The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Di saat istirahat makan siang, saya berbincang dengan beberapa peserta di meja makan. Saya tanya mereka, bagaimana mereka tahu tentang pelatihan hipnoterapi Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy® (SECH).
Ada yang tahu SECH dari membaca tulisan dan video yang saya tayangkan di media sosial. Ada yang mendapat informasi dari anggota keluarga atau teman yang telah belajar SECH dan berpraktik sebagai hipoterapis aktif. Ada beberapa yang sebelumnya telah menjalani hipnoterapi dengan hipnoterapis AWGI, merasakan manfaat, dan memutuskan untuk belajar agar juga bisa membantu orang lain. Ada yang mendapat referensi dari sejawat ilmuwan psikologi.
Ada yang memang sudah lama berniat belajar hipnoterapi, tidak tahu harus belajar ke mana, dan mencari informasi di internet. Pencarian ini mengantarkan mereka pada beberapa nama pengajar dan lembaga. Setelah mereka mempelajari dengan cermat rekam jejak pengajar atau lembaga yang mengajar hipnoterapi, melakukan pembandingan, akhirnya memutuskan belajar hipnoterapi di AWGI.
Saya berbagi kisah dan pengalaman saya belajar hipnoterapi dengan para peserta. Saya ceritakan betapa sulit saya bisa mendalami hipnoterapi yang efektif dan ilmiah. Saya sampai harus beli sangat banyak buku dan video dari luar negeri. Dan saya harus benar-benar jeli mencari dan menemukan guru-guru hipnoterapi terbaik di dunia. Saya akhirnya memutuskan belajar hipnoterapi langsung ke beberapa pakar hipnoterapi terbaik di Amerika.
Mereka bertanya kepada saya, apa kriteria yang saya gunakan untuk menentukan kualitas guru sebagai tempat belajar saya.
Saya menjelaskan bahwa sebelum menetapkan kriteria untuk guru, saya perlu terlebih dahulu menetapkan tujuan saya dalam mempelajari hipnoterapi. Apakah saya hanya ingin mendapatkan gelar CHt tanpa mempermasalahkan kualitas pelatihan yang diikuti? Apakah saya sekadar ingin mengetahui apa itu hipnoterapi? Apakah saya ingin bisa berpraktik hipnoterapi? Kompetensi seperti apa yang ingin saya capai? Apakah saya ingin bisa menangani kasus ringan, sedang, atau berat?
Saya memilih menjadi hipnoterapis dengan kompetensi terapeutik tinggi, menjadi hipnoterapis terbaik yang saya bisa menjadi. Bagi saya, gelar tidak penting, yang penting adalah kompetensi. Saat saya melakukan terapi, yang dibutuhkan adalah kompetensi, bukan gelar. Oleh karena itu, saya menetapkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh pengajar hipnoterapi yang akan saya datangi.
Kriteria ini meliputi, antara lain:
1. 𝐑𝐞𝐤𝐚𝐦 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐩𝐮𝐭𝐚𝐬𝐢: Pengajar harus memiliki rekam jejak sebagai hipnoterapis aktif, cakap, andal, berpengalaman, dengan kredibilitas dan reputasi yang baik.
2. 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢: Pengajar telah menulis minimal satu buku berkualitas yang membahas hipnoterapi.
3. 𝐑𝐞𝐟𝐞𝐫𝐞𝐧𝐬𝐢: Nama pengajar sering disebut atau menjadi rujukan penulis atau praktisi hipnoterapi lainnya.
4. 𝐊𝐨𝐦𝐩𝐞𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐓𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢: Pengajar bersedia menunjukkan kompetensinya melalui live therapy di depan murid-muridnya, membuktikan teori, strategi, dan teknik terapi yang diajarkan.
5. 𝐀𝐥𝐮𝐦𝐧𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐮𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬: Alumni pelatihannya terbukti memiliki kompetensi terapeutik tinggi dan aktif berpraktik.
6. 𝐏𝐞𝐥𝐚𝐭𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐭𝐚𝐩 𝐌𝐮𝐤𝐚: Pelatihannya harus diselenggarakan secara tatap muka.
7. 𝐏𝐮𝐛𝐥𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐈𝐥𝐦𝐢𝐚𝐡: Menulis artikel jurnal tentang hipnoterapi (opsional).
Dengan menggunakan kriteria ini, saya bertemu dengan guru-guru hipnoterapi terbaik dunia seperti Gil Boyne, Randal Churchill, Gerald Kein, John Butler, Tom Silver, dan Anna Wise. Semua guru ini melakukan live therapy di kelas, menangani klien dengan masalah riil, bukan sekadar simulasi. Ini memungkinkan kami sebagai murid melihat, belajar, dan memahami proses hipnoterapi yang benar dan efektif dari awal hingga akhir.
Pengalaman belajar dengan guru-guru saya ini menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Sejak pertama saya menyelenggarakan pelatihan hipnoterapi profesional di tahun 2008, saya melakukan live therapy sebagai bagian dari proses pendidikan untuk menghasilkan hipnoterapis profesional berkompetensi terapeutik tinggi.
Untuk memastikan setiap peserta didik SECH mampu menumbuhkembangkan kompetensi terapeutik tertinggi yang bisa mereka capai, saya memutuskan menaikkan standar proses pendidikan hipnoterapis lebih tinggi lagi, dengan memberikan bimbingan dan supervisi pada setiap praktik yang dilakukan para peserta didik SECH.
Ini bukan hal mudah karena sangat menyita waktu, menguras energi dan pikiran saya. Saya membaca setiap laporan kasus terapi yang dilakukan para peserta SECH, menilai, dan memberi saran, masukan untuk perbaikan dan peningkatan kompetensi mereka.
Keputusan ini didasarkan pada pengalaman pribadi saya. Saya tahu betapa sulitnya mencapai kompetensi tinggi tanpa bimbingan dan supervisi ketat yang dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan oleh pengajar berpengalaman.
