menganalisis, dan membuat keputusan yang tepat dalam situasi yang berbeda.
Saya ingat betul saat rekan saya, Pak Hary Suwanda, CEO Lumen Capital Resources dan trainer derivatif terbaik di Indonesia, mengikuti pelatihan dan sertifikasi Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy yang saya selenggarakan.
Di salah satu kesempatan di sesi pelatihan saya minta Pak Hary memperkirakan saham perusahaan mana yang akan naik minggu depan. Sebelum meminta Pak Hary melakukan analisis saya memasang elektrode di kepala Beliau untuk mengukur dan melihat pola gelombang otaknya.
Ternyata saat Pak Hary melakukan analisis, sambil menutup mata, saya mengamati gelombang otaknya yang sangat aktif adalah gelombang otak bawah sadar, dominan theta dan delta. Dan Pak Hary melakukan analisisnya sama sekali tanpa melibatkan emosi. Ini sungguh luar biasa karena kondisinya divalidasi oleh alat yang canggih. Setelah beberapa saat Beliau buka mata dan memberi saya informasi mengenai saham yang direkomendasi untuk dibeli.
Sudah tentu untuk bisa mencapai kemampuan pikiran bawah sadar seperti yang telah berhasil dicapai Pak Hary membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Bagaimana bila kita bertanya ke pikiran bawah sadar dengan menggunakan pendulum? Jawabannya sama saja. Pendulum bergerak karena ideomotor response yang merupakan respon dari pikiran bawah sadar. Untuk mencapai hasil terbaik saat bertanya ke pikiran bawah sadar menggunakan pendulum maka harus diperhatikan tiga hal berikut:
- anda harus bisa menset ideomotor response dengan benar
- anda harus bisa menyusun pertanyaan dengan benar dan tepat
- harus benar-benar tenang dan tidak melibatkan emosi
- pikiran bawah sadar punya data yang cukup lengkap mengenai topik yang ingin Anda tanya.
Saran saya, jangan pernah mencoba bertanya ke pikiran bawah sadar mengenai nasib, jodoh, peruntungan, nomor undian, ramalan, forex, saham, kemungkinan sukses atau gagal di bidang tertentu, peluang usaha, dan tentang masa depan.
Mengapa? Karena kita tidak tahu Bagian Diri yang mana yang menjawab pertanyaan kita. Eksplorasi pikiran bawah sadar membutuhkan kecakapan khusus dan sebaiknya dilakukan dengan bantuan terapis berpengalaman, jangan dilakukan sendiri.
“Pak Adi, apakah informasi yang berhasil digali melalui proses hypnoanalysis adalah informasi yang valid? Bagaimana kalau ternyata informasi ini salah? Apa pengaruhnya terhadap proses dan hasil terapi?”
Ini adalah pertanyaan yang saya terima dari seorang rekan sejawat hipnoterapis. Walau pertanyaannya singkat namun saya perlu hati-hati dalam menjawab agar dapat memberikan jawaban yang akurat. Untuk itu saya perlu mendapat kepastian dan balik bertanya, “Apa tujuan penggalian informasi di pikiran bawah sadar? Apakah untuk menemukan akar masalah yang menjadi penyebab munculnya simtom ataukah untuk keperluan investigasi atau penyidikan?”
“Tujuannya untuk menemukan akar masalah” jawab sejawat ini.
Setelah mendapat kepastian ini baru saya berani memberi jawaban. Memang bila ditilik dari kata “hypnoanalysis” ini adalah untuk keperluan menemukan akar masalah atau ISE (Initial Sensitizing Event). Saya sengaja bertanya untuk memastikan bahwa pemahaman saya tentang hypnoanalysis sama dengan yang ia maksudkan dalam pertanyaannya.
Teknik dan proses eksplorasi pikiran bawah sadar untuk menggali dan menemukan data di memori sangat ditentukan oleh tujuan eksplorasi. Bila tujuannya adalah untuk menemukan akar masalah maka terapis tidak perlu melakukan pengecekan kebenaran data. Apapun yang dimunculkan oleh pikiran bawah sadar dianggap sebagai hal yang benar. Terapis memproses informasi ini untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Namun bila tujuannya adalah untuk penyidikan atau forensik maka validasi data mutlak harus dilakukan.
Akurasi objektif dari memori adalah satu aspek penting, sedangkan tingkat keyakinan individu terhadap akurasi memorinya adalah hal yang lain. Ini adalah dua hal yang berbeda. Dalam proses hipnoterapi yang lebih dipentingkan adalah keyakinan individu terhadap akurasi memorinya, bukan akurasi objektif dari memori.
Pandangan dan pemahaman awam mengenai memori seringkali tidak tepat. Menurut pandangan ini pikiran bawah sadar merekam semua kejadian apa adanya, seperti layaknya sebuah handycam. Dengan demikian saat rekaman ini diputar ulang maka yang muncul di layar adalah kejadian yang persis sama. Ini adalah pandangan yang salah.
Apakah pengalaman masa kecil yang berhasil digali benar-benar terjadi? Atau ini adalah memori yang tercipta berdasarkan cerita yang didengar dari orangtua atau lingkungan, atau dari foto-foto lama yang dilihat?
Apakah memori itu diingat dari perspektif seorang anak kecil di masa dewasa, ataukah memori ini diingat dengan perspektif dewasa mengenai pengalaman masa kecil?
Untuk bisa menjawab pertanyaan rekan saya di atas saya akan menjelaskan lebih dulu apa itu memori dan cara kerjanya.
Bagaimana Kerja Memori?
Apakah memori itu? Satu definisi bagus berasal dari pengacara dan psikolog Alan Scheflin yang menyatakan bahwa memori adalah kapasitas dan kemampuan mental untuk mempertahankan informasi, pikiran, perasaan, dan pengalaman lain di pikiran dan mengingat apa yang telah berlalu.
Memori bukan sekedar data, informasi, kejadian atau peristiwa melainkan adalah sebuah proses. Ada banyak tahapan mulai dari pembentukan memori sampai ke mengingatnya lagi. Secara sederhana langkah-langkahnya dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Registrasi sensori dari stimulus.
2. mengatur informasi menjadi unit-unit yang bermakna.
3. menyimpan informasi.
4. mengambil informasi.
Informasi apapun yang akan masuk ke memori pasti melewati salah satu dari indera fisik kita yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecap. Dengan demikian pasti terjadi perbedaan antara apa yang terjadi di “luar sana” dan apa yang terekam di “dalam sini” sebagai memori, akibat keterbatasan pada masing-masing indera. Selain dipengaruhi keterbatasan indera proses pembentukan memori juga dipengaruhi secara signifikan oleh persepsi. Jadi, memori adalah representasi dari pengalaman, bukan pengalaman itu sendiri.
Penelitian memori menunjukkan bahwa yang membuat suatu stimulus menjadi mudah diingat adalah arti atau makna yang diberikan pada stimulus ini.
Selain makna faktor lain yang memengaruhi akurasi memori adalah:
1. motivasi seseorang untuk mengamati, memberi makna, dan mengingat.
2. pengharapan yang mengakibatkan seseorang “hanya melihat yang ia ingin lihat”, dan bukan apa yang sebenarnya ada di sana.
3. metode yang digunakan untuk mengingat, yang dapat mengakibatkan seseorang menambah, mengurangi, atau mengubah total informasi.
4.hubungan antara subjek dengan terapis, yang dapat meningkatkan atau mengurangi kemampuan daya ingat.
5. kepribadiaan seseorang dan reaksinya terhadap celah memori (memory gap) yang mungkin ada. Ada orang yang bisa menerima adanya celah ini, sementara yang lain merasa perlu mengisi celah ini, bahkan dengan informasi palsu, seperti dalam proses yang dikenal sebagai konfabulasi.
Kesimpulannya, memori adalah suatu proses yang melibatkan banyak variabel, setiap variable ini berpotensi untuk meningkatkan atau mengganggu penyimpanan dan mengingat memori yang akurat. Memori bersifat rekonstruktif, bukan reproduktif. Memori sering terbentuk dari berbagai sumber informasi dan dapat dimodifikasi atau mengalami perubahan seiring perjalanan waktu.
False Memory
Memori, seperti semua proses mental lain yang melibatkan persepsi, sangat mudah dipengaruhi. Peneliti di bidang hipnosis telah lama tahu, lebih dari seratus tahun lalu, bahwa false memory dapat ditanamkan melalui penggunaan prosedur hipnosis formal atau bahkan melalui sugesti sederhana tanpa hipnosis formal. Di tahun 1889, hipnotis Albert Moll, menuliskan pengalamannya menanam false memory. Alan Scheflin penulis buku Trance on Trial telah mendokumentasi sejarah panjang hipnosis dalam mencipta false memory dan kesaksian yang tidak dapat diandalkan dalam konteks investigasi kepolisian dan di pengadilan.
Seringkali dalam proses terapi, terapis berhasil membantu klien mengungkap data yang sebelumnya sama sekali tidak diingat klien. Data yang “disembunyikan” pikiran bawah sadar ini adalah repressed memory yang biasanya berasal dari kejadian traumatik. Proses represi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri.
