The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
“Pak Adi, kenapa sih pelatihan hipnoterapi yang Pak Adi selenggarakan lama banget, 100 jam?”
Ini adalah pertanyaan yang kerap ditanyakan kepada saya. Dan biasanya secara diplomatis saya akan menjawab bahwa ini adalah standar minimal yang disyaratkan untuk bisa menguasai hipnoterapi dengan baik.
Ada lagi yang bertanya, “Pak, mengapa harus dibagi menjadi tiga kali pertemuan masing-masing tiga hari, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Bukankah akan lebih praktis bila Pak Adi mendesain pelatihan langsung selama sembilan hari dengan total 100 jam. Kan sama saja. Kalau bisa langsung sembilan hari kami tidak harus bolak balik ke Surabaya.”
Pertanyaan lain yang juga sangat sering saya jumpai, “Pak, kenapa sih dibuat di Surabaya. Kapan diselenggarakan di Jakarta?”
Untuk pertanyaan terakhir jawabannya sederhana. Di Surabaya saya sudah membangun gedung Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology di atas lahan seluas 1.200 m2 dengan bangunan seluas 800 m2. Gedung ini dilengkapi dengan 5 ruang terapi, 1 ruang R&D, dan 2 ruang pelatihan yang dilengkapi peralatan sangat lengkap, hi-tech, kualitas sound system dan LCD Projector jauh di atas standar hotel manapun yang pernah saya gunakan. Jadi, saat ini semua pelatihan saya pusatkan di Surabaya.
Ada banyak alasan mengapa pelatihan dan sertifikasi hipnoterapis profesional Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy harus 100 jam dan dijalankan dengan format tiga kali pertemuan masing-masing tiga hari.
Saya ingat saat dulu ingin mendalami hipnoterapi secara serius. Saya men-google pelatihan hipnoterapi di wilayah Asia Pasifik. Saat itu, sekitar 7 tahun lalu, saya mendapat informasi adanya pelatihan di Singapore yang diselenggarakan oleh salah satu trainer hipnoterapi terkenal dari Amerika. Lama pelatihan 100 jam dengan format tatap muka selama 10 hari berturut-turut tanpa istirahat.
Saat itu saya hampir saja ikut. Namun setelah mempertimbangkan sungguh-sungguh akhirnya saya urungkan niat ini. Saya merasa tidak sanggup menyerap semua materi ini hanya dalam waktu 10 hari. Proses internalisasi informasi sehingga masuk dalam struktur kognisi membutuhkan waktu. Tidak bisa dipaksakan.
Pemikiran lain yaitu hipnoterapi adalah keterampilan yang harus diasah dengan praktik yang konsisten. Dan ini membutuhkan waktu, bimbingan, dan arahan dari trainer.
Selain itu kendalanya adalah bahasa dan biaya. Pelatihan dibawakan dalam bahasa Inggris. Dan sudah tentu akan ada banyak istilah atau terminologi hipnoterapi yang, saat itu, tidak saya pahami. Kalau sampai tidak mengerti istilah teknis maka bisa dibayangkan bagaimana pengaruhnya pada pemahaman materi yang diajarkan. Biaya pelatihannya juga cukup tinggi. Bila ditambahkan dengan tiket pesawat dan akomodasi selama 12 hari, plus makan, maka bisa menghabiskan sekitar US$ 5.000 atau hampir mencapai Rp. 50 juta (kurs saat itu)
Alasan lain yaitu tidak ada sesi live therapy di kelas. Mengapa saya sangat ingin ada live therapy di kelas? Pemikiran saya sederhana. Trainer yang cakap dan mumpuni adalah yang bisa mengajar dengan baik, mampu membuat murid-muridnya mengerti apa yang diajarkan, dan juga mampu membuktikan apa yang ia ajarkan di kelas dengan menunjukkan praktik nyata menangani klien di depan murid-muridnya. Ini juga untuk membuat para murid yakin dan percaya dengan apa yang diajarkan si trainer.
Ada beberapa pelatihan di Amerika yang dijalankan dengan format pertemuan setiap satu atau dua minggu. Jadi, ada waktu istirahat untuk praktik dan internalisasi. Kendalanya, kalau saat itu saya ke Amerika, adalah terutama di faktor biaya yang sangat tinggi.
Awal karir saya sebagai hipnoterapis diawali dengan belajar hipnosis dan hipnoterapi ke dua pakar terkemuka. Satu, pakar dari dalam negeri, Yan Nurindra, dan satu lagi dari Amerika, Marleen Mulder (HTI). Setelah itu saya mendalami secara otodidak dengan membaca sangat banyak buku, sekitar 400an saat itu, menonton lebih dari 150 video tentang hipnoterapi yang saya beli dari luar negeri, dan mempraktikkan hipnoterapi. Ini memang investasi yang sangat besar. Namun, saya menyadari sepenuhnya bahwa memang ini lah harga yang harus saya bayar untuk bisa benar-benar memahami dan menguasai hipnoterapi.
Perjalanan karir dan pembelajaran saya di bidang mind technology selengkapnya dapat anda baca di http://www.adiwgunawan.com/?p=page&action=view&pid=22.
Setelah praktik dan jatuh bangun selama tiga tahun dan berhasil membangun protokol terapi sendiri, Quantum Hypnotherapeutic Protocol, saya membuka kelas pelatihan dan sertifikasi hipnoterapis profesional. Standar yang ditetapkan sama dengan yang di luar negeri yaitu 100 jam yang terbagi menjadi sembilan hari pelatihan. Sembilan hari ini dibagi menjadi tiga pertemuan masing-masing tiga hari, Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Ada jeda sekitar dua sampai tiga minggu untuk tiap pertemuan dengan tujuan memberi peserta waktu untuk mencerna dan internalisasi materi yang diajarkan di kelas dan melakukan praktik.
Jadi, apa, mengapa, dan bagaimana saya mendesain pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy?
Desain, lama waktu belajar, kurikulum, sistematika pembelajaran, dan cara penyajian materi semua harus mengacu pada tujuan akhir yang akan dicapai. Jadi, sebelum mendesain pelatihan saya menetapkan dulu tujuan akhir pelatihan saya. Ada dua opsi, saat itu. Pertama, pelatihan saya bertujuan memberikan informasi lengkap, utuh, dan komprehensif mengenai hipnosis dan hipnoterapi, namun peserta tidak bisa melakukan terapi. Kedua, semua yang diajarkan di opsi pertama plus peserta mampu, cakap, terampil, percaya diri, kompeten melakukan terapi menangani berbagai kasus yang berhubungan dengan mental dan atau emosi. Saya memilih opsi kedua.
Opsi kedua memaksa saya berpikir keras. Apa saja masalah klien yang saya harap dapat ditangani dengan baik oleh para alumni pelatihan saya? Setelah berpikir cukup lama, dan dengan mempelajari banyak literatur luar negeri, saya membuat daftar kemungkinan masalah yang akan ditangani oleh alumni saya. Selengkapnya bisa dilihat di http://www.adiwgunawan.com/?p=page&action=view&pid=12.
Barulah setelah ini saya menentukan kurikulum yang akan diajarkan dan sistematika pengajarannya. Saya memutuskan lama pelatihan 100 jam tatap muka di kelas, tidak termasuk membaca buku, menonton video di luar kelas, dan praktik latihan. Waktu 100 jam ini dibagi menjadi tiga pertemuan masing-masing selama tiga hari.
Mengapa dibagi menjadi tiga pertemuan?
Saya ingin peserta dapat benar-benar mengerti, menyerap, dan mampu mempraktikkan yang saya ajarkan di kelas. Materi minggu pertama adalah fondasi bagi materi minggu kedua. Materi minggu kedua adalah fondasi bagi minggu ketiga. Dengan demikian kurikulumnya juga saling terhubung dan semakin lama semakin dalam. Saya menggunakan spiral curriculum.
Selain itu bahasa dan cara penyampaian saya haruslah benar-benar membumi. Saya menghindari penggunaan istilah yang sulit dimengerti. Teori atau konsep yang rumit saya sederhanakan, jelaskan dengan bahasa sehari-hari, dan menggunakan contoh atau analogi sehingga sangat mudah dipahami.
Di minggu kedua, seorang peserta berkata, “Jujur Pak Adi, sebelum berangkat ke Surabaya menghadiri pelatihan ini saya merasa cemas, khawatir, dan tidak percaya diri. Saya tahu materi yang Pak Adi ajarkan ini cukup berat. Saya takut tidak mengerti yang Bapak ajarkan. Ternyata sejak hari pertama saya merasa sangat nyaman. Hilang semua rasa cemas dan khawatir saya. Bapak mampu menjelaskan hal yang saya tahu sangat kompleks dengan bahasa yang begitu mudah dimengerti orang awam seperti saya. Terima kasih Pak.”
Ada lagi seorang Ibu berusia sekitar 65 tahun sambil tersenyum berkata, “Saya tadinya khawatir tidak mampu memahami apa yang Bapak ajarkan mengingat usia saya. Ternyata hipnoterapi tidaklah sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Pak Adi mampu menjelaskan semuanya sehingga dapat dengan sangat mudah saya mengerti.”
Apa saja yang diajarkan?
Minggu 1 (Jumat, Sabtu, Minggu)
Fase di minggu pertama ini sangat penting dan kritis. Di tiga hari pertama ini saya menjelaskan dengan sangat detil hal-hal yang harus diketahui oleh seorang calon hipnoterapis termasuk bahaya hipnoterapi bila dilakukan tidak dengan hati-hati, tidak cermat, dan tidak bertanggung jawab.
Saya menjelaskan dengan sangat rinci berbagai hal antara lain teori pikiran yang saya bangun dari pengalaman praktik selama ini, teori Tungku Mental, aliran hipnoterapi, struktur waking hypnosis, memahami kedalaman hipnosis yang terdiri atas 40 level (QHI Hypnotic Depth Scale), mengakses setiap level kedalaman dan memahami fenomena mental dan fisiknya, protokol hipnoterapi (Quantum Hypnotherapeutic Protocol), pengukuran pola gelombang otak menggunakan DBSA dan relaksasi fisik dengan digital meter khusus, 12 aturan dalam menyusun sugesti, 16 sifat pikiran bawah sadar, 11 hukum pikiran, bahasa pikiran bawah sadar, 23 ciri-ciri trance di aspek fisik, ciri trance secara mental, hubungan relaksasi mental dan fisik (empat kuadran relaksasi), bagaimana menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar siap menjalani sesi terapi, teknik mengatasi resistensi, dan masih banyak lagi.
Yang juga sangat penting adalah saya membuktikan pada peserta bahwa pada prinsipnya semua orang bisa masuk ke kondisi hipnosis. Data yang diyakini benar oleh banyak hipnoterapis, berdasar Standford Hypnotic Susceptibility Scale, yang menyatakan bahwa ada 85% manusia moderat, 10% mudah, dan 5% sulit dihipnosis adalah salah. Saya jelaskan bagaimana Ernest Hilgard melakukan risetnya yang ternyata tidak valid untuk klien yang masuk ruang terapi.
Juga saya jelaskan apa itu emotionally suggestibility dan physically suggestibility. Berbeda dengan pendapat kebanyakan orang, saya mengajarkan dan membuktikan kepada para peserta bahwa klien yang sangat bagus untuk diterapi justru yang tipe emotionally suggestible, bukan physically suggestible.
Di minggu pertama ini saya mengajarkan secara mendalam mengenai induksi, berbagai teknik deepening yang telah dipilih dengan hati-hati dan telah terbukti sangat efektif. Secara khusus saya hanya mengajarkan satu teknik induksi yang telah terbukti sangat efektif, dengan success rate 99,5122%, membawa klien tipe apa saja, baik physically maupun emotionally suggestible, masuk ke level minimal profound somnambulism (deep trance) dan bahkan bisa lebih dalam lagi hingga level Esadaile dan catatonia.
Dan yang lebih luar biasa lagi adalah murid saya tidak perlu bingung atau melakukan uji sugetibilitas untuk mengetahui apakah subjek masuk kategori physically atau emotionally suggestible. Semua sudah saya rancang sedemikian rupa sehingga saat mereka melakukan induksi klien tipe apa saja pasti akan masuk deep trance. Ibaratnya, tanpa perlu tahu apa-apa, tinggal baca script induksi saja klien pasti masuk deep trance.
Teknik induksi ini saya beri nama Elman-Adi Induction (EAI). Dengan sangat detil saya menjelaskan sejarah teknik induksi ini, sistematika dan psikologi di balik setiap tahap induksi, apa efeknya pada klien di level neurolofisiologis dan juga psikis.
Dan yang juga sangat penting saya memberi contoh melakukan induksi di depan kelas. Hal ini perlu dilakukan agar para peserta mengerti dan terutama percaya pada keefektifan EAI. Peserta yang selama ini merasa tidak pernah bisa dihipnosis, saya bawa masuk deep trance dengan sangat mudah dengan EAI. Semua dibuktikan dengan pengukuran pola gelombang otaknya.
Para peserta dilatih dengan sangat cermat agar bisa, mampu, cakap, dan mahir mempraktikkan EAI. Mereka diamati mulai dari cara membaca script, timing, tekanan suara, volume suara, dan bahasa tubuh saat melakukan induksi.
Selama tiga hari ini selain mendapat sangat banyak materi dan praktik saya juga melakukan seeding dengan memasukkan sangat banyak data ke pikiran bawah sadar peserta khususnya mengenai kasus yang pernah ditangani, proses terapinya, teknik yang digunakan, kreativitas saat terapi, mindset hipnoterapis, bagaimana menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar siap mendukung proses perubahan, apa saja yang bisa dan mungkin terjadi selama proses terapi, kapan menggunakan teknik tertentu, apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, risiko hipnoterapi, dan masih banyak lagi.
Data ini setelah masuk ke pikiran bawah sadar akan mengendap dan menunggu waktu untuk diaktifkan. Dengan cara ini saya menyiapkan pikiran bawah sadar peserta untuk materi minggu kedua.
Di minggu pertama saya sama sekali tidak mengajarkan teknik intervensi klinis. Yang diutamakan di minggu pertama adalah membangun pemahaman yang benar mengenai hipnoterapi dan mampu melakukan induksi membawa subjek masuk ke level minimal deep trance atau profound somnambulism.
Setelah mendapat materi selama tiga hari penuh peserta mendapat libur dua minggu. Masa libur ini digunakan untuk mempraktikkan induksi kepada minimal 10 subjek dan memberikan sugesti sesuai kebutuhan subjek.
Di sini saya melengkapi setiap peserta dengan ratusan patter script siap pakai untuk subjek dewasa dan anak-anak, untuk berbagai kondisi dan kebutuhan. Bila ternyata patter script yang saya sediakan tidak cocok untuk kebutuhan subjek maka peserta bisa menyusun sendiri script sesuai dengan kebutuhan subjek. Tentunya dengan mengacu pada aturan menyusun sugesti, hukum dan sifat pikiran bawah sadar.