Berdasar pengalaman saya, ada tiga tahap kritis yang harus dilalui setiap peserta didik untuk menjadi hipnoterapis kompeten:
1. 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐨𝐫𝐢: Peserta harus memahami landasan teori yang kuat, pengetahuan yang mendalam tentang cara kerja pikiran, pendekatan, metode, strategi, dan teknik-teknik terapi yang telah teruji, terbukti aman, dan efektif. Tahap ini sangat penting karena menjadi landasan untuk tahap-tahap berikutnya.
2. 𝐈𝐧𝐝𝐮𝐤𝐬𝐢 𝐇𝐢𝐩𝐧𝐨𝐬𝐢𝐬: Peserta harus mampu melakukan induksi dan berhasil menuntun klien masuk ke kedalaman kondisi hipnosis yang tepat untuk melakukan terapi. Keberhasilan induksi membangun rasa percaya diri yang sangat penting dalam praktik hipnoterapi. Di kelas SECH, selain menjelaskan landasan teori dari skrip induksi yang digunakan, saya juga menunjukkan cara penggunaan skrip yang benar dengan melakukan induksi pada peserta.
3. 𝐏𝐫𝐚𝐤𝐭𝐢𝐤 𝐌𝐚𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢: Peserta harus mampu melakukan praktik mandiri yang efektif dan sukses membantu klien, karena keberhasilan pada tahap awal ini sangat penting untuk menguatkan kepercayaan diri mereka. Ini hanya bisa dicapai jika peserta memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar dan mendalam tentang hipnoterapi, mampu melakukan induksi dengan berhasil, dan telah melihat secara langsung bagaimana terapi dilakukan. Saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari empat video rekaman live therapy yang saya lakukan di angkatan SECH sebelumnya dan melakukan empat live therapy di depan kelas.
Peserta juga diberi basis data dan pengalaman terapi sejak minggu pertama hingga hari terakhir pendidikan. Saya menceritakan berbagai kasus yang pernah saya dan hipnoterapis AWGI tangani, strategi dan teknik yang digunakan, dan hasil terapi yang dicapai.
Dengan pendekatan ini peserta dapat menjadi hipnoterapis profesional dengan kompetensi terapeutik tinggi, mampu membantu klien secara efektif, dan berkontribusi positif dalam masyarakat.


Salah satu sejawat hipnoterapis AWGI, alumnus SECH tahun 2023, kirim pesan melaporkan kasus yang ia tangani. Kasus pertama, fobia terbang dengan pesawat. Kasus ini di permukaan tampak sederhana, namun di baliknya terdapat akar masalah serius. Kasus kedua, klien dengan kecenderungan melakukan tindakan bunuh diri. Ia mampu menangani keduanya dengan sangat baik dan tuntas, masing-masing dalam satu sesi terapi. Hasil tindak lanjut pada kedua klien ini, sebulan kemudian, didapatkan hasil bahwa keduanya sangat baik dan stabil kondisinya.
Sejawat ini secara khusus menyampaikan terima kasih karena saat mengikuti pendidikan hipnoterapis di AWGI, ia berkesempatan tidak hanya menonton dan mempelajari video rekaman live therapy, juga terutama ia menyaksikan langsung live therapy yang saya lakukan di depan kelas.
Menurutnya, dengan menyaksikan live therapy ia belajar cara cepat membangun relasi terapeutik yang kuat, membangun rasa percaya dan aman dalam diri klien sehingga klien bersedia terbuka dan menceritakan masalahnya.
Ia menjadi lebih cermat dan teliti saat mendengar cerita klien dan mengamati bahasa tubuh dan ekspresi wajah klien sebagai bentuk komunikasi nonverbal. Ia mendapat "feel" bagaimana sikap, perhatian, keyakinan dan hati terapis saat membantu klien di ruang praktik.
Dan yang juga sangat penting, ia menyaksikan langsung, belajar, dan mengerti cara efektif dan efisien dalam menggunakan strategi dan teknik terapi seturut dinamika yang terjadi di ruang praktik. Menurutnya, ia mengerti bagaimana menjadi peka, tanggap, dan lentur dalam membantu klien. Pembelajaran ini berdampak signifikan dan memampukan dirinya bekerja optimal membantu klien.
Saya menyadari bahwa proses hipnoterapi sangat kompleks. Sejak pertama kali saya mengajar hipnoterapi di tahun 2008, hingga saat ini, saya menetapkan live therapy di depan kelas sebagai salah satu syarat mutlak untuk membangun kompetensi terapeutik setiap peserta didik.
Berdasar pengalaman saya belajar dan membangun kecakapan terapi, terapis pemula tidak akan bisa membangun kompetensi terapeutik tinggi hanya dengan mendapat pelajaran di kelas, baca workbook, nonton video, dan kemudian langsung praktik mandiri. Bila ini yang terapis pemula lakukan, sama seperti saya dulu, yang terjadi adalah kebingungan, tak tahu arah, dan akhirnya mengalami kegagalan berulang.
Hipnoterapis pemula sangat butuh melihat langsung proses terapi yang benar agar mereka memilik basis data yang kuat sebagai acuan dan tolok ukur (benchmark). Mereka juga butuh mendapat bimbingan berkelanjutan hingga akhirnya mencapai standar kompentensi yang ditetapkan.
Di kelas SECH saya menunjukkan langsung aplikasi ilmu yang diajarkan di kelas ke dalam praktik nyata. Masalah yang saya tangani tidak boleh masalah ringan atau sederhana seperti fobia. Masalahnya harus cukup kompleks sehingga teknik yang diajarkan di kelas dapat dipraktikkan dan ditunjukkan dengan segala dinamikanya.
Saat peserta didik melihat langsung teknik yang mereka pelajari berhasil membantu klien mengatasi masalah, pengalaman dan bukti ini menumbuhkan rasa percaya diri kuat bahwa mereka pun pasti bisa.