Yang perlu dicermati repressed memory berbeda dengan false memory. Repressed memory adalah memori yang ada di pikiran bawah sadar, berasal dari satu kejadian atau peristiwa, dan ditekan ke bawah sadar sehingga tidak dapat diakses atau diingat oleh pikiran sadar. False memory adalah memori yang tercipta akibat proses penggalian data dengan semantik atau proses yang salah.
Untuk memahami false memory perlu dipahami perbedaan antara:
- kasus di mana klien tahu dan ingat bahwa ia mengalami pengalaman traumatik.
- kasus di mana klien, tanpa bantuan orang lain, mampu mengingat memori yang direpresi.
- kasus di mana memori yang direpresi berhasil digali dengan bantuan terapis.
- kasus di mana terapis mensugestikan, baik secara langsung atau tidak langsung, pada kliennya mengenai memori tentang suatu kejadian.
Bagaimana kita mengungkap repressed memory? Apa teknik yang digunakan terapis untuk menemukan repressed memory yang diasumsikan ada? Apakah teknik yang digunakan valid, yaitu benar-benar dapat menggali repressed memory, ataukah teknik yang digunakan melibatkan sugesti mengenai suatu kejadian yang tidak pernah terjadi namun klien percaya benar-benar terjadi?
Salah satu proses yang dapat mengakibatkan false memory adalah leading, yang tentunya sangat berbeda dengan guiding. Berikut saya berikan contoh perbedaan leading dan guiding.
Seorang wanita datang ke terapis dengan keluhan vaginismus. Saat fase wawancara ia mengatakan bahwa samar-samar ia ingat atau merasa bahwa perasaan takut berhubungan seks ini ada hubungannya dengan salah satu pamannya di satu kejadian saat ia masih kecil. Namun ia tidak bisa ingat dengan jelas apa yang terjadi.
Berbekal informasi ini, dengan teknik regresi, terapis membawa klien mundur menyusuri garis waktu internal dan akhirnya berhenti di satu kejadian. Saat itu klien berusia 5 tahun dan hanya berdua dengan pamannya yang berusia 20 tahun di ruang keluarga.
Terapis yang tidak hati-hati akan mengajukan pertanyaan leading berikut:
Terapis: Jadi, Anda sekarang ini sedang berduaan dengan paman ya?
Klien : Ya.
Terapis: Paman ada pegang-pegang badanmu, ya?
Klien : Ya.
Terapis : Apa dia pegang pahamu?
Klien : Ya.
Terapis : Terus, dia pegang mana lagi?
Bisa Anda bayangkan ke mana arah pertanyaan terapis selanjutnya. Apakah ada yang salah dengan pertanyaan di atas? Tentu pertanyaan-pertanyaan ini salah karena bersifat leading. Saat seseorang dalam kondisi deep trance ia berada dalam kondisi yang sangat sugestif. Pertanyaan-pertanyaan di atas mengakibatkan pikiran klien memunculkan gambaran mental tertentu mengikuti alur pertanyaan. Dan saat gambar ini muncul akan langsung terekam di pikiran bawah sadar dan menjadi memori. Inilah yang dimaksud dengan false memory.
Sudah tentu akan berbeda bila terapis hanya melakukan guiding atau membimbing tanpa mengarahkan. Guiding dilakukan dengan memilih semantik yang tepat, sebagai berikut:
Terapis: Anda di mana sekarang?
Klien : Di ruang keluarga.
Terapis: Ceritakan apa yang terjadi.
Klien : Saya sedang nonton tv dengan paman.
Terapis : Terus……
Klien : Di tv itu ada perempuan lagi dikejar orang jahat…
Terapis : Terus….
Klien : Perempuan itu ditangkap….
Terapis : Terus……
Klien : Bajunya dirobek…dia disiksa… sampai berdarah-darah… aduh kasihan… saya takut….(klien menyaksikan adegan perkosaan)
Terapis : Terus…..
Klien : Saya minta paman matikan tv-nya.
Terapis : Terus…..
Klien : Paman matikan tv…..
Terapis : Terus….
Klien : Saya masuk ke kamar terus tidur….
Anda bisa lihat bedanya antara skenario pertama dan kedua? Yang pertama di atas adalah leading dan yang kedua adalah guiding.
Apakah false memory hanya tercipta dengan cara ini? Tentu tidak. Masih ada cara lain yang dapat mengakibatkan munculnya false memory.
Misinformation Effect
Dalam eksperimen yang dilakukan Dr. Loftus dan banyak peneliti lain di bidang memori di Amerika,Canada, Inggris, Jerman, Australia, dan Belanda, ditemukan fenomena yang disebut “misinformation effect”.
Misinformation Effect terjadi saat suatu informasi yang salah disampaikan oleh seseorang yang dipandang sebagai figur otoritas atau seseorang dengan kredibilitas yang tinggi maka informasi ini diterima sebagai hal yang benar dan selanjutnya memengaruhi memori yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar. Saat informasi ini diterima sebagai hal yang benar maka orang akan secara tidak sadar melakukan revisi terhadap memori mereka sendiri sehingga sejalan dengan informasi yang ia terima dari figur otoritas ini.
Dalam eksperimen ini Dr. Loftus menyusun skenario terjadi pencurian barang yang dilakukan oleh seseorang di dalam kelas yang dapat disaksikan oleh mahasiswanya. Kejadian pencurian ini terjadi sangat cepat dan pencuri berhasil melarikan diri. Saat ditanya, para mahasiswa masing-masing memberikan gambaran mengenai rupa pencurinya. Masing-masing memberi gambaran yang berbeda.
Setelah itu Dr. Loftus mengatakan bahwa si pencuri adalah pria dengan kumis dan jenggot yang tebal. Ini sama sekali berbeda dengan rupa pencuri yang digambarkan para mahasiswa yaitu seorang pria yang tidak berjenggot.
Mendapat informasi dari Dr. Loftus para mahasiswa mulai melakukan revisi terhadap memori mereka sendiri dan akhirnya setuju dengan rupa pencuri yang berkumis dan berjenggot tebal seperti yang digambarkan Dr. Loftus.
Unconscious Confabulation
Apakah memori, atau hanya keyakinan bahwa memori itu ada, dapat tercipta untuk kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi? Jawabannya bisa.
Memori melibatkan proses persepsi. Memori adalah sebuah proses rekonstruksi, bukan sekedar mengingat. Detil yang hilang atau celah pada memori secara perlahan diisi dengan memori palsu yang berasal dari tebakan-tebakan yang masuk akal. Inilah yang dimaksud dengan konfabulasi.
Unconscious confabulation adalah proses di mana pikiran bawah sadar mengkonstruksi memori tentang suatu kejadian. Dalam satu eksperimen peneliti mengundang dua orang bersaudara. Pada saudara yang lebih tua, John, peneliti meminta untuk berbohong kepada saudaranya yang lebih muda, George, dengan mengatakan bahwa saat di usia 5 tahun, George pernah terpisah dari orangtuanya saat di mal. George ditemukan oleh seorang pria sebelum dipertemukan kembali dengan orangtuanya.
Hanya ini data yang diberikan kepada George. Seminggu kemudian George mengatakan samar-samar ia ingat siapa orang yang menemukannya. Beberapa hari kemudian, ingatan George lebih jelas bagaimana rupa orang ini, warna pakaiannya, dan bagaimana ia menggandeng tangan George. Selang beberapa hari kemudian, George ingat detil yang lain. Semakin lama detil ini semakin lengkap menjadi satu cerita yang utuh.
Setelah satu bulan George ditanya apakah ia yakin dengan memori kejadian ia terpisah dari orangtuanya saat usia 5 tahun di mal. George menjawab bahwa ia sangat yakin dan ingat benar mengenai kejadian ini.
Terapis “Memaksa” Klien
Belief system terapis mengenai memori, proses pelatihan dan sertifikasi, pengalaman teknis dan kecakapan, penguasaan teori, ragam teknik yang dikuasai mempengaruhi cara terapis memperlakukan kliennya dan menggali memori.
Saya pernah menemukan kasus di mana seorang “terapis” melakukan penyembuhan luka batin dengan mengatakan bahwa masalah klien adalah karena ia adalah anak yang tidak diinginkan oleh ibunya dan pernah mau digugurkan. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi pada klien ini?
Yang lebih luar biasa lagi adalah “terapis” ini menggunakan cara yang sama pada semua kliennya. Jadi, apapun masalah klien, siapapun kliennya, bila ia bertemu dengan “terapis” ini maka akar masalah selalu, “Anda adalah anak yang tidak diinginkan Ibu Anda dan pernah mau digugurkan.”
Ada klien yang sampai shock berat mendapat informasi ini. Dan yang luar biasa lagi si “terapis” melakukan regresi membawa klien kembali ke dalam kandungan Ibunya dan mengalami proses tidak diinginkan dan mau diaborsi. Apa yang terjadi setelah itu?
False memory ini mengakibatkan goncangan batin yang sangat dahsyat mengakibatkan kondisi klien menjadi tidak stabil. Untungnya klien ini cepat sadar dan tidak melanjutkan terapi dan segera mencari bantuan terapis yang benar-benar kompeten. Terapis yang cakap ini menganulir proses terapi yang dilakukan “terapis” sebelumnya, menetralisir semua false memory beserta emosi yang muncul akibat false memory ini.