Peserta wajib melakukan EAI, memastikan subjek masuk deep trance, memberikan sugesti, dan mencatat hasil dari setiap induksinya. Kecakapan membawa subjek masuk deep trance adalah mutlak karena berbagai teknik terapi yang saya ajarkan di minggu kedua hanya akan efektif bila dilakukan dalam kondisi deep trance.
Di minggu pertama saya memutar beberapa video tentang riset hipnosis dan hipnoterapi yang dilakukan di luar negeri, termasuk penanganan beberapa kasus menggunakan teknik konvensional seperti direct suggestion, cognitive behavior therapy, dan dibandingkan bila menggunakan hipnoterapi.
Minggu 2 (Jumat, Sabtu, Minggu)
Setelah libur dua minggu peserta kembali ke Adi W. Gunawan Institute untuk mendapat materi lanjutan. Di hari pertama para peserta melaporkan apa saja yang telah mereka lakukan, berapa subjek yang mereka induksi, dan bagaimana hasilnya. Saya mencatat jumlah subjek dan tingkat keberhasilan mereka dibimbing masuk ke level deep trance. Setelah itu saya mengumumkan hasilnya kepada para peserta.
Di angkatan terakhir total subjek yang diinduksi dengan EAI berjumlah 205 orang. Yang gagal masuk deep trance, dianggap gagal walau sebenarnya sudah berhasil masuk medium trance, hanya ada satu subjek. Dengan demikian tingkat keberhasilan peserta angkatan ini membawa subjek masuk deep trance dan lebih dalam lagi adalah 95,5122%.
Bisa dibayangkan bagaimana rasa percaya diri para peserta yang sebenarnya masih sangat pemula ini. Sudah tentu di minggu kedua ini mereka sudah sangat percaya diri karena mampu dengan sangat mudah membawa subjek masuk ke deep trance. Kepercayaan diri yang tinggi ini adalah komponen penting dan modal yang sangat menentukan keberhasilan terapi yang akan mereka lakukan.
Secara sistematis, hati-hati, dan berkesinambungan, saya membangun rasa percaya diri setiap peserta. Satu sukses digunakan sebagai landasan untuk sukses berikutnya. Demikian seterusnya.
Apa saja yang diajarkan di minggu kedua?
Di minggu kedua saya tidak lagi menganjurkan peserta menggunakan patter script. Teknik yang digunakan adalah teknik intervensi klinis advanced. Patter script dalam bentuk dua buku yang tebal sekali, untuk subjek dewasa dan anak, yang diberikan di minggu pertama praktis tidak lagi digunakan.
Saya banyak melakukan tanya jawab dan memberi masukan kepada peserta untuk semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka. Materi lanjutan yang diberikan antara lain penjelasan lengkap Quantum Hypnotherapeutic Protocol beserta beragam contoh kasus, pedalaman teori Tungku Mental, teknik tambahan untuk semakin meningkatkan keefektifan EAI, apa itu abreaction/catharsis, state of abreaction, content of abreaction, management of abreaction, 7 teknik abreaction, bahaya abreaction, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan abreaction, syarat abreaction, berbagai teknik intervensi klinis, teori, prinsip, dan teknik hypnotic regression, mengapa gagal melakukan regresi, Inner Child Work, forgiveness therapy, Ego Personality Therapy, dua teknik utama menemukan dan memproses akar masalah, hypnodiagnostic tools, Getalt Therapy dan masih banyak lagi.
Di akhir hari pertama peserta menyaksikan rekaman video terapi yang saya lakukan. Rekaman ini lengkap mulai dari awal hingga selesai. Dengan demikian peserta dapat melihat dan dengan jelas mengerti bagaimana mengaplikasikan berbagai teknik dan pengetahuan yang telah didapat.
Di hari kedua, minggu kedua, saya melakukan live therapy di kelas dan disaksikan semua peserta. Klien selalu dipilih yang berasal dari luar peserta. Hal ini bertujuan agar peserta dapat menyaksikan secara lengkap apa yang saya lakukan di ruang terapi saya. Kalau klien berasal dari peserta akan sangat mudah karena mereka sudah mengenal saya. Kalau dari luar peserta tantangannya berbeda.
Satu sesi terapi mulai dari mengisi intake form, wawancara, hingga selesai terapi biasanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Selama proses terapi saya bisa berhenti sejenak dan berkomunikasi dengan peserta untuk mendiskusikan apa yang saya lakukan dan mengapa saya melakukan yang saya lakukan.
Peserta juga diminta mempraktikkan berbagai teknik yang diajarkan. Misalnya hypnotic regression, mengakses dan berbicara dengan Ego Personality, mengakses dan berbicara dengan Inner Child.
Klien yang saya terapi di hari kedua, di angkatan lalu, berasal dari luar kota dan ingin mengatasi perasaan bersalah yang telah ia alami selama tujuh tahun. Saya menggunakan gabungan teknik hypnotic regression dan Ego Personality Therapy untuk bisa melakukan resolusi pada masalahnya. Ada banyak hal yang dilakukan dalam sesi ini hingga akhirnya pikiran bawah sadar klien bersedia memaafkannya. Saya juga melakukan edukasi pikiran bawah sadar klien dengan teknik khusus untuk menutup kemungkinan klien kembali melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang.
Peserta melihat dengan mata kepala mereka sendiri transformasi diri yang dialami klien ini sesudah proses terapi. Ini sangat memperkuat dan meningkatkan kepercayaan diri mereka dan sekaligus meyakinkan mereka semua bahwa pengetahuan dan teknik yang saya ajarkan benar-benar efektif.
Selesai proses terapi saya melakukan diskusi intens dengan para peserta membahas proses terapi yang baru mereka saksikan.
Di akhir hari kedua saya kembali memutar satu video rekaman terapi yang saya lakukan. Di video ini peserta menyaksikan bagaimana berbagai teknik yang telah mereka pelajari dipraktikkan dengan kreatif membantu klien mengatasi masalahnya.
Di hari ketiga selain mendapat tambahan materi lagi peserta juga melakukan praktik latihan. Pengulangan ini bertujuan semakin membuat peserta fasih melakukan teknik terapi yang diajarkan.
Saya melakukan satu live therapy lagi. Klien kali ini adalah seorang wanita dari luar kota berusia sedikit di bawah 30 tahun yang mengalami trauma berat. Saya tidak menyangka kalau kasusnya seperti ini. Namun saya tidak boleh menolak klien. Dan kasus yang berat tentu butuh penanganan ekstra. Dan ini sangat baik dijadikan bahan pembelajaran bagi para peserta pelatihan.
Apa kasusnya? Klien ini berasal dari keluarga broken. Sejak ia masih kecil ibunya meninggalkan keluarganya. Ia dan saudaranya diasuh oleh ayahnya. Dan yang sangat menyedihkan sejak usia enam tahun hingga dua puluh empat tahun klien secara konsisten mengalami pelecehan seksual berat oleh ayah kandungnya sendiri. Dan saat sekolah di SMK klien juga dua kali mengalami pelecehan seksual berat oleh kepala sekolahnya.
Yang hendak dibereskan dalam proses terapi ini ada tiga. Pertama, kemarahan hebat pada ibunya yang meninggalkannya saat kecil sehingga ia mengalami pelecehan seksual oleh ayah kandungnya, kemarahan pada ayah kandung, dan kepada kepala sekolahnya.
Saya membutuhkan sekitar dua jam untuk membantu klien ini menyembuhkan luka batin yang sangat hebat akibat pengalaman traumatik ini. Banyak peserta pelatihan, khsususnya peserta wanita yang menangis saat menyaksikan saya memproses klien ini.
Selesai terapi klien langsung berubah. Ia tampak lebih ceria. Sebelumnya, emosi klien tampak datar. Ia menceritakan pengalaman traumatiknya tanpa emosi sama sekali. Saya tahu ini adalah bentuk represi yang dilakukan pikiran bawah sadarnya. Setelah diterapi klien bisa tertawa lepas dan lebih ekspresif.
Selesai tiga hari pelatihan para peserta libur selama dua minggu untuk praktik. Saya memberi tugas peserta untuk menerapi minimal sepuluh klien. Peserta tidak boleh menangani kasus fobia karena ini tergolong kasus mudah.
Selama masa libur para peserta dapat menghubungi saya atau asisten yang ditunjukkan khusus untuk membantu memberi saran dan masukan bila mereka membutuhkan. Ini adalah bagian dari program coaching dan mentoring yang sangat dibutuhkan para hipnoterapis pemula. Dan program ini, coaching dan mentoring, saya tahu tidak diberikan oleh banyak lembaga atau trainer termasuk para trainer dari luar negeri.
Sebagai hipnoterapis pemula tentu bisa mengalami kebingungan atau ada yang kurang jelas. Bila kondisi ini tidak segera diatasi akan berakibat tidak baik bagi kemajuan dan rasa percaya diri mereka.
Di akhir minggu kedua peserta secara resmi bergabung ke dalam milis QHI untuk bisa mendapat sharing pengalaman dari para senior dan juga mengakses database email yang pernah diposting di milis sejak tahun 2008. Milis ini bersifat tertutup dan hanya untuk alumni pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy.
Email-email ini berisi sangat banyak kasus terapi yang ditulis dengan cukup detil. Dengan membaca sharing ini mereka akan semakin diperkaya pengetahuan dan wawasannya. Dan sudah tentu juga akan menjadi semakin yakin dan percaya diri.
Minggu 3 (Jumat, Sabtu, Minggu)
Minggu ketiga adalah minggu terakhir. Hari pertama, seperti minggu lalu, peserta diminta menceritakan pengalaman praktik mereka. Berapa subjek yang diterapi, apa masalahnya, bagaimana mereka menangani kasus, dan apa hasilnya.
Di sini semua peserta belajar dari sharing rekannya. Setiap peserta selesai menyampaikan kisah terapi mereka biasanya saya menambahkan hal-hal yang perlu mereka ketahui, memberi saran dan masukan. Saya juga memberi kesempatan tanya jawab baik terhadap proses terapi yang dilakukan, teori yang mungkin masih kurang dipahami peserta, dan cara meningkatkan kreativitas dalam terapi.
Di hari pertama, setelah makan siang, peserta kembali mendapat tambahan materi. Pertama saya menjelaskan lebih dalam lagi Quantum Hypnotherapeutic Protocol. Dilanjutkan dengan berbagai teknik terapi NLP.
Perbedaan mendasar yang kami lakukan dibandingkan dengan kebanyakan terapis yang menggunakan teknik NLP adalah kami melakukan teknik ini saat klien dalam kondisi deep trance. Sudah tentu hasilnya akan jauh lebih efektif. Hal ini juga dinyatakan oleh Richard Bandler dalam bukunya Guide to Trance-formation: How to Harness the Power of Hypnosis to Ignite Effortless and Lasting Change.
Teknik NLP yang diajarkan di pelatihan ini adalah teknik yang telah mengalami penyempurnaan berdasar pengalaman praktik pada ribuan klien. Saya dan rekan sejawat hipnoterapis alumni pelatihan saya saling berbagi pengalaman dan bekerjasama menyempurnakan berbagai teknik NLP ini. Hasilnya? Sungguh luar biasa.
Tidak kalah pentingnya adalah teknik Hypno-EFT. Saya menjelaskan sistematika dan psikologi di balik teknik Hypno-EFT termasuk sikap, keyakinan, dan cara membujuk pikiran bawah sadar klien sehingga bersedia mendukung perubahan yang akan dicapai melalui Hypno-EFT. Saya juga mengajarkan teknik Priming the Subconscious for Change. Dengan teknik ini saya dapat membuat intensitas emosi negatif klien dari skala 10 langsung turun ke 1 atau 0 hanya dengan mengurut sore sport, tidak perlu melakukan tapping.
Selesai saya mengajarkan satu teknik saya meminta peserta untuk praktik di bawah pengawasan asisten. Demikian seterusnya hingga semua teknik ini selesai diajarkan dan dipraktikkan oleh peserta.
Di hari kedua saya menjelaskan panjang lebar mengenai hipnoterapi untuk anak-anak. Yang masuk kategori anak adalah klien dari usia 5 hingga 12 tahun. Bagaimana cara menginduksi, teknik apa yang cocok, dan bagaimana menangani berbagai masalah yang biasa anak alami.
Seperti biasa, saya melakukan satu live therapy di hari kedua. Kali ini saya lebih bebas menggunakan teknik yang ada karena sudah saya ajarkan semua. Di minggu lalu saya harus membatasi diri untuk tidak menggunakan teknik yang belum diajarkan di kelas. Peserta melihat bagaimana saya mempraktikkan semua pengetahuan yang telah diajarkan di kelas dalam membantu klien mengatasi masalahnya dan mengambil kembali kendali atas dirinya.
Saya juga memutar beberapa video hasil riset mengenai hipnosis dan hipnoterapi dan aplikasinya dalam bidang medis. Ini bertujuan memperluas wawasan peserta mengenai aplikasi hipnosis dan hipnoterapi.
Hari ketiga, ini yang biasa sangat ditunggu para peserta. Di hari ini saya menjelaskan secara mendalam mengenai past life regression (PLR) atau regresi kehidupan lampau. Dan sudah tentu saya juga melakukan demonstrasi membawa peserta ke “kehidupan lampau”nya.
Syarat untuk bisa melakukan PLR dengan lancar dan berhasil adalah peserta harus cakap, terampil, dan fasih membawa subjek ke deep trance dan melakukan age regression.
Saya sengaja memberi tanda kutip di kata kehidupan lampau karena terapis tidak berkepentingan untuk membuktikan apakah benar-benar ada kehidupan lampau atau tidak. Ini semua kembali kepada belief system klien.
Seringkali hal yang katanya adalah kehidupan lampau ternyata adalah imajinasi klien atau metafora yang dimunculkan pikiran bawah sadar. Ada juga yang menggunakan skenario seperti yang ada di film yang pernah ditonton klien.
Walau saya mengajarkan PLR namun saya melarang semua alumni saya untuk menerima PLR by order. Artinya mereka tidak diperkenankan melakukan PLR berdasar pesanan klien. Mengapa? Karena bila berdasar pesanan maka yang terjadi adalah proses regresi yang diarahkan atau leaded regression. Ini tidak valid. Kecuali bila misalnya dalam proses terapi terjadi PLR spontan.
Yang penting adalah bila sampai terjadi PLR spontan hipnoterapis harus bisa bersikap bijaksana, tetap tenang, dan mampu memfasilitasi proses terapinya sehingga klien sembuh.
Di akhir hari ketiga saya menyerahkan sertifikat dan secara resmi para alumni menyandang gelar C.Ht atau certified hypnotherapist.
Apakah setelah ini semuanya sudah selesai?