Saya melakukan total empat sesi live therapy di depan kelas, dengan klien yang berasal dari luar peserta. Jika klien adalah peserta workshop, proses terapinya tidak dapat menunjukkan dinamika yang terjadi di ruang praktik, karena peserta mengenal saya sebagai pengajar dan figur otoritas. Sebaliknya, jika klien berasal dari luar dan tidak mengenal saya, proses terapi berjalan persis seperti yang terjadi di ruang praktik saya.
Di kelas SECH saya hanya mengajarkan teknik yang saya gunakan di ruang praktik. Teknik-teknik ini telah teruji aman dan efektif mengatasi masalah klien dengan cepat dan tuntas. Saya tidak mengajarkan teknik yang belum pernah saya gunakan, walau di berbagai literatur diklaim efektif. Teknik yang saya ajarkan adalah intisari dari hasil belajar, praktik, dan temuan kami sejak tahun 2005 hingga kini.
Di awal karir saya sebagai hipnoterapis, saya punya banyak sekali teknik untuk kasus berbeda. Misal, untuk menangani klien yang mengalami fobia, saya gunakan teknik A. Untuk masalah kecemasan, teknik B. Masalah adiksi, teknik C. Untuk insomnia, teknik D. Kebiasaan menunda, teknik E, dan seterusnya.
Karena ada banyak teknik yang harus saya ingat, saya sering mengalami kebingungan. Setiap kali menangani klien, saya tidak dapat fokus mendengarkan dan memahami masalah mereka, karena pikiran saya justru sibuk memikirkan teknik mana yang akan saya gunakan.
Kondisi ini menjadi semakin rumit bila ternyata masalah klien bersifat multilayer atau berlapis. Misal klien mengalami adiksi rokok. Dari hasil wawancara diketahui klien merokok karena stres. Ia stres karena sedang ada masalah di pekerjaan. Bila seperti ini kondisinya, teknik apa yang akan digunakan?
Akhirnya, saya memutuskan untuk menyederhanakan proses terapi. Melalui proses yang tidak mudah, selama tiga tahun saya mengamati dan mempelajari setiap masalah klien untuk menemukan pola. Saya juga membaca buku dan artikel jurnal. Dengan memahami pola-pola tersebut, penanganan setiap masalah dapat menggunakan protokol yang sama, meskipun dengan dinamika yang berbeda.
Pola yang saya temukan, untuk setiap masalah (simtom) pasti ada sebab (akar masalah). Bila ada asap, pasti ada api. Cari, temukan, dan padamkan apinya, maka asap dengan sendirinya pasti hilang.
Dengan logika yang sama, jika saya bisa membantu klien mencari, menemukan, dan menyelesaikan akar masalahnya, maka masalah klien akan berhasil diatasi. Setelah hati-hati dan cermat menelaah serta mengujicobakan berbagai teknik, merujuk pada buku teks, artikel jurnal, serta pengalaman dan temuan di ruang praktik, saya akhirnya memutuskan untuk fokus hanya pada dua teknik utama. Semua teknik lainnya, yang sebelumnya cukup merepotkan, saya tinggalkan.
Dua teknik ini, dengan varian strateginya, telah diterapkan dalam lebih dari 130.000 sesi konseling dan terapi selama hampir 20 tahun dengan hasil yang sangat baik. Teknik-teknik ini terus diperbarui dan ditingkatkan berdasarkan temuan dan pembelajaran kami, para hipnoterapis AWGI.
Mengingat proses pendidikan yang sangat intensif, saya mewajibkan setiap peserta didik untuk hadir dan mengikuti program pendidikan hipnoterapis SECH secara lengkap dan utuh selama 110 jam tatap muka atau 10 hari. Jika ada peserta yang, karena alasan tertentu, tidak dapat hadir meskipun hanya setengah hari, sesuai ketentuan, mereka harus mengundurkan diri.
Seluruh proses pendidikan SECH dilaksanakan secara tatap muka dan tidak dapat dilakukan secara daring (online), karena proses belajar tidak hanya sekadar melihat atau mendengar apa yang disampaikan oleh pengajar seperti yang terjadi dalam pembelajaran daring.
Proses belajar yang baik dan benar melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Ada perbedaan yang signifikan dalam hal pengalaman dan dampak antara pembelajaran daring dan tatap muka. Hal ini juga berlaku untuk menyaksikan live therapy, baik secara daring maupun langsung di kelas.
Hipnoterapis pemula, yang dibekali dengan rasa percaya diri yang tinggi, mampu melaksanakan praktik sesuai protokol dengan hasil yang sangat baik. Ini tidak hanya membangun kompetensi terapeutik mereka tetapi juga semakin meningkatkan dan memperkuat rasa percaya diri mereka.
Sebaliknya, hipnoterapis yang kurang percaya diri atau meragukan kemampuan dan kompetensinya karena tidak menerima pendidikan dan bimbingan yang tepat, tidak akan mampu melaksanakan hipnoterapi dengan benar dan efektif. Semakin mereka tidak percaya diri, semakin tidak efektif terapi yang mereka lakukan.
Hipnoterapis tidak kompeten bisa saja mendapat klien lewat promosi yang dilakukan di media sosial. Namun, bila ia berulang kali gagal membantu klien-kliennya, rasa percaya dirinya pasti akan terdampak hingga akhirnya ia memutuskan berhenti praktik. Tentunya ini sangat disayangkan, mengingat investasi waktu, tenaga, dan biaya yang telah ia keluarkan, dan terutama jumlah hipnoterapis profesional masih sangat sedikit di Indonesia.


Hipnoterapi adalah kerjasama hipnoterapis dan klien dalam upaya pemberdayaan diri, peningkatan kualitas hidup, dan kesejahteraan klien. Kita tentu berharap proses hipnoterapi berjalan dengan mudah, lancar, dan efektif. Namun, pada kenyataannya, tidak semua proses terapi berlangsung semulus yang diharapkan. Salah satu hambatan utama dalam hipnoterapi adalah resistensi.