Ada lagi terapis yang memaksa klien dengan bertanya, “Apakah Anda pernah mengalami pelecehan seksual waktu Anda kecil?”.
Pertanyaan ini hanya memberi klien dua opsi jawaban yaitu “ya” atau “saya tidak tahu”. Bila klien menjawab tidak tahu atau tidak ingat pernah mengalami pelecehan seksual maka terapis akan berkata, “Anda merepresi pengalaman traumatik ini”. Bila klien menjawab, “Tidak pernah”, maka terapis berkata, “Anda melakukan penyangkalan atau denial. Ini bagus. Penyangkalan adalah awal dari proses untuk mengakui keberadaan atau kebenaran suatu peristiwa traumatik.”
Apapun jawaban klien, ia tidak bisa lepas dari belief terapis yang meyakini bahwa akar masalah kliennya adalah pelecehan seksual.
Cara lain yang digunakan terapis dalam memaksa kliennya mengakui adanya suatu kejadian traumatik adalah dengan berkata, “Salah satu klien saya dengan keluhan seperti Anda punya akar masalah X. Berarti Anda juga punya akar masalah yang sama karena simtomnya sama.”
Bagaimana dengan terapis yang percaya bahwa akar masalah ada di kehidupan lampau atau past life?
False Memory Karena Ekspektasi
Apa yang dimaksud dengan false memory karena ekspektasi? Di Amerika ada terapis dengan spesialisasi tertentu antara lain sexual abuse, ritual abuse, childhood abuse, birth trauma, dan past life regression.
Bila Anda adalah klien dengan masalah tertentu dan datang ke terapis dengan spesialisasi di atas apa yang akan terjadi?
Spesialisasi ini secara tidak langsung merupakan satu bentuk sugesti yang meningkatkan ekspektasi Anda mengenai akar masalah. Bila Anda ditangani oleh terapis dengan spesialisasi sexual abuse maka suka atau tidak, sadar atau tidak, pikiran bawah sadar Anda sudah memutuskan bahwa masalah Anda pasti disebabkan oleh sexual abuse yang Anda alami di masa kecil. Ekspektasi Anda ditambah dengan ekspektasi terapis, sesuai dengan bidang spesialisasinya, akan mengarahkan proses terapi sedemikian rupa sehingga sudah tentu akan berhasil “menemukan” akar masalah yang sejalan dengan pengharapan Anda dan terapis.
Di salah satu sesi pelatihan dengan Randal Churchill di Hypnotherapy Training Institute di San Fransisco saat sertifikasi sebagai clinical hypnotherapist saya belajar teknik untuk mengungkap false memory. Dalam pelatihan ini Randal memutar rekaman video saat ia menangani klien wanita yang mengalami false memory sebagai korban dari ritual abuse. Yang dimaksud dengan ritual di sini adalah upacara pemujaan setan yang sangat mengerikan.
Apakah benar wanita ini pernah mengalami ritual abuse? Ternyata tidak. Wanita ini, sebelumnya, telah diterapi oleh seorang terapis dengan spesialisasi ritual abuse, delapan tahun lalu. Dan sejak saat itu memori ini selalu mengganggu hidupnya.
Randal, dengan menggunakan teknik tertentu, berhasil menemukan bahwa memori tentang ritual abuse ini adalah false memory, dan berhasil menetralisir memori ini.
Bagaimana dengan memori dari kehidupan lampau?
Saya sempat disuksi dengan salah satu rekan sejawat dan mendapat informasi menarik berikut.
“Seorang rekan wanita saat ini sedang dalam kondisi stress berat. Ia mengikuti seminar mengenai past life yang diselenggarakan komunitas tertentu dan menghadirkan hipnoterapis dengan spesialisasi past life regression therapy. Rekan saya ini sebelumnya memang sudah sering down. Namun setelah seminar ini kondisinya menjadi lebih tidak karuan. Ia bahkan ingin bunuh diri. Ternyata setelah diregresi ke kehidupan lampau rekan saya ini dulunya adalah seorang anak perempuan yang hidup seorang diri, sudah tidak ada keluarga dan sanak saudara, miskin, dan mati kelaparan. Saat ia meninggal tidak ada yang tahu dan juga tidak ada yang mengubur jasadnya. Ia sangat terpukul mengetahui hal ini. Ia merasa betapa hina dan sial dirinya. Di kehidupan lampau hidup menderita. Di kehidupan sekarang juga menderita.”
Pembaca, setelah saya tanya lebih lanjut ternyata hipnoterapis ini melakukan regresi kehidupan lampau secara masal kepada semua peserta seminar yang hadir di acara itu.
Apakah benar wanita ini dulunya seperti itu? Tidak ada yang tahu. Yang menjadi keprihatinan saya adalah hipnoterapis ini, setelah dilapori bahwa ada peserta yang mengalami shock berat, tidak melakukan tindakan apapun untuk membantu wanita ini. Ia hanya berkata, “Diterima saja...itu sudah karmanya dia.”
Saya tidak setuju dengan past life therapy bila dilakukan secara sengaja yaitu terapis sengaja membimbing klien ke past life untuk menemukan akar masalah. Apalagi dilakukan secara masal. Alasan ketidaksetujuan saya ada dua. Pertama, terapis dengan spesialisasi past life regression therapy sudah tentu akan membimbing klien ke past life sehingga pasti "menemukan" akar masalah di past life. Kedua, proses regresi ke kehidupan lampau yang dilakukan dengan sengaja bersifat leading. Contohnya: “Anda mundur ke kehidupan lampau anda…..” atau “Anda mundur ke waktu yang lain, ke kehidupan sebelum kehidupan ini, ke tubuh Anda yang lain…..”.
Dari pengalaman klinis saya menangani klien dan juga para alumni pelatihan saya, kami jarang menemukan akar masalah di kehidupan lampau. Kalaupun sampai terjadi regresi ke kehidupan lampau maka ini sifatnya spontan, tidak diarahkan. Apapun data yang muncul di “kehidupan lampau” ini kami proses sebagai metafora dan kami tidak berkepentingan untuk melakukan validasi.
Ada juga klien yang minta saya melakukan regresi kehidupan lampau dengan alasan untuk mengetahui apa pekerjaannya dulu, dengan demikian ia dapat meneruskan pekerjaannya di kehidupan saat ini.
Saya bertanya ke calon klien ini, “Anda ingin saya regresi ke kehidupan lampau yang mana? Apakah satu kehidupan sebelum kehidupan sekarang, dua kehidupan, sepuluh, dua puluh, seratus, atau berapa kehidupan sebelumnya? Bagaimana bila ternyata Anda dulunya adalah seorang pembunuh atau perampok, apakah Anda akan meneruskan pekerjaan ini di kehidupan sekarang?”
Lalu, dari mana asal informasi kehidupan lampau?
Bagi yang percaya mengenai past life, informasi ini bisa saja benar. Namun lebih sering informasi ini berasal dari buku yang pernah dibaca, cerita yang pernah didengar, atau film yang pernah ditonton. Semua informasi ini tersimpan di pikiran bawah sadar dan dapat muncul ke permukaan, biasa dalam bentuk metafora, seolah-olah benar terjadi di kehidupan lampau karena klien tidak pernah ingat mengenai informasi ini sebelumnya. Kondisi ini disebut sebagai cryptomnesia.
Terapis Memaksakan ISE harus di bawah 5 tahun
Satu lagi sumber false memory yaitu terapis yang punya keyakinan bahwa akar masalah atau ISE pasti dan harus terjadi di bawah usia 5 tahun. Saya pernah bertemu dengan hipnoterapis yang bersikeras bahwa ISE pasti terjadi di bawah 5 tahun. Bila ISE yang diungkap pikiran bawah sadar ternyata di atas usia 5 tahun maka ia akan terus mencari ISE, dengan segala cara, yang terjadi di bawah usia 5 tahun.
Terapis ini melakukan terapi dengan pendekatan therapist centered, bukan client centered. Sebenarnya tidak masalah ISE terjadi di usia berapa. Selama proses hypnoanalysis dilakukan dengan cermat dan tidak bersifat leading maka data yang diungkap oleh pikiran bawah sadar harus dihormati dan diterima sebagai satu kebenaran. Yang penting, terapis bisa memproses data ini demi kebaikan dan kesembuhan klien.
Solusi Untuk False Memory
Solusi terbaik sebenarnya adalah dengan tidak mencipta false memory. Untuk itu terapis harus benar-benar memahami cara kerja pikiran, pemilihan semantik, cara kerja memori, teknik hypnoanalysis yang aman, dan benar-benar netral. Semua ini bergantung pada pendidikan yang dijalani seorang terapis.
Namun bila sampai terjadi false memory maka terapis yang menangani klien dengan false memory harus mampu melakukan hal berikut. Pertama, memastikan bahwa ini adalah false memory. Kedua, melakukan resolusi trauma dengan menetralisir emosi akibat kejadian itu. Dari beberapa kasus yang saya temui dan pelajari dari literatur luar negeri, masalah muncul karena terapis hanya bisa “menemukan” akar masalah, yang sebenarnya adalah false memory, namun tidak mampu melakukan resolusi trauma dengan baik.