Tentu tidak. Saya menyarankan alumni saya membaca 10 (sepuluh) buku pilihan yang sarat informasi penting dan berharga untuk semakin mempertajam kemampuan mereka. Buku-buku ini saya pilih dengan sangat hati-hati dari sekitar 1.100 judul buku dengan tema pikiran, psikologi, hipnosis, hipnoterapi, dan terapi yang saya miliki.
Apakah hanya sampai di sini?
Tentu tidak. Selesai minggu ketiga para hipnoterapis ini kembali ke kotanya masing-masing dan mulai membantu masyarakat yang membutuhkan layanan hipnoterapi.
Untuk semakin mengembangkan kemampuan dan kecakapan alumni saya memberikan kesempatan kepada setiap alumnus untuk bisa bertanya dan berdiskusi dengan saya melalui telpon. Setiap alumnus dapat dengan mudah menghubungi saya. Ini adalah program coaching dan mentoring berkelanjutan selama 2 tahun.
Apakah hanya sampai di sini?
Sekali lagi tidak. Bagi para alumni yang ingin semakin berkembang dan maju, misalnya ingin menjadi penulis buku dan trainer, saya juga memberi kesempatan pada mereka untuk konsultasi dan bimbingan.
Saya akan memberi pandangan apa yang perlu dilakukan, apa yang perlu disiapkan, bagaimana cara menulis buku yang baik, bagaimana menjadi pembicara publik yang sukses, dan membantu mengenalkan alumnus dengan penerbit buku terbesar di Indonesia agar bukunya dapat diterbitkan oleh penerbit ini.
Sudah ada beberapa alumni pelatihan saya yang kini menjadi penulis buku dan pembicara publik terkenal di Indonesia.
Apakah hanya sampai di sini?
Sekali lagi jawabannya tidak. Bagi para alumni yang benar-benar serius mengembangkan kemampuan, kecakapan, pengetahuan, dan keilmuan hipnoterapi saya telah menyiapkan kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy level 2, 3, dan 4.
SECH level 2,3, dan 4 masing-masing berlangsung selama 3 hari penuh. Materi yang diajarkan sangat advanced. Kelas ini hanya boleh diikuti hipnoterapis aktif, alumnus SECH 100 jam, dan harus lolos tes. Selesai SECH level 4 peserta mendapat sertifikasi sebagai CCH atau certified clinical hypnotherapist.
Demikianlah ulasan saya mengenai tujuan, desain, sistematika, kurikulum, dan metode pembelajaran di kelas sertifikasi hipnoterapis profesional 100 jam Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy, beserta dukungan pascapelatihan dan program lanjutannya.
Materi pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy baik yang 100 jam (level 1) maupun level 2,3, dan 4 selalu saya update sejalan dengan perkembangan dan temuan di ruang praktik saya dan alumni, dari hasil diskusi, sharing, dan analisis kasus, dan diperkuat dengan studi literatur seperti buku dan jurnal.
Untuk semakin mengembangkan hipnoterapi klinis di Indonesia kami telah mendirikan Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI).
Di tahun mendatang Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology akan menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi hipnoterapis profesional Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy dalam bahasa Inggris.
Sudah saatnya, menurut hemat saya, orang luar negeri datang dan belajar ke Indonesia. Apa yang kita lakukan dan kembangkan di Indonesia sudah sepantasnya mendapat pengakuan dan penghargaan internasional karena memang telah menyamai standar lembaga terkemuka di Amerika, dan bahkan lebih baik lagi.
Demikianlah kenyataannya.......
“Pak Adi, saya melakukan Ego State Therapy (EST). Untuk kasus ringan saya berhasil menyembuhkan klien saya. Tapi kalau kasus yang agak berat, kenapa ya saya selalu gagal?” tanya salah satu rekan hipnoterapis.
“Bisa jelaskan lebih detil bagaimana cara Anda melakukan EST? Yang dimaksud kasus ringan dan berat menurut Anda itu yang bagaimana?” saya balik bertanya.
“Saya menggunakan dua kursi. Masing-masing kursi mewakili satu Ego State (ES). Dalam kasus tertentu saya bisa menggunakan tiga dan empat kursi, sesuai dengan jumlah ES yang akan diajak diskusi. Kasus ringan itu contohnya sikap ragu-ragu, suka menunda.Sedangkan kasus berat seperti internal konflik, stres dan frustrasi” jawab rekan ini.
Nah, pembaca, sebelum saya melanjutkan, saya hendak menyampaikan terima kasih kepada rekan ini karena telah bertanya pada saya. Apa yang saya tulis dalam artikel ini disarikan dari hasil diskusi mendalam kami.
Teknik yang digunakan rekan saya ini adalah teknik Kursi Kosong (Empty Chair Technique) ini biasanya menggunakan dua kursi. Saat klien duduk di satu kursi maka yang (boleh/diminta) aktif adalah satu ES. Selanjutnya klien diminta pindah ke kursi satunya, yang diletakkan di depannya. Saat berpindah kursi maka yang aktif di kursi itu adalah ES yang lain.
Tujuan teknik ini adalah untuk melakukan dialog di antara dua atau lebih ES bergantung pada kasus yang sedang ditangani.
Pertanyaannya sekarang adalah mengapa teknik Ego State Therapy menggunakan dua kursi kosong kadang efektif, dan kadang tidak?
Saya telah menulis artikel mengenai Ego State. Bagi pembaca yang masih awam dengan teori Ego State saya sarankan untuk membaca artikel berikut:
Berikut ini adalah beberapa saran kepada rekan saya untuk dapat meningkatkan keefektifan Ego State Therapy.
Perhatikan Kedalaman Level Hipnosis
Teknik Kursi Kosong diciptakan oleh Bapak Gestalt, Frederick “Fritz” Perls. Kebanyakan terapis menggunakan teknik asli seperti yang dicipta oleh Perls yaitu melakukannya dalam kondisi sadar normal atau light trance. Gestalt yang dilakukan dalam kondisi deep trance pertama kali dilakukan oleh Gil Boyne dan Beliaulah yang mengintegrasikan Gestalt ke dalam hipnoterapi.
Apa beda antara cara pertama dan kedua?
Tentu sangat berbeda. Cara pertama, klien dalam kondisi sadar normal atau light trance. Dalam situasi ini akses terhadap Ego State sangat terbatas karena yang dapat diakses dengan mudah adalah executive ES yang berada di permukaan. Dalam kondisi normal setiap minggu kita hanya membutuhkan antara lima sampai enam Ego State untuk menjalankan hidup kita. Dalam kondisi sadar normal akan cukup sulit untuk bisa mengakses Ego State yang berada di kedalaman atau yang kita kenal dengan underlying ES yang menjadi sumber masalah.
Kesulitan lain dalam melakukan Ego State Therapy dengan kursi kosong adalah klien harus berpindah dari satu kursi ke kursi lainnya. Kalau proses terapi hanya berjalan singkat, misalnya sepuluh hingga dua puluh menit, tidak jadi masalah. Bagaimana kalau proses terapi berlangsung hingga dua jam? Bisa dibayangkan betapa melelahkan proses ini. Apalagi kalau kliennya tinggi, besar, dan gemuk.
Bila EST dilakukan dalam kondisi deep trance maka klien tidak perlu pindah kursi. Terapis dapat meminta pikiran bawah sadar klien untuk switching ES. Ini sangat menghemat waktu dan memudahkan proses terapi.
Pastikan ES yang Aktif adalah Benar ES yang Hendak Diproses
Ini hal yang sangat penting. Hipnoterapis seringkali berasumsi bahwa ES yang aktif saat duduk di kursi adalah benar ES yang hendak diproses. Dalam kondisi sadar normal atau light trance pikiran sadar klien masih sangat aktif. Seringkali, karena akibat dari penyangkalan atau defense mechanism, klien menggeser ES-nya sehingga yang aktif dan diproses ternyata bukan ES yang bermasalah.
Lebih sulit lagi bila ternyata ES yang bermasalah atau yang hendak diproses ternyata adalah underlying ES yang berada di kedalaman tertentu. Dalam kondisi sadar normal atau light trance ES ini sulit atau tidak bisa diakses.
Pastikan Anda Tahu Sedang Berhadapan dengan Siapa
Di banyak literatur mengenai teknik Kursi Kosong jarang sekali diulas mengenai jenis Bagian Diri yang aktif saat proses terapi berlangsung. Umumnya buku-buku ini menganggap Bagian Diri yang muncul ini sama jenisnya padahal belum tentu.
Dari hasil riset literatur dan temuan di ruang praktik kami, Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, membagi Bagian Diri menjadi lima jenis yaitu, Ego State, Part, Introject, Identofact, dan Alter.
Setiap Bagian Diri ini tercipta melalui proses yang berbeda, punya sifat dan karakter yang berbeda, dan sudah tentu cara penanganannya berbeda. Kesulitan para hipnoterapis yang mempraktikkan teknik Kursi Kosong terjadi karena tidak tahu bahwa ada jenis Bagian Diri yang berbeda, kurang jeli dalam mengenali Bagian Diri, dan atau tidak tahu cara dan strategi penanganan untuk setiap jenis Bagian Diri.
Di buku Ego State: Theory and Therapy (Watkins, 1997) dikatakan bahwa ada tiga kondisi yang mengakibatkan terciptanya Bagian Diri yaitu diferensiasi normal, memunculkan Ego State, trauma, memunculkan Part atau Alter, dan introjeksi dari orang yang dipandang penting menghasilkan Introject.
Selain tiga proses di atas, berdasar temuan kami di ruang praktik, ternyata Bagian Diri juga dapat tercipta dengan cara lain. Kami menemukan ada empat proses lain yang dapat mengakibatkan terciptanya Bagian Diri.
Jadilah Mediator, Fasilitator, dan Negosiator Ulung
Dalam melakukan teknik Kursi Kosong hipnoterapis harus sabar, bijaksana, adil, tidak boleh memihak salah satu Bagian Diri, kreatif, pintar merayu dan atau meyakinkan Bagian Diri. Untuk bisa melakukan hal ini dengan baik sangat dibutuhkan kemampuan berpikir cepat, pengalaman, dan kesabaran dalam membimbing masing-masing Bagian Diri melakukan negosiasi atau diskusi.
Menguasai Teknik Melunakkan Sikap Bagian Diri
Seringkali hipnoterapis tidak berhasil membujuk atau merayu Bagian Diri yang tidak mendukung hidup klien. Segala cara sudah dicoba namun tetap tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Misalnya dalam diri klien ada dua bagian yang konflik. Yang satu adalah Ego State yang mewakili Inner Child klien berusia delapan tahun dan satunya lagi introject ibunya yang sangat keras kepala.
Setelah negosiasi dan edukasi yang cukup lama Introject ibu tetap tidak bersedia bekerjasama. Kalau terjadi deadlock seperti ini apa yang harus dilakukan?
Di sini hipnoterapis membutuhkan teknik tambahan untuk bisa melunakkan hati introject Ibu dengan cara yang elegan. Macetnya negosiasi terjadi karena hipnoterapis kehabisan akal dan menyerah.
Dari menangani ribuan kasus kami berhasil merumuskan sebelas teknik yang telah teruji sangat efektif untuk bisa melunakkan sikap Bagian Diri sehingga bersedia bekerjasama dan berubah demi kemajuan hidup klien.
Melunakkan sikap Ego State berbeda caranya dengan melunakkan sikap Part. Demikian pula bila berhadapan dengan Introject / Identofact, dan Alter.
Memahami Komponen Kekuatan Bagian Diri
Dalam upaya melunakkan Bagian Diri hipnoterapis perlu mengetahui hal apa saja yang berpengaruh terhadap kekuatan Bagian Diri. Dengan mengetahui hal ini maka selanjutnya hipnoterapis dapat melunakkan atau mengurangi kekuatan Bagian Diri sehingga bersedia kembali ke meja perundingan dengan sikap yang lebih konstruktif dan positif.
Kami menemukan ada sembilan hal yang menentukan kekuatan Bagian Diri, empat di antaranya yaitu alasan terciptanya, motivasi/tujuan yang ingin dicapai, data / pengetahuan yang dimilikinya, intensitas emosi.
Judul artikel ini terinspirasi dari pernyataan Milton Erickson (1986), “The symptom is a solution.” Judul di atas sedikit berbeda karena saya mengubah “a” dengan “the” sebagai penekanan bahwa solusi dari satu masalah pasti dapat dicapai melalui simtom yang dialami klien.
Apakah yang dimaksud dengan”the symptom is the solution”?
Adanya suatu masalah disadari dan diketahui karena adanya simtom yang bisa dirasakan, baik pada level fisik maupun pikiran dan atau emosi. Dengan kata lain simtom ini berguna sebagai pemberitahuan resmi kepada diri kita akan adanya masalah yang perlu mendapat perhatian dan diselesaikan.
Simtom yang tidak terlalu mengganggu biasanya kurang mendapat perhatian. Biasanya bila intensitas gangguan yang ditimbulkan simtom telah cukup atau sangat mengganggu aktivitas sehari-hari barulah kita akan memberikan perhatian dan berusaha untuk bisa segera menghilangkan simtom ini.
Simtom ibarat asap. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Dengan adanya asap kita dapat mencari dan menemukan api yang menjadi sumber munculnya asap. Selama api belum dipadamkan maka asap akan selalu muncul. Demikian pula simtom.
Ada dua pendekatan yang biasa digunakan dalam menyelesaikan masalah yaitu pendekatan simtomatik dan kausal. Pendekatan simtomatik bertujuan mengurangi atau menghilangkan simtom tanpa perlu menemukan dan memproses akar masalah yang melandasi munculnya simtom. Ini sama dengan menghilangkan asap tanpa mematikan api. Pendekatan ini biasanya menghasilkan solusi temporer. Cepat atau lambat akan muncul simtom yang sama atau yang berbeda.
Bila muncul simtom yang berbeda, namun dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dikenal dengan mutasi simtom. Bila muncul lebih banyak simtom, bisa sama maupun berbeda, dan tetap dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dinamakan proliferasi simtom.
Sebaliknya dalam pendekatan kausal simtom dihilangkan dengan cara menemukan dan memproses sumber penyebab munculnya simtom. Asap dihilangkan dengan memadamkan api. Elimasi simtom dengan pendekatan ini sifatnya permanen.
Lalu, mengapa sampai muncul simtom? Apa pesan yang ingin disampaikan simtom? Dengan adanya simtom ini baik atau buruk?
Pembaca, tahukah anda bahwa yang kita namakan simtom atau masalah dulunya adalah solusi. Namun saat klien datang dan meminta bantuan terapis, yang terjadi adalah solusi ini telah berubah menjadi masalah.
Simtom adalah solusi, namun ini adalah solusi bagi sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu, dan sudah tidak efektif untuk menyelesaikan stres atau masalah yang kini dihadapi.
Saya beri dua contoh dari kasus yang pernah saya tangani. Seorang anak, katakanlah usia 8 tahun, kelas 2 SD, merasa sekolah cukup membebani dirinya. Ada banyak tugas dan ulangan. Satu hari ia merasa cukup tertekan, jenuh, dan tidak tahan lagi. Ada banyak tugas yang belum ia kerjakan padahal besok ada ujian matematika.