Resistensi, dalam banyak literatur tentang hipnosis dan hipnoterapi, merujuk pada sikap dan perilaku klien yang kurang kooperatif atau cenderung menentang proses terapi yang sedang dijalani. Perilaku ini dapat menghambat efektivitas terapi dan mempersulit pencapaian hasil yang diharapkan.
Berdasar pengalaman dan temuan kami, para hipnoterapis AWGI, resistensi terjadi tidak hanya pada klien, juga pada terapis. Dalam proses terapi, resistensi dapat terjadi hanya pada klien, hanya pada terapis, atau pada keduanya secara bersamaan.
𝐑𝐞𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐚𝐩𝐢𝐬
Resistensi pada terapis, sering tidak disadari karena terapis lebih fokus pada resistensi klien. Resistensi ini menghambat terapis mencapai kinerja optimal.
Resistensi pada terapis dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk, misalnya: terapis mampu melakukan terapi dengan efektif, tetapi kesulitan mendapatkan klien-klien baru; terapi yang dilakukan tidak efektif; terapis jarang mendapatkan klien meskipun telah berusaha mempromosikan diri melalui berbagai cara; klien sering membatalkan janji atau tidak muncul untuk sesi terapi; atau terapis merasa tidak nyaman menetapkan biaya jasa profesi yang sejalan dengan pengalaman dan kompetensinya.
Jika ditelisik lebih dalam, resistensi pada hipnoterapis seringkali bersumber dari kepercayaan negatif yang menghambat (limiting belief). Kepercayaan negatif ini, perasaan tidak cakap, tidak mampu, tidak percaya diri, takut gagal, takut salah, tercipta karena hipnoterapis tidak mendapatkan pendidikan, bimbingan, dan supervisi yang memadai untuk menjadi hipnoterapis profesional berkompetensi terapeutik tinggi.
Selain itu, resistensi juga bisa muncul karena terapis merasa dirinya tidak layak atau tidak pantas menerima biaya jasa profesi (fee) yang sesuai dengan kualitas layanan yang diberikan.
Terapis bisa beralasan terapi yang ia lakukan semata untuk tujuan kemanusiaan, membantu sesama. Namun dalam hati, sejujurnya, ia berharap mendapat penghargaan yang layak berupa biaya jasa profesi yang sepadan. Alasannya terkesan mulia, namun sesungguhnya ia merasa dirinya tidak layak dan tidak berharga. Kondisi ini sering tidak disadari atau diakui oleh terapis.
Sangat penting bagi setiap hipnoterapis untuk mengidentifikasi resistensi dalam diri mereka dan segera menetralisirnya. Hanya dengan cara ini mereka mampu dan dimampukan membangun dan mengembangkan diri menjadi hipnoterapis profesional yang mampu memberi dampak positif dan nyata bagi masyarakat.
𝐑𝐞𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐊𝐥𝐢𝐞𝐧
Resistensi pada klien bisa bersumber dari pikiran sadar (PS), pikiran bawah sadar (PBS), atau keduanya. Dalam konteks tahapan terapi, resistensi dapat muncul pada salah satu atau beberapa tahap, yaitu: wawancara, induksi, pendalaman, intervensi, dan terminasi.
Resistensi yang bersumber dari PS biasanya mudah dikenali karena klien menunjukkan sikap tidak kooperatif sejak awal.
Resistensi yang bersumber dari PBS jauh lebih kompleks karena berkaitan dengan proses dan dinamika yang terjadi di PBS klien selama proses terapi berlangsung. Bentuk resistensi ini bisa sangat halus dan tidak terlihat secara langsung, tetapi bisa memengaruhi respons klien terhadap terapi, termasuk reaksi yang tidak terduga atau penolakan terhadap sugesti atau arahan yang diberikan oleh terapis.
Resistensi klien yang terjadi di tahap wawancara mengakibatkan ia tidak terbuka atau jujur dalam menyampaikan masalah atau kondisinya. Mereka juga membatasi informasi yang diberikan kepada terapis dengan menjawab pertanyaan secara singkat atau seadanya, membuat proses wawancara menjadi kurang efektif.
Jika resistensi terjadi pada tahap induksi atau pendalaman, klien akan kesulitan atau tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis dalam. Biasanya, terapis akan mengganti strategi, teknik, atau menggunakan skrip lain untuk membantu klien masuk kondisi hipnosis. Namun, berdasarkan pengalaman kami, pendekatan ini sering kali tidak efektif.
Resistensi pada tahap intervensi mengakibatkan strategi atau teknik terapi yang digunakan menjadi tidak efektif. Bentuk resistensi ini bisa berupa penolakan terhadap sugesti yang diberikan, PBS menjadi tidak responsif, klien tidak bersedia mengikuti arahan terapis, atau klien keluar dari kondisi hipnosis.
Ketika ini terjadi, terapis harus mengevaluasi pendekatan mereka dan perlu mengambil langkah lain untuk mengatasi resistensi dan membangun hubungan terapeutik yang lebih kuat dengan klien.
Terapi yang mengandalkan sugesti biasanya didasarkan pada asumsi bahwa PBS adalah satu unit yang utuh. Sugesti diberikan kepada PBS dengan harapan akan mengubah kontennya dan menghasilkan perubahan pada perilaku atau kondisi klien. Namun, dalam kenyataannya, PBS terdiri dari unit-unit kepribadian independen yang memiliki pemikiran dan tujuan yang berbeda-beda. Kami menyebutnya sebagai Ego Personality (EP).
Ketika sugesti yang diberikan ke PBS tidak sesuai dengan tujuan atau agenda dari satu atau beberapa EP dominan, sugesti tersebut akan ditolak atau diabaikan. Ini adalah salah satu bentuk resistensi atau perlawanan PBS yang bisa terjadi saat terapi.