Manusia punya tiga jenis pikiran, sadar, bawah sadar, dan nirsadar. Setiap pikiran memiliki fungsi, sifat, dan karakter yang berbeda. Ada banyak artikel yang ditulis oleh para pakar hipnoterapi mengenai hal ini. Dalam artikel ini saya akan mengulas salah satu karakteristik pikiran bawah sadar yang hanya bisa muncul saat seseorang dalam kondisi deep trance (somnambulisme) yaitu trance logic.
Dalam percakapan sehari-hari bila kita mendengar kata “logika” maka yang dimaksud adalah logika dari pikiran sadar atau conscious logic. Sangat jarang, atau hampir tidak pernah ada, dalam diskusi mengenai logika, sejauh yang saya ketahui, membahas logika pikiran bawah sadar atau trance logic.
Conscious logic dan trance logic bekerja dengan hukum yang berbeda. Sesuatu yang logis menurut conscious logic belum tentu logis menurut trance logic. Demikian pula sebaliknya.
Misalnya, menurut conscious logic satu tambah satu sama dengan dua. Menurut trance logic, belum tentu. Menurut trance logic satu tambah satu bisa sama dengan lima.
Jadi, apa itu trance logic?
Istilah trance logic pertama kali digunakan oleh Orne (1959). Trance logic adalah karakteristik penting dalam deep psychology yang hanya bisa muncul atau diakses saat subjek/klien berada dalam kondisi deep trance.
Trance logic adalah kemampuan seseorang, dalam kondisi hipnosis yang dalam, menoleransi, dan tanpa merasa terganggu, keberadaan dua atau lebih persepsi atau ide yang secara logika sadar tidak konsisten.
Fenomena dalam trance logic biasanya melibatkan dua persepsi: satu persepsi yang dipengaruhi sugesti yang diberikan dalam kondisi hipnosis dan satu lagi persepsi yang murni berdasar input sensori. Dengan kata lain dengan trance logic kita dapat mencampur atau menggabungkan dengan bebas persepsi yang berasal dari realita dan imajinasi (realita hasil sugesti)
Contohnya, subjek dihipnosis dan disugesti bahwa ia melihat seseorang, misal A. Setelah subjek ”melihat” A, yang sebenarnya adalah objek halusinasi visual positif, A yang asli diminta berdiri di depan subjek. Dalam hal ini subjek akan melaporkan ada dua A yang persis sama berdiri di depannya dan bisa menerima inkonsistensi ini.
Bisa juga terjadi double hallucination di mana subjek disugesti tidak melihat orang di sekitarnya (halusinasi visual negatif) dan melihat seseorang, yang sebenarnya tidak ada (halusinasi visual positif).
Trance logic, bila dipahami dengan benar, akan sangat bermanfaat dalam proses terapi. Misalnya saat diregresi klien berhadapan dengan orang yang menyakitinya. Klien yang kecil, misal berusia lima tahun, tidak berani melawan karena merasa dirinya kecil. Ia tidak berani mengutarakan pendapat dan perasaannya. Klien merasa lemah dan tidak berdaya.
Terapis bisa mensugestikan tubuh klien menjadi besar, semakin besar, dan tubuh pelaku yang menyakiti klien menjadi semakin kecil dan kecil, hingga akhirnya klien dengan tubuh yang besar berhadapan dengan pelaku dengan tubuh yang kecil. Dari sini timbul keberanian dalam diri klien kecil untuk menghadapi si pelaku.
Dalam kondisi sadar normal hal ini sudah tentu ditolak logika pikiran sadar Logika pikiran sadar menolak realita tubuh seseorang bisa membesar atau mengecil. Namun karena ini semua terjadi di kondisi deep trance, yang mana logika yang aktif saat itu adalah trance logic, maka hal ini bisa diterima sebagai satu hal yang wajar, benar, dan masuk akal.
Trance logic juga sangat efektif digunakan untuk melakukan rewriting history. Misalnya klien dewasa yang takut bicara di depan umum ternyata akar masalahnya bersumber dari kejadian waktu di SD kelas 1. Saat itu ia diminta menyanyi di depan kelas ia tidak bisa menyanyi atau tersendat-sendat karena lupa syair lagu sehingga ditertawakan teman-temannya. Sudah tentu pengalaman ini membekas di hatinya dan terbawa sampai dewasa.
Setelah melalui proses terapi dengan menggunakan teknik khusus, terapis dapat membantu klien dengan melakukan rewriting history. Dalam hal ini klien kecil, SD kelas 1, diminta membuat persiapan matang dengan menghapalkan lagu yang akan ia nyanyikan di depan kelas. Setelah lagu ini dikuasai dengan baik, klien diminta bernyanyi di depan kelas dengan lancar dan mendapat tepuk tangan dari rekan-rekannya.
Penerimaan inkonsistensi realita oleh trance logic berbeda dengan inkonsistensi perilaku di mana seseorang, yang katanya cinta damai, melakukan aksi protes menggunakan kekerasan demi mencipta kedamaian.
Trance logic yang sangat besar manfaatnya dalam proses hipnoterapi misalnya untuk restrukturisasi kejadian traumatik, dan atau rekonstruksi memori dan pengalaman sehingga mampu memberdayakan klien secara luar biasa sayangnya hanya bisa diakses saat seseorang berada di kedalaman somnambulisme atau deep trance.
Hari Sabtu, 17 November 2012, mulai jam 14.00 – 18.00, di Gedung Gramex Surabaya telah berlangsung seminar umum Rahasia Kaya, Sehat, dan Bahagia. Seminar ini sangat istimewa karena selain jumlah pesertanya mencapai 1.000 orang lebih, acara ini juga bertujuan sangat mulia yaitu murni untuk edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Acara yang diselenggarakan oleh Vihara Dhammadippa Surabaya ini menjadi semakin istimewa karena yang berada di atas panggung adalah tiga pribadi unik. Narasumber pertama, YM. Uttamo Mahathera, kedua, saya sendiri, dan ketiga, moderator yang luar biasa Bapak Ponijan Liaw, pembicara publik, pakar komunikasi, dan penulis 11 buku laris. Terakhir kali kami bertiga berbicara di panggung yang sama adalah tiga tahun lalu, juga di tempat yang sama.
Ada sangat banyak hal yang dibahas dalam seminar ini. Masing-masing narasumber mendapat kesempatan menyampaikan materi dan pemikirannya selama 30 menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab intens selama hampir 3 jam.
Apa yang saya tulis di artikel ini adalah ringkasan atau intisari dari seminar ini dengan menggabungkan mulai materi saya, materi YM. Uttamo, jawaban pertanyaan-pertanyaan peserta seminar, dan komentar yang disampaikan moderator.
Semua orang ini hidup kaya, sehat, dan bahagia. Namun apakah rahasia untuk bisa mencapai kondisi yang sangat didamba ini? Sangat kuat keyakinan masyarakat awam bahwa pasti ada rahasia untuk bisa hidup kaya, sehat, dan bahagia. Keyakinan ini berangkat dari realita keseharian dan statistik yang menunjukkan bahwa orang yang kaya sangat sedikit. Sedangkan yang biasa-biasa, kalau tidak ingin dikatakan miskin, sangat banyak. Benarkah demikian?
Apa sebenarnya ukuran kaya? Apa syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa disebut, diangap, digolongkan sebagai, atau merasa sebagai orang kaya?
Ukuran yang paling lazim digunakan adalah uang dan materi. Orang biasanya dikatakan kaya bila punya:
Apakah hanya ini syaratnya? Tentu tidak. Syarat kaya bergantung pada pola pikir dan budaya masyarakat setempat. Ada masyarakat yang menggunakan jumlah ternak sebagai ukuran kaya. Semakin banyak ternaknya berarti semakin kaya. Ada yang menggunakan jumlah pohon jati sebagai tolok ukur. Ada lagi yang menggunakan jumlah pohon kelapa sawit. Jadi, syarat kaya ini sangat beragam.
Namun apakah sebenarnya ukuran kaya? Apakah semua syarat di atas sudah benar dan boleh kita gunakan? Kalau untuk pertanyaan ini jawabannya sangat relatif. Semua berpulang pada pribadi masing-masing.
Kaya sebenarnya adalah suatu kondisi mental, bukan kondisi fisik, yang sangat subjektif. Setiap orang punya ukuran yang berbeda. Bagi pedagang sayur di pasar mendapat untung Rp. 1 juta per hari sudah sangat luar biasa. Sedangkan bagi konglomerat bila mendapat untung Rp. 1 juta per hari adalah malapetaka.
Jadi, apa sih sebenarnya ukuran kaya itu?
Kaya lebih ditentukan oleh perasaan cukup, titik. Saat seseorang merasa cukup terhadap jumlah sesuatu yang ia miliki maka ia adalah orang kaya. Sudah tentu ukuran cukup setiap orang berbeda karena ditentukan oleh belief dan value masing-masing. Dan dalam hal ini tidak ada yang benar atau salah. Cukup adalah cukup.