Karena merasa tidak tahan akhirnya anak jatuh sakit sehingga tidak perlu masuk sekolah. Dengan tidak masuk sekolah maka ia tidak terbebas dari keharusan mengikuti ujian. Sakit, dalam contoh ini, adalah solusi bagi masalah si anak agar terhindar dari keharusan belajar dan mengikuti ujian.
Saat ini solusi ini terjadi, dan biasanya akan terulang saat anak mengalami atau menghadapi situasi yang mirip atau sama, pikiran bawah sadar anak mencatat bahwa untuk menyelesaikan masalah banyak tugas dan ujian maka solusi terbaik adalah dengan menjadi sakit.
Awal atau kali pertama solusi ini terjadi dinamakan dengan ISE atau initial sensitizing event. Sedangkan kejadian berikut yang mirip atau sama dengan kejadian sebelumnya yang membuat pikiran bawah sadar memunculkan solusi yang sama disebut dengan SSE atau subsequent sensitizing event.
Diawali dengan ISE dan dilanjutkan dengan satu atau beberapa SSE mengakibatkan solusi sakit menjadi permanen untuk situasi yang penuh tekanan, stress, dan rasa tidak nyaman. Pola ini akan terbawa sampai dewasa.
Contoh kedua. Seorang staff marketing yang cemas dan tegang karena ditegur keras oleh pimpinannya karena tidak berhasi mencapai target merasa sangat tertekan dan berusaha mencari jalan untuk bisa segera mengakhiri pertemuan ini. Pikiran bawah sadarnya memberi respon dalam bentuk kepalanya menjadi pusing, pandangan mulai gelap, dan akhirnya ia mual dan mau muntah. Sudah tentu pertemuan dengan pimpinannya harus segera diakhiri karena kondisinya tidak memungkinkan untuk diteruskan.
Kepala pusing, pandangan mata gelap, mual dan mau muntah adalah solusi bagi masalah yang dihadapi staff marketing ini. Solusi ini dicatat dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya. Berikutnya, bila ia menghadapi situasi yang sama atau mirip dengan situasi sebelumnya maka pikiran bawah sadar akan kembali memunculkan solusi yang sama.
Pada dua contoh kasus yang saya ceritakan di atas jalan keluar dari satu masalah yang dulu adalah solusi kini justru menjadi masalah.
Lalu, bagaimana membuat solusi dari masa lalu yang berubah menjadi masalah di masa sekarang untuk bisa kembali menjadi solusi dari suatu masalah dalam hidup klien?
Kembali ke judul artikel ini. The Symptom is the solution. Terapis perlu mencari dan menemukan apa masalah yang hendak diselesaikan oleh simtom ini. Simtom ini dulunya adalah solusi dari satu masalah, di masa lalu. Berarti simtom sebenarnya bertujuan melindungi klien. Simtom adalah sesuatu yang baik.
Sebagai terapis kita perlu menemukan apa masalah awal yang ingin diselesaikan atau diatasi oleh simtom ini dan dalam situasi seperti apa solusi ini muncul.
“Solusi” atau lebih tepatnya disebut simtom muncul saat sesuatu dalam lingkungan internal maupun eksternal memicu memori tertentu. Hal ini mengaktifkan kembali kondisi di mana simtom ini tercipta, dan simtom terpicu sebagai sebuah respon terkondisi.
Dari penjelasan di atas terapis dapat berasumsi, tapi tidak selalu, bahwa saat ISE terjadi, klien mengalami pengalaman yang intens, seperti takut, marah, sedih, perasaan bersalah, yang sesuai dengan kondisi saat itu.
Kejadian berikutnya baik yang sama atau yang oleh klien dipersepsikan sama dengan kejadian awal (ISE) mengaktifkan emosi yang sama. Proses repetisi ini memperkuat emosi yang sebelumnya telah muncul.
Walau kejadian awal (ISE) sudah tidak lagi ada atau terjadi namun emosi serupa terus muncul setiap kali klien mengalami hal yang sama atau serupa dengan ISE.
Solusi yang dipilih atau diputuskan klien untuk dilakukan untuk mengatasi keadaan atau situasinya dulu mungkin sudah tepat untuk situasi saat itu, dan mungkin adalah satu-satunya opsi yang ia punya / miliki (karena keterbatasan pilihan atau kondisi yang tidak memungkikan untuk punya pilihan lain).
Tugas terapis, setelah berhasil menemukan ISE, adalah menetralisir emosi negatif, bila ada, yang timbul akibat kejadian itu, serta dilanjutkan dengan melakukan edukasi ulang pada pikiran bawah sadar klien. Ada sangat banyak teknik reedukasi pikiran bawah sadar yang bisa digunakan.
Salah satunya adalah dengan menggunakan kesadarannya pada usia saat ini klien mengamati apa yang terjadi di masa lalu dan memberikan pemaknaan baru. Teknik ini hanya bisa dilakukan dengan membawa klien masuk ke level kedalaman trance tertentu sehingga klien mengalami regresi dengan hipermnesia tipe 1.
Cara lain adalah dengan membawa klien mundur dan mengalami kembali kondisi yang menjadi masalah di masa lalu dan melakukan pemaknaan, membuat pilihan yang lebih cerdas, dan rekonstruksi memori. Teknik ini membutuhkan kedalaman trance yang jauh lebih dalam di mana klien mengalami revivifikasi tipe 1.
Setelah dilakukan terapi dan reedukasi pikiran bawah sadar maka simtom akan hilang secara permanen dan klien sembuh.
Bagaimana bila ternyata klien kambuh?
Ada beberapa kemungkinan. Pertama, simtom yang sama muncul kembali karena terapis gagal menemukan ISE. Kedua, simtom yang sama muncul sebagai akibat dari akar masalah yang berbeda. Ini terjadi karena pikiran bawah sadar memilih the path of least resistance yaitu jalur komunikasi yang sudah dikenal dan telah digunakan sebelumnya. Ketiga, simtom muncul dari akar masalah yang sama, yang sebelumnya sudah dibereskan, namun ternyata emosi yang mendasari munculnya simtom ini adalah emosi yang berbeda.
Seorang calon klien, sebut saja Pak Edi, menghubungi saya melalui sms dan minta bertemu dengan penjelasan, “Saya pernah diterapi oleh Pak Budi seorang hipnoterapis. Hasilnya nol besar. Pak Budi tidak bisa membawa saya sampai kondisi trance. Saya juga tidak tahu apa sebabnya saya sulit dihipnoterapi. Kemungkinan Pak Budi belum menguasai ilmu cara kerja pikiran dan tidak memahami jenis-jenis / tipe cara berpikir seorang klien.”
Saat ditanya lebih lanjut apa masalahnya dan sudah berapa kali ia menjalani terapi dengan Pak Budi, Pak Edi tidak memberi jawaban hingga artikel ini saya tulis.
Pembaca, saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi dalam proses terapi yang dijalani Pak Edi. Kebetulan saya kenal Pak Budi. Saya tahu Pak Budi cakap dan kompeten melakukan hipnoterapi.
Artikel ini saya tulis untuk memberikan informasi khususnya bagi klien yang ingin menjalani hipnoterapi sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalahnya agar dicapai hasil optimal seperti yang diharapkan.
Pertanyaan awal yang perlu diajukan, “Apakah benar hipnoterapi efektif dalam membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan mental dan emosi?”
Survei literatur psikoterapi yang dilakukan Alfred A. Barios, Ph.D., dan dimuat di American Health Magazine menyatakan hal menarik berikut:
- Psikoanalisa : 600 sesi, sembuh 38%
- Behavior Therapy: 22 sesi, sembuh 72%
- Hipnoterapi : 6 sesi, sembuh 93%.
Dengan demikian sebenarnya tidak ada keraguan mengenai keefektifan hipnoterapi. Pertanyaan berikutnya, “Mengapa hipnoterapi dalam kasus tertentu ternyata tidak efektif?”
Ada banyak faktor yang menyebabkan hipnoterapi tidak efektif. Saya akan jelaskan beberapa faktor penting yang perlu diketahui klien sebelum menjalani hipnoterapi. Faktor-faktor ini saya rangkum dari pengalaman klinis saya menerapi klien sejak 2005. Dengan memahami faktor-faktor ini maka hipnoterapi akan memberikan hasil optimal seperti yang diharapkan.
Penjelasan berikut ini khusus ditujukan kepada calon klien dengan asumsi hipnoterapisnya cakap dan kompeten.
1. Semua hipnosis adalah self-hypnosis
Pandangan yang salah adalah bila klien berpikir bahwa ia akan dihipnosis oleh terapis. Seolah-olah hipnosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh hipnoterapis kepada klien. Yang benar, hipnosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh klien kepada dirinya sendiri dengan mengikuti anjuran, saran, sugesti, atau bimbingan terapis.
2. Hipnoterapis hanya sebagai navigator sedangkan klien adalah pengemudi
Saat melakukan terapi peran hipnoterapis hanya sebagai navigator yang mengarahkan dan membimbing pikiran bawah sadar klien untuk melakukan hal tertentu. Bila klien tidak bersedia melakukan yang disarankan hipnoterapis maka terapi tidak bisa berjalan dengan baik. Dengan demikian dibutuhkan kerjasama antara hipnoterapis dan klien. Klien berperan sebagai co-therapist.
3. Klien tetap sadar walau telah masuk kondisi trance yang dalam
Banyak yang berpikir bia seseorang masuk kondisi hipnosis maka ia akan lupa ingatan atau menjadi tidak sadar, tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya dan begitu bangun sudah sembuh. Ini pandangan yang salah. Yang benar, saat dalam kondisi trance, sedalam apapun trance-nya, klien tetap sadar dan memegang kendali penuh atas pikirannya.
Namun ada juga klien yang bersikeras dengan pandangannya yaitu orang dihipnosis akan tidak sadar. Bila terapis sudah menjelaskan dengan gamblang apa itu kondisi hipnosis dan klien tetap bersikukuh dengan pandangan atau pemahamannya maka terapi tidak bisa dilanjutkan.
4. Kesembuhan klien sepenuhnya adalah tanggung jawab klien, bukan tanggung jawab terapis.
Klien perlu menyadari bahwa tanggung jawab kesembuhan ada pada diri klien, bukan pada terapis. Peran terapis hanya membantu atau memfasilitasi proses terapi dengan menggunakan sumber daya yang ada dalam diri klien untuk kesembuhan klien.
Ada klien, pada level pikiran bawah sadar, bersikeras tidak ingin sembuh dari masalahnya karena ternyata ia mendapat keuntungan dari masalah yang dialaminya. Terapis sudah tentu dapat melakukan edukasi ulang pikiran bawah sadar klien. Namun bila klien bersikeras tidak atau belum bersedia sembuh maka terapis harus menghargai keputusan ini.
5. Klien datang atas keinginan atau kesadarannya sendiri.
Untuk mengatasi suatu masalah dibutuhkan motivasi yang tinggi dari klien. Semakin tinggi motivasinya maka akan semakin mudah klien sembuh. Klien yang datang ke terapis dengan motivasi yang tinggi sebenarnya sudah sembuh. Tugas terapis tinggal melakukan sentuhan akhir saja.
Namun yang seringkali terjadi klien datang bukan atas kemauan atau kesadarannya sendiri namun karena rayuan, bujukan, desakan, paksaan, dan atau ancaman orang lain. Bila ini yang terjadi dapat dipastikan klien tidak akan sembuh.
6. Klien mengijinkan dirinya untuk diterapi.
Ada klien yang karena alasan tertentu tidak mengijinkan dirinya untuk diterapi. Alasannya bisa takut, merasa tidak nyaman, tidak percaya sama terapis, pandangan atau pemahaman yang kurang tepat mengenai hipnoterapi, atau klien menemui terapis bukan atas kesadaran dan keinginannya sendiri.
Agar hasil terapi bisa maksimal maka harus ada niat sungguh-sungguh dari klien untuk berubah atau keluar dari masalah.
7. Klien terbuka dan jujur
Keterbukaan dan kejujuran dalam berkomunikasi dan mengungkap berbagai data yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah adalah hal yang sangat penting. Klien, dalam kondisi hipnosis, tetap sadar dan dapat mengendalikan pikirannya sepenuhnya. Ia dapat berbohong atau tidak mengungkap data penting yang dibutuhkan.
8. Klien percaya pada terapis
Bila klien, karena alasan tertentu, merasa kurang yakin atau percaya pada terapis maka sebaiknya jangan melakukan terapi. Ketidakpercayaan atau perasaan ragu terhadap terapis sangat menghambat proses terapi. Klien berhak memutuskan tidak melanjutkan terapi.
9. Klien pasrah dan ikhlas menjalani bimbingan terapis
Kepasrahan dan keikhlasan adalah hal mutlak. Klien bersikap pasif, reseptif, dan mengijinkan terapi berjalan tanpa ia perlu melakukan upaya secara sadar. Hipnoterapi bukan cognitive therapy. Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi atau dengan bantuan kondisi hipnosis.
Untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar yang dibutuhkan adalah niat, kepasrahan, dan keikhlasan. Semakin pasrah semakin baik. Bila klien berusaha atau berupaya untuk bisa tance maka semakin ia berusaha akan semakin tidak bisa. Trance adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah dan tidak membutuhkan upaya sadar.
10. Klien jelas aspek apa yang ingin diatasi dengan hipnoterapi.
Ada klien yang datang ke terapis namun tidak jelas apa yang ingin diterapi. Ketidakjelasan ini membuat pikiran bawah sadar bingung dan tidak bisa fokus membantu klien dalam proses terapi.
11. Dalam satu sesi hipnoterapi hanya satu aspek saja yang dibereskan.
Ada klien, mungkin karena ingin hemat biaya, meminta terapis membereskan beberapa masalah dalam satu sesi terapi. Untuk terapi yang efektif dibutuhkan pikiran yang fokus serta target dan prioritas yang jelas. Untuk itu klien perlu menetapkan dengan hati-hati dan jelas apa masalah paling utama dan penting untuk dibereskan di sesi hipoterapi. Dan yang juga perlu diingat yaitu satu sesi hipnoterapi berlangsung sekitar 2 jam.
Biasanya bila waktunya masih cukup maka terapis bisa membantu klien mengatasi masalah lain. Jadi, dalam satu sesi sebaiknya fokus pada satu masalah saja.
12. Hipnoterapi adalah kontrak upaya bukan kontrak hasil
Terapis tidak boleh memberikan jaminan atau garansi kesembuhan. Hal ini juga berlaku bagi healing profession lain seperti psikiater, dokter, psikolog, dan konselor. Dengan demikian bila ada klien yang meminta jaminan atau garansi kesembuhan maka klien seperti ini tidak bisa dilayani.