Selain itu, resistensi juga dapat muncul dalam bentuk gejala emosional atau fisik yang mengganggu proses terapi, hingga akhirnya terapi harus dihentikan. Contohnya, klien bisa mengalami kecemasan yang meningkat, serangan panik, sakit kepala, napas sesak, atau rasa tidak nyaman fisik signifikan lainnya saat menjalani terapi.
Oleh karena itu, terapis perlu berhati-hati dan fleksibel dalam pendekatannya, memahami bahwa resistensi berasal dari dinamika internal dalam PBS, dan berupaya menemukan cara untuk mengatasi hambatan ini agar terapi dapat berlangsung secara efektif.
Bentuk resistensi pada tahap terminasi, salah satunya, adalah ketika klien sulit atau enggan keluar dari kondisi hipnosis. Ini juga merupakan bentuk resistensi yang bersumber dari PBS. Klien mungkin merasa nyaman berada dalam kondisi hipnosis, atau mungkin ada aspek dari pengalaman hipnoterapi yang membuat mereka enggan kembali ke kondisi sadar normal. Resistensi ini bisa menjadi tantangan bagi terapis saat mengakhiri sesi terapi.
Untuk mengatasi resistensi di tahap terminasi, terapis perlu memiliki strategi yang efektif untuk memastikan klien dapat keluar dari kondisi hipnosis dengan aman dan nyaman.
𝐄𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐑𝐞𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢
Resistensi, apa pun bentuk dan variannya, baik yang terjadi pada terapis maupun klien, sebenarnya memiliki basis emosi yang sama: rasa takut.
Ada cara mudah untuk mengidentifikasi sumber rasa takut ini dan menghilangkannya, tetapi ini di luar cakupan pembahasan dalam tulisan ini. Namun, begitu rasa takut ini dinetralisir, proses terapi menjadi lebih mudah dan lancar.
Memahami bahwa resistensi seringkali berasal dari rasa takut dapat membantu terapis untuk lebih sensitif terhadap kebutuhan klien dan mengatasi hambatan dengan pendekatan yang lebih empatik. Terapi yang efektif membutuhkan kepercayaan dan rasa aman, sehingga mengatasi rasa takut menjadi langkah penting untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam terapi.
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐬𝐢 𝐑𝐞𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢
Di awal karir saya sebagai hipnoterapis sekitar 20 tahun lalu, saya memelajari banyak teknik untuk mengatasi resistensi klien. Teknik-teknik ini tersimpan rapi di dalam "kotak peralatan terapi" saya dan siap digunakan bila dibutuhkan. Namun, pada masa itu, saya belum menyadari bahwa resistensi utama yang harus diatasi adalah resistensi pada diri saya sebagai terapis.
Seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyak belajar dan praktik, saya akhirnya menemukan cara mudah mengatasi resistensi, baik pada diri saya sebagai terapis maupun pada klien.
Resistensi pada terapis harus diatasi secara internal, bisa dengan menggunakan teknik swaterapi yang sesuai atau dengan bantuan terapis lainnya.
Sementara untuk klien, saya mengadopsi strategi berbeda dari yang umumnya dijelaskan dalam literatur. Biasanya, terapis mengatasi resistensi klien dengan mengarahkan pikiran klien untuk fokus pada resistensinya, terutama pada tahap induksi. Strategi ini memang efektif dan saya juga pernah menggunakannya.
Namun, resistensi juga sering muncul di tahap intervensi, yang berasal dari PBS klien. Hal ini tentu saja mengganggu proses terapi, menjadikannya lebih panjang dan melelahkan, baik bagi klien maupun bagi terapis.
Saya akhirnya menyadari bahwa cara terbaik mengatasi resistensi klien adalah dengan menyiapkan klien secara menyeluruh, baik di aspek PS maupun PBS, agar siap dan bersedia menjalani proses terapi sepenuh hati.
Persiapan ini dilakukan melalui edukasi terstruktur dan sistematis kepada klien, dimulai jauh sebelum mereka bertemu dengan terapis, dan dilanjutkan hingga pertemuan di ruang praktik.
Di ruang praktik kami, dengan memberikan edukasi yang tepat kepada klien, mereka mendapatkan pemahaman yang benar dan memberdayakan, serta menjadi siap dan bersedia menjalani sesi terapi dengan sungguh-sungguh.
Seringkali, dengan pemahaman ini, kesadaran klien meningkat, memampukan mereka untuk melihat masalahnya dari sudut pandang yang lebih konstruktif, memberdayakan, dan akhirnya masalah klien luruh dan terselesaikan dengan sendirinya tanpa perlu intervensi dari terapis.

Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi hipnosis untuk menangani masalah medis atau psikologis. Sementara hipnosis adalah kondisi kesadaran melibatkan perhatian terfokus dan berkurangnya kesadaran periferal yang bercirikan peningkatan kapasitas respons terhadap sugesti. Kedua definisi ini ditetapkan American Psychological Association (APA) Divisi 30 di tahun 2014 (Elkins dkk, 2015, p.6-7).
Hipnoterapi adalah terapi, menggunakan teknik atau metode apa saja, dilakukan di dalam kondisi hipnosis, untuk mencapai tujuan terapeutik spesifik. Hipnosis adalah kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar rileks, fungsi kritis analitis pikiran sadar menurun, disertai meningkatnya fokus dan konsentrasi, sehingga individu menjadi sangat responsif terhadap pesan atau informasi yang diberikan kepada pikiran bawah sadar (Gunawan, 2017).
Seturut definisi di atas, salah satu syarat hipnoterapi adalah klien harus berada dalam kondisi hipnosis selama proses terapi berlangsung. Ada empat cara umum untuk memasuki kondisi hipnosis: dilakukan sendiri, dibantu orang lain, menggunakan obat atau zat kimia tertentu, dan secara spontan.