Masalah muncul bila kita tidak secara sadar menentukan berapa ukuran cukup bagi diri kita. Dalam banyak kasus yang saya temui seringkali orang secara tidak sadar menggunakan tolok ukur orang lain untuk menentukan cukup bagi dirinya. Ukuran yang tidak pas inilah yang menjadi penyebab banyak orang yang menderita karena selalu merasa kurang atau miskin.
Perasaan cukup dilandasi oleh kecerdasan dan keberanian menerima situasi, kondisi, dan kenyataan hidup saat ini. Saat kita merasa cukup maka sebenarnya kita telah kaya, untuk saat ini. Dengan modal mindset sebagai orang kaya di saat ini kita mengejar impian di masa depan untuk bisa mencapai ukuran cukup berikutnya yang tentu berbeda dengan cukup di saat sekarang.
Sekarang saya akan membahas mengenai sehat dan bahagia. Apakah faktor utama yang menentukan kebahagiaan seseorang?
Ada yang berkata bahwa uang adalah faktor utama penentu kebahagiaan. Ada lagi yang menyatakan pendidikan, pekerjaan, jabatan, dan IQ adalah penentu kebahagiaan.
Apakah benar seperti ini? Saya yakin Anda pasti pernah bertemu dengan orang yang berpendidikan tinggi yang bahagia dan juga tidak bahagia. Yang pendidikan rendah yang bahagia dan tidak bahagia juga ada. Yang jabatan tinggi dan rendah yang bahagia dan tidak bahagia juga ada. IQ tinggi atau rendah yang bahagia dan tidak bahagia juga ada.
Jadi, apa faktor utama yang mempengaruhi dan menentukan kebahagian seseorang?
Dari salah satu survei yang saya pernah baca dinyatakan ada lima faktor yang mempengaruhi kebahagiaan. Faktor pertama uang (money) hanya berpengaruh sebesar 5%. Faktor kedua kegiatan kreatif (creative activities) seperti membaca, menulis, menari, menonton film, jalan-jalan ke museum, dan bercerita hanya punya pengaruh sebesar 5%. Faktor berikutnya, prestasi (achievement), seperti berhasil mencapai target penjualan, lulus kuliah, mendapat promosi jabatan, menjadi pemenang dalam kontes tertentu, atau sejenisnya, hanya memberikan kontribusi sebesar 8% terhadap kebahagiaan. Faktor keempat, cinta (love), punya pengaruh 25% dan faktor kelima yang sangat besar pengaruhnya terhadap kebahagiaan adalah sikap mental (mental attitude) yaitu sebesar 57%.
Dua faktor terakhir, cinta dan sikap mental, bila digabung memberi kontribusi sangat besar yaitu 82%. Dari sini jelas sekali tampak bahwa kebahagiaan lebih ditentukan oleh faktor internal daripada eksternal.
Uang akan menjadi sumber dan penentu kebahagiaan bila seseorang berangkat dari kondisi yang sangat-sangat miskin. Saat uang dapat memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, pakaian, dan tempat berteduh (rumah) maka orang ini akan merasakan kebahagiaan.
Namun jumlah uang tidak lagi berpengaruh signifikan dan tidak lagi menjadi faktor utama kebahagiaan saat seseorang naik ke jenjang pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi.
Salah satu sebab utama orang tidak bahagia, dan ini masuk dalam kategori sikap mental, adalah karena mereka baik secara sadar maupun tidak sadar menetapkan syarat yang cukup sulit untuk dipenuhi.
Untuk mengetahui syarat ini, ajukan pertanyaan, “Saya merasa bahagia jika ……..” Ini adalah rule atau aturan “bahagia”. Contoh aturan yang membuat orang sulit bahagia antara lain:
Aturan ini akan menjadi belenggu mental yang sangat kuat bila syarat pemenuhannya sulit dicapai. Semakin sulit mencapai syaratnya, semakin sulit seseorang bahagia.
Sebab lainnya yang membuat orang sulit bahagia adalah karena pikirannya tidak tenang memikirkan hal-hal di masa depan yang masih belum pasti. Dalam hal ini pikiran "berlari" meninggalkan tubuh fisik di masa sekarang.
Yang perlu dilakukan adalah secara sadar untuk mensinkronkan "keberadaan" tubuh fisik dan pikiran sehingga berada di tempat dan waktu yang sama.
Bagaimana dengan sehat?
Sehat meliputi dua aspek yaitu sehat mental/emosi dan fisik. Kedua aspek ini, mental/emosi dan fisik saling terhubung dan saling mempengaruhi. Sehat fisik mudah dilihat atau dirasakan karena parameternya juga jelas. Namun untuk bisa hidup sehat hingga lanjut usia, ini membutuhkan perencanaan mulai sekarang, meliputi pilihan gaya hidup, pola makan, level dan intensitas aktivitas fisik, dan istirahat.
Demikian pula kesehatan mental/emosi. Pikiran tenang, hati damai dan bahagia tidak terjadi dengan sendirinya. Butuh upaya sadar untuk bisa mengalami dan merasakan kondisi mental/emosi yang sehat ini. Dan ini semua kembali pada seberapa cerdas dan efektif seseorang menggunakan dan memberdayakan pikirannya.
Jadi, bagaimana bisa hidup kaya, sehat, dan bahagia?
Apapun yang kita alami dalam hidup adalah akibat dari suatu sebab yang spesifik. Tidak mungkin bisa ada akibat tanpa sebab. Tidak akan ada asap bila tidak ada api. Dan tidak akan ada tuaian tanpa menabur terlebih dahulu.
Untuk bisa menjalani dan mengalami hidup kaya, sehat, dan bahagia seseorang perlu melakukan melakukan perencanaan hidup yang seimbang dengan cara:
Menetap goal hidup secara sadar dan bijaksana di aspek kehidupan utama : spiritual, finansial, bisnis-karir, kesehatan, pengembangan diri, keluarga, sosial, dan materi.
Hypnotic Age Regression terdiri atas tiga kata yaitu “hypnotic”, “age”, dan “regression”. Regression artinya mundur. Age artinya usia. Dan hypnotic berasal dari kata hypnosis. Jadi, Hypnotic Age Regression adalah proses membawa klien mundur menyusuri garis waktu, di dalam pikirannya, yang dilakukan dalam kondisi hipnosis (yang dalam).
Dari pengalaman praktik dan temuan tim Research and Development Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, saat melakukan regresi bisa terjadi beberapa kemungkinan situasi dengan kondisi kesadaran yang berbeda.
Kemungkinan pertama, klien hanya mengingat kejadian masa lalu. Jadi, ia tidak benar-benar “mundur”. Kedua, klien mundur namun ia melihat pengalaman masa lalu dalam bentuk film. Klien yang menyaksikan film adalah klien dengan usia sesuai dengan tahun ia teregresi.
Ketiga, klien mundur ke masa lalu, mengalami kejadian seperti saat terjadi di masa lalu, namun klien menceritakan pengalaman ini menggunakan kesadaran dewasa.
Keempat, klien mundur ke masa lalu, mengalami kejadian seperti saat terjadi di masa lalu, klien menceritakan pengalamannya menggunakan kesadarannya di usia tahun ia teregresi namun kesadaran dewasanya tetap aktif mengamati dan dapat melakukan intervensi.
Kelima, klien mundur ke masa lalu, mengalami kejadian seperti saat terjadi di masa lalu, klien menceritakan pengalamannya menggunakan kesadarannya di usia tahun ia teregresi dan sama sekali tidak ada kesadaran lain yang aktif. Dengan kata lain klien benar-benar total mundur ke usia regresi dan sama sekali tidak “punya” memori usia selanjutnya hingga masa sekarang.
Regresi tipe apa yang paling baik? Tidak ada yang paling baik. Semua baik bergantung kebutuhan. Sudah tentu jenis regresi untuk clinical hypnotherapy akan sangat berbeda dengan yang digunakan dalam forensic hypnosis.
Yang penting terapis benar-benar menyadari bahwa dalam melakukan regresi bisa terjadi salah satu dari lima kemungkinan di atas dan dapat dengan cerdas, kreatif, dan terampil mengubah jenis regresi sesuai kebutuhan, proses terapi, kondisi fisik dan mental klien, dan hasil yang ingin dicapai.
Ada sangat banyak teknik regresi dalam dunia hipnoterapi. Ada yang dilakukan dalam di kondisi light trance dan ada teknik yang hanya bisa dilakukan dalam kondisi deep trance.
Regresi yang dilakukan dalam kondisi light trance hanya akan menghasilkan hipermnesia yaitu klien hanya mengingat kejadian di masa lalu. Untuk regresi yang disertai revivifikasi mengharuskan kedalaman deep trance atau somnambulisme.
Dalam regresi dikenal jenis dan teknik. Ada tujuh jenis regresi. Tiga di antarnya directive regression (regresi yang diarahkan), nondirective regression (regresi tanpa diarahkan), spontaneous regression (regresi spontan).
Berikut ini adalah teknik regresi beserta penjelasan singkat untuk masing-masing regresi.
Regresi Usia : terapis membimbing klien mundur dengan usia klien saat ini sebagai titik awal dan mundur per satu tahun.
Regresi Dengan Kalender: terapis menghitung mundur berdasarkan tahun.
Regresi ke Kejadian Tertentu: terapis membimbing klien mundur ke satu masa atau kejadian yang spesifik.