13. Hipnoterapi bukan pil ajaib / Klien tidak over-ekspektasi
Walau hipnoterapi terbukti secara klinis dan empiris sangat efektif untuk mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan mental dan atau emosi, namun sama halnya teknik terapi lainnya hipnoterapi juga punya keterbatasan. Proses terapi membutuhkan waktu.
14. Komit menjalani hingga 4 sesi konsultasi dan atau terapi
Klien perlu komit untuk menjalani terapi antara satu hingga empat sesi. Komitmen awal adalah untuk 2 sesi. Satu sesi berlangsung selama 2 (dua) jam. Bila masih dibutuhkan terapi bisa dilanjutkan hingga 4 sesi.
Pada sesi pertama, bila terapis menilai klien siap, maka bisa langsung dilakukan terapi. Namun bila terapis menilai klien belum siap maka hanya akan dilakukan konsultasi atau konseling.
Komitmen ini sangat penting mengingat dalam proses terapi terapis dan juga klien tidak dapat memprediksi data apa yang akan diungkap oleh pikiran bawah sadar klien. Seringkali terjadi masalah yang tampaknya sepele dan mudah diatasi ternyata adalah simtom dari satu akar masalah yang sangat serius yang membutuhkan beberapa sesi terapi agar tuntas.
Apa akibatnya bila terapi hanya dilakukan satu sesi padahal belum tuntas?
Yang terjadi adalah klien bisa menjadi semakin labil dan justru akan semakin bermasalah. Ibaratnya seorang dokter bedah yang telah membuka perut pasien namun tidak menutup rapat bekas bukaan operasi ini. Akibatnya bisa sangat fatal.
15. Klien datang ke terapis untuk terapi, bukan untuk melawan, menguji, atau ingin mengalahkan terapis
Ada klien yang melakukan therapy shopping. Ia bangga telah diterapi banyak terapis namun tidak sembuh. Pola pikir klien tipe ini adalah ia ke terapis bukan untuk mencari bantuan menyembuhkan masalahnya namun ia ingin menguji atau mengalahkan terapisnya.
Ada juga klien yang bangga bila terapisnya gagal menghipnosis dirinya. Ia merasa lebih unggul atau kuat dibanding terapisnya.
16. Klien tidak menganalisa
Ada klien yang ingin diterapi dan sekaligus ingin “belajar” teknik yang digunakan terapis. Akibatnya, ia tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis dan terapinya tidak berhasil.
Klien tipe ini rugi dua kali. Pertama, ia sudah bayar mahal untuk menjalani terapi namun tidak ada hasilnya. Kedua, ia tidak dapat mengerti apa yang dilakukan hipnoterapis karena klien tidak belajar teori dan teknik yang digunakan hipnoterapis.
Keingintahuan klien membuat pikiran sadarnya tetap aktif karena melakukan analisa. Hal ini menghambat proses induksi sehingga ia tidak bisa berpindah dari kesadaran normal ke kondisi trance.
17. Klien mampu berkomunikasi secara verbal
Komunikasi verbal sangat penting dalam hipnoterapi. Setelah proses induksi biasanya klien akan menutup mata sampai terapis selesai dilakukan. Terapis berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar klien secara verbal.
Untuk itu klien harus bisa memahami bahasa yang digunakan terapis. Bila misalnya terapis menggunakan bahasa Indonesia dan klien kurang cakap berbahasa Indonesia maka terapi tidak bisa dilakukan dengan efektif.
Hambatan lain adalah bila, misalnya, klien mengalami masalah pendengaran yang mengakibatkan komunikasi antara klien dan terapis menjadi tersendat.
Hambatan komunikasi juga bisa terjadi karena berkurangnya kemampuan berpikir (kognisi) akibat usia lanjut atau klien mengalami dementia.
18. Klien tidak di bawah pengaruh obat penenang
Klien yang sedang di bawah pengaruh obat penenang biasanya akan sulit diinduksi. Namun dengan teknik induksi khusus klien tipe ini tetap dapat masuk kondisi trance. Hambatan lain akibat pengaruh obat penenang yaitu perasaan klien menjadi tumpul. Klien tidak dapat merasakan emosinya padahal emosi inilah yang akan diproses dalam terapi.
19. Masalah klien murni karena faktor mental atau emosi, bukan karena gangguan pada fungsi otak.
Dalam beberapa kasus, ada terjadi klien mengalami masalah karena adanya gangguan pada fungsi otak, misalnya karena stroke, terbentur, jatuh, atau karena mengkonsumsi narkoba. Bila ini penyebab masalah klien maka hipnoterapi tidak bisa membantu. Klien perlu penanganan medis, bukan hipnoterapis.
"Sementara kita mencoba mengajar anak-anak kita semua hal tentang kehidupan,
anak-anak kita mengajar kita apakah kehidupan itu sebenarnya."
Dalam beberapa minggu terakhir ini saya banyak mendapat klien anak-anak hingga remaja. Umumnya masalah mereka berkisar pada masalah perilaku, kebiasaan, interaksi sosial, dan prestasi akademik/sekolah. Ada yang tidak mau mendengar orangtuanya, ada yang mogok sekolah, ada yang tidak mau bicara dengan orangtuanya, motivasi belajar rendah dan ketagihan main game, suka ribut dengan teman, dan bahkan ada yang mau minggat dari rumah. Orangtua yang kebingungan menghubungi saya dan minta tolong untuk bisa menerapi anak mereka.
Umumnya saya tidak akan langsung menerapi si anak. Saya biasanya akan minta orangtua, baik ayah maupun ibu, untuk bertemu saya di sesi awal melakukan konseling. Nah, masalah biasanya muncul di sini. Orangtua pada umumnya keberatan dengan dua alasan utama yaitu mereka tidak bisa bertemu saya, apalagi konseling, karena mereka sibuk dan ini kan masalah anak, lalu mengapa orangtua yang ikut konsultasi segala.
Orangtua yang tidak bersedia bertemu dan konseling dengan saya pasti akan saya tolak. Saya tidak akan melakukan terapi pada anak mereka.
Mengapa saya bersikeras bertemu kedua orangtua terlebih dahulu sebelum menerapi anak mereka?
Pengalaman klinis saya menunjukkan bahwa masalah utama anak umumnya bersumber dari orangtua dan atau lingkungan (keluarga). Bisa juga masalah berawal dari sekolah. Namun, mayoritas masalah anak bersumber dari orangtua.
Bila anak diibaratkan produk maka kualitas produk yang dihasilkan ditentukan oleh kualitas bahan baku dan mesin/proses produksi. Produk yang cacat atau kurang baik, bila bahan bakunya bagus, maka yang harus dicek adalah mesin dan proses produksinya. Dalam hal ini mesin adalah orangtua dan proses produksi adalah pendidikan keluarga yang dialami anak melalui interaksinya dengan dan di dalam lingkungan keluarga yang sangat menentukan kualitas tumbuhkembangnya.
Family Therapy adalah terapi yang melibatkan keluarga sebagai suatu sistem interaksi sosial dengan tujuan untuk mengatasi masalah tertentu dan atau untuk meningkatkan kualitas atau kondisi kehidupan anggota keluarga ke arah yang lebih baik. Terapi dilakukan baik dengan menggunakan konseling maupun teknik yang lebih spesifik.
Bila dalam keluarga ada beberapa anak maka biasanya yang bermasalah hanya satu anak saja. Anak yang bermasalah ini adalah manifestasi dari sistem keluarga yang bermasalah. Jika upaya terapi hanya dilakukan pada anak maka ia bisa sembuh dan setelah itu akan kambuh lagi. Diterapi lagi, sembuh….dan setelah itu kambuh lagi. Bisa juga setelah anak ini sembuh maka yang bermasalah adalah saudaranya. Demikian seterusnya. Sekali lagi, masalah anak sebenarnya mencerminkan masalah pada sistem keluarga.
Dalam melakukan Family Therapy dibutuhkan komitmen penuh dari kedua orangtua. Bila hanya salah satu saja yang komit menjalani sesi terapi maka hasilnya tidak maksimal.
Keberhasilan Family Therapy juga sangat ditentukan oleh integritas, kredibilitas, dan level otoritas terapis di mata kedua orangtua. Bila terapis tidak mampu membangun postur dengan baik, tidak mampu menunjukkan kredibilitas, dan terutama otoritasnya sebagai terapis yang kompeten dan berpengalaman di mata orangtua klien maka apa yang ia sarankan tidak akan dilakukan oleh orangtua. Hal ini akan sangat menghambat proses terapi.
Biasanya terapis yang usianya masih muda, misalnya 20an atau 30an akan sulit “menghadapi” para orangtua yang usianya jauh di atasnya. Apalagi bila orangtua ini adalah tipe yang keras kepala, merasa lebih pintar atau lebih berpengalaman dari terapis, atau mungkin juga orang sukses atau dengan posisi jabatan yang tinggi dalam suatu organisasi. Namun tidak semua orangtua seperti ini. Ada orangtua yang sadar bahwa mereka membutuhkan bantuan dari orang lain dan dengan rendah hati dan sungguh-sungguh bersedia mendengar saran dan masukan dari terapis yang usianya lebih muda dari mereka.
Dalam Family Therapy bila dibutuhkan orangtua juga akan diterapi. Hal ini dilakukan karena sebenarnya pola asuh orangtua, yang mengakibatkan timbulnya masalah dalam diri anak, berasal dari pengalaman hidup mereka saat mereka masih kecil. Biasanya trauma orangtua inilah yang menjadi akar masalah dalam keluarga. Misalnya orangtua yang overprotective, overpemissive, overdemanding, pencemas, suka berkata kasar, pemarah / gampang “meledak”, bersikap kasar pada anak, terlalu disiplin, suka memukul, suka mengancam, menggunakan pendekatan punishment and reward dalam mendidik anak, memberlakukan cinta bersyarat, dan masih banyak lagi perilaku lain yang tidak kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Faktor lain lagi adalah ketidakharmonisan relasi orangtua yang berimbas pada anak. Jadi, untuk bisa membangun keluarga yang harmonis dan bahagia kedua orangtua harus mempunyai nilai dan tujuan hidup yang sejalan.
Biasanya setelah “masalah” pada orangtua berhasil diatasi melalui sesi terapi maka perubahan akan langsung tampak dalam keluarga itu dan secara luar biasa anakpun ikut berubah menjadi lebih baik.
Menyembuhkan luka batin dalam diri anak sebenarnya sangat mudah. Bila anak bersedia diterapi dan orangtua memberikan dukungan penuh, dengan melakukan introspeksi diri dan juga bersedia secara sadar berubah, maka semuanya menjadi mudah dan lancar.
Masalah muncul bila orangtua yang arogan, keras kepala, dan bersikeras mengatakan bahwa masalah anak adalah masalah anak. Bukan masalah mereka. Jadi, menurut orangtua, anaklah yang harus dibereskan.
Saya banyak bertemu dengan orangtua seperti ini. Orangtua ini adalah orangtua yang tidak dewasa dan tidak siap menjadi orangtua. Mereka hanya siap secara biologis menjadi papa/mama atau ayah/ibu namun mereka tidak siap secara mental, emosi, psikologis,dan terutama spiritual untuk menjadi orangtua.
Orangtua tipe ini cenderung menyalahkan orang lain atau lingkungan. Di salah satu buku saya pernah membaca ada orangtua yang anaknya bermasalah, beberapa tahun lalu pernah meminta bantuan seorang psikolog untuk melakukan diagnosa pada anak mereka, dan setelah itu mendapat saran apa yang sebaiknya dilakukan untuk membantu anak mereka.
Namun sayangnya orangtua ini tidak melakukan saran dan masukan dari psikolog ini. Dan hebatnya lagi, empat tahun kemudian, saat putra mereka semakin bermasalah, mereka langsung menyalahkan psikolog ini dengan berkata, “Ini yang salah adalah psikolognya. Masa dulu sudah diterapi kok nggak ada perubahan. Kalaupun ada perubahan, perubahannya tidak permanen. Masa anak saya kembali ke pola perilaku yang lama. Dan sekarang bahkan tambah parah lagi. Saya mau minta pertanggungjawaban psikolog ini.”
Membaca kisah ini saya sangat prihatin dan kasihan pada orangtua ini. Apa saja bisa terjadi selama kurun waktu empat tahun. Rupanya orangtua ini adalah orangtua tipe laundry atau binatu. Mereka memperlakukan anak seperti baju yang kotor dan berharap dengan membawa anak ke psikolog atau terapis maka masalah anak mereka setelah itu langsung dapat diatasi. Dan setelah itu akan anak akan berperilaku baik selamanya.
Orangtua ini sama sekali tidak berani mengambil tanggung jawab atas pendidikan keluarganya. Ia berpikir bahwa tanggung jawab membereskan masalah anak ada pada terapis atau psikolog. Yang benar adalah terapis atau psikolog adalah partner atau rekan dalam membantu memulihkan kondisi anak. Orangtualah yang harus berperan aktif.
Saya pernah menangani kasus anak usia 12 tahun dengan kecemasan yang sangat tinggi. Anak ini, saking cemasnya, menjadi sulit konsentrasi, bicaranya tidak bisa urut, melompat ke sana ke mari, pelajarannya jeblok. Tidak sulit membantu anak ini untuk pulih. Hanya dalam waktu sangat singkat anak ini kembali normal dan ceria seperti anak pada umumnya.
Mengapa perubahan ini bisa begitu mudah terjadi? Karena kedua orangtua anak ini, baik ayah maupun ibunya, sangat peduli dan bersedia menjalankan saran, masukan, dan hal-hal penting lain yang disampaikan terapis. Mereka mengakui bahwa selama ini mereka kurang perhatian pada anak karena sama-sama sibuk bekerja. Begitu kedua orangtuanya berubah maka anaknya juga berubah.
Masalah dalam keluarga, terutama pada anak, biasanya timbul karena orangtua mengadopsi pola pikir, pola asuh, nilai-nilai hidup, yang sudah tidak sejalan dan kondusif dengan perkembangan zaman. Orangtua menggunakan apa yang dilakukan orangtua mereka sebagai bahan untuk mendidik anak-anak mereka.
Family Therapy tidak berarti hanya dilakukan di ruang terapi. Family Therapy juga mengandung makna bahwa kedua orangtua perlu duduk bersama menata ulang kehidupan keluarga. Hal ini dilakukan dengan menentukan kembali, secara sadar dan sukarela, tujuan berumah tangga, goal keluarga, goal untuk orangtua, goal untuk anak-anak, meneguhkan kembali komitmen pernikahan, menetapkan strategi yang jelas, terukur, dan rinci untuk mencapai goal yang telah ditetapkan, dan yang sangat penting juga adalah kesediaan dan semangat kedua orangtua untuk belajar dan mengembangkan diri. Dalam hal ini kedua orangtua perlu meningkatkan ritual dan spiritual mereka, berdamai dengan diri sendiri, menjaga kualitas berpikir, mencapai hati yang tenang dan damai, serta membaca buku-buku pengembangan diri, parenting, menghadiri seminar atau workshop yang tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas diri mereka.