Dalam konteks hipnoterapi, proses klien beralih dari kondisi kesadaran normal ke kondisi hipnosis disebut induksi. Terdapat banyak varian teknik induksi. Namun secara umum, terbagi menjadi empat kategori: induksi instan, induksi cepat, induksi panjang, dan induksi berbasis emosi.
Di kalangan hipnoterapis terdapat pemahaman salah bahwa hipnosis adalah sesuatu yang terapis lakukan pada klien. Klien masuk kondisi hipnosis karena kerja atau upaya terapis menggunakan skrip atau teknik tertentu. Klien hanya pasif dan semuanya adalah tanggung jawab terapis. Pemahaman salah ini juga saya alami dulu di awal karir saya sebagai hipnoterapis.
Berdasar pengalaman dan temuan di ruang praktik, saya merevisi pemahaman ini. Pemahaman yang benar, menjadi landasan praktik saya dan diajarkan di kelas pendidikan dan sertifikasi hipnoterapis profesional, 𝐒𝐜𝐢𝐞𝐧𝐭𝐢𝐟𝐢𝐜 𝐄𝐄𝐆 & 𝐂𝐥𝐢𝐧𝐢𝐜𝐚𝐥 𝐇𝐲𝐩𝐧𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫𝐚𝐩𝐲® (𝐒𝐄𝐂𝐇), yaitu hipnosis adalah sesuatu yang klien lakukan pada dirinya sendiri, atas persetujuan dan izin klien, dengan mengikuti tuntunan terapis. Klien aktif dan ikut serta dalam proses induksi yang difasilitasi terapis.
Agar dicapai hasil terapi optimal, terapis selain wajib mampu melakukan induksi dengan efektif, juga perlu memahami kondisi, kedalaman, pendalaman, kestabilan, dan fenomena hipnosis.
Terapis profesional tidak sekadar baca skrip induksi. Setiap induksi yang terapis lakukan bertujuan menuntun klien mencapai kedalaman hipnosis spesifik, seturut masalah yang hendak diselesaikan dan teknik terapi yang digunakan.
Dari temuan kami, para hipnoterapis AWGI, bila syarat dan kondisinya terpenuhi, klien dengan sangat mudah masuk dan bertahan di kondisi hipnosis, sedalam yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalahnya. Sebaliknya, klien akan bertahan sedangkal yang dibutuhkan, demi mempertahankan keselamatan dan kesejahteraan hidupnya.
Terapis pemula biasanya melengkapi dirinya dengan banyak skrip atau teknik induksi untuk "menghadapi" klien mereka. Pendekatan ini sangat tidak disarankan karena bisa mengakibatkan terapis bingung dalam memilih skrip dan tidak fokus.
Sementara terapis profesional dan berpengalaman mengandalkan dan menggunakan satu atau dua skrip induksi yang telah teruji efektif menuntun klien masuk kondisi hipnosis dalam.
Pendalaman adalah teknik yang terapis gunakan untuk menuntun klien masuk ke kondisi hipnosis yang lebih dalam lagi. Terdapat tiga teknik pendalaman yang biasanya digunakan dalam praktik hipnoterapi: verbal, visual, dan gabungan keduanya.
Teknik pendalaman verbal adalah dengan melakukan penghitungan, bisa dengan hitungan naik atau turun. Sementara pendalaman visual adalah dengan meminta klien membayangkan ia menuruni tangga, naik eskalator, atau lift. Cara lain, klien diminta membayangkan berada di tempat kedamaian. Teknik pendalaman berbasis visual sering tidak efektif dan bisa kontraproduktif.
Dalam penentuan kedalaman kondisi hipnosis, mayoritas hipnoterapis menggunakan fenomena fisik yang klien alami sebagai parameter, seperti napas melambat dan ritmik, wajah datar, tubuh rileks, tangan terasa berat bila diangkat, atau ada jeda dalam menjawab.
Fenomena fisik ini tidak akurat karena hanya berlaku bagi klien dengan tipe sugestibilitas fisik, tidak untuk klien dengan tipe sugestibilitas emosi atau intelektual. Terapis profesional menggunakan parameter yang bersifat universal, berlaku untuk klien bertipe sugestibilitas fisik maupun emosi.
Untuk menentukan kedalaman kondisi hipnosis, terapis perlu melakukan uji kedalaman, baik yang sifatnya terbuka (overt) atau tersamar (covert), dengan merujuk pada skala kedalaman. Terdapat banyak skala kedalaman hipnosis yang disusun oleh pakar hipnoterapi atau lembaga riset terkemuka, masing-masing menggunakan skala berbeda.
Dari hasil penelusuran literatur diketahui sejauh ini terdapat 25 skala kedalaman hipnosis. Beberapa di antaranya: Davis-Husband Scale, Friedlander-Sarbin Scale, Lecron-Bordeaux Scale, The Stanford Scales of Hypnotic Susceptibility, Children Hypnotic Susceptibility Scale, Standford Clinical Case for Adults, Standford Clinical Scale for Children, Barber Suggestibility Scale, Barber Creative Imagination Scale, Heron Depth Scale, Hartman Depth Scale, The Arons Scale, Harvard Group Scale, Long Standford Scale, dan Hypnotic Induction Profile.
Dari 25 skala hipnosis yang dijelaskan di atas, dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi, terutama di Indonesia, yang paling dikenal adalah skala Davis dan Husband yang terdiri 30 kedalaman, terbagi menjadi lima jenjang: insusceptible, hypnoidal, light trance, medium trance, dan deep trance (profound somnambulism).
Dalam praktik membantu klien, dari pengalaman kami, hipnoterapis perlu menggunakan satu skala kedalaman sebagai acuan, tidak bisa menggunakan bebeberapa skala sekaligus, karena setiap skala, yang disusun oleh pakar atau lembaga berbeda, menggunakan jumlah kedalaman dan fenomena hipnosis berbeda.