Regresi dengan IMR: terapis menggunakan teknik Ideomotor Response untuk membawa klien mundur.
Regresi dengan Affect Bridge: terapis menggunakan perasaan klien sebagai jembatan untuk membimbing klien mundur ke masa lalu.
Regresi dengan Somatic Bridge: terapis menggunakan rasa sakit di fisik klien sebagai jembatan untuk membimbing klien mundur ke masa lalu.
Mesin Waktu: terapis meminta klien membayang menggunakan mesin waktu dan mundur ke masa lalu.
Terowongan Waktu: teknik ini mirip dengan teknik mesin waktu. Bedanya, terapis meminta klien membayangkan terowongan dan di ujung terowongan adalah waktu yang berbeda.
Lorong Waktu: terapis membimbing klien menyusuri lorong dan diujung lorong ada sebuah pintu yang akan membawa klien ke masa yang diinginkan.
Karpet Ajaib: klien diminta membayang naik karpet ajaib yang bisa terbang dan melayang menyusuri garis waktu menuju ke masa lalu.
Perahu Ajaib: klien membayangkan naik perahu berada di sebuah sungai. Arah ke hilir adalah masa depan dan ke hulu adalah masa lalu. Klien mengarahkan perahunya ke hulu dan berhenti di tahun yang diinginkan.
Buku Kehidupan: klien membayangkan membuka buku kehidupannya di tengah buku, mewakili masa sekarang. Lembar di sebelah kiri adalah masa lalu dan lembar di sebelah kanan adalah masa depan.
Jam Ajaib: klien membayangkan melihat sebuah jam dan di atas jam ada angka yang menunjukkan tahun. Klien fokus pada jarum jam yang bergerak mundur semakin lama semakin cepat dan angka di atasnya juga bergerak mundur. Klien berhenti di tahun yang diinginkan.
Kereta Api: klien naik kereta api dan setiap stasiun mewakili waktu tertentu.
Turun Tangga: klien turun tangga. Setiap anak tangga mewakili tahun dan klien berhenti di tahun yang diinginkan.
Turun Lift: klien masuk ke dalam lift dan berada di lantai sesuai dengan usianya. Klien menekan tombol lantai (usia) yang diinginkan dan lift akan berhenti di lantai ini.
Regresi Bertahap: klien diregresi ke satu momen yang mudah diingat, misalnya beberapa hari lalu. Setelah itu dilanjutkan dengan mundur lebih jauh ke masa lalunya.
Regresi Dengan Disorientasi: teknik ini dikembangkan oleh Milton Erickson. Klien dibuat bingung dan mengalami disorientasi waktu dan ruang. Baru setelah ini klien diregresi.
Pengalaman sebagai hipnoterapis yang telah membantu klien sejak tahun 2005 memberikan saya sangat banyak pengalaman berharga dan pencerahan. Satu pertanyaan penting yang selalu muncul di benak saya adalah, “Mengapa klien kambuh atau relapse?”
Ada klien yang sudah sembuh namun beberapa minggu atau bulan kemudian kambuh. Saat kambuh kondisinya bisa sama seperti sebelumnya, bisa lebih ringan, dan ada juga yang justru lebih berat.
Jawaban umum yang kita dengar sebagai alasan klien kambuh adalah karena terapi tidak tuntas. Selanjutnya bila dikejar dengan pertanyaan, “Apa yang dimaksud belum tuntas?”, jawabannya sangat beragam bergantung persepsi masing-masing.
Dalam artikel ini saya khusus mengulas, berdasar pengalaman klinis, mengapa klien kambuh dan apa saja yang perlu diperhatikan sehingga klien dapat sembuh dan tidak kambuh.
Sebelum saya membahas lebih jauh berikut saya sampaikan hal yang akan saya bahas dalam artikel ini yang menjadi alasan klien kambuh:
~ Tidak menemukan akar masalah (I.S.E.)
- hipnoterapis tidak tahu caranya
- hambatan dari pikiran sadar klien
- hambatan dari pikiran bawah sadar klien
- terapis menentukan ISE tanpa melakukan hipnoanalisis
- terapis sengaja mengarahkan ISE ke Past Life
- klien menentukan ISE
~ Terapi hanya menggunakan Direct Suggestion
~ Dianulir pikiran sadar klien
~ Dianulir pikiran bawah sadar klien
~ Dianulir sugesti dari figur dengan otoritas lebih tinggi
~ Tidak tuntas membersihkan emosi di ISE
~ Terapis salah dalam melakukan affect bridge
~ Simtom sama namun akar masalah berbeda
~ Aversion Therapy
~ Klien tidak mempertahankan perubahan positif yang telah dicapai
~ Terapi tidak tuntas karena klien dalam pengaruh obat
~ Tidak maksimal menggunakan Ego State Therapy
Tidak menemukan akar masalah (I.S.E.)
Setiap masalah pasti ada penyebab atau akar masalahnya. Tidak mungkin bisa ada asap tanpa ada api. Dalam hipnoterapi sangat penting untuk bisa menemukan akar masalah dan melakukan resolusi pada akar masalah.
Simtom masalah biasanya tidak serta merta timbul hanya setelah satu kejadian. Seringkali simtom muncul setelah klien mengalami serangkaian kejadian atau pengalaman yang mirip atau sama dengan nuansa emosi yang sama.
Pengalaman pertama yang membuat klien mulai peka dan menjadi landasan munculnya simtom disebut dengan Initial Sensitizing Event atau ISE. Sedangkan kejadian lanjutan, yang sama atau serupa, yang memperkuat emosi ISE disebut sebagai Subsequent Sensitizing Event (SSE).
Untuk menuntaskan masalah terapis, dengan teknik yang sesuai, harus bisa mencari dan menemukan ISE. Bila resolusi dilakukan hanya di SSE maka terapi tidak bisa tuntas dan simtom pasti akan muncul lagi.
Dari pengalaman saya selama ini ada beberapa kemungkinan terapis tidak berhasil menemukan ISE.
Hipnoterapis Tidak Tahu Caranya
Pertama, hipnoterapis tidak terlatih untuk melakukan pencarian ISE bukan karena ia tidak bersedia namun karena tidak tahu atau tidak menguasai tekniknya. Ketidakmampuan ini terjadi karena hipnoterapis memang tidak mendapat pelajaran atau teknik mencari dan menemukan ISE saat ia dalam pendidikan dan sertifikasi sebagai hipnoterapis.
Hambatan Dari Pikiran Sadar Klien
Seringkali terjadi, saat dalam kondisi deep trance, pikiran sadar klien melakukan intervensi dan tidak bersedia mengungkap data penting yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah klien.
Berbeda dengan pandangan kebanyakan orang yang mengira klien menjadi tidak sadar saat deep trance, yang benar adalah saat dalam kondisi deep trance pikiran sadar klien tetap aktif, klien tetap sadar, dan ia dapat memutuskan untuk tidak memberi informasi tertentu dan bila perlu klien bisa berbohong pada terapis.
Hambatan ini biasanya terjadi karena rapport yang terjalin antara terapis dan klien kurang maksimal sehingga klien tidak percaya sepenuhnya pada terapis atau takut rahasianya terungkap.
Hambatan Dari Pikiran Bawah Sadar Klien
Resistensi bisa juga muncul dari pikiran bawah sadar klien. Resistensi ini biasanya dilakukan pikiran bawah sadar klien demi kebaikan klien. Ini sejalan dengan salah satu fungsi pikiran bawah sadar yaitu menjaga dan atau melindungi seseorang dari hal yang ia, pikiran bawah sadar, pikir, rasa, pandang, atau persepsikan bahaya atau merugikan.
Biasanya pikiran bawah sadar tidak bersedia mengungkap data ISE yang mengandung muatan emosi negatif yang sangat intens karena ia merasa bila ini dilakukan akan berakibat sangat buruk pada klien.
Terapis Menentukan ISE tanpa Melakukan Hipnoanalisis
Saya menemukan beberapa kejadian terapis menentukan ISE hanya berdasar data yang dikumpulkan saat sesi wawancara. Hal ini tentu seringkali tidak valid. Dari pengalaman saya selama ini seringkali apa yang disampaikan pikiran sadar sangat berbeda dengan data yang terungkap saat klien dalam kondisi deep trance.
Ada juga terapis yang menentukan ISE hanya berdasar analisis tulisan tangan. Argumentasi terapis ini yaitu tulisan tangan adalah salah satu bentuk ideomotor response. Saya setuju dengan pendapat ini. Benar, tulisan tangan adalah ideomotor response. Namun tulisan tangan, dari pengalaman saya pribadi, tidak bisa digunakan untuk menentukan ISE.
Saya berani mengungkapkan hal ini karena saya juga mendalami graphology. Saat dalam sesi pelatihan saya bertanya kepada trainer saya, yang juga sahabat baik saya dan adalah trainer graphology terbaik di Indonesia dan juga seorang hipnoterapis andal, “Apakah mungkin mengetahui ISE hanya dengan analisa tulisan tangan?”
Beliau dengan hati-hati dan bijaksana menjawab, “Kita dapat mengetahui seseorang sedang ada masalah atau tidak dengan menganalisis tulisan tangannya. Namun untuk mengetahui secara tepat akar masalahnya tidak bisa dengan menggunakan cara ini. Kita harus melakukan hipnoanalisis.”