Jadi, bagaimana Family Therapy dilakukan?
Sesi awal kedua orangtua akan menjalani diskusi dan konseling dengan terapis. Di sini terapis akan melakukan interview untuk mencari tahu apa masalah yang ada dalam keluarga, apakah ini masalah pada ayah, ibu, atau anak. Selanjutnya dilakukan pemetaan masalah. Dari sini akan tampak sebenarnya akar masalahnya apa.
Jika ternyata masalah utama ada pada orangtua maka orangtualah yang perlu diberi saran, masukan, dan arahan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Jika dengan cara “biasa” sulit dilakukan barulah terapis akan melakukan terapi.
Setelah itu orangtua diminta melakukan apa yang telah disepakati bersama dan selama satu minggu melihat perubahan yang terjadi di keluarga. Bila ternyata perubahannya positif, ya diteruskan. Kalau masih belum maksimal maka bisa dilakukan terapi lanjutan.
Bila ternyata masalahnya adalah pada diri anak, mungkin luka batin atau trauma, maka terapi akan dilakukan pada anak dan orangtua memberikan dukungan di rumah. Bila masalah berhubungan dengan sekolah maka terapi dilakukan untuk mengatasi masalah ini dan memberikan solusi yang perlu dijalani.
Misalnya kalau anak sulit belajar maka perlu dicari apa akar masalahnya. Apakah anak takut dengan gurunya, ada trauma, mungkin anak bosan, mungkin pengetahuan dasar anak yang kurang, mungkin sekolahnya terlalu keras, mungkin anak mengalami bullying di sekolah, mungkin karena tangki cinta anak kosong, dan masih banyak kemungkinan lain. Setiap masalah ini tentunya membutuhkan penyelesaian yang berbeda.
Satu hal yang sangat penting untuk disadari oleh Family Therapist yaitu bekal pengetahuan dan keterampilan konseling dan atau hipnoterapi saja tidak cukup. Seorang Family Therapist akan bermain banyak peran. Saat memberikan konseling, ia menjadi konselor. Saat melakukan hipnoterapi maka ia adalah hipnoterapis. Setelah selesai terapi dan memberikan saran, masukan, arahan kepada kliennya, baik itu orangtua atau anak, ia menjadi mentor atau life coach. Dibutuhkan kesadaran, wawasan, pengalaman, netralitas, objektivitas, integritas, dan terutama hati dan kebijaksanaan untuk bisa membantu suatu keluarga untuk bertumbuh dan berkembang optimal.
Banyak pemahaman masyarakat tentang hipnosis / hipnoterapi kurang tepat atau salah akibat “edukasi” yang dilakukan oleh televisi, khususnya yang dilakukan oleh “hipnotis” yang hanya dengan membakar tisu langsung bisa membuat subjeknya “tidak sadarkan” diri. Setelah itu si “hipnotis” bisa melakukan apa saja pada si subjek, termasuk bertanya hal-hal yang sifatnya pribadi dan rahasia, dan subjek seolah tak kuasa menolak untuk mengungkapkan segala hal yang ingin diketahui oleh “hipnotis”.
Sewaktu kasus Bank Century ramai dibicarakan, beberapa anggota DPR RI sempat punya ide brilian. Rupanya mereka merasa kasihan dengan beratnya tugas KPK dan gemas dengan alotnya upaya untuk membongkar kasus ini hingga tuntas. Anggota DPR ini berinisiatif untuk meminta bantuan seorang hipnotis yang biasa muncul di televisi. Mereka berpikir, akibat edukasi dari televisi, mudah saja membongkar kasus ini. Cukup bawa tersangka atau tercuriga ke tempat si hipnotis dan setelah itu skenario akan berjalan persis seperti yang ditampilkan di televisi. Si hipnotis menghipnosis si tersangka, lalu bertanya, apa saja, dan tersangka akan menjawab dengan patuh, jujur, apa adanya. Dengan demikian akan terungkap secara terang benderang semua hal mengenai Bank Century. Mudah, kan?
Saat dihubungi oleh anggota DPR si hipnotis dengan terus terang menjelaskan bahwa ia tidak bisa melakukan seperti yang diminta. “Lho, mengapa tidak bisa? Buktinya di tv ada yang bisa melakukannya. Dan anda jauh lebih jago dan terkenal dari yang di tv itu” kejar anggota Dewan.
“Ya, yang di tv itu kan cuma untuk hiburan. Jadi, itu nggak benar. Semuanya sudah diskenario sehingga menjadi tontonan yang menghibur ” jelas si hipnotis.
Pembaca, benar kata si hipnotis di atas. Yang ditampilkan di tv itu hanya untuk hiburan semata. Lalu, bagaimana dengan orang yang dihipnosis, seperti yang juga ditunjukkan di tv, yang melakukan hal-hal yang tidak wajar? Misalnya, menyanyi dan menari seperti seorang rocker, padahal subjek sesungguhnya adalah orang yang pemalu. Lalu, bagaimana dengan yang “menelpon” pacar dengan menggunakan sepatu? Bukankah mereka ini dikuasai oleh si hipnotis sehingga bersedia dengan suka rela melakukan apapun yang diminta oleh si hipnotis?
Kalau dilihat sepintas memang seperti itu. Namun bila diselidiki lebih dalam ternyata tidak. Mereka yang tampil itu memang sudah disiapkan dengan hati-hati oleh si hipnotis. Ada prosedur yang harus dilalui oleh subjek sebelum ia tampil dengan “brilian” di atas panggung. Dan ingat, ini adalah stage hypnosis atau hipnosis untuk pertunjukkan dan sangat berbeda dengan hipnoterapi.
Tentu akan sangat berbeda responnya bila subjek yang di atas panggung itu diminta melakukan satu tindakan dengan bobot signifikansi psikologis yang tinggi. Misalnya ia diminta memukul atau melukai orang yang ia sayangi. Kira-kira apakah ia akan melakukan hal ini? Sudah tentu tidak. Secara spontan akan muncul resistensi yang hebat yang mencegah subjek melakukan hal ini. Resistensi ini dikenal dengan nama pertahanan psikologis atau psychological defense(s).
Di sini tampak jelas bahwa pertahanan diri seseorang yang dihipnosis atau masuk dalam kondisi hipnosis tetap aktif atau bekerja. Demikian pula halnya dalam konteks hipnoterapi.
Dalam hipnoterapi apa yang membuat sistem pertahanan psikologis dalam diri seseorang menjadi aktif? Apa akibatnya bila pertahanan psikologis aktif selama proses terapi? Apakah ini hal yang baik ataukah buruk? Bagaimana mengatasi hal ini?
Pembaca, bila anda adalah seorang hipnoterapis yang melakukan terapi menggunakan hipnoanalisis maka saya yakin anda pasti pernah mengalami salah satu atau beberapa dari hal berikut ini saat sedang menerapi klien anda:
- klien tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Kalaupun bisa, hanya sampai di light trance.
- klien bisa masuk sebentar namun segera keluar dari kondisi hipnosis.
- klien bisa masuk sangat dalam namun saat terapis hendak memproses masalahnya tiba-tiba klien buka mata dan keluar dari kondisi hipnosis.
- klien “tidur” sehingga tidak bisa memberikan respon. Terapis perlu tahu bahwa klien sebenarnya tidak tidur. Yang terjadi adalah ia tidak bersedia menjawab hal yang berhubungan dengan inti masalah. Kalau ditanya hal lain ia pasti bisa menjawab.
- klien hanya diam, tidak bersedia bicara saat ditanya.
- klien lebih banyak menjawab tidak tahu.
- klien tidak hanya diam namun juga tidak bersedia menjawab pertanyaan dengan ideomotor response.
- klien masuk sangat dalam sehingga tubuh klien benar-benar rileks dan tidak bisa memberi respon. Klien berusaha menjawab dengan menggerakkan bibirnya namun tidak ada suara atau kata yang keluar. Ia masuk ke level catatonia.
- klien bisa bicara tapi hanya bicara hal yang tidak relevan dengan masalahnya.
- klien larut dalam imajinasi atau fantasinya yang tidak ada hubungan dengan masalah yang hendak diatasi.
- pikiran klien tidak fokus pada masalahnya namun melompat ke sana ke mari.
- di awal klien lancar menjawab berbagai pertanyaan terapis. Saat masuk ke inti masalahnya, klien diam atau tidak bisa bicara.
Contoh di atas adalah wujud pertahanan psikologis yang kami, para hipnoterapis AWG Institute/QHI temukan di ruang praktik. Hanya satu alasan mengapa pertahanan psikologis atau resistensi dalam konteks hipnoterapi muncul. Klien merasa takut.
Ada dua jenis takut pada diri klien yang berhubungan dengan hipnoterapi. Pertama, rasa takut atau penolakan yang membuat klien sulit atau tidak bisa masuk ke kondisi rileksasi pikiran yang dalam (kondisi hipnosis). Biasanya rasa takut atau penolakan ini disebabkan oleh persepsi yang salah mengenai hipnoterapi dan alasan lain seperti:
- hipnoterapi menggunakan kuasa kegelapan, mantra, atau makhluk halus.
- terapis menguasai pikiran klien.
- terapis bisa melakukan apa saja pada klien dan klien akan patuh sepenuhnya.
- hipnoterapi sama dengan cuci otak atau brain-washing.
- klien akan tidak sadarkan diri atau pingsan.
- klien, karena alasan tertentu, tidak percaya pada terapis.
- klien takut “diubah” oleh terapisnya karena ia datang bukan atas kesadaran atau keinginannya sendiri namun atas dorongan, bujukan, rayuan, atau bahkan paksaan dan ancaaman orang lain yang ingin ia berubah.
- klien mendapat keuntungan atau manfaat dari masalahnya. Kondisi ini dinamakan secondary gain.
Takut kedua muncul saat klien sudah masuk ke kondisi hipnosis. Takut ini berhubungan dengan proses penggalian informasi di pikiran bawah sadar. Dalam hal ini klien takut atau merasa tidak nyaman bila harus mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi atau rahasia. Klien takut mendapat malu karena merasa apa yang akan diungkap adalah aib bagi dirinya dan mungkin juga bagi keluarganya.
Selain rasa malu, resistensi juga bisa timbul karena akar masalah adalah pengalaman yang sangat traumatik sehingga klien sama sekali tidak ingin mengingat apalagi membicarakannya dengan terapis atau dalam kasus tertentu klien bisa mengalami amnesia sehingga benar-benar lupa atau tidak tahu.
Rasa takut dan atau malu membuat pikiran bawah sadar “lumpuh” sehingga tidak bisa mengungkapkan data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus terapi. Ini yang biasanya dialami saat terapis melakukan teknik uncovering seperti regresi yang dilanjutkan dengan revivifikasi dan atau Ego Personality Therapy. Biasanya, apapun yang ditanya oleh terapis, klien, lebih tepatnya pikiran bawah sadar klien, akan menjawab tidak tahu atau hanya diam saja.
Bagaimana sebaiknya hipnoterapis menyikapi resistensi?
Setiap perilaku klien punya makna yang spesifik. Makna paling umum yaitu resistensi adalah satu bentuk komunikasi atau pertahanan psikologis. Bila kita mengenali perilaku klien sebagai bentuk pertahanan diri maka kita dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi hal ini. Jadi, apapun perilaku klien dapat kita manfaatkan demi kebaikan dirinya.
Apa yang perlu dilakukan hipnoterapis agar tidak sampai muncul resitensi dalam diri klien?
Hipnoterapis perlu memahami bahwa proses terapi sudah dimulai sejak pertama kali klien tahu tentang hipnoterapis, bukan di ruang terapi. Perkenalan calon klien dengan terapis bisa melalui buku yang ia baca, cerita yang ia dengar dari kawannya, informasi dari internet, talkshow, bedah buku, siaran radio, televisi, seminar, atau dari sumber lainnya. Intinya, inilah saat pertama kali calon klien tahu tentang terapis.
Selanjutnya, saat calon klien memutuskan untuk diterapi maka ia akan menghubungi hipnoterapis. Barulah setelah itu terapi “resmi” dilakukan di ruang praktik. Penilaian atau kesan terhadap hipnoterapis sangat menentukan respon pikiran bawah sadar klien terhadap proses terapi yang dilakukan.
Hal penting yang sangat perlu diperhatikan terapis adalah membangun relasi (rapport) tidak hanya dengan pikiran sadar namun juga dengan pikiran bawah sadar (hypnotic rapport). Klien perlu mendapat edukasi yang mendalam dan menyeluruh mengenai proses hipnosis/hipnoterapi, apa yang akan dilakukan, apa yang diharapkan akan terjadi. Terapis juga perlu menjawab pertanyaan atau keraguan klien sehingga klien merasa benar-benar yakin, mantap, dan pasrah sepenuhnya mengikuti bimbingan terapis.
Hal lain yang juga sangat penting adalah keragaman teknik yang dikuasai terapis. Ada teknik yang diaplikasikan dengan memperlakukan pikiran bawah sadar sebagai satu kesatuan dan ada juga yang menggunakan pendekatan komponen.
Ada teknik yang bersifat asosiasi dan ada juga yang disosiasi. Pemanfaatan varian teknik sangat bergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi klien. Kalau semua sudah dicoba tidak bisa maka perlu digunakan teknik khusus untuk menembus blocking yang dibuat pikiran bawah sadar.
Saya pernah menerapi klien yang mengalami gejala depresi, ia datang atas dorongan orangtuanya. Saat sebelum terapi saya melakukan wawancara mendalam. Klien terkesan sangat ingin saya bantu namun pikiran bawah sadarnya memblok informasi yang saya butuhkan sehingga terapi tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan.
Setelah mencoba berbagai cara akhirnya informasi yang saya butuhkan bisa saya dapatkan dengan menggunakan teknik Ego Personality Therapy. Saya meminta “bocoran” informasi dari Ego Personality lain. Baru setelah mendapat data lengkap saya melanjutkan terapi dan berhasil membantu klien mengatasi masalahnya.
Jadi, kesimpulannya, sedalam apapun seseorang masuk ke kondisi hipnnosis pertahanan psikologisnya tetap aktif menjaga dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau membahayaan dirinya.
Hipnoterapis, dalam hal ini, berperan hanya sebagai fasilitator dan tidak bisa memaksa kehendaknya pada klien dan klien hanya akan melakukan hal yang diminta terapis sejauh permintaan ini tidak melanggar empat filter mental yang ada di pikiran bawah sadar klien yaitu filter keselamatan hidup, filter moral/agama, filter benar-salah, dan filter masuk akal atau tidak.
Seorang rekan terapis merasa bingung dengan data yang diungkapkan pikiran bawah sadar kliennya. Rekan ini, dalam upaya menemukan akar masalah klien, melakukan beberapa teknik uncovering dalam hipnoanalisis.