Seorang terapis tidak hanya harus terampil dalam membimbing klien masuk ke kondisi hipnosis dalam, tetapi juga perlu mampu menjaga klien dalam kondisi hipnosis ini selama terapi berlangsung. Hipnosis bukanlah kondisi yang statis, melainkan dinamis. Klien dapat mengalami fluktuasi pada tingkat kedalaman tertentu. Oleh karena itu, terapis harus cermat dalam mengamati dan menilai kedalaman hipnosis yang sedang dialami klien.
Kegagalan dalam proses terapi sering terjadi bukan karena teknik terapinya tidak efektif, tetapi karena kedalaman dan kestabilan kondisi hipnosis yang dialami klien tidak memenuhi syarat untuk terapi yang efektif.

Tujuan utama setiap hipnoterapis adalah ia mengalami perkembangan dan pemberdayaan diri, melalui pendidikan hipnoterapi yang ia jalani, sehingga mampu membantu klien-kliennya, melalui proses konseling dan atau terapi yang aman, nyaman, relatif singkat, efektif, berdampak positif signifikan dan bertahan lama.
Terapis pemula fokus pada teori, teknik, strategi yang digunakan dalam membantu klien mencapai tujuan terapi. Pada tahap selanjutnya, terapis yang telah berkembang wawasannya menyadari bahwa semua teknik dalam hipnoterapi harus dipraktikkan dalam hubungan interpersonal yang konstruktif, dan bahwa dalam analisis akhir, keberhasilan atau kegagalan terapi lebih ditentukan oleh sikap, kepedulian, kasih, dan hati terapis saat berhubungan dengan klien daripada apa yang ia lakukan pada klien.
Ini menjelaskan mengapa dua praktisi menggunakan teknik yang identik namun yang satu mencapai hasil yang jauh lebih baik daripada yang lain.
Walau tujuan hipnoterapi adalah membantu klien mengatasi masalah emosi atau perilaku, dalam hipnoterapi sejatinya terdapat dua strategi penanganan masalah, menggunakan sugesti dan hipnoanalisis.
Hipnoterapi berbasis sugesti mengandalkan pemberian sugesti kepada klien dalam kondisi hipnosis. Pemberian sugesti dilakukan saat klien jumpa terapis di ruang praktik, dan ada pula yang direkam dan klien diminta mendengarnya berulang kali di rumah, dengan harapan sugesti ini akan memberi dampak positif dan masalah klien berhasil diatasi. Hipnoterapi berbasis sugesti bersifat "memasukkan" (putting-in).
Hipnoterapi berbasis hipnoanalisis cukup kompleks dan butuh kecakapan tinggi agar dapat dilakukan dengan benar dan efektif. Ia mengandalkan kejelian dan rangkaian strategi untuk menelisik pikiran bawah sadar (PBS), mencari, menemukan, dan melakukan resolusi akar masalah. Hipnoterapi jenis ini bersifat "menarik keluar" (pulling-out).
Terlepas dari jenis hipnoterapi yang dipraktikkan, syarat mutlak agar proses hipnoterapi berjalan lancar, klien harus berada dalam kondisi hipnosis dengan kedalaman tertentu, bergantung teknik yang digunakan dan tujuan terapi yang hendak dicapai.
Untuk itu, terapis harus mampu menuntun klien masuk kondisi hipnosis, melakukan uji kedalaman dan memvalidasi kondisi hipnonis yang klien capai, serta mampu mempertahankan klien di rentang kedalaman optimal selama proses terapi berlangsung, dengan durasi antara satu hingga empat jam dalam satu sesi.
Untuk uji kedalaman dan validasi kondisi hipnosis yang dicapai para klien, hipnoterapis AWGI menggunakan tiga uji kedalaman spesifik mengacu pada Adi W. Gunawan Hypnotic Depth Scale, skala kedalaman hipnosis yang yang disusun tahun 2010.
Hipnoterapi berbasis hipnoanalisis, selain mampu mengungkap materi memori yang tersembunyi atau direpresi jauh di kedalaman PBS, juga mampu melakukan resolusi akar masalah hingga akhirnya klien mencapai pemahaman mendalam tentang apa yang ia alami, wawasan (insight) konstruktif, resolutif, integratif, dan bersifat memberdayakan dirinya.
Wawasan inilah kunci pengikat semua proses yang klien alami selama sesi terapi dan membuat hasil terapi menjadi sangat kuat dan mampu bertahan lama. Wawasan selain bersifat meningkatkan kesadaran juga menguatkan klien sehingga di masa mendatang bila klien mengalami hal serupa atau sama dengan yang dulu ia alami, kejadian serupa ini tidak lagi berdampak negatif pada klien.
Wawasan ini tidak bisa diberikan oleh terapis pada klien, dalam bentuk sugesti. Wawasan terbaik muncul sebagai hasil proses terapi yang berpusat pada klien (client centered), setelah klien mengalami pengalaman emosional korektif tuntas.
Dari temuan kami di ruang praktik, agar benar efektif dan berdampak optimal bagi kebaikan dan kesejahteraan klien, wawasan harus tercipta pada diri individu di usia dan momen kejadian akar masalah, tidak hanya di tataran intelektual, namun ia harus berdasarkan pengalaman, melibatkan respon afektif, motorik serta kognitif sebagai satu kesatuan.


Seorang sahabat sedang menulis tesis dengan topik aplikasi hipnoterapi untuk depresi. Ia minta saran dan masukan saya, dan rujukan literatur yang akan digunakan dalam penyusunan tesisnya.
Salah satu pertanyaan penting yang ia tanyakan pada saya adalah tentang definisi hipnosis dan hipnoterapi.
Saya jelaskan bahwa setiap pakar, seturut pemahamannya, merumuskan definisinya sendiri. Dan ini bisa dipahami dari perspektif perkembangan keilmuan hipnosis dari waktu ke waktu yang terus mengalami kemajuan.
Definisi hipnosis oleh para pakar di tahun 1880an, 1900an awal, 1920 - 1950, 1950 - 1980an, dan di tahun 2000an walau secara prinsip ada kesamaan, terdapat nuansa berbeda. Masing-masing pakar tentu mendefinisikan hipnosis seturut pemahamannya. Saya sarankan ia mengutip definisi yang berasal dari para pakar hipnosis modern, karena ini yang paling relevan.
Selain itu, saya juga jelaskan bahwa definisi yang paling kuat dijadikan rujukan adalah yang dikeluarkan organisasi terkemuka, khususnya American Psychological Association (APA) Divisi 30, Society of Psychological Hypnosis.
APA adalah organisasi ilmiah dan profesional terkemuka di bidang psikologi di Amerika Serikat, beranggotakan lebih dari 146.000 peneliti, pendidik, dokter, konsultan, dan mahasiswa.
APA telah tiga kali merumuskan definisi hipnosis, tahun 1993, 2003, dan terakhir 2014, sebagai acuan para praktisi dan peneliti pengguna hipnosis dalam kegiatan mereka.
Menurut APA, 𝐡𝐢𝐩𝐧𝐨𝐬𝐢𝐬 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐨𝐧𝐝𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐛𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐡𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐟𝐞𝐫𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐜𝐢𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐬𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐫𝐞𝐬𝐩𝐨𝐧𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐬𝐮𝐠𝐞𝐬𝐭𝐢 (Elkins dkk, 2015, p.6). Dan 𝐝𝐞𝐟𝐢𝐧𝐢𝐬𝐢 𝐡𝐢𝐩𝐧𝐨𝐭𝐞𝐫𝐚𝐩𝐢 (𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐩𝐧𝐨𝐬𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐢𝐧𝐢𝐬) 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐦𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐩𝐧𝐨𝐬𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐩𝐬𝐢𝐤𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬 (p.7).
Saya mendefinisikan hipnosis sebagai kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar rileks, fungsi kritis analitis pikiran sadar menurun, disertai meningkatnya fokus dan konsentrasi, sehingga individu menjadi sangat responsif terhadap pesan atau informasi yang diberikan kepada pikiran bawah sadar (Gunawan, 2017).
AWGI dan APA Divisi 30 sama-sama menyatakan bahwa hipnosis adalah kondisi kesadaran, karena memang demikianlah adanya, sesuai dengan yang kami temukan dan alami di ruang praktik saat menangani klien di lebih dari 130.000 sesi konseling dan terapi.
Kondisi kesadaran ini bisa terjadi dan dialami individu secara alamiah, dan bisa juga dengan proses induksi, baik yang dilakukan oleh terapis pada klien (heterohipnosis), atau yang dilakukan sendiri (swahipnosis).
Sementara definisi hipnoterapi, menurut AWGI, adalah terapi, menggunakan teknik atau metode apa saja, yang dilakukan di dalam kondisi hipnosis, untuk mencapai tujuan terapeutik (Gunawan, 2017).
Hipnosis sebagai kondisi kesadaran divalidasi dengan pengukuran gelombang otak. Saya beruntung mendapat kesempatan belajar ke pakar hipnoterapi Tom Silver dan pakar meditasi Anna Wise.
Tom Silver selama lebih dari 20 tahun menggunakan mesin EEG khusus mengukur gelombang otak klien-kliennya. Tom bisa tahu dengan sangat akurat kondisi kedalaman hipnosis setiap kliennya berdasar pola dan komposisi gelombang otak yang tampil di layar komputernya.
Berdasar data ini, Tom mencipta teknik luar biasa yang memampukan ia untuk "mencabut" emosi langsung dari pikiran bawah sadar klien, tanpa harus memproses memori atau akar masalah. Teknik ini hanya bisa bekerja efektif di kedalaman hipnosis sangat spesifik. Saya beruntung mendapat kesempatan belajar teknik ini langsung dari Tom di tahun 2009.
Anna Wise, selama lebih dari 35 tahun, mengukur gelombang otak klien-kliennya, membimbing mereka masuk kondisi meditatif sangat dalam menggunakan mesin EEG Mind Mirror. Saya belajar dengan Anna Wise di tahun 2009.
Selanjutnya saya menggunakan dua mesin EEG ini mengukur gelombang otak para subjek di pelatihan saya, mendapat banyak data penting, korelasi antara kondisi hipnosis, kesadaran, memori, emosi, pola dan komposisi gelombang otak, dan akhirnya sampai pada satu simpulan yang menjadi dasar merumuskan definisi hipnosis.
Saya jelaskan pada sahabat ini, definisi hipnosis versi APA dan AWGI tentu beda dengan definisi yang dinyatakan oleh para pakar hipnosis generasi lama. Tidak ada yang salah dengan masing-masing definisi, karena definisi ini seturut zamannya. Yang kita gunakan, terutama dalam penulisan tesis, tentu adalah definisi terkini.
Saya beri penguatan pada sahabat ini. Saya bilang, suatu saat nanti, bila ia telah benar-benar mencapai level kepakaran mumpuni dan diakui di dunia hipnosis / hipnoterapi, ia boleh dan berhak menetapkan definisinya sendiri. Ia tidak harus ikuti definisi orang lain.
Memang di awal, kita menulis dengan merujuk pada definisi pakar sebelumnya. Biasanya kita akan menulis "Menurut ......, hipnosis adalah.......".
Suatu hari nanti, saya katakan padanya, ia akan menulis artikel dengan kalimat, "Menurut saya........, hipnosis adalah........."
Ini yang saya sangat nantikan. Selama ini kebanyakan orang hanya mengutip dan selalu bilang, "Menurut...........", dan sangat jarang atau hampir tidak pernah saya jumpa tulisan, "Menurut saya.......".
Saya doakan ia bisa segera tuntas melakukan pengumpulan data dan menyelesaikan penulisan tesisnya dan memberi kontribusi positif untuk kemajuan hipnosis dan hipnoterapi di Indonesia.