Ada juga yang menggunakan kartu Tarrot untuk menemukan akar masalah atau ISE. Apakah dengan cara ini bisa berhasil? Saya tidak bisa berkomentar karena tidak mengerti cara kerja kartu Tarrot dan tidak pernah mencoba cara ini. Yang saya sarankan kepada sesama hipnoterapis adalah pastikan cara atau teknik yang Anda gunakan telah benar-benar teruji secara klinis, didukung data yang akurat, dan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi untuk menemukan ISE.
Untuk benar-benar bisa menemukan ISE terapis sebaiknya melakukan hipnoanalisis mendalam menggunakan teknik yang sesuai.
Terapis sengaja mengarahkan ISE ke Past Life
Ada beberapa hipnoterapis yang sangat antusias dan percaya bahwa akar dari hampir semua masalah berasal dari kehidupan lampau atau past life. Untuk itu, setiap klien yang mereka tangani selalu diarahkan dengan regresi ke kehidupan lampau. Dan seperti yang direncanakan klien “berhasil” menemukan akar masalahnya di kehidupan lampau. Klien merasa lega dan sembuh… sampai beberapa saat kemudian masalah yang sama muncul lagi.
Saya beberapa kali menangani klien seperti ini. Dari hasil hipnoanalisis diketahui akar masalahnya bukan dari kehidupan lampau tapi dari masa kecil di kehidupan sekarang. Dengan kata lain terapi sebelumnya tidak tuntas karena tidak menemukan akar masalah yang sesungguhnya.
Klien menentukan ISE
Walau jarang terjadi namun ini pernah dialami seorang rekan. Klien yang dalam posisi otoritas yang lebih tinggi dari terapis mendikte terapis untuk langsung memproses satu kejadian yang oleh klien dirasa atau diputuskan sebagai akar masalahnya. Hasilnya? Sudah tentu tidak maksimal.
Terapis, dalam situasi apapun, tidak boleh menerima “saran” klien mana yang ISE atau bukan. Masukan dari klien bisa menjadi catatan penting dalam proses terapi. Namun yang menentukan ISE adalah pikiran bawah sadar bukan pikiran sadar.
Terapi hanya menggunakan Direct Suggestion
Terapi yang hanya mengandalkan DS punya kekurangan. Pertama, seringkali klien “sembuh” karena simtom hilang. Hilangnya simtom belum tentu indikasi klien sembuh. Yang sering terjadi sugesti yang diberikan kepada klien sifatnya bukan menyelesaikan masalah namun hanya menekan simtom sehingga tidak muncul.
Analogi keadaan ini adalah sebagai berikut. Bayangkan ada sebuah tong penuh berisi air. Di atas tong ini ada sebuah bola voli penuh berisi udara. Anda berusaha “menghilangkan” bola voli ini dengan menekan bola masuk ke dalam air. Dari permukaan tampak bola sudah bilang. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah bola “hilang” karena ditekan masuk ke dalam air. Saat Anda lelah dan tekanan berkurang atau hilang maka bola akan naik kembali ke permukaan.
Naiknya bola ini tidak hanya sekedar naik namun diiringi dengan kekuatan hebat mendesak ke atas dan bola bisa sampai melompat keluar dari permukaan air. Kondisi ini kami sebut dengan Bouncing Effect atau Efek Pembalikan. Dan biasanya saat simtom muncul kembali akan lebih parah dari sebelumnya. Ini yang sering terjadi pada perokok yang berhenti merokok karena hanya sekedar menggunakan DS atau will power. Mereka bisa berhenti merokok. Namun saat kambuh, mereka merokok jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Hipnoterapis sering abai satu hal penting. DS yang diberikan sebenarnya adalah program yang bertujuan menghilangkan simtom. Kekuatan DS ini tentu harus jauh lebih besar dari kekuatan program yang memunculkan simtom. Kekuatan DS ditentukan beberapa faktor penting yaitu: level otoritas pemberi sugesti menurut persepsi klien, tingkat keyakinan dan rasa percaya diri si terapis, kedalaman hipnosis, motivasi dan pengharapan klien, tingkat kepercayaan klien pada terapis, intensitas emosi klien, dan repetisi.
Dianulir Pikiran Sadar Klien
Klien dapat kambuh bila hasil terapi dianulir oleh pikiran sadar klien. Ini biasanya terjadi pada klien yang kritis. Terapis bisa melakukan terapi dengan sangat baik. Namun bila selesai terapi pikiran sadar klien mulai bertanya-tanya, mulai ragu, atau merasa tidak berhasil masuk kondisi hipnosis maka ia akan mulai menganulir semua kerja terapis hingga akhirnya simtom muncul kembali.
Untuk mencegah hal ini maka terapis perlu melakukan edukasi klien saat masih dalam kondisi sadar normal khususnya saat wawancara.
Proses anulir juga bisa terjadi begitu klien dibawa keluar dari kondisi hipnosis setelah selesai terapi. Terapis pemula atau yang tidak berpengalaman akan mengira begitu klien buka mata atau dibimbing keluar maka klien sudah langsung kembali ke kesadaran normal.
Yang benar adalah saat baru keluar dari kondisi hipnosis, selama beberapa menit pertama klien belum keluar sepenuhnya. Saat itu ia masih dalam kondisi hypersuggestible. Terapis harus hati-hati berbicara dengan klien di momen ini agar jangan sampai menganulir hasil terapi.
Untuk mempersingkat kondisi hypersuggestible dapat menggunakan teknik khusus yang saya namakan instant emerging.
Dianulir Pikiran Bawah Sadar Klien
Proses terapi yang telah selesai dilakukan dan telah menunjukkan hasil positif sebaiknya diperkuat dengan memastikan tidak ada Bagian Diri klien lainnya yang menolak baik secara terbuka maupun diam-diam.
Menurut teori Ego Personality dalam diri manusia ada banyak Bagian Diri. Proses terapi dilakukan pada satu atau beberapa Bagian Diri. Setelah selesai terapi, sebelum membawa klien keluar, terapis dengan menggunakan teknik khusus harus bisa memastikan bahwa perubahan dan pencapaian positif ini diterima, disetujui, dan didukung oleh semua Bagian Diri. Bila sampai ada Bagian Diri lain yang menolak, dan ini tidak diketahui oleh terapis karena tidak dicek, maka besar kemungkinan klien akan kambuh.
Dianulir Sugesti dari Figur dengan Otoritas Lebih Tinggi
Hasil positif terapi juga dapat dianulir oleh seseorang yang dipandang oleh klien memiliki otoritas jauh di atas terapis yang melakukan terapi. Misalnya klien baru selesai terapi dan ia sebenarnya sudah sembuh. Namun saat bertemu dengan seseorang yang sangat ia hormati dan orang ini berkata bahwa apa yang klien lakukan dengan hipnoterapi adalah salah, hipnoterapi itu bohong, pseudo-science, hasilnya tidak efektif, atau menggunakan kuasa gelap maka pikiran bawah sadar klien menerima sugesti ini dan menganulir hasil terapi. Akibatnya klien kambuh.
Hipnoterapis yang cerdas sudah pasti mengantisipasi kemungkinan ini. Untuk itu ia perlu memberikan sugesti untuk mengunci perubahan positif yang telah dicapai sehingga semakin hari semakin kuat dan tahan “gempuran”.
Tidak tuntas membersihkan emosi di ISE
Setiap kejadian, apapun itu, sifatnya netral. Tidak ada yang baik maupun buruk. Baik atau buruk ditentukan oleh emosi yang muncul karena persepsi atau pemaknaan kita terhadap situasi atau kejadian itu.
Cara paling cepat dan mudah untuk menyelesaikan masalah adalah dengan menemukan dan menetralisir emosi yang melekat pada memori kejadian. Saat emosi berhasil dinetralisir maka klien akan tetap dapat mengingat kejadian itu, sebagai satu memori, namun ia sama sekali tidak terpengaruh. Dengan kata lain klien sembuh.
Masalah akan muncul bila terapis tidak tuntas menetralisir emosi yang muncul di kejadian yang mengganggu klien. Asumsi terapis pada umumnya di satu kejadian hanya muncul satu emosi. Misalnya klien dihina oleh seseorang. Klien merasa marah. Terapis berpengalaman akan menggali lebih dalam lagi untuk menemukan emosi-emosi lain yang mungkin dirasakan oleh klien. Terapis perlu proaktif bertanya.
Terapis Salah Dalam Melakukan Affect Bridge
Dalam melakukan regresi dengan affect bridge hipnoterapis menggunakan satu emosi spesifik untuk membawa klien mundur, menyusuri garis waktu dan rangkaian memorinya, untuk menemukan akar masalah (ISE).
Sangat jarang terjadi dalam satu kali regresi langsung ditemukan ISE. Biasanya untuk mencapai ISE klien akan mundur dan bertemu dengan beberapa SSE.