Menurut rekan saya ini, ia merasa data yang didapat saat melakukan uncovering tidak masuk akal, aneh, tidak urut, tidak sesuai konteks, sepertinya bohong atau hanya fantasi, dan yang lebih parah lagi seolah-olah data ini berasal dari kehidupan lampau (past life) klien.
Saat saya tanya apa yang ia lakukan saat merasa bahwa informasi yang ia dapat tidak masuk akalnya, ia menjawab, “Ya, saya hentikan terapinya. Kan tidak mungkin saya bisa melakukan terapi dengan baik bila data yang saya dapatkan ternyata tidak akurat atau tidak masuk akal.”
Hasil diskusi saya dengan rekan ini sengaja saya angkat menjadi artikel karena saya memandang hal ini sangat penting untuk diketahui. Ketidak-jelasan atau kebingungan mengenai kesahihan data yang terungkap dari pikiran bawah sadar sudah tentu akan sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil terapi yang dilakukan.
Perlu dibedakan antara aplikasi hipnosis untuk terapi, yang kita kenal dengan hipnoterapi, dan untuk menggali data dari pikiran bawah sadar untuk tujuan investigasi atau forensik.
Hipnosis forensik digunakan untuk menggali data dari pikiran bawah sadar yang dibutuhkan untuk investigasi dan penyidikan. Data yang berhasil digali akan dibandingkan atau dicocokkan dengan data lain yang sebelumnya telah berhasil dikumpulkan. Dengan kata lain dilakukan validasi data.
Hipnoterapi bertujuan untuk membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan mental atau emosi. Biasanya klien datang ke terapis dengan membawa masalah tertentu, misalnya stress, fobia, tidak percaya diri, perasaan bersalah, dan atau penyakit psikosomatis. Ada sangat banyak hal yang dapat dibantu diringankan atau disembuhkan dengan hipnoterapi.
Hipnoterapi bisa dilakukan hanya dengan memberikan sugesti. Bila pemberian sugesti tidak membuahkan perubahan positif seperti yang diharapkan maka hipnoterapis perlu melakukan hipnoanalisis untuk mencari dan menemukan akar masalah.
Hipnosis forensik dan hipnoanalisis sama-sama melakukan pencarian atau penggalian data namun menggunakan metode, teknik, dan strategi yang berbeda, dan dengan tujuan yang berbeda.
Nah, pembaca, kembali pada judul di atas, “Dalam terapi, perlukah melakukan validasi data bawah sadar?
Jawabannya singkat dan jelas, “Tidak perlu.”
Bagaimana bila data yang terungkap dirasa tidak masuk akal?
Data ini tidak masuk akalnya terapis, namun sangat masuk akalnya klien. Bila terapis bersikeras bahwa data yang terungkap tidak bisa digunakan, karena tidak masuk akal, maka saya menyimpulkan dua hal. Pertama, terapis ini sebenarnya tidak tahu apa yang ia lakukan. Kedua, terapis ini menggunakan pendekatan therapist-centered (berpusat pada terapis), bukan client-centered (berpusat pada klien).
Therapist-centered (TC) maksudnya adalah proses terapi yang berpusat pada terapis. Satu contoh pendekatan TC adalah terapis, berdasar pemahaman dan analisisnya menentukan apa yang menjadi akar masalah klien. Sedangkan pada client-centered (CC) therapy, akar masalah diungkap oleh pikiran bawah sadar klien. Apapun yang muncul dari pikiran bawah sadar klien inilah yang diproses oleh hipnoterapis.
Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang calon klien, “Pak Adi, saya pernah diterapi oleh seorang hipnoterapis. Sebelum bertemu dengannya saya diminta menulis dan menceritakan masalah saya di kertas putih A4 tidak bergaris. Lalu saya diminta untuk mengirim tulisan tangan saya ini via faks ke si terapis. Saat bertemu dengan terapis saya diberitahu bahwa berdasar analisisnya terhadap cerita yang saya tulis dan juga terutama dari bentuk tulisan tangan saya, ia menyimpulkan bahwa akar masalah saya terjadi di masa kecil, usia 5 tahun, dan berhubungan dengan ibu saya. Nah, menurut pendapat Pak Adi apakah ini benar?”
Saya jelaskan bahwa saya tidak bisa dan tidak boleh memberi penilaian benar atau salah terhadap analisis terapis yang sebelumnya menangani klien ini karena tidak tahu secara persis apa yang menjadi dasar analisisnya.
Yang bisa saya sampaikan adalah bahwa bila terapis yang menentukan akar masalah, bukan pikiran bawah sadar klien, terlepas teknik yang ia gunakan, maka pendekatan ini masuk dalam therapist-centered.
Bila terapis menggunakan pendekatan client-centered maka ia bisa saja punya perkiraan mengenai akar masalah klien. Namun ia tidak boleh menyampaikan hal ini pada klien agar klien tidak terpengaruh.
Nanti, dalam proses terapi, data yang disampaikan pikiran bawah sadar klien, apapun datanya, akan dicek apakah benar akar masalah atau bukan dengan menggunakan teknik tertentu. Namun terapis tidak berkepentingan untuk memeriksa apakah data yang disampaikan ini merujuk pada satu kejadian nyata atau sekedar fantasi.
Mengapa tidak dilakukan validasi?
Karena tujuan hipnoterapi adalah untuk menyembuhkan klien, bukan untuk investigasi. Data yang diungkapkan adalah data yang oleh pikiran bawah sadar klien dianggap, dirasa, dipandang, atau yang paling pantas dan pas dinyatakan sebagai akar masalah.
Sebagai terapis kita perlu selalu ingat bahwa peran kita hanya sebagai fasilitator, bukan investigator, apalagi interogator.
Hal lain yang perlu diingat yaitu memori tidak terlalu bisa diandalkan. Banyak orang punya pandangan yang keliru mengenai memori. Umumnya mereka berpikir bahwa pikiran bawah sadar berfungsi sebagai kamera yang merekam semua pengalaman yang dialami seseorang ke dalam “hard disk” memori. Pada kenyataannya tidak seperti ini.
Memori bersifat dinamis dan rekonstruktif. Artinya, memori bisa berkurang, bertambah, dan bercampur dengan data lama atau baru, dan bahkan dapat bercampur dengan imajinasi, fantasi, atau mimpi. Semua ini bisa terjadi karena pikiran bawah sadar beroperasi dengan trance-logic, bukan conscious logic.
Pikiran bawah sadar menggunakan bahasa yang berbeda dengan pikiran. Data yang terungkap bisa berupa metafora, kiasan, atau bahasa simbolik. Informasi yang seolah-olah berasal dari kehidupan lampau (past life) seringkali sebenarnya adalah metafora atau kiasan berdasar kisah yang pernah didengar atau dibaca oleh klien. Apapun bentuk data atau informasinya, selama bisa digunakan untuk membantu klien dan punya efek terapeutik yang positif, sebaiknya dimanfaatkan atau diutilisasi demi kebaikan dan kesejahteraan klien sebesar-besarnya.
Salah satu klien saya, saat diregresi, kembali ke “kehidupan lampau” di tahun 733. Banyak informasi yang saya dapatkan dari pikiran bawah sadar klien. Namun ada satu yang tidak konsisten yaitu pikiran bawah sadar klien menyarankan si klien untuk membuka tutup gelasnya dan tetap rendah hati.
Lha, saya bingung. Di tahun 733 kan tidak ada gelas. Namun saya tidak punya kepentingan “mengoreksi” hal ini. Dari penggalian lanjutan diketahui bahwa klien ini ternyata bersikap agak tinggi hati atau arogan. Ini yang menghambat karirnya sehingga sudah beberapa kali tidak mendapat promosi.
Sebagai terapis saya memaknai cerita ini sebagai bentuk “penghindaran” oleh pikiran bawah sadar sehingga tidak menyalahkan klien. Masalah klien ini “disebabkan” oleh kejadian di kehidupan lampaunya, bukan oleh klien di kehidupan ini. Dan tutup gelas adalah metafora untuk sikap terbuka dan siap belajar serta mendengar masukan atau input dari orang lain.
Dalam dunia hipnoterapi kita mengenal dua mazhab atau aliran hipnoterapi berdasar teknik yang digunakan. Ada mazhab yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika.
Perbedaan mencolok dari kedua mazhab ini tampak dalam teknik yang digunakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Mazhab dari pantai timur lebih menekankan terapi berbasis sugesti atau yang kita kenal dengan suggestive therapy. Sedangkan mazhab dari pantai barat lebih menekankan pada pentingnya menemukan akar atau sumber masalah yang mendasari simtom. Teknik ini kita kenal dengan hypnoanalysis. Masing-masing mazhab punya alasan dan pemikiran yang sahih mengapa mereka menggunakan teknik-teknik itu.
Artikel ini khusus membahas cara untuk lebih meningkatkan keefektifan terapi berbasis sugesti (suggestive therapy) dengan memahami kendala atau hambatan yang seringkali ditemui atau tidak disadari oleh hipnoterapis.
Berikut saya berikan contoh kasus yang pernah ditangani oleh seorang dokter yang juga hipnoterapis. Mari kita pelajari bersama. Kisahnya sebagai berikut:
Seorang klien wanita berusia 34 tahun datang ke terapis dengan keluhan kulit yang merah dan gatal. Kondisi kulitnya menjadi semakin parah, lecet dan berdarah, karena sering digaruk. Selama beberapa tahun ia pernah mengalami kondisi ini beberapa kali.
Di awal terapi, terapis membimbing klien masuk ke kondisi light hypnosis dan memberikan sugesti perasaan tenang, dan kulitnya terasa nyaman. Dua hari kemudian klien melaporkan bahwa kondisinya justru menjadi semakin parah. Terapis selanjutnya memberikan sugesti yang sama dengan tujuan memperkuat sugesti sebelumnya. Dan dua hari kemudian kondisinya justru menjadi semakin parah.
Kali ini terapis mengubah strategi dengan memberikan sugesti agar klien menghentikan gerakan lengan yang bergerak berulang kali menggaruk kulitnya yang terasa gatal. Klien menerima dan menjalankan sugesti ini. Ia berhenti menggaruk.
Namun beberapa hari kemudian ia kembali menggaruk kulitnya dan justru menjadi semakin parah. Setelah dilakukan wawancara mendalam akhirnya diketahui bahwa sakit kulit adalah strateginya untuk mendapatkan perhatian dari suaminya.
Dengan demikian sugesti yang saya berikan untuk menghentikan sakit kulitnya dipandang sebagai ancaman yang merugikan. Dan untuk itu pikiran bawah sadar klien melawan ancaman ini.
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari cerita di atas?
Kisah ini memberikan gambaran yang jelas mengenai kekurang-cermatan dan ketidak-hati-hatian terapis. Ia terburu-buru melakukan terapi berbasis sugesti tanpa didahului dengan investigasi mendalam dan menyeluruh terhadap psikodimamika kasus, walau tampaknya kasus kulit gatal ini adalah kasus yang mudah atau sepele.
Memang, dalam banyak kejadian kendala terapi berbasis sugesti sering disebabkan oleh terapis yang kurang cermat dalam melakukan investigasi dan juga kurang menyiapkan (pikiran bawah sadar) klien.
Salah satu sugesti yang sangat terkenal yang berasal dari Dr. Emile Coue adalah “Everyday in everything, I am feeling better and better” atau “Setiap hari, dalam segala hal, perasaanku selalu membaik dan semakin membaik.”
Afirmasi ini sangat terkenal dan memang sangat luar biasa. Pasien yang berobat di klinik Dr. Coue, yang menggunakan afirmasi ini, sembuh atau kondisinya membaik lima kali lebih cepat dari pasien di rumah sakit atau klinik lainnya di seantero Eropa.
Bertahun-tahun lalu saya juga sering menggunakan kalimat sugesti ini. Biasanya saya ucapkan saat mau tidur, saat baru bangun tidur, dan saat sedang melakukan relaksasi pikiran. Namun herannya saya belum atau tidak merasakan perubahan apapun. Saya berpikir sepertinya ada yang salah dengan saya. Atau mungkin blocking saya yang terlalu kuat sehingga menolak sugesti positif ini. Saya akhirnya memutuskan untuk berhenti mengucapkan afirmasi ini.
Sekian tahun kemudian, saat mendalami hipnoterapi, saya akhirnya menemukan mengapa sugesti ini tidak efektif, setidaknya untuk saya.
Lalu, apa yang membedakan kondisi yang berhasil dicapai pasien Dr. Coue dan saya, yang menggunakan afirmasi yang sama persis? Atau mungkin juga Anda? Mengapa pasien Dr. Coue bisa begitu bagus hasilnya sedangkan saya tidak?
Cukup lama saya bingung. Setelah cukup lama mencari dari berbagai sumber dan literatur akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata Dr. Coue tidak serta merta memberikan sugesti “Everyday in everything, I am feeling better and better” kepada pasiennya. Beliau melakukan prakondisi pikiran dan kesiapan pasiennya sebelum memberi sugesti atau afirmasi.
Setiap pasien yang diberi sugesti diminta untuk berkunjung ke klinik tempat praktiknya dan bertemu dengan beberapa pasien yang sudah sembuh. Dr. Coue dengan cerdik mengatur sehingga dalam pertemuan ini terjadi diskusi antara pasien baru, yang masih sakit, dan pasien lama yang sudah sembuh.
Dari diskusi ini pasien baru terpengaruh dan percaya bahwa ia juga bisa sembuh. Barulah setelah ini, dan hanya setelah pasien baru ini sudah percaya bahwa ia juga bisa sembuh, Dr. Coue memberikan sugesti “Everyday in everything, I am feeling better and better” dan meminta si pasien barunya mengulang membaca sugesti ini beberapa kai dalam satu hari.
Hasilnya? Sudah tentu kondisi pasiennya semakin hari semakin baik seperti yang diharapkan.
Dalam melakukan terapi berbasis sugesti, terapis perlu memantau atau mendapat laporan mengenai perkembangan klien pascaterapi. Biasanya laporan ini disampaikan dalam waktu maksimal satu minggu. Setiap perubahan, baik positif maupun negatif, atau sama sekali tidak ada perubahan, digunakan sebagai landasan pijak untuk menyusun sugesti berikutnya.
Perubahan positif yang terjadi mengikuti salah satu dari empat pola berikut:
1. Klien mengalami perubahan signifikan langsung setelah selesai terapi.
2. Klien mengalami perubahan yang bersifat gradual atau inkremental setelah sesi terapi.
3. Klien mengalami perubahan yang bersifat gradual atau inkremental dan setelah beberapa saat terjadi perubahan yang signifikan.
4. Klien tidak mengalami perubahan. Namun setelah beberapa saat klien mengalami perubahan mengikuti salah satu dari tiga pola di atas.
Bagaimana bila klien sama sekali tidak mengalami perubahan?
Berarti ada resistensi dari pikiran bawah sadar. Resistensi ini bisa terjadi dengan dua kondisi. Pertama, resistensi tanpa diikuti perasaan tidak nyaman baik di tubuh fisik dan atau emosi. Dan kedua, resistensi yang diikuti dengan munculnya perasaan tidak nyaman baik secara emosi dan atau secara fisik.
Bila terjadi resistensi tanpa diikuti perasaan tidak nyaman maka dapat dilakukan dua hal. Pertama, klien melanjutkan sugesti yang telah diberikan. Kedua, terapis mengubah semantik yang digunakan dalam sugesti, namun tetap dengan tujuan yang sama. Klien belum berubah karena sugesti positif yang diberikan belum mencapai momentum untuk mulai mewujudkan perubahan dalam diri klien.
Untuk resistensi yang diikuti dengan munculnya perasaan tidak nyaman baik secara emosi dan atau secara fisik maka terapis harus bijaksana dan tanggap dengan tidak meneruskan sugestinya. Dalam hal ini terapis perlu segera menggunakan sinyal rasa tidak nyaman ini sebagai jembatan untuk masuk ke dalam pikiran bawah sadar klien, menemukan sumber resistensi dan mengatasi resistensi ini. Barulah setelah ini sugesti yang diberikan bisa bekerja dengan baik.
Rasa tidak nyaman, biasanya dalam bentuk kecemasan, muncul karena terjadi konflik antara Ego Personality (baca: Program) yang berusaha mempertahankan status quo “melawan” Ego Personality yang mau mengeksekusi sugesti yang berasal dari operator. Semakin intens konflik yang terjadi maka akan semakin intens perasaan tidak nyaman.
Salah satu faktor penentu keefektifan sugesti, selain semantik, adalah kedalaman rileksasi pikiran atau trance. Kedalaman ini berhubungan erat dengan keaktifan critical factor yang berfungsi sebagai filter mental dalam menyaring berbagai informasi yang akan masuk ke pikiran bawah sadar, dan sudah tentu dalam hal ini termasuk sugesti. Untuk memudahkan mengingat, gunakan aturan ini: semakin rileks pikiran maka semakin besar kemungkinan sugesti diterima tanpa dikritisi dan dijalankan.
Jadi, sugesti yang masuk ke pikiran bawah sadar untuk bisa dilaksanakan sebenarnya melewati tiga tahap. Pertama, sugesti ini harus bisa melewati critical factor. Untuk inilah kita membutuhkan kondisi hipnosis. Semakin dalam kondisi hipnosis maka semakin lemah critical factor. Kedua, sugesti harus bisa melewati empat filter yang ada di pikiran bawah sadar. Dan ketiga, sugesti ini tidak mendapat penolakan dari program pikiran yang sudah terlebih dulu ada di pikiran bawah sadar.
Bagaimana bila ternyata ada penolakan dari pikiran bawah sadar dan terapis tidak punya kecakapan untuk mencari dan menemukan sumber penolakan?
Ada cara lain yang juga sangat efektif. Setiap program pikiran punya “power” atau kekuatan. Semakin kuat suatu program maka semakin besar resistensi yang ia akibatkan. Berpedoman pada pemahaman ini maka kita dapat mengurangi atau melemahkan kekuatan program pikiran yang menolak sugesti yang kita berikan.
Caranya? Kita bisa menggunakan Hypn-EFT. Ini adalah adalah satu teknik yang sangat ampuh untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan kekuatan program pikiran yang menghambat perubahan. Untuk jelasnya mengenai Hypno-EFT anda bisa membacanya di buku saya yang berjudul Quantum Life Transformation atau The Miracle of MindBody Medicine.
Di artikel yang lalu saya telah mengulas mengenai sugesti langsung (direct suggestion) dan sugesti tidak langsung (indirect suggestion). Dalam artikel ini saya akan menjelaskan beberapa hal tentang sugesti yang saya pelajari dari beberapa literatur penting yang khusus membahas topik ini. Tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai sumbangan pemikiran untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas wasasan kita bersama.
Definisi Sugesti
Apakah sugesti itu? Ada banyak definisi yang diberikan oleh para pakar. Masing-masing praktisi hipnosis / hipnoterapi tentunya juga punya definisinya sendiri. Saya yakin Anda pasti juga punya definisi sendiri. Berikut ini saya ajukan dua definisi sugesti.
Pertama, definisi sugesti dari sudut pandangan populer atau kamus. Sugesti adalah pengaruh yang halus, hampir tidak kentara, yang dialami seseorang tanpa ia sadari, di mana sumber pengaruh ini berasal dari orang lain, yang mengakibatkan timbulnya respon dalam diri orang ini tanpa ia menyadari sumber atau asal pengaruh (sugesti) dan seringkali juga tanpa menyadari kejadiannya.
Definisi yang lebih teknis menyatakan bahwa sugesti adalah komunikasi bermakna yang secara sengaja, terstruktur, dan sistematis dilakukan oleh seseorang, bisa disebut sebagai hipnotis, suggestor, operator, hipnoterapis, terhadap orang lain, yang disebut sebagai subjek, klien, atau suggestee, dengan tujuan membangkitkan respon secara sukarela di pihak subjek, yang mana respon ini tidak akan timbul tanpa adanya sugesti.
Sugesti Ditinjau dari Efek di Pikiran dan Respon
Bila dilihat dari proses pemberian sugesti hingga sugesti dijalankan maka kita mengenal dua proses. Proses pertama adalah afferent yaitu masuknya sugesti ke pikiran seseorang, dimengerti, dan diterima oleh pikiran bawah sadarnya. Setelah diterima maka sugesti ini dijalankan dalam bentuk respon tertentu. Ini disebut dengan efferent.
Sugesti Ditinjau dari Kepatuhan dan Ketelitian Pelaksanaan
Ditinjau dari aspek kepatuhan dan ketelitian pelaksanaan sugesti maka kita juga mengenal dua jenis sugesti. Pertama, sugesti yang bersifat immediate, yaitu sugesti yang menghasilkan respon tindakan yang sepenuhnya sejalan dengan instruksi yang diberikan. Contohnya bila operator mensugestikan subjek mengambil buku maka subjek mengambil buku.
Kedua, sugesti yang bersifat mediate. Dalam hal ini klien menjalankan instruksi yang diberikan namun tidak sepenuhnya sama dengan yang disugestikan. Contohnya bila operator mensugestikan subjek untuk mengambil buku dan subjek ternyata “memutuskan” mengambil pensil. Subjek tetap menjalankan sugesti “mengambil sesuatu” namun tidak persis sama seperti yang disugestikan oleh operator.
Jenis Sugesti
Bila ditinjau dari pelaku, waktu, kondisi pikiran saat sugesti diberikan, struktur kalimat, dan efeknya maka kita mengenal beberapa jenis sugesti berikut:
- Autosuggestion: Sugesti yang dilakukan oleh seseorang kepada dirinya sendiri.
- Heterosuggestion: Sugesti yang diberikan seseorang kepada orang lain.
- Hypnotic Suggestion: Sebuah sugesti yang diberikan saat subjek berada di dalam kondisi hiposis.
- Posthypnotic Suggestion: Sugesti yang diberikan kepada subjek di dalam kondisi hipnosis dan dijalankan saat subjek sudah keluar dari kondisi hipnosis.
- Prehypnotic Suggestion: Sugesti non-hipnotik yang diberikan sebelum induksi.
- Direct Suggestion: Sugesti yang bersifat langsung, eksplisit, apa adanya, dan dengan jelas menyatakan efek yang akan terjadi atau diharapkan terjadi.
- Indirect Suggestion: Sugesti yang bersifat tidak langsung, implisit, dan mengisyarakat apa yang akan terjadi atau diharapkan terjadi.
- Non-therapeutic Suggestion: Sugesti yang tidak memberikan efek terapeutik.
-Therapeutik Suggestion: Sugesti yang memberikan efek terapeutik.
Elemen Sugesti
Yang dimaksud dengan elemen adalah berupa teknik, prosedur, dan berbagai hal lain secara langsung maupun tidak berpengaruh dalam membuat suatu sugesti efektif.
Mendapatkan Perhatian Subjek
Hipnotis/hipnoterapis umumnya mendapatkan perhatian subjek dengan berkata, “Perhatikan sungguh-sungguh apa yang saya katakan………” , “Dengarkan kata-kata saya… hanya kata-kata saya….”
Goal
Operator harus mempunyai goal atau tujuan spesifik dan jelas dalam pikirannya. Semakin sederhana goal-nya semakin baik. Terutama bila operator memberi sugesti kepada subjek dengan tingkat sugestibilitas yang tidak terlalu tinggi. Sangat tidak dianjurkan bila operator memberi beberapa sugesti yang berbeda sekaligus terutama pada subjek dengan tingkat sugestibilitas yang rendah atau menengah.
Variety (Keragaman)
Seringkali operator tidak tahu sugesti seperti apa yang akan memberikan hasil seperti yang diharapkan. Untuk itu operator perlu cerdas dan kreatif dalam memberikan sugesti yang beragam namun dengan tujuan mencapai goal yang sama. Dengan demikian yang terjadi sebenarnya adalah efek compunding dari sugesti yang “berbeda” namun sebenarnya punya tujuan yang sama.
Preferensi Modalitas Sensori
Operator juga perlu memperhatikan modalitas utama subjek. Penggunaan kata atau kalimat dengan menekankan pada modalitas, bila tidak sejalan dengan modalitas utama subjek, tidak akan memberikan pengaruh maksimal seperti yang diharapkan. Solusinya adalah dengan menggunakan modalitas yang berbeda secara bergantian. Misalnya, “Rasakan tangan anda mulai bergerak…. lihat dalam pikiran anda, tangan anda semakin mendekat dan mendekat….” atau “Sambil anda membayangkan tangan anda bergerak, anda juga dapat merasakan gerakannya ……..”
Feedback dan Ratification
Seringkali subjek tidak menyadari respon mereka terhadap sugesti yang diberikan oleh operator. Untuk memperkuat efek sugesti, meningkatkan respon, maka operator dapat memberitahu subjek apa yang sedang subjek alami. Konfirmasi ini menjadi sugesti lanjutan dan merupakan umpan balik pada subjek. Contohnya: “Tangan anda bergerak....” atau “Napas anda sekarang semakin lambat…...”
Linking
Di sini operator menghubungkan beberapa sugesti atau respon yang berbeda. Misalnya: Mata anda telah menjadi begitu lelah, anda mengalami kesulitan untuk tetap membuka mata anda. Atau kita dapat menghubungkan dua respon yang berbeda: “Saat tangan Anda turun, anda menjadi semakin rileks….”
Leading
Dalam hal ini operator tidak melaporkan respon yang subjek tujukkan atau alami namun sebaliknya justru memberikan prediksi apa yang akan tejadi berikutnya. Prediksi ini berlaku sebagai sugesti yang akan dijalankan oleh subjek. Operator perlu cermat untuk hanya menyampaikan prediksi yang besar kemungkinannya terjadi. Misalnya, setelah operator memberi sugesti bahwa mata subjek semakin berat, mulai berkedip, ia menambahkan, “… dan mata anda semakin berkedip…. semakin sering berkedip…..”
Pada contoh di atas yang terjadi, selain leading, adalah umpan balik tidak langsung (indirect feedback) dan menghubungkan secara tidak langsung (indirect linking). Pada kebanyakan kasus, leading, linking, dan feedback saling berpadanan dan menguatkan.
Tracking dan Guidance (T&G)
Untuk bisa mencapai goal atau tujuan yang diharapkan operator tidak hanya sekali memberikan sugesti namun ia bertindak seperti pilot yang mengarahkan pesawat (baca: pikiran subjek) melalui proses navigasi secara berkesinambungan yang melibatkan feedback, leading, dan linking hingga tercapai hasil yang diinginkan.
Utilization
Utilization, dalam konteks ini, adalah memperlakukan repson subjek, yang sebenarnya terjadi bukan karena sugesti, pada saat sugesti diberikan, seolah-olah adalah bagian dari respon yang diharapkan. Erickson mendefiniskan “utilization” sebagai penerimaan terhadap perilaku apa saja yang “ditawarkan”, lebih tepatnya dihasilkan oleh subjek dan menggunakannya untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Chunking dan Compounding
Seringkali untuk mencapai tujuan akhir yang “besar” operator memberikan sugesti secara bertahap. Setiap sugesti yang dijalankan oleh subjek merupakan langkah yang membawa subjek semakin dekat dengan tujuan akhir. Sugesti-sugesti “kecil” ini bersifat compunding.
Graded Suggestions
Elmen Elemen ini dengan yang di Chunking dan Compounding namun berbeda. Graded Suggestion diawali dengan memberikan sugesti yang sangat mudah dijalankan, dan setelah dijalankan, operator memberikan sugesti baru yang semakin lama semakin sulit.
Repetitions
Repetisi di sini tidak berarti pengulangan kata atau kalimat yang sama dengan susunan yang sama. Setiap kata atau kalimat dapat digunakan sejauh mereka masih dalam tema yang sama dan bertujuan mencapai hasil yang sama.
Double Binds
Ini adalah prosedur di mana sebuah sugesti menghubungkan hasil yang diinginkan dengan salah satu pilihan dari dua hal yang relevan namun bukan berupa efek atau hasil dari sugesti yang diberikan. Prosedur ini dikenalkan oleh Milton Erickson (yang kemudian salah dikenali oleh Jay Haley sebagai double-bind), sebagai cara untuk mengatasi resistensi. Contohnya adalah seorang klien diminta memilih salah satu dari dua kursi yang tersedia sebagai kursi yang akan ia duduki saat dihipnosis oleh operator.
The Passive Set
Dalam prosedur ini operator mengeluarkan komponen “Anda” dari konteks “yang sedang terjadi”. Subjek, dalam hal ini, bersifat pasif dan semua responnya terjadi secara otomatis tanpa peran sertanya secara sadar. Hal ini dicapai dengan operator mengubah kalimat “Anda mengangkat tangan Anda…..” dengan “Tangan Anda bergerak naik……”, atau “Sekarang Anda merasa lebih tenang…..“ dengan “Perasaan nyaman sekarang menyelimuti diri Anda.”
Menyusun Sugesti
Pengetahuan yang telah diuraikan di atas tentu sangat bermanfaat untuk menyusun sugesti yang efektif. Untuk bisa menyusun sugesti yang efektif operator perlu mengikuti aturan baku.
Total ada dua belas aturan. Aturan yang umum diketahui dan digunakan oleh para hipnotis atau hipnoterapis antara lain:
1.Sugesti menggunakan kata “Saya……”
2.Menggunakan kalimat atau kata yang positif.
3.Menggunakan kalimat sekarang
4.Spesifik
5.Ada deadline
Di kesempatan yang akan datang saya akan jelaskan tujuh aturan lain yang sangat penting dalam penyusunan sugesti.