Ketidakakuratan regresi terjadi bila hipnoterapis tidak cermat mengamati affect atau emosi yang dirasakan klien. Misalnya emosi yang digunakan untuk regresi adalah marah. Saat mundur dan mencapai SSE bisa terjadi yang dirasakan klien adalah sedih. Kondisi ini tentunya akan membingungkan hipnoterapis mengingat emosi yang dirasakan di SSE tidak sejalan degan emosi awal yang digunakan untuk regresi.
Apakah ada yang salah dengan hal ini?
Tidak. Inilah emosi yang dirasakan klien dan hipnoterapis harus menghargainya. Regresi lanjutan dilakukan dengan menggunakan perasaan sedih untuk menemukan ISE. Bisa terjadi, walau tidak sering, saat di ISE ternyata emosi yang dirasakan klien berbeda dengan emosi awal saat regresi.
Hipnoterapis yang kurang berpengalaman dengan teknik affect bridge akan bersikeras “memaksa” klien mundur ke masa lalunya dengan menggunakan emosi awal, marah. Dan mengabaikan perasaan yang dimunculkan pikiran bawah sadar klien. Kondisi ini mengakibatkan regresi tidak akan mencapai ISE yang sebenarnya.
Simtom Sama namun Akar Masalah Berbeda
Ada juga klien yang “kambuh” namun setelah dicek ulang ternyata akar masalahnya berbeda. Bila ini yang terjadi maka klien tidak kambuh. Sebenarnya ia mengalami masalah baru namun dengan simtom yang sama.
Analoginya seperti ini. Saat sebuah tungku dari tanah liat berisi air, ditutup rapat, dan dipanasi terus menerus cepat atau lambat tekanan di dalam tungku akan meningkat sampai satu titik bila tekanan ini tidak dikeluarkan pasti akan terjadi ledakan hebat.
Untuk menghindari terjadinya kerusakan fatal maka dinding atau tutup tungku akan mengalami retak dan tekanan akan keluar dari celah ini. Uap yang keluar inilah simtom. Api yang membakar dasar tungku adalah emosi. Saat api padam maka klien sembuh.
Namun saat klien ada masalah lagi api tungkunya menyala dan kembali membakar tungkunya. Cepat atau lambat pasti akan terjadi uap keluar dari retakan yang sebelumnya telah terjadi. Keluarnya uap dari retakan yang sama memunculkan simtom yang sama seperti sebelumnya. Jadi, simtom sama namun akar masalah berbeda. Pikiran bawah sadar memilih simtom yang sudah ia kenal sebelumnya. Ini disebut dengan the path of least resistance.
Aversion Therapy
Aversion therapy adalah terapi dengan menggunakan ancaman. Misalnya seorang klien datang ke terapis untuk anger management. Klien ini mudah sekali marah dan ini cukup mengganggu hidupnya.
Bukannya melakukan edukasi pikiran bawah sadar atau mencari akar masalah, terapis memberikan sugesti baik dalam bentuk verbal maupun visual, saat klien dalam kondisi deep trance, hal-hal buruk yang bisa dialami klien bila ia terus mengulangi kebiasaan marahnya. Misal terapis mensugestikan klien akan gagal dalam usaha, kena penyakit jantung, tekanan darah tinggi, bisa meninggal, dan lain sebagainya.
Sugesti ini masuk ke pikiran bawah sadar klien dan sudah tentu akan dijalankan dengan baik karena ini semua demi kebaikan klien. Namun, dan ini yang luput dari pemikiran hipnoterapis, dalam perjalanan hidup klien bisa saja ia bertemu dengan seseorang yang pemarah, sukses bisnisnya, panjang usianya, dan tetap sehat.
Bila klien menemukan fakta seperti ini maka pikiran bawah sadarnya akan mulai berpikir ulang mengenai program yang dulu dimasukkan oleh terapis. Dan cepat atau lambat program ini akan dianulir dan klien kembali ke perilaku asal. Saat klien kembali ke perilaku sebelumnya biasanya akan lebih parah dari sebelumnya.
Dalam terapi, apapun alasannya, hindari penggunaan aversion therapy. Hipnoterapi tidak bertujuan membatasi hidup klien, membuatnya kehilangan kontrol hidup, namun justru membantu klien kembali menjadi pengendali hidupnya. Terapi yang baik memberdayakan klien melalui peningkatan kesadaran dan kebijaksanaan.
Klien tidak mempertahankan perubahan positif yang telah dicapai
Ini juga salah satu faktor yang membuat klien kambuh. Mindset kebanyakan klien adalah saat ia datang ke terapis maka terapislah yang bertanggung jawab membereskan masalahnya. Klien berpikir seolah-olah ia adalah mesin dan terapis adalah mekaniknya. Dan sekali sembuh maka selamanya pasti sembuh.
Mindset yang benar adalah klien perlu secara sadar mempertahankan dan memperkuat perubahan positif yang telah dicapai. Sama seperti orang yang sakit perut karena salah makan. Setelah sembuh, ia perlu selektif dan hati-hati dalam memilih makanan. Tidak boleh lagi sembarangan makan.
Contoh lain, bila misalnya seseorang sudah berhenti merokok maka ia perlu menjaga dirinya dan menghindari hal-hal yang bisa mendorong dirinya merokok lagi, misalnya berkumpul dengan rekan-rekan perokok.
Terapi tidak tuntas karena Klien dalam pengaruh Obat
Ini sering terjadi pada klien yang minum obat penenang. Proses terapi menggunakan affect bridge membutuhkan emosi untuk mencapai akar masalah. Obat penenang membuat perasaan klien “tumpul” dan sulit merasakan emosinya.
Namun, bila hipnoterapis cukup sabar dan persisten biasanya emosi klien bisa muncul walau tidak terlalu intens. Saat emosi yang muncul ini diproses dan berhasil dihilangkan klien seolah-olah sudah sembuh. Yang terjadi adalah emosi yang diproses ini belum 100%. Bergantung pengaruh obat terhadap klien, emosi yang muncul bisa hanya 10%, 35%, 50%, namun pasti tidak pernah 100%.
Terapis perlu meminta klien untuk kembali untuk sesi lanjutan. Selain itu terapis juga perlu meminta klien untuk merasakan perubahan yang ia alami dan berkonsultasi dengan dokternya.
Bila tidak ada sesi lanjutan maka terapinya tidak tuntas. Selama masih minum obat klien terkesan sudah sembuh. Namun saat obat dihentikan simtom yang sama pasti akan muncul lagi akibat sisa emosi yang belum diproses.
Mengapa perlu konsultasi ke dokter?
Dari pengalaman kami menangani klien yang minum obat penenang, saat sebagian emosinya telah berhasil diproses, maka dosis obat yang sebelumnya pas untuk kondisi klien kini justru menjadi overdosis. Klien perlu berkonsultasi dengan dokter dengan harapan dokter akan menurunkan dosis obatnya. Hipnoterapis tidak boleh menyarankan klien untuk mengurangi dosis obat atau berhenti minum obat.
Terapis melanjutkan terapinya setelah dosis obat turun. Dengan turunnya dosis obat maka akan semakin banyak lagi emosi yang bisa muncul dan diproses. Demikian seterusnya sampai semua emosi berhasil diproses.
Tidak maksimal menggunakan teknik Ego State Therapy
Ego State Therapy adalah teknik terapi yang dilakukan dengan mengakses dan memproses Bagian Diri klien. Saat ini saya tidak lagi menggunakan istilah Ego State Therapy (EST) melainkan Ego Personality Therapy (EPT). Ego State adalah bagian atau komponen dari Ego Personality.
Namun, Ego State Therapy adalah istilah yang banyak digunakan dalam dunia hipnoterapi dan dalam uraian ini saya menggunakannya agar pembaca tidak bingung.
Teknik EST benar sangat efektif dalam membantu klien mengatasi masalahya. Namun teknik ini bukan panacea atau teknik yang bisa mengatasi semua masalah. Setiap teknik ada kelebihan dan keterbatasan.
Cara yang paling sering digunakan dalam EST adalah dengan memfasilitasi, mediasi, membujuk, mengedukasi, atau negosiasi dengan Bagian Diri yang membuat masalah sehingga bersedia berhenti membuat masalah dan mendukung klien.
Untuk melakukan hal ini hipnoterapis perlu cermat memastikan bahwa Ego State (ES) yang ia ajak bicara adalah benar ES yang membuat masalah. Seringkali yang muncul adalah ES yang lain.
Kesalahan lain yaitu terapis terlalu mudah percaya pada Ego State. Saat ES berkata ia bersedia mendukung klien atau memaafkan orang / pelaku yang telah menyakiti klien maka terapis terlalu cepat bergembira dan merasa telah berhasil menyelesaikan masalah klien. Terapis tidak melakukan uji hasil terapi untuk memastikan kebenaran pernyataan ES.
Yang seringkali terjadi adalah ES yang memegang emosi tertentu, yang mana emosi inilah yang membuat hidup klien susah, ternyata tidak bersedia memaafkan pelaku. Dalam hal ini ES berbohong pada terapis.
Pengalaman klinis saya mengantarkan saya pada satu pemahaman penting. ES tidak akan bersedia atau tidak bisa memaafkan dengan tulus atau mendukung klien selama emosi yang ia pegang belum dilepas. Jadi, hipnoterapis perlu menguasai teknik abreaction yang khusus dilakukan pada Ego